Sasuke menyentuh sumber rasa sakit di dahinya itu seraya meringis pelan, beberapa menit yang lalu ia baru saja membuka kedua matanya dan rasa sakit di kepalanya lah yang menyambut kesadarannya. Bibirnya merintih tak kuasa lagi menahan sakit pada kepalanya yang diperban tersebut.
"Ughh…" matanya melirik ke sana ke mari, mencari sesuatu yang bisa meredakan sakit kepalanya dan pandangannya jatuh pada seseorang yang masih tertidur di atas sofa. Tangannya terjulur ke arah seseorang itu, seakan ia bisa menggapai orang tersebut dan meminta pertolongan.
"To-Tolong… Ughhh…" ia tak bisa bersuara lagi, rasa sakit di kepalanya yang semakin kencang membuatnya tak berkutik di atas tempat tidurnya, yang bisa ia lakukan hanyalah memejamkan kedua matanya seraya berharap rasa sakit itu segera menghilang.
Srekkk…
"Umm…" mendengar rintihan itu membuat seseorang yang sedari tertidur mulai membuka kedua matanya, mata sayunya mengerjap-erjap sejenak lalu memandang seseorang yang berbaring di atas ranjang rumah sakit dan seketika mata birunya membelalak lebar melihat Sasuke telah sadarkan diri dan tengah merintih kesakitan.
Ia pun beranjak dari sofa lalu menyalakan lampu ruangan, dengan tergesa-gesa ia menghampiri Sasuke lalu berdiri disampingnya, "Syukurlah kau sudah sadar, apa kepalamu sakit?"
Sasuke menganggukkan kepalanya pelan sedangkan sosok itu langsung saja melihat perban yang melilit kepala hingga dahi Sasuke, ia bisa melihat sedikit bercak darah pada perban tersebut.
"Sepertinya lukamu terbuka kembali…" Uzumaki Naruto, sosok yang menjaga Sasuke, segera menekan tombol berwarna merah dan beberapa detik kemudian langsung tersambung dengan ruangan perawat, "Kamar 303, pasien telah sadar, lukanya kembali terbuka." dan setelah itu ia pun melepas tombolnya.
Mata birunya memandang cemas Sasuke yang masih merintih kesakitan, ia tidak tahu bagaimana bisa luka di kepala Sasuke yang telah dijahit bisa kembali terbuka, tetapi yang paling terpenting luka itu harus segera di tutup dan memastikannya agar tidak terbuka kembali.
Beberapa detik kemudian masuklah seorang dokter dan beberapa perawat yang langsung saja menangani Sasuke.
"Apa aku boleh tetap di sini?" Tanya Naruto pada salah satu perawat. Perawat itu menganggukkan kepala lalu kembali melakukan pekerjaannya.
Ia melihat jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul 2 pagi, sudah sejak kemarin Naruto menjaga Sasuke yang masih tertidur dengan lelapnya. Entah apa yang membuatnya lebih memilih untuk menjaga Sasuke dari pada Sai yang kini tengah dijaga oleh Shikamaru ( Walaupun dari luar ruangan karena orang lain dilarang masuk kecuali dokter ), hatinya berkata jika sudah seharusnya ia menjaga Sasuke.
Sasuke sudah melakukan tugas yang berbahaya kemarin kan? Sudah sepantasnya ia menjaga Sasuke sebagai balasannya.
Naruto mendudukan dirinya di samping tempat tidur Sasuke saat dokter dan perawat meninggalkan ruangan, mata birunya memandang Sasuke yang telah kembali tertidur karena obat bius, ia pun menghela nafas pelan lalu meletakkan kepalanya di atas kasur. Ia masih sangat mengantuk dan ia ingin segera tanggap jika saja Sasuke kembali terbangun dan meminta sesuatu kepadanya, karena itulah ia memilih untuk tidur di dekat Sasuke.
.
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu, NaruSai.
Rating : T+ nyerempet M
Genre : Angst and Romance
Warning : BL, Typo bertebaran, OOC, AU.
Maaf telah melucknutkan Sai! XD
.
.
Happy Reading!
.
.
Sasuke kembali terbangun tepat pukul 9 pagi, saat itu Naruto baru saja selesai membersihkan diri dan menunggu Sasuke sadar dengan makanan rumah sakit di dekatnya.
