Judul: Borders of Infinity
Sub-Judul: Downpour
Fandom: Death Note
Author: Ninja-edit
Disclaimer: Takeshi Oobata, Tsugumi Ooba, Nisioisin
Genre: Mystery, Suspense
Rating: T
WARNING: AR, Possible OOC-ness
NOTE: Saya haturkan banyak terima kasih buat yang memberi komentar, mengefave, atau bahkan sekedar meng-alert fic ini.
Please enjoy, ladies… ^^
ETA: typo-betaed by Kao'Ru'vi
.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
(Act 4. Downpour )
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
.
Hujan lebat mengguyur bumi.
L menatap curahan air yang turun dengan deras dari langit itu, seolah pintu langit tengah terbuka dan para Dewa sedang menangis di atas sana. Sesekali disesapnya cangkir tehnya tanpa melepaskan pandangannya dari jendela besar di sampingnya.
L menyandarkan tubuhnya perlahan di permukaan dinding kaca itu dan melipat kedua tangannya di dadanya. Jemari ramping telunjuk dan ibu jarinya dengan kokoh masih mengapit kuping cangkir keramiknya.
Hari berhujan di musim gugur tak pernah gagal membawa kenangan masa silam padanya. Memori yang tak pernah bisa lepas dari kepalanya.
.
.
New England, 1994.
.
.
"Yang duduk di kursi kuning itu adalah A. Anak pertama yang dibawa kemari dan dipersiapkan untuk menjadi penggantimu kelak," suara berat Ronald menuntut perhatian dari L muda.
L mengamati sosok mungil yang ditunjuk oleh Ronald.
Seorang anak laki-laki berusia sebelas tahunan tengah duduk di kursi plastik kuning cerah dengan buku-buku di tangannya.
Rambut kelabu anak itu terlihat sedikit bersinar membiaskan cahaya mentari yang menerobos melalui celah gorden jendela di belakangnya. Bola mata platina yang senada dengan rona rambutnya terpaku pada deretan kata dalam buku di pangkuannya.
Seorang anak laki-laki lain menghampiri anak berambut abu platina itu.
Kali ini anak laki-laki yang tampaknya sedikit lebih tua dari yang pertama. Rambut hitam legam yang tampak kasar dengan bola mata sehitam malam.
Anak yang kedua mengucapkan sesuatu pada anak yang pertama, disambut oleh segaris lengkungan halus di bibir anak yang pertama.
Mereka terlibat percakapan yang tampak menarik, melihat dari pecahan bola mata sang anak platina yang tampak berkilat penuh gairah.
"Yang barusan menghampirinya itu, B," Ronald kembali angkat bicara. "Anak yang juga dibawa kemari untuk menjadi calon penggantimu kelak."
L bergumam tanpa menimpali.
"A memiliki darah kuat Rusia. Kau lihat rambut abu-abunya yang tampak keperakan itu? Rusia sekali," Ronald berujar lagi.
L tidak mengerti apa Ronald mengucapkannya hanya untuk berbasa-basi atau ada maksud lain di balik kata-katanya itu.
"Mereka tidak tahu kau adalah L. Mati-matian berusaha menjadi yang terbaik, berjuang menjadi yang paling unggul, hanya untuk menjadi pewaris namamu. Semuanya—semua anak di sini—ingin menjadi L. Tanpa tahu bahwa L yang mereka kejar itu ada tepat di hadapan mereka saat ini. Dalam ruangan yang sama dengan mereka berada saat ini," Ronald berujar setengah berbisik. Menutup mulutnya dari tawa kecil yang sedikit tertahan.
L menatap Ronald untuk beberapa saat sebelum membuang muka. Ia tak begitu senang dengan cara Ronald tertawa.
"Yang itu C. Anak yang merepotkan," gumam Ronald menunjuk anak lainnya. Kali ini anak yang juga tak lebih tua dari kedua anak yang pertama, berambut cokelat dengan pupil mata biru. "Dia dan B sering berkelahi."
L mengerutkan keningnya sedikit.
