NARUTO © Masashi Kishimoto | Kakashi H. & Sakura H. | Criminal Drama
Previous Chap
Mendadak Sakura memeluk Kakashi dengan erat.
Sebisa mungkin Kakashi menahan diri. Ia ingin mendorong Sakura, tapi ia segan. Jadilah dia berusaha sekuat tenaga agar bisa terus normal dan tidak kelepasan di situasi-situasi mencekam seperti ini.
"Jangan marah kepadaku ya, Sensei. Sensei teman yang menyenangkan sih..."
"Iya... tenang saja."
Kakashi menelan ludah. Ia berharap setelah ini Sakura tidak akan berbuat hal-hal yang bisa 'menyalakan' dirinya yang dulu.
.
.
Setelah les pertama Sakura di tempat Kakashi terlewat sehari, pria bersurai abu itu menghabiskan waktu siangnya untuk terbaring di ranjang dan tertidur. Selain karena dia tidak memiliki kerjaan, dia juga ingin mencuci otaknya dari bayangan wajah kecil milik Sakura yang—entah mengapa—selalu menempati isi benaknya.
Gadis itu terlalu imut. Mata bulatnya yang beriris emerald itu sangat sulit ia lupakan. Bahkan saat tidur tadi malam pun sosok itu sempat terbayang di mimpinya.
Jengah kepada dirinya sendiri yang semi terobsesi ke Sakura, Kakashi memutar posisi terbaringnya menjadi ke kanan. Ia buka kedua kelopak matanya dan memandangi dinding kamarnya yang bercat warna peach pucat ala daging buah pir.
Pelan-pelan ia menghembuskan nafas. Ia sibuk memikirkan pola pikir Kurenai yang membuatnya bekerja sebagai guru privat dari seorang anak perempuan. Masalahnya... kenapa harus sekarang? Keadaan psikisnya masih belum siap menerima kenyataan ini.
Ia takut suatu saat nanti Sakura membuatnya kambuh. Sampai-sampai hasratnya memuncak dan tanpa sadar ia langsung menyerang Sakura tanpa ampun. Jika saja hal itu terjadi, mungkin dirinya akan kembali mendekam di penjara selama satu dasawarsa. Dan Kakashi tidak ingin merasakan ulang penderitaan itu.
"Tsk..."
Satu decakan keluar. Salah satu upaya agar bisa membuyarkan pemikirannya.
Ting tong.
Bel apartemen berbunyi. Ia mengerang malas.
Siapa yang datang di sore hari seperti ini sih?
Kakashi beranjak dari tempat tidurnya. dengan langkah terseret ia pun membuka pintu apartemen dan memberikan sambutan datar. Ternyata orang yang saat ini berdiri di depan pintu ialah orang yang ia kenal. Seorang wanita berambut hitam nan ikal, serta dengan dress pesta berwarna merah ketat yang membalut tubuh seksinya.
Pria itu menatapnya. "Kurenai..."
.
.
.
THE PEDOPHILIAN
© Sanpacchi Fanfiction 2013
AU—Alternate Universe
Mature Content, Lollicon, etc.
.
.
CHAPTER IV
(Psikiater)
.
.
"Selamat malam, Kakashi-sensei..." Bibir yang terpoles lipstick merah itu tersenyum. Ia langsung melangkah masuk—sekalipun sang pemilik belum terlebih dulu menganjurkan.
"Mau apa ke sini?"
Kurenai yang sedang melepas heels-nya itu menoleh. "Kok jutek sih, Sayang? Bukannya aku memang sering ke sini?"
Kakashi menghela nafas. Mau bagaimanapun juga ia harus memaklumi sifat seenaknya yang dimiliki oleh psikiater muda itu. "Aku lagi marah denganmu..."
"Hm? Kenapa? Apa karena mulai terapi dengan cara meleskan secara privat seorang siswi kelas tiga SD?"
"..."
"Kamu marah, Sensei?"
"Anggap saja iya."
"Aduh... kenapa sinis begitu nadanya?" Kurenai tertawa. "Padahal kemarin malam Haruno-san, ayah dari Sakura, bilang kalau kamu itu ramah loh... tapi kenapa giliran sama aku tidak?"
