"Berjalanlah di depanku kalau begitu" kata Sasuke, Hinata pun berjalan di depan Sasuke, Sasuke sengaja membiarkan gadis bermata lavender itu mendahuluinya beberapa langkah, asalkan masih bisa menatap punggung gadis itu tak masalah. Melihat Hinata berjalan, membuat sesuatu dalam diri Sasuke terasa tidak nyaman, cara berjalannya yang anggun, benar-benar mencerminkan seorang hairess, rambut indigo yang tergerai sepunggung, ingin sekali ia menyentuh rambut itu lagi dan menghirup wangi lavender dari tubuh gadis Hyuuga itu, melihat punggung Hinata, Sasuke kembali teringat rasanya memeluk tubuh mungil itu
'Damn, hanya melihatnya dari belakang sudah mengacaukanku' maki Sasuke pada dirinya sendiri
Watashi Wa Koko Ni Iru, Hinata
Declaimer : Naruto itu punya mbah Masashi #duagghhh di hajar Masashi, Gila aja gue masih muda di panggil mbah #Masashi narsis mode on
Pairing : g jelas bisa Sasuhina, Naruhina, Sasusaku dan Narusaku, tapi karena Hikari Sasuhina lover jadi Hikari bikin Sasuhia yaaaaa...
Rate : g jelas juga, bisa T, bisa Juga M, tapi sepertinya bisa jadi M sesuai saran Ayzhar-san
"A... Arigatou Sasuke-san" kata Hinata saat ia telah tiba di depan gerbang mansion Hyuuga
"Hn, aku pergi" kata Sasuke lalu melangkahkan kakinya untuk pergi, seperti biasa ia mengantarkan Hinata pulang setelah menikmati senja bersama di bukit Konoha dengan cara mereka sendiri
"Sasuke-san" panggil Hinata, dan membuat Sasuke yang mendengar suaranya yang lembut menghentikan langkahnya
"Istirahatlah, besok pagi kita bertemu di gerbang Konoha" ucap Hinata mengingatkan Sasuke bahwa besok mereka akan menjalankan misi bersama berdua untuk pertama kalinya.
"Hn" jawab Sasuke datar seperti biasanya, lalu melangkah pergi meninggalkan Hinata yang masih menatap punggung pemuda Uchiha itu. Setelah dirasa Sasuke telah jauh dari pandangannya Hinata lalu masuk menuju kamarnya.
Petang telah menyapa langit Konoha, Hinata sudah berada di kamarnya, setelah makan malam bersama Hanabi dan Tou-sannya ia akan segera beristirahat, Hinata sangat jarang bertemu dengan Hiashi Hyuuga sang ayah, semenjak kematian Hyuuga Neji, Hiashi lebih sering berada di ruang kerjanya, jarang keluar jika tidak untuk makan atau beristirahat di kamarnya.
Malam itu Hinata mengetuk ruang kerja ayahnya, untuk menyampaikan kepada sang ayah bahwa besok pagi-pagi sekali ia akan menjalankan misi ke Kirigakure bersama Uchiha Sasuke, sebenarnya bukan misi yang terlalu berbahaya hanya misi range B, namun hati kecilnya mengatakan bahwa lebih baik ia menemui ayahnya malam itu. Lalu dengan anggun ia melangkahkan kaki menuju ruang kerja sang ayah
"Tou-san haitte mo iidesuka?" kata Hinata saat berada di depan ruang kerja sang ayah dan setelah mengetuk pintu tentunya.
"Dozo Hinata" jawab pria setengah baya yang berada di dalam ruangan tersebut
Sreggg
Suara pintu Shoji digeser, Hinata masuk, melangkahkan kakinya lalu berdiri di depan pintu shoji dan membungkukan setengah badannya, memberi hormat pada sang ketua Hyuuga yaitu ayahnya, Hinata melihat sang ayah sedang menatap foto adik kembarnya Hizashi Hyuuga dan foto Neji di samping foto Hizashi
"Maafkan aku Hizashi, aku tak bisa menjaga Neji dengan baik" ucap Hiashi pelan namun dapat di dengar oleh indra pendengar Hinata, ada perasaan bersalah dalam hati Hinata, ada perasaan sakit, bagaimanapun juga kedua orang dalam foto yang ditatap ayahnya itu meninggal demi menyelamatkan dirinya. Kini Hiashi menoleh pada Hinata saat ia merasa kehadiran Hinata di dalam ruang kerjanya.
