Created by : jitan88 | 2013 |

Genre : Sci-Fi & Romance

Rating T, Alternate Universe, OOC.

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya adalah fiktif dari hasil pemikiran penulis.


.

.

"Mari kita bukakan jalan untuk sang terpilih,

mengeliminasi para pecundang yang tidak memiliki hak untuk berada di tahta yang sama.

Karena tujuh kepala tidak lebih baik daripada satu …

dan hanya satu orang yang pantas,

menjadi penguasa untuk dunia baru."

.

.

.

HEGEMONY

CHAPTER 4 : ROBOT

.

.

"Engine start!"

Sensor berhasil mendeteksi frekuensi suara milik sang Uchiha, lampu indikator menyala dan secara otomatis mengaktifkan mesin kendaraan. Di tengah-tengah dashboard kini tampak sebuah layar monitor mini yang menampilkan peta, temperatur udara, perkiraan cuaca, juga simbol-simbol lain yang tidak kumengerti. Setelah mengaktifkan mesin kendaraan, dari speaker terdengar suara seorang wanita yang meminta verifikasi pengendaranya, "Detecting voice recognition."

"Sasuke Uchiha," suaranya terdengar datar, nyaris tanpa intonasi.

"Verification complete," ujar voice assistant wanita dalam sebuah benda yang masih kupertanyakan namanya sebagai mobil, "Silahkan masukkan tujuan Anda, Tuan Uchiha."

"TAKA Corporation."

Saat masih mengingat-ingat bagaimana cara mengenakan seat belt dari benda futuristik ini, tanpa berkomentar pria berambut raven itu lebih dulu membantuku menarik—lalu memasangkannya untukku. Dalam jarak kami yang begitu dekat hingga nyaris bersentuhan, tercium aroma maskulin dari parfum yang dikenakannya. Ugh, situasi barusan memang terasa kikuk … tapi aku harus bersikap setenang mungkin—mungkin ada baiknya jika mencontoh raut wajah datar Sasuke Uchiha?

"Lokasi dikenali; perjalanan akan memakan waktu tiga puluh lima menit melalui rute A. Kenakan sabuk pengaman dan selamat menikmati perjalanan Anda," perlahan mobil itu bergerak naik, aku mengerjap ketika benda ini terangkat dari atas tanah lalu melaju kencang, rasanya seperti menaiki wahana pesawat terbang di taman bermain! Sementara Sasuke tidak bergeming … sebelah tangannya berada pada setir kemudi, pandangannya lurus ke depan. Tidak terganggu dengan kehadiranku di sisinya—yang terus mengedarkan pandangan ke sekeliling interior mobil—layaknya manusia purba bertemu dengan kemajuan teknologi.

.

Benda yang disebut sebagai "mobil" ini melaju—dalam artian melayang di udara, tanpa membutuhkan roda. Untuk fenomena satu ini aku tidak bisa menjelaskan dengan deskripsi apapun karena buta tentang dunia otomotif. Kami pun meninggalkan garasi, dan untuk pertama kalinya aku bisa merasakan suasana pagi di dunia masa depan dari luar Uchiha's Residence. Menatap heran pada satu per satu kendaraan yang saling berselisipan, semua kendaraan bergerak secara teratur, seperti mengikuti pola atau rute tertentu. Lalu lintas udara ini begitu lancar, jauh dari kemacetan. Perubahan teknologi ini membuatku terkenang pada bentuk standar mobil Jepang tujuh puluh tujuh tahun yang lalu.

Keadaan di luar kediaman Uchiha membuatku ternganga. Sekilas aku bisa melihat ada pembagian tata kota yang jelas antara daerah pepohonan dengan daerah industri yang diisi oleh bangunan bertingkat. Tidak ada papan-papan reklame yang memenuhi tiap sudut jalan, terlihat bersih. Kami terbang melewati gedung-gedung pencakar langit bergaya modern yang memantulkan cahaya matahari dari tiap kaca, pantulannya terlihat berkilauan seperti sebongkah kristal raksasa. Ini luar biasa!

Tanpa sadar aku tersenyum, meletakkan satu tangan hingga menempel pada jendela mobil … seakan-akan ingin ikut menyerap kehangatan dari sinar matahari. Pemandangan pagi di dunia masa depan yang cerah ini rasanya membangkitkan semangat dari dalam diriku, sungguh menakjubkan.

Setelah puas melihat-lihat, perlahan aku menoleh, mendapati Sasuke Uchiha masih diam di balik kemudi. Otakku kembali berputar mengingat-ingat perkataannya yang ingin mengaburkan identitasku sebagai robot. Ya, semuanya berawal dari pembicaraan kami sepuluh menit yang lalu di dapur ….

.

.


"Aku punya rencana untuk mengaburkan identitasmu, Sakura," Sasuke melanjutkan perkataannya dengan senyum tipis, "kau akan dikenali sebagai robot, bukan manusia."

"Ro—Robot?"

"Hn," pria ini masih duduk manis dengan kopi di tangan dan wajah datar seperti biasa, "pernah mendengar apa yang dinamakan Artificial Intelligent? AI adalah sejenis kecerdasan buatan yang bisa ditanamkan pada komputer, membuat robot bisa berperilaku layaknya manusia. Tapi sebaliknya; kau manusia yang akan berperilaku layaknya robot."

Dia benar-benar gila … hidup sebagai robot? Bagaimana caranya?!

Tentu saja, menjadi robot tidak pernah terlintas sebagai salah satu cita-citaku! Aku kebingungan setengah mati pada ide "brilian" ini. Berani bertaruh, Sasuke Uchiha bisa melihat dengan jelas raut wajahku yang … ugh entahlah, aku sendiri tidak ingin membayangkan bagaimana ekspresiku saat ini.

"Kita akan berangkat sepuluh menit lagi, selesaikan sarapanmu." Tanpa menunggu jawabanku, Sasuke beranjak meninggalkan dapur, membiarkan cangkir kopinya tetap berada di atas meja. Aku termenung beberapa saat, tidak lagi berselera menghabiskan roti yang masih tersisa di piring.

.

.


"Sakura."

"A—eh, ya?" terbangun dari lamunan karena dipanggil, aku segera menoleh pada pria itu, "Ada apa, Uchiha-san?"

"Sebentar lagi kita sampai," telunjuknya mengarah pada salah satu gedung megah yang menjulang tinggi, masih berjarak beberapa meter dari posisi kami sekarang. Aku tidak bisa berhenti menatap eksterior bangunan dengan logo seekor elang berwarna emas bertuliskan "TAKA". Perusahaan yang didirikan oleh Uchiha bersaudara ini benar-benar terkesan mewah dan modern … dan sekali lagi aku harus mengakui kemakmuran finansial seorang Sasuke Uchiha; selain dari kediamannya.

"Kita akan menuju bangunan utama untuk mengambil beberapa berkas," kata Sasuke, "setelah itu baru kita menuju laboratorium yang berada di sisi lain gedung. Ikuti saja langkahku dan jangan sampai tertinggal, mengerti?"

Aku mengangguk.

Mobil milik sang direktur TAKA mengitari gedung dan masuk menuju basement, di mana lampu di lokasi parkir ini langsung menyala setelah mendapat sensor gerak dari kendaraan. Setelah menaruh kendaraannya di tempat strategis layaknya VIP, akhirnya aku berhasil melepaskan sabuk pengaman dan bergegas turun. Sasuke Uchiha sudah lebih dulu berdiri di ambang pintu masuk, dengan gestur yang mengisyaratkan agar aku segera mengikutinya. Kami pun masuk ke dalam sebuah elevator, dan benda kubus tersebut membawa kami naik ke lantai atas.

.

