The Legend of Snow White

Hari itu semakin dekat. Naruto semakin gelisah di buatnya. Ia terus mondar mandir di depan cermin ajaibnya dan membuat para pelayan dan prajurit yang melihat kebingungan serta gelisah. "A-ada apa yang mulia?" Seorang pelayan tua berusaha menenangkan sang Ratu. Ia membawa Naruto untuk tenang dan duduk dengan nyaman di bangku meja hias miliknya. "Yang mulia menginginkan sesuatu?" tanyanya penuh rasa hormat.

"Pergi." Desis Naruto. "Maaf yang mulia?" Pelayan tua itu menatap Naruto tidak mengerti. "AKU BILANG PERGI." Raungnya.

"B-baik." Sautnya cepat dan kemudian meninggal Naruto.

Sekarang Naruto hanya menunggu kedatangan Sasuke membawa Hinata kembali padanya. Dia masih memiliki waktu 5 jam untuk ritual keabadiannya atau bahkan ritual kematiannya. "Tenanglah Milady. Lihat siapa yang Uchiha ini bawa." Sang cermin menampilkan sosok Sasuke dan para Dwarf yang membawa Hinata. "Bagus." Tukas Naruto. "Aku tidak menyangka jika mereka juga ikut andil membantu Sasuke. Tch."Naruto berdecih.

"Hukum mereka. Jangan biarkan mereka menghianatimu lagi." Seluet Hitam itu perlahan keluar dari cermin dan berubah wujud. Sedikit demi sedikit mulai berbentuk sesosok pria dengan surai merah dengan sembilan ekor mencuat dari belakangnya.
"Aku mengerti Ku Nii-chan." Naruto mendengus.

Sementara itu di perjalanan menuju istana Naruto. Karin tak henti – hentinya bergerak gelisah. "Ada apa Karin?" Sakura menatap bingung temannya itu. Karin semakin gelisah saat mendengar perkataan Sakura dan langkahnya pun terhenti. "Ada apa Karin?" Kali ini Shikamaru yang bertanya.

"K-kalian. Aku tidak pernah terlibat soal ini. Aku tidak mau dihukum Naruto." Karin memekik dengan suara bergetar. Kini Sakura pun ikut gelisah karenanya. "A-aku juga." Timpalnya. "Sudah berapa lama kita menyimpan kepercayaan yang Naruto berikan. Aku tidak mau merusaknya gara – gara anak pembawa sial ini." Perkataan Sakura membuat Hinata tersentak. Hinata melangkah ke arah Sakura dan..

PLAAAKKK

Telapak tangan Hinata mendarat mulus di pipi Sakura dan dengan penuh emosi Karin membalas tamparan Hinata pada Sakura. "Jaga sikap mu Nona. Jika bukan karena Naruto memerlukan nyawamu mungkin akulah yang terlebih dahulu membunuh mu." Geramnya kemudian menarik Sakura untuk berjalan meninggalkan Hinata dan kelima temannya.

"Jika kau tidak mau mati sekarang lebih baik kau berhati hati pada karin." Tukas Shikamaru menyusul langkah Karin dan Sakura.

"Kau tahu Nona. Jika kau bukan putri dari Raja terdahulu mungkin aku sudah tertarik." Kiba terkekeh. "Kau tidak akan pernah percaya dengan apa yang telah kedua orag tuamu lakukan padan Naruto dan kami dahulu. Jika kau orang baik mungkin kau akan membenci kedua orang tuamu." Kiba menarik tangan Hinata untuk melajutkan perjalanan mereka yang tertunda.

Di ruang bawah tanah. Naruto berdiri tegak di tengah lingkaran sihir berbentuk bintang. Matanya menerawang menatap ke langit – langit ruangan. Di tempat inilah awal mula semua ini terjadi. Dan di sini jugalah Naruto akan mengakhirinya.

Tep

Langkah kaki terdengar dari belakang tubuhnya. "Kalian sudah sampai?" Tanyanya terdengar datar. "Aku sudah lama menunggu di sini Sasuke."