Kakashi tak merespons. Malas menjawab, ia lanjutkan perjalanannya ke ruang tengah.
Namun baru saja dua langkah pria itu melewatinya, tangan Kurenai sontak menahan kemeja putih milik Kakashi. Ia tarik kain itu dan menghempaskan pemiliknya secara pelan ke dinding. Wanita ber-make up sempurna itu menghimpitnya. Ia sengaja menempelkan dada besarnya ke tubuh berbidang Kakashi. Tak lupa sebuah seringaian menggoda ia tampilkan.
"Kalau penyakit pedofilmu kambuh, kan tinggal minum obat yang pernah kukasih..."
Kakashi menatapnya dengan pandangan tak berselera. "Aku sudah minum obatnya."
Raut wajah Kurenai sedikit terkejut saat mendengarnya. "Mm... lalu bagaimana? Sudah agak tenangan?"
"Tidak. Terus terang saja sosok Sakura masih terus terbayang di benakku."
Kurenai menggeleng pelan. Punggung jemarinya ia gunakan untuk membelai rahang Kakashi yang mulus tak ternoda. "Kamu ini... benar-benar lollicon, ya?"
Kakashi menepis pelan tangannya. "Terserah apa katamu..."
Tawa pelan kembali keluar dari sela bibirnya. Ia sekalian menyeringai dan menjalarkan talapak tangan lentiknya ke dada bidang Kakashi. Menelusurinya dengan perlahan. "Kalau begitu... perlu kukasih 'obat' yang lain, tidak?"
Kakashi terdiam. Hanya kedua matanya yang tidak bersemangat itulah yang terus memandangi iris ruby milik Kurenai Yuuhi. Perlahan pun Kurenai berjinjit. Ia menyamakan tinggi tubuhnya dengan sosok Kakashi yang berada di hadapannya.
Bersamaan dengan itu kepala Kakashi terpeluk. Bibir keduanya menempel lengket. Mengecup dan merasakan satu sama lain secara intim dan seduktif. Dan dapat dipastikan Kurenai lah yang terlebih dulu memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Kakashi. Menyentuh butiran gigi serta bagian sisi rongga mulut, seolah mencari pasangan untuk diajaknya bermain. Kurenai menggerakkan ciumannya yang dipenuhi gairah.
"Ngh... hmn..."
"Nh..."
Kakashi merespons dengan gaya pasif. Ia hanya membuka celah di antara bibirnya, lalu membiarkan Kurenai yang mengambil alih lidah dan mulutnya di saat itu. Kakashi sempat memejamkan matanya untuk menghayati perannya yang sedang melakukan foreplay.
"Se-Sensei..."
Bersama sentuhan yang semakin mendalam, Kurenai semakin mendempetkan tubuh rampingnya ke Kakashi. Tak peduli pria itu suka atau tidak, yang jelas ia bisa dengan berani menempelkan dada besarnya ke tubuh Kakashi yang masih berlapis pakaian.
"Hh... sentuh aku... ayo sentuh aku, Sensei..."
Godaan, serangan bibir dan desahan tadi membuatnya terhanyut. Walau masih diliputi oleh hawa tak niat, tangan Kakashi merambat menyentuhnya. Ia menyelipkan tangan di antara dempetan tubuh mereka untuk bisa meremas bebas salah satu dada Kurenai. Empuk dan begitu kenyal. Apalagi kalau diremas dengan cara memutar.
Kurenai melepaskan ciumannya, lalu mendesah sambil memejamkan mata. "Re-Remas lebih kencang... aku mau yang kuat..."
Deru nafas mereka beradu.
Kakashi sedikit berdesis. Ternyata Kurenai sempat menggesek kejantanannya di balik celana dengan ujung lutut yang sengaja ia tekuk. Kurenai—yang mendapati wajah seksi dari pria tampan itu—tersenyum.
"Kenapa? Mulai panas, ya?"