Huruf-huruf besar bertuliskan "TAKA CORPORATION" berwarna emas menyambut kedatangan kami saat melewati meja resepsionis. Public area di kantor ini seperti sebuah kubah besar yang menyambungkan lantai dasar dengan tingkat-tingkat berikutnya. Tampak lalu lalang para pekerja; mulai dari pria dan wanita hingga sosok mesin yang kuyakini dengan sebutan robot. Satu per satu berjalan menuju ruangan kerja yang terbagi di beberapa lantai menurut divisi masing-masing. Sebenarnya aku cukup terkejut dengan suasana ramai di kantor TAKA, karena ketika beberapa waktu yang lalu aku datang bersama Sai di siang hari, kondisinya jauh lebih sepi.

"Keadaan akan ramai saat jam masuk dan pulang kantor," ketika masih bertanya-tanya dalam hati, Sasuke tiba-tiba memperkenalkan situasi perusahaannya padaku.

Aku mengangguk, sambil terus berusaha membuntuti langkah Sasuke … kecepatan jalannya melebihi rata-rata penduduk Tokyo. Lengah sedikit saja, maka dipastikan aku tidak akan berhasil menemukan pemandangan punggung beserta rambut pantat ayam-nya seperti sekarang. Melewati seluruh kerumunan dengan kepala tegak dan pandangan lurus ke depan, Sasuke hanya berhenti sebentar di meja resepsionis untuk mengambil sebuah kartu bertuliskan "visitor", lalu memberikannya padaku.

"Pakai ini," dan sedetik kemudian Sasuke sudah kembali berjalan dengan kecepatan mengerikan.

Tch, kenapa jalannya cepat sekali sih?! Nyaris saja aku tertinggal, bahkan aku belum sempat menyematkan kartu ini, dia sudah kembali melesat seperti anak panah!

Kemana pun Sasuke Uchiha melangkahkan kakinya, aku bisa mendengar sapaan "selamat pagi" disertai dengan bungkuk hormat untuk sang direktur. Oh—tapi tentu saja, pria ini hanya membalas dengan sebuah anggukan sekenanya, melenggang bagaikan sosok raja yang berjalan di atas karpet merah. Situasinya berkebalikan denganku. Berbeda jauh dengan tatapan hormat untuk Sasuke … satu hal yang membuatku risih adalah pandangan dari seluruh penjuru ruangan terhadapku; seakan bertanya-tanya siapa gerangan sosok gadis lusuh yang berjalan mengikuti bos besar mereka. Huh, mungkin ini contoh nyata dari "kesenjangan status sosial", dan sudah pasti aku berperan sebagai tokoh si miskin.

.

Langkah demi langkah membawa kami berdua menelusuri lorong panjang yang lebih sepi, dan sepertinya familiar di ingatanku. Benar saja, di sudut ruangan tampak seorang wanita yang dulu pernah melarangku masuk ke ruangan sang direktur. Menyadari sosok Sasuke Uchiha sudah tiba di kantor, dari kejauhan wanita itu pun berdiri dan membungkuk hormat. Wajahnya terlihat cantik meskipun hanya mengenakan riasan sederhana, wanita muda berambut pirang dan berpakaian lengkap dengan blazer ini juga menyadari kehadiranku … ia tersenyum manis.

"Selamat pagi, Tuan Uchiha," katanya lembut, "dan Anda juga, Nona."

"Oh i—iya, selamat pagi," aku balas menunduk, "maafkan atas kelancanganku waktu itu, ya!"

Wanita dengan nametag bertuliskan "Ino Yamanaka" itu hanya tersenyum, sementara Sasuke sudah mengangkat satu tangannya dan membuka pintu ruangan menggunakan Dextrale. Kami berdua bergegas masuk mengikuti langkah Sasuke ke dalam ruangan kerjanya, "Yamanaka, apa kau sudah menghubungi Karin tentang rapat hari ini?"

"Sudah, Tuan. Sejak pagi tadi Karin dan Juugo sudah berada di laboratorium untuk mengumpulkan beberapa arsip yang diperlukan," jawab Ino sambil memeriksa agendanya, "selain rapat dengan pihak laboratorium, Anda telah dijadwalkan untuk menemui investor pukul dua siang ... lalu ada beberapa dokumen yang perlu diperiksa untuk ditindak-lanjuti."

"Hn," duduk di balik meja kerjanya, onyx Sasuke menatap layar sentuh seperti komputer, jemarinya bergerak menelusuri beberapa tampilan di dunia maya tersebut. Tiba-tiba aku menangkap raut aneh dari pria ini; sepertinya ia sedikit terkejut setelah membaca salah satu tampilan yang muncul di sana. Wajahnya berkerut—meski hanya berlangsung beberapa saat—sebelum kembali pada wajah stoic-nya. Ia segera menutup tampilan dan menoleh, "Yamanaka, apa kau sudah memeriksa e-mail hari ini?"

Lebih anehnya lagi, Ino tampak tersentak dan menganggukkan kepala, "I—Iya, Uchiha-sama. Itu … tampaknya mereka berhasil melakukannya lagi, dan sayangnya … tetap tidak terdeteksi."

"Tch, beri catatan untuk memperkuat sistem keamanan TAKA … jangan sampai e-mail sampah seperti itu bisa menjebol jaringan kita," pandangan tegas dari sang direktur benar-benar terlihat dingin, sepertinya ada masalah yang cukup serius, meskipun aku tidak mengerti duduk perkaranya. Sasuke mengambil sebuah buku dari meja kerja, lalu mengajak kami berdua bergegas keluar menuju laboratorium, "Yamanaka, karena siang nanti aku bertemu para investor … tolong temani Sakura berkeliling, mulai sekarang kalian juga akan sering bertemu. Dan Sakura, kau bisa mengandalkan Yamanaka Ino untuk bertanya tentang hal-hal yang tidak kau mengerti."

"Baik, Sasuke-san." jawabku singkat.

Ino Yamanaka tampak heran dengan perkataan sang direktur, sekilas ia melirik ke arahku, namun segera menganggukkan kepala. Setelah berkata demikian, kami bertiga bergegas meninggalkan ruangan direksi dan mengikuti Sasuke Uchiha menuju laboratorium.

.

.


TAKA Corporation – Laboratory

Berbeda dengan keadaan kantor yang hiruk pikuk dengan lalu lalang para pekerja, ruangan yang kulewati kali ini benar-benar sepi … hanya terdengar derap kaki dari langkah kami bertiga. Sekeliling ruangan berwarna putih dengan lampu terang pada langit-langitnya, di kanan dan kiri lorong terdapat kaca tebal seperti cermin yang memantulkan bayangan kami. Serba putih, sepi, dingin, dan yang paling kubenci adalah aroma steril yang menguar sejak pertama kali kami menginjakkan kaki di laboratorium milik TAKA. Aku yang memiliki ketakutan sendiri terhadap dunia penelitian maupun alat-alat kedokteran mulai bergidik, tanpa sadar aku menangkupkan kedua tangan dan mulai meremas satu per satu jemariku—berharap langkah ini bisa mengurangi ketegangan.

Sementara aku masih berusaha memerangi ketegangan, Yamanaka Ino maju mendahului kami berdua, ia menunjukkan Dextrale-nya di depan sebuah kotak kecil yang berada di depan pintu besar. Mendeteksi password dari gelang miliknya ternyata sesuai dengan kode pengunci, pintu ruangan itu pun terbuka … bergeser ke samping dan memperlihatkan ruangan terang serba putih dengan meja panjang di tengah-tengahnya. Napasku tercekat, bau sterilnya membuatku … semakin gusar.

"Tidak perlu tegang," Sasuke bergumam sangat pelan, aku tidak tahu sejak kapan ia menyadari kondisi tegang yang kualami. Ia melirik sekilas, "semua akan baik-baik saja, Sakura."

