Stubborn Kid's Daily Life
Serius
by Maureen Kim
© 2017
All rights reserved
Published in Bandung, a torn-up town in Indonesia
"What strange creatures brothers are!"
—Jane Austen
Masih ingat Sehun dan Luhan? Dua murid SMA yang saling suka, tapi sama-sama gengsi untuk mengakui. Jangan lupakan Chanyeol! Si tinggi yang menjadi orang ke-tiga di hubungan Sehun dan Luhan. Kisah mereka berlanjut hingga mereka mulai belajar di perguruan tinggi. Lagi-lagi di tempat menuntut ilmu yang sama. Tapi kali ini di jurusan yang berbeda. Sehun di Biologi, Chanyeol di Kedokteran Gigi, dan Luhan di Sastra Inggris.
Jangan kaget ketika penulis menyebutkan jurusan kuliah dua anak jerapah itu! Sehun sendiri bingung ketika dapat hasil tes masuk perguruan tinggi dan diterima di jurusan yang menurutnya bakal memusingkan itu. Kalau Chanyeol, sudah pasti dia dipaksa oleh ayahnya yang juga merupakan dokter gigi. Mungkin kalian meremehkan Sehun dan Chanyeol dan berpikir, "Memangnya anak malas dan badung kayak mereka bakal betah di jurusan itu?" Tidak ada yang akan tahu, bukan? Tuhanlah yang mengatur segala sesuatu dan itu tidak akan tertukar dengan milik orang lain. Siapa tahu kan rezeki mereka ada di sana.
Sementara Luhan, dia sudah pasti jadi yang paling menonjol di jurusannya. Bahkan tahun ini dia memperbaharui gelar Duta Bahasa Nasional yang sudah dia menangkan sejak SMA. Karena kecerdasan dan sikapnya yang ramah, banyak teman-teman berusaha mengobrol dan berharap bisa menjadi dekat dengannya. Meskipun mereka tahu bahwa Luhan hanya bersikap ramah pada mereka dan dari sekian banyak mahasiswa di perguruan tinggi itu, dia hanya dekat dengan dua orang, Sehun dan Chanyeol. Itu juga terpaksa. Kalau tidak dengan dua orang itu, dia tidak akan punya teman karena Minseok sudah pindah ke luar kota seminggu setelah kelulusan.
Dan, ya, dua mantan sahabat itu sekarang berubah menjadi rival sekaligus neraka bagi Luhan.
Sejak masuk perguruan tinggi, Luhan seperti mempunyai tiga orang kakak yang overprotektif. Setiap hari, Sehun dan Chanyeol berganti-gantian mengantar jemput Luhan ke kampus bahkan jika jam kuliah mereka tidak berbarengan. Kecuali apabila mereka punya hal yang sangat penting dan benar-benar berhalangan, mereka baru akan membiarkan Luhan naik bus. Itupun dengan Luhan yang harus ditelepon beberapa kali—untuk memastikan jika dia naik bus yang benar.
Punya satu kakak saja sudah membuatnya pusing. Apalagi ditambah mereka yang tidak bisa akur.
Dan hari ini adalah giliran Sehun yang harus menjemput Luhan.
Pukul enam sore lewat sepuluh menit, Luhan sudah sampai di gerbang utama kampusnya dan Sehun menginformasikan bahwa dia sudah menunggu di halte. Kebetulan mereka pulang di jam yang sama.
Tumben nggak bareng motor. Pikirnya saat melihat Sehun duduk di bangku halte sambil menunduk dan memainkan ponselnya. Dia langsung berdiri saat Luhan memanggilnya.
"Kamu nggak bawa motor?" tanya Luhan.
"Enggak."
Sehun langsung meninggalkan Luhan saat bus yang ditunggu sudah tiba di hadapannya. Itu membuat Luhan mendengus. Anak ini maunya apa, sih? Padahal dia sendiri yang ingin menjemputnya. Tapi dia seperti tidak ikhlas. Akhirnya dia hanya bisa merutuk dan mengikuti Sehun duduk di kursi yang sama.
"Biasanya kamu nggak bisa pisah dari dia. Siapa sih namanya? Niki?"