"Antara B dan C, kalau tidak ada A yang jadi penengah dan selalu membela mereka, kurasa mereka berdua sudah tamat. Kekerasan dalam asrama tidak diperbolehkan," gerutu Ronald lagi.
"Mereka berkelahi…?" suara L sedikit pelan.
"Benar, berkelahi," Ronald mengangguk dan mengerutkan dagunya sembari mencibir, "untuk hal-hal yang tidak penting. Seperti… siapa yang duduk di samping A di meja makan saat makan malam, atau semacamnya. Seperti itulah."
L dapatkan dirinya tergelitik rasa tertarik.
"Kenapa?" L menyuarakan rasa penasarannya.
Ronald menatapnya dengan raut muka sedikit terkejut. Sejenak kemudian ia mengangkat bahu, "Pertengkaran anak-anak biasa, barangkali?" sahutnya tak acuh.
L hanya bergumam dan terlarut dalam pikirannya sendiri.
"Ronald, siapa anak itu?" seorang anak perempuan berwajah bulat dengan rambut pirang yang dikuncir tinggi menghampiri Ronald.
Ronald mengedutkan alisnya sedikit. Melirik pada L di sampingnya.
"X," jawab L.
"X?" gadis kecil itu memiringkan kepalanya sedikit. "Memangnya kita sudah sampai pada alfabet itu, Ronald?" gadis itu kembali menatap Ronald dengan matanya yang besar.
Ronald berdehem, "Kembali pada yang lain, Cynthia, X perlu istirahat. Kondisi tubuhnya tidak baik," ujarnya dengan sedikit canggung.
"Seperti A?" gadis kecil yang dipanggil Cynthia itu membulatkan bibirnya.
"Seperti A," timpal Ronald tanpa pikir panjang.
Cynthia lenyap dari pandangan dalam detik berikutnya. Melompat riang menghampiri kawan-kawannya yang tengah bermain balok teka-teki di pojok ruangan.
"Kau tidak pandai berbohong, L," Ronald berkomentar, merendahkan suaranya. Mengusap keringat dingin yang tanpa disadarinya mengucur di dahinya sampai sejenak sebelumnya.
L mengangkat bahunya sedikit, "Kau bisa katakan aku anak iseng yang ingin punya nama alias, dan terpaksa dikabulkan karena kondisi tubuhku yang lemah. Atau sekarat. Apapun boleh jadi," tuturnya mengikuti kata-kata Ronald sesaat sebelumnya.
"Hm, semua anak di sini ingin punya nama alias, supaya diakui L. Hanya anak yang menduduki peringkat tertinggilah yang mendapat insial. Untuk tahun-tahun belakangan ini hanya ada A, B, dan C yang berdiri paling tinggi dari semuanya," Ronald kembali mengamati kedua anak yang pertama menarik perhatian L di awal tadi.
"A, B, dan C…" huruf-huruf inisial itu meluncur tenang dari ujung lidah L, dan menyisakan rasa yang unik pada indera pengecapnya.
"Before, mau tanding catur denganku?" suara nyaring anak laki-laki berambut cokelat mengusik perhatian L dan Ronald.
Anak laki-laki berambut hitam yang dipanggil Before itu menoleh pada sumber suara tak jauh darinya, dan terdiam sejenak.
"Itu C," Ronald mengingatkan. "Cleo."
L bergeming menatap kedua anak laki-laki yang tengah saling menatap itu.
"Sedangkan A yang duduk di kursi itu, codename-nya After. Dan B yang sedang melotot pada Cleo, adalah Before…" jelas Ronald lagi.
"After dan Before…" L berbisik pelan, menikmati rasa unik yang timbul ketika ujung lidahnya menggulirkan kedua nama itu.
Detik berikutnya senyum samar terpoles di bibir mungil L-kecil. Seolah terhipnotis oleh pesona dari dua nama yang tak biasa itu.
.
.
.
"L, makan siang sudah siap," suara rendah Watari mengembalikan perhatian L pada keadaan di sekelilingnya, meletakkan ingatan masa lalu kembali ke tempatnya di sudut ingatan dan menutup katupnya erat.