"I—Iya," aku segera menarik napas dalam-dalam—mengembalikan kedua tanganku yang tertangkup hingga berada di posisi tegap di masing-masing sisi—lalu mengangguk yakin, "ayo masuk, Uchiha-san."

.

.

Sepertinya kami berada di sebuah ruangan rapat, dengan meja panjang dan kursi yang berjejer di sisinya. Di dalam ruangan itu juga kami disambut oleh pria berbadan tinggi besar layaknya seorang bodyguard. Rambutnya rancung seperti karakter dalam cerita Dragon Ball dan berwarna oranye … benar-benar kontras dengan pakaian serba putih yang dikenakannya.

"Selamat datang, Yamanaka-san, Uchiha-sama," dengan sopan ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan para tamu, hingga pandangannya berhenti padaku, "dan … maaf, sepertinya kita belum berkenalan. Siapa namamu, Nona?"

"Salam kenal, aku Sakura Haruno," jawabku sambil menyambut uluran tangannya.

"Ah, ya. Senang berkenalan denganmu, Haruno-san. Perkenalkan, saya Juugo ... asisten yang membantu Karin dalam penelitian."

"Juugo, di mana Karin?" perkataan Sasuke membuyarkan acara perkenalan kami berdua.

"Ada di ruang sebelah," Juugo menunjuk malas ke arah belakang, terdapat sebuah ruangan kecil yang bersebelahan dengan tempat kami berada, "Oi, Karin! Cepat kemari, mereka sudah datang!"

"Sebentar, biar aku menyelesaikan ini dulu." Suara itu terdengar dari ruang sebelah, aku melirik … mencoba mencari tahu tentang si pemilik suara. Dari jarak pandangku saat ini, aku bisa melihat siluet seorang wanita sedang memperhatikan layar-layar di hadapannya. Wanita berambut merah dan berkacamata itu benar-benar terlihat fokus, berkonsentrasi penuh di depan layar. Image seorang peneliti yang serius dan kaku langsung merambati pikiranku tentang Karin, seorang workaholic dan—

"Selesaaai! Aku berhasil naik level dan mengalahkan boss stage!" wanita bernama Karin ini melompat dari kursinya lalu menari-nari kecil. Sepersekian detik berikutnya, ia berlari ke arah kami, tangannya langsung terulur—dan dalam sekejap menggelayut manja pada lengan Sasuke Uchiha, "Kyaaa SASUKE-SAMA, kau dataang! Aku sudah bosan setiap hari melihat wajah Juugo, kenapa di laboratorium ini tidak ada pria tampan sepertimu, sih?!"

.

Aku berjengit keheranan pada sifat wanita yang katanya … merupakan "peneliti andalan TAKA".

Karin tidak hanya bergelayut manja, sekarang dia mulai menggerayangi lengan sang direktur, seperti mengobservasi sekujur tubuh pria itu, tanpa peduli tatapan menusuk dari Sasuke, "Lho, Uchiha-sama … sepertinya kau sedikit kurusan?! Mungkin beratmu berkurang sekitar 0.1 hingga 0.2 kg, oh tidak—lalu dilihat dari kulitmu, sepertinya kau juga kurang minum! Aku harus mencatat perubahan ini untuk memberimu lebih banyak vitamin, hmm … dan mengenai massa ototmu—"

"Berhenti menempel pada tubuhku, Karin." Sasuke berusaha menjauhkan tubuh wanita itu dengan wajah datar seperti sudah terbiasa.

Tingkah laku Karin membuatku merinding, hancur sudah pemikiran tentang sosok peneliti yang serius—fokus—dan , aku meralat ucapanku tentang "image seorang peneliti yang serius dan kaku", akan kuganti dengan "peneliti aneh yang terobsesi pada Sasuke Uchiha"!

"Maafkan kelakuannya, Haruno-san," Juugo yang berada di sebelahku tertawa kecil, "wanita ini punya kepribadian ganda. Di satu sisi dia akan jadi setan jenius yang mengerikan jika sudah menyangkut penelitian, sementara sisi satu lagi—ehm, dia wanita gila … seperti yang kau lihat sekarang."

"AKU DENGAR ITU, Juugo!" Karin menoleh pada rekannya dengan tatapan liar, dan saat itulah Sasuke Uchiha berhasil melepaskan diri sepenuhnya.

"Baiklah," pria emo itu segera beralih lalu duduk di sebuah kursi yang terletak di ujung meja, mengambil posisi layaknya seorang pemimpin rapat, "kita akan mulai rapatnya sekarang."

Satu kalimat dari Sasuke Uchiha langsung membuat keadaan menjadi hening dan berubah serius.

.

.


"Ada sesuatu yang harus kusampaikan sebelum kita memulai rapat," Sasuke menatap kami satu per satu, "kutegaskan; semua yang kita bicarakan di ruangan ini adalah rahasia yang harus disimpan rapat-rapat. Hanya kita berlima, ditambah Sai, yang mengetahui pembicaraan ini … tidak boleh ada pihak lain yang tahu. Jika ada kebocoran, maka aku bisa langsung memastikan ada pengkhianat di antara kita. Kalian paham?"

Ketiganya saling berpandangan, namun perlahan mereka mengangguk. Lalu pandangan Sasuke beralih padaku, "Pertama-tama biar kuperkenalkan, ini Sakura Haruno; dia yang akan menjadi subjek riset pengembangan Zephyr. Sakura bisa bertahan menghirup udara tanpa injeksi Zephyr selama dua puluh enam jam, setengah hari lebih lama dari waktu pemegang rekor yang kita miliki."

"A-Apa?!" pupil Karin membulat, "Mana mungkin? Kalau memang dia bisa bertahan selama itu … kenapa kita baru menemukannya sekarang?"

"Hn, karena jawaban atas pertanyaanmu adalah permulaan rahasia yang harus kita simpan bersama," ia mendengus. Ketika Sasuke mengatakan kalimat itu, aku bisa merasakan jantungku berdetak lebih cepat … aku gugup dan sedikit takut, "Sakura Haruno … dia berasal dari Tokyo, Jepang. Seminggu yang lalu dia terbangun dari Cryonics Box type one, Sai menemukan gadis ini di East Konoha. Wanita ini tersadar setelah tujuh puluh tujuh tahun berada dalam cold sleep."

Nah, sekarang aku bisa melihat ketiga manusia di hadapanku melongo.

"Tidak mungkin …" iris Karin yang berwarna merah—senada dengan rambutnya—menatapku dari atas kepala hingga kaki, sedetik kemudian ia menggunakan gelang Dextrale miliknya untuk mengaktifkan sebuah layar dan memeriksa data, "CSB-001 adalah produk uji coba beberapa negara di masa lalu, dan proyek itu sendiri hanya dikembangkan dalam unit terbatas! Apa Anda benar-benar percaya jika gadis ini berasal dari Jepang? Itu terdengar—ugh, mustahil. Apa dia tidak berbohong?!"

"Aku percaya dia tidak berbohong," Sasuke menjawab dengan tenang, "sekalipun dia berbohong, tetap saja Sakura adalah subjek riset yang paling tepat untuk perkembangan Zephyr, tidak ada kandidat lain yang lebih baik darinya, 'kan? Jadi, aku ingin kau memimpin proyek pengembangan Zephyr dengan Sakura sebagai sumber risetnya, Karin."

"Tapi—ukh," mendengus tak percaya, wanita ini menggelengkan kepala beberapa kali … namun akhirnya ia menghela napas, "ya, pekerjaan adalah pekerjaan. Tentu saja aku akan melakukannya, Uchiha-sama. Kapan kita bisa memulai proyek ini?"

.