"Ada apa Hinata?" tanya Hiazhi dengan tatapan tajamnya, namun ada kelembutan dalam tatapan itu, karena Hinata menunduk ia tak dapat melihatnya, melihat pandangan sang ayah kepadanya
"Gomen... Tou-san besok pagi saya akan berangkat untuk menjalankan misi ke Kirigakure" jawab Hinata masih dengan kepala menunduk, bukan... Hinata bukan takut tapi karena ia sudah terbiasa seperti itu sejak kecil, sekarang Hinata bersyukur Hiashi sang ayah lebih lunak, lebih bisa diajak bicara, kalau dulu jangankan untuk berbicara seperti ini, untuk mengetuk pintu ruang kerjanya saja Hinata tidak akan berani, pandangan meremehkan dari Hinashi yang sebenanrnya membuat Hinata sakit hati, dia menyadari kemampuannya tidak sebanding dengan saudara-saudaranya.
"Hn, dengan siapa kau menjalankan misi?" tanya Hiashi setelah sesaat melirik Hinata, dan melakah untuk duduk di kursi kerjanya. Ada kekhawatiran dalam nada suara Hiashi, ia tahu Hinata tangguh walau terlihat lemah, namun tetap saja Hinata kalah jika dibandingkan dengan Neji atau Hanabi tapi itu karena sifat belas kasih yang dimiliki Hinata, jika saja gadis itu bisa lebih tegas dalam melawan musuh-musuhnya, mungkin dengan gerakan lembut seperti Jyuuken, jutsu khas klan Hyuuga, Hinata dapat membunuh musuh-musuhnya dengan menghancurkan organ dalam mereka, tapi Hyuuga satu ini hatinya terlalu lembut, sifat yang diwarisi dari sang ibu.
"Dengan Uchiha Sasuke Tou-san" jawab Hinata, sedikit mengangkat wajahnya untuk melihat sang ayah, Hiashi terkejut mendengar jawaban Hinata, benarkah ini akan aman untuk putrinya? Mengingat Uchiha satu itu yang memiliki darat dingin dan tanpa belas kasihan, baiklah Sasuke memang sudah kembali ke Konoha, telah menerima hukuman, telah diterima warga namun tetap ketua Klan Hyuuga ini memiliki kekhawatiran, apalagi mengingat Neji sudah tidak ada, jika ada mungkin ia bisa memerintahkan Neji untuk menemani Hinata jika Neji tidak sedang melakukan misi tentunya.
"..." Hiashi terdiam, masih sibuk dengan pikirannya sendiri, wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa datar
"Baiklah Tou-san saya permisi" kata Hinata ketika ia merasa tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari sang ayah, Hinata membungkukkan badannya, mundur selangkah lalu membalikkan badannya
Sreggg
Pintu shoji itu digeser oleh Hinata, baru saja ia akan melangkahkan kakinya keluar tiba-tiba
"Hinata..." panggil Hiashi menginterupsi langkah Hinata untuk keluar, Hinata menghentikan langkahnya
"Pastikan kau tak merepotkan Uchiha" ucap Hiashi, Hinata memejamkan matanya mendengar pesan sang ayah, ia berbalik dan sekali lagi membungkukkan badannya
"Baik Tou-san" ucap Hinata lalu pergi meninggalkan tempat itu, setelah menutup kembali pintu shoji. Ada perasaan sakit di hatinya mendengar pesan sang ayah, apakah ayahnya masih meragukan kemampuannya? Perang dunia ninja ke empat sudah berakhir, aliansi shinobi dari lima negara yang menang dan Hinata ikut andil dalam peperangan itu, masih pantaskah kemampuannya diragukan? Sebegitu tidak berharganyakah dia? Itulah yang Hinata pikirkan. Hinata lalu melangkahkan kakinya menuju kamar untuk beristirahat.
Sreggg
Ia menggeser pintu kamarnya, setelah masuk ia menutup pintu itu kembali, diambilnya tas ninja yang akan dibawa untuk misi besok, sekali lagi ia mengecek persiapannya, memastikan bahwa semua sudah siap dan tak ada yang tertinggal, setelah ia yakin semua telah siap, Hinata membaringkan tubuhnya di kasur, menerawang, matanya memandang langit-langit kamar.