Sekedar informasi ya, teman-teman, Niki itu nama motornya Sehun—ingat, bukan nama cem-ceman dia, singkatan dari Ninja Kawasaki. Tipe 650R. Gagah, kan?
Sehun mengangguk, membenarkan tebakan Luhan lalu menjawab, "Aku kan pengen lama-lama ngobrol sama kamu. Kalau di motor ngobrolnya harus sambil teriak-teriak."
Oke, mantap, Sehun! Kamu berhasil bikin Luhan baper lagi.
Pipi Luhan memerah dan dia tiba-tiba tidak mau menatap Sehun. Karena ucapan Sehun, suasana di antara mereka menjadi agak canggung. Sebenarnya hanya Luhan, sih. Dia kan selalu mudah terbawa perasaan. Padahal Sehun kalem-kalem saja.
Selama beberapa menit mereka saling diam. Luhan terus melihat layar di bagian depan bus yang menunjukkan seberapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh sambil pura-pura browsing internet. Padahal itu hanya modus supaya Sehun yang sedang asyik main ponsel tidak menangkap kegugupannya.
1 menit.
2 menit.
3 menit.
Sampai menit kedua puluh sekian.
Semuanya terasa sepi dan Luhan sama sekali tidak merasa nyaman. Dia melirik Sehun yang masih sibuk main ponsel dan malah semakin gugup saat melihat Sehun yang hari ini terlihat tampan. Sehun memakai jaket dan celana Levi's, topi bisbol, dan sepatu Vans hitam. Sehun hari ini terlihat seperti peragawan produk pakaian terkemuka. Bukan hari ini saja, sih. Setiap hari. Sehun itu ganteng tiap hari.
Dia menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan. Mencoba untuk membuka obrolan daripada terus menerus merasa gugup. Tidak peduli apakah nantinya akan membosankan atau sebaliknya. Yang penting mereka tidak saling diam seperti ini.
"Sehun?" tanyanya.
"Iya."
"Kamu lagi ngapain?" Ya ampun, Luhan! Kamu sudah tahu jawabannya. "Kok sibuk banget sama hape?"
"Main Plants versus Zombies 2." jawab Sehun. Masih untung Sehun mau menjawab pertanyaannya meskipun dia tidak meliriknya sedikitpun.
"Seru?" tanyanya lagi.
"Lumayan."
Luhan menggigit bibir. Memikirkan pertanyaan apa lagi yang harus dia ajukan pada Sehun. Tiba-tiba dia ingat persahabatan Sehun dan keempat teman badungnya—yang salah satunya adalah Chanyeol—, dan itu sangatlah membantu. "Jongdae, Jongin, sama Joonmyun apa kabar?"
"Baik kayaknya."
"Kamu masih suka kontakan sama mereka?"
"Kadang."
Luhan mendengus sambil memutar bola matanya. Dia memeluk tasnya dan mencibir, "Aku tuh lagi ngobrol sama manusia apa aplikasi Fake Talk, sih?"
Sehun mendelik ke arahnya sebelum akhirnya kembali fokus pada permainan di ponselnya. Lagi. Dia merasa bosan karena suasana ini. Dia mulai memikirkan beberapa hal di kepalanya dan tiba-tiba terlintas kejadian yang menurutnya memalukan beberapa tahun lalu.
"Sehun?" panggilnya lagi. Dia agak gugup saat Sehun akhirnya berhenti main Plants versus Zombies 2 dan seperti siap mendengarkannya. "Waktu itu kamu bilang kalo kamu suka sama aku. Bukan bilang sih, tapi teriak."
Sehun tersenyum jahil. "Kamu masih inget?"
Luhan mengangkat bahunya dan kembali menjadi Luhan yang sombong di depan Sehun. "Aku kan nggak pelupa."
"Memang kenapa?"
"Waktu itu kamu nggak lagi main Truth or Dare bareng temen-temen kamu?"
Sehun mengerutkan alisnya, mengingat-ingat kejadian yang benar-benar tidak sesuai dengan rencana itu. "Enggak."
"Terus?"
