You want me to make a "naughty-naughty", well, here I go! Enjoy!
.
Beware of the Citrus!
.
Naruto & Friends aren't mine!
.
.
.
Tidak dirasa insiden nakalnya di kamar mandi bersama si gadis Hyuuga sudah terlewati tiga hari. Sejak itu pula, Sasuke pasti berusaha menghindar dari orang tersebut. Ada alasan kenapa Sasuke terbilang seperti seorang pecundang. Semua berawal karena perkataan Itachi, lagi-lagi.
Kakaknya itu sama jelinya seperti Shino yang melihat kejanggalan pada titik yang banyak tak diperhatikan orang lain. Memang dasarnya Itachi dan Shino berpotensi jadi seorang penyidik, maka dari itu mereka tahu hal-hal yang tidak orang lain tahu. Jika Shino melihat titik terang di lengan baju Sasuke, maka Itachi lebih detail lagi. Itachi melihat bukti lain di lengan adiknya—yang digigit Hinata, sekaligus yang dikecupnya. Begitu Itachi tahu itu, Sasuke dibom bardir berbagai macam pertanyaan yang menyudutkan, memusingkan, dan menjengkelkan dari kakak tersayangnya itu hingga Sasuke harus dibuat mengangkat bendera putih dan kabur ke kamarnya dengan wajah memerah.
Kakaknya itu memang kesayangan Sasuke juga, tetapi jika sudah keluar sifat jahil Itachi, maka rasa sayang Sasuke bisa berubah menjadi rasa malang.
Untuk itulah, Sasuke berusaha tidak bertindak aneh jika dirinya berpapasan dengan Hinata di kampus. Sebisa mungkin Sasuke menjalani kehidupannya seperti biasa yang tak pernah memedulikan orang lain, termasuk si Hyuuga. Ia akan mengalihkan pandangan matanya sesegera mungkin.
Karena di balik sifat anti sosialnya, Sasuke menyimpan sifat pemalu!
.
.
Sebenarnya Sasuke sedang menderita ketika ia berusaha menghindar dari Hinata. Entah kenapa gigi gatalnya itu makin hari makin membuatnya kesal setengah mati karena tak pernah tahu aturan, apalagi jika efek gatal itu terpicu hanya karena kehadiran si gadis Hyuuga.
Oh, rasanya Sasuke ingin sekali mencabut rahangnya kemudian menggantinya dengan rahang yang terbuat dari platina, anti karat dan berharga. Ha!
Sejak tadi Sasuke gelisah, gundah-gulana. Pasalnya, Hinata duduk tak jauh darinya. Sasuke sendiri heran, beberapa hari terakhir, sepertinya gadis itu selalu ada hampir di setiap Sasuke sedang berusaha untuk mengambil jarak. Sebenarnya Sasuke amat senang sebab akhirnya masa penantiannya menunggu Hinata yang mencari perhatian darinya terwujud, hanya lagi-lagi datang bukan pada waktu yang tepat.
Kenapa gadis itu selalu mencari masalah di situasi yang salah? Dan juga apakah si Hyuuga itu tidak cukup peka dengan keadaannya sendiri yang bisa menjerumuskan keduanya dalam lingkaran sesat?
Sungguh, demi Bumi planet biru, Sasuke tidak mau lepas kendali untuk yang kedua kali, kendati si Hyuuga sendiri yang pertama menyerahkan diri saat di tempat keluarga Akimichi. Baginya, seseorang yang begitu berharga perlu dijaga dengan sepenuh jiwa dan raga dan Sasuke tak mau coba-coba.
Dan jikalau Hinata benar-benar merasakan ketertarikan pada Sasuke,—semoga itu benar—biarlah gadis itu sendiri yang mengejarnya sebab Sasuke sendiri "buta" dengan apa yang harus ia perbuat setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Sebab pikirnya, jika orang sedang jatuh cinta, maka orang itu akan berusaha mencari-cari perhatian orang yang disukainya. Bukan begitu?
Maka, Sasuke akan diam saja dan bertingkah seperti Uchiha yang tak mengenal siapa-siapa.
.
Lelah setelah dikejar-kejar beberapa fans maniaknya, Sasuke menyadari dirinya memasuki ruang perpustakaan. Di tempat itu cukup aman untuk bersembunyi, Sasuke pun menghela napas lega. Kemudian perhatiannya beralih menuju buku-buku yang tersusun rapi di rak. Pikirnya, ia akan membaca dua atau tiga buku demi menghilangkan kepenatan juga tekanan batinnya.