"Naruto-kun" bisiknya sebelum ia benar-benar memejamkan matanya.
.
.
.
Pagi hari, tepatnya pagi buta karena matahari belum tampak di langit Konoha, Hinata telah terbangun dan bersiap menjalankan misi, segera ia berlari menuju gerbang Konoha, dia tak ingin terlambat.
Sekarang Hinata telah berdiri di gerbang Konoha, matanya berkeliling mencari partner misinya
"Kau mencariku Hinata?" tanya seseorang dari arah belakang Hinata, sontak Hinata menoleh dan mendapati Sasuke berdiri tegak dengan pakaian shinobinya, rompi, kaos hitam serta celana panjang hitam yang menempel di tubuh Sasuke serta tidak lupa Hitae ate yang terikat di dahinya, yang dulu sempat ditanggalkan oleh Sasuke ketika ia masih menjadi missing-nin.
"Syukurlah, mari kita berangkat Sasuke-san" jawab Hinata saat melihat Sasuke sudah datang
"Kau terlambat Hinata" kata Sasuke dan berbisik tepat di telinga Hinata, hal itu tentu saja membuat Hinata terkejut, sungguh sensasi yang terasa asing bagi Hinata. Sebenarnya Sasuke sudah datang lebih awal dari Hinata, hanya saja ia memilih untuk menunggu Hinata di dahan pohon, daripada berdiri di depan gerbang Konoha.
"Go...Gomen" jawab Hinata tergagap saat melihat seringaian puas di wajah Sasuke, ya Sasuke senang menggoda gadis Hyuuga itu, senang ketika melihat rona merah yang ada di wajah Hinata apalagi jika itu karena ulahnya.
"Bagaimana jika kau ku hukum, hm?" goda Sasuke lagi dan kali ini wajahnya berada dekat dengan wajah Hinata, hingga hembusan nafas pemuda itu dapat dirasakan dan aroma tubuhnya dapat tercium oleh Hinata.
"..." Hinata terdiam, ia hanya bisa mengerjap matanya, wajahnya telah merah semerah buah faforit Sasuke
"Sudah ayo berangkat, kau payah Hyuuga" kata Sasuke lalu meloncati dahan pohon. Sasuke merasa Hinata masih terdiam, maka ia menolehkan kepalanya untuk melihat Hinata.
"Jika kau masih terdiam seperti itu, maka kau akan ku gendong Hinata" kata Sasuke sedikit lebih mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Hinata, Hinata yang mendengarnya, lalu dengan segera mengikuti langkah Sasuke untuk meloncati dahan-dahan pohon.
Kini Hinata berada di belakang Sasuke, Hinata dapat melihat gerakan Sasuke yang begitu tegas dan cekatan, Sasuke bahkan dapat melompati dahan-dahan itu dengan cepat dan baik, jika saja ia tak menunggu Hinata, iya Hinata tahu Sasuke tidak benar-benar menggunakan tenaganya, karena Sasuke menunggunya, kembali Hinata teringat kata-kata ayahnya
'Jangan merepotkan Uchiha, Hinata' kata-kata itu terlintas dalam pikiran Hinata
"Gomen ne Sasuke-san, aku telah merepotkanmu" bisik Hinata, dengan segera Hinata menambahkan chakra pada telapak kakinya sebagai tumpuan pijakan, melomcat dan mengejar Sasuke, ia ingin segera sampai di Kirigakure, menyelesaikan misi dan kembali ke Konoha tentunya. Entah mengapa baru saja ia meninggalkan Konoha tapi rasa rindu pada desa itu telah menjalari hatinya, Hinata ragu apakah itu kerinduannya pada desa ataukah rasa rindunya pada seseorang? Ya siapa lagi jika bukan Naruto Uzumaki sang Hokage.
Di Kantor Hokage
"Ada apa anda memanggil saya Hokage-sama?" tanya Hiashi saat ia telah berada di ruang Hokage
"Duduklah Hiashi-sama" kata Naruto mempersilahkan Hiashi duduk, ketua klan Hyuuga itupun lalu mendudukkan dirinya pada kursi di depan Naruto
"Saya mewakili Uchiha untuk melamar Hinata putri anda" jawab Naruto to the point hal itu sontak membuat Hiashi terkejut
"Atas dasar apa anda mengatakan itu Hokage-sama?" kata Hiashi dengan tatapan tajamnya
"Uchiha membutuhkan Hyuuga untuk membangkitkan klan mereka kembali Hiashi-sama" kata Naruto, Hiashi jelas marah, jadi secara tidak langsung pemuda blonde itu menjelaskan bahwa Hinata diperalat, menikahi Uchiha, melahirkan keturunan untuk Uchiha tanpa ada cinta diantara mereka. Hal itu jelas membuat Hiashi sangat murka.
