Disclaimer and Credits : JK Rowling has it all but the Original Characters, they're mine.
Fanfic ini TIDAK dibuat untuk tujuan komersil.
CANON MODIFIED! Bagi yang tidak menyukainya, diperkenankan menutup halaman cerita ini.
Sudah diperingatkan ya.
c/a : Mungkin akan terdapat kalimat/situasi/adegan/percakapan/kutipan yang terasa familiar di sini. Karena saya memang mengambilnya dari buku, juga film HPPS.
Hati-hati untuk sesuatu yang garing dan juga tidak renyah yang mungkin ditemukan.
Selamat membaca.
Don't Like, Don't Read, okay.
( Perpustakaan kini seperti tempat bermain kedua bagi Valerie Amber. Begitu banyak yang ingin ia baca di perpustakaan itu. Termasuk salah satunya makhluk menyeramkan yang ada dalam mimpinya. Tetapi ada sebuah mimpi aneh lainnya yang dialami Valerie, bukan sebuah mimpi buruk, sebuah mimpi yang membuatnya merasa akan meninggalkan papanya. )
Ikatan Keluarga
Pagi yang cerah di awal bulan November.
Angin dingin musim salju telah memasuki kompleks pekarangan Hogwarts. Suhu udara juga mulai menurun. Salju-salju mulai bertebaran di pekarangan sekolah.
Beberapa siswa dan siswi Hogwarts terlihat memakai jaket berlapis milik mereka untuk mempertahankan suhu tubuh. Sebuah syal tebal melilit di leher mereka. Bahkan beberapa diantaranya mulai menggunakan sarung tangan tebal.
Tetapi tempat yang paling nyaman dan hangat tetaplah ruang rekereasi asrama. Sebuah perapian yang menguarkan kehangatan ke seluruh ruangan membuat para siswa dan siswi begitu betah bertahan di sana. Sayangnya mereka tak bisa bertahan sepanjang hari di tempat itu, ada pelajaran-pelajaran yang harus mereka hadiri kelasnya.
Yang tak kalah menarik adalah, pada hari sabtu akhir minggu ini akan diadakan pertandingan Quidditch. Gryffindor versus Slytherin. Dua asrama yang sama-sama kuat. Apalagi kini Gryffindor sudah memiliki seeker baru yang cekatan.
Valerie melihat anak kelas lima yang menjadi kapten Quidditch Gryffindor, Oliver Wood, tampak begitu optimis akan memenangkan pertandingan kali ini. Wood melatih timnya dengan lebih keras saat hari pertandingan semakin dekat. Valerie mengetahui ini karena Fred dan George hampir setiap hari tak pernah bersamanya lagi. Mereka sibuk degan segala latihan Quidditch yang dibuat oleh Wood.
Tim Quidditch Slytherin terkenal akan perilaku kasar mereka di lapangan. Kapten tim mereka, Marcus Flint, adalah orang yang paling menyebalkan. Fred dan George mengatakan mereka akan dengan senang hati memukulkan bola Bludger sekeras-kerasnya ke arah Flint saat pertandingan. Sebuah ide yang menyenangkan memang. Mereka tak pernah berhenti nyengir setiap kali bercerita dan membayangkan ide tersebut.
Fred dan George telah meminta Valerie untuk melihat mereka bertanding. Ini adalah pertama kalinya Valerie dapat melihat mereka di lapangan. Mereka bedua sangat berharap Valerie dapat menyaksikan bagaimana mereka bermain Quidditch.
Valerie ingin menolak pada awalnya, karena pasti saat itu akan sangat ramai di lapangan. Dan Valerie benci keramaian. Tetapi pada akhirnya Valerie mengatakan ia akan mengusahakan untuk datang, walau ia tak berjanji akan memenuhinya. Fred dan George mau tak mau harus menerimanya. Mereka mencoba mengerti keengganan Valerie akan tempat ramai.
Kini buku-buku telah menjadi teman pengganti bagi Valerie selama ia tidak sedang bersama Fred dan George. Hampir setiap hari ia ke perpustakaan. Ia baru menyadari bahwa begitu banyak buku-buku yang ingin ia baca. Perpustakaan Hogwarts memang cukup lengkap. Valerie menemukan dirinya sangat menyukai perpustakaan Hogwarts, terutama sektor ramuan dan sektor hewan sihir.
—o0o—
Hari ini Aula Besar sangat ramai, karena pertandingan Quidditch pertama untuk musim ini akan segera dimulai beberapa jam lagi. Ketegangan di meja Gryffindor sudah terasa, Fred dan George yang telah mengenakan sweeter Gryffindor untuk melapisi kulit mereka dari terpaan suhu dingin, baru kali ini terlihat begitu bersemangat namun sekaligus sangat gugup. Tak banyak lelucon dan kalimat-kalimat canda yang mereka keluarkan. Keduanya lebih serius menekuni roti sandwich mereka yag tak kunjung habis, seolah mereka kesulitan mengunyah dan menelannya. Hal yang sama juga terlihat di antara pemain Quidditch Gryffindor yang lain. Mereka semua terlihat gugup.
