a/n: ah, gila! Aku beneran gak tau musti ngomong apa.. :3

chapter kemaren ngecewain banget ya? Haha.. maaf maaf.. (^/\^)

sebenarnya chapter kemaren berisikan pengenalan tokoh baru dan alasan-alasan kenapa mereka bisa jadi peserta.

Di sana juga aku selipin poin penting lainnya tentang rahasia yang masih aku simpan di cerita ini.

Tapi lagi-lagi aku gagal meramu plotnya dengan baik.

Ya, memang sih kalo aku perhatiin ada beberapa hal yang pasti bikin kalian bingung ama chapter kemaren, hal ini juga udah di sampein lewat review oleh banyak pembaca.

Aduh.. aku beneran bingung mau bilang apa di sini, Cuma jika kalian berpikir cerita ini cukup ringan mungkin kalian salah.

Cerita ini memang gak berat-berat banget, tapi aku rasa gak cukup ringan juga.

Jadi untuk ke depannya, aku bakal berusaha lebih baik lagi biar kalian semua nyaman membacanya.

Oya satu lagi, untuk masalah pair.. selain pair utama akakuro aku gak janji bakal bikin semua pair mainstream. Ada beberapa yang bakal jadi yang anti-mainstream.

Mungkin untuk sekarang itu dulu yang bisa aku kasih tau.

Sekali lagi aku beneran minta maaf bikin kalian kecewa di chapter kemaren.

Cuma ya, aku tetap bakal menyelesaikan fic ini.

Jika cara aku bercerita membuat kalian bingung, maka aku pikir gak ada pilihan lain selain menyelesaikan ceritanya secepatnya.

Tapi karena aku juga mahasiswa semester 5, kadang jadi sulit untuk bagi waktu antara tugas ama nulis fic. Tapi bakal aku usahain tiap minggu bisa update kok. Yah.. kalo telat paling lewat-lewat dikit sih harinya :D

Terakhir, makasih banyak untuk kalian yang masih mau membaca ^^ #bow

.

.

Rumah Jodoh

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Rated: T

Story: Yukiko240

Pair: Akakuro dan pair lain yang akan muncul nantinya.

Warning: Yaoi, ooc, typo(s), EYD berantakan, dan kesalahan lainnya.

.

.

Don't Like Don't Read

Happy Reading

.

.

Chapter 4

.

Kuroko melongo. Di sebelahnya, Kise Ryota juga mengeluarkan ekspreksi yang sama. Kedua anak edo itu hanya bisa menatap tak percaya pada apa yang ada di hadapan mereka saat ini. Delman. Oke, ulangi DEL-MAN!

Mereka sudah sampai di pulau Hateruma. Di pulau paling indah di Jepang inilah acara reality show 'Rumah Jodoh' akan melakukan syuting. Awalnya mereka menaiki pesawat dari Tokyo menuju pulau Ishigaki, dan melanjutkan perjalanan dengan kapal feri menuju pulau Hateruma. Sesampainya di pelabuhan, siapa yang akan menyangka jika mereka akan disambut oleh sebuah delman. Sejujurnya, mereka sedikit tidak percaya, namun karton yang bertuliskan nama mereka berdua terbentang lebar di pegang oleh seorang pak kusir berseragam pink yang tersenyum lebar. Kedua pemuda itu saling bertatapan. Saling bicara secara tersirat jika pak kusir itu memang menunggu mereka. Kemudian sambil menghembuskan nafas pasrah, keduanya menyeret koper masing-masing menuju delman yang sudah di hias dengan pita dan rumbai-rumbai berwarna pink-juga.

"Kurokocchi, tidak kah kau merasa jika kita tampak seperti sedang honeymoon?" ucap Kise. Wajahnya merah padam saat beberapa orang wanita paruh baya-yang tampaknya penduduk asli di sana- menunjuk-nunjuk mereka terang-terangan. Kuroko sendiri tak menjawab apa-apa. Tapi wajahnya tak kalah merah dari Kise.

"Selamat datang di pulau Hateruma, para pejuang cinta! Tempat yang tepat untuk mencari cinta sejati!" seru pak kusir, menyambut mereka dengan wajah yang sangat antusias. Cengirannya makin lebar saat menatap wajah kedua pemuda di depannya yang tampak merah padam. 'ahh.. pasangan muda yang masih malu-malu.' Pikirnya, salah paham.

"Haha.. kalian tak perlu canggung begitu. Kalian bukan pasangan pertama yang sampai. Sebelumnya sudah ada beberapa pasangan yang sudah ku antar. Bahkan di dalam sana masih ada satu pasangan lagi yang menolak ku antar duluan. Mereka bilang ingin menunggu kalian. Ayo ayo, kita segera berangkat saja. Kalian pasti malu jadi tontonan begini." Kata pak kusir, akhirnya sadar jika kedua pemuda di depannya sudah jadi pusat perhatian orang-orang di pelabuhan. Saat Momoi Satsuki menunjuknya menjadi 'supir' pribadi yang akan mengantar para peserta menuju lokasi syuting, pak kusir yang umurnya hampir setengah abad ini begitu bersemangat. Dia berkata jika melihat pasangan baru mengingatkannya akan masa mudanya dulu. Saking bersemangatnya, dia bahkan menghias delman miliknya tanpa di minta. Sungguh kurang kerjaan!

Kise dan Kuroko bertatapan lagi. Siapa yang menunggu mereka? Perasaan, mereka belum kenal peserta lainnya deh.

"Sudah ku katakan jika kami bukan pasangan, pak kusir!"

Ketiga orang itu langsung menengok ke arah delman. Delman itu terparkir menyamping. Di bagian samping dekat kursi penumpang di tutupi gorden yang lagi-lagi berwarna pink. Nampak siluet dua orang di dalam sana.

Sreettt..!

Gorden itu tersibak. Menampilkan surai hijau dan surai coklat.

"Tolong di ingat. Kami ini bukan pasangan!" lagi-lagi terdengar kalimat penuh tekanan dari pemuda berkacamata. Sedangkan pemuda di sebelahnya melambaikan tangan dengan semangat.

"Kuroko senpai.. Kise senpai.. hisashiburi!" seru Furihata Kouki.

Kuroko menatap terkejut. Demi apa, kenapa dia juga ada di sini?

"Yo..! Hisashiburi Furihata!" balas Kise tak kalah riang. Dia melakukan itu karena dapat melihat bagaimana Kuroko langsung membeku saat melihat pemuda bersurai coklat itu. Kise hanya mengira temannya ini masih belum bisa melupakan apa yang terjadi di masa lalu dengan ikhlas.

"Hahaha.. saat menyenangkan bisa melihat dua pasangan yang penuh semangat seperti kalian." Kata pak kusir. Dia mengambil koper Kuroko dan Kise, lalu menaikkannya ke atas delman.

Midorima mencoba menahan diri. Sudah berapa kali dia memberi tau bapak tua ini bahwa dia dan Furihata bukan pasangan?! Kenapa tak di acuhkan sama sekali, sih!