Pemuda itu sempat menolak untuk makan tetapi Naruto tetap memaksanya, mereka pun sedikit cekcok hingga Sasuke memutuskan untuk memakan sarapannya walaupun sedikit. Naruto memaklumi hal itu karena saat sehat pun Sasuke memang sulit sekali diajak makan.
"Naruto… Aku bisa memanggilmu dengan nama itu kan?"
Naruto menganggukkan kepalanya, "Ada apa? Apakah masih ada yang sakit?"
Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memandang Naruto lekat-lekat, "Bagaimana keadaan Sai? Dia baik-baik saja kan?"
Dia tahu cepat atau lambat Sasuke akan menanyakan hal itu, Naruto kembali menghela nafas lalu menceritakan keadaan Sai yang sebenarnya kepada Sasuke. Ia mengucapkannya dengan perlahan dan berjaga-jaga jika melihat gelagat aneh dari Sasuke.
Namun anehnya Sasuke tidak terlihat begitu terkejut, kepalanya hanya tertunduk lalu setetes air mata meluncur membasahi pipinya yang pucat.
"Sasuke…" Naruto mengusap air mata itu perlahan lalu meminta Sasuke untuk memandangnya, "Kau tidak terkejut?"
Bukan berarti Naruto mengharapkan Sasuke panik lalu menangis histeris mendengar berita itu, tetapi ini terlalu tenang. Apakah juga karena Sasuke sendiri sudah menyadarinya sama seperti yang dikatakan Shiakamaru?
"Walaupun aku sudah menyadarinya, tentu saja aku terkejut," Sasuke mengusap kedua matanya yang memerah, "Aku hanya tidak tahu harus berekspresi seperti apa, apapun yang aku lakukan tidak artinya, Sai tidak akan sembuh dan akan meninggalkanku selamanya sama seperti Tou-san dan Kaa-san. Semuanya karena aku terlambat peduli padanya." air matanya pun tak bisa ia bendung lagi.
Kedua tangannya pun ia gunakan untuk menutup mulutnya, kedua matanya terpejam berusaha menahan air mata yang tak bisa lagi ia tahan. Sasuke pun menangis dalam sunyi. Terlihat sangat rapuh sekali
"A-Aku ingin melihat keadaannya, Aku ingin melihatnya Naruto…" Sasuke memandang Naruto penuh harap. Air matanya masih senantiasa membasahi kedua pipinya.
Naruto langsung saja menggelengkan kepalanya, "Keadaanmu masih belum pulih benar." Bagaimana jika luka jahit di kepala Sasuke kembali terbuka seperti tadi pagi? Naruto benar-benar tidak ingin mengambil resiko. Bukan hal itu saja yang membuat Naruto khawatir, kondisi psikis Sasuke bisa saja terganggu saat melihat keadaan Sai nantinya.
"Naruto…" Sasuke menyentuh kedua bahu Naruto dengan kedua tangannya yang bergetar, "Aku mohon.." nadanya terdengar menyedihkan sekali tetapi Naruto tetap pada pendiriannya.
Lagi pula dokter belum mengizinkan orang lain untuk melihat keadaan Sai secara langsung. Kamar tempat Sai di rawat saja ditempatkan pada tempat yang khusus, hanya orang-orang penting seperti dirinya dan Shikamaru saja yang diperbolehkan memasuki tempat tersebut.
"Tidak bisa Sasuke, kau bisa mengunjunginya jika keadaan kalian berdua sudah membaik semua." Ujar Naruto mencoba memberi pengertian kepada Sasuke, ia sendiri juga tidak tega melihat Sasuke memandangnya penuh harap seperti itu, "Aku bahkan tidak tahu dimana Sai berada, orang dalam sudah menyembunyikannya di tempat yang aman." Ujarnya sedikit berbohong.
Sasuke melepaskan sentuhannya lalu kembali mengusap kedua matanya, wajahnya menunjukkan raut kecewa tetapi pemuda itu berusaha menyembunyikannya, "A-Aku mengerti, maaf sudah memaksamu." Ujarnya pasrah.
Melihat sang Uchiha menangis memang menyakitkan tetapi melihat pemuda itu berusaha tegar dalam menghadapi permasalahannya semakin membuatnya terlihat menyedihkan.