Berbeda dengan yang terjadi di meja Slytherin. Valerie mencoba melongokkan kepalanya menegok ke meja tersebut. Beberapa anak Slytherin terlihat sedang mencemooh ke arah meja Gryffindor, sisanya hanya tertawa mendengar lelucon temannya. Para pemain Quidditch Slytherin terlihat rileks menghadapi pertandingan yang akan berlangsung kali ini. Mereka tampaknya sama sekali tak merasa tegang. Mungkin karena mereka merasa amat yakin bisa mengalahkan Gryffindong dengan mudah.
Tapi, siapa yang tahu?
Pukul sepuluh tiga puluh Aula Besar mulai terlihat ditinggalkan oleh penghuninya yang sebagian besar menuju lapangan Quidditch. Beberapa diantaranya sengaja keluar terlebih dahulu dan mencari tempat yang bagus untuk menonton pertandingan kali ini. Tetapi Valerie termasuk dari beberapa orang yang terakhir keluar dari Aula Besar. Ia tak begitu ingin menonton pertandingan ini, tapi ia ingin memenuhi permintaan Fred dan George.
Pukul sebelas tepat pertandingan dimulai. Valerie masih saja berada di jalan setapak menuju lapangan Quidditch. Dari tempatnya berjalan, ia melihat kibaran warna merah dan hijau mulai terbang mengelilingi lapangan, tanda permainan memang sedang berlangsung. Kemeriahan pertandingan juga terdengar dari sana. Valerie entah mengapa merasa memiliki semangat untuk melihatnya kali ini. Rasanya seperti memang pertandingan ini sangat ia nanti-nantikan.
"Hai, Valerie," sapa sebuah suara berat dari arah belakang Valerie.
Valerie melihat siapa yang memanggilnya. Hagrid terlihat sedang berjalan menuju ke arahnya. Mantel yang ia kenakan membuat tubuhnya terlihat semakin besar.
"Hai, Hagrid," balas Valerie.
"Mau lihat pertandingan Quidditch juga, eh?" tanya Hagrid.
Valerie mengangguk. "Ya."
"Baiklah, ayo kita ke sana. Aku tak sabar untuk lihat. Pasti seru. Habisnya terdengar sangat ramai dari pondokku," ucap Hagrid. Valerie hanya tersenyum.
Benar saja, pertandingan memang sangat seru. Padahal baru satu gol diciptakan Gryffindor ke gawang Slytherin. Panji-panji dari kedua asrama saling bersaut-sautan mendukung tim masing-masing. Pertandingan pertama yang menegangkan.
Valerie dan Hagrid melewati pintu masuk lapangan. Dari sana semakin terdengar jelas suara Lee Jordan sebagai komentator. Ada belasan sapu terbang yang melintas cepat di dalam lapangan, dan sorak-sorai penonton yang menggema membuat pertandingan semakin riuh.
Di sini begitu ramai, Valerie menjadi tak begitu suka. Tapi entah mengapa ia juga ingin menyaksikan pertandingan ini.
"Kau Oke, Valerie?! Wajahmu Pucat!" tanya Hagrid mengeraskan suaranya yang dikalahkan suara dari lapangan.
"Ya! Aku Baik-Baik Saja!" jawab Valerie, juga dengan berteriak.
"Well, kalau gitu ayo kita ke tempat duduk Gryffindor!" ajak Hagrid.
Valerie mengangguk dan mengikutinya menuju tempat duduk tinggi di mana sebagian besar anak asrama Gryffindor kelas satu duduk. Kini Valerie sedang mencoba menikmati pertandingannya.
Ia melihat Fred –atau George– sedang memukul Bludger ke arah salah satu pemain Slytherin. Kedua tim begitu sengit bersaing. Tetapi sorak sorai di sekitar Valerie pun tidak pernah padam. Semua orang berteriak mendukung tim yang sedang bertanding.
George sepertinya melihat Valerie di kursi penonton, karena itu dia merendahkan sapunya mendekati Valerie dan menyapanya, lalu terbang tinggi lagi.
"Slytherin memegang bola," kata Lee Jordan dari mikrofon. "Chaser Pucey menunduk menghindari dua Bludger, dua Weasley dan Chaser Bell, dan meluncur ke arah— tunggu—apakah itu Snitch?"
Gumaman merambat di antara para penonton ketika Adrian Pucey menjatuhkan Quaffle, gara-gara terlalu sibuk menoleh memandang kilatan emas yang baru saja melewati telinga kirinya.