"Ya, enggak terus-terus. Aku kan emang suka sama kamu, Han." jawabnya enteng, seakan tidak peduli pada Luhan yang diam-diam terkejut mendengar perkataannya. "Waktu itu aku pengen deket sama kamu karena kamu itu pinter, jago Bahasa Inggris, juara umum pula. Kamu itu cerdas. Sainganku di sekolah memang banyak dan susah buat dikalahin. Tapi aku nggak peduli meskipun aku tahu kalo aku tuh anak nakal."
Luhan memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tidak mau Sehun mengetahui bagaimana sikon wajahnya saat ini. Merah dan memalukan. Dadanya berdebar dan rasanya dia ingin meledak. Rasanya menyenangkan. Tapi dia juga harus hati-hati.
"Tapi upit."
Tuh, kan!
Luhan mendengus. "Nggak usah ngomong panjang lebar kalo akhirnya kamu cuma ngoceh nggak jelas!" Wajah Luhan yang merah semakin merah. Kali ini bukan hanya karena malu. Tapi juga kesal. "Sehun, ternyata kamu masih kekanak-kanakan, ya. Bisa nggak, sih, kamu serius? Sekali aja. Aku udah capek dibikin seneng sama kamu, terus dibikin down lagi."
Luhan menutup mulutnya saat kalimat terakhir meluncur tanpa sadar. Bisa-bisanya dia berkata demikian. Bagaimana jika semuanya menjadi buruk? Bagaimana jika Sehun malah menjauh darinya hanya karena kalimat itu? Ember sekali mulutnya!
Dia menyampirkan tasnya di punggung lalu berdiri. Sebelum berjalan menuju bagian depan bus, dia berkata, "Kamu harus serius, Sehun! Aku cuma kasihan sama pacar kamu nanti."
Dia takut pacarnya nanti diajak naik roller-coaster sama kamu. Dibawa ke puncak, terus dihempasin ke bawah kencang-kencang.
"Luhan, kamu mau ke mana?"
"Mau turun." katanya sambil menjulurkan lidah.
Sehun diam di tempatnya saat bus berhenti di halte yang paling dekat dengan kompleks perumahan Luhan. Dia menatap Luhan yang langsung berlari menjauh setelah turun dari bus dari balik jendela. Luhan kelihatan sangat kesal dan dia tidak menyangka Luhan akan semarah ini. Dia merasa bahwa itu hanyalah sebuah gurauan supaya suasana di antara mereka tidak terlalu canggung. Tapi ternyata Luhan menganggap itu sebagai hal besar. Dia bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang kekanak-kanakan?
Saat bus kembali melaju, Sehun hanya bisa menghela napas dan menyandarkan punggungnya lagi. "Mana bisa aku nembak kamu waktu itu? Kamu kan galak." Dia tersenyum tipis. "Aku tuh udah serius. Tapi mungkin aku terlalu pengecut buat nembak kamu. Aku malah cemburu nggak jelas sama Chanyeol."
Sudah dua hari sejak Luhan memaki Sehun karena sikap kurang seriusnya. Selama itu pula, dia merasa bersalah. Tidak seharusnya dia marah-marah pada Sehun. Tidak seharusnya dia mengatakan hal-hal yang bisa saja membuat Sehun tersinggung. Siapa dia sampai berhak memarahi Sehun? Dia bukan pacarnya. Dia cuma musuh masa kecil Sehun.
Hari ini seharusnya Sehun pulang bersamanya. Tapi dia masih tidak enak hati. Dia cukup tahu diri untuk tidak meminta jemputan dari orang yang tempo hari dia maki-maki. Di luar masih hujan dan Luhan tidak tahu harus berbuat apa. Ini adalah hari Jumat dan Sehun ikut futsal antar jurusan bersama teman-temannya. Biasanya dia akan ikut masuk ke dalam lapangan atau bahkan ikut bermain. Biasanya dia akan menunggu Sehun sampai dia selesai bermain dan pulang bersamanya.
Malam ini beda.
Dia ingin sekali menunggu Sehun selesai bermain dan pulang bersamanya. Dia ingin sekali mengatakan kata maaf pada Sehun atas perkataannya tempo hari.