L mengangguk kecil, "Aku makan di sini. Bawa kemari."
Watari membungkukkan badannya penuh hormat dan undur diri menuju ruangan lain di seberang ruangan.
L menarik kursi di samping jendela dan duduk dengan santai. Kedua lututnya ditarik menyentuh dadanya, dengan kedua telapak kaki yang bertolak pada permukaan busa kursi.
Duduk hampir seperti orang berjongkok, ia sandarkan punggungnya di sandaran kursi dan meletakkan kedua tangannya di masing-masing lututnya. Kembali ia lemparkan pandangannya pada derasnya hujan di luar bingkai jendela.
"Orang yang sarapan pukul tiga pagi dan makan siang pukul sembilan, di dunia ini mungkin hanya aku saja. Ya 'kan, Before?" ucapnya yang disambut gemuruh guntur di luar jendela.
.
X.X.X
James menatap kedua tamunya dengan penuh tanda tanya yang coba disembunyikannya di balik ekspresi tenang.
Walau tampaknya kedua bola mata pemuda eksentrik yang mengaku bernama Luxaky Lue itu tak dapat dibohongi.
"Kudengar Anda sedang mengusut kasus pembunuhan yang menggemparkan Los Angeles belakangan ini?" Naomi memulai percakapan.
James mengangguk, "Ya. Aku detektif polisi dari LAPD," jawabnya sedikit merasa tidak senang menyinggung nama departemen naungannya itu. Tak ada rasa kebanggaan ketika ia melontarkannya.
Selintas ia sedikit menyesal. Khawatir seandainya kedua tamu detektifnya itu mampu mengetahui isi kepalanya—terutama si pemuda Luxaky itu.
James berdehem sedikit. Membetulkan posisi duduknya—untuk yang kesekian kalinya siang itu, ia mengingatkan dirinya bahwa ia harus lebih berhati-hati dengan tindak-tanduk dan ucapannya di hadapan orang lain. Apalagi jika yang dimaksud orang lain itu adalah seorang agen FBI berpenampilan wanita cantik dan seorang detektif swasta aneh penuh rahasia.
"Aku dan Ryuzaki bersama-sama mengusut kasus ini sejak terjadinya pembunuhan yang pertama, kami tidak terikat dengan pihak manapun," setelah sejenak ruangan dikuasai keheningan dan degup jantung rasa canggung, Bahasa Inggris unik milik Naomi mengembalikan pikiran James pada fokusnya.
Inilah daya tarik orang Asia—pikir James. Mereka punya lidah pendek yang tak memungkinkan mereka menyebutkan huruf 'L' dengan benar. Cara mereka mengeja kata-kata Bahasa Inggris pun unik dan terkesan aneh, kalau boleh dikatakan.
"James?" Naomi mengerutkan dahinya.
James tersentak, "Ah, ya. Tapi… kalau aku tidak salah dengar, sebelumnya Anda katakan bahwa Mr. Ryuzaki adalah detektif swasta?" James mengalihkan pandangannya pada Luxaky.
Luxaky menggigit ujung kuku ibu jarinya, "Benar," sahutnya singkat.
"Anda bekerja untuk siapa?" James bertutur dengan tidak sabar. Merasa tidak puas dengan jawaban pemuda eksentrik di hadapannya itu.
"Salah satu kerabat dari Believe Bridesmaid, korban pertama," Luxaky menimpali dengan tenang.
"Ah… Ok," James menelan ludah. Bagaimanapun, ia merasa ada yang tidak menyenangkan dari lawan bicaranya itu, yang seolah tidak mengatakan yang sesungguhnya. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja.
Tidak. Tidak. Ia yakin betul dengan instingnya.
Bekerja selama hampir sepuluh tahun di LAPD, sedikit banyak telah membuatnya seperti mesin pencari jejak kejahatan. Dan lingkungan seperti itu telah membentuk pribadinya sebagai seorang yang sensitif dan pandai dalam merasakan ketika seseorang menyembunyikan sesuatu darinya.