"Jika anda merasa terganggu dengan perasaan putri saya kepada anda, itu bukan menjadi alasan untuk anda memberikan Hinata kepada pemuda Uchiha yang menjadi sahabat anda Hokage-sama" kata Hiashi dengan emosi yang siap meledak, jika saja dia tidak ingat bahwa yang saat ini berada di hadapannya adalah seorang Hokage mungkin ia telah memberika Jyuuken pada pemuda blonde itu.
"Lalu bagaimana dengan janji masa lalu anda dengan Fugaku-san" jawab Naruto dan hal itu membuat Hiashi terkejut
"Bagaimana anda mengetahuinya?" tanya Hiashi pada Naruto masih dengan ekspresi datar di wajahnya, walaupun sebenarnya ia sangat terkejut, ia mutup rahasia ini rapat-rapat sejak dulu, sejak klan Uchiha hancur, Naruto tak menjawab ia hanya tersenyum lalu berkata
"Tak penting saya tahu dari mana, tapi janji tetaplah janji Hiashi-sama" kata Naruto sambil memandang pria setengah baya yang mungkin seumuran dengan ayahnya.
"Ketika itu, jauh sebelum malam naas itu terjadi, aku dan Fugaku berencana akan menjodohkan Hinata dengan Itachi bukan dengan Sasuke" kata Hiashi menjelaskan kepada Naruto rencana masa lalu mereka
"Lalu apa beda Itachi dan Sasuke?" pertanyaan Naruto seolah mendesak Hiashi agar menerima permintaannya
"Jika Uchiha membutuhkan Hyuuga untuk membangkitkan kembali klannya, saya akan mencarikan salah seorang Souke Hyuuga yang lain yang mungkin tertarik dengan pemuda Uchiha itu" kata Hiashi tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Naruto tadi.
"Bukankah shinobi tidak pernah ingkar janji Hyuuga-sama? Dan orang terhormat seperti anda tak mungkin melupakan janji yang anda ucapkan sendiri" kata Naruto membuat Hiashi terdiam, iya apa beda Sasuke dengan Itachi? Itachi menjadi missing-nin dan bergabung dengan akatsuki demi desanya dan Sasuke menjadi missing-nin dan bergabung dengan akatsuki demi kecintaannya terhadap klannya da sesuatu yang orang sebut dengan harga diri.
"Saya rasa anda tidak ingin orang lain tahu masalah ini Hiashi-sama, jadi pilihan anda hanya satu menerima permintaan saya demi desa dan menepati janji masa lalu anda" kata Naruto, mendesak Hiashi Hyuuga.
Hiashi yang begitu menjujung tinggi nama baik Hyuuga tak dapat membayangkan jika hal ini sampai tersebar, ketua klan Hyuuga ingkar dengan janji yang ia ucapkan sendiri. Betapa itu akan sangat memalukan. Tapi disisi lain dia memikirkan perasaan Hinata, bagaimana dengan Hinata? Apa Hinata mencintai Sasuke? apa Hinata akan bahagia? Sepintas ia teringat sejak kapan ia memikirkan perasaan Hinata? Bukankah Hinata selalu menjadi robot yang menjalankan setiap keinginannya, baiklah untuk saat ini sekali lagi ia harus mengorbankan perasaan Hinata demi harga dirinya. Toh tidak buruk jika Hinata menikah dengan Sasuke, putrinya akan melahirkan keturunan Uchiha klan yang sangat dihormati di desa mereka.
"Baiklah Hokage-sama, saya setuju" ucap Hiashi pada akhirnya, walau dengan berat hati ia memutuskan itu, namun semua telah ia pertimbangkan dan inilah yang terbaik untuk dirinya, klannya dan semoga untuk Hinata batin Hiashi.
"Baiklah setelah kembali dari misi mereka akan menikah" ucap Naruto, dan Hiashi menyetujuinya. Setelahnya Hiashi undur diri dan pergi meninggalkan kantor Hokage.