Valerie melihatnya sekarang, sebuah benda keemasan yang memiliki sayap sedang berputar-putar di dekat telinga Chaser tersebut. Harry Potter sedang menukik menuju kilatan emas itu. Seeker Slytherin, Terence Higgs, juga telah melihatnya. Bersamaan mereka meluncur menuju Snitch—semua Chaser tampaknya sudah melupakan tugas mereka saat mereka melayang di udara untuk menonton. Tetapi Valerie merasa sangat bersemangat saat melihat Harry sebentar lagi akan mengambil Snitch itu.
BRAK!
Gerung marah terdengar dari anak-anak Gryffindor di bawah. Marcus Flint sengaja menabrak Harry dan sapunya melenceng keluar jalur, Harry sendiri berpegang erat-erat agar tidak jatuh.
"Curang!" jerit anak-anak Gryffindor.
Madam Hooch memarahi Flint dan memberikan lemparan penalti pada Gryffindor. Tetapi dalam hiruk pikuk itu tentu saja Snitch sudah menghilang lagi.
Di tempat duduknya, Dean Thomas berteriak. "Keluarkan dia. Wasit! Kartu merah!"
"Ini bukan sepak bola, Dean," Ron Weasley mengingatkan. "Kau tak bisa mengeluarkan pemain dalam Quidditch—dan apa itu kartu merah?"
Tetapi Hagrid membela Dean. "Mereka harusnya ubah aturannya. Flint bisa bikin Harry jatuh dari atas."
Bahkan sulit bagi Lee Jordan untuk tidak memihak. "Jadi—setelah kelicikan yang menyebalkan dan tampak jelas tadi..."
"Jordan!" tegur Profesor McGonagall.
"Maksudku, setelah kecurangan yang terang-terangan dan menjijikkan..."
"Jordan, kuperingatkan kau..."
"Baiklah, baiklah. Flint nyaris membunuh Seeker Gryffindor, ini bisa terjadi pada siapa saja, saya yakin, maka penalti untuk Gryffindor, yang dilakukan oleh Spinnet, dan–"
Valerie berhenti mendengarkan komentar Lee Jordan. Ia kemudian meninggalkan tempat duduknya setelah pamit pada Hagrid dengan mengatakan ingin ke toilet. Padahal sebenarnya ia ingin kembali ke kastil dan tak lagi menonton pertandingan itu. Valerie tak tahan dengan teriakan-teriakan marah dan protes yang ia dengar barusan. Rasanya kepalanya mendadak menjadi begitu pusing. Ia memilih meninggalkan lapangan. Ia ingin kembali ke Ruang Rekreasi asramanya saja.
"WHOA! Kenapa nih?!", sebuah suara bingung dan panik mengejutkan Valerie saat ia sedang menelusuri jalan setapak menuju kastil. Valerie menghentikan langkahnya, cemas mendengar suara itu lagi. Suara yang familiar di telinganya.
Valerie merasa napasnya tersengal, mungkin karena jalan setapak ini menanjak. Tetapi yang tak bisa dihindari Valerie adalah rasa berdebar yang tiba-tiba menderanya. Valerie sendiri kebingungan dengan apa yang ia alami. Ia menolehkan kepalanya melihat lapangan di belakangnya, karena merasa agak aneh dengan suara riuh yang saat ini terdengar. Rasanya suara itu bukan lagi suara dukungan terhadap kedua tim. Tetapi Valerie mengacuhkannya dan mencoba kembali mendaki jalan setapak itu.
Rasa berdebar itu tak kunjung berhenti saat Valerie berhasil menuju kastil. Ia beristirahat dan bersandar di salah satu dinding. Napasnya masih terengah-engah. Valerie merasa mual saat ia mencoba melanjutkan langkahnya memasuki kastil. Jika saja ada orang yang melihat, wajah Valerie kali ini benar-benar pucat. Mungkin karena ia tidak banyak memakan sarapannya tadi, ditambah rasa pusing dan ketakutan yang ia rasakan saat di lapangan Quidditch barusan, karena itu saat ini kondisi Valerie menurun.
Tetapi kemudian ada sorak teriakan yang cukup keras dari arah lapangan Quidditch. Valerie melihat panji-panji merah Gryffindor memenuhi lapangan. Sepertinya pertandingan sudah berakhir dan Gryffindor menang kali ini. Valerie tersenyum lebar mengetahuinya. Rasa mual, pusing, dan berdebar itu kini hilang. Ia pun dapat melangkahkan kakinya menuju ruang rekreasi Gryffindor dengan lebih ringan.
—o0o—
Albus Dumbledore melirik heran saat melihat perapiannya berkobar berwarna hijau. Ia tahu, itu pertanda seseorang akan mengunjunginya sesaat lagi.
Tapi, larut malam seperti ini? Pastilah hal yang sangat penting.