"Maafkan saya sudah membuat anda menunggu lama." Sasuke membungkuk. Pada akhirnya rencana Sasuke untuk menyelamatkan Naruto pun gagal. Shikamaru dan Kiba mendorong Hinata untuk mendekati Naruto namun Hinata berontak. "TIDAK LEPASKAN AKU, AKU TIDAK AKAN MATI SEPERTI INI. KALIAN SEMUA ANEH. APA MAKSUD KALIAN MENGENAI ORANG TUA KU. KALIAN BRENGSEK." Umpatnya.

Naruto menghela nafas kemudian berbalik. Ia berjalan perlahan menghampiri Hinata lalu mencengkram kuat rahangnya. "Sepertinya aku harus membuka luka lama." Naruto tersenyum horror dan berhasil membuat Hinata bergidik ngeri.

"Baiklah. Akan ku perlihatkan KEBAIKAN yang telah orang tuamu lakukan pada kami." Naruto kembali berjalan ke tengah lingkaran sihir dan merentangkan tangannya.

Tahu akan kode dari Naruto Sakura, Karin, Kiba, Shikamaru, Jugo, Suigetsu dan Shino menghampiri Naruto dan mengelilinginya. Naruto mulai membaca mantra di bangkitkan kenangan masa lalu mereka berdelapan dan memperlihatkannya pada Hinata.

Flash Back...

Tawa ceria itu menggelegar di dalam sembuah rumah pohon. Uzumaki Naruto kecillah yang memiliki suara cempreng yang super nyaring itu. "Berhentilah tertawa. Kau mengganggu tidur ku." Gerutu Shikamaru di pojokan sana.

"Ne ne Sasuke. Kau kalah dan kau harus menjadi pelayan ku." Naruto terkekeh. Ia senang sekali dapat mengalahkan Sasuke dalam bermain catur. Yah biasanya dirinya selalu kalah. Berkat tips dari sang kakak Naruto berhasil menaklukan si jenius Uchiha Sasuke.

"Naruto. Kemari. Biar kami mengikatkan rambut mu." Pekik Karin dan Sakura yang sudah siap dengan karet rambut dan beberapa bunga untuk di sematkan pada surai pirang Naruto. "Oke." Naruto dengan cepat menghampiri mereka berdua. Benar – benar damai dan menyenangkan pagi hari itu di kerajaan Konoha. Keberuntungan bertubi – tubi menghujam Naruto.

"Selesai." Pekik Karin dan Sakura. "Naruto terlihat sangat cantik." Puji Karin tulus. "Hm Putri Naruto pasti akan sangat cocok menjadi Ratu kelak." Sakura mengacungkan jari padanya. Naruto hanya tersipuh malu pada.

"Naruto. Anak – anak ayo turun. Waktunya makan malam." Pekik Sosok pria dari bawah sana. "Matte ne Tou-sama. Naru segera turun." Berduyun – duyun mereka turun dari rumah pohon dan di sambut dengan tangkapan dari Raja Minato ayah dari Naruto serta raja kerajaan Konoha.

"Bibi pelayan masak apa hari ini Tou-sama?" Naruto bergelayut manja di gendongan ayahnya. "Tentu saja masakan kesukaan mu." Jawabnya. "Dan juga kalian." Melirik para anak – anak yang sedari tadi membuntutinya. "Yes." Bisik mereka girang.

"Apa Ku Nii-chan sudah kembali?" Naruto menatap mata sang ayah. "Dia masih dalam perjalanan pulang putriku. Kita doakan semoga Kurama membawa berita bagus untuk kita." Minato membelai surai pirang sang anak.

Tiba mereka di sebuah ruang makan. Berkesan luas dan mewah. Pelayan berbaris meletakan makanan satu persatu di atas meja. "Ano ne. Saya hanya anak dari seorang pelayan. Apa boleh makan bersama Tuan Putri di sini." Sakura menunduk sembari memainkan jarinya. Wajar ia merendah ketika melihat status dirinya dan Naruto berbeda. Mendapat izin bermain serta menjadi teman Naruto saja sudah dapat membuat Sakura begitu senang, begitu juga yang ada di pikiran Kiba, Jugo, Shikamaru, Shino dan Suigetsu.

"Kenapa kau berkata seperti itu Sakura-chan. Cepat duduk dan makan." Titah Naruto sembari menunjuk bangku di sampingnya dengan bangku. "Dengar? Calon Ratu sudah bertitah." Minato terkekeh. "Tidak perlu sperti itu. Kalian adalah teman – teman Naruto. Naruto akan sangat senang makan bersama kalian."