Sasuke pun mencari rak buku seri humor agar pikirannya bisa sedikit terhibur. Ia cukup tahu di mana letak deretan buku yang dicarinya itu. Tidak banyak orang yang tahu jika Sasuke kadang menyempatkan diri membaca buku bergenre tersebut.
Langkahnya pelan tetapi pasti. Suara derap sepatunya hampir tak terdengar, kendati di tempat itu tak banyak pengunjung yang datang untuk membaca. Hampir tak ada. Zaman sekarang, buku mulai berkurang peminatnya karena adanya teknologi. Hanya segelintir orang yang masih benar-benar mau dikatakan kutu buku.
Deretan buku yang dicarinya tinggal beberapa langkah lagi, hingga matanya menangkap siluet seorang gadis yang sedang menaiki tangga di antara rak-rak buku. Di tangannya terdapat beberapa buku.
Merasakan ada kehadiran seseorang di sampingnya, gadis itu pun menolehkan kepalanya.
"Ah, Sasuke," ucapnya sambil memasang wajah sedikit terkejut lalu tersenyum canggung.
Sasuke sendiri sudah mulai salah tingkah. Ia melirik ke arah lain tak tentu, lalu bergumam sebagai respons.
Apa lagi ini? Dia berusaha menguntitku juga kali ini?
Perlahan, Sasuke kembali mengambil napas untuk berpikir positif dan menujukan pikirannya ke tujuannya membaca buku humor. Tidak baik jika berlama-lama berada di dekat gadis itu. Mengingat dirinya sedang mengontrol diri.
Sasuke pun mulai beranjak. Namun suara Hinata yang memanggilnya, mau tak mau membuatnya terdiam.
"Tolong bantu pegangi tangganya ya, Sasuke," pinta gadis itu.
Sasuke dilanda kebimbangan. Berat kalau ia menolak permintaan Hinata, tetapi kalau ia menerima pun ... Ayolah, sesuatu bisa terjadi!
Apa jadinya kalau giginya tiba-tiba kumat hanya karena berada dua detik di dekat gadis itu? Bisa jadi bencana! Bukannya membantu, yang ada malah menjadi buntu!
Akan tetapi, jika Sasuke pura-pura tidak peduli, maka ia akan menjadi seorang pecundang sejati. Kapan lagi ia bisa berbagi kedekatan dengan Hinata di tempat sepi?
Oo oh, bukan begitu maksudnya!
Puas bergumul dengan batinnya, Sasuke memantapkan hati untuk membantu Hinata. Toh, hanya memegangi tangga bukan badannya.
Apa?
Lagi pula, hanya sebentar saja. Kalau mulai ada gejala-gejala sensasi gatal di giginya, Sasuke masih bisa menahannya, kemudian segera kabur ke tempat paling aman di kampus itu. Jauh dari si Hyuuga.
Sasuke pun mendekatinya dengan wajah datar, menyembunyikan perasaan gugup yang mulai mengganggu konsentrasinya tiap kali ada gadis itu di dekatnya.
"Tolong pegangi, ya," kata Hinata lagi, lebih lembut. Rasanya, Sasuke seperti mendengar Hinata yang sedang ingin dimanjakan olehnya.
Hei, apa?!
Gadis itu pun memulai kembali menaruh buku-buku yang dipegangnya ke susunan buku tempat asalnya dengan penuh hati-hati. Sekalipun ada Sasuke yang memeganginya, ia tak boleh ceroboh menjatuhkan buku maupun dirinya ke arah Sasuke. Kalau lelaki itu mau menangkapnya, jika tidak? Maka ambruk adalah pilihannya.
Sasuke diam-diam memerhatikan Hinata saat gadis itu tengah fokus menyimpan kembali buku-buku di tempatnya. Beruntung gadis itu mengenakan celana panjang, jika tidak, maka dirinya, Iblis dan Tuhan saja yang tahu apa yang bisa terjadi. Jadi tidak perlu mewaspadai dirinya untuk disangka pengintip nakal di sela-sela kesempatan karena tak ada yang perlu diintip atau terintip.
Namun jika baju yang tersingkap, apa itu termasuk mengintip juga?
Sungguh, Sasuke tidak sengaja ketika matanya mendapati baju Hinata yang tersingkap hingga menampilkan perut dan pinggangnya yang putih bersih.
Buru-buru Sasuke memalingkan wajahnya yang mulai memerah. Ia tidak mau disangka lelaki kurang ajar. Apalagi oleh gadis yang disukainya.
Bukankah kau pernah menyentuh bagian itu, Sasuke?