Bulan di luar jendela terlihat begitu terang di antara awan-awan yang tampak kelabu di bawah langit hitam. Benar saja dugaan Dumbledore, seorang pria muda keluar dari api hijau di kantornya, pria itu menggunakan pakaian kemeja yang dimasukkan ke dalam celana jeans yang ia kenakan, lalu bahunya tertutup dengan sebuah jubah panjang berbahan kulit. Pria muda ini datang dengan mimik wajah yang cukup khawatir, menandakan ada sebuah masalah yang cukup serius yang ingin ia bicarakan dengan Dumbledore.
Albus Dumbledore menyambutnya dengan ramah. "Ben."
"Albus," balas Ben Amber memeluk singkat Albus Dumbledore. "Aku perlu berbicara padamu. Ini tentang Valerie."
Albus Dumbledore menatapnya sejenak. "Baiklah, kita duduk dulu."
Dumbledore menyilakan Ben Amber duduk di sofa depan perapian. Sedangkan ia sendiri duduk di sofa seberangnya. Mimik wajah Ben tak berubah. Ia malah terlihat lebih gelisah akan sesuatu yang ingin ia bicarakan ini.
"Nah, katakan padaku, Ben. Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Dumbledore.
Ben Amber melirik pada beberapa wajah lukisan kepala sekolah yang tampaknya tertarik dengan pembicaraan mereka berdua. Lalu Ben mengalihkan tatapannya ke arah Dumbledore. "Kau yakin kita tak akan di dengar siapapun?"
"Tunggu sebentar," balas Dumbledore.
Dumbledore mengeluarkan tongkat dari balik jubahnya dan menggumamkan beberapa mantra. Seketika itu juga seluruh lukisan mantan Kepala Sekolah Hogwarts tertutupi kain hitam dan tampaknya juga dilengkapi dengan mantra kedap suara.
Ben kemudian mulai berbicara. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan ini, Albus. Semuanya akan semakin jelas bagi Valerie. Ia sudah bertemu dengan Harry Potter, kan? Aku khawatir ia akan mencurigai anak itu punya hubungan dengannya," Ben menarik napas utnuk melanjutkan kalimatnya. "Aku berpikir untuk segera memberitahu Valerie hal yang sebenarnya. Itu lebih baik untuknya."
Dumbledore berkata kepada Ben dengan raut heran. "Jangan gegabah, Ben. Valerie tak perlu mengetahuinya sekarang."
"Tapi sampai kapan, Albus? Cepat atau lambat Valerie harus tahu yang sebenarnya." Ada nada cemas dan takut yang terdengar dari suara Ben Amber. Pria muda ini seakan tak puas dengan jawaban Dumbledore.
"Ben, anakku," ucap Albus Dumbledore dengan lebih tenang. "Memang benar cepat atau lambat Valerie harus mengetahui hal ini. Tapi sekarang bukanlah saat yang tepat untuk memberitahunya. Valerie sedang menikmati masa sekolahnya. Lebih baik kita berkonsentrasi untuk terapinya, Ben."
"Sudah aku katakan, aku tidak yakin ini adalah terapi yang baik untuk Valerie. Ia masih terlalu kecil. Kejadian itu baru saja berlalu di matanya. Dan Sekarang kita malah membawanya ke sini. Aku tak tega melihatnya menderita, Albus. Aku benar-benar tidak tega."
Ben Amber mengalihkan tatapannya ke dalam kobaran api di perapian. Ia masih berpikir.
"Dan anak itu. Anak itu terlalu bersinar. Tak mungkin Valerie tak mengenalnya. Dan tak mungkin Valerie tak memperhatikannya. Aku hanya tak ingin Valerie mengetahuinya bukan dariku, ayahnya."
"Kita perlu mempertimbangkan lagi kapan waktu yang tepat untuk memberitahunya, Ben. Valerie tak akan siap dengan kenyataan itu. Fakta itu terlalu berat untuk ditanggungnya sekarang. Apalagi dengan semua yang sudah ia alami selama ini."
Albus Dumbledore tetap menatap pria muda di depannya ini. Ia mengerti kecemasan ben terhadap putri tunggalnya itu. Pria muda ini dan juga putrinya telah mengalami banyak hal berat dalam beberapa tahun belakangan. Dan Dumbledore tahu seberapa sayang pria ini pada putrinya. Sangat pantas jika ia merasa amat khawatir sekarang.
"Aku tak ingin melihat Valerie membenciku jika ia tahu selama ini aku menyembunyikan kenyataan darinya, Albus."
"Valerie tak akan membenci ayahnya, Ben. Ia sangat menyayangimu, " ucap Albus Dumbledore menenangkan Ben Amber. "Hanya saja memang kondisi Valerie masih sangat labil saat ini. Trauma itu belum hilang sepenuhnya dari dirinya. Tapi jika boleh kukatakan, kita cukup berhasil memberinya terapi dengan membawanya ke sini. Aku melihat Valerie mulai menyukai kegiatan sekolahnya."