"Waaah Arigato." Wajah Sakura kecil berbinar senang. Mereka pun makan bersama dan menyantap hidangan kesukaan masing – masing dengan lahap. Saking lahapnya membuat Naruto tersedak. "Air.." Rengeknya.

"Ini airnya Naru-hime." Dengan cepat Naruto mengembat air di atas sebuah nampan di sampingnya. Seketika ia tersadar akan sesuatu. Suara barusan...

"S-s-s-sasuke?" Naruto terperanjat. Sedikit syok atau lebih tepatnya sangat syok dengan yang ia lihat sekarang. Sasuke dengan pakaian lengkap khas pelayan. "Saya adalah pelayan anda mulai sekarang Naru-hime." Sasuke membungkuk kemudian mencium bukuk tangan Naruto tanda pengabdian dan kesetiaanya.

"A-a-a-a-a-a-..." Naruto tidak bisa berkata – kata. Ternyata Sasuke menanggapi serius taruhannya. Di tambah lagi wajah Naruto sudah semerah tomat sekarang akibat perlakuan Sasuke dan juga errmmm penampilannya. Sang ayah hanya beserta sang butler pribadinya Uchiha Fugaku ayah atau dari Sasuke hanya bisa tersenyum sedangkan teman – teman lainnya berteriak histeris.

Uchiha memang sejak dulu merupakan pelayan setia Uzumaki secara turun temurun. Fugaku memiliki dua orang anak begitu pun Minato. Uchiha Itachi anak sulung dari Fugaku mengabdikan dirinya untuk Putra Mahkota atau anak pertama dari Minato. Dan putra bungsunya sepertinya akan mengabdi pada sang Putri bungsu Minato, Uzumaki Naruto.

Masa kecil mereka lalui dengan penuh canda tawa dan kegirangan di sepanjang harinya. Dan sampai sekarang Sasuke tetap selalu menjadi pelayan pribadi Naruto. Semua hal tentang Naruto hampir semua Sasuke ketahui.

Kini usia Naruto genab berusia 17 tahun. Konoha hendak mengadakan pesta pernikahan karena Putri Naruto sudah beranjak dewasa. Ya, Naruto akan di nikahkan dengan Putra Mahkota Kurama. Mungkin pernikahan sedarah terdengar tabu bagi kebanyakan orang. Namun Klan Uzumaki nyaris punah. Hanya tersia Karin, Kurama dan Kushina keturunan murni klan Uzumaki. Demi melahirkan generasi baru Klan Uzumaki Minato memutuskan untuk menikahkan putra sulung denga putri bungsunya. Ada sebuah legenda mengenaik Klan Uzumaki. Konon, klan itu memiliki sebuah kekuatan besar yang mampu merubah segalahnya. Karena alasan itulah klan Uzumaki di buru dan di bunuh. Banyak kerajaan – kerajaan luar yang takut akan keberadaan Klan Uzumaki. Namun pangeran dari Konoha berhasil menyelamatkan dua dari mereka. Ya Sang istri beserta adiknya, Kushina dan Karin.

Tak seperti biasanya. Sasuke hari ini tak terlihat bersemangat. Ia duduk di tepi tebing memandangi samudra luas dengan tatapan sendu. Ia sudah tahu jika Naruto sudah ditunangkan dengan Kakaknya sendiri sejak kecil. Sekarang hatinya meronta seolah tidak terima. Tidak seharusnya bukan dirinya memiliki perasaan spesial terhadap majikannya? Sasuke paham. Ini adalah sebuah cinta terlarang. Setidaknya Sasuke akan selalu berada di samping Naruto dan menjadi pelayan Naruto hingga akhir umurnya.

Pernikahan Naruto akan segera di selenggarakan. Naruto berdiri di depan cermin memandangi pantulan dirinya yang tampak begitu anggung dengan gaun pengantin. Senyum nya merekah mengingat hari bahagia yang sudah di depan matanya. "Bagaimana penampilan ku Sasuke?" Naruto berbalik menatap Sasuke.

