Fanfic : One Piece

Genre : Romance

Cerita sebelumnya: Ketika Luffy dan Zoro dikejar-kejar oleh para bajak laut, seorang gadis bernama Nami menyelamatkan mereka berdua. Kini, mereka berteman dengan Nami dan bersama-sama membantu Luffy mencari Vivi. Suatu ketika sedang makan malam, kapal mereka diserang monster naga laut.

*Pandangan Pertama* (Chapter 4)

By: Resthu

Mereka bertiga panik. Luffy memeluk erat tiang kapal. Zoro berpegangan pada meriam dan Nami berlarian tak tentu arah "Hartaku…selamatkan hartaku…tolong…!". Monster itu semakin mendekat. Zoro tersadar bahwa sekarang ia sedang berpegangan pada benda satu-satunya yang dapat menyelamatkan hidup mereka "Nami! Dimana kau letakkan peluru meriam ini?". "Tadi kuletakkan disekitar situ. Apa kau sudah melihatnya baik-baik?". Luffy tampak pucat. Zoro dan Nami melempar pandangan ganas kearahnya. "Ah, maaf teman-teman! Tadi kupakai buat main bowling". "Trus, sekarang ada dimana?". Zoro bertanya pada Luffy dan yakin Luffy akan menjawab sesuatu yang menghancurkan semuanya. "Jatuh kelaut sewaktu aku gelindingkan". "Kau…! Apa yang kau lakukan pada satu-satunya penyelamat kita?". "Maaf!". Luffy menangis. Zoro sedang memikirkan cara lain untuk menyelamatkan nyawa mereka yang sedang dalam bahaya ini. Luffy tertidur setelah menangis dengan dengkurannya yang amat berisik. Sementara Nami khawatir akan hartanya "Hartaku…hartaku…tidaaak…! Selamatkan hartaku…!". Tak berapa lama 'Bruak! Kyaaa…!'. Monster itu terpental jauh sampai kenegeri China. Nami melihat seorang anak yang seumuran dengan mereka sedang bergaya diatas puing-puing kapal yang hancur berantakan. "Kenalkan. Namaku Sanji. Maukah kau menikahiku, cantik?". Nami panic. Ia dicintai orang mesum yang baru pertama ini dilihatnya. Belum pernah ada yang mengatakan seperti itu padanya. Ia memanggil Luffy untuk minta tolong mengusir cowok mesum itu tetapi Luffy sedang tidur dengan asyiknya. Nami menyadarkan Zoro yang dari tadi sedang berpikir keras dan ternyata, Zoro ikut tertidur. Sanji mendekati kapal dan menaikinya "Boleh aku menumpang, sayang?". "Kyaaa…!!!". Nami menjerit histeris seperti melihat setan lagi keramas. Ia berlari tak tentu arah menjauhi si mesum. Sanji bingung melihat tingkah laku Nami. Nami terus berlari hingga menabrak dinding dan jatuh pingsan.

Nami terbangun dari pingsannya. Ia mencium wangi masakan yang lezat. Nami langsung menuju dapur dan melihat Sanji sedang memasak sambil bernyanyi. Dua orang bodoh menunggu dimeja makan memegang pisau dan garpu. "Heh! Cowok mesum! Ngapain kamu disini! Cepat, keluar sekarang juga dan menjauh dari pandanganku!". "Ah, sayang! Jangan gitu, dong! Nih, kubuatkan sarapan". Luffy dan Zoro masih menunggu dengan sabar. Perut Nami bunyi. Ia sudah lapar. Nami tak punya pilihan lain selain… "Menikahiku?". "Enak aja! Nikah sana sendiri dengan Wong Edan!". Nami duduk dimeja makan dengan kesal. Luffy yang duduk disebelah Nami didorong Sanji kebelakang. Luffy jatuh. Sanji duduk menggantikan Luffy disebelan Nami "Mau kusiapin, sayang?". "Jijik banget!". "Aaaaaaa…….". Sanji menyuapi Nami. Nami memukul sendok yang mengarah kemulutnya. Sendok terpental dan masuk kemulut Zoro. Zoro keselek sendok. Luffy membantu Zoro. Ia menginjak-injak perut Zoro aga sendok itu keluar. Wajah Zoro pucat dan membiru. Napasnya nyaris berhenti berhembus. Luffy kalang kabut kebingungan harus berbuat apa. Ia lari sana lari sini. Kesandung kursi dan jatuh masuk kedalam ember. Kepalanya nyangkut diember. Tak dapat dilepas. Luffy menangis minta dilepaskan. Zoro sudah berada diambang kematian. Nami memperhatikan mereka berdua. Ia menghampiri Zoro dan menginjak perutnya sekuat tenaga. 'Siuuung…!!! Brak…ting…!!' Sendok itu terpental dan mengenai ember Luffy. Ember terlepas dari kepalanya. Setelah mereka berdua kembali lega, Luffy dan Zoro kembali kemeja makan dan kini sedang berebut ikan tongkol goring yang dimasak Sanji. Nami heran melihat mereka kembali ceria setelah kejadian barusan. Sanji menghampiri name dan memeluknya. "Meeesssuuummm…!!!".