"Kalau keadaanmu sudah lebih baik aku janji akan membawamu kepada Sai, aku juga mencemaskan keadaannya," Naruto memandang Sasuke lalu mengusap surai hitam itu pelan lalu turun untuk mengusap kedua pipi Sasuke yang basah oleh air mata, "Sebelum mencemaskan orang lain lebih baik kau mencemaskan dirimu sendiri terlebih dahulu. Bukankah begitu?"
Kedua manik biru itu memandang dalam-dalam iris mata hitam yang juga tengah melihatnya, mereka berdua masih saling memandang hingga sebuah suara menyentakkan pikiran mereka dan sontak membuat mereka berdua saling memalingkan wajah.
"Ara.. ara… sepertinya aku mengganggu kalian berdua ya?" ucapan Sakura membuat rona di wajah mereka semakin kentara.
"Aku datang untuk memeriksa 'keadaan' Sasuke-kun, kau bisa duduk sedikit menjauh dari kami Aranvol-kun.."
Naruto menganggukkan kepalanya kaku lalu berjalan menuju sofa tempatnya tidur tadi malam, tak lama ia pun memukul kepalanya sendiri saat menyadari tingkahnya tadi saat bersama Sasuke.
Sedangkan Sasuke sendiri semakin merasa salah tingkah, ia benar-benar tidak mengerti kenapa jantungnya berdegup tidak beraturan saat menatap sepasang mata biru milik Naruto.
'Astaga… Apa yang aku lakukan?' batin mereka bersama-sama.
(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)
Walaupun masih sedikit canggung, Naruto tetap merawat dan menjaga Sasuke mulai dari pagi hari hingga keesokan harinya. Apapun yang diinginkan Sasuke – Kecuali menemui Sai – pasti akan Naruto kabulkan. Naruto selalu beranggapan jika semakin baik ia merawat Sasuke maka balas budi atas nama Intelijen kepada Sasuke juga semakin besar. Lagi pula dirinya juga pernah kenal dengan Sasuke dan sudah menganggapnya seperti adik sendiri.
"Naruto."
"Hm?"
"Nanti malam aku tidak mau makan makanan rumah sakit lagi aku bosan." Ujar Sasuke seraya membayangkan makanan rumah sakit yang tidak ia inginkan itu.
"Lalu kau ingin apa?" Tanya Naruto kemudian, "Jangan yang aneh-aneh pokoknya." Lanjutnya cepat.
Sasuke terlihat sedang berfikir lalu tak lama kemudian ia memandang Naruto dengan mata berbinar-binar, "Aku mau makan sup tomat, boleh kan?"
"Sup tomat… Sepertinya sih boleh, baiklah aku akan membelikanmu sup, aku juga akan bilang kepada pihak rumah sakit untuk tidak mengantarkan makanan ke kamarmu," Naruto berdiri dari duduknya lalu merengangkan tubuhnya, "Aku akan pergi, kalau ada apa-apa kau bisa langsung menelponku atau berteriak saja, yang menjagamu di sini bukanlah aku saja." Karena beberapa anggota intel juga ikut berjaga-jaga dengan cara menyamar.
Sasuke menganggukkan kepalanya, manik hitamnya memandang Naruto yang berjalan keluar kamar hingga sepenuhnya menghilang dari pandangan. Tak lama kemudian ia menundukkan kepala seraya mencengkram selimutnya erat.
Ia tahu jika semua yang Naruto lakukan ini tak lain karena balas budi pihak intel kepada dirinya, ia mengutuk dirinya sendiri yang mengharapkan sesuatu yang lebih dari itu, bahkan ia tidak tahu mengapa perasaan aneh itu harus ia rasakan.
Sasuke pun menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menidurkan dirinya, selimut putih itu pun ia gunakan untuk menutupi seluruh tubuhnya. Apapun yang terjadi ia tidak boleh memiliki perasaan itu.
"Dengarkan aku atau aku akan terus membekapmu hingga kau kehabisan nafas.."
"Yang harus kau lakukan saat ini adalah menengkan dirimu."
"Kau pikir aku akan mengorbankan orang lain dengan senang hati demi kebahagiaanku? Apapun alasan yang kau berikan aku tetap tidak akan menyetujui keinginanmu itu!"
Kalau dipikir-pikir, pertemuannya dengan Naruto masih cukup singkat, yang membuat mereka sedikit cepat akrab hanya karena mereka saling mengenal di masa lalu. Sasuke benar-benar tidak terlalu ingat dengan interaksi mereka di masa lalu, yang ia ingat hanyalah dirinya yang berbalas ejekan dengan Naruto hingga dalam tahap ia merasa sakit hati dengan ucapan Naruto.
