Di Chapter Sebelumnya...

Naruto segera berjalan mendekat kearah pintu, di susul Sasuke dan Sakura yang sedang membawa tongkat dari sapu yang ia patahkan. Tepat di belakang mereka, Anko-sensei, Sona dan Chouji juga telah bersiap. Naruto tahu ini akan jadi malam yang panjang dan sangat melelahkan. Ia segera mengeratkan genggaman tongkat di tangannya.

"Ayoo!"

.

.

.

.

.

Chapter 4

"Escape From of The Dead"

.

.

.

.

~oOo~

.

.

.

Di ruangan yang serba putih, berdiri seseorang berperawakan besar dan tegap berambut panjang yang berwarna hitam. Orang itu hanya sendiri di ruangan putih bersih tersebut. Kedua tangan kanannya lihai memainkan keyboard dari 3 komputer yang sepertinya di jadikan 1 server. Matanya tajam mengikuti setiap pergerakan grafik dan angka yang terpampang di layar komputer. Wajahnya kian serius saat salah satu layar dari komputer tersebut memperlihatkan gerak grafik yang naik-turun tidak beraturan. Sejenak tangannya berhenti, mencoba memikirkan sesuatu untuk memeriksa apa yang membuat grafik tersebut naik-turun. Setelahnya, kelihaian kedua tangan pria itu kembali menjajaki setiap pad yang ada di keyboard tersebut. Jemari-jemarinya sangat lihai memasukkan setiap input data ke komputer yang sedari tadi ia perhatikan dengan seksama.

Ruangan yang serba putih ini, terdapat banyak sekali peralatan-peralatan canggih yang di gunakan untuk orang sekelas profesor. Banyak kabel-kabel disana-sini dengan ukuran yang bermacam-macam, ada yang kecil sekecil kabel headset ponsel, ada juga yang besar seukuran kabel charger accu. Di ruangan ini juga dapat ditemukan beberapa lemari pendingin berukuran kecil seperti oven pemanggang dan di dalam lemari tersebut terlihat beberapa tabung-tabung kecil berisi cairan kimia. Ada juga satu meja yang terlihat seperti meja oprasi yang letaknya di tengah-tengah ruangan ini dengan berbagai macam alat di sekitarnya. Segala sesuatu yang ada disini membuat ruangan serba putih tersebut terlihat seperti sebuah lab saja.

Kembali ke pria tadi, saat ini mengenakan jas kerja putih yang biasa di gunakan peneliti dan profesor. Tangannya yang masih setia mengetik untuk memeberikan segala input data yang diperlukan juga terbungkus oleh sarung tangan karet yang berwarna putih dan tipis. Beberapa saat kemudian, ketiga komputer berkedip-kedip disertai munculnya kata Error di layar tengah. Kesalahan yang sepertinya bukan dari error system komputer tadi membuat pria itu langsung menghentikan aktivitas jemari tangannya. Sebuah suara helaan nafas berat terdengar dari pria berjas putih panjang ini.

"Begitu rupanya.." Gumamnya pelan entah pada siapa.

Dia berjalan pelan mendekati sesuatu yang nampak seperti brankas di atas sebuah meja. Jari tangan yang masih terbungkus oleh sarung tangan karet bergerak memencet layar kunci yang ada di brankas tersebut, seperti memasukkan sekelompok kode untuk membukanya. Setelah selesai memasukkan password yang diperlukan, pria itu mengambil sesuatu dari sana. Dia terlihat sedang memegang sebuah tabung kecil seukuran jempol orang dewasa, di dalam tabung tersebut berisi cairan bening berwarna hijau yang entah cairan apakah yang ada didalamnya.

"Jadi selama ini percuma saja aku buat salinan yang lebih sempurna, ternyata memang harus digabungkan dengan miliknya."

.

.

.

.

.