Iblis di dalam kepalanya berbisik nakal. Sontak itu menyadarkannya pada kejadian itu. Sasuke benar-benar malu sekaligus senang yang bercampur tegang. Benar, 'kan? Adalah ide buruk jika dirinya berada dekat dengan si gadis Hyuuga. Apa pun bisa terjadi! Dan sialnya, kenapa gadis itu lama sekali menyimpan empat buku? Apa gadis itu memang sengaja memanas-manasi suasana hati dan hasrat Sasuke?
Ugh, sialan!
Sasuke mengutuk dalam hati entah pada siapa. Namun ia sendiri marah pada dirinya karena begitu mudah terjerat oleh godaan Iblis melalui Hinata. Kenapa juga Hinata mau dipakai sebagai perantara kegilaan yang Sasuke alami? Dan sialnya, kegilaan itu mulai menunjukkan gejalanya pada gigi Sasuke.
Dengan kesal, Sasuke menggertakkan geliginya. Tangannya merogoh saku celana untuk mengambil sapu tangan kemudian menggigitnya kuat-kuat.
Begitu Hinata mulai turun, Sasuke melepaskan pegangan tangannya pada tangga yang Hinata naiki. Di depan gadis itu, Sasuke tak mau menunjukkan penderitaannya yang sedang galau dengan gigi gatalnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Sasuke pun beranjak. Niatnya untuk membaca sudah hilang. Ia perlu pergi jauh-jauh agar sesuatu yang "jahat" tidak terjadi.
"Sasuke, tunggu," sergah Hinata.
Sasuke diam. Tak menoleh.
"Mengenai hari itu ..."
"Lupakan," ujar Sasuke memotong ucapan Hinata. Lalu kembali melangkah mantap.
Tubuh Sasuke limbung mendapat dorongan kuat dari belakangnya. Beruntung tubuhnya tersungkur di atas sofa yang cukup empuk, maka berbeda cerita jikalau Sasuke jatuh di antara rak buku atau lantai marmer perpustakaan yang keras dan dingin.
"Hei, apa-apaan!" Sasuke berseru kesal. Tentu ia tahu dirinya tersungkur bukan keinginannya, melainkan karena seseorang dengan sengaja mendorongnya. Dan pelakunya Hinata. Memang siapa lagi orang yang ada di belakangnya jika bukan gadis itu?
Hantu? Tak ada hantu yang perlu repot-repot mendorongnya seperti itu sebab Sasuke merasa tidak pernah mengganggu makhluk alam gaib itu.
Antara terkejut juga kesal. Itu adalah kali keduanya Hinata bertindak luar biasa padanya. Pertama, kejadian beberapa hari yang lalu bertempat di kamar mandi lelaki di tempat keluarga Akimichi. Hinata menerobos masuk hingga ke bilik kamar mandi hingga terjadi ... Lupakan!
Kedua, baru saja.
Sebenarnya, apa masalah gadis itu? Ah, lebih tepatnya, dari mana datangnya keberanian gadis itu? Hinata yang Sasuke tahu, tidak akan bertindak gegabah ataupun mau menyerang sebab dia itu gadis yang cenderung pemalu. Gadis bertipe penyerang lebih cocok diberikan pada Sakura atau Ino, bahkan Karin. Hinata tidak masuk dalam kategori itu!
Namun sepertinya Sasuke keliru besar. Hinata yang orang lain, bahkan dirinya sangka adalah gadis pendiam dan pemalu, ternyata menyimpan keberanian sebagai seorang penyerang.
Itu buruk?
Semoga saja tidak.
Sasuke berusaha untuk bangun dengan membalikkan tubuhnya, tetapi gerakannya terhenti sebelum Sasuke sempat beranjak dari sofa karena Hinata sudah mengunci pergerakannya dengan duduk di atas pahanya. Gadis itu kemudian membungkuk untuk meraih kerah kemeja yang Sasuke kenakan. Tatapan mata lavendelnya yang biasa lembut, kini terpancar tajam mengancam.
Wajah keduanya berada pada posisi yang cukup dekat.
"Dengar dulu penjelasanku, Uchiha," ujar Hinata bertekanan dalam ucapan yang keluar dari mulut mungilnya. Dia kesal, maka dari itu ia memanggil Sasuke dengan nama marganya.
Sasuke diam, mengikuti alur yang gadis itu jalankan. Kendati jantungnya mulai berdegup tak terkendali.
"Sekarang jawab dengan jujur. Apa yang kaurasakan terhadapku setelah kejadian itu?" tanya Hinata serius. "Apa kau merasakan sesuatu? Menyukainya?"
Pertanyaan Hinata terlontar dengan bumbu keputusasaan. Terlihat dari sorot matanya yang tajam menginginkan penuntutan yang jelas, tetapi di saat yang bersamaan ia merasa was-was.