Ben Amber menatap wajah Dumbledore kembali. "Benarkah? Tetapi Valerie menuliskan padaku kalau ia mengalami mimpi buruk di hari pertamanya sekolah. Dan beberapa kali ia mengalaminya lagi."
"Itu hal yang wajar. Valerie dalam tahap penyesuaian kembali. Pasti mimpi buruk itu terkadang mendatanginya," ucap Albus Dumbledore.
"Valerie juga beberapa kali memberitahuku kalau ia mendengar suara-suara asing di kepalanya. Aku hanya mencoba acuh di hadapannya," ucap Ben Amber. Ada nada kekhawatiran dalam suaranya. "Albus, apa mungkin itu suaranya?"
Albus Dumbledore berpikir sejenak tentang informasi yang baru ini. Ia tak pernah tahu kalau Valerie mengalami hal itu. "Aku tak yakin, Ben. Aku rasa itu tidak mungkin suaranya."
—o0o—
Ada pemandangan yang aneh hari ini di perpustakaan, Valerie melihat Harry Potter dan Ron Weasley bersama-sama dengan Hermione Granger memasuki perpustakaan pada siang hari. Tidak biasanya mereka berdua ke sini. Valerie memang lebih sering bertemu Hermione Granger di perpustakaan, dan tak pernah melihat kedua temannya yang lain itu. Pada hari-hari berikutnya, ia jadi lebih sering mendengar Madam Pince menegur salah seorang dari mereka karena ketahuan membuat suara berisik di perpustakaan. Entah apapun yang mereka cari, yang jelas itu membuat Madam Pince kesal.
Fred dan George mulai memiliki lebih banyak waktu luang untuk menemani Valerie, karena pertandingan Quidditch berikutnya masih pada semester depan. Terkadang mereka mengobrol bersama Lee Jordan. Dan tak lain tak bukan, mereka kembali lagi akan membahas soal pertandingan Quidditch kemarin serta kecurangan-kecurangan yang dilakukan pihak Slytherin pada saat pertandingan. Kalau sudah begini, Valerie hanya terdiam dan menyimak diskusi mereka bertiga.
Pertengahan bulan Desember kali ini dihiasi oleh cuaca yang sudah bertambah dingin. Valerie mengira badai salju semalam turun, karena pagi ini hampir seluruh pekarangan Hogwarts dipenuhi oleh salju yang tebal. Ia kembali merapatkan mantel tebalnya dan menggosok-gosokkan tangannya untuk mengurangi rasa dingin yang mendera. Segerombolan asap keluar saat ia menghembuskan napas. Pagi ini benar-benar dingin.
Valerie terus melangkahkan kakinya menuju Aula Besar untuk sarapan. Sesaat sebelum turun menuju pintu aula, ia melihat Fred dan George yang sedang merintih mengaduh saat berjalan di samping Profesor McGonagall. Valerie melihat gurunya itu menjewer telinga masing-masing Fred dan George di kedua tangannya. Sepertinya ia terpaksa menyeret keduanya karena mereka melakukan sebuah lelucon lagi. Valerie hanya terpana dan menyunggingkan cengiran di wajahnya.
Pada malam harinya, Valerie bertemu Fred dan George di Ruang Rekreasi asrama. Mereka menceritakan apa yang terjadi pagi tadi.
Profesor McGonagall ternyata menangkap basah mereka sedang melakukan praktek mantra Levicorpus di halaman sekolah. Parahnya, mereka melakukannya dengan cara membentur-benturkan bola salju yang mereka bentuk ke arah turban Profesor Quirrell yang sedang melintasi halaman. Karena itulah mereka dihukum untuk membantu Madam Pince membereskan buku perpustakaan.
"Kalian gila! Gitu-gitu kan dia guru kita," ucap Valerie dengan nada heran, tak percaya, tetapi juga geli. "Pantesan Profesor McGonagall mengomeli kalian."
"Kan kami cuma mau mengeluarkan bawng putih tumbuk dari turbannya, Val. Biar nggak ada lagi bau-bau aneh dari situ," ucap Fred sebagai alasan.
"Kau mau pusing lagi karena dekat dengan turbannya?" tanya George kali ini.
"Ya, nggak mau sih," jawab Valerie.
"Nah, kan."
"Tetap aja itu gila,"
Valerie benar-benar tak habis pikir kali ini dengan mereka berdua. Tetapi sebuah cengiran juga tak bisa lepas dari wajahnya membayangkan kronologis cerita mereka.
Astaga, mereka benar-benar jail banget, ucap Valerie dalam hati.
Dan seperti biasa, mereka berdua tak pernah ambil pusing tentang hal itu.
Valerie hanya beberapa kali bertegur sapa dengan Draco semenjak pertandingan Quidditch kemarin. Kelihatannya Draco kesal karena Slytherin kalah. Yah, karena Valerie adalah anak Gryffindor, jadi ia juga kena sasaran kekesalan Draco. Maklumlah.