"Ayo, kalian lekas naik." kata pak kusir sambil menatap Kuroko dan Kise yang masih belum beranjak dari tempat mereka berdiri tadi. "Biar aku bisa mengantar kalian ke sarang penuh cinta di tepian pulau Hateruma! Hahaha.."

Keempat pemuda itu tak dapat menahan diri memutar matanya. Pak kusir ini sebenarnya kenapa, sih?

.

.

Delman itu bergoyang saat kedua pemuda biru dan kuning itu naik. Mereka duduk berhadapan dengan Midorima dan Furihata. Furihata memberikan senyuman manisnya pada Kuroko, yang di balas dengan canggung. Di sampingnya, Midorima duduk di hadapan Kise. Kise tersenyum pada Midorima. Mencoba bersikap ramah pada mantan adik kelasnya dulu.

Buang muka!

Bukannya membalas keramahan mantan kakak kelasnya yang model terkenal itu, Midorima malah langsung membuang muka. Membuat Kise melotot. Apa-apaan pemuda hijau ini? seharusnya dia bangga bisa dapat senyum manis seorang Kise Ryota.

"Baiklah anak-anak.. apa kalian siap menyongsong masa depan yang cerah?" seru pak kusir yang sudah duduk di bagian depan kereta.

Keempat pemuda yang duduk di belakangnya saling berpandangan. Haah..?

"Kita akan melewati pantai, jalan setapak, kemudian sampai di sarang cinta kalian. Jadi, kemanakah pertama kali kita akan pergi?" tanya penuh semangat itu terdengar konyol di indra pendengaran keempat penumpangnya.

Keempat pemuda di belakangnya kembali berpandangan. Mereka tak salah acara kan? Siapa tau mungkin mereka menyasar ke salah satu acara kartun anak kecil bawel yang suka berpetualang bersama monyetnya.

"Katakan dengan lantang, anak-anak! Jika kalian tak mengatakan dengan lantang, maka Alga-Ando tak bisa membawa kita ke tempat tujuan!" pak kusir menunjuk kedua kudanya. Yang satu berwarna hitam, yang satu berwarna putih. "mereka ini pacaran, lho." terang pak kusir, nggak penting.

Oh, crep! Bahkan kuda pun homo!

"Kemana kita akan pergi?" seru pak kusir, lagi.

"Ke pantai." sahut Kise dan Furihata, pelan. Sedangkan Kuroko dan Midorima hanya diam, tak mempedulikan pak kusir yang aneh itu.

"Katakan dengan kompak, anak-anak! Kemana kita akan pergi?"

"Pantai!" kali ini Kise dan Furihata menaikan nada suaranya agak keras.

"Katakan bersama dengan kompak!" perintah pak kusir sambil berbalik menunjuk Midorima dan Kuroko dengan pelecut kudanya. Yang di tunjuk langsung berjengit. "Kemana kita akan pergi?"

"PANTAIII!" kali ini diucapkan oleh keempat penumpangnya dengan sangat semangat, membuat pak kusir tersenyum sumringah. Ah, sebenarnya mereka berempat hanya takut saja jika pelecut itu salah sasaran.

"BAIKLAH! AYO PEJUANG CINTA, KITA BERANGKAT MENUJU PANTAI!"

Oh sungguh, pak kusir ini sudah tak tertolong lagi!

.

.

Derap ladam (sepatu kuda) yang beradu dengan tanah menjadi satu-satunya suara. Setelah melewati jalan raya kurang lebih lima ratus meter, akhirnya delman ini sampai juga di pantai. Mereka menyisiri pinggiran pantai dengan pasir putih nan tampak halus. Angin laut berhembus sepoi-sepoi menghantarkan aroma khas yang menyegarkan. Sejauh mata memandang, gradasi perpaduan biru laut dan biru langit tampak sangat kontras. Deburan ombak yang saling berlomba mencapai bibir pantai menjadi hiburan tersendiri. Awan-awan putih bergulung manja di beberapa tempat terpisah, tepat di atas laut nan eksotis itu. Tak heran, syuting mereka di lakukan di sini. Tempat ini memang cocok untuk bersenang-senang, dan mencari pacar.

Jika sebelah kanan mereka disuguhi laut yang menyatu langsung dengan samudra pasifik, maka di sebelah kiri mereka dipenuhi jajaran pohon yang berbaris rapi. Beberapa burung terbang rendah di sana. Sungguh, keempat pemuda itu sama sekali tak menyesal datang ke tempat bak surga ini.

"Jadi, Kuroko senpai juga ikut acara ini?" tanya Furihata, membuka percakapan.

Kuroko menoleh. Iris matanya yang sewarna dengan laut melihat ke arah Furihata. Sejujurnya, dia bingung dengan keadaan ini. Kenapa pemuda itu ada di sini? Apa dia sudah putus dengan Akashi?

Kuroko mengangguk. Merasa berat untuk mengeluarkan suara.

Derap kaki kuda membuat delman itu bergoyang pelan. Mereka berempat serasa di ayun dengan lembut. Furihata menatap Kuroko intens. Memantri wujud kakak kelasnya dalam ingatannya. Kuroko masih tampak sama. Hanya wajahnya yang tampak lebih dewasa. Dia masih dengan sikapnya di masa lalu. Itu gambaran sekilas yang dapat di tangkap oleh psikolog muda ini.

"Kau sendiri kenapa ada di sini, Furihata kun?" Kuroko mencoba menemukan suaranya. Awalnya terdengar pecah, membuat Kuroko merasa malu jikalau pemuda di depannya sadar akan kecanggungannya.

Furihata tersenyum. Bukan tanpa alasan dia menjadi psikolog. Baginya, membaca karakter dan perasaan seseorang sudah seperti bakat bawaan lahir. Dan tentu saja, dia sangat menyadari jika pemuda di depannya ini tampak risih dengan keberadaannya. Dia menarik nafas. Mencoba merasakan oksigen bebas polusi di sekitarnya. Sekaligus, mencoba merilekskan diri dari suasana tegang yang Kuroko ciptakan. "Dengan alasan yang sama dengan mu, senpai." jawabnya.

'Aku kan kena tipu Kise kun.' batin Kuroko, kesal. Namun dia paham, yang di maksud oleh Furihata adalah jika lelaki itu datang untuk mencoba mendapatkan jodohnya. Lalu, bagaimana hubungannya dengan Akashi?

"Aku baru tau jika jepang memiliki tempat yang sangat eksotis seperti ini. Sugoi!" seru Kise. Suaranya yang lantang menarik empat pasang mata lain di sana. Dia menjulurkan sebagian tubuhnya keluar dari bagian belakang delman yang tak memiliki penghalang apa pun. Merasakan cahaya matahari yang beradu langsung dengan hembusan lembut angin laut. Tangan kirinya memegang tiang delman dan tangan kanannya di bentangkan lebar. "UUUUWWWOOOO! SUGOOOOIIIII!" teriaknya menghadap ke laut lepas. Iris fawn miliknya tampak berbinar, senyum lebar pun seakan terpantri abadi di wajah ikemen-nya.