Ada sesuatu dalam diri Luxaky Lue, dan ia yakin betul akan hal itu.
Aroma samar yang membuat lidah terasa kering dan pahit. Sensasi dingin menjalar membuat bulu kuduk berdiri.
Bau rahasia…
.
.
"Kedatangan mereka kemari, James," Edward angkat bicara, "adalah untuk meminjam The Yellow Wallpaper milikmu."
Masih dalam kondisi setengah mengawang dalam alam pikirannya, sekilas James menangkap maksud kata-kata kawan karibnya itu.
Sontak ia membelalakkan matanya ketika seluruh rasionalitasnya kembali berkumpul di tempurung kepalanya, "Apa?"
"The Yellow—"
"Untuk apa?" James memotong perulangan Edward, memutar lehernya menatap Naomi tergesa.
Naomi tampak sedikit terkejut, "Untuk apa, Anda bilang? Tentu saja untuk penyelidikan. Kami kesulitan mencari buku yang sudah tergolong langka itu. Dan kawan Anda di sini mengatakan bahwa Anda bersedia meminjamkannya pada kami. Karenanya kami datang kemari."
James mengerling tajam pada Edward yang menatapnya tanpa suara.
Air muka Edward menunjukkan seolah ia berkata, 'Apa salahnya berbagi informasi?'
James tidak suka.
Menghela napas, akhirnya ia menjawab datar setelah puas memelototi Edward, "Dengan kata lain, maksud Anda… Anda berdua sedang… mencari buku itu, ketika bertemu dengan Edward di kantor polisi?"
"Benar," Naomi tak menyangkal.
James mengerutkan keningnya, "Dengan kata lain, Anda berdua sudah mengetahui masalah wallpaper ini dari sebelum bertemu dengan Edward—maupun saya?" ujarnya dengan nada seolah tak percaya.
"Ya, kami mengetahuinya," Naomi lagi-lagi menjawab sesingkat-singkatnya.
"Dari mana?" James melipat keningnya semakin dalam.
Naomi sudah hendak angkat bicara, ketika Luxaky memotongnya, "Kami punya cara kami sendiri."
James menatap Luxaky untuk sesaat. Tampaknya percuma saja berusaha mencari tahu sesuatu dari kepingan pupil mata gelapnya yang seolah tak menampakkan sinar bahkan setitikpun itu. Semua hal dalam kepalanya rapi tersimpan di raut wajah yang nyaris tanpa emosi itu.
"Untuk buku itu, kami tawarkan informasi yang sepadan," Naomi kembali masuk pada percakapan.
James menunggu.
"Nama dari pelaku kasus pembunuhan berantai ini."
Kedua kelopak mata James terbelalak lebar, "Kalian sudah tahu pelakunya?" pekiknya.
Naomi menggeleng pelan, membuat rambut hitam panjangnya berayun perlahan, "Kami hanya tahu namanya. Tidak identitasnya."
James mengerutkan keningnya lagi.
Apakah kedua orang ini dapat dipercaya?
Yang wanita tampak tenang dan berkomposur, juga terlihat cerdas, teguh, dan tahu benar apa yang dilakukannya. Sementara yang pria… err jujur saja, tampak liar dan mencurigakan.
James termenung.
"Orang-orang di kantor polisi mengenal mereka dengan baik, James," seolah mendengar suara hati James, Edward meyakinkannya.
Tampaknya James menelan kata-kata itu, terbukti dari helaan napas panjangnya.
"Sebentar," James bangkit dari sofanya dan menghampiri meja kopi di pojok ruangan.
Buku kecil bersampul kuning emas itu teronggok kaku di samping coffee-maker yang sudah tak digunakan lagi semenjak ia memutuskan untuk meninggalkan kopi dan beralih ke teh. James meraihnya dan membawanya kembali ke kursinya.
"Ini yang kalian inginkan, bukan?" James mengacungkan buku kecil itu, menampakkan sampul depan buku bersampul kuning emas itu.