Menjelang libur Natal, Aula Besar terlihat lebih meriah dari biasanya. Hiasan-hiasan sudah mulai dipasang di sekeliling sudut ruangan.
Besok Hograts Express akan melaju ke Stasuin King Cross di London, mengantarkan hampir seluruh siswa siswi yang pulang ke rumah dan akan merayakan Natal bersama keluarga mereka masing-masing. Sudah banyak yang sedang asik membicarakan kepulangan mereka esok hari. Dan Profesor McGonagall juga sudah mendata anak-anak yang akan tetap tinggal di sekolah selama liburan. Itu termasuk Fred dan George.
"Kalian benar-benar akan tinggal?" tanya Valerie kepada keduanya saat mereka sedang makan malam di Aula Besar.
"Ya," jawab George. "Mum dan Dad akan merayakan Natal dengan Charlie tahun ini."
"Gimana kalau kalian merayakan Natal aja di rumahku?"
"Terimakasih, Val. Tapi kami mau merasakan Natal di sekolah. Apalagi hampir semua orang akan pulang. Waktu yang menyenangkan bagi kami untuk berkeliling lagi. Iya kan, Fred?"
Fred yang sedang mencoba menelan kentang tumbuknya, menganguk. "Tepat."
"Tapi George, kalau dipikir-pikir, kalau seandainya kita bisa ikut Mum dan Dad ke Rumania, kita kan jadi bisa melihat naga sungguhan. Wah, pasti seru," ucap Fred berseri-seri setelah menelan makanannya.
"Wah, bener juga ya, Fred. Naga. Pasti keren banget," sahut George.
Naga? Ih, makhluk itu kan menyeramkan. Besar, bersisik, dan berapi, Valerie bergidik membayangkan betapa berbahayanya berada di samping seekor naga. Ia mengubah topik pembicaraan. "Kalian tahu siapa aja yang nggak pulang liburan?"
"Aku nggak tahu persisnya siapa aja. Tapi kalau dari Gryffindor, jelas aku, George, Percy, Ron, dan Harry Potter," kata Fred.
"Harry Potter?"
"Ya, dia bilang tak ingin kembali ke rumah bibi dan pamannya di–di mana George katanya?"
"Privet Drive, London."
"Ya, London. Katanya keluarga paman dan bibinya bukan keluarga yang ramah. Karena itu dia nggak mau pulang."
"Oh," jawab Valerie.
Keesokan harinya Valerie menaiki kereta Hogwarts Express. Ia berada sendirian di sebuah kompartemen. Sebuah kondisi yang bagus menurutnya.
Ia sempat bertemu Draco Malfoy saat di peron tadi. Sepertinya Draco sudah lebih bersahabat sekarang, tak ada lagi tatapan sinis seperti kemarin setelah pertandingan.
—o0o—
Menurut Ben Amber, suasana Natal tahun ini lebih berwarna ketimbang tahun lalu. Ia melihat Valerie lebih ceria saat pulang dari sekolah. Mungkin benar kata ayah baptisnya itu, Valerie mulai menikmati sekolahnya. Dengan kata lain, terapinya berhasil. Ben tak henti-hentinya tersenyum setiap kali menatap putri kesayangannya itu.
Valerie juga lebih bersemangat untuk membeli beberapa kado Natal untuk teman-temannya. Putri tunggalnya itu akan memberi kado kepada Fred dan George, Ginny –adik Fred dan George, lalu kakeknya, dan juga Draco Malfoy. Aneh juga rasanya mengetahui Valerie masih bersahabat dengan Malfoy junior, mengingat Lucius, kepala keluarga Malfoy, terlihat membenci keluarganya. Tapi toh Valerie senang, jadi tak ada alasan bagi Ben untuk mengacaukannya.
Para peri rumah keluarga Amber juga kelihatannya melihat perubahan pada diri Valerie yang kini lebih ceria. Mereka dengan senang hati membuatkan kue-kue Natal yang enak dengan berbagai macam bentuk untuk Valerie. Tak lupa juga beberapa hidangan makanan yang dibuat spesial untuk menyambut kepulangan Valerie pada liburan kali ini.
Pada hari Natal, Valerie sudah bangun lebih pagi. Ia menghampiri kamar tidur papanya untuk mengucapkan selamat Natal terlebih dahulu. Hari ini Valerie sudah memina ijin untuk dapat mengunjungi rumah kakek-nenek Anderson, satu-satunya keluarga Mandy yang Valerie kenal. Malah papanya berjanji untuk menemaninya.