Kuroko menatap ulah Kise dengan seyum kecil. Wajar saja dia merasa sesenang ini, jadwalnya yang padat pasti membuat lelaki itu kekurangan waktu untuk liburan. Setidaknya, penyesalan Kuroko sedikit berkurang melihat temannya sebahagia itu. Tampaknya, 'Rumah Jodoh' tak buruk-buruk amat.

"Berisik!" tegur Midorima yang tak tahan mendengar teriakan Kise yang seperti baru pertama kali ke pantai. Teguran itu membuat Kise merenggut. Masih sambil perpegangan, di tatapnya mantan kouhai-nya itu lamat-lamat.

"Bilang saja kau iri!" cela Kise. "Lelaki tsundere seperti mu mana bisa bebas berekspresi." lanjutnya.

Twich!

Dua sudut siku-siku mampir di kening mulus lelaki berkacamata itu. Apa dia bilang? Midorima tak memiliki kebebasan berekspresi?

"Jika bebas berekspresi itu adalah berteriak seperti orang bodoh dan mengganggu ketenangan orang lain, maka aku akan berada di garis depan untuk menentangnya." Balas Midorima.

"Aku baru tau jika kau orang yang suka membuang waktu untuk melakukan hal yang tidak penting, Shintarou. Ku kira kau hanya sibuk mengurus dirimu sendiri" Kata Furihata. Iris coklatnya menatap jenaka pada Midorima. Dan Midorima tau, sepupu tak jelasnya itu sedang mencoba mempermainkannya.

Midorima membuang pandangannya pada bagian belakang delman di sebelah kanannya. Tak menggubris godaan menyebalkan Furihata Kouki.

"Ku rasa Midorima kun benar. Kise kun, jangan terlalu berlebihan!" Ucap Kuroko. Membuat ketiga orang di sana langsung melihat ke arahnya. Sesaat, Midorima merasa jika Kuroko benar-benar jiplakan malaikat, sebelum.."Tapi Midorima kun tak punya selera. Bagaimana hanya bersikap biasa saja melihat pemandangan sebagus ini. Walau tak seterkenal bali dan lombok, ku pikir pulau ini tak kalah indah." Lanjutnya.

"Buwahahahaha..!"

Kise dan Furihata terbahak keras. Kise bahkan kembali duduk dan memegangi perutnya. Oh.. ya ampun, Kuroko sangat pandai menghancurkan mood seseorang. Lihat saja Midorima yang sekarang berwajah sangat masam.

Midorima menatap Kuroko. Merasa kesal dengan lelaki itu. Siapa orang yang bilang jika Kuroko jiplakan malaikat? Midorima bersumpah akan menenggelamkannya ke laut. Lagi pula, jika dirinya tak punya selera, lalu pemuda itu apa? Tak punya ekspresi?!

"Hahaha.." terdengar kekehan dari arah depan. Pak kusir memegangi tali kudanya dengan erat. "Kalian harus bangga bisa sampai di sini. Pulau Hateruma ini masuk dalam '501 Pulau Yang Harus Dikunjungi' versi Bounty Books." Katanya pamer, penuh rasa bangga.

"benarkah? Pantas, tempat ini begitu luar biasa!" Kise masih tak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Membuat Midorima mendecih pelan.

Memang kenapa jika pulau ini masuk dalam daftar bounty books? Paling tiga hari tinggal di sini juga sudah bosan. Pantai ya pantai. Hanya terdiri dari laut dan pasir. Di Tokyo juga ada. Bahkan lebih keren, pantai buatan indoor.

"Tentu saja!" sahut pak kusir. "Jepang bukan hanya Harajuku dan Kyoto. Sekarang ini pemerintah daerah sedang giat-giatnya mengadakan promosi untuk pulau Hateruma. Di tambah lagi dengan adanya pantai Nishi., kami yakin banyak wisatawan yang akan datang berlibur ke sini. Pulau Hiteruma dan pantai Nishi di daulat sebagai pulau paling indah dan pantai paling indah di Jepang. Di tambah lagi daerah sini yang tenang dan jauh dari keramain, sangat cocok untuk berlibur." Terangnya.

Keempat pemuda di belakangnya manggut-manggut. Merasa konyol karena sebagai orang Jepang, mereka bahkan tak tau apa-apa tentang hal itu.

"Ahh.. jika aku tau dari dulu, aku tak perlu ke eropa setiap tahun hanya untuk liburan." Raung Kise. Tak jelas, antara menyesal atau pamer.

"Anak muda sekarang memang lebih suka menghabiskan uangnya hanya untuk mengejar tempat-tempat lain di luar sana. Padahal di daerahnya sendiri masih banyak tempat yang belum dia kunjungi dan tak kalah bagus. kalau orang bilang istilahnya.. hmm.. 'Rumput tetangga terlihat lebih hijau'. begitulah" kata pak kusir. Dia menghela nafas, seakan prihatin.

Ucapan pak kusir itu menohok keempat penumpangnya. Merasa tersindir sekaligus malu.

"Tapi pak kusir, yang hijau bukan hanya rumput tetangga. Tapi juga kepalanya Midorimacchi" cetus Kise. Lelaki itu menikmati bagaimana wajah mantan adik kelasnya itu kembali jengkel.

"Khh.." tawa tertahan terdengar dari Furihata. Membuat Midorima menatap tajam pemuda itu.

"Jika ingin tertawa, tertawa saja. Tak perlu di tah-"

"Buwahaha.." tawa keras itu menghentikan ucapan Midorima. Bahkan Kuroko pun ikut tertawa kecil. Membuat Midorima mendengus tak suka.

"Kise senpai, rambut Midorima itu melambangkan go green. Jangan di hina!" Furihata menatap Kise dengan tajam, namun pandangan itu penuh rasa geli.

"Benarkah? Astaga, aku tak tau jika Midorimacchi sepeduli itu pada bumi. Perlukah kita mengangkatnya menjadi duta go green?" sahut Kise.

"Itu usul yang bagus. aku akan mencoba kirim surat pada pemerintah sekembalinya kita ke Tokyo nanti"

Kuroko menatap interaksi Kise dan Furihata yang tampak puas menyerang Midorima. Tawa keras menjadi balasan dari Kise untuk ucapan Furihata. Senyum kecil masih bertengger di mulutnya. Midorima sendiri memilih membuang mukanya ke arah yang belakang delman. Tak mempedulikan dua makhluk rese yang menertawakannya.

"Kuroko senpai sendiri bagaimana? Apa Bali lebih keren?" tanya Furihata, setelah tawanya berhenti.

Kuroko menatap iris Furihata yang di jejali rasa penasaran.