Naruto tersenyum mengetahui rencananya berhasil, ia senang sekaligus lega namun entah mengapa ada perasaan sakit yang menjalari hatinya, tak banyak namun terasa begitu sesak. Ia menghempaskan kepalanya pada kedua tangan yang bertumpu di atas meja, merasakan perasaan yang mendesak dan aneh, Naruto menjambak rambut mencoba menghilangkan beban berat di kepalanya.
"Mengapa aku begini? Bukankah rencanaku berjalan lancar?" bisik Naruto pada dirinya sendiri. Lalu dengan gontai ia melangkahkan kakinya keluar kantor Hokage setelah mengenakan jubah kebesarannya serta topi hokage tentunya.
.
.
.
"Nggghhh..." lenguhan seorang gadis terdengar
"Teruslah seperti itu, sebut namaku" ucap pemuda itu dengan suara parau, sambil memberikan serangannya tanpa henti kepada gadis blonde yang berada dalam pelukannya itu.
"Shi... Shika... hen...hmmmph" protes Ino terhenti oleh ciuman Shikamaru, lidah pemuda itu memaksa masuk dan menarik lidah Ino, mengulumnya, melumat bibirnya,dan kini tangan pemuda itu telah berada di dada Ino, merambati sekujur tubuhnya, menjelajah seolah tubuh Ino adalah tempat petualangan yang menyenangkan dan menantang. Mereka masih mengenakan pakaian tapi tak rapi seperti semula, pakaian bagian bawah Ino tersingkap ke atas, sedangkan bagian atasnya terbuka pada bagian kirinya sehingga menampilkan pundak mulus yang tersembunyi. Ino menikmatinya tapi ia juga menolaknya, jujur ia menikmati apa yang dilakukan Shikamaru kepadanya, namun ia juga harus menolaknya mengingat status mereka.
"Shi... Shika... sadarlah" ucap Ino saat Shikamaru melepaskan ciumannya, ia melepaskannya untuk mengambil oksigen, memberikan kesempatan pada dirinya dan Ino untuk bernafas.
Itulah mereka, entah bagaimana mulanya namun itu akan mereka lakukan saat mereka sedang melakukan misi, mereka memang tidak pernah lebih dari sekedar ciuman atau rabaan
"Kau memang selalu nikmat Ino" bisik Shikamaru di telinga Ino, ia sudah melepaskan Ino, sudah menghentikan ulahnya dan kembali mengenakan pakaiannya.
"Dan kau memang selalu bisa menggangguku Shika" ucap Ino sambil membenahi pakaiannya dan memonyongkan bibirnya sebagai bentuk kekesalannya kepada pemuda nanas di hadapannya.
"Hm? Mengganggu ya?" tanya Shikamaru sambil mendekati wajahnya ke wajah Ino, sekilas ia memberikan ciuman pada gadis itu, hanya menempel tanpa melumat, setelah lepas Shikamaru lalu menyeka bibirnya dengan jempol kanannya. Menunjukkan seolah dia tak rela rasa Ino hilang mengalir melalui salivanya.
"Hentikan ini Shika, kau tak ingin Temari dan Sai mengetahui ini kan?" tanya Ino dengan tetap memandang tingkah konyol Shikamaru, dan pemuda nanas itu kembali pada jati dirinya, tidak mau peduli dan memilih tidur terlentang dengan tangan menopang kepalanya di tanah.
"Shika, dengarkan aku" kata Ino, ia paham benar karakter teman satu timnya ini, jika bukan keinginannya Shikamaru susah untuk diajak kompromi.
"Hn, kita hentikan" jawab Shikamaru sekenanya, dia lalu kembali memejamkan matanya.