Setelah itu Naruto banyak menghabiskan waktunya dengan Sai dan Sasuke sendiri tidak begitu peduli lagi dengan kehadiran Naruto.
Akan tetapi… Apakah sesimpel itu?
Masa hanya gara-gara ejekan saja ia merasa sangat kesal dengan Naruto?
Ia bahkan tidak pernah memedulikan pendapat orang lain tentang dirinya? Kenapa juga mereka saling berdiam-diaman hanya karena ejekan?
Kenapa ingatannya terasa samar-samar seperti ini?
"Aku mencintaimu."
Sasuke mengerutkan dahinya saat perkataan itu tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya.
Siapa yang mengucapkan perkataan itu?
"Aku tidak bisa memandangmu sebagai kakakku lagi, aku mencintaimu Naruto-nii."
Naruto-nii? Pernyataan cinta itu untuk Naruto? Siapa yang mengucapkan perkataan itu?
"Jangan bercanda Sasuke, kau tidak bisa mencintaiku dengan perasaanmu itu."
Mata Sasuke membelalak lebar. Jantungnya terasa berhenti saat ingatan di masa lalu itu perlahan-lahan mulai muncul kembali ke dalam pikirannya.
…yang menyatakan cinta kepada Naruto itu…. Dirinya?
"Memangnya salah memiliki perasaan itu?"
"Tidak, kau hanya masih terlalu kecil untuk mengerti tentang cinta."
"Hanya karena aku masih kecil, maka aku tidak boleh menyukaimu?"
"Hahahaha baiklah-baiklah, kau boleh menyukaiku kok, aku juga menyukaimu, menyukai Sai juga dan menyukai Mikoto Ba-san yang senang sekali memberiku kue enaknya hahaha."
"Bukan seperti itu maksudku!"
"Sudahlah Suke, kita semua memang harus saling menyukai~ Aku senang bisa memiliki adik-adik lucu seperti kalian~"
Sasuke menyibak selimutnya saat ingatan itu tiba-tiba melintas di pikirannya, ia pun mendudukan dirinya seraya menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Ia menertawai dirinya sendiri yang benar-benar lupa dengan kenangan itu.
Dia menjauhi Naruto bukan karena ejekan saja tetapi juga karena…. Pernyataan cintanya ditolak.
'Jadi aku pernah menyukai Naruto?' batinnya penuh keheranan, tetapi bagaimana bisa ia lupa dengan perasaannya sendiri?
Berapa lama ia menyukai Naruto?
Apa kejadian yang ia alami selama ini membatnya lupa dengan perasaannya sendiri?
Sasuke menyentuh dadanya seraya tersenyum pedih.
Jadi karena perasaan inilah yang membuatnya enggan mengkhianati kepercayaan yang Naruto berikan kepadanya?
Perasaan inilah yang membuat hatinya tercubit saat Naruto mulai berbicara tentang Sai di hadapannya?
Perasaan inilah yang membuatnya berbunga-bunga saat Naruto memanjakan dirinya beberapa hari ini?
Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Perasaan itu sudah lama ia lupakan dan harus ia lupakan lagi saat ini juga. Naruto telah menyukai Sai dan ia merasa Sai memang cocok dengan Naruto yang pengertian, ia tidak bisa menggunakan perasaannya di masa lalu untuk menghancurkan hubungan mereka di masa kini.
Ia tidak boleh menyukai Naruto.
Ia tidak boleh mencintai Naruto.
Ia harus melupakan perasaan itu sekali lagi.
Sang Uchiha kembali menutup kedua matanya seraya menidurkan tubuhnya kembali. Masalah yang ia hadapi saat ini sudah cukup membuatnya lelah dan setres, ia tidak ingin perasaan bernama cinta itu membuat permasalahannya semakin menjadi kacau.
"Sasuke! Aku sudah memesan sup tomat dan akan diantarkan ke sini sebentar lagi." Naruto tiba-tiba datang dan tanpa sadar telah merusak pendiriannya.
Sasuke memandang lekat-lekat lelaki yang pernah dicintainya – dan masih tetap ia cintai walaupun saat ini ia mengelaknya – itu, berpikir apakah Naruto masih mengingat pernyataan cintanya dahulu kala.
Ingin ia bertanya tetapi urung ia lakukan karena takut.