"Berbeda, Furihata kun. Bali penuh dengan ciri khas Indonesia dan ramai, sedangkan pulau ini sangat khas Jepang dan sepi. Bali dan Hateruma adalah dua alternatif berbeda sesuai dengan tujuan wisata. Kau ingin suasana yang tenang, atau yang ramai." Jawab Kuroko. Matanya menerawang mengingat pesona keindahan Bali yang sudah beberapa kali dia kunjungi.

"Aku sangat ingin ke Bali suatu hari nanti." ucap Furihata. "Ku dengar ombaknya sangat bagus untuk surfing." lanjutnya.

"Itu benar. Namun Bali bukan satu-satunya laut dengan ombak bagus di Indonesia. Akan ku tunjukan tempat yang lain padamu jika kau berkunjung ke indonesia."

"Benarkah? Apa itu artinya Kuroko senpai menjanjikan ku liburan bersama? Oh, aku sangat senang!" seru Furihata. Tubuhnya di condongkan ke arah Kuroko menuntut jawaban.

Kuroko terdiam. Oh tidak, karena terbawa suasana dia jadi bicara yang bukan-bukan.

"Senpai, kau janji kan?" tuntutnya, memaksa pemuda di depannya berjanji.

Kuroko menyesali ucapannya. Tapi perkataan tak bisa di tarik kan? Dengan terpaksa dia mengangguk pelan. Mengabaikan sorak senang dari pemuda di depannya.

Kise melihat interaksi itu. Awalnya dia cukup lega melihat Kuroko yang mulai tampak santai, tapi melihat Kuroko yang tak mengeluarkan raut senang setelah mengangguk membuat Kise sadar jika Kuroko masih belum sepenuhnya nyaman. Haah.. tampaknya ini membutuhkan waktu yang tak sebentar.

"Ehmm.. nak," panggilan pak kusir mengalihkan perhatian keempat pemuda itu. "ada yang mau saya tanyakan tentang Bali padamu" katanya ragu sambil berbalik melihat Kuroko.

Kuroko menegakkan tubuhnya. Mengira-ngira apa yang ingin di tanyakan pak kusir itu padanya. Apa bapak ini ingin membandingkan pulau Hateruma dengan pulau Bali? Ketiga pemuda lainnya juga menatap pak kusir yang tampak berpikir keras itu. Atau jangan-jangan dia ingin menegur Kuroko dan Furihata yang malah membicarakan pulau lain di tempat yang sangat di banggakannya ini?

"Ehhmm..." pak kusir tampak ragu. "Saya mau tanya, Indonesia itu.. dimananya Bali ya?"

Krik krik krik!

Ah, sudahlah...!

o-O-o

Setelah melewati jalan setapak rindang yang di kelilingi hutan, mereka sampai juga di sarang cin- maksudnya, lokasi syuting 'Rumah Jodoh'. Rumah bata sederhana itu tampak sangat luas namun hanya satu lantai. Halamannya tiga kali lebih besar dari ukuran rumah itu. Bagian depan di kelilingi oleh pagar kayu bercat coklat yang berjejer rapi. 5 meter di bagian tengahnya tak di beri pagar sama sekali, di biarkan lepas begitu saja. Halamannya di tumbuhi rumput japan nan terawat. Rumah ini letaknya agak menanjak tiga ratus meter dari pesisir pantai. Halaman sampingnya di batasi dinding batu yang lumayan lebar, sehingga seseorang dapat duduk bersila di atasnya. Dari samping kiri rumah, panorama laut akan terlihat dengan jelas. Belum lagi pohon cerry nan rindang mengelilingi rumah. Sekali lagi, keempat pemuda itu merasa jika ini luar biasa.

Pintu depan langsung terbuka sesaat mereka sampai. Menampilkan wajah satu-satunya gadis di tempat itu bersama kameramennya, Momoi dan Imayoshi. Imayoshi membawa kamera di bahu kanannya, merekam kedatangan para peserta.

"Selamat datang para musafir cinta! Senang bisa melihat wajah pria-pria kesepian seperti kalian tak kehilangan semangat untuk mendapatkan jodoh!" sambut Momoi. Mengabaikan jika para peserta di depannya merasa sangat hina dengan ucapannya itu.

'Kami gak se-ngenes itu juga keles!' batin mereka, kompak.

"Ah, Ogiwara san. Terima kasih telah mengantarkan mereka sampai dengan selamat" kata Momoi sembari mendekati lelaki itu. Pak kusir yang di panggil Ogiwara itu hanya terkekeh.

"Haha.. tak masalah Momoi san. Aku juga merasa bangga bisa ikut terlibat mempertemukan dua hati yang akan saling isi dalam ikatan janji suci." ucapnya, menirukan soundtrak dari sinetron yang sering di tonton oleh putrinya.

Momoi hanya ikut tertawa.

"Ya sudah, Momoi san. Saya kembali ke pelabuhan dulu. Masih ada satu pasangan lagi yang masih harus saya jemput." Kata ogiwara alias pak kusir, pamit.

Setelah menurunkan barang bawaan para peserta, delman itu pun kembali ke pelabuhan.

.

.

Selepas kepergian pak kusir, Momoi mengajak para peserta untuk masuk. Rumah itu benar-benar sangat luas dan cukup mewah, tak sesederhana kelihatannya. Ruang depan berbentuk persegi panjang tanpa sekat. Di isi oleh sofa abu-abu yang tampak hangat. Di sebelah kanannya ada mini bar yang berhadapan langsung dengan satu-satunya sofa di sana dan di belakang mini bar itu ada sebuah kamar yang terletak dekat pintu depan. Di sebelah kiri-di belakang sofa, di batasi oleh dinding kaca. Memberikan pemandangan hutan yang meneduhkan. Dan, siapa sangka ada kolam ikan kecil di luar sana.

Keempat pemuda itu berdiri di tengah ruangan. Momoi Satsuki berdiri di depan mereka, dengan senyum bisnisnya. Kameramen yang tadi sibuk menyorot tampak sudah mematikan kameranya, dan duduk dengan santai di sofa.

"Apa peserta lainnya sudah datang, Satsuki?"

Kuroko menegang. Merasa kenal dengan suara khas itu. Bukan hanya kenal, dia tau dengan pasti siapa pemiliknya. Tapi, tak mungkin kan? Tak mungkin orang itu juga ada di sini!

Sesosok pemuda keluar dari kamar di belakang mini bar. Semua mata di ruangan itu menoleh. Dan Kuroko tak dapat menahan jantungnya yang seakan di pompa lebih kencang. Tubuhnya mulai mendingin saat iris rubi itu bersibobrok dengan pandangannya. Itu benar dia! Dia..

Akashi Seijuurou!

.

.

Suasana tampak hening. Para peserta yang baru datang duduk dengan canggung di sofa. Momoi sendiri memilih duduk di meja bar bersama dengan Akashi. Tak ada satu pun di antara mereka yang tampaknya ingin mengeluarkan suara.

