"Kamu membuntutiku rupanya?!" teriak Jellal penuh emosi, namun kemudian dia menghela nafas dalam, berusaha meredam amarahnya

Aku hanya bisa terdiam, usai mendengar pertanyaan dari Jellal. Dasar bodoh! Kenapa harus begini sih, jadinya? Hendak melangkahkan kaki pergi dari sana. Seorang body guard berbadan besar, langsung mengahalangi jalan di depan, membuatku terdiam sejenak. Celah satu-satunya sudah ditutupi. Entah kenapa, Gajeel-san tidak membiarkanku kabur. Apa mungkin, karena dia pikir, aku terlibat suatu hubungan dengan Jellal? Ya ampun, kesalahpahaman macam apa ini?

"Beritau aku. Apa hubunganmu dengan wanita itu, Jellal?" benar saja, Gajeel-san bertanya tentang hubungan kami berdua, yang langsung dibalas dengan nada ketus olehnya

"Dia bukan siapa-siapa. Lagi pula, memangnya kamu siapa? Seenak jidat bertanya, mengenai hubungan orang lain"

"Jangan marah. Aku penasaran, itu saja. Baiklah, kembali ke topik utama. Kamu datang kesini, karena menyetujui tawaranku?"

"Kata siapa, aku ingin merebut Wendy kembali"

"Heh? Permintaan macam apa itu? Atau mungkin deklarasi perang? Kau mau, aku mengembalikan gadis kecil ini, dengan cuma-cuma?" ucap Gajeel-san setengah menggoda, mengelus dagu Wendy lembut, sampai membuatnya merasa gelisah

"Singkirkan tangan kotormu dari adikku!"

Ternyata memang, dia sudah gila. Apa maksudnya, melayangkan tinju pada Gajeel-san?! Seorang pria besar berjas hitam menahan pukulan itu, lalu balas menyerang, dan sukses mengenai pipi Jellal sampai bengkak. Melawan adalah tindakan sia-sia, seharusnya kamu mengetahui hal tersebut! Apa mungkin, dia benar-benar serius menyatakan perang, dengan boss perusahaan? Jika begitu jadinya, kau pasti sudah kalah dari awal, bahkan sebelum dimulai pun. Takdir pasti berkata demikian. Jellal bangkit berdiri usai mendapat serangan mendadak, menyeka darah yang keluar dari hidungnya.

"Keterlaluan sekali. Pak tua sepertimu, berani memukul anak SMA. Mungkin aku bisa melaporkan hal ini ke polisi. Lalu perusahaanmu akan ditutup, tak lama lagi" ucapan macam apa itu? Terdengar seperti meremehkan

Body guard sewaan Gajeel-san tersulut emosinya. Tanpa pikir panjang lagi, pria berjas hitam itu langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi, kalau tidak dihentikan langsung oleh bossnya, mungkin Jellal sudah tewas sekarang. Namun, dia menunjukkan seringai penuh kemenangan, seakan berkata 'Aku pasti bisa, merebut Wendy paksa darimu', apa pun pemikirannya sekarang, jelas mempengaruhi tindakannya beberapa waktu ke depan. Ketukan jari terdengar berirama, Gajeel-san masih setia menunggu jawaban dari Jellal.

"Menyenangkan rasanya, dipukul oleh body guard-ku?"

"Begitulah. Dia sampai membuatku babak belur seperti ini. Kamu boleh menghajarku, tetapi jangan berbuat macam-macam pada Wendy. Aku tidak akan segan, jika tua bangka sepertimu bertindak senonoh" terpancar jelas dari peringatan tadi, Jellal sangat serius. Bahkan dia sampai menarik kerah jas putih Gajeel-san, membuatnya menampakkan senyum penuh misteri

Usai memetik jari, para body guard tersebut langsung menodongkan pistol, pada kepalaku dan Jellal. Tunggu, kenapa nyawa kami ikut dipermainkan? Aku hendak mengajukan protes, tetapi pria berbadan besar itu―yang tadi menghalangi jalan keluar, mendekap bagian mulut sampai suara yang keluar, teredam seketika. Dia juga tidak segan-segan, mencengkram kuat rahangku. Mungkin tak lama lagi, aku bisa menjadi seorang tunawicara, rasanya seperti mau patah! Menyakitkan, mengerikan! Kekuatan untuk melawan balik pun, mendadak hilang entah kemana.