Takut Naruto kembali menolaknya.
Takut Naruto hanya menganggap ucapannya dahulu itu hanyalah gurauan.
..atau bahkan takut jika Naruto telah melupakannya sama seperti dirinya sebelum ini.
Membayangkannya saja sudah membuat hatinya kembali tercubit.
"Kenapa malah bengong?"
Sasuke mengerjap-ngerjapkan kedua matanya seraya menggelengkan kepalanya, "Terima kasih." Ujarnya kemudian.
"Tumben berkata terima kasih," sindir Naruto pelan. Sasuke yang mendengar itu pun melayangkan pandangan kesal.
"Kalau begitu aku tarik ucapanku tadi. Sudah sana pergi, kau pasti banyak pekerjaan kan? Kau ingin makan gaji buta dengan bermalas-malasan di sini ya?" ujarnya tak mau kalah, kini ia pun heran kenapa bisa-bisanya ia menyukai orang semenyebalkan ini? Hah, bahkan Sasuke tidak sadar jika dirinya sendiri tak kalah menyebalkan.
"Iehhhhhhh!" Naruto menghampiri Sasuke lalu menyentil dahinya, "Berani sekali kau berkata seperti itu, tugasku ini memang menjagamu sampai kasus Danzo ini selesai!" ujarnya kemudian.
Sasuke hanya mengangkat bahunya singkat seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela, tanpa bisa ia tahan segurat senyum tipis menghiasi wajahnya.
Ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menghilangkan perasaan sukanya ini. Perasaan yang sudah ada bahkan sebelum permasalahan berat ini menimpa dirinya.
..
..
..
..
..
..
..
"Danzo memang berhasil melarikan diri tetapi kita berhasil menangkap salah satu tangan kanannya, saat ini dia berada di ruang interogasi bersama dengan anak buah Danzo yang lain. Beberapa personil kepolisian dan intelijen sudah diterjunkan untuk membuntuti Danzo dan melihat pergerakannya."
Naruto menganggukkan kepalanya mengerti seraya membaca beberapa dokumen yang Gaara berikan kepadanya, walaupun tugas utamanya adalah melindungi Sasuke dan selalu berada di sisi Sasuke hingga kasus ini selesai tetapi ia tidak mungkin melupakan statusnya sebagai pemimpin dari tim penangkapan Danzo dari pihak Intelijen ini.
"Aku tidak ingin mengatakannya tetapi tindakan nekat yang Uchiha Sasuke lakukan membawa banyak keuntungan kepada kita, walaupun dengan ini Danzo menjadi lebih waspada kepada kita. Danzo adalah seorang pria gay yang selalu mengincar pemuda-pemuda berwajah menarik seperti dua Uchiha bersaudara, menjadikan Sasuke sebagai umpan benar-benar berhasil membuatnya goyah." Timpal Neji yang juga ikut menyampaikan informasi ini kepada Naruto di rumah sakit, mereka berbicara sepelan mungkin agar orang lain tidak bisa mendengar ucapan mereka.
"Sebentar lagi kita benar-benar akan menangkap Danzo dan membuatnya mempertanggungjawabkan semua perbuatan biadabnya!" seru Kiba kemudian.
Naruto menganggukkan kepalanya, "Aku mengerti, maaf tidak bisa membantu banyak."
Kiba menepuk bahu Naruto lalu menunjuk seseorang yang tengah tertidur dengan pulas di atas ranjang rumah sakit, "Kakashi-san bilang jika ia tidak akan lagi menyodorkan Sasuke untuk memancing Danzo, karena itulah jaga Uchiha itu baik-baik, itulah tugasmu saat ini, personil polisi dan intel itu banyak jika kau lupa."
"Kiba benar," Gaara berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu, "Pastikan kau menjaganya hingga Danzo berhasil ditangkap. Salah satu anak buah Danzo berkata jika seseorang yang diincar Danzo sejak awal adalah Uchiha Sasuke, Uchiha Sai hanyalah pionnya, sayang sekali rencanannya sedikit berubah setelah Uchiha itu melukai sebelah matanya."
Wajah Naruto mengeras, tak menyangka jika pria brengsek itu bahkan melebihi kebrengsekannya sendiri. Apakah pria itu iblis yang menyamar menjadi manusia? Apa maksudnya itu? Menjadikan Sai alat untuk menangkap Sasuke? Sudah berapa lama lelaki itu mempermainkan mereka berdua?