Kuroko menunduk, meremas kedua tangannya. Jantungnya masih belum dapat di tenangkan. Pikirannya kusut! Kenapa Akashi ada di sini? Furihata juga? Kebetulan, kah?

"Hishashiburi danna, Tetsuya. Tak terasa sudah delapan tahun ya kita tak bertemu." sapa Akashi.

Kuroko tersentak. Menegadah pada lelaki yang entah kapan berdiri menjulang di hadapannya.

"Ak-Akashi kun?! Kenapa kau ada di sini?" tanya Kuroko, gelagapan. Dia bahkan tak tau kenapa dia tak bisa bersikap tenang sedikit pun.

"Tentu saja kan, itu karena Akashicchi jomblo! Haha.." bukan Akashi yang menjawab, melainkan Kise Ryota yang duduk di sampingnya. Tawa garing terdengar setelahnya. Namun Kise langsung menutup mulutnya, di saat hanya dia satu-satunya orang yang tertawa di ruangan itu.

Suasana kembali canggung. Akashi memilih duduk di sofa tunggal di sana, berhadapan dengan Furihata Kouki. Dan Kuroko dapat merasakan jika dadanya mendadak sesak entah karena apa. Entah karena Akashi yang tepat di hadapannya, atau Akashi yang bertatapan dengan Furihata. Seakan saling bicara melalui pandangan.

Penglihatan Kuroko terasa berputar. Kepalanya mendadak pusing dan berdenyut. Ini pasti karena parfum Akashi yang terasa menyengat. Iya, pasti itu. Memang apa lagi coba sebabnya?

Eh, tunggu. Sejak kapan Akashi ganti parfum? Ini bukanlah wangi yang biasanya Akashi pakai. Dia ingat dengan jelas jika Akashi tak mau mengganti merek parfumnya karena wangi parfum yang biasa dia pakai adalah pilihan ibundanya sesaat sebelum kematian sang ibu saat mereka kelas enam SD. Lalu, kenapa akashi tiba-tiba ganti wangi parfumnya?

Kriettt..!

Pintu kamar tempat Akashi keluar tadi kembali terbuka. Pemuda bersurai navy berjalan ke arah mereka dengan cuek. Dia duduk di sebelah Momoi, di kursi yang di duduki Akashi sebelumnya.

"Akhirnya kau bangun, Dai chan" seru Momoi. Menatap senang pada lelaki di sebelahnya. Lelaki yang di panggil Dai chan itu hanya mengangguk sambil menggaruk rambutnya yang sebenarnya tak gatal. Tampaknya lelaki ini masih setengah sadar dari acara bangun tidurnya.

"Seharusnya kau rapikan dulu penampilan mu sebelum keluar, Aomine Daiki!" tegur Akashi. Matanya merasa terganggu dengan penampilan Aomine yang masih tampak kusut. Lelaki itu bahkan tak peduli pada pandangan semua orang yang mengarah padanya. Tidak, kecuali satu orang.

Kuroko merasa risih sekarang. Lelaki yang di panggil Aomine Daiki itu mencuri pandang beberapa kali ke arahnya. Dia juga merasa pernah melihat lelaki itu sebelum ini. rambutnya itu terasa tak asing. Tapi dimana? Dimana dia pernah melihat lelaki itu?

Saat mata mereka bertemu, ingatan Kuroko membawanya kembali pada hari pertamanya sampai di Jepang. Ah, Kuroko ingat! Lelaki itu adalah orang yang mengawasinya sejak dari bandara sampai Magi Burger. Lalu kenapa lelaki itu ada di sini? Dan, kenapa Akashi juga mengenalnya?

.

.

Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah belakang. Imayoshi muncul di ikuti oleh dua orang yang tampak kontras di belakangnya. Murasakibara atsushi dan Takao Kazunari.

"Aku sudah membawa mereka." ucap Imayoshi.

Kali ini giliran Midorima yang membeku. Takao Kazunari, mantan senpai-nya yang dulu selalu mengirim surat cinta padanya ada di sini. Iris emeraldnya langsung melirik tajam ke arah Furihata. Jangan bilang pemuda ini yang mengajak Takao ikut serta sebagai peserta. Seakan mengerti arti pandangan Midorima, Furihata mengeluarkan smirknya. Membuat kekesalan naik ke ubun-ubun pemuda hijau itu.

'Kouki sialan!', batinnya.

Murasakibara masuk ke dalam bar. Duduk di kursi di balik sana sambil menopang kedua sikunya malas. Sedangkan Takao memilih duduk di sebelah Aomine. Dia sedikit gentar saat mendapati pandangan Midorima yang tajam menghunusnya. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah di sini, kan? Bergabung sebagai peserta atas desakan Furihata Kouki.

Walau di tolak berkali-kali, pada akhirnya Furihata berhasil menyeretnya untuk ikut acara ini. Lelaki itu menjanjikan padanya akan membuat Midorima juga ikut sebagai peserta. Entah dari mana lelaki itu yakin jika Takao masih belum bisa move on dari sepupunya itu. Tapi Furihata benar, Takao bahkan masih dapat merasakan detakan kuat jantungnya yang tak mau berhenti sejak pertama kali melihat Midorima di ruangan ini.

Kadang Takao merasa, Furihata terlalu suka ikut campur dengan masalah orang lain. Yah, sejak kejadian 8 tahun lalu di kafe tempat kerja part time-nya, Takao menjadi dekat dengan Furihata. Padahal satu-satunya yang dia lakukan saat itu hanyalah mengantar Furihata pulang. Tapi lelaki itu malah terus-terusan menempel padanya. Takao sih tak masalah, tapi tatapan Midorima selalu membuatnya gemetar setiap kali Furihata menghabiskan waktu dengannya. Takao sudah sering meminta Furihata untuk tak terlalu sering datang mengunjunginya. Tapi tak di acuhkan sedikit pun oleh Furihata. Mau bagaimana lagi, kedua saudara sepupu itu memiliki sifat yang sama. Keras kepala!

"Takao kun," sapa Kuroko. "apa kabar?"

Takao menoleh ke sumber suara. Matanya memantri teman sekelasnya di SMA dulu yang duduk di sofa di depannya. Lelaki yang pergi tanpa pamit sama sekali. Bahkan tak pernah terdengar kabarnya sedikit pun selama 8 tahun ini.

"Baik." Jawab Takao. "Lama tak jumpa, Kuroko. Kau membuat Akashi mencarimu seperti orang gila karena kepergianmu yang tiba-tiba." Lanjutnya.

Kuroko tersentak. Benarkah? Benarkah Akashi mencarinya saat dia pergi dulu? Maniknya menatap cepat ke pemuda bersurai crimson di depannya. Pemuda itu menunduk serius membaca majalah bisnis, tak mempedulikan percakapan barusan. Hati Kuroko langsung mencelos. Tampaknya Takao terlalu melebih-lebihkan.