Tak berapa lama, mereka sampai kesebuah pulau. Nami mengajak Zoro dan Luffy turun untuk menulusuri pulau tersebut dan menyuruh Sanji tetap dikapal menjaga hartanya. Sanji kecewa. Nami tidak mempedulikannya. Luffy dan Zoro bermain kejar-kejaran dengan gembira sampai Nami menarik kuping mereka hingga terseret. "Ampun, Nami…!". Sanji memandang iri. Nami terus berjalan menelusuri pulau sambil menyeret mereka berdua hingga hilang dari pandangan Sanji., "Hik…hik…! Aku sendirian!". "Lepasin, brengsek! Dasar cewek gak laku". "Ah, Zoro! Jangan gitu. Dia kan udah laku sama Sanji". Zoro dan Luffi tertawa geli. Nami makin marah sama mereka berdua. Dia semakin kuat menyeret mereka. "Aaarrrggghhh…!!! Sakit…!". Ditengah hutan mereka mendengar suara hewan buas yang membuat merinding. 'Hauuummm…". Zoro gemetar ketakutan. Luffy pingsan. Rohnya terbang keluar. Zoro berusaha menangkapnya. Nami yang sedang kesal makin kesal. "Diaaammm…!!! Berisik tau!! Mau kugoreng kalian semua, ya!". Suara binatang buas itu berubah menjadi teriakan "Kyaaa…!!!". Zoro berhasil menangkap jiwa Luffy dan mengembalikannya. Nami kembali menyeret mereka. Kali ini, terdengar tembakan pistol diudara. 'Dooorrr….!!!'. Luffy pingsan dan rohnya terbang lagi. Zoro menangkapnya. Nami makin marah. "Diam…!!! Atau kau yang kutembak". Suara tembakan berubah menjadi teriakan "Kyaaa…!!!". Nami kembali menyeret mereka. "AMPUUUNNN…….!!!"

Akhirnya mereka sampai kesebuah kampung. Kampung yang damai indah dan bersahabat. Luffy dan Zoro kehabisan suara akibat berteriak tadi. Nami menelusuri kampung itu. Luffy dan Zoro terlepas dari seretan nenek sihir pencabut jiwa. Zoro kesal "Akhirnya kita terlepas dari istri Sanji brengsek itu!". Mata Nami memandang tajam kearah mereka seakan ingin membunuh mereka berdua dan tertawa keras setelah melihat mereka mati. Zoro terdiam. Luffy bersembunyi dibelakang Zoro mengira bakal ditebas lehernya. Tiba-tiba, sepucuk kertas yang terbawa angin menempel diwajah Luffy. Luffy membacanya "Nami! Aku gak bias baca. Tolong bacakan". Zoro merebut kertas itu dengan kesal "Heh, bego! Gini aja gak bias baca. Sini biar kubacakan". Zoro memandangi kertas itu dan mulai membacanya. 5 menit berlalu. 10 menit. 20 menit. 30 menit. Luffy sudah tertidur menunggu Zoro membacakannya. Nami merebut kertas tersebut dan membacakannya untuk mereka yang bodoh-bodoh dan tulalit. Luffy terbangun. Ia duduk dengan rapi seakan menunggu dibacakan dongeng. "Diberitahukan kepada semua penduduk Cicak Rowo, harap hentikan pencarian tuan putri. Putri Vivi telah kembali kekerajaannya di Mesir. Terimakasih!". Luffy berteriak gembira sambil jungkir balik "Itu, Vivi! Vivi di Mesir, Ayo, kesana!". Zoro mengejek Luffy "Jadi, selama ini kau mencari tuan putri? Mana pantas dia sama anak macam kau yang goblok ini!". Tangan Nami gemetaran. Kertas tersebut terlepas dari tangannya dan kembali terbang dibawa angin. Luffy dan Zoro ketakutan mengira Nami akan meledak. "Pu..pu..putri? Ra..ra..raja? Ha..ha..harta?". Nami langsung berlari menuju kapal. Tidak lupa ia menyeret Zoro dan Luffy kembali. Sesampai dikapal, mereka berdua dilempar langsung keatas kapal. Sanji menyambut Nami dengan tampang mesum "Sayangku…kau kembali untuk…". Nami menginjak wajah Sanji. "Semuanya, kita akan berlayar menuju harta, eh! Uang, aduh! Mesir! Segera jalankan kapal. Kita berangkat sekarang juga". Luffy senang bukan kepalang. Ia tak sabar ingin bertemu Vivi dan mengajaknya main ketaman lagi.