"Secepatnya … tapi ada satu masalah yang belum terselesaikan," jelas Sasuke lagi, "karena dia berasal dari Jepang, tentunya Sakura tidak tercatat sebagai Warga Negara Konoha. Dia bisa dikategorikan sebagai seorang imigran gelap dan berpotensi untuk ditangkap lalu ditahan, kita juga tidak bisa mendaftarkannya begitu saja ... tidak ada bukti yang membenarkan fakta bahwa ia berasal dari Tokyo. Untuk menghindari hal tersebut, aku punya ide untuk menyamarkan identitasnya dengan cara mendaftarkan Sakura sebagai robot AI ciptaanmu, Karin … secara langsung dia akan menjadi properti TAKA Corporation, sehingga kita punya hak penuh untuk melindunginya."

Sekali lagi, ide gila Sasuke berhasil mengejutkan mereka. Ino Yamanaka tidak bisa menutup mulutnya selama beberapa detik, sementara Juugo hanya menggaruk-garuk rambut rancungnya—entah karena gatal atau tidak, yang jelas mereka semua kebingungan.

"ROBOT?!" secara spontan Karin berdiri dari tempat duduk sementara satu jarinya menunjukku, "Ini gila, dia itu manusia! Bagaimana caranya membuat seorang manusia menjadi—eh? Oh tunggu, kurasa idemu cukup bagus? Aku bisa melakukannya, ya ya … memang beresiko, tapi akan mengasyikkan."

Aku terbelalak.

Mengasyikkan?! Oh, ini buruk. Aku bertemu dengan dua orang gila yang pikirannya sejalan …

"Kau bisa melakukannya?" tanya sang direktur.

"Yaa … kurasa bisa. Karena robot tidak membutuhkan Dextrale untuk mengoperasikan perangkat elektronik, aku akan mengadakan 'operasi kecil' untuk menanamkan sistem gelang tersebut. Lalu aku akan menambahkan beberapa software kecerdasan, dan—waah banyak lagi! Yahoo, sepertinya permainan rahasia-rahasiaan ini akan sangat seru!" seringai Karin terlihat mengerikan di samping bola matanya yang berbinar saat menatapku, "Nah, Sakura? Mulai sekarang kita akan banyak menghabiskan waktu bersama di laboratorium ini. Namaku Karin, penanggung jawab laboratorium TAKA, termasuk orang yang akan menanganimu se-pe-nuh-nya! Kita akan menjalani hari-hari menyenangkan bersama lho, jadi … yoroshiku ne!"

"I—Iya salam kenal, mohon bimbingannya, Karin-san."Antara niat dan enggan aku membalas perkenalannya. Aku punya firasat buruk, rasanya seperti menjadi mangsa dalam kandang binatang buas dan aku terjebak di dalamnya.

Ugh, Kami-sama … selamatkan hamba-Mu ini dari tangan peneliti gila!

.

.

Lalu dimulailah rapat panjang yang melelahkan tentang pengembangan Zephyr dan langkah-langkah memalsukan identitasku sebagai robot. Kesimpulan dari pertemuan ini adalah; Karin dan Juugo akan mengambil alih tanggung jawab atas seluruh data penelitian dari tubuhku sebagai subjek sampel, dan dalam hal ini Karin juga yang akan memodifikasi perangkat lunak yang bisa membuat tubuhku agar dikenali sebagai robot, bukan manusia. Sedangkan Sai dan Ino Yamanaka adalah pihak ketiga yang akan mendampingiku sebagai tangan kanan Sasuke Uchiha, mereka juga bertugas untuk menjaga identitasku agar tidak terbongkar.

Melalui penjelasan Karin, aku mempelajari beberapa hal baru tentang teknologi di masa depan … termasuk tentang campur tangan robot dalam kehidupan manusia. Keberadaan robot di jaman ini adalah satu hal yang lumrah, bahkan mereka bisa hidup berdampingan dengan masyarakat. Sebagian besar populasi robot di Konoha adalah tipe pekerja; mereka di program khusus untuk membantu manusia dalam pekerjaan tertentu, seperti menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, customer center, supir, kurir, atau sebagai pengganti buruh produksi. Penampilan mereka beraneka ragam, namun pada dasarnya kita masih bisa membedakan mereka sebagai mesin.

Selain robot pekerja, ada jenis lain yang dikategorikan sebagai robot pintar atau AI (Artificial Intelligent). Evolusi dalam bidang AI ini memungkinkan robot memiliki kemampuan atau kepintaran seperti manusia—bahkan mungkin lebih canggih? Mereka bisa berpikir dan mengkaji masalah, secara sistematis AI akan mengkomparasi tiap kemungkinan kasus untuk mengambil keputusan berdasarkan opsi terbaik. Mereka mampu berbicara, berjalan, berperilaku layaknya manusia pada umumnya, bahkan diproduksi agar menyerupai manusia asli. Mulai dari sistem kinerja paru-paru untuk mengatur naik turun napas, pengaturan suhu tubuh, hingga elastisitas kulit dan penggunaan fungsi panca indera.

Singkatnya, AI adalah jenis robot canggih yang sulit dibedakan dengan manusia asli, namun jumlah mereka masih sangat terbatas karena tidak diproduksi secara massal.

Ada satu cara yang paling mudah untuk membedakan AI dengan manusia; robot tidak memakai Dextrale di pergelangan tangannya. Mereka mampu mengintegrasi semua perangkat elektronik langsung melalui sistem mesin dalam tubuh, jadi tentunya benda semacam Dextrale tidak lagi diperlukan. Atas perbedaan kecil namun signifikan itulah, satu bulan dari sekarang aku akan menjalani operasi penanaman chip Dextrale. Ya, mereka akan menanamkan benda itu di dalam tubuhku!

Membayangkannya saja sudah mengerikan … tch, nasibku memang malang.

.

.


TAKA Corporation

"Setelah rapat panjang tadi … kurasa kau lapar, Haruno-san? Ayo, kita makan!" ajak Ino sambil menyunggingkan senyum cantiknya.

Setelah selesai rapat sekitar dua puluh menit yang lalu, wanita ini bertugas mengantarku berkeliling, memperkenalkan lingkungan TAKA yang nantinya akan sering kudatangi. Kami banyak berbincang dan akhirnya aku tahu ia seumuran denganku … wah, berusia dua puluh dua tahun dan bisa menjabat sebagai asisten direktur TAKA? Wanita ini mengagumkan.

"Kau tidak perlu memanggilku se-formal itu, kita 'kan seumur? Yah … meski kalau dijumlahkan dengan waktu tertidur di cold sleep, umurku nyaris 100 tahun seperti fosil," aku menghela napas, "oh iya, apa boleh aku memanggilmu dengan panggilan non-formal?"

"Tentu saja! Senang mendengarnya, Sakura-chan! Sudah lama sekali aku tidak berbicara bebas seperti ini … aah lega rasanya. Setiap hari aku terbiasa dengan sebutan hormat," Ino tampak senang dengan usulku. Kami masih berbincang ketika mengambil antrian makanan, dan tampaknya sifat kami cocok, "Nah, kita sudah berada di food court, semua pekerja TAKA akan makan siang di tempat ini. Menu yang disediakan selalu beragam, bagian dapur di program untuk menyajikan set menu yang berbeda setiap harinya, dan menu yang sama baru akan terulang dalam waktu delapan minggu, alias dua bulan sekali. Jadi, kau tidak akan bosan pada pilihan menu yang itu-itu saja, Sakura-chan."

"Ckckck … hebat sekali," aku memandang ke sekeliling food court yang terletak beberapa tingkat di atas lantai perkantoran, hampir seisi lantai ini diisi oleh meja dan kursi juga beberapa counter panjang yang menyajikan makanan. Di sisi kanan dan kirinya juga terdapat counter side dish, termasuk beberapa lemari pendingin berisi aneka minuman ringan.