Kuroko memaksa bibirnya untuk tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba mulutnya terasa berat untuk di gerakkan. Apa yang dia harapkan dari Akashi? Pemuda itu dulu bahkan lebih memilih untuk membuangnya. Hatinya terasa pedih jika mengingat kembali kejadian itu.

Kuroko melirik Furihata sekilas. Lalu dia menatap Akashi lagi. Oh tidak, jangan! Jangan bilang jika takdir membuatnya harus mengulangi kejadian yang sama untuk kedua kalinya. Dia tidak akan sanggup!

"Jika kau ada di sini, lalu bagaimana kedai mu Takao?" tanya Kise. Lelaki itu merasa bosan saat ini. Dia bahkan tidak tau kenapa mereka di kumpulkan di sini. Momoi hanya berkata jika ada pengumuman yang ingin di beri tau kepada para peserta, tapi mereka di minta untuk menunggu dua peserta lagi yang sedang dalam perjalanan.

"Ku tutup, tentu saja. Datanglah sesekali, akan ku traktir americano kesukaanmu." Tawar Takao.

"Baiklah. Aku akan datang sekembalinya kita ke tokyo." seru Kise, cepat. Sekalipun seorang model terkenal, pemuda itu juga suka yang gratisan. Siapa coba yang nolak dapat sesuatu tanpa perlu bayar?

Tatap!

Lagi-lagi Kuroko merasa lelaki bersurai navy itu menatapnya. Membuat Kuroko merasa amat tak nyaman. Apa yang di inginkan lelaki itu? apakah dia sengaja mengikuti Kuroko sampai ke sini?

Kuroko menatap ke arah Akashi yang duduk di depannya. Lelaki itu masih asik membolak-balikan majalah yang dibacanya. Ya, Akashi ada di sini. Kuroko tak perlu khawatir, karena Akashi sudah berjanji akan selalu melindunginya.

Namun, apakah setelah sekian lama berpisah Akashi masih ingat dengan janjinya itu?

.

.

Akashi membalik lagi majalahnya. Susunan rapi huruf-huruf tampak berantakan di mata rubinya. Dia bahkan tak ingat apa saja yang telah dia baca. Rasa senang menggelegak di dalam dirinya, memaksa untuk keluar. Namun pemuda itu menolak untuk memperlihatkan rasa bahagianya itu. Dia tak ingin tampak bodoh di hadapan banyak orang. Dia ada di sini! Ya, di sini.. di sebelah kirinya.

Kuroko Tetsuya ada di sini bersamanya!

Akashi baru saja selesai mandi saat suara delman terdengar mendekat. Dia buru-buru pasang baju, sampai salah pakai parfum. Salahkan saja Aomine yang meletakan parfum mereka berdua berdampingan di atas nakas. Saat cairan berbau itu mengenai tubuhnya, Akashi tak punya pilihan selain pasrah. Dia tak mungkin mandi lagi, kan? Perasaannya masih gondok karena parfum Aomine yang berbau tajam mengganggu penciumannya. Namun siapa sangka, saat keluar dari kamar untuk menyambut peserta yang baru datang, dia malah mendapat kejutan yang tak terduga. Kuroko Tetsuya. Sahabatnya.

Sebenarnya Akashi tau akan keikutsertaan Kuroko dalam acara yang di produserinya. Dia melihat berkas Kuroko bersamaan berkas peserta yang lain yang diserahkan oleh Momoi padanya. Dia begitu bersyukur saat Tuhan memberikan kesempatan lagi untuknya bertemu sahabatnya itu. Setidaknya Akashi memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Namun, melihat sikap Kuroko yang canggung membuat Akashi menahan diri untuk tak memeluknya. 8 tahun bukan waktu yang sebentar. Wajar jika Kuroko merasa kurang nyaman di pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Ya, Akashi yakin.. Kuroko hanya canggung karena lama berpisah dengannya.

Kalimat Takao yang mengumbar masa lalunya membuat Akashi menegang. Dia mengunci pandangannya pada majalah yang dia pegang agar tampak serius membaca. Dia ingin tau respon apa yang akan diberikan Kuroko padanya. Namun, tak ada jawaban apa pun dari pemuda di sebelah kirinya itu. Malah selanjutnya suara Kise yang terdengar bosan, mengajak Takao berbicara.

Akashi mencelos. Tidak kah Kuroko memberikan sedikit tanggapan untuk perkataan Takao tadi? Yang dikatakan Takao benar. Awalnya Akashi memang terlalu fokus pada rasa patah hatinya, namun kemudian.. penyesalan datang. Menggerogoti setiap bagian di hati dan pikirannya. Apa yang sudah dia lakukan?! Membuang Kuroko? Oh sumpah, Akashi merasa sungguh brengsek!

Kuroko memiliki hati yang sensitif. Akashi sangat tau itu. Tapi Akashi tak pernah menyangka, keputusannya memilih Furihata waktu itu akan membawa petaka. Kuroko pergi! Meninggalkannya tanpa pamit dan tak pernah mengirim kabar. Akashi sudah berkali-kali memohon pada orang tua Kuroko agar mereka memberi tau Akashi dimana keberadaan putra semata wayang mereka. Tapi, lagi-lagi gelengan dan pengabaian yang Akashi peroleh. Akashi sangat mengerti jika kedua orang tua Kuroko merasa sangat kecewa padanya.

Akashi stres. Pola makannya jadi tak teratur. Dia mengkonsumsi makanan cepat saji hampir setiap hari. Tidurnya tak pernah nyenyak karena otaknya menolak untuk berhenti berpikir. Dia merasa gagal menepati janjinya di masa kecil. Merasa begitu bersalah pada sahabat yang sangat di sayanginya itu. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya sedikit tenang adalah, mengusap pigura foto mereka saat rasa rindu menyusup ke hatinya. Memperkuat dinding-dinding rasa bersalah yang melingkupi hatinya yang terluka oleh belati yang dia hunus sendiri. Dan sejak saat itu, Akashi bahkan tak pernah bisa menerima keberadaan seseorang berada begitu dekat dengannya. Tidak, sebelum dia meminta maaf pada Kuroko.

Akashi mengeratkan genggamannya pada majalah yang dia pegang. Tak peduli apa pun, kali ini Akashi tak akan membiarkan kurooko pergi lagi. Setidaknya, dia ingin menunjukkan pada Kuroko penyesalannya yang sangat dalam. Dan mendapatkan sebuah maaf.

.

.

Suara delman terdengar dari arah luar. Momoi dan Imayoshi langsung bergegas ke pintu depan. tak lama, pintu itu kembali terbuka. 2 orang peserta baru masuk, di pandu oleh Momoi. Di depan mereka, Imayoshi berjalan mundur sambil merekam. Kuroko terkesiap. A-apa-apaan ini?

Kagami Taiga dan Himuro Tatsuya masuk sambil menyeret kopernya. Badan mereka terasa lumayan pegal, karena perjalanan yang lumayan jauh.

"Lain kali carilah jemputan yang lebih baik. Kusir yang tadi sangat menyebalkan!" keluh Kagami.