Jemarinya mulai merambat ke satu per satu kancing kemeja putih yang saat ini dikenakan oleh Kakashi. Dan ketika empat kancing teratas sudah terbuka dan menampilkan dada bidangnya yang berwarna putih pucat, ia memasukkan tangannya. Meraba perlahan, melepaskan kain itu sepenuhnya dan kemudian menarik Kakashi ke arah kamar.
Wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya sudah tidak tahan dengan pesona pria setampan Kakashi Hatake.
Dan karena saat ini ia sedang tak ingin melakukan apa-apa—menolak ataupun merespons—Kakashi mengikuti arah ke mana Kurenai membawanya. Bahkan ia baru sadar kalau wanita itu sudah mendudukkan dirinya di kasur dan membuka kedua kakinya lebar-lebar.
Sambil menyingkap poni belah tengahnya agar tak menghalangi, Kurenai berjongkok di depannya. Ritsleting diturunkan dan benda milik Kakashi ia keluarkan. Tanpa lama kejantanan yang masih sedikit tak bersemangat itu ia genggam erat-erat.
"Hh..."
Suara hembusan nafas itu keluar saat Kakashi rasakan ada ruang mulut hangat yang menyantap organ vitalnya. Pria bersurai perak itu memejamkan mata. Ia hanya diam saat Kurenai melancarkan sifat dominasinya saat permainan oral ini. Dan karena ini bukanlah hal yang pertama bagi mereka berdua, Kakashi sama sekali tak heran ataupun risih melihat wanita beriris ruby ini terlihat sangat bersemangat untuk memanjakannya.
"Ng!"
"Hm!"
"Nhh!"
Suara tertahan itu Kurenai lancarkan saat ia menggerakkan kepalanya berkali-kali. Decapan dan suara gesekan dari benda Kakashi yang mulai tegak itu terus mewarnai seisi kamar. Dan tak terasa pun buliran keringat juga hadir di pelipis Kakashi.
Mata sayu pria itu terarah ke bawah. Ia perhatikan dari atas Kurenai yang sedang bekerja menghisap dan menggauli batang kepuasannya dengan berbagai cara. Dimulai dari gerakan tangan, lidah sampai ke hisapan yang mampu membuat tubuh Kakashi merinding seketika.
"Ahh.."
Kakashi pun memejamkan mata. Ia dapat merasakan sebuah lidah yang menggesek kulitnya. Menggigit-gigit kecil ataupun terkadang menarik-nariknya dengan hisapan kencang. Itu semua membuatnya terbuai dan membuka mata.
"—!"
Namun tiba-tiba ada sebuah hal yang mengejutkan. Ketika kedua manik hitamnya terbuka dan menatap lurus ke seseorang yang berada di selangkangannya, ia terbelalak. Apa yang saat ini dilihatnya adalah sosok Sakura. Masih dengan pakaian yang sama seperti kemarin—sebuah kaus dan juga rok selutut—ia sedang disibukkan oleh kejantanan Kakashi yang berdiri tegak.
Detik berikutnya jantung Kakashi mengebu. Hormonnya bereaksi.
"Ah, punya Sensei membesar..." Gadis kecil itu berbicara setelah melepaskan kejantanannya dari mulutnya. Saliva yang transparan terlihat menyebar ke sekitar bibir kecilnya. Bahkan ada yang sampai menetes dari batas dagu.
Kakashi terus memperhatikannya dengan mata yang terbuka. Ia kaget dan juga tegang dalam detik yang sama.
Set!
Tangan Kakashi bergerak tanpa kendali. Ia jambak helaian merah muda milik Sakura. Sebuah tarikan kasar ia layangkan, membuat kepala Sakura terbenam di selangkangannya. Kejantanannya menusuk penuh kerongkongan kecil miliknya.
"Hmmph! Nggh!"
Getaran itu membuat Kakashi menghembuskan nafas dengan nada bergetar. Ia terlalu menikmati ini semua. Lalu tanpa ampun segeralah ia maju-mundurkan kepala Sakura agar ia lebih mendapatkan sensasi yang lebih besar dan lebih menyenangkan dibandingkan hal sebelumnya.
"Ng!"
"Agh!"
"Hh!"
Desahan nafas nikmat itu adalah suara yang dihasilkan oleh Kakashi.