Ada yang menarik perhatianku; salah satu pekerja wanita menggunakan Dextrale-nya sebelum mengambil makanan, "Ino, wanita di barisan depan itu … untuk apa dia melihat Dextrale sebelum mengambil makanan?"

Ino melihat sekilas lalu tersenyum kecil.

"Wanita itu sedang menghitung jumlah kalori makanan yang ia butuhkan menggunakan Dextrale," Ino menurunkan volume suaranya, "kau pasti paham … di jaman apapun, musuh sejati seorang wanita adalah obesitas."

"Huh, tepat sekali," aku mengiyakan perkataan Ino sambil melihat ia melambaikan tangan pada salah satu rekan kerja pria yang menyapa. Yamanaka Ino memiliki kepribadian yang ramah dan mudah akrab dengan orang baru, sepertinya dia juga cukup populer di kalangan para pekerja pria. Terbukti, sejak kami mulai berkeliling, tidak sedikit yang mencari kesempatan untuk menyapa atau sekedar melirik dengan pandangan kagum. Tanpa sadar ketika Ino masih asyik mengoceh, aku justru teringat pada teman-temanku … mengingat kenangan yang kulakukan bersama mereka di Jepang.

.

"Ada apa, Sakura-chan? Tiba-tiba kau melamun," Ino menepuk pundakku, "apa ada masalah?"

"Oh—tidak kok, hanya saja … kau mengingatkanku pada teman di Tokyo," aku tersenyum masam, duduk di hadapan Ino sambil membawa nampan berisi makanan, "sifatnya ceria sepertimu. Dulu kami selalu berbincang dan tertawa, pergi menonton dan karaoke bersama, tapi kurasa sekarang tidak—haah sudahlah. Aku jadi merusak suasana makan ya?"

"Aku mengerti perasaanmu, Sakura-chan … tidak apa. Semua kenangan itu berharga, 'kan? Itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk mengingat keberadaan mereka," Ino tersenyum sambil melahap makanannya, "lalu, apa kesanmu tentang Tokyo? Apa jauh berbeda dengan Konoha?"

Mendengar pertanyaan itu, aku harus berpikir sejenak.

"Hmm, bagaimana ya … bagiku Tokyo adalah kota perpaduan antara budaya tradisional dengan kehidupan modern. Kota yang sibuk, tapi di sisi lain kau bisa santai sambil piknik di Ueno Park untuk menikmati pemandangan bunga sakura yang bermekaran. Rela berdesakkan hanya untuk melihat parade Sanja Matsuri di Asakusa … ah, aku jadi merindukan Tokyo," aku tersenyum ketika mengatakan semua kenangan itu, "setelah berada di masa depan, aku baru menyadarinya. Banyak hal sederhana yang kita abaikan, dan setelah semuanya hilang … kita baru sadar betapa pentingnya semua itu."

Aquamarine milik Ino hanya menatapku dengan tatapan sendu, seakan memahami perasaanku, "Kau benar. Manusia memang jarang mensyukuri hal-hal kecil dalam kehidupan …."

.

"Aduh! Maaf, Ino-chan! Kalau cerita sedih nanti makanannya jadi tidak enak! Sudah sudah, mari makan!" Aku mulai memasukkan satu suapan chicken steak ke dalam mulut, lalu mengunyahnya dengan cepat, "Justru aku penasaran tentang kehidupanmu di Konoha, kau seumuran denganku tapi bisa menjabat sebagai asisten si pant—ehm, Sasuke Uchiha. Ceritakan sesuatu dong … hmm, misalnya tentang keluargamu? Pacar?"

"Hahaha—kau lahap sekali, seperti sudah dua hari tidak makan!" Ino tertawa kecil ketika melihat aku sibuk mengoceh untuk mencairkan suasana, "Lalu apa yang harus kuceritakan, pacar? Tentu saja tidak punya! Kau tahu, pemerintah sampai ketakutan karena pola pikir masyarakat sudah bergeser. Kami tidak lagi memikirkan untuk berumah tangga karena biaya hidup di Konoha terlalu tinggi, seluruh masyarakat berubah menjadi workaholic. Aku sendiri sudah bekerja selama dua tahun di TAKA, susah payah mendapat kesempatan ini … semata-mata untuk bertahan hidup."

Aku mengerutkan alis. Bertahan hidup?

"Aku yatim piatu, seluruh kerabat dan orang tuaku … sudah meninggal tujuh tahun yang lalu," Ino tersenyum pahit, "mereka meregang nyawa karena tidak mampu membeli Zephyr. Hanya aku satu-satunya yang bertahan karena injeksi cairan itu masih berlaku untuk beberapa hari ke depan. Saat itu aku masih di bawah umur dan belum diperbolehkan bekerja, aku ketakutan … takut tidak bisa bertahan hidup dan mati seperti yang lain. Satu-satunya cara konyol terlintas di kepalaku adalah … mendatangi TAKA; sumber Zephyr. Aku bersedia mengemis, memohon, apapun … asal aku bisa mendapatkan Zephyr. Dan mungkin, hari itu adalah hari keberuntunganku."

.

.


Pagi itu hujan lebat, Yamanaka Ino meringkuk kelaparan di depan gedung bertuliskan "TAKA". Duduk sambil memeluk kedua lutut, bibirnya tidak bisa terkatup sempurna … ia menggigil kedinginan. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh guyuran hujan, dan sejak beberapa jam yang lalu Ino tetap berada di sana; mengemis di depan kantor TAKA. Jika tempat ini adalah sumber dari benda yang dinamakan Zephyr, mungkin ada kesempatan untuk menerima cairan itu secara cuma-cuma, 'kan?

"Tolong … siapa saja … aku membutuhkan Zephyr," tidak lagi bisa dibedakan yang mengalir di pipinya merupakan air mata atau hujan. Lalu lalang pria dan wanita acuh tak acuh melewatinya, mengabaikan teriakannya yang parau, "Tuan, Nyonya … aku berjanji akan membayarnya. Aku bisa membantu kalian … aku bisa melakukan apa saja yang kalian mau… tolong aku! Aku mohon belas kasihan kalian! Tolong!"

Sia-sia.

Tidak ada satupun yang peduli … semua berlalu tanpa melirik ke arahnya, sedikitpun. Saat meraung dan memaksa air matanya kembali turun, tiba-tiba Ino merasakan titik-titik hujan tidak menerpa wajahnya lagi, melainkan ada bayangan gelap yang menaunginya.

Ia mendongak ke atas.

Tepat di hadapannya, seorang pria berdiri dengan payung di tangan, memayunginya. Dari pakaian yang dikenakan si pria, Ino tahu itu adalah setelan berkelas, dan dari sepatunya ia tahu harganya tidaklah murah. Mungkinkah ini dewa penolongnya? Apa dia orang yang bisa menolongnya memberikan Zephyr?

.

"Hujan-hujanan begini kau bisa sakit," kata pria itu, "pulanglah. Mana orang tuamu?"

"Aku … sudah tidak bisa pulang, Tuan. Semuanya … mati!" Mengulurkan tangan mungilnya yang bergetar hebat karena kedinginan, ia meremas celana pria asing itu, "Tuan … tolong aku, aku membutuhkan Zephyr. Aku mohon … belas kasihanmu."

Bukannya mengusir, pria itu justru berjongkok … dan Ino bisa melihat sepasang onyx indah milik si pria berpayung, "Siapa namamu?"

"I—Ino, aku … Yamanaka Ino," menyebut namanya sendiri sulit, Ino begitu kedinginan, "aku mohon … bantu aku, Tuan. Aku mohon … berikan aku Zephyr."

"Kau menginginkan Zephyr?" pria itu bertanya lagi, kali ini ia menatap gelang Dextrale gadis kecil di hadapannya … lampunya berkedip dengan warna kuning. Tanda sebentar lagi cairan itu akan habis dan harus diinjeksi dengan yang baru, "Kau mau hidup?"