Momoi membalasnya dengan tawa kecil. "Dia tak seburuk itu, Kagami" kata gadis itu.

Kagami hanya mendengus. Dia bisa merasakan jika gadis berambut pink itu menikmati rasa kesalnya.

"Kuroko sensei."

Suara Himuro di sebelahnya menghentikan langkah Kagami. Dia mengikuti arah pandang kakak angkatnya itu, dan menemukan salah satu dosennya berada di tempat ini. Melupakan kopernya, dia langsung berjalan cepat ke arah Kuroko.

"Kuroko sensei." Serunya. Dia langsung memeluk Kuroko erat. Sangat tak menyangka jika dia begitu berjodoh dengan sensei-nya itu. "Aku tak menyangka jika kita begitu di takdirkan~"

Kuroko mendorong Kagami. Dia merasa malu jadi pusat perhatian orang-orang di sana. Tapi pria itu malah mengencangkan pelukannya. Membuat Kuroko menjadi sesak.

Sreettt!

Tiba-tiba Kagami tertarik ke belakang, mundur beberapa langkah dari Kuroko. Kagami menatap pelaku yang menarik kerah bajunya dengan jengkel. Dan mendapati pria dengan warna rambut yang hampir sama dengannya menatapnya tajam.

"Ku rasa tidak sopan memeluk seseorang yang baru kau temui tanpa izin begitu." kata Akashi. Entah kenapa dia merasa jengkel melihat pemuda itu memeluk Kuroko begitu erat. Sahabatnya itu jadi sulit bernafas, kan?

"Eh? Kenapa tidak? Aku bahkan sudah pernah mengajaknya kencan. Pelukan ringan ku pikir bukan masalah besar." Sanggah Kagami.

Akashi melotot. Ke-kencan? Dengan Kuroko?

Akashi mengepalkan tangannya. Mencoba menahan diri untuk tak menghajar pemuda yang dengan tak tau dirinya berani mengajak Kuroko kencan. Sebagai orang paling dekat dengan Kuroko sejak kecil, Akashi tak membiarkan Kuroko kencan dengan orang lain tanpa restunya. Kuroko itu lemah dan polos, bagaimana jika seseorang melakukan hal buruk padanya. Pokoknya, Kuroko tak boleh berkencan dengan siapa pun tanpa izin Akashi!

Akashi berjengit atas pemikirannya sendiri. Tapi, Kuroko kan sudah dewasa. Dia bahkan sudah 8 tahun ini menghilang tanpa kabar. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Jadi Akashi tak perlu mengkhawatirkannya seperti anak kecil lagi.

Tapi mengingat Kagami yang pernah mengajak Kuroko kencan membuat otak Akashi kembali mendidih. Sebenarnya dia ini kenapa, sih? Kenapa dia kembali ingin menghajar pemuda itu? Dia juga sangat ingin menyembunyikan Kuroko di balik punggungnya, supaya pemuda itu tak lagi menatap Kuroko dengan cengiran yang tampak bodoh di mata Akashi.

Protektif!

Ya, benar! Dia protektif. Bagaimana pun Kuroko sudah bersamanya bertahun-tahun dulu. Di tambah lagi mereka sempat berpisah, wajar jika rasa protektif yang dia rasakan terhadap Kuroko makin besar.

"Lagipula, kau itu siapa?" tanya Kagami. Sebenarnya dia merasa grogi dengan pria pendek yang terus-terusan mengeluarkan aura yang tak enak sejak tadi ke arahnya. 'Siapa sih pria ini, kenapa menatapnya saja aku tak sanggup?', BatinKagami.

"Aku? Aku sahabat sejatinya Kuroko Tetsuya!" jawab Akashi. Dia langsung menarik Kuroko masuk dalam rangkulannya. Melupakan sikap canggung yang mereka berdua keluarkan. Pertanyaan Kagami tadi terdengar seperti 'Memangnya kau punya hak apa atas dia?' di telinganya. Oh sungguh, Akashi benar-benar senewen jika itu berhubungan dengan Kuroko.

"Biasa aja keles, gue yang pernah ngajak dia kencan biasa aja tuh~" cemooh Kagami. Menikmati bagaimana wajah Akashi makin mengeras mendengar ucapannya.

Wah wah, Kagami. Jangan membangunkan singa tidur dong~!

.

Furihata menikmati drama konyol di depannya. Smirk-nya makin lebar saat melihat Akashi yang tampak sangat kesal mendengar Kagami pernah mengajak Kuroko kencan. Lelaki itu bahkan tanpa sadar merangkul bahu Kuroko kencang. Menimbulkan raut tak nyaman pada Kuroko Tetsuya yang tampak sangat risih.

'Semakin menarik, heh. Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang, Akashi senpai?'

.

.

Momoi menatap wajah-wajah para pesertanya puas. Mereka tampan dan mereka jomblo. Tampaknya ini akan menjadi sangat menarik. Gadis itu berdiri di antar sofa dan mini bar. Kameramennya, Imayoshi menyorot kamera yang dia pegang ke para peserta. Mengabadikan momen itu secara jelas.

"Selamat bergabung di 'Rumah Jodoh'." Seru Momoi. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke semua wajah peserta. "Aku senang para pria kesepian seperti kalian pantang menyerah untuk mendapatkan jodoh. Kehadiran kalian ke sini sangat membantu mengurangi spesies para jomblo ngenes di muka bumi ini." ucap Momoi. Membuat para peserta membuang muka. Stop deh Momoi, jangan menghina terus!

"Nama ku Momoi Satsuki. Aku adalah ketua tim sekaligus kreatif acara ini." kata Momoi, memperkenalkan diri. "Kita akan mengadakan syuting selama beberapa hari di sini. Karena pulau ini begitu cantik, aku yakin kalian akan betah. Jadi, tebarkanlah aura-aura cinta kalian seluasnya! Kita akan menyelimuti pulau ini dengan warna merah jambu! Dan menurunkan bendera jomblo ngenes di atas bumi ini!" serunya, edan.

Dan akhirnya peserta tau alasan kenapa Momoi memilih Ogiwara sebagai kusir yang mengantar mereka. Sifat senewen mereka sama, sih.

"Karena ini reality show, kami akan membuat benar-benar tampak seperti realita yang sebenarnya. Jadi kami sudah memasang banyak kamera di setiap sudut rumah dan pekarangan. Semua interaksi kalian akan terekam jelas tanpa rekayasa." Terang Momoi.

"Selama syuting, diharapkan peserta saling berinteraksi dengan baik. Kita akan menjalankan misi-misi sampai syuting berakhir. Peserta yang dapat pasangan di acara ini akan mendapat paket honeymon dari kami sebagai hadiah." Akhir-nya, sambil tersenyum lebar.

"Lalu, apa gunanya dia?" tanya Kagami sambil menunjuk Imayoshi. Menjadi objek pertanyaan Kagami, Imayoshi langsung mengclose-up pemudabersurai scarlet itu.