Mau tak mau, pertanyaan Hinata mengajak Sasuke untuk mengulang kembali ingatan itu. Berdasarkan apa yang selama ini Sasuke rasakan setelahnya, ia tak merasa tenang, baik ketika ia sadar maupun saat ia tidur. Sasuke seperti dihantui oleh bayang-bayang Hinata hingga dirinya tak bisa fokus pada apa yang seharusnya dia pikirkan. Gadis itu selalu berhasil membuat pikirannya meracau ke mana-mana dan merusak suasana hatinya yang membuat gundah-gulana. Efek perasaannya yang bertepuk sebelah tangan makin membuatnya menderita.
Tentu, sebab Hinata sejak dulu lebih memilih berinteraksi dengan Naruto dibandingkan dirinya. Bahkan Naruto yang diajaknya pergi ke rumah Chouji, kendati saat itu ada Sasuke di sampingnya. Hinata menghiraukannya begitu saja. Selalu begitu.
Namun kejadian itu, Sasuke sendiri sebenarnya kurang mengerti kenapa bisa terjadi. Apa yang mendasari Hinata bersikap seberani itu padanya? Bukankah seharusnya Hinata bertindak begitu pada Naruto yang lebih banyak menarik perhatiannya daripada Sasuke? Apa maksudnya? Mungkinkah Hinata mengambil kesempatan itu untuk mencari perhatian Naruto? Apa itu bentuk pelampiasan karena Naruto sendiri tidak melirik Hinata sehingga Sasukelah yang menjadi sasaran penghilang rasa kesalnya?
Sasuke yang terbiasa menjadi pusat bahkan sumber perhatian, dimanfaatkan si gadis Hyuuga sebagai pelampiasan?
Bagus sekali!
Namun tunggu. Bukankah Hinata saat itu sempat bertanya kenapa dirinya selalu bersikap sinis pada Hinata?
Oo oh, sepertinya ada yang salah paham di sini.
Apa benar selama ini Hinata memandang Sasuke dengan persepsi mengerikan itu? Setahunya, Sasuke berusaha untuk tidak terlihat sinis jika berada di dekat Hinata. Sungguh, Sasuke selalu berusaha terlihat ramah begitu mereka berpapasan.
Mungkin, ini kemungkinan. Hinata melihat wajah sinis Sasuke di waktu yang tidak tepat. Mengingat orang yang selalu menempel setiap saat padanya adalah si Durian Asam alias si Uzumaki Bebek yang cerewetnya yang tertolong. Mungkin karena itu Hinata lebih sering melihat wajah masam Sasuke apalagi kalau Hinata sudah memerhatikan si Bebek Jelek itu.
Ugh, rasanya ingin sekali ...
"Biasa aja," jawab Sasuke. Sejujurnya di luar kata biasa. Dalam hati, ia ingin menguji seberapa berani gadis itu akan kembali bertindak terhadapnya. Apa benar Hinata hanya menjadikan Sasuke sebagai bahan pelampiasan atau—mungkin, hanya mungkin—Hinata menyukai Sasuke?
"Dasar jahat!" kata Hinata membentak sambil melepaskan tarikan tangannya di kerah baju Sasuke, mendorongnya. Kepala Sasuke sedikit terhempas ke permukaan sofa.
Sasuke ingin membalas membentaknya, tetapi yang ada ia malah mengaduh kesakitan karena Hinata menggigit bahunya cukup keras.
"Apa-apaan kau! Kenapa menggigitku?" Sasuke meringis merasakan sengatan yang mulai berdenyut di bahu kirinya. Ia pun menatap Hinata tajam dan Hinata lebih tajam menatapnya. Gadis itu sedang marah. Tercetak jelas di wajah cantiknya bagaimana kedua alis menukik tajam, bibir merah manisnya menekuk dan pipi memerah. Helaian rambut indahnya yang panjang mengurung kedua wajah mereka bagai tirai malam.
Sungguh, Sasuke seperti sedang digoda oleh bidadari yang kesal padanya.
Hanya bidadari di atasnya itu, kadang suka menggigit juga.
"Coba katakan lagi!" bentak Hinata. Ia tengah melawan lelaki yang berada di bawah kungkungannya.
"Apa yang harus kubilang, memang aku tidak ... Argh!" Lagi-lagi Sasuke mendapat gigitan gratis dari Hinata. Titik gigitnya kali itu adalah buku tangan Sasuke yang tadi digunakan untuk mengusap bahunya yang tergigit.
Hanya lima detik, tetapi cukup membuat bekas giginya tercetak jelas dan menyakitkan.