Ayah dan Anak tersebut mengajak para peri rumah mereka untuk makan bersama di depan perapian pagi ini. Khusus pada hari Natal ini, mereka ingin berbagi kebahagiaan. Ben tak ingin hari ini menjadi hari yang formal, karena itulah dengan satu lambaian tongkat, ia membawa semua hidangan di meja makan mendarat di permadani depan perapian. Mereka makan bersama peri rumah mereka. Ini adalah cara Ben untuk memberikan penghargaan bagi peri rumah mereka yang selama ini mengabdi, tapi tidak dengan membebaskan mereka. Ben dan Valerie tahu peraturannya, peri rumah suka bekerja, mereka akan sangat sedih jika dibebaskan, maka inilah salah satu cara menghargai peri rumah tanpa menyakiti perasaan mereka.
Siangnya, Valerie dan Ben mengunjungi rumah kakek-nenek Anderson di London. Pasangan itu masih mengingat Valerie dan Ben. Nenek Anderson tak henti-hentinya memeluk Valerie dan tersenyum kepadanya. Mereka terlihat begitu senang atas kunjungan Valerie dan ayahnya kali ini. Sudah lama rasanya mereka tak bertemu. Valerie juga membelikan kado Natal untuk keduanya, yang diterima dengan senang hati oleh pasangan itu.
Sorenya, kakek-nenek Anderson mengantarkan Valreie ke depan makam Mandy untuk menaruh sebuah karangan bunga di atasnya. Walaupun tetap ada rasa sedih di dalam hatinya, Valerie berusaha untuk menahannya demi kakek dan nenek Anderson. Ia tak ingin membuat mereka sedih.
Valerie tetap merasakan kebahagiaan hari Natal saat sampai di rumah setelah mengunjungi keluarga Anderson. Setidaknya, Natal kali ini tak seburuk Natal tahun kemarin saat ia bahkan tak ingin keluar dari kamarnya sama sekali. Hari ini memang cukup melelahkan bagi Valerie, tapi ia merasa senang. Dan rasanya tempat tidurnya di rumah begitu empuk dan cepat membuatnya tertidur pulas.
—o0o—
Valerie sedang membaca sebuah buku tentang monster-monster dan makhluk menyeramkan di dunia sihir. Buku itu kecil dengan sampul kulit berwarna hitam pekat yang menyelimutinya.
Valerie membukanya. Ia ingin lebih banyak mencari tahu tentang makhluk menyeramkan yang menyerang Mandy dan dirinya. Tetapi tiap lembar halaman buku itu terkesan sangat tebal dan berat.
Valerie bergidik. Tinta yang digunakan untuk menulis buku itu berwarna merah darah. Tetapi rasa penasaran membuat Valerie kembali membuka halaman demi halaman buku itu.
Beberapa gambar dalam buku itu begitu menyeramkan. Valerie tetap terus melanjutkan untuk membukanya.
Buku itu tiba-tiba bergetar di dalam genggamannya. Valerie ketakutan. Ia melempar buku itu menjauhinya.
Sebuah makhluk menyeramkan muncul dari dalam halaman buku yang dibukanya. Makhluk itu seolah keluar dari dalam buku dan hidup. Sebuah monster bertudung kelabu melayang-layang di atas buku. Ia melihat Valerie dan mulai terbang ke arahnya.
Valerie mencoba menjauhi monster menyeramkan itu. Ia berlari di antara rak-rak buku yang ada di hadapannya. Monster itu mengejarnya dari belakang. Valerie terus berlari sekuat tenaga untuk memperbesar jarak di antara mereka.
Ia sudah tahu tempat ini, ia kenal dengan tata letak tiap raknya, dan ia tahu di mana letak pintu keluarnya. Ia sudah sangat familiar dengan tempat ini karena dalam beberapa minggu belakangan ia sangat sering ke sana. Valerie terus berlari dan berbelok beberapa kali. Tetapi anehnya pintu keluar itu tetap tak kunjung ditemuinya.
Valerie mulai panik dan napasnya sudah terengah-engah karena terus-menerus berlari. Rasanya pintu itu seharusnya tak jauh dari tempatnya membaca tadi. Valerie kembali berlari demi menemukan pintu itu. Dan–
BRUK!
Ia jatuh tersandung beberapa buku yang tergeletak di bawah.
Monster menyeramkan itu melayang beberapa meter di depannya. Valerie mencoba merangkak menjauhi monster tersebut. Giginya bergemeretak tak karuan. Ia benar-benar ketakutan sekarang.
Mandy .. Mandy, tolong aku .., ucap Valerie dalam hati.
Papa .. Mama .. Tolong Vally ..
Ada segumpal air mata yang menetes di pelupuk matanya.
Monster itu menyunggingkan sebuah senyum menyeramkan kepada Valerie.
Lalu sebuah cahaya putih menyilaukan menyinari Valerie dan monster tersebut. Valerie memejamkan matanya.
Ada seseorang yang menghampirinya dan memeluknya erat, mencoba melindunginya dengan pelukan itu. Valerie merasa asing dalam pelukan itu, tetapi pelukan itu terasa sangat menenangkan dan hangat. Ia rasanya ingin terus berada dalam pelukan orang ini selamanya.