Ketiga rekannya itu telah meninggalkan ruangan, Naruto memejamkan kedua mata seraya menghela nafas berat, mengetahui fakta ini membuat kebencian Naruto kepada Danzo menjadi lebih besar. Kedua matanya kembali terbuka saat merasakan gerakan aneh dari arah belakangnya.
Naruto tidak merasa terkejut, ia malah membiarkan sosok itu mendengarkan semua percakapannya dan sang rekan tadi, ia tahu jika sosok yang tengah tertidur itu hanya bersandiwara sedari tadi.
"Jangan pernah berpikir jika kau yang tertangkap oleh Danzo maka semua akan baik-baik saja, kau yang akan tertular virus itu dan Sai akan berada di posisimu saat ini, semua sama saja, tidak ada yang berubah." Ujarnya pelan, manik birunya melirik Sasuke yang terlihat tengah tertidur dengan pulas.
"….Aranvol-san…" kedua manik hitam yang sedari tadi bersembunyi itu perlahan mulai terbuka, manik hitam itu memandang kosong langit-langit di atasnya, "Tentu saja takdir di masa lalu akan sedikit berubah jika akulah yang berada di posisi Sai saat ini. Kau bisa selalu berada di dekat Sai tanpa takut identitasmu ketahuan, kau pasti akan sangat senang karena selalu berada di sisi Sai dan selalu melindunginya, mendukungnya, menjaganya selalu. Sai tidak harus berakhir menjadi orang gila sama sepertiku." Ujarnya pelan.
"Semua yang terjadi biarlah terjadi, kita sebagai manusia tidak akan bisa mengubah masa lalu yang telah kita lalui, yang bisa kita lakukan adalah mengubah masa depan. Danzo akan secepatnya kami tangkap lalu diadili, bahkan hukuman mati masih belum bisa menebus semua dosa yang sudah ia perbuat di dunia ini." Naruto berjalan mendekati Sasuke lalu mendudukan dirinya di sisi ranjang, "Hal yang membuatku senang jika berhubungan dengan kalian berdua adalah melihat kalian berdua sama-sama tertawa bahagia karena masalah ini telah selesai, aku benar-benar menantikan hal itu."
"Lucu sekali kau menyuruhku tertawa di saat kondisi Sai yang bahkan aku sendiri tidak mengetahuinya, aku bahkan lupa bagaimana caranya tertawa." Balas Sasuke sarkatis.
"Aku dengan senang hati akan mengajarimu tertawa," balas Naruto santai.
Sasuke mendengus seraya memutar bola matanya malas.
Setelah itu keheningan melingkupi mereka berdua, hanya ada suara detikan jam yang mengisi ruangan tempat Sasuke di rawat. Mereka berdua sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
"Sasuke,"
"Hm?"
"Shikamaru telah mengizinkanmu untuk bertemu dengan Sai, hanya hari ini saja, keadaanmu sudah membaik kan?"
Sasuke yang mendengar hal itu lekas menganggukkan kepalanya lalu menyingkap selimut yang menutupi badannya, ia pun mendudukan dirinya seraya memandang Naruto, "Aku benar-benar sudah baik, kenapa menemui saudaraku sendiri saja butuh izin orang lain? Menyebalkan sekali."
Sang Uzumaki terkikik kecil seraya membantu Sasuke turun dari ranjangnya, "Turuti saja dan jangan protes, bisa-bisa Shikamaru melarangmu lagi." Ia pun merapikan rambut Sasuke juga pakaiannya, "Apa kau bisa jalan? Aku bisa menggendongmu kalau kau mau."
"Tentu saja aku bisa jalan, kakiku sama sekali tidak terluka jika kau lupa." Sasuke pun berdiri dengan tegap lalu memandang tajam Naruto, "Ayo kita pergi."
"Dasar tidak sabaran, lihat kau bahkan lupa memakai sandal rumah sakit, dimana terakhir kali kau memakainya?" Naruto pun melihat lantai di dekat mereka, mencari keberadaan sandal yang biasa Sasuke pakai di dalam ruangan ini.
"Aku lupa," jawab Sasuke pendek, lagian ia juga malas memakai sandal di dalam ruangan.
"Bagaimana bisa kau lupa…" Naruto menoleh ke sana kemari mencari keberadaan sandal rumah sakit milik Sasuke, ia pun memandang lega sandal yang ternyata berada di dekat kamar mandi, Naruto berjalan mengambil sandal itu lalu menaruhnya di dekat kaki Sasuke, "Cepat pakai!"