"Hentikan! Kalau begini terus, rahang Erza bisa patah! Kamu mau, bertanggung jawab pada orang tuanya, jika dia terluka atau apa?!"

"Kalau begitu, berhentilah melawan. Aku akan membebaskan Wendy, dengan syarat kamu mau bertukar posisi" tawaran yang diberikan memang terbatas. Membuat Jellal harus berpikir matang, supaya tidak salah mengambil langkah

"Gajeel-sama, mana bisa begitu? Aku sudah berjanji akan melunasi hutang ayah dan ibu, jadi lepaskan nii..."

"DIAM KAMU!"

PLAKKK!

Tamparan maut itu mendaratkan warna merah, yang membekas pada pipi Wendy. Hati Jellal serasa teriris melihatnya. Apalah daya, kesempatan untuk membalik keadaan pun, adalah nol persen. Kami bertiga terdiam sejenak, tidak tau meski berbuat apa. Hingga mendadak, kedua body guard yang menodongkan pistol, terlihat ingin menarik pelatuknya. Gajeel-san kembali memetik jari, isyarat sederhana namun sangat mengerikan. Mereka sengaja melakukannya perlahan-lahan, demi menakuti Jellal supaya dia setuju, tetapi mulut itu tetap bungkam, belum bisa memberi jawaban.

"Kehilangan satu orang tidaklah menyakitkan. Bagaimana kalau dua?" tanya Gajeel-san yang masih memimpin situasi dan kondisi. Kini bukan hanya kami berdua, tetapi Wendy juga ditodongi pistol

"Tunggu, mana boleh kamu menakuti adikku? Padahal dia sudah bekerja untukmu, bertahun-tahun lamanya"

"Kerjanya memang bagus. Tetapi, dia suka sekali membangkang perintah. Mungkin kamu tidak mengetahuinya, aku sering memukul adikmu sampai berteriak 'nii-chan, nii-chan', terdengar manis, bukan?"

"Perbuatanmu tidak bisa dimaafkan!"

"Humph...sifat keras kepalamu terpaksa membuatku, mengeluarkan pilihan ketiga. Serahkan buku itu, maka kamu dan Wendy akan terbebas dari hutang"

Buku apa yang dimaksud? Oh, aku ingat. Saat ke rumahnya kemarin, Jellal sempat berkata, untuk tidak membuka berangkas, karena di sana ada barang berharga, dan mungkin semua ini berhubungan satu sama lain. Aku lebih memilih bungkam, karena buka mulut bisa saja memperburuk keadaan. Lagi pula, barang yang dimaksud tidaklah jelas, sempat menimbulkan teka-teki dalam benakku. Suasana kembali hening seperti tadi, Gajeel-san tak bosan menunggu.

"Tidak akan pernah sampai kapan pun. Orang jahat sepertimu, pasti menggunakannya demi kepentingan pribadi. Buku itu tidak boleh jatuh ke tangan yang salah, bahkan kalau bisa, aku ingin membakarnya"

"Bakar saja jika berani, maka hal yang kamu lakukan, akan menjadi kenyataan. Mau melihat, orang-orang yang namanya tertulis di sana, terbakar tepat di depanmu?"

"Berisik sekali mulutmu. Lepaskan, aku tidak lagi memiliki niat untuk menghajar bossmu" ucap Jellal yang langsung dituruti oleh mereka berdua. Syukurlah, aku bisa menghela nafas lega sekarang

"Jadi, kamu memilih yang ke berapa?"

"Aku, Jellal Fernandes, dengan ini mendeklarasikan perang terhadap Gajeel Redfox, pemimpin surat kabar Demos. Tidak apa-apa, bukan?"

