Hi, minna-san! Ah ya makasih dah baca juga ngereview chap 3!

Kuronekoru

Naru ntu Namikaze? Hahaha! Tunggu aja kenapa. Hahahahahahahahahahaha! Di chap ini bakal ketahuan koq. Review lagi yah? Makasih banyak!

Akayuki Kaguya-chan

Yei! Review lagi! Mank Kagu(chan apa san nich?) nungguin fic nie apdeth ya? Hwaaaaaa senengnya!(Ge-eR) – pyuk2 Kagu - *ditabok*. Lagunya emank aneh! Nadanya mirip lagu Ulat Bulu-nya Kuburan Band. Yang awal itu lho!. Hummmm Akai kira bakal garing ternyata lucu ya?*tampang bego'*. Otey, kalo penasaran ikutin terus ficnya ya? En yang pasti, revieeeeeeeewww! Makasih banget!

Arisa Adachi

Makasih. Akai akui kalo banyak dialog. Akai coba di chap ini buat ngurangin dialog dech tapi maaf kalo muncul kesalahan lagi Akai kan nulis cerita dari kecil tanpa bimbingan siapa-siapa nilai bahasa Indonesia juga bagus waktu bab Puisi aja. Ah ya, Akai makasih banget deh ama Arisa-san yang udah review plus beri saran!

Diamondlight96 (bener ga' nich?)

Ga' ngerti ya? Ehehehehe… Akai juga suka YAOI! XP makasih banget dah review!

Fujoshi Nyasar

Iya-iya ga' lama koq. Asal Fujoshi-san bayarin honey money(?) buat ke warnetnya ya?*digilas*. Eeeeennnnnn…Makasih banget dah review!

Safira Love SasuNaru

'Ada apa dengan namikaze?' ga' ada apa-apa koq *siul2 gaje "Prikitiew!"*. iya dia dulunya perempuan. Tanya aja ama Om KishiMolto *dideathglare Kishimoto-sensei*. Ech? Update kilat? Ga' bisa entar lapitop Akai rusak kesamber gledek(?). hahaha, becanda*ketawa garing*. Makasih banget dah review!

Chap 4 chap 4 chap 4!

Naruto©Masashi Kishimoto

Bad Reincarnation©Shie Akai from The Crazy Teams

Pair: NaruSasu

Warning: OOC, OC, Lebay…

Saat pulang sekolah, saat di mana semua anak akan tersenyum bahagia, berlari ke arah orang tuanya dan merengek minta jajan. 4 orang anak kecil berjalan bersama dengan wajah polos mereka.

"Hida-chan aaaa…" Hiza menyodorkan es krim cokelatnya ke arah Hidari. Hashiru dan Kazemaru sibuk dengan obrolannya.

Yep, 2 Uzumaki, 1 Inuzuka, dan 1 Hyuuga yang mengagumkan. Tidak aneh jika beberapa anak perempuan juga laki-laki menatap kagum pada keempatnya. Rambut Hashiru yang black-shiny bak arang terus dikibarkan angin membuat helai-helainya yang tampak selembut sutra berayun indah. Di sampingnya Kazemaru tersenyum lembut sambil mendengarkan curhatan Hashiru dengan pipi gembul yang merona, imutnya… . beralih ke kanan Hashiru, Hiza melangkah dengan semangat sambil menjilat es krimnya –apa ga' kedinginan ya? Rambut pirangnya yang dikepang dua berayun ke depan membingkai wajah yang sepucat ibunya dengan mata langit yang salah satunya tengah berkedip. Geser sedikit lagi tampaklah sepasang mata merah api bagaikan Shana dengan rambut coklat dan wajah yang begitu imut menggendong anjing kecil berwarna coklat juga, siapa lagi kalau bukan Hidari?.

"Ech, Hashiru-nii, itu Papa Sasu!" tunjuk Hiza.

"Hm! Yuk pulang! Sampai jumpa besok ya, Kaze, Hida!" duo Uzumaki tadi kemudian berlari menuju seseorang yang mereka panggil 'Papa Sasu'. Setelah keduanya berlalu, Kazemaru menoleh ke arah Hidari. Merasa diperhatikan, mau ga' mau Hidari ga' enak juga dan mulai bertanya 'apa?'. Kazemaru menyeringai lalu meraih tangan Hidari.

"Hida-koi…" Hidari bergidik ngeri. "Ya Allah, ampuni Hidari…" gumam Hidari pelan.

Ia memandang dalam diam. Angin musim gugur terus mengayunkan rambut hitamnya. Keningnya berkerut mengingat sebuah nama. Memori masa lalu yang begitu susah dihapus kembali menyesakan setiap tarikkan napasnya.

"Bodoh…Namikaze?" bisiknya pelan pada rerumputan yang hanya dijawab oleh kebisuan. Tidak, sakit di dadanya sudah melebihi batas. Sekarang bagai ada Hulk yang tengah menampar dan menendang dadanya. Matanya tidak melihat apapun. Apapun yang nyata. Di matanya hanya ada warna merah pekat yang menyeramkan, kegelapan melatar belakangi bercak merah menjijikan itu. Darah, zat cair yang SANGAT penting bagi kehidupan. Sesuatu yang mengalirkan oksigen, sari-sari makanan dan hasil ekskresi. Tapi justru inilah yang membuat Sasuke terduduk di bawah sebuah pohon apel di halaman Konoha Kindergarten dengan dahi berkerut, alis bertaut dan wajah ditekuk.