Ia sudah benar-benar bertindak di luar akal.
Kemungkinan besar semua hal ini menjadi kian menggila karena sentuhan yang ia dapatkan adalah sebuah kenyataan.
Tak peduli apakah itu hanyalah imajinasi atau sesuatu yang nyata, Kakashi berdiri. Ia menarik kepala Sakura agar mulut itu dapat menenggelamkan kejantanannya sampai sisi terujung.
"Hhaaa..."
Kakashi menunduk. Ia melihat Sakura yang matanya menyipit. Ia terlihat kesakitan. Mungkin karena kerongkongannya tertusuk oleh batang tegak milik Kakashi yang tak bisa dibilang pendek.
"Ssshh... hha..."
Kakashi bergetar. Matanya tak bisa terlepas dari wajah Sakura yang memerah; yang lemas; yang tak bertenaga. Ya, itulah yang dia mau.
"Kh!"
Cairan mani miliknya tersembur. Sakura tersedak saat mendapati cairan itu memasuki rongga tubuhnya sampai penuh.
Hampir semenit tak bergerak, dengan perlahan ia keluarkan bendanya dan membiarkan Sakura terbatuk sambil sesekali memuntahkan sperma itu dari mulutnya.
Tanpa merasa bersalah Kakashi yang belum puas segera mengangkat tubuh Sakura dan membantingnya ke permukaan kasur.
Brukh!
Kurenai—yang saat ini sedang dilihat sebagai 'Sakura' di mata Kakashi—terbaring di atas selimut. Jujur saja ia terkejut. Kakashi mendadak jadi garang seketika. Apalagi sewaktu tangan pria itu mencengkram kain dress-nya dan menurunkannya dengan sekali sentakan.
"Kyaah!"
Kedua dada besar milik Kurenai—yang tak tertampung bra—menyembul keluar. Puncak yang kanan ditangkap oleh tangan, sedangkan yang sisa satunya lagi diterkam oleh mulut Kakashi yang seolah kelaparan. Tarikan Kakashi di ruang mulutnya membuat Kurenai menjerit penuh gairah.
"A-Ah! I-Iyaa!" Kedua tangannya menekan kepala Kakashi. "I-Iya! Terus begitu! A-Anhh!"
Pinggul Kurenai naik. Seprai di bawah mereka pun langsung kusut hanya karena beberapa detik tertindih. Kakashi yang terus aktif seperti ini membuat Kurenai takjub sekaligus senang. Baru pertama kali Kakashi mau menanggapi ajakan seks sampai sebegininya.
Sayangnya, apa yang saat ini Kakashi pikirkan bukanlah sedang menggauli tubuh wanita seksi seperti Kurenai. Ia malah memikirkan postur tubuh kecil yang tak berbentuk milik Sakura. Dada kecilnya yang ia kuasai serta desahan kecilnya yang terus memanaskan api gairahnya dalam permainan ini.
Hanya saja khayalan itu selalu tak bertahan lama.
"Kakashi..."
Terutama saat Kurenai memanggil namanya dengan suara manis. Pria itu mengadah dan mendapati sosok Kurenai Yuuhi yang sudah memerah dan terlihat sangat mengidamkan dirinya.
Merasa itu bukan sosok Sakura yang dari beberapa menit lalu ia kecap rasanya, Kakashi sedikit terperangah. Ia baru sadar bahwa itu hanyalah sebatas imajinasi belaka. Lagi—kedua kalinya ia mengalami hal seperti tadi.
Sesaat Kakashi masih terdiam di tempatnya, tak lagi menyerangnya, Kurenai menjadi haus akan belaian. Ia menarik kepala Kakashi dan mengecup bibirnya sekali.
"Sensei... puaskan aku..."
Mendadak wanita berpakaian merah itu memutar posisi keduanya. Kali ini Kakashi di bawah dan Kurenai menduduki perutnya. Dengan perlahan dan mandiri Kurenai membuka celana dalamnya yang sudah basah. Sekedar menurunkannya dan kemudian langsung memegang benda Kakashi agar dapat mengarahkannya ke liangnya.