Aquamarine milik gadis itu sekilas berbinar, lalu mengangguk tegas. Maka, dengan satu gerakan, pria kaya raya di hadapannya mengangkat tubuh Ino dari atas lantai—tidak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup, menatap bocah perempuan itu sambil tersenyum.

"Bangunlah. Yamanaka Ino, kau tidak perlu mengemis selama kedua tangan dan kakimu masih bisa digerakkan," pria ini menyapu air mata yang membasahi pipi Ino, "berdiri, berusaha, dan bekerjalah untuk bertahan hidup. Sampai saat itu tiba, aku; Itachi … akan membantumu."

.

.


"Itachi Uchiha … dia pahlawan yang menyelamatkan hidupku. Perkataannya waktu itu selalu terngiang-ngiang, membuatku bersemangat," dan aku bisa melihat pupil Ino berbinar saat membicarakan si Uchiha sulung, "sejak saat itu, beliau menjadi wali yang membiayaiku hingga aku mampu mandiri. Aku berusaha keras mencapai titik ini, ingin menjadi seseorang yang bisa berguna dan membalas jasa Tuan Itachi. Aku juga memutuskan bekerja dan mengabdikan hidupku untuk TAKA. Perusahaan ini adalah segala-galanya untukku, Sakura-chan ... kupikir, jika hari itu aku tidak bertemu Tuan Itachi, mungkin aku sudah mati seperti gelandangan di tengah jalan."

Aku kagum, ternyata Ino juga sendirian … sama sepertiku. Tapi dia bisa melewatinya, berjuang untuk hidup meski orang tuanya sudah tiada. Ino mengabdikan dirinya untuk TAKA karena balas budinya pada Itachi Uchiha, tidak heran jika Sasuke begitu percaya pada gadis ini.

Aku tersenyum, "kau hebat, Ino-chan. Tapi sekarang kau tidak lagi sendirian, karena kita berteman, 'kan? Kita akan berjuang bersama-sama."

"Yeah, tentu saja!" sahut Ino dengan semangat sambil menyantap makan siangnya lagi.

Setelah mendengar ceritanya, anggapanku tentang dunia masa depan lagi-lagi terbuka. Konoha bukan hanya sekedar dunia modern yang penuh dengan inovasi teknologi, atau gemerlap dengan benda-benda canggih yang memudahkan hidup manusia. Ternyata, baik di sini maupun di Jepang, bahkan belahan dunia manapun, selalu ada roda nasib yang berputar.

Kau harus berjuang mempertahankan yang sudah kau miliki, berusaha meraih yang kau inginkan, dan mati-matian menghindari yang bisa membuatmu terjungkal. Bahkan ketika aku tertidur selama puluhan tahun pun … seleksi alam dan roda nasib tetap bergerak, tanpa belas kasihan.

.

.

.


TAKA Corporation – Laboratory

"Apa kau bisa melihat tampilan berwarna hijau, Sakura?"

Aku mengangguk.

"Semua kode itu hanya kau yang bisa melihatnya. Hijau adalah rute yang harus kau ikuti, sedangkan titik-titik berwarna merah adalah simbol dari pintu yang terkunci. Pintu-pintu itu tidak bisa dibuka dengan Dextrale tanpa kata sandi, jadi jangan sampai terjebak. Kau mengerti, Sakura? Apa simulasinya bisa kita mulai sekarang?"

"Ya. Aku siap, Karin-san!"

"Baiklah, simulasi akan dimulai dalam hitungan tiga … dua … satu …."

Pemandangan di depan mataku berubah. Aku dikelilingi tembok pembatas setinggi dua meter, berbentuk labirin panjang dan berliku. Aku segera berlari mengikuti tanda berwarna hijau yang bergerak seperti anak panah penunjuk arah, sambil menjulurkan tangan dan membuka pintu menggunakan Dextrale, terkadang melompati beberapa rintangan.

Tiba-tiba di ujung pertigaan terjadi pencabangan rute; dan di dalam pandanganku terlihat angka-angka yang menunjukkan radius dalam hitungan meter … mengkalkulasi jarak posisiku dengan rute keluar. Dalam hitungan detik aku memilih jalur terdekat, berlari sekencang mungkin. Sekelebat cahaya muncul dari depan, menyeruak di sepanjang lorong dan terangnya nyaris membuatku buta.

.

.


Simulasi berakhir dalam hitungan dua puluh tiga menit, aku melepas satu per satu alat yang menempel di tubuhku. Sambil mengusap keringat dengan handuk setelah selesai melakukan simulasi digital, Emerald-ku mengamati wanita dengan rambut crimson di hadapanku. Karin benar-benar serius dan mendetail dalam artian "normal" jika sudah menyangkut pekerjaan. Tapi di luar itu … dia akan berubah 180 derajat; menjadi seorang wanita hiperaktif yang gila game dan mengidolakan sang direktur TAKA. Mungkin seperti yang dikatakan Juugo, dia punya kepribadian ganda?

Ketika menoleh ke ruang tunggu, Sasuke Uchiha masih duduk menatapku tanpa berkomentar ... tapi aku tahu, matanya sejak tadi memperhatikan proses penelitian yang dilakukan oleh Karin. Oke—biar kujelaskan sesuatu; dua belas hari telah berlalu setelah pertemuan rapat waktu itu, alias sudah menginjak dua puluh hari setelah aku terbangun dari cold sleep. Ini juga ke sekian kalinya aku menjalani simulasi, di mana Karin berusaha memasukkan bermacam-macam program untuk mendukung penyamaranku sebagai robot.

Sampai saat ini aku sudah mencoba mengoperasikan beberapa software, mulai dari translator bahasa, pemindai sensor, hingga yang baru saja kulakukan … pengoperasian GPS dan pelacak. Semua program ini akan di uji coba secara intensif sebelum mereka menanamkan chip Dextrale pada tubuhku awal bulan depan. Pada tiap-tiap penelitian aku akan didampingi oleh salah satu di antara Sasuke, Sai, atau Ino Yamanaka. Karin tampak puas dalam proses simulasi hari ini, review pun selesai lebih cepat … dan tentunya aku sudah menunggu-nunggu saat ini tiba; jam makan siang!

.

.


Sasuke Uchiha kini duduk di hadapanku, memegang peralatan makan namun diam tak bergerak. Aku baru menyadari bahwa onyx-nya sedang menatap datar … ke arahku, membuatku canggung. Entah apa yang dia lihat dari sosok Sakura Haruno yang sedang melahap makan siangnya.

Dia kenapa sih, selera makanku 'kan jadi berkurang kalau dia melihat dengan tatapan alien seperti itu?!

"Sasuke-san, kenapa?" aku berhenti mengunyah, "Apa di wajahku ada kotoran? Saus, krim?"

"Kau kelaparan, atau makanannya memang sangat enak?" sebelah alisnya terangkat naik, "Kecepatan makanmu luar biasa, Sakura."

Aku balas menatapnya dengan tatapan sinis … tch, itu pujian apa hinaan?

"Keduanya," aku menggembungkan pipi, "ya ampun … tatapanmu seperti sedang melihat alien yang menyantap daging manusia, Sasuke-san."

Tidak menimpali perkataanku, Sasuke hanya menyeringai penuh arti dan mulai menyantap makanannya.

.

"Proses simulasinya berjalan dengan lancar," kata Sasuke, "menurut Karin, gerak refleks dan pemahamanmu juga cukup baik. Tubuhmu tidak perlu terlalu lama beradaptasi dengan perangkat lunak yang ia berikan."

"Benarkah? Aku senang mendengarnya, Sasuke-san!" sungguh, mendapat kata pujian dari pria ini adalah sebuah anugerah, "Kuharap semua simulasi berjalan dengan baik sampai awal bulan nanti."