Jadi dia mengeluarkan payung yang disiapkan oleh Mama dari dalam tas dan mulai berjalan menuju lapangan tertutup di belakang kampus. Dia berjalan cepat sambil menghela napas beberapa kali. Memberanikan diri untuk berhadapan dengan Sehun dan meminta maaf. Dia berharap Sehun masih mau pulang bersamanya.
Tapi itu akan selalu menjadi harapannya.
Di depan gerbang lapangan yang tertutup rapat, duduklah beberapa gadis yang masing-masing membawa payung. Mereka belum menyadari Luhan saat mereka saling berbisik dan sayup-sayup Luhan bisa mendengar beberapa kata seperti, "Nggak papa kok kalo aku cuma anter Sehun sampai halte." atau "Sekali-kali aku pengen pulang bareng Sehun. Tapi dia sukanya pulang sama temen dia." dan "Aku pengen lihat Sehun sehabis futsal. Pasti seksi."
Luhan melotot. Apa-apaan kalimat paling terakhir itu?
Tanpa sadar dia menepuk pilar beton di sebelahnya dengan berapi-api. Hal itu menyebabkan bunyi cukup keras yang membuat para gadis itu berhenti mengobrol dan mulai menatapnya aneh.
Luhan yang mendapat tatapan itu kembali bersikap normal. Dengan gugup, dia sembunyikan payungnya di belakang tubuhnya. Dia mencoba tersenyum dan bahkan tertawa kikuk.
"Aku cuma numpang lewat, kok." katanya sebelum membungkuk dan berlalu dari tempat itu.
Ya ampun! Luhan tidak pernah tahu kalau Sehun punya banyak fans perempuan yang rela berbagi payung dengannya dalam jumlah sebanyak itu.
Dengan langkah malas, Luhan berjalan memutar arah. Walaupun menyebalkan, ternyata Sehun banyak yang mengidolakan dan hatinya terasa panas. Rasanya dia butuh kompres air dingin—bukan—es batu untuk meredakannya. Tapi tidak mungkin kan kalau dia cemburu karena tidak jadi pulang bersama Sehun?
Dia berjalan menyusuri koridor dan berhenti saat melihat seseorang yang dia kenal dari kejauhan. Dia memicingkan matanya dan menghela napas saat matanya menangkap sosok tinggi tukang ojeknya yang lain—Chanyeol—, yang sedang duduk di sebuah bangku di depan perpustakaan. Chanyeol terlihat sedang memainkan ponselnya dan dia penasaran akan hal apa lagi yang sedang dikerjakan Chanyeol di sini malam-malam begini? Bukankah seharusnya dia pulang satu jam yang lalu?
"Chanyeol?" panggilnya. Dia tersenyum saat melihat Chanyeol terkejut. Anak itu menatapnya dengan dua matanya yang bulat sebelum membalas senyum Luhan. "Kenapa belum pulang?"
"Motorku masih di bengkel. Bannya musti ditambal. Nanti juga diambil kok sambil sekalian pulang."
"Terus ngapain di sini?"
"Nunggu hujan reda." katanya sambil menunjuk ke atas.
Luhan mengangguk tanda mengerti. Dia menggigit bibir sebelum berkata, "Kita pulang bareng aja. Gimana?"
Chanyeol mengerutkan alisnya. "Memang kamu nggak bareng Sehun?"
"Aku sama dia lagi berantem." kata Luhan dengan nada malas lalu dia tersenyum lagi. "Aku nggak keberatan naik bus buat nganter kamu ke bengkel."
Chanyeol mengusap rambut Luhan. "Kamu pulang aja. Udah malem."
"Nggak papa." elaknya. Dia menyodorkan payungnya ke depan wajah anak itu. "Ayo, Chanyeol!"
Menghela napas menyerah, akhirnya Chanyeol menerima payung dari Luhan. Dia membuka payung semi-transparan itu dan mengajak Luhan supaya ikut berteduh di bawahnya. Berjalan berdua menuju halte di bawah rinai hujan. Romantis juga. Tapi semuanya akan lebih spesial jika Luhan berjalan bersama Sehun.
Oh, Tuhan! Tolong! Jangan Sehun terus! Biarkan dia pergi bersama Chanyeol tanpa harus dibayang-bayangi anak menyebalkan bernama Oh Sehun! Sekali saja.