"Shika seriuslah" ucap Ino kesal melihat tingkah pemuda itu
"Hn, ok! Kita hentikan Ino dasar merepotkan" kata Shika mencoba membuat Ino berhenti berbicara
"Apa katamu? Aku merepotkan? Kau yang merepotkan. Orang jenius sepertimu seharusnya tahu cara mengendalikan hasratmu itu" ucap Ino kini dengan emosi, ia terkadang sangat sebal dengan Shikamaru, namun ia pun tak yakin bisa mengakhiri ini, ia ingin berakhir tapi bagaiamana pun ketika ia jauh dari Sai, dan hasrat liar menyapa dirinya maka hanya Shikamaru yang bisa mengerti dia. Dan hal yang sama pun terjadi pada pemuda nanas yang merupakan teman setimnya. Hal itu sudah cukup lama terjadi, tak ada yang mengetahuinya selain mereka berdua. Mereka tidak selalu melakukannya saat sedang melakukan misi, itu hanya akan terjadi jika mereka sama-sama menghendaki dan mereka ingat akan batas-batasnya. Namun perselingkuhan tetaplah perselingkuhan, tetap akan ada yang tersakiti. Kali ini mereka baru saja menyelesaikan misi ke desa Iwagakure, untuk mengantar saudagar kaya yang membutuhkan jasa shinobi, setelah perang dunia ninja, memang kejahatan tak serta merta terhapuskan dari muka bumi, namun kejahatan-kejahatan yang muncul pun tidak separah ketika perang itu terjadi, tak ada pemberontak atau ninja buronan seperti Akatsuki. Apapun itu misi tetap harus dijalankan entah itu misi rang A, B, C, D, ataupun S.
.
.
.
Hinata dan Sasuke kini sedang berada di pulau Nagi, di sebuah penginapan sederhana yang mereka sewa untuk menginap, pulau ini tidak begitu luas namun masyarakat di sini cukup mapan. Sasuke dan Hinata memutuskan untuk menginap karena kapal yang akan mereka gunakan untuk menyebrang ke Kirigakure baru akan berangkat besok pagi. Setidaknya itulah kata warga yang berada di dekap dermaga tadi saat di tanya oleh Hinata. Mereka hanya perlu menyeberangi pulau ini besok pagi untuk bisa tiba di Kirigakure, yang berarti desa kabut tersembunyi, yang terletak di Mizu no Kuni, setelah tiba di sana mereka akan langsung menuju kantor Mizukage, untuk memberi laporan bahwaa mereka telah tiba. Desa itu yang berelemen air, yang artinya para shinobinya kebanyakan mengendalikan elemen air. Bukan tanpa alasan Naruto mengirimkan Hinata, mengingat Hinata adalah shinobi yang mampu mengendalikan elemen air dengan baik, bukannya Naruto meragukan kemampuan Sasuke tapi elemen yang dikendalikan oleh Sasuke adalah elemen api dan petir maka untuk menjaga segala kemungkinan bukankah lebih baik jika mereka menjalankan misi bersama.
"Istirahatlah Hinata" ucap Sasuke saat mereka sudah memasuki penginapan dan meletakkan tasnya
"Aku akan keluar membeli makanan" ucap Sasuke lagi, lalu melangkah pergi meninggalkan Hinata.
"Baiklah Sasuke-kun" ucap Hinata, jujur ia sangat lelah, melompati dahan-dahan untuk menyeimbangkan kecepatannya dengan Sasuke, sungguh menghabiskan chakranya. Dan ia benar-benar butuh istirahat saat ini. Dengan segera Hinata mendudukan dirinya di sofa dekat lemari kecil yang terletak di kamar itu, dengan menggunakan tas, ia meletakkan kepalanya di sana, tak perlu waktu lama, Hinata telah tertidur. Setelah beberapa lama
Sreeggg
Terdengar suara daun pintu digeser, Sasuke memasuki kamar, mereka bukannya sengaja menyewa kamar satu, tapi seperti yang dikatakan tadi pulau ini tidak terlalu luas, sehingga tidak banyak penginapan namun banyak orang yang membutuhkan penginapan terutama para saudagar-saudagar yang akan berjualan atau membeli barang ke Kirigakure.
Sasuke melihat Hinata tertidur di sofa, maka dengan segera ia menghampiri Hinata setelah meletakkan belanjaannya diatas nakas di samping tempat tidur. Sasuke hanya menatap wajah gadis di hadapannya itu, sangat dekat, ia ingin menyentuhnya, menyentuh pipi seputih pualam itu, menyentuh alis dan bibir merah yang pernah di ciumnya, hal itu mengingatkan Sasuke pada apa yang ia lakukan kemarin di kantor Hokage tepat saat Hinata tertidur seperti ini. Mengingat itu membuat sesuatu dalam diri Sasuke bergejolak, namun ia sadar ia harus menahan diri, lalu Sasuke tersenyum ia dan berkata
"Akan ku buat kau menjadi milikku Hinata, segera bagaimanapun caranya" tak lupa sebuah seringaian menyertai ucapannya.
TBC
Balas-balas Review :
Moku-Chan : wahhh terima kasih reviewnya ya, seneng banget sudah mau mereview fic abal-abal bin gaje punya Hikari, terima kasih juga sudah menyukai fic punya Hikari, Hikari juga suka banget sama fic Moku-chan, ini sudah di lanjut Moku-chan, mohon di review ya dan beri masukkan.
Nivellia Neil : Hehehe terima kasih masukannya ya Nivellia-san, masalah perasaan Sakura belum bisa tersampaikan? Hehehe mungkin karena Hikari kurang bisa menggambarkan atau mendeskripsikan sesuatu, nanti deh Hikari mencoba lebih menyelami perasaan Sakura hehehe bahasanya berat bo, dan masalah buat lemon seperti yang Nivellia katakan benar, Hikari belum siap membuat fic lemon, mohon bimbingannya ya bagi senpai-senpai semua. Terima kasih sudah mereview.
Jun30 : hai Jun-san, hehehe memang Hikari bikin Sasuke so sweet, kalau kebanyakan cemberut dan berwajah dingin ntar Sasukenya cepet tua hehehee #alibi
Azzahra : Hallo Azzahra-san terima kasih sudah mereview karya Hikari, masalah pertanyaan Azzahra-san mengapa perkataan Hinata terpotong, memang apa yang dilakukan Naru, itu nanti akan Hikari jawab, mungkin pada chap berikutnya, tapi Hikari rasa chap ini sudah memberikan sedikit pencerahan #plak bahasanya, petunjuk maksudnya tentang hal itu. Lalu pertanyaan ke 2 klo Saku masih suka Sasu kenapa nerima Naru? Itu juga sangkup pautnya dengan mengapa Naru memotong perkataan Hinata, jadi tunggu chap berikutnya ya Azzahra-san.
Kin Hyuuchi : Perkembangan hubungan Sasuhina akan semakin membaik, semoga tapi Hikari tidak membuat Hinata menderita, karena ia sudah cukup menderita selama ini, karena tekanan dari ayahnya dan tetua klan Hyuuga serta sakitnya mencintai tanpa dicintai#ciaaa bahasanya... habisnya Hikari kasihan sama Hinata hehehe terima kasih sudah mereview tunggu chap selanjutnya ya.
Ana Indah : Ini sudah update Ana-san, terima kasih reviewnya...
Syuura : terima kasih reviewnya sebelumnya Syura-san, Sasu ngedeketin Hinata memang punya tujuan, masalah naru dan Hina di kantor Hokage mungkin bakalan Hikari ulas di chap selanjutnya jadi ditunggu ya hehehehe dan terima kasih semangatnya.
Yuka Akimura : Hehehe terima kasih reviewnya Yuka-san, ia Hikari memang sengaja buat Sasu OOC, bosan dengan Sasu yang dingin dan kasar hehehe...
Ms. X : terima kasih reviewnya ya Ms. X, Hikari akan usahakan untuk memanjangkan ceritanya pada setiap chapnya, jika alurnya agak membingungkan maaf, tapi mungkin ada yang terpotong itu akan di ulas pada chapter-chapter berikutnya, seperti kejadian di kantor Hokage, antara Naru dan Hina itu sengaja Hikari putus karena itu akan dijelaskan pada chap selanjutnya.
Syura : Seperti yang Hikari bilang Sasu memang punya tujuan mendekati Hina, kenapa Sasu nyium Hina, siapa yang tidak suka cewek cantik dan anggun seperti Hina? Hanya Naru yang selama ini buta akan perasaan Hina, Sasu juga laki-laki jadi wajar jika tiba-tiba ia ingin mencium Hina, apalagi ia sudah merencanakan akan menikahi Hina atau untuk memiliki Hina. Apa yang dikatakan Naru di kantor Hokage itu akan di ulas mungkin pada chap berikutnya, terima kasih sudah membaca fic abal Hikari dan terima kasih juga reviewnya.
Hikari punya cerita yang judulnya Cinta Yang Tertunda, mohon untuk para reader membacanya, sebenarnya itu Hikari buat hanya dalam waktu 2 jam, mohon untuk memberikan masukan pada cerita oneshot Hikari karena Hikari merasa kurang bisa membuat cerita oneshot, cerita itu Hikari buat untuk perayaan SHDL #3. Terima kasih Minna-san.