"Hn." Pria emo ini hanya mengangguk, kami kembali makan tanpa bercakap-cakap.

Perihal hubunganku dengan si pantat ayam … hmm, bisa dibilang tidak se-kaku sebelumnya. Kami lebih banyak berkomunikasi—meski mayoritas hanya membahas soal penelitian sih, tapi kurasa aku mulai terbiasa berada di dekatnya. Sudah bisa diperkirakan bahwa seluruh tatapan akan beralih pada meja kami, di mana aku dan Sasuke Uchiha duduk untuk makan siang bersama. Awalnya memang terasa canggung, tapi lambat laun aku terbiasa. Apalagi Sasuke sendiri terlihat acuh pada semua tatapan yang ditujukan padanya.

"Sakura, kau tidak makan tomatnya?"

Onyx Sasuke hanya menatap lurus; letak di mana aku menyisihkan irisan tomat di pinggiran piring.

"Eh?" Aku menggeleng, "Tidak, ke—kenapa?"

"Boleh kuambil?"

Sebelum aku sempat mencerna kata-katanya, pria yang berusia lima tahun di atasku itu langsung memindahkan dua iris tomat dari piringku menuju mulutnya. Sekilas dan benar-benar langka, aku melihat raut wajah Sasuke yang tampak berbinar ketika melahap potongan tomat.

Hei, siapa yang menyangka bahwa sosok dingin bagaikan es ini ternyata penggila tomat?!

.

"Kenapa kau senyum-senyum begitu?" sebelah alisnya naik ketika mendapati aku terkekeh.

"Ah—tidak, hanya saja … kau terlihat sangat menyukai tomat." Sekuat tenaga aku mencoba menahan tawa sampai mencubit tanganku sendiri. Hahaha—apa boleh buatpemandangan Sasuke Uchiha berbinar pada tomat itu terlalu sayang untuk dilewatkan!

"Apa aneh?" tanyanya lagi.

"Aneh? Tentu saja tidak, Uchiha-san. Justru bagus karena aku tidak suka tomat!"

"Oh," dan percaya atau tidak, Sasuke menyunggingkan senyum tipis saat mengakui dirinya penggila tomat, "ya … aku memang suka tomat."

Aku menyeringai puas ... informasi yang kudapatkan tentang Sasuke pun bertambah.

Kau tahu? Hidup seatap bersama seseorang secara otomatis membuatmu mengingat kebiasaan bahkan pola hidup mereka, dan dalam hal ini aku mengamati sosok atasanku sendiri; Sasuke Uchiha. Pria workaholic berusia dua puluh tujuh tahun ini tidak bisa hidup tanpa kopi hitam, membenci semua makanan manis, dan ternyata … penggila tomat.

Sasuke hanya mengenakan pakaian berwarna hitam, abu, putih, dan navy. Waktu 24 jam serasa tidak pernah cukup, ia menghabiskan waktu weekend-nya dengan berolahraga pagi sebelum membenamkan diri dalam beberapa dokumen kerja sampai sore hari. Hee—tunggu dulu, apa aku terdengar seperti menghafal pola hidupnya? Tidak! Salah besar! Sekali lagi kutegaskan ya. Aku mengetahui pola hidupnya karena tinggal seatap, bukan sebagai fans fanatik atau stalkernya kok!

.

.

.


"Uchiha-sama?!" gelak tawa dan berbagai perbincangan di ruang makan mendadak hening pada teriakan itu. Seluruh pandangan tertuju pada Yamanaka Ino, wajah cantiknya berubah panik … ia berlarian mencari letak keberadaan sang direktur TAKA, "Uchiha-sama!"

"Ino-chan, kami di sini!" Aku melambaikan tangan agar gadis itu bisa melihatku, sementara Sasuke masih tenang menggigit potongan tomat terakhir.

"Uchiha-sama, itu—ehm, maaf mengganggu waktu makan siang Anda. Pria bermarga Hyuga itu datang lagi … dia bersikeras menunggu di depan ruang kerja Anda," dengan napas tersengal-sengal Ino melapor pada sang Uchiha, "aku sudah mencoba melarang, tapi dia memaksa."

"Hn? Aku sudah bilang akan menelepon jika butuh bantuannya … dan seingatku, sampai saat ini aku belum memberikan jawaban apapun." Sasuke tampak tidak peduli, ia menenggak minumannya dengan wajah tanpa ekspresi, "Aku tidak punya janji dengannya, 'kan? Suruh dia pulang."

"Ta—Tapi, tadi dia menyebut tentang surat ancaman," Ino berusaha menjelaskan dan kata-katanya barusan berhasil membuat Sasuke menoleh, "barang-barang Kiba Inuzuka telah diperiksa oleh badan keamanan, dan mereka … menemukan surat ancaman terselip di sakunya. Lalu, Hyuga-san memberikan foto ini untukmu, Uchiha-sama."

Ino menyerahkan beberapa lembar foto pada atasannya. Aku tidak sempat melihat isi gambarnya, namun raut wajah Sasuke sontak berubah … alisnya berkerut, "I—ini, apa maksudnya?"

"Surat ancaman yang ditemukan pada barang-barang Kiba sama dengan yang kita terima lewat e-mail beberapa hari yang lalu," Ino menarik napas dalam-dalam seraya membungkukkan badan; mencegah suaranya terdengar oleh orang lain di ruangan itu, "sepertinya sengaja dikirimkan untuk seluruh kandidat Children of Konoha, termasuk Anda. Ada kemungkinan nyawa Anda berada dalam bahaya … jadi Hyuga-san meminta Secret Service segera datang menemui Anda, Uchiha-sama."

Sasuke tampak terkejut seraya mengepalkan tinjunya, "Ugh, sial."

Aku bisa mendengarnya … ada seseorang yang mengincar nyawa Sasuke?!

.

"Yamanaka, minta Karin menyembunyikan data penelitian Zephyr, dan cepat bawa Sakura pergi dari sini," Sasuke segera berdiri dari tempat duduknya, "biar aku yang menghadapi si Hyuga."

"Kenapa, Tuan?" Ino terkejut.

"Saat ini Secret Service sedang menuju kemari, mereka masih menyelidiki penyebab kematian Kiba termasuk tentang surat ancaman itu. Jika memang ini menyangkut Children of Konoha, ada kemungkinan seluruh kandidat yang menerima surat ancaman akan ikut diperiksa. Tch, kita tidak boleh lengah, Yamanaka ... cepat bawa Sakura pergi."

"Baik!" Yamanaka Ino segera meraih pergelangan tanganku, "Ayo kita pergi, Sakura-chan."

"Tunggu dulu! A—Ada apa ini, Sasuke-san?" aku tidak mengerti, "Ino-chan?"

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, pria itu berlalu … meninggalkan food court dan membiarkan aku mematung bersama Ino. Langkah-langkahnya begitu cepat, dalam sekejap Sasuke Uchiha sudah menghilang dari pandangan kami.

"Akan kujelaskan nanti, Sakura-chan. Yang terpenting sekarang adalah membawamu pergi." Wanita berambut pirang ini juga tidak tinggal diam, Ino menarik pergelangan tanganku—setengah menyeret tubuhku agar berjalan mengikutinya. Kami bergegas meninggalkan ruangan makan dan mengambil rute belakang menuju elevator yang menyambungkan lantai ini langsung dengan basement parkir.

.

Aku tidak mengerti … sebenarnya apa yang terjadi?!

.

.

.

Bersambung

.

.