Sasuke memakainya dengan malas-malasan lalu melangkahkan kakinya mendekati pintu, "Ayo Naruto, aku sudah tidak sabar lagi."
"Iya… Iya…"
Naruto pun berjalan bersampingan dengan Sasuke, memberi petunjuk keberadaan kamar Sai yang tersembunyi dari pada kamar pasien yang lain. Sasuke pun tanpa sadar mencuri pandang lelaki yang berdiri di sampingnya seraya tersenyum tipis.
Naruto memang semakin keren dari terakhir kali ia mengingatnya.
Kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa dirinya di masa lalu dengan gamblangnya menyatakan cinta kepada Naruto? Kenapa dia bisa seberani itu? Apakah ada ingatan lain yang masih belum ia ingat sepenuhnya?
"Apa menemui Sai membuatmu sesenang ini?" Naruto pun memergoki Sasuke yang tengah memandang dirinya, Sasuke sendiri pun langsung saja memalingkan wajahnya.
Perasaan cinta memang benar-benar membuatnya keluar dari karakter aslinya. Entah itu akan berdampak baik atau buruk untuk kedepannya.
Mereka pun sampai di dalam ruangan tempat Sai di rawat, saat Sasuke memasuki ruangan itu betapa herannya ia melihat ada sebuah ruangan lagi yang membatasi dirinya untuk bertemu dengan Sai, ia hanya bisa melihat saudara kembarnya itu berbaring dengan berbagai alat kedokteran yang terpasang di tubuhnya melalui kaca transparan.
"Kau hanya bisa melihatnya dari sini, aku bahkan belum pernah memasuki ruangan itu, hanya dokter lah yang diizinkann." Ujar Shikamaru yang melihat raut kesal dari wajah Sasuke.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Sasuke kemudian, ia memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini dan itu cukup membuat Shikamaru menghela nafas lega.
Shikamaru memandang Sai dari balik kaca, "Masih tidak sadarkan diri, narkoba benar-benar sukses membuatnya menjadi 'putri tidur', pihak rumah sakit masih berusaha untuk menetralkan dampak itu juga menghambat perkembangan AIDS yang berkembang di tubuhnya."
Sasuke menundukan kepalanya, kepalanya tiba-tiba kembali merasa sakit, bukan karena lukanya yang kembali terbuka tetapi karena kondisi sang saudara yang jauh dari kata baik. Sasuke bisa merasakannya, merasakan betapa menderitanya Sai karena berbagai macam penyakit yang bersarang di tubuhnya, rasanya sakit sekali hingga membuatnya memejamkan mata sejenak.
"Kita kembali ke kamar," suara tegas itu membuatnya tersentak, ia memandang Naruto yang mulai mendekatinya seraya menggelengkan kepala.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit terkejut," ujarnya cepat.
Bukan itu saja yang membuat Naruto khawatir. Kejiwaan Sasuke juga harus ditangani, Sakura berkali-kali berkata kepadanya untuk segera menenangkan Sasuke jika lelaki itu mulia menunjukan gelagat aneh.
"Kau sudah melihat keadaan Sai bukan? Kalau begitu segera kembali ke kamarmu, sebentar lagi dokter yang menangani Sai akan datang." Ujar Shikamaru tiba-tiba. Lelaki itu juga mulai menyadari gelagat yang Sasuke perlihatkan tadi walaupun hanya sebentar.
"Hah? Kau menyuruhku pergi setelah berhari-hari aku tidak bertemu dengan Sai?" Sasuke memandang Shikamaru tak percaya, memangnya kenapa kalau dokter akan datang dan memeriksa Sai? Dia saudaranya kan? Tidak masalah kan kalau dia mengetahui keadaan Sai yang terbaru?
"Beberapa penyidik dari kepolisian juga akan datang, ruangan akan di sterilkan mulai saat ini," jawab Shikamaru singkat.
"Kau-" Sasuke memandang lengan kanannya yang dicekal oleh Naruto, "Sudah kubilang kalau aku tidak apa-apa!"