Mereka menjalankan kapal kearah tenggara sesuai petunjuk Nami. Nami sudah tidak sabar sampai kesana. Luffy dan Zoro tertidur karena lelah diseret Nami hingga badan mereka pegel linung. Sanji menyiapkan makan malam. Nami dari tadi terus membayangkan dia akan menjadi kaya setelah diberi imbalan karena menyelamatkan putri. Sanji hamper selesai memasak makan malam. Nami membangunkan Zoro dan Luffy untuk makan malam. Terdengar suara ribut dari dalam gudang kapal dibawah dek. Nami berprasangka buruk dan berlari kegudang kapal dengan cepat. Nami membuka pintu gudang dan "Hei! Siapa kau! Seenaknya ngambil harta orang seenaknya!". Nami melihat seorang laki-laki mencuri hartanya. Laki-laki tersebut kabur keluar membawa harta Nami. Nami mengejar kepergian harta karunnya. Begitu sampai keluar kapal, laki-laki itu terkejut "Dimana aku! Kembalikan aku! Seenaknya membawa orang kabur". "Heh, kamu! Sembarangan saja menuduh yang bukan-bukan. Kamu sendiri kan yang masuk tanpa ijin". Laki-laki itu terdiam dan tak tahu harus berbuat apa lagi karena kapal sudah berada dilautan yang tak tahu dimana letaknya "Kemana tujuan kalian?". "Kami mau ke Mesir menyelamatkan seorang putri raja yang sedang berada dalam masalah sekarang ini". Laki-laki itu berpikir jernih. Dia akan mendapatkan imbalan jika ikut bersama mereka "Haaa…baiklah! Aku terpaksa ikut dengan kalian!". "Siapa yang maksa kamu?". Sanji memanggil Nami untuk makan bersama. Laki-laki tersebut langsung lari menuju dapur karena sudah menahan lapar dari tadi. Nami mengejar. Zoro melihat laki-laki itu masuk dapur dan seenaknya duduk dimeja makan "Siapa kamu?". Laki-laki itu memperkenalkan diri "Kenalkan semuanya. Aku Usopp. Pahlawan nomor 1 dikampungku". Nami memukul Usopp. "Kau kenal dia Nami?". "Gak! Kutemukan dia mencura hartaku digudang dang sekarang dia ikut bersama kita. Ya…sudahlah!". Usopp berterimakasih "Terimakasih semuanya. Karena kita semua sekarang ini adalah teman, aku ingin memberitahukan bahwa aku bohong!". "Buuuuuuu……….". Semua meneriaki Usopp.

Setelah Sanji dan Usopp bergabung dengan Luffy, Zoro dan Nami, kini mereka ber-5 menuju Mesir dimana Vivi berada. Apakah mereka sampai dengan selamat atau mereka akan mendapat masalah diperjalanan nanti. Nantikan kelanjutan ceritanya dalam Fanfic One Piece *Pandangan Pertama* (Chapter 5).

~Bersambung~