Setelah naik bus satu kali dan berhenti di sebuah bengkel, Chanyeol langsung mengambil motornya yang sudah diperbaiki. Tak lupa dia membayar biaya dan memberikan uang tip untuk si mekanis. Dia memakai helm, mengambil helm cadangan di bawah jok dan memberikannya pada Luhan. Helm itu diterima oleh Luhan yang malu-malu. Kemudian mereka naik ke atas jok dan mulai pergi meninggalkan bengkel.
Asal kalian tahu, Chanyeol itu anak yang baik dan kaya. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah diantar mengambil motornya, dia mengajak Luhan untuk makan malam bersama. Awalnya dia memilih sebuah restoran elit yang harga satu porsi makanannya setara dengan uang jajan Luhan selama seminggu. Tapi Luhan menolak karena dia tidak suka hidup boros dan dia tidak perlu diperlakukan istimewa seperti itu. Toh, dia kan hanya mengantar Chanyeol yang selalu bersikap baik padanya dan dia merasa tidak layak untuk hal seperti itu. Akhirnya, Chanyeol mengalah. Dia tetap memaksa Luhan makan bersamanya dan berjanji mereka akan makan di tempat murah. Tapi tetap sehat.
Dan di sinilah mereka. Di kedai nasi goreng yang terletak di pinggiran jalan Distrik Gangnam.
Saat pelayan mengantar pesanan mereka—nasi goreng Beijing dan es jeruk—, mereka mulai makan dalam senyap. Tak ada satupun yang mau memecah keheningan kecuali bunyi kendaraan seperti mobil dan kadang motor dengan knalpot bising. Khas sekali tempat makan kaki lima.
Setelah makanan mereka habis, Luhan merasa bahwa suasana kembali canggung. Dia merutuki dirinya yang kadang tidak bisa menjadi seorang talkative. Sulit sekali untuk mencari topik. Saat dia menemukan topik yang menurutnya pas, dia hanya berkata, "Chanyeol?"
"Ya?"
Luhan menggigit bibirnya gugup. "Menurut kamu, sikapku itu kayak gimana, sih?"
"Kamu baik."
Luhan berdecak. "Yang lebih spesifik, Chanyeol!"
Chanyeol menatap Luhan lekat-lekat dan itu membuatnya salah tingkah. "Kamu itu pinter, jago Inggris, dan aku pikir kamu bakal cumlaude dari universitas ini. Kamu juga ramah. Banyak kok yang suka sama kamu."
Kenapa jawabannya hampir sama kayak Sehun?
"Amin, deh." katanya. Ada jeda yang cukup lama. "Kalau ada yang bilang kayak gitu juga, menurut kamu dia itu lagi bohong apa jujur?"
"Pasti dia jujur, Luhan." Chanyeol melipat tangannya di atas meja dan menatap Luhan penuh rasa ingin tahu. "Kenapa tanya kayak gitu?"
Karena Sehun bilang gitu.
Menyebalkan! Kenapa akhir-akhir ini pikirannya hanya berisi Sehun, Sehun, dan Sehun? Ya, Tuhan! Dia sedang bersama Chanyeol. Tidak seharusnya dia memikirkan anak itu—Oh Sehun yang tidak bisa serius dengan perasaannya.
Bicara tentang Sehun dan perasaannya, dia jadi penasaran. Selama ini Sehun hanya bermain-main. Dia hanya akan membuat Luhan tersipu, lalu kesal di detik berikutnya.
Berbanding terbalik dengan anak laki-laki yang sedang duduk di sebelahnya.
Chanyeol lebih pintar dalam menghargai perasaannya. Dia secara terang-terangan memberitahu Luhan kalau dia menyukainya. Bahkan dia sempat menyatakan perasaannya pada Luhan saat mereka masih SMA. Tidak seperti Sehun yang berkali-kali menggodanya lalu meninggalkannya. Terus seperti itu. Tapi sampai sekarang, Luhan masih belum memberikan jawaban. Alasannya juga agak aneh; karena dia suka Sehun.
Tuh, kan! Sehun lagi, Sehun lagi.