"Menarik. Baiklah, aku terima pernyataan perang darimu"

Otaknya sangat bermasalah, sangat, sangat, bermasalah. Dia pikir, manusia sekarang hidup pada zaman perang apa? Jellal keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Wendy yang nyaris menitihkan air mata, namun tidak dia pedulikan. Aku mengikuti dari belakang, hanya bisa menatap iba, tanpa memberi bantuan. Hari sudah sore, ternyata pertengkaran mereka memakan cukup banyak waktu. Langkah kakinya mendadak lebih cepat dibanding tadi siang, aku agak kewalahan saat berusaha mengikuti. Apa sih yang dia pikirkan, sampai-sampai keadaan sekitar pun, bagaikan angin lalu.

"Hey, jangan terlalu cepat!" teriakku memegang erat tangan Jellal. Jika tidak, anak itu pasti terus berjalan, dan tak lama kemudian, mobil akan menbaraknya tanpa segan-segan

"Kenapa kamu mengikutiku? Rumahmu bukan di daerah sini Erza!" dia balas berteriak, menampilkan ekspresi marah bercampur pilu

"Biar saja, aku masih memiliki waktu. Kenapa kamu menyatakan perang? Wendy hampir menangis, karena tindakan gegabah darimu! Mau membuang nyawa begitu saja? Pikirkan juga perasaan adikmu, dia masih membutuhkan kakaknya"

"Ini urusanku, tidak perlu ikut campur. Pulanglah sekarang juga"

"Terserah mau menasehatiku atau apa. Tetapi, aku akan membantumu sekuat tenaga, karena kita adalah teman"

"Jangan sembarangan memutuskan, aku tidak meminta..."

"Apa hubungan pertemanan, harus meminta izin terlebih dahulu, baru bisa direstui? Kamu pikir, ini pernikahan apa? Sampai harus menolak segala"

"Cih...aku pasti menyelamatkanmu, Wendy" gumam Jellal pada dirinya sendiri, dan tak lama kemudian matahari pun terbenam di ufuk barat

Sementara itu Gajeel...

Seorang wanita berambut biru, dengan bando kuning yang selalu melekat di kepalanya, tengah menghadap di depan meja Gajeel. Suasana di antara mereka berdua nampak tegang. Namun dia tetap mengembangkan senyum. Merasa bangga, karena tuannya meminta bantuan secara langsung.

"Levy, aku mempunyai tugas untukmu, dan ini sangat penting"

"Katakan saja, Gajeel-sama. Saya siap membantu anda"

"Awasilah orang ini. Dia teman Jellal, yang bernama Erza Scarlet" ucap Gajeel sambil memberikan selembar foto, yang diam-diam diambil sewaktu pertengkaran tadi

"Saya hanya perlu mengawasinya? Bagaimana dengan Jellal-san?"

"Hmmm...sebenarnya bukan sekedar mengawasi saja. Levy, apa aku bisa mempercayakan misi ini padamu?"

"Tentu saja. Saya pasti bisa melaksanakan amanat dari tuan"

"Jika salah satu dari mereka membongkar rahasia perusahaan. Aku ingin, kamu menembak di tempat"

GULP!

Tegukan ludah pada kerongkongannya terdengar jelas. Misi ini sangat berbahaya, apalagi berkaitan dengan pembunuhan, dan targetnya adalah murid SMA. Levy sempat merasa ragu, namun dia berusaha menutupi hal tersebut, supaya Gajeel tetap memberi kepercayaan penuh.

"Siap laksanakan, Gajeel-sama!"

Dan begitulah. Keesokan harinya, Levy mengawasi mereka berdua dari jauh.

Bersambung...

Balasan review :

NLORENZ : Oke dehh, pasti dilanjut kok. Thx ya udh review

Shinami-chan : Thx ya udh review, pasti dilanjut kok

SOUSA : Oke, thx ya udh review

NlorenZo : Thx ya udh review. Omong-omong pen name nya sama kayak NLORENZ? Yep, tinggal nunggu romance aja deh, yang sabar ya

Kasumi Yukimura : Sama aja udh kasih comment atuh, wkwkwkw. Thx ya udh review, ikuti terus kelanjutannya

Fic of Delusion : Bisa jadi tuh, wkwkwkw. Jadi ketawa sendiri baca review kamu. Thx ya udh review