"A-Anh..." Ia berdesis tapi masih tetap berusaha memasukkannya secara penuh. Secara berangsur-angsur kewanitaannya yang berdenyut memberikan sensasi yang menyenangkan untuk dirinya seorang. "Ng... Ka-Kakashiiiii..."
Set!
"Ah! A-Ahh! Ah! Ah!"
Tubuh Kurenai bergerak. Ia memaju-mundurkan tubuhnya di atas Kakashi. Wajahnya mengadah dan matanya terbuka lebar karena rasa nikmat yang ia rasakan.
"Kakashi-sensei... a-aku suka... aahhh!"
Di posisinya Kakashi hanya terdiam. Dirinya memang masih bisa menikmati jalannya permainan panas yang tengah mereka lakukan. Namun rasanya hal tersebut tak sehebat dulu. Semua kesenangan duniawi yang melewati jalan ini seolah pudar.
Kakashi tiba-tiba membangkitkan badannya dan menahan pergerakan Kurenai di atasnya.
"Ada apa, Sensei?"
Kakashi menghela nafas. Ia lepaskan persatuan mereka berdua dan segera mengenakan celananya lagi. Wajahnya seperti tertekuk.
"Tidak. Aku baik."
Di sana Kakashi memejamkan mata.
Entah kenapa... ia sedang tidak ingin bercinta di saat seperti ini.
Nafsu seksualnya seperti ada yang menahan; melarangnya untuk terus menikmati. Entah itu murni dari Tuhan yang berada di atas atau mungkin dirinya yang sudah terlalu abnormal—karena telah menolak segala bujuk rayu dari tubuh Kurenai Yuuhi yang nyaris sempurna.
"Aku serius... kamu kenapa sih?"
Kurenai yang tak terima diindahkan segera menarik tangannya. Kakashi menggeleng dan Kurenai berdesis.
"Di awal Kamu sudah semangat, kan? Lalu kenapa mood-mu mendadak drop?"
Wanita yang nyaris telanjang itu kembali menurunkan ritsleting Kakashi. Dalam hitungan detik ia keluarkan kejantanan Kakashi yang—
"A-Apa?"
Suara Kurenai terdengar heran sementara tangannya masih bergerak di pusat rangsangannya.
"Kenapa kamu... sudah lemas?"
Kurenai memundurkan wajah dan memandangi kejantanan Kakashi yang tak lagi tegang. Padahal tangan Kurenai sudah berkali-kali meremas dan mencoba menegakkannya. Tapi hasilnya tak ada; nihil.
Si pemilik yang menyaksikan itu hanya terdiam. Ia sama sekali tak berkomentar apa-apa. Dirinya juga bingung.
"Apa aku tidak bisa membuatmu terangsang, hah?"
Harga diri Kurenai bagaikan tergores oleh sebilah pisau. Wanita itu luar biasa terkejut saat tubuh dan gerakannya ternyata bisa membuat Kakashi bosan sampai secepat itu. Padahal dulu-dulu, ketika mereka melakukan ini di tiap akhir pekan, permainannya selalu berakhir dengan lancar. Sangat berbeda dari hal yang hari ini ia dapatkan.
Dan dari Kakashi sendiri, pria berwajah tanpa ekspresi itu mengetahui akar penyebabnya.
Apalagi kalau bukan pikirannya tentang Sakura?
Semua hal tentang gadis kecil itu membuat Kakashi seolah buta oleh tubuh seorang wanita dewasa. Ia inginnya malam ini ia menghabiskan waktunya di ranjang bersama Sakura Haruno. Bukan Kurenai.
Ia inginnya kesepuluh jari mungil itulah yang mengurusi kejantanannya. Tak lupa dengan desahannya yang begitu imut kalau dibayangkan di benaknya sendiri.
Bukan Kurenai.
Dengan menghela nafas kesal, Kakashi menundukkan kepalanya. Ia tampak membutuhkan obat untuk menenangkan emosinya yang kambuh sehingga tak stabil seperti yang kemarin-kemarin.
Apa jangan-jangan karena rasa ketertarikannya terhadap anak kecil kini jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa?
"Kakashi? Kamu kenapa? Jawab pertanyaanku yang tadi!"
