Free Somebody
Pertama, Taehyung bukan anak polos. Jelas?
Kalau sudah jelas, lanjut ke fakta kedua. Taehyung sedikit nakal. Mantannya banyak. Sudah tahu, kan? Karena itu jangan kaget kalau Taehyung ditemukan tengah menari erotis dengan beberapa gadis di bawah lampu disko yang temaram. Hanya mengikuti lirik dan ritme, badannya gerak sendiri. Sebelah tangannya pegang gelas minumannya agar tidak tumpah, sebelah lagi ia angkat keatas. Tidak pegang-pegang tubuh orang, ia tidak separah itu. Tapi badannya diraba orang, sama aja.
Pesta teman dekatnya, si Jimin. Perayaan hari jadi dengan pacarnya yang galak. Taehyung sih iya aja. Yang penting bisa senang-senang. Bisa lupa sejenak kalau ia hampir frustasi jatuh cinta dengan seseorang. Suka tapi sadar diri, gadis itu begitu sempurna. Taehyung banyak celanya. Mau dekati juga sepertinya hanya tertarik sebagai teman. Taehyung sudah kalah sebelum perang. Jadi biarkan kepalanya kosong untuk hitungan jam, sebelum besok meratapi nasibnya.
Tampaknya Takdir tidak setuju.
Jumlah tangan di badannya bertambah sepasang, sebelum akhirnya hanya tinggal tangan tadi yang ada di sana. Taehyung penasaran, kok bisa? Lalu nyesal menghadap ke bawah. Mata yang menghantui tidurnya, kini di hadapannya. Tatapannya beda. Bukan si Cantik yang biasa. Mungkin halusinasi, pikirnya.
Tapi senyumnya, lesung pipitnya, Taehyung hafal. Karena itu begitu bibir merah polesan gincu itu menyapanya, Taehyung lupa daratan.
Ciuman, pelukan, tarikan, masuk … keluar … nikmat.
Saking indahnya, hampir lupa rasanya. Intinya esok pagi ia terbangun di kamar asing. Ada sesuatu—kepala seseorang bersandar di dadanya. Dan langsung tersenyum begitu kepala tadi mendongak ke atas, bukan mimpi.
Bahagianya hanya hitungan detik.
Wajah tadi menatapnya penuh terror. Langsung bangkit menarik selimut, meninggalkan tubuh Taehyung telanjang sendirian. Wajahnya panik, berusaha tidak melihat Taehyung—dan adiknya. Tangannya meraih pakaian yang bertebar di lantai.
Taehyung ingin bertanya. Tapi tidak perlu. Ternyata gadis tadi hanya takut pacarnya marah.