"Apa masalahmu, Hyuuga!" tanya Sasuke yang mulai kewalahan oleh keberingasan Hinata yang suka menggigit. Ia juga bingung kenapa Hinata bisa begitu. Bukankah yang seharusnya suka menggigit itu dirinya? Kenapa malah Hinata ikut-ikutan juga?
Jangan bilang ...
"Kenapa kau tidak peka, hah!" Hinata kembali membentak. "Dengar, Uchiha. Selama ini aku berusaha mencari perhatian darimu, tapi apa yang kudapat? Kau seakan tak peduli padaku. Kau menganggapku tak ada! Kau benar-benar kejam!"
Sasuke merasa seperti orang dungu saat mendengar ujaran Hinata. Dia tidak salah dengar? Hinata mencari perhatiannya dan Sasuke tidak memedulikannya? Bukankah itu yang sebenarnya Sasuke rasakan? Selama ini, Hinata sendiri yang menghiraukannya, bukan? Kenapa malah Sasuke yang disalahkan?
"Apa? Kau mau samakan aku dengan para maniakmu itu? Silakan!" Sasuke merasa sangat bersalah ketika ia melihat Hinata berkaca-kaca hampir menangis.
Selama Sasuke mengenal Hinata, ia tidak pernah menganggap Hinata seperti para maniaknya. Jika yang Hinata maksud menyamakannya dengan para maniak Sasuke karena sikap Hinata yang berusaha mencari-cari perhatian Sasuke, maka jawabannya adalah tidak sama sekali. Hinata memiliki cara tersendiri untuk mencuri perhatian Sasuke bahkan tanpa perlu Hinata melakukan banyak hal.
"Ku-kukira setelah kejadian itu ... kau ... kau mau melihatku," gadis itu mulai menjauhkan wajahnya dengan posisi duduk tegak. Satu tangannya menutup wajah karena suaranya mulai tersendat-sendat. "Namun tidak. Kau malah makin menjauhiku." Hinata mulai menangis. Sasuke diam kebingungan antara terkejut juga senang.
Mungkin benar, selama ini dirinyalah yang terlalu fokus memasang wajah sinis dan datar sehingga ekspresi itu disalahpersepsikan oleh Hinata yang berusaha mencari perhatian darinya. Mungkin, ketika Hinata hendak mendekatinya, Sasuke malah memasang wajah sinis sehingga Hinata jadi ragu dan malah memilih untuk berbincang dengan Naruto yang kebetulan—sialnya—selalu ada di sisi Sasuke bagai bodyguard. Padahal sejatinya, perasaan Sasuke selalu meletup-letup tiap kali gadis itu tertangkap mata olehnya.
Ah, mungkin gadis itu saja yang tidak bisa melihat sorot matanya yang begitu mendambanya. Mungkin mereka berdua sama-sama tidak peka!
Sasuke mendudukkan tubuhnya hendak bicara memberikan penjelasan dan pembelaan, tetapi begitu Hinata merasakan ada gerakan dari Sasuke, gadis itu bergerak untuk pergi.
Gadis itu kecewa.
Namun tidak akan.
Sebab Sasuke menggenggam tangannya erat agar gadis itu diam dan mendengar penjelasannya.
Kini, mereka berdua dalam posisi duduk dengan Hinata di pangkuan Sasuke.
"Bagaimana aku bisa melihatmu jika kau menutup wajahmu?" kata Sasuke pelan sembari mengalihkan tangan Hinata yang menyembunyikan wajah cantiknya. Gadis itu diam saja ketika Sasuke melakukannya, tetapi kepalanya tertunduk sebab malu dengan wajah sembabnya.
Hanya pada orang-orang yang dikasihi Sasuke saja ia menunjukkan bersikap manja maupun manis. Sasuke biasa bersikap manja pada mamanya dan kadang manis pada Itachi jika kakaknya itu sedang dalam keadaan normal. Dan sangat manis pada gadis yang telah mencuri perhatian serta hatinya.
Kedua tangannya menangkup sisi wajah Hinata. Diperhatikannya dalam-dalam ekspresi gadis itu yang masih terlihat sedih juga pasrah. Mata kecubungnya melirik ke arah lain. Sasuke tersenyum. Hinata terlihat imut dengan wajah sembab dan diamnya itu.
Menggunakan kedua ibu jari, diusapnya jejak basah air mata di pipi Hinata yang memerah. Sasuke kemudian mendekat untuk mengeringkannya dengan kecupan-kecupan lembut. Hinata diam begitu kecupan Sasuke mendarat di kedua matanya yang refleks menutup, hidung, kedua pipi, lalu di bibirnya. Dikecupnya berkali-kali bibir Hinata yang basah dan terasa sedikit asin. Sasuke ingin menghilangkan rasa asin itu juga segala kesalahpahaman mereka selama ini, menggantinya dengan rasa yang lebih manis. Semuanya harus diluruskan mulai dari kecupan pertamanya tadi.