"Nanya doang, kok." katanya sambil tersenyum kikuk. "Chanyeol?"
Chanyeol bergumam.
"Boleh, ya, aku jawab pertanyaan kamu dua tahun yang lalu?" tanyanya.
Chanyeol mengernyitkan dahi. "Pertanyaan apa?"
"Itu!"
"Apa?"
Luhan berdecak. "Waktu itu kamu ngajak aku pacaran. Tapi aku belum ngasih jawaban. Itu masih berlaku nggak?"
"Kalo boleh jujur, sih, masih." jawab Chanyeol sambil mengusap belakang lehernya. Tiba-tiba saja dia merasa malu.
"Sekarang aku bakal jawab."
Chanyeol terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Boleh, terus apa jawabannya?"
"Tapi kamu harus janji; apapun jawabanku, kamu nggak boleh marah atau putus silaturahmi sama aku!"
"Iya, Luhan." Chanyeol tersenyum. Dia lagi-lagi mengusap rambut Luhan. "Kita kan sama-sama udah dewasa. Udah harus ngerti dan nerima keputusan orang lain dengan lapang dada."
Sekarang, Luhan merasa kagum akan sikap Chanyeol yang dewasa. Tapi dia masih belum bisa jatuh hati pada Chanyeol. Walaupun begitu, dia akhirnya menghela napas dan berkata, "Aku mau jadi pacar kamu."
Setelah Chanyeol mengantar Luhan ke rumahnya dan pulang, Luhan langsung masuk ke dalam rumah. Saking terburu-buru, dia agak membanting pintu dan itu membuat anggota keluarganya beralih menatapnya heran. Yifan adalah orang pertama yang menyambutnya dengan sikap overprotektifnya. "Jam segini baru pulang. Hujan-hujanan pula."
"Berisik, Kak!" katanya sambil meletakkan sepatu ke dalam rak tanpa melihat wajah kakaknya. Dia berjalan ke arah kamarnya tanpa mengucapkan salam dan tanpa menghiraukan Papa dan kakaknya yang sedang duduk di depan televisi.
Yifan berdiri dan memicingkan matanya. Dia merasa ada penampilan adiknya yang berbeda. Dia menarik tubuh Luhan dan mencubit bagian kerah jaket jeans milik Chanyeol yang dipakainya. "Kamu pak jaket siapa?"
Luhan berdecak seraya menyingkirkan tangan kakaknya. "Punya om-om Gojek." katanya sambil mendelik malas. "Mau punya siapapun, itu bukan urusan Kak Yifan."
Baru saja dia hendak membuka pintu kamar, Mama datang dari dapur. Jam makan malam sudah lewat dan Luhan baru pulang. Hal itu membuat naluri keibuannya muncul. "Luhan, kamu baru pulang? Makan dulu, Nak!"
Luhan tidak mendengarkan perkataan Mama. Dia berlalu begitu saja ke dalam kamarnya. Itu membuat Papa geram. "Luhan! Makan dulu!"
Dari dalam kamarnya, mereka mendengar Luhan berteriak, "Aku udah makan nasi goreng tadi, Pa."
Kemudian semuanya hening.
Mama dan Papa saling bertatapan heran, seolah bertanya-tanya. Belum pernah Luhan bertingkah seajaib ini. Mama mengambil tempat duduk di sebelah sang suami. Tapi matanya tetap terpaku pada pintu kamar anak bungsunya yang paling unyu. "Anak itu kenapa, sih, Pa? Datang-datang dia ngedumel kayak gitu."
Papa menggelengkan kepala, lalu kembali memandang layar datar 21 inci di seberangnya. "Mungkin dia cuma lagi stres atau kesel. Nanti juga berubah jadi burung beo lagi."
Mamanya mengangguk.
Yifan menatap pintu kamar adiknya. Ada yang aneh dengan sikap Luhan. Dia pasti sedang punya masalah. Entah itu masalah ekonomi, akademik, atau percintaan. Sebagai dugaan awal, Yifan memilih opsi ketiga.