Masa lalu, Seperti sebuah film usang yang bisa tiba-tiba terputar kembali didalam otak ketika sesuatu membuat tombol play di sana tertekan. Inilah yang sedang terjadi di otak Sasuke. Beberapa kali sel-sel di dalam otaknya mencoba tidak percaya terhadap apa yang sudah ia dengar tapi…terlalu sulit. Hati kecilnya yang baru saja mencair oleh kehangatan yang begitu nyaman kini tak henti-hentinya bertanya 'kenapa harus dia?', 'kenapa dia harus seorang Namikaze?', 'kenapa aku merasakan ini?', 'kenapa mereka harus mati karena…dia?'. Ia menyadari bahwa ada semacam simpati pada seorang duda yang mengangkatnya menjadi suami(-') dan ayah kedua bagi dua anak kembar yang sedang memasuki taman kanak-kanak. Jiwanya yang dalam waktu singkat terikat dalam hati seorang Namikaze kini menjerit-jerit menahan sakit akan cambuk kenyataan yang terus menghantam jiwanya. Kenyataan bahwa Naruto adalah seorang Namikaze dan Namikaze adalah marga seseorang yang telah... memusnahkan klan Uchiha hingga hanya tersisa Sasuke dan Itachi yang mungkin sekarang tengah mencari-cari Sasuke di California sana. Teringat akan sumpahnya bahwa ia akan memusnahkan keturunan sang Namikaze. Tidak tidak, itu terlalu kejam tapi menurut Sasuke itu sebanding dengan apa yang dilakukan seorang Minato Namikaze pada keluarga besarnya terutama ibunya, ayahnya, dan calon adiknya.

"Sial!" ia mengumpat beberapa kali. Menggumamkan kata-kata terlarang yang terbesit dipikirannya. Menumpahkan segala kekesalan, kepedihan, dan seluruh murka yang menghimpit jiwanya seakan tak bisa habis meski dengan cara apapun. Bagaikan sesosok monster besar yang immorta berkulit keras melebihi baja. Hiperbola? Tidak. Itu cukup untuk melambangkan sesuatu yang sekarang tengah menyesak didada Sasuke. Sekarang apa yang akan ia pilih? Melanggar sumpahnya dengan terus men'cinta'i seorang Namikaze dan otomatis dibuang dari keluarga Uchiha – yang tinggal sedikit, atau membunuh dengan kejam manusia dengan wajah teduh dan senyum yang menenangkan serta mata biru indah yang mempunyai kecepatan cahaya dalam menaklukkan hati seorang Sasuke?. Keduanya sama-sama membuat pemuda ini menderita. Berpisah dan melupakan kakak tercinta bukanlah hal yang mudah namun mengetahui dan mengaku pada batin bahwa sang pujaan hati merenggang nyawa ditangan sendiri juga tidak bisa dianggap enteng.

"Papa Sasu!" Sasuke tertegun sejenak. Sudah bel pulang rupanya. Matanya mencari-cari ke arah sumber suara. Ia tersenyum lembut pada dua malaikat kecil yang menyembunyikan sayap kecilnya di balik tas tengah berlari ke arahnya.

"Hi, Hiza, Hashiru. Bagaimana hari ini?" tanya Sasuke. Kedua anak kembar itu memberikan cengiran khas seperti ayahnya.

"Menyenangkan! Tadi Sakura-sensei menyuruh kami menulis nama siapa saja yang ada di keluarga Hiza!" seru Hiza senang. Disambut dengan anggukan semangat oleh Hashiru.

"Keluarga?"

"Yup! Eh, Pa, pulang yuk? Hashiru laper nich! Makaaaaaannn…" rengek Hashiru. Sasuke tersenyum lalu mengajak kedua anaknya pulang.

"Tadaima!"

"Okaeri…"Naruto menyambut kedatangan Sasuke, Hiza dan Hidari. Senyumnya mengembang menimbulkan semburat merah di pipi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Sasuke?. Kedua anak kembar itu berlari menerjang ayahnya yang tengah membawa sepiring makanan.

Aku ingin seperti mereka…

Air mata mengembang di sudut mata Sasuke. Tangannya merogoh saku celananya, mengeluarkan sesuatu yang entah sejak kapan dibawanya.

"Aku ingin seperti kalian…" bisik Sasuke. Naruto menoleh bingung. Mata safirnya melihat Sasuke yang tengah merunduk, tangannya memegang sesuatu. Itu…

"AKU INGIN SEPERTI KALIAAANNN…!"

Yei yei yei! Dah hampir selese. Tidak, tangisan akan dimulai di chappie depan. So, review? Hahay, apa Akai mengapdeth lebih cepat dari chap 3 kemaren? Hahaha! Dah masuk sekolah sich, jadi bisa nge-net di sekolah. Ah, ga' tau ah! Pokoknya kalo minna-san bersedia tolong review. Kayaknya chap nie jadi aneh dech! Hwaaaaaaaaa moga selese!

Unleash Your Imagination! Yeeeeeiiii…..!