Hinata mulai merespons ketika Sasuke mulai mengemut bibirnya intens. Tangannya naik untuk mencengkeram kain baju Sasuke sebagai pegangan karena dirinya mulai hanyut oleh kecupan menggoda si Uchiha. Macam-macam pikiran negatifnya mengenai perasaan Hinata terhadap Sasuke yang diabaikan, kini sirna tak bersisa. Hinata tanggap bahwa Sasuke pun memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Mereka sama-sama ingin diperhatikan.
Sasuke merasa senang luar biasa. Perasaannya lega bagai berada di antara padang rumput hijau dengan udara pegunungan yang segar. Hatinya sudah sejuk dan pikiran penolakannya pun pergi entah ke mana. Tak ada lagi kesalahpahaman yang menyiksa. Kini Sasuke tahu, Hinata sudah dan tetap menjadi miliknya, begitupun sebaliknya.
"Kenapa tidak kaukatakan kau menyukaiku?" tanya Sasuke setelah ia melepaskan sejenak ciuman mereka untuk mengambil napas.
"Kenapa harus aku?" tanya Hinata balik, sedikit mendelik. Sasuke terkekeh pelan.
"Baiklah, baiklah," ucap Sasuke mengalah. Lalu ia membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Hinata dan membuatnya terkikik pelan. Hinata pun membalasnya di telinga Sasuke dan setelah itu menggigit daun telinganya.
"Kenapa lagi sekarang?"
"Pembalasan," jawab Hinata dengan senyum nakal.
"Kaukira aku akan diam saja? Aku bisa membalas berkali lipat, Hinata," Sasuke menekankan suaranya ketika menyebut nama gadis Hyuuga itu. Hinata terkikik lagi, tak merasa takut dengan ucapan Sasuke. Baginya itu cukup menghibur juga ... menggoda.
Tak perlu lama bagi Sasuke untuk membalas Hinata juga demi melepaskan hasratnya yang dalam beberapa hari ini dipendamnya rapat-rapat. Hinata sudah tiga kali menggigitnya, dan Sasuke akan menambahnya berkali-kali lipat tanpa ampun. Lagi pula, gigi gatalnya sedang kumat, dan keberadaan Hinata yang pasrah dan menggodanya tak bisa Sasuke tolak. Digigit dan ditariknya bibir bawah Hinata hingga gadis itu sedikit mengaduh. Tidak sesakit ketika tak sengaja tergigit saat makan, tetapi sensasinyalah yang membuat Hinata hampir lupa segalanya. Setelah puas menggigiti, bibir Sasuke mengisapnya kuat dan dalam untuk meredakan sensasi menyengat, tergantikan dengan denyut kenikmatan. Hinata mendesah sembari menjambak rambut Sasuke yang mencuat. Ia sungguh menikmati pembalasan dari si Uchiha. Ia tak peduli jika nanti bibirnya menjadi bahan ocehan teman-temannya yang menyadari kejanggalannya. Mungkin Hinata akan lebih berani lagi dengan membeberkan siapa pelakunya.
Kenapa harus malu? Sasuke miliknya. Biar saja yang lain tahu, itu akan menjadi senjata agar para maniak Sasuke tak lagi perlu bersusah-payah mencari perhatian si Tuan Muda Uchiha karena ia telah menjadi milik Nona Hyuuga.
Mulut Sasuke begitu aktif mengklaim bibir dan lidah Hinata. Rahangnya yang tegas dan kokoh ikut bergerak seiring gerakan mulutnya yang tak henti memberikan sensasi yang membuat hampir hilang pikiran waras. Hinata meletakkan satu tangannya di rahang Sasuke itu, merasakan betapa mendambanya si Uchiha terhadap dirinya. Hinata senang karena dialah yang dipilih Sasuke untuk bisa menikmati segala yang diberikannya pada Hinata. Ia memang sudah menduga jika Sasuke merupakan lelaki sangat pendominasi. Memang hampir tiap lelaki itu sering mendominasi, tetapi Sasuke adalah penakluk. Ia tak mau kalah dari orang lain, termasuk oleh gadis yang disukainya. Sejak tadi, tak pernah lama Sasuke membiarkan Hinata bebas. Ia selalu berhasil menyerang bagai banteng di arena matador. Sedikit ancang-ancang lalu ia akan kembali menyerang.
Puas dengan mulut Hinata, Sasuke mengalihkan serangannya pada leher Hinata, tepatnya di tulang selangka. Tidak perlu repot baginya untuk mendapatkan akses itu sebab Hinata mengenakan baju dengan ritsleting pendek depan sehingga memudahkan Sasuke untuk melancarkan titik serangnya.