"Anda sangat cantik Yang Mulia." Puji Sasuke tulus. "Benarkah." Senyum Naruto semakin mengembang mendengarnya. Sasuke pun ikut tersenyum merasakan kebahagian Naruto. Walau tak bisa di pungkiri kini hatinya tengah menangis.

Namun seketika perasaan Sasuke menjadi tidak nyaman. Segera ia menatap keluar jendela kamar Naruto untuk memastikan sesuatu. Ia tersentak dengan cepat ia menarik tangan Naruto. "A-ada apa?" Tanya Naruto heran. "Konoha di serang." Wajah Naruto memucat seketika saat mendengar perkataan dari Sasuke.

Sasuke hendak membawa kabur Naruto namun mereka berhasil tertangkap oleh segerombolan orang tak di kenal. Mereka di bawa dan di ikat di ruang bawah tanah. "Kaa-sama, Tou-sama, Ku Nii, Paman Fugaku, teman – teman." Rintih Naruto saat melihat orang terdekatnya berada dalam kondisi yang sama dengannya. "Apa yang sedang terjadi?"

BRAAK

Kepala Naruto di tendang dan tersungkur tepat di depan Kurama. "NARUTO." Raungnya. "Apa yang kau lakukan padanya?" geram Kurama.
"Aku tidak suka suara berisik." Tiba – tiba muncul seorang pria dari balik kegelapan. "Aku Hyuuga Hiashi."

Sraaaakkkk

Pedang melesat ke arah leher Minato hingga kepalanya terpental dan menggelinding. "Raja baru tempat ini."

"KYAAAAAAAAA." Teriak Naruto histeris. Melihat sang ayah mati tepat di depan matanya. Naruto meronta – ronta untuk melepaskan ikatan pada tangannya. "TOU-SAMA TOU-SAMA TOU-SAMA." Tangis histerisnya. Kushina, dan Kurama membulatkan matanya tak percaya. Terlalu syok hingga membuat suara bahkan air mata mereka tak keluar. Sedangkan Sasuke, Fugaku, Sakura, Karin, Shino dan lainnya hanya memalingkan wajah. Mereka terlalu tidak sanggup untuk melihat kematian Minato yang sangat tidak manusiawi.

"Tou-sama." Naruto tersungkur. Gaun pengantin putihnya kotor. Make up nya luntur akibat air mata. Apa tidak ada yang bisa membantunya sekarang.

"Aku tidak akan menyerahkan konoha padamu." Ucap Kushina dengan suara bergetar. "Kau mungkin akan membunuh ku, Putra ku dan siapa pun yang akan menjadi penerus Minato. dan juga mungkin kau sempat merasakan nyamannya tahta Minato. itu tidak akan bertahan lama."
"Atas dasar apa kau berani mengatakan itu pada ku." Hiashi menendang kepala Kushina hingga menghantam lantai semen yang kasar dan kotor.

"Akkhh." Ringisnya.

"Camkan perkataan ku." Lanjut Kushina. Tiba – tiba cahaya merah mulai menyelimuti Kushina, sinar merah itu membuat lantai bereaksi dan memunculkan lingkarang sihir. Dan membuat Hiashi serta anak buahnya terpental jauh dari mereka. Kusina menggunakan kekuatannya untuk membawa pergi sandera ketempat yang lebih aman.

Tiba di tengah Hutan. Selepas membuka ikatan putra putri dan lainnya Kushina langsung pingsan. "Kaa-sama." Naruto dan Kurama langsung merangkul Kurama. "Apa yang sebenarnya terjadi Ku-nii?" Naruto menangis menatap sang kakak. Kurama hanya menunduk. "Mereka melanggar perjanjian. Mereka dari kerajaan tetangga tempat aku mengirimkan gulungan perjanjian." Jelasnya.

"Lebih baik kita berada di sini dulu untuk sementara." Kurama bangkit dari posisinya. "Kita buat pondok kecil untuk berisirahat." Titahnya.

"Baik." Jawab orang – orang yang tersisa serentak.