"Aku tahu!" Naruto memandang Sasuke serius, mau tidak mau ia harus memaksa Sasuke untuk keluar dari ruangan ini dan membiarkan Sasuke menenangkan dirinya dengan menjauhi Sai, ia berterima kasih kepada Shikamaru yang juga ikut adil dalam 'pengusiran' Sasuke dari ruangan ini, "Tetapi kau dengar sendiri apa yang dikatakan Shikamaru bukan? Aku juga tidak boleh berada di sini! Kau tahu jika aku mencintai Sai kan? Kau tahu itu kan?"
Sasuke masih tetap menggelengkan kepalanya, pandangannya nanar menatap Naruto yang semakin memaksanya, "Apa salahnya aku melihat! Untuk apa kalian menyembunyikan keadaan Sai kepadaku?! Aku juga mencintai Sai! Dia adalah saudara-"
"Uchiha Sasuke!" suara berat Naruto mendadak menghentikan ucapannya, Sasuke memalingkan wajahnya seraya menggingit bibirnya, merasa jika apapun yang dikatakannya tidak akan pernah mengubah keputusan Naruto.
"Kita pergi. Besok kita akan kembali lagi ke sini dan aku biarkan kau di sini hingga kau puas, mengerti?" ujar Naruto serius, sebenarnya ia tidak ingin menggunakan nada tinggi untuk menangani Sasuke yang seperti ini, tetapi ada kalanya ia harus melakukan ini agar Sasuke mau mendengarkan ucapannya.
Naruto menggenggam tangan Sasuke lembut lalu membawanya keluar dari ruangan ini. Sasuke mau tak mau memilih untuk menurut dan membiarkan dirinya di bawa keluar dari ruangan Sai, manik hitamnya masih betah memandang Sai hingga sepenuhnya lepas dari pandangannya.
Di luar sana mereka berdua masih saling terdiam. Naruto yang sedikit merasa bersalah karena telah membentak Sasuke dan sang Uchiha sendiri yang masih belum sepenuhnya rela meninggalkan ruangan tempat Sai di rawat..
…dan juga karena perkataan Naruto tadi.
Suasana di antara mereka mendadak sangat kaku, tidak ada yang berani mengangkat suara terlebih dahulu hingga mereka berdua berhenti tepat di depan pintu kamar milik Sasuke.
Naruto menghela nafasnya lalu berbalik memandang Sasuke yang balas memandangnya dengan tatapan datar, "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku benar-benar minta maaf."
Sasuke memandang Naruto sejenak sebelum menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah, aku tidak peduli." Ujarnya pelan.
"Ah…" Naruto menggaruk belakang kepalanya seraya tertawa kaku, "Aku benar-benar tidak ingin bersikap serius karena itu bukanlah sifatku yang sebenarnya. Ah, kau pasti bosan jika terus menerus di dalam kamar, bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar? Di dekat rumah sakit ini ada sebuah taman, mungkin saja pikiranmu bisa tenang dengan melihat dunia luar." Sasuke butuh 'ditenangkan' bukan? Ia pikir dengan membawanya jalan-jalan bisa membuat pikiran Sasuke sedikit lebih rileks.
Eh…?
Perasaan jengkel yang Sasuke rasakan tadi mendadak hilang.
Hah? Naruto mengajaknya jalan-jalan?
Kenapa ajakan itu membuat hatinya berdegup tidak karuan? Mereka sudah biasa jalan-jalan sebelum ini kan?
"Sasuke? Kau mau kan?" Naruto memandang langsung ke dalam mata Sasuke yang memandang kosong dirinya.
Dalam hati Sasuke kembali menertawai dirinya sendiri, menertawai dirinya sendiri yang bisa-bisanya merasa senang ditengah suasana hatinya yang sedang tidak bersahabat. Ia bahkan tidak tahu harus menampilkan ekspresi apa saat ini.
'Kenapa aku bisa-bisanya menyukai orang seperti ini?' batinnya selalu bertanya-tanya.
.
.
.
.
To Be Continue
MAAF UPDATENYA LAMAAAA! T_T
Chapter yang keempat ini memang sengaja nggak dibikin tegang-tegang kayak chapter sebelumnya, lumayan juga buat ngisi moment NaruSasu yang seupil di chapter-chapter sebelumnya hehehehe
Reviewnya yaaa~ Terima kasih untuk kalian semuaaa~
BIG THANKS buat kalian yang sudah membaca lalu meluangkan waktu untuk mereview fanfic ini. Maaf belum aku bales satu-satu yaaa, bener-bener sibuk nih /soksibukk