Bagi Hinata, pengalamannya bersama Sasuke beberapa hari yang lalu, ia lebih menyukai hari ini. Selain karena posisi mereka yang lebih memungkinkan, tetapi juga perasaan mereka sudah jelas diketahui. Bukan karena dasar hasrat dan nafsu saja, melainkan kali ini karena mereka sama-sama suka. Sebenarnya apa yang mereka lakukan tidaklah benar mengingat mereka masih berada di lingkungan kampus. Bagaimana kalau ada yang melihat?
Ah, kampus!
Hinata membuka matanya baru menyadari kembali di mana mereka berada. Lalu telinganya mendengar derap langkah orang yang mendekati mereka. Hinata mulai panik.
Ini sama seperti kejadian hari itu!
Selalu saja ada pengganggu di saat yang keliru!
"Sasuke," bisik Hinata dengan maksud menghentikan sejenak kecupan liar Sasuke di tulang selangka Hinata. Gadis itu memejamkan mata merasakan jilatan nakal di titik itu.
Hinata makin gelisah karena serangan Sasuke juga langkah orang yang mendekati mereka, takut aksi mereka diketahui publik. Itu bisa sangat berbahaya!
"Sasuke ..." panggil Hinata lagi. Baiknya, kali ini Sasuke mau meresponsnya.
"Hm?"
"Ada orang kemari," kata Hinata pelan. Sasuke pun pelan-pelan mencoba mengintip dari sisi sofa untuk melihat para pengganggu itu. Dua orang perempuan sedang mencari-cari buku di antara rak-rak, beruntung mereka tak mengedarkan penglihatan mereka ke arah lain, selain ke jajaran buku. Kemudian mereka pun pergi setelah mendapat buku yang mereka cari.
Sasuke merasa cukup lega.
"Mereka sudah pergi," katanya masih memastikan kedua perempuan itu benar-benar menghilang. Hingga fokus pikirannya teralihkan oleh bibir Hinata yang menempel tepat di jakunnya. Tangannya terkepal menahan sentuhan nakal itu. Rasanya geli juga menggemaskan seperti ingin menggigit sesuatu yang kenyal dan lembut.
Sasuke membiarkan Hinata memuaskan rasa penasarannya pada jakunnya. Toh, ia sendiri sudah memberikan cukup banyak karya cantik di beberapa titik Hinata. Erangan pelan keluar dari tenggorokannya karena sentuhan jemari Hinata yang sejuk menempel di leher Sasuke. Belum lagi bibirnya yang makin gencar mengisap dan giginya menggigit seperti hewan pengerat. Jakunnya naik turun seiring Sasuke menelan ludah karena sensasinya sehingga Hinata pun harus aktif mencari-cari letaknya yang sering bergeser tak tentu.
Merasa sudah cukup dengan siksaan kecil dari Hinata, Sasuke pun membalaskan kembali perbuatan bibir Hinata yang nakal dan menggoda. Ia masih penasaran dengan bibir merah merekah itu. Rasanya tidak akan pernah pudar meski berkali-kali ia menyesapnya hingga membengkak dan membekas. Ia bisa menikmatinya kapan saja sepuasnya.
Oh ya, sepuasnya!
Dan mungkin tidak akan pernah puas.
Jemari Sasuke meraba di balik pakaian Hinata, mengusap di area sekitar pinggang dan perut. Sesekali memberikan pijatan lembut seperti pemijat di tempat spa. Kadang jemarinya bergerak nakal ingin menggelitiki titik sensitif Hinata hingga ia menggelinjang geli.
Tangannya naik dan sampai di pengait bra gadis itu sedang Hinata dibuat tak menyadarinya karena fokusnya hanya pada bibir Sasuke yang masih menyerang bibirnya beringas. Tepat saat lidah Hinata tertangkap gigi Sasuke, jemari nakalnya berhasil melepaskan pengait bra Hinata.
Hinata ingin protes karena ulah Sasuke, tetapi ia dibuat bungkam karena mulutnya tertutup rapat oleh si penyerang. Tangannya berusaha mendorong, lagi-lagi gagal karena sebelum tenaganya terkumpul, Sasuke sudah menyerap habis seluruhnya hingga Hinata tak bisa berkutik dan pasrah saja.
Menyadari Hinata yang sudah pasrah, Sasuke tak tinggal diam. Ia tak pernah kehilangan semangat maupun tenaga, malah semakin kuat tiap kali sukses mengalahkan Hinata.