"Vally, tenanglah. Monster itu sudah pergi," ucap seseorang yang memeluknya beberapa saat kemudian. Suaranya begitu lembut. Valerie mengenal suara itu. Tapi ia tak pernah mendengar suara itu menjadi sangat lembut seperti sekarang.
"Kamu aman sekarang, sayang. Bukalah matamu,"
Ada suara lembut yang lain. Suara yang satu ini lebih berat. Suara seorang laki-laki.
Valerie membuka matanya dan bangun melepaskan pelukan wanita yang merangkulnya. Ia menatap kedua orang yang menjadi sumber suara tersebut.
Sepasang laki-laki dan perempuan duduk di hadapannya dengan senyum yang sangat hangat. Valerie ikut tersenyum melihat keduanya.
"Mum. Dad," panggil Valerie dengan berseri-seri.
"Ya, nak," balas wanita itu dengan senyum.
"Terimakasih," ucap Valerie. Keduanya tersenyum semakin lebar.
Sebuah rasa sesak menghampiri paru-parunya. Valerie amat bahagia mengetahui mereka berdua ada di sini. Bahkan mereka menolongnya dari serangan monster menyeramkan itu.
Valerie melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan keduanya sekali lagi. Mereka memeluknya balik. Valerie memejamkan matanya, mencoba menikmati kebahagiaan dan kehangatan yang diberikan keduanya. Ia ingin terus bersama mereka selamanya. Tinggal dan hidup bersama mereka. Sesuatu yang rasanya sangat didambakan dan sangat dirindukan Valerie, walau ia tak pernah menyadarinya. Dan Valerie merasa amat menyayangi mereka.
—o0o—
Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar Valerie. Ia terbangun masih dengan senyum di wajahnya. Valerie melihat sekeliling untuk menyadari apa yang terjadi. Sebuah mimpi yang aneh. Dan ada sepasang laki-laki dan perempuan yang tak pernah dilihatnya, tetapi ia yakin ia sangat mengenal mereka.
Bahkan entah dari mana ia tahu bahwa pasangan tersebut memang seharusnya ia panggil dengan sebutan 'Mum' dan 'Dad'. Ia juga sadar wanita dalam mimpinya itu bukanlah mamanya. Dan laki-laki dalam mimpinya juga bukan papa-nya.
Dan ada sebuah perasaan hangat serta nyaman yang ditawarkan keduanya. Perasan yang membuat Valerie ingin terus bersama mereka. Untuk hidup, dan bahkan tinggal bersama mereka adalah hal yang sangat diidamkan Valerie. Ia rela meninggalkan papanya sendirian di sini—
Nggak!, otak Valerie meneriakkan sesuatu. Ia memejamkan mata dan menggelengkan kepala.
Nggak mungkin. Aku nggak kenal mereka. Dan papa— papa..,
Valerie membuka matanya dan bergegas keluar dari selimutnya. Ia keluar dari kamar tidurnya dan berlari sepanjang lorong rumahnya.
Valerie menerobos masuk ke dalam kamar papanya, tetapi papanya tak ada di kamar. Valerie mulai panik.
"PAPA!" teriak Valerie memanggil papanya.
Valerie berlari menuju kamar mandi dan mencoba membuka pintunya. "PAPA!"
Pintu kamar mandi itu tak dikunci, pertanda papanya tidak ada di sana. Valerie semakin panik.
"PAPA! PAPA DI MANA?!" teriak Valerie terisak.
"Papa Di Sini, Sayang!" ucap Ben Amber membalas teriakan putrinya.
Valerie langsung melesat berlari ke arah sumber suara. Ia bergegas turun tangga dan melihat papanya sedang duduk di kursi makan biasanya.
Valerie menghampiri papanya dan langsung menghamburkan tubuhnya, memeluknya dengan erat. Ia terisak di dalam pelukan papanya.
"Vally sayang papa. Vally sayang banget sama papa," Valerie berkali-kali menggumamkan kata-kata itu.
Ben Amber yang cukup kebingungan dengan sikap anaknya pagi ini, tak ingin bertanya lebih jauh dulu. Ia kemudian membalas pelukan putrinya itu dan mengelus rambut kelam nan halus miliknya.
"Papa juga sayang kamu, dear. Papa akan selalu sayang kamu," ucap Ben pada anaknya.
Ben Amber tak mengerti apa yang terjad. Kalaupun putrinya itu mengalami mimpi buruk, baru kali ini di dalam mimpi buruknya Valerie sampai ketakutan dan memeluknya sambil bergumam kata-kata tersebut. Tapi enah apapun mimpi yang dialami putrinya, Ben akan tetap mencoba menenangkannya. Karena Valerie adalah satu-satunya harta miliknya yang paling berharga, dan ia tak ingin kehilangan Valerie dengan alasan apapun.
— [ Selanjutnya, Chapter 5 ] —