Kakashi hanya menggeleng. Dia berdesis pelan. "Tadi kan sudah kubilang tidak ada apa-apa."
"Kalau begitu... ayo kita lanjutkan..." Ia memelas. "Ya? Ya? Yaa?"
Kakashi menggeleng. Pria itu berdiri dan kemudian membenarkan celananya. Kali ini ia tak perlu basa-basi lagi. Segeralah ia mengambil sebuah kaus yang untuk menutupi dada bidangnya yang polos.
"Lain kali aja."
"Hah? Apa maksudmu?"
"Sedang tidak minat."
Wanita itu terdiam di tempat.
"Entah. Aku bosan."
"Bosan, eh? Bosan denganku?"
Kakashi menoleh, lalu ia menampilkan senyum palsunya. "Ya."
Dapat dilihat Kurenai yang masih berdiri meneguk ludahnya sendiri. "Apa jangan-jangan karena... sekarang kamu lebih tertarik sama anak kecil?"
Kakashi masih memasang wajah datar. Ia mendengus pelan, bahunya terangkat.
"Bisa jadi. Terus terang saja, dari dulu aku tidak berminat ke ibu-ibu tua sepertimu."
Kurenai terperanjat.
"Terserahlah! Aku tidak peduli!"
Merasa harga dirinya terinjak-injak, wanita berusia tiga puluh enam tahun itu segera membenahi pakaiannya. Ia acungkan jari telunjuknya di depan wajah Kakashi sebelum ia keluar dari ruangan.
"Aku malas berhubungan denganmu—jadi harap maklum kalau aku tak akan pernah ke sini lagi! Ingat itu!"
Blam!
Setelah psikiater itu menghilang dari pandangannya. Kakashi menyandarkan punggungnya ke sisi papan lemari. Ia memejamkan kedua matanya dan mencoba menghela nafas.
Ia mencoba meredakan pikirannya yang kacau.
Dan sepertinya ini akan menjadi awal mula dari sesuatu yang membahayakan... apalagi alasan dari semua kejadian ini berawal dari masalah ketertarikan dirinya terhadap Sakura Haruno
"Tsk..."
Ia berdecak pelan.
Berhubung hasil dari segala imajinasi non-nyatanya harus menjaga jarak dari Sakura. Kakashi harus memastikan bahwa dirinya sedikit menjauh dari Sakura sebelum ini semakin parah.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Special Thanks
Seijuurou Eisha-chan, amu-b, Guest, naabaka, Guest, stillewolfie, ririko, hasashi heika, Lady Violeka, cruderabelica, Fun-Ny Chan D'JiNcHuUri-Q, Katsumi Hikaru, Elang23, maori kitsuki, Kiki RyuEunTeuk.
.
.
Frequently Asked Questions
Aku ngeri sama jawaban ":)" Sansan. Soalnya kalo aku jawab nanti mengadung spoiler. Rapi, padet dan ngga maksain plotnya. Arigatou. Kakashi nyeremin. Iya, ya? Padahal kalo sama Sakura, Kakashi kan jadi baik. Semoga Kakashi cepet sembuh. Aminin aja deh. Ada typo. Arigatou udah dikasih tauin :) Chap 4 ada lemon KakaKure, ya? Iya. Pertama dan terakhir :) Ngga nyangka KakaKure sering gituan. Haha. Kakashi mati-matian nahan tuh. :) Sakura tipe-tipe yang pasrah ya kalo diapa-apain. Anak kecil masih polos :) Orang tua Sakura ngga tau latar belakang Kakashi, ya? Ngga. Cuma Kurenai. Ngga nyangka kamu bisa ngejelasin interaksi guru-murid sedetail itu. Ahaha. Dapet dari kenangan cara ngajar guru SD-ku dulu.
.
.
Next Chap
"Apa kau bisa tidak menyentuhku?"
"Tapi kok Sensei jadi dingin ke aku?"
"Ayolah Sensei... pleasee...?"
"Sepertinya kau semakin handal untuk berbohong ya, anak muda."
.
.
I'll pleased if you enter your comment
Mind to Review?
.
.
Ramenly,
SANPACCHI