"Yifan coba bujuk, ya, Ma." tawarnya. Dia berjalan menuju kamar adiknya dan meninggalkan orang tuanya yang kembali berebut remot televisi. Papa ingin menonton program olahraga. Mama ingin menonton telenovela. Yifan selalu berpikir mengapa dulu mereka tidak beli dua unit televisi sekalian.
Yifan menghampiri adiknya yang sedang duduk di depan meja belajar. Kepalanya tenggelam di antara lengannya yang dilipat di atas meja belajar. Yifan menepuk pundaknya. "Dek, kamu kenapa? Kok baru datang udah marah-marah?"
Luhan tidak menjawab.
"Luhan!" panggilnya dengan nada agak keras.
"Aku lagi pengen sendiri. Tolong Kak Yifan keluar dulu!" katanya tanpa mau mengangkat kepala. Suaranyapun teredam.
"Nggak mau." Yifan kembali mengguncang-guncang tubuh Luhan sampai akhirnya adiknya yang kalau dilihat-lihat wajahnya ternyata kawaii itu mau mengangkat kepala. Walaupun dia sempat berdecak kesal, Yifan tidak keberatan kok. "Ayo, cerita!"
Luhan menunduk. Dia berkali-kali menggigit bibirnya gugup. Selama ini, dia tidak pernah cerita tentang kehidupan pribadinya kepada sang kakak. Tapi kali ini dia benar-benar harus. Kalau bukan pada kakaknya, pada siapa dia harus berkeluh kesah? Orang tuanya? Tidak mungkin. Mama pasti heboh dan menggodanya. Apalagi Papa. Mungkin beliau akan bertanya ini-itu tentang pacarnya dan memberikan penilaian sepihak. Seperti hanya Papalah yang tahu orang itu baik untuk Luhan atau sebaliknya. Maklum, Papa itu agak kolot dan sangat mematuhi adat.
"Kak, aku pacaran sama Chanyeol."
Yifan mengangkat sebelah alisnya. Mengingat-ingat nama yang terdengar aneh itu. Saat wajah dan senyum idiot itu muncul di ingatannya, dia langsung berkata, "Oh, temen kamu yang cengengesan itu?" Itu pertanyaan retorik. Tapi Luhan ingin memukul kakaknya yang sembarangan mengatai Chanyeol cengengesan. Padahal iya. "Ya bagus! Berarti kamu laku. Tapi kok malah sedih?"
"Aku selalu ngerasa nggak enak sama dia karena dia sering direpotin sama aku." katanya.
"Masalahnya apa? Dia kan pacar kamu. Wajar lah dia pengen jadi orang yang berguna buat kamu."
Luhan mendengus. "Aku belum bisa nganggap dia sebagai pacar."
Yifan melotot. Adiknya ternyata benar-benar ajaib, ya. Bisa-bisanya dia menerima Chanyeol dan bilang bahwa dia belum bisa menganggapnya sebagai pacar. Maksudmu apa, Luhan? "Kok gitu?"
Luhan bergerak gelisah di kursinya. "Aku sebenernya suka sama Sehun." Wajahnya berubah sedih dan dia kembali meringkuk di atas meja belajar. "Aku ngerasa bersalah karena jadiin Chanyeol bahan pelampiasan."
Yifan awalnya merasa kaget. Tapi akhirnya dia tersenyum. Betul kan? Adiknya punya masalah percintaan dengan dua anak laki-laki yang sering mengantar jemput adiknya. Urusan seperti ini, sih, dia jagonya. Berbeda dengan Luhan yang telat puber. Dia belum mengerti apa-apa.
Yifan mengusap rambut Luhan—orang-orang senang sekali mengusap rambut Luhan, ya. "Dengerin kakak kamu yang gantengnya sebelas dua belas sama Jamie Dornan ini, ya, Dek!" katanya sambil menatap adiknya yang masih saja menyembunyikan wajahnya. "Kamu nggak perlu ngerasa bersalah. Jalanin aja dulu hubungan kamu sama Chanyeol. Siapa tau jodohnya kamu itu dia, bukan si Sehun itu. Kamu juga udah gede, harus udah ngerti masalah kayak gini. Inget, ya! Kalo kita nggak bisa dapetin apa yang kita suka, lebih baik kita coba buat suka sama apa yang udah kita dapet."
Tamat