"The Yellow Wallpaper. Benar," Naomi menjawab penuh semangat.
"Kami akan membuat salinan dari buku itu. Besok pagi sudah kembali di kotak posmu," Luxaky membuka suara renyahnya yang sedikit berdesis.
James mengedutkan alisnya.
Begitu. Jadi kerja sama di antara mereka hanya sebatas pertukaran informasi ini sekali saja?
Mungkin ini lebih baik, pikir James. Rasanya L memang tidak akan senang jika ia tahu James membuat jalinan kerja sama dengan pihak luar, di luar tim investigasi rahasia mereka.
Dan mungkin dengan begini ia akan mendapatkan informasi yang berharga untuk kasus ini. Yang tentunya akan menaikkan nilainya di mata L.
"Baiklah," ucap James sesaat kemudian. "Jadi? Namanya?"
"Beyond Birthday."
James menatap Luxaky tanpa berkedip.
Luxaky menatapnya lekat.
"Beyond Birthday…?" James rasakan tenggorokannya sedikit tercekat. Ada sesuatu dalam nama itu yang membuatnya tidak nyaman.
Semudah inikah nama seorang pelaku kriminal sadis, pembunuh berantai jenius yang mempermainkan LAPD dalam minggu-minggu belakangan ini, didapatkan?
"Informasi ini tidak serahasia kedengarannya," Luxaky menyita perhatiannya.
James bersumpah sekilas ia melihat pemuda itu menyunggingkan seringai samar sedetik sebelumnya.
Namun yang jadi soal sekarang adalah… 'Tidak serahasia kedengarannya', katanya? Bicara apa dia?
"Pelakunya sendiri yang membeberkannya," Luxaky kambali bertutur dalam intonasi tenangnya.
Alis James berkedut.
Ia tak suka dengan cara pemuda itu berkata-kata. Seolah pemuda angkuh itu paling mengetahui segala sesuatunya, dan ia hanyalah kecoa dungu yang tak tahu apa-apa.
"Pada kasus pertama, sebuah teka-teki dikirimkan pada LAPD. Teka-teki yang menunjukkan nama. Anda tahu nama siapa yang tertulis di situ?" kali ini giliran Naomi yang berujar.
"Quarter Queen?" James menyahut. Paling tidak, ia sedikit lebih senang mendengar Bahasa Inggris aneh wanita cantik ini daripada desisan rendah penuh arogansi milik detektif yang satunya.
"Dan Beyond Birthday," tambah Naomi.
Kening James terlipat dalam.
Tidak.
Ia tidak pernah dengar hal itu.
Bahkan dari L sekalipun, tidak.
"Anda sudah menyelidiki kasus ketiga yang terjadi minggu lalu, bukan? Sudah memecahkan kode di TKP?"
James tak menanggapi.
Tidak.
L belum menghubunginya lagi—sama sekali—semenjak ia menyerahkan foto-foto dari The Yellow Wallpaper yang ditemukannya di TKP sesuai permintaan L.
Memandang kedua tamu asingnya, James mendongkol dalam hati.
Kesadaran bahwa ia—yang jelas-jelas bekerja untuk L—malah lebih tidak tahu apa-apa dari dua penyelidik tak resmi di hadapannya itu, jelas telah mengusik harga dirinya. Ia jengkel dalam batinnya.
'Atau ada yang tidak dikatakan L padamu.'
Kalimat Edward pagi tadi terngiang di telinganya.
Seketika James rasakan perutnya mual dengan perasaan yang sungguh tidak menyenangkan. Seolah duri-duri tajam dari serumpun mawar yang dikupas durinya telah ditancapkan di setiap inci dinding perutnya.
Tiba-tiba James teringat akan hal yang lebih penting.
Kawannya itu tidak mengatakan bahwa ia bekerja untuk L pada dua tamu ini, bukan?
Cepat ia melirik pada Edward di sampingnya dan berkeringat dingin.
Yang dilirik, hanya mengangkat sebelah alisnya. Menunggu James melontarkan sesuatu dari mulutnya.