Malam musim semi saat ini agak lebih dingin dari biasanya, entah karena memang terjadi pergesekkan rute angin di atas langit sana, atau karena kondisi kota Konoha yang telah mati tanpa aktivitas apapun seperti biasanya. Tapi yang pasti membuat suasana saat ini semakin terasa mencekam di kala para mayat-mayat hidup berkeliaran berjalan kesana-kemari tak tentu arah di jalanan Konoha. Namun berbeda bila melihat sebuah sekolahan yang cukup terkenal di kota ini. Sekolah tingkatan menengah atas yang bernama Konoha Gakuen, terletak di selatan kota Konoha dan Bisa dilihat disana, tepatnya di lantai dua gedung ekstra kurikuler Konoha Gakuen, segerombolan anak muda berlari menyusuri lorong-lorong sekolah sambil membersihkan jalan yang akan mereka lalui dari makhluk-makhluk yang menghalangi jalan dan berusaha menyerang mereka.

Tongkat pemukul milik pemuda berambut kuning yang memimpin rombongan tersebut telah puluhan kali beradu dengan kepala-kepala makhluk itu. Darah merah kehitaman yang masih basah terlihat masih setia menempel di tongkat pemuda tersebut. Saat ada satu yang berhasil menggapai lengan seorang gadis berkacamata dengan kasar dan erat sambil mencoba menggigitnya, datang sebuah sabetan keras dari belakang, membuat makhluk tadi terpelanting jauh. Darah membasahi sebuah pedang kayu yang digunakan untuk menyerang makhluk itu. Seorang yang berhasil memisahkan siswi tadi dari makhluk jelek itu adalah seorang wanita muda seksi yang berada di urutan paling belakang rombongan tersebut. Formasi mereka tampak berbeda dari yang sebelumnya namun yang memimpin jalan tetap sama. Pemuda bermata biru yang bernama Namikaze Naruto berada paling depan bertugas untuk memimpin dan membersihkan rute yang akan mereka lalui. Tepat di belakang Naruto ada Chouji dan Sona di tengah dengan Sasuke sebagai sayap pelindung bagian kiri dan Sakura sebagai sayap pelindung kanan. Di urutan paling akhir adalah Anko-sensei sebagai penjaga arah belakang, tentu saja untuk menjaga agar mereka tak memeluk anggota rombongan dari belakang secara tiba-tiba.

"Minna, berhati-hatilah. Jangan sampai terpisah dari formasi." Kata Naruto yang berada di depan sedang memukul secara horizontal senjatanya kearah dua makhluk yang menyerangnya sekaligus. Dan hasilnya adalah, terhempasnya kedua makhluk itu membentur tembok secara bersamaan dengan darah yang bermuncratan keluar dari kepala mereka.

"Itulah yang kami coba lakukan, Naruto."

Ucap seorang gadis berambut merah muda bernama Haruno Sakura yang sedang merunduk menghindari terkaman makhluk yang ada di samping regu. Dengan sontekkan keras Sakura menghujamkan tongkat yang digenggamnya kearah tenggorokan makhluk itu dari bawah.

Sleebb...

Serangannya tepat sasaran dan menembus masuk ke tenggorokan makhluk itu. Tak sampai disitu, dengan cepat ia menendang dadanya hingga terpental jatuh membentur dinding. Walau darah mengalir deras melalui tenggorokan yang telah hancur berlubang, makhluk itu tetap mampu untuk berdiri kembali melihat Sakura dan yang lainnya telah berlari jauh. Mereka terus berlari menembus gelapnya lorong sekolah. Dengan senjata seadanya, mereka berusaha melindungi diri dan juga rekan mereka dari serangan ataupun gigitan dari para mayat buas itu. Hingga saat di kelokan tangga, mereka turun menuju ke lantai dasar, namun Naruto menghentikan langkah dan mengangkat tangan ke atas seakan itu sebuah kode. Para anggota kelompok yang melihat kode itupun berhenti, mengikuti Naruto yang sedang berjongkok melihat kearah bawah lantai satu.