Momoi menatap rekan kerjanya itu sejenak. "tentu saja perlu. Jika misi kita dilakukan di luar pekarangan rumah, dia lah yang akan merekam kegiatan kita." Jelasnya.

"Hanya satu orang kameramen? Apa itu cukup?"

"Bukan satu, tapi dua. Satu orang lagi sedang pergi keluar." Jawab Momoi.

Suasana kembali hening. Tampaknya sudah tak ada lagi yang ingin bertanya, Momoi kembali bicara

"Karena kamar di rumah ini terbatas, kami harap kalian tak keberatan mengisi satu kamar dua orang. Kalian bisa pilih kamar dan partner kalian sendiri. Tadi beberapa anggota sudah mengisi beberapa kamar duluan. Kalian bisa memilih yang kosong nanti."

"Dan juga, aku akan memperkenalkan para kru yang lain." Momoi memberi kode pada para kru-nya.

"Saya Shoichi Imayoshi, Kameramen." Ucap Imayoshi dari balik kameranya.

"Murasakibara atsushi, Chef." Murasakibara mengedarkan pandangan malasnya pada para peserta.

"Furihata Kouki, Pengamat."

Kuroko, Kise bahkan Midorima pun langsung menatap terkejut ke arah pemuda itu. A-apa? Pengamat?

"Apa maksudmu Kouki? Bukankah kau peserta?" tanya Midorima, heran.

Furihata tersenyum penuh makna. "Apa aku pernah bilang jika aku ikut sebagai peserta, Shintarou?"

Midorima gelagapan. Benar! Pemuda itu tak pernah bilang akan ikut sebagai peserta.

"Tapi tadi kau bilang kau datang dengan alasan yang sama dengan ku, Furihata kun?" Kuroko menatap Furihata. Menunggu jawaban dari pemuda itu.

"Aku tak berbohong, senpai. Aku datang dengan alasan yang sama, untuk ikut bergabung dalam 'rumah jodoh' namun sebagai Pengamat."

Midorima mendesah. Merasa sangat kesal dengan Furihata. Pantas saja dia bisa membuat Midorima menjadi peserta di sini, bukan hanya itu, dia bahkan juga membawa Takao. Kurang lebih Midorima bisa mengerti jalan pikirannya.

Midorima kembali menatap Furihata. Senyum penuh makna lelaki itu masih bertengger di bibirnya. Membuat rasa kesalnya naik dua kali lipat. Kadang dia merasa tak mengenal sepupunya itu. Lelaki itu penuh rahasia dan pikiran yang sulit di mengerti.

Sumpah demi apa pun, Midorima sangat ingin melenyapkan senyuman dengan maksud tersembunyi itu!

o-O-o

Ruangan itu hanya berisakan dua kasur single, yang di pisahkan oleh sebuah meja nakas dan dua lemari baju ukuran kecil. Sebuah kaca tergantung di sebelah pintu masuk. Seorang pemuda bersurai crimson duduk di salah satu kasur. Di pangkuannya terdapat sebuah pigura foto. Foto dua orang anak kecil berumur sepuluh tahun. Surai biru dan crimson saling beradu. Senyum lebar dan raut bahagia terpantri jelas di wajah mereka. Foto itu diambil di rumah sakit saat mereka berdua selamat dari maut, kelas 5 SD dulu. Hari dimana Akashi berjanji untuk melindungi Kuroko selamanya. Janji yang dia khianati. Janji yang dia langgar karena perasaan egois semata. Hal yang membuat Akashi sangat menyesal sampai sekarang.

Tidak, dia akan menepati janjinya kali ini. pasti!

.

.

Krieeett!

Seorang pemuda bersurai navy masuk. Maniknya mendapati rekan sekamarnya sudah berada duluan di sana. Dia menutup pintu kamar dan berjalan ke kasur yang kosong. Matanya sekilas mencoba mengintip pigura yang dipegang oleh Akashi saat melewatinya. Namun yang tampak hanya foto anak kecil. Pemuda itu mengangkat bahu, mencoba tak mempedulikan roommate-nya itu. Pemuda itu pun mulai berbaring. Menghabiskan waktu sampai makan malam tiba.

Setelah Momoi memperkenalkan anggota kru-nya, para peserta diminta beristirahat sebentar sampai jam makan malam. Mereka langsung bubar karena memang perjalanan panjang mereka menuju pulau ini sangat melelahkan.

"Jangan terlalu sering memandangi Tetsuya, Daiki. Itu membuatku kesal." ucap Akashi, memperingatkan.

Pemuda itu menoleh. Merasa bingung dengan ucapan Akashi.

"Kau tau jika bukan dia yang ku lihat."

"Tapi arah pandanganmu membuatnya salah paham. Dia tampak tak nyaman."

"Mau bagaimana lagi, mereka selalu bersama. Tenang saja, aku tak tertarik pada gebetan mu itu kok."

Akashi melirik Aomine tajam.

"Dia buka gebetan ku. Dia sahabat ku sejak kecil." tekannya.

"Ya ya ya!" Aomine mengangguk-angguk, malas. "Terserah kau menyebutnya apa." Lanjutnya.

"Hati-hati dengan sikap mu! Aku tak akan segan-segan jika kau membuat kekacauan di sini!"

Aomine bangkit, mendudukkan diri. Matanya menatap mata Akashi dengan sorot yang sama.

"Ku pikir kau tidak dalam situasi yang bisa untuk mengancam ku!" balasnya, dingin.

Akashi berjengit. Rasa kesalnya makin meluap pada pemuda ini. Tapi kemudian dia menghembusakan nafas. Dia harus menahan diri. Dia tak boleh sampai membuat keributan. Setidaknya, memang bukan Kuroko lah yang diincar pemuda itu.

"Aku sudah memberimu peringatan. Dan aku tak akan mengulang untuk kedua kalinya!"

Aomine menatap Akashi yang beranjak keluar. Haah.. si bodoh itu! teman apanya? Kecemburuannya tampak sangat jelas saat Kagami memeluk Kuroko tadi. Sudahlah, lagipula keikutsertaannya ke sini sampai berani mengancam Akashi memang bukan untuk pemuda itu. Tapi seseorang yang berbeda.

.

.

To Be Continue....

.

.

Jangan lupa review yaa~! :D

.

Balasan review buat yang gak login:

otaku prince1989: haha.. makasih prince :D

ObeyCarly: hayoo.. siapa? Di chap ini udah terjawab kan :D

Miku: Furihata antagonis? Masa sih? O.o Haha.. oke sip. Ntar masalah akashi ama kuroko mah aman. :D

Faira: faira.. makasih banyak ini udah update :D

Aka to Kuro: ini udah update.. ^^ Tapi ngemasonya di tunda dulu ya :D

Army97: di chap ini udah di ceritain :D selamat membaca :D

.

.

Dan aku ucapain makasih banyak untuk kalian yang masih mau membaca fic ini :D