Author's Note :

Chapter empat selesai! Sekarang muncul karakter Juugo dan Karin dengan sifatnya yang aneh. Sakura harus terima nasib jadi robot AI, Ino sama Sakura akhirnya berteman dan diceritain juga gimana masa lalu Ino. Interaksi Sasusaku-nya juga nggak se-kaku sebelumnya. Gimana dengan chapter ini? Semoga masih tetap menarik ya ... Cerita Hegemony ini akan publish setiap tanggal 7 dan 20 (bisa selisih satu atau dua hari)—menggantikan cerita Shattered Memories yang sudah tamat. Terus selanjutnya, ada yang mau saya perkenalkan (karena tidak diperkenankan ngedit satu pun kata-kata di bawah … tolong ambil hikmahnya aja, saya nggak sejahat itu, LOL). Ini dia :

.

Halo semuaa salam kenal yaa! ini dipaksa ngetik sama orang yang sekarang lagi seenaknya ngemil persediaan makanan makhluk lemah kayak gw #nangis di pojokan meluk bungkus snack kosong. Ngga tau mau dipanggil apa (semua nick yg direkomen si jitan jelek :p) yaa pokoknya, gw hadir sebagai sosok wanita yang terjebak buat bantuin jitan jadi cewek—eh mxdnya bantuin buat bikin karakter cewek disini hahahahaha.

AAAHH tapi bisa-bisanya gw terjerumus buat bantuin cuma gara2 terlena traktiran KFC GOCENG! Hiks nggak elit banged kan?! #demo pengen traktiran yg mahal T_T

Oya makasih loh buat yg suka sama karakter Sakura ato cewek yg laen disini, gw juga usahain bikin scene romance, berhubung cowok kan hobinya ngetik macem gontok-gontokan. Kalo soal cerita n editan typo itu bagian si jitan aja. Duuh andai kadar rajin bikin cerita fanfic seimbang sama rajinnya dia dunia nyata, pasti ujan badai tuh kekekeke! #author ga boleh edit kata-kata ini, AWAS loh!

Ya udah deh sekian aja! Review bagian author yg bales yaah. Sampai ktemu di chapter depan kalo gitu? Bai baaaiii~

.

Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan ke depannya.

Dan ini balasan review chapter ketiga :

Love Foam : hahaha ngirain saya cewek? Sekarang saya kenalin aja sama cewek tulen yang untungnya bisa bikin Sakura dan cewek lainnya bersifat feminin, LOL. RnR lagi oke?

Alifa Cherry Blossom : saya update, wah Itasasu dipeluk nih … baca cerita Ino sedih nggak?

mautauaja : salam kenal dan saya memangmautau, iya thank you buat reviewnya. Romance sasusaku memang ditunda dulu "on progress" maksudnya, saya update… mampir lagi?

Hanazono yuri : thank you! Neji nanti pasti kenal Sakura, hehehe. Updatenya ngikutin tanggal SM dulu kok, tanggal 7 dan 20 :D

A first letter : saya update dan thank you! RnR lagi oke?

Hikari Ciel : yup saya cowok, nggak apa banyak yang baru sadar juga kok. saya update dan thank you buat reviewnya kemarin! RnR lagi oke?

Racchan Cherry-desu : hahaha thank you sudah review dan senang kalau suka sama cerita ini, jangan lupa mampir lagi di chapter ini ya. Salam kenal juga :)

Nyakoi-chan : romannya akan segera muncul, tapi seperti biasa diseling dengan ceritanya ya? Sasu nanti juga tertarik sama saku kok, udah ada sutradara yang merancang plotnya… oke saya semangat, wah dikedipin juga :D

Flavour : Saku ketemu keluarganya mungkin susah ya, hehe. RnR lagi oke?

Veoryxocie : nulis penname-nya susah xD. Resapan ilmiah, hahaha masa sih … sisanya sudah dijawab di PM waktu itu ya, kalau bisa Sakura dibuat lebih apa? Kalau kepikiran, boleh ditulis di sini oke?

erefpe : kaitan Kiba dengan Sasuke udah dibahas sedikit disini ya, chapter depan sudah mulai masuk keterkaitan judul dengan cerita. Naru-chan … nggak seru kalau makhluk itu nggak ada, tunggu aja :D

Tsurugi De Lelouch : Halo, hehehe iya nanti keterkaitan Hegemony sebagai judul dan cerita bakal lebih banyak dibahas di chapter depan. Semoga untuk yang ini juga tetap menarik ya.

guest : saya update dan thank you! RnR lagi oke?

Levi : thank you! Saya update tiap tanggal 7 dan 20 biar gampang diingat hehe.

Dijah-hime : wkwkwk terlalu sci-fi? Terima kasih buat reviewnya dan ditunggu komentarnya lagi yaa.

Mizuira Kumiko : Hai sist, masa chapter kemarin kurang panjang? Sekarang saya panjangin nih, semoga sudah cukup panjang ya … suka sama sifat Sasuke yang misterius? RnR lagi sist! ^^

WIZARfourZOoo : Naruto sih ditunggu aja kemunculannya. RnR lagi oke?

Akasuna no ei-chan : ei-chan, thank you sudah mampir! Hahaha iya minus bibir frontalnya saya hapus dari Sai, gimana dengan chapter ini?

Ichiro kenichi : saya update dan thank you! RnR lagi oke?

Ran-chan UchiHaruno Eternal BeSome's : wahahaha sakura bodo-bodo kenapa Saku-nya (mirip yang buat kayaknya) LOL. Hmm untuk reviewnya kemarin sudah dibaca sama yang bikin karakter Saku, jadi ditunggu aja hehehe. Terima kasih banyak reviewnya, nggak apa justru bagus kalau banyak curcol … banyak masukan juga buat author-nya. Mau panggil jitan-kun atau jitan juga boleh kok :D

Foetida : Sai nggak makan roti soalnya suka nasi timbel… hmm kenapa aneh kalau dia jadi objek penelitian tapi sebagai robot? LOL komentar rese, nyadar nih *ngakak*. Kenapa susah, bukannya Zephyr sama Dextrale aja?

Roquezen : nggak apa yang penting tetep review kan … yaah ternyata tetep aja Sai yang juara, sist?

guest 2 : thank you! RnR lagi oke?

Lhylia Kiryu : salam kenal juga Kiryu-san, thank you yaa buat review dan fave-nya :D

zezorena : Hahahaha dikira mau dijadiin istri malah jadi robot, jauh ya xD. Thank you, RnR lagi ya?

cheinnfairy : haloo, wah mampir juga … penambahan pemain ada dong pastinya, kayak SM aja nanti (semoga ceritanya bisa lebih simple), komen lagi ya disini?

riyu : saya update dan thank you! RnR lagi oke?

Kasih hazumi : hahaha iya nasibnya di Konoha harus jadi robot :D

Ellysia : ya ampun sampai kaget kalau saya cowok, hehe. Kaitan Kiba dan Sasuke dibahas di chapter depan ya, Aeon Flux saya pernah nonton tapi lupa … gelangnya berfungsi jadi apa ya?

Aydhien : Wah thank you sekali kalau jadi favorit Aydhien, boleh deh nyicil juga kasih 10 jempolnya… mulai dari sekarang juga boleh, jadi RnR lagi dong?

selaladrews : halo lala-chan :D Wahaha iya bikin sudut pandang perempuan itu susah, jadi saya minta bantuan ke orang yang sudah saya kenalkan di atas, soal Zephyr dan Dextrale itu semuanya fiktif kok, dan kematian Kiba bakalan dibahas di chapter depan. Ikutin lagi ya?

Sakuhime chan : wah thank you sudah baca Shattered Memories dan mampir kesini juga. Senang kalau dua cerita Naruto bisa diterima, thank you sekali lagi! haha siapa bilang nggak bermutu? RnR lagi oke?

Akiko Mi Sakura : haha mau digendong sama Sai? Okee nanti Sasusakunya dibanyakin, thank you buat review dan favenya, ini saya update :D

Sampai jumpa di chapter depan! :D

-jitan-