Naoya mendorong Yuuya hingga terjerembab di sungai yang cukup dangkal. Seragam Yuuya yang telah basah , tak membuat kemarahan Naoya mereda. Dia melangkah mendekati Yuuya dan menarik kerah seragamnya. Matanya melotot karena emosi.
"Apa yang kau lakukan, BODOH?!" bentak Naoya. "Besok aku akan dipermalukan di sekolah karena ulahmu!"
"Mau bagaimana lagi? Ini semua salah Fujioka-san, kan? Kau tidak akan mendapatkan hal ini kalau bukan karena saudara kembar Misaki-san itu!"
"DIAM!" teriak Naoya sambil melempar Yuuya kembali ke sungai. "Ingatlah! Kazami akan merubah rencana penindasan itu! Bagaimana kalau Fujioka-san yang berikutnya ditindas?" marahnya.
Yuuya berdiri dari pendudukannya di sungai. Dia memungut tasnya yang ikut basah saat didorong oleh Naoya. "Apa kau menyukai Fujioka-san?" tanyanya sambil menepuk-nepuk tasnya yang basah.
Naoya terdiam sejenak. Perkataan Yuuya terasa sangat menusuk hingga ke tulang rusuknya. Seorang Naoya menyukai Misaki, sang provokator penindasan di kelas 3-3? Apa itu sungguhan?
"A, aku" ucapnya terputus.
"Teshiwagara-san," kata Yuuya mencoba menegur.
"Aku tidak pernah menyukai monster itu. Seorang sis-com seperti dia tak pantas disukai," ujar Naoya setengah berbisik lalu mengambil tasnya yang berada sekitar 5 meter darinya.
Yuuya hanya terdiam di pinggir sungai. Menatap Naoya yang berjalan semakin jauh darinya.
Misaki berlari di koridor rumah sambil memeluk sebuahh majalah bersampul warna-warni. Mencari sosok saudara kembarnya, Mei, di suatu ruangan di ruko tempat Mei tinggal. Dia menaiki tangga ke lantai dua dan berhasil menemukan Mei yang sedang sibuk menggunting koran-koran harian dengan bentuk tak keruan.
"Mei-chan! Mari baca majalah ini bersama!" ajak Misaki.
Mei menoleh ke arah Misaki. Mata kanannya menatap tajam Misaki. "Tidak perlu," katanya.
"He? Nande? Kau marah padaku, Mei-chan? Marah kenapa?"
"Hentikan semua kebohongan ini, Misaki. Sakakibara-kun bukan orang yang gampang kau permainkan"
"Apa maksudmu?"
"Misaki, tak perlu tahu," ujar Mei datar kemudian berjalan masuk ke kamarnya.
Dahi Misaki mengernyit mendengar perkataan Mei. Majalah yang dipegangnya diremas dengan sangat kuat. Menimbulkan kekusutan yang tak enak dipandang.
"Sakakibara. Awas kau!" bisiknya.
Ini bukanlah yang mudah lagi. Teshiwagara-kun telah gagal melakukan rencana itu. Bagaimana selanjutnya, Misaki-chan?
-Takako-
Jalankan rencana akhir
-Misaki-
Eh? Bagaimana kalau Kazami-san tahu akan hal ini?
Aku tidak peduli lagi. Sakakibara telah mengambil saudaraku tersayang. Tak akan kumaafkan dia kecuali jika ia bersujud di bawahku dan rela mati untukku!
Kau serius?Bukankah hal ini juga diawali karena tindakan bodohmu itu?Aku keluar! Aku lebih memilih hanya melihat daripada menindas!
Apa kau mau mati pada detik ini juga? Kau tidak bisa keluar begitu saja!
Aku dan Izumi keluar! Selamat tinggal penindasan untuk Sakakibara!
Kedua mata Misaki melotot melihat sms yang yang dikirimkan oleh Takako. Kedua sahabatnya telah keluar dari rencana yang sudah mereka susun selama berbulan-bulan sejak kedatangan Koichi. Sebenarnya apa yang sudah membuat mereka berdua keluar dari penindasan ini? Siapa atau apapun itu, Misaki tak akan pernah memaafkannya.
Dia melempar ponselnya ke arah ranjangnya. Dahinya berkerut dan seluruh mukanya merah. Kemarahannya berada di puncak. Sulit untuk bisa kembali lagi.
"Aku tak akan memaafkanmu, SAKAKIBARA-KUN!" ujar Misaki.
Keesokan harinya, Misaki dan Mei pergi ke sekolah bersama. Tetapi ada yang berbeda pada hari ini dengan hari-hari yang sebelumnya. Perjalanan mereka terasa sangat suram karena tak ada seseorang pun yang berbicara. Mei terus sibuk membaca buku merahnya.
Sebenarnya Misaki ingin membuka pembicaraan, tapi perasaannya terasa sangat tak enak jika memulai pembicaraan. Sesuatu yang tak terduga pasti terjadi hari ini.
Dari kejauhan, sosok Kouichi terlihat oleh mereka berdua. Mei segera berlari kea rah Kouichi dan meninggalkan Misaki sendiri. Misaki yang tak menyangka dengan perlakuan Mei padanya hanya terdiam. Di dalam hatinya, rasa kesal dan benci terhadap Sakakibara semakin melunjak. Aura kegelapan bagai terlihat menyelimuti seluruh tubuh Misaki.
"Apa Fujioka-san tak apa jika kau tinggalkan, Misaki-san?" Tanya Kouichi pada Mei yang berjalan di sampingnya.
"Ini pelajaran untuknya. Semua kesalahan Misaki karena telah berbohong pada semua," jawab Misaki.
Kouichi tak merespon jawaban Mei. Dia hanya memperhatikan jalan yang mulai menanjak.
-bersambung-