"Apa?" tanya Edward sejenak kemudian, ketika James tidak mengatakan apapun.
"Kalian…" James mengalihkan pandangannya kembali pada dua tamu asingnya—tak menanggapi pertanyaan Edward, "kalian tidak bertanya… darimana aku memperoleh informasi mengenai masalah wallpaper ini?"
Naomi sudah hendak menimpali, ketika Luxaky lagi-lagi menyelanya, "Masing-masing dari kita memiliki cara kita sendiri. Bukan begitu, Mr. James?" ujarnya diakhiri dengan seringai tipis di sudut bibirnya.
Detik itu juga, James langsung paham. Rupanya kedua orang itu—atau lebih tepatnya, Luxaky si eksentrik itu—tidak ada niat bekerja sama dengannya sama sekali. Mereka ada hanya untuk mutualisme sesaat.
Yah, bukan berarti juga ia peduli.
Toh sekalipun mereka bertanya, tentunya James tidak akan mengakui dasar kerjasamanya dengan L.
James mungkin akan membocorkan informasi dari LAPD untuk pertukaran, tapi tidak dengan informasi mengenai L.
Jika diurutkan dalam daftar prioritas top secret dalam benaknya, tentunya L menempati posisi nomor satu.
"Baiklah, urusan bisnis sudah beres. Mari berbincang santai?" tiba-tiba Edward kembali memecah keheningan, menyeruak tensi menyesakkan antara ketiga manusia tegang di dekatnya.
James menghela napas panjang. Menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, ia berusaha rileks.
"Ambilkan kami minuman, Eddy," katanya. Raut mukanya menunjukkan ekspresi kelelahan. Seolah ia telah menjadi lebih tua sepuluh tahun, dalam beberapa menit percakapan dengan kedua tamu asingnya itu.
Bangkit dari duduknya, Edward menghampiri meja kopi tempat buku kuning itu tadi tergeletak, "Miss Misora. Teh? Kopi?" serunya riang.
"Aku tidak ingat kalau aku punya kopi?" James mengerutkan dahinya dan menyela, sebelum Naomi sempat menjawab.
"Berhubung aku sering datang berkunjung kemari, kusimpan beberapa kopi kaleng di sini, di dalam tabung espresso. Kau tidak tahu?" Edward mengacungkan dua kaleng kopi dengan cengiran lebar.
"Entah sejak kapan keberadaanmu di sini sudah menjadi parasit yang seenaknya memakai perabotan milikku tanpa izin, Eddy," James mendumel.
Edward tertawa.
.
X.X.X
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, James," Edward melirik kawan karibnya yang tengah berdiri di ambang pintu menatap jalanan dengan lalu lalang kendaraan.
"Oh, ya?" James menimpali tanpa gairah.
"Kau berpikir mereka berdua itu orang yang mencurigakan," tambah Edward lagi.
James mengangkat bahunya, "Yah, kurang lebih."
Edward menatap kedua sosok tamu asing yang tengah melenggangkan kaki menyusuri trotoar jalan, menjauh dari tempatnya dan james berdiri mematung.
"Berapa kali kau ingin aku mengatakan dengan jelas bahwa mereka berdua itu memiliki identitas yang jelas dan terpercaya? Kukatakan lagi, orang-orang di kepolisian mengenal mereka, James. Ketika aku datang di kantor polisi kemarin siang, kedua orang itu sedang berbicara dengan salah satu opsir di sana dengan santai," Edward memutar bola matanya.
"Kurasa 'mencurigakan' bukan kata yang tepat, Eddy," setengah berbisik James menjawab. Mengetukkan jemarinya di kusen pintu, ia menambahkan, "Dibandingkan 'mencurigakan', lebih tepat bila kukatakan… tidak dapat dipercaya. Laki-laki itu, Luxaky Lue itu, tidak dapat dipercaya."
Edward menatap James dengan pandangan heran bercampur rasa terkejut.
"Aku bisa mencium… wangi pekatnya yang penuh rahasia."
.
.
TBC
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