Jemarinya turun dari punggung Hinata menuju ke perut dan kembali naik ke sekitar bawah dada sengaja menggodanya. Sasuke melepaskan jeratan mulutnya dari Hinata agar gadis itu bisa meraup oksigen sebanyak-banyaknya dan bersiap untuk serangan Sasuke selanjutnya.
Kedua tangannya kembali turun ke ujung kain Hinata. Sasuke merendahkan tubuhnya ke area perut gadisnya, kemudian menelusupkan kepalanya di balik kain baju Hinata yang elastis. Terpaan napas hangat Sasuke membuat Hinata merinding gelisah. Hinata mendesah saat Sasuke mengecupi kulit di balik pakaiannya. Rasanya geli, panas dan basah karena lidah Sasuke ikut beraksi. Kedua tangan Sasuke pun ikut memanaskan suasana dengan membatasi gerak Hinata di tangannya yang tercengkeram erat.
Hinata mulai kehilangan fokusnya oleh tindakan Sasuke yang benar-benar membuatnya gila. Bagaimana tidak? Sasuke mencumbunya begitu intens di titik sensitif dan tertutupnya. Bibir Sasuke sudah mendarat di bawah dadanya. Hinata makin berdebar-debar menunggu kejutan selanjutnya. Dan Sasuke bisa merasakan debaran itu di dada kiri Hinata.
Debaran mereka sama-sama menggila!
Sasuke sedikit menaikkan kepalanya bersiap melancarkan aksinya. Lidahnya sudah sangat tak sabar ingin mencicipi rasa dari pucuk merah jambu yang menggoda matanya. Sasuke membuka mulutnya. Hinata mengerang karena gemas Sasuke sengaja menyiksanya. Matanya terpejam dan mulut megap-megap seperti ikan di darat.
Baru saja ujung lidah Sasuke menyentuh pucuk merah jambu itu dan Hinata yang sudah bersiap menerima serangan Sasuke, tiba-tiba seseorang memanggil nama Hinata. Sontak karena terkejut luar biasa, Hinata mendorong tubuh Sasuke hingga pemuda itu jatuh cukup keras ke lantai. Hinata buru-buru merapikan penampilannya yang berantakan.
Ia lupa kalau tadi dirinya sedang berurusan dengan Sasame, si petugas perpustakaan. Sasame tadi meminta Hinata untuk menyimpan kembali buku-buku yang dipinjam beberapa mahasiswa. Sampai tiba waktunya ia bertemu secara tak sengaja dengan Sasuke ketika Hinata hendak menyimpan buku-buku di tempatnya semula.
"A-aku di sini, Sasame," kata Hinata sambil melambaikan tangannya. Sasame tersenyum.
"Sudah kausimpan bukunya di tempat semula?"
"Sudah. Tenang saja."
"Terima kasih banyak ya, Hinata," kata Sasame.
"Tak masalah," jawab Hinata. Ia menghela napas lega karena Sasame tidak datang mendekatinya. Kalau Sasame tahu ada Sasuke di lantai, gosip besar bisa langsung tersebar.
Hinata pun menolehkan kepalanya untuk melihat Sasuke yang sempat diabaikannya karena kedatangan Sasame. Bahkan Hinata mendorongnya hingga jatuh berdebum.
"Maaf, Sasuke," kata Hinata pelan.
Sasuke memasang wajah datar sambil menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Jangan tanya apa yang dirasakannya karena datangnya para pengganggu di sela permainan mereka. Lalu seringai mengerikan hadir di bibir merahnya yang seksi. Dengan pelan Sasuke berbisik, "Tunggu serangan selanjutnya, ... Hinata."
Suara Sasuke yang berat juga segar itu membuat bulu kuduk Hinata berdiri. Ia yakin, Sasuke pasti akan gencar mengejarnya meski Hinata kabur sampai ke Great Barrier Reef.
.
.
TAMAT
.
Macam mana nih lanjutan paling akhirnya? Udah kejawab 'kan bagaimana perasaan Hinata ke Sasuke? N aksi nakal2 keduanya juga udah lumayan membakar, 'kan? Hahahaha... Semoga menikmati akhir cerita ini ya sebagaimana saya menikmati ketika membayangkan dan mengetiknya. *freaksme* Hinata gak menderita gigi gatal kaya Sasuke. Anggep aja Hinata tuh gemes ke Sasuke, kaya saya kalo kepedesan suka pengen gigit orang! Beneran, makanya jangan macem2 kalo ama orang yang lagi kepedesan. Soalnya bisa ngegigit! Hahahaha...
Terima kasih, Teman-teman yang udah review, suka n follow. Makasiiiih banyak!
Salam manis dan terima kasih,
.
Bernadette Dei