"Ada apa Naruto? Kenapa kita berhenti?." Tanya Sakura dengan suara pelan agar tak terdengar oleh mereka namun masih mampu didengar oleh timnya.

Yang lain juga memasang raut wajah bingung kecuali Sasuke yang masih memasang wajah stoicnya. Naruto memilih untuk mengambil nafas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Sakura. Tentu saja berlarian melintasi lorong-lorong panjang dan menuruni tangga dari lantai tiga dengan mengeluarkan tenaga untuk menghempaskan kepala-kepala makhluk itu membuat oksigen di paru-parunya kian menipis dengan stamina yang telah berkurang banyak. Sama seperti Naruto, yang lain juga terengah-engah menghirup nafas sebanyak yang mereka bisa. Apa yang mereka lakukan saat ini membuat keheningan di tengah malam yang hanya menyisakan suara langkah dari para mayat berjalan disana. Naruto memandangi mereka dengan intens sambil menunggu deru detak jantungnya mereda dan kembali normal setelah berlarian panjang.

"Aku... belajar sesuatu sekarang. Aku menyadarinya sejak kita berlarian tadi." Kata Naruto dengan suara yang pelan. Anggota kelompoknya terlihat terkejut dengan perkataan dari Naruto barusan, minus Sasuke yang hanya melirik sahabatnya dengan wajah datar. Pasalnya mereka mengenal Naruto, adalah seorang yang bodoh dan tak bisa diandalkan. Namun justru kali ini Naruto mengatakan bahwa ia telah belajar sesuatu dari mereka? Sungguh mereka mengira Naruto hanya akan mengatakan hal konyol lagi nanti, seperti saat di lantai tiga waktu itu.

"Menyadari sesuatu?" Tanya Sona yang di belakang Naruto. Lebih tepatnya berada di atas Naruto, karena mereka saat ini mereka sedang beringkuk di pertengahan tangga sekolah.

"Ya..." Jawabnya singkat.

"Kau menyadari apa, Naruto?" Kini Chouji yang bertanya tanpa memanggil Naruto dengan nama marganya. Karna memang ia telah mengenal lama sosok Naruto, namun berbeda ruang kelas membuatnya kurang akrab dengan pemuda kuning ini.

"Menurut perkiraanku, mereka tak bisa melihat kita dengan jelas di malam hari, atau lebih tepatnya di kegelapan. Karna sedari tadi tak semua dari mereka yang menyerang... juga serangan dari mereka tak seperti biasanya saat di siang hari." Jelas panjang lebar Naruto.

"Koreksi perkiraanku tadi, Sasuke." Imbuhnya lagi. Sasuke yang ditunjuk sebagai pengoreksi penjelasan dari Naruto hanya memejamkan mata.

"Menurutku juga begitu. Cara serang Mereka tampak berbeda saat di siang hari." Tukas Sasuke yang sependapat dengan Naruto.

"Sejauh yang kulihat, mereka serasa seperti menerawang. Yang berjarak dekat dengan kita langsung menyerang secara frontal. Namun yang jauh hanya mendekat dibantu oleh indra pendengaran mereka." Sahut Sona dari belakang Naruto yang masih dalam mode siaga melihat secara intens kearah mereka.

"Itu mungkin disebabkan oleh rusaknya kornea dan otot siliaris mata mereka. Membuat pandangan mereka tidak jelas di kegelapan." Lanjutnya lagi. Mencoba menjelaskan lebih rinci pada timnya, seolah -olah tak mau kalah dari Uchiha Sasuke.

Yang lain mencoba mencerna penjelasan dari mereka bertiga, dan juga kini mereka tercengang dengan Naruto yang bisa membuat kesimpulan dengan akurat. Terlebih lagi pendapatnya itu didukung langsung oleh dua murid yang terkenal dengan kepintarannya di sekolah. Tebakan mereka tadi sepertinya telah salah bahwa mereka mengira bocah kuning itu hanya akan mengatakan hal-hal yang