Hiashi masih beridir kebingungan menatap bercak dara Minato dan lingkaran sihir yang tersisa di sana. "Mereka menghilang." Gumamnya. "Siapa perempuan itu?" Ia mengingat kembali sosok Kushina yang mengeluarkan cahaya aneh itu. Sebelumnya Hiashi sudah menduga kalau perempuan itu buka wanita biasa. Namun ia selalu memalingkan wajah dan mengamggap sepele. Dan ternyata dia sudah melakukan kesalahan besar.

"Cari mereka. Bawa mereka dalam keadaan hidup atau mati. Aa tapi bawakan gadis pirang itu dalam keadaan hidup." Titah Hiashi.

Naruto duduk di teras pondok menatap langit malam berbintang. Ia meremas kuat dadanya yang terasa sakit. Ini adalah hari bahagia keluarganya. Namun hari juga menjadi hari paling mengerikan bagi keluarganya. Ia sudah seharian menangisi kemalangan saat ini dan sekarang airmatanya sudah kering dan tidak mau keluar lagi.

Setidaknya sekarang ayahnya sudah di makamkan dengan layak tidak jauh dari gubuk ini. "Sasuke." Panggil Naruto lirih. "Iya yang mulia." Sasuke membungkuk di samping Naruto. "Ku mohon peluk aku." Naruto membenamkan wajahnya di antara lutut. Entah mengapa kepalanya terasa berat. Ia merasa sangat lelah. Tanpa ragu Sasuke langsung memeluk Naruto. Hatinya ikut teriris melihat kondisi sang putri seperti ini. "Katakan pada ku ini hanya mimpi." Bisik Naruto. "Aku ingin mengatakan itu. Tapi sayangnya ini kenyataan yang mulia." Mendengar jawaban Sasuke Naruto semakin memperkuat pelukannya. "Aku mengerti." Bisiknya lagi.

Sementara itu Kurama sedang menemani sang ibu yang sedang sekarat di tempat tidur kayu yang ia buat. "Kurama." Panggil Kushina lirih.
"Aku di sini Kaa-sama." Kurama meggenggam tangan sang ibu. "Aku akan memberikan kekuatan ku pada mu." Kurama terdiam. "Apa maksud kaa-sama?."

"Jagalah adikmu." Cahaya merah mulai mucul dari tangan yang Kurama genggam lalu menghilang. "Berjanjilah." Kushina tersenyum sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

"Tidak Kaa-chan. Keapa kau meninggalkan aku dan juga Naruto? Tidak."Kurama memeluk sang ibu yang sudah tak bernyawa itu. Tangisnya pecah. Ia di tinggal oleh orang terkasihnya secara bertubi – tubi. Kenapa hal ini harus menimpanya dan Naruto?

"Saya juga ingin memberikan sesuatu pada anda putra mahkota." Itachi membungkuk. "Kau ingin melakukan hal yang sama seperti yang mulai Ratu?" Kurama mendelik. "Saya adalah pelayan anda. Merupakan kewajiban saya untuk melakukan ini dan membiarkan anda tetap hidup. Ini penembusan karena ayah ku gagal melindungi ayah anda putra mahkota." Itachi bersujud pada Kurama. Memohon agar Kurama mau menerima kekuatan dari Klan Uchiha.

Percuma menolak karena Itachi pasti akan bersikeras. Kurama terpaksa mengiyakan. Ia bersumpah untuk melindungi adiknya maka ia harus menjadi kuat dan sedikit egois.

Setelah Itachi. Fugaku sang ayah pun melakukan hal yang sama. Namun bukan pada Kurama tapi pada Sasuke. "Kau gunakan kekuatan ku untuk melindungi puteri Naruto dengan nyawamu." Tegasnya. Dan Sasuke menggangguk menyanggupi titah sang ayah.

Keesokan harinya penguburan jasad Kushina dilakukan. Mereka menguburkannya bersampingan dengan makam Minato, sedangkan Jasad Fugaku dan Itachi mereka letakan di sekitar makam Kushina dan Minato. Tidak ada isak tangis di sana. Mereka sudah terlalu lelah bahkan untuk menangis.

Tak lama setelah pemakaman. Pasukan Hiashi mengepung mereka. Menangkap mereka. Bahkan tidak ada yang meronta atau memberontak. Pasrah, itulah yang mereka lakukan. Percuma saja mereka melawan saat ini. Mental dan fisik mereka sangat tidak siap.

Bersambung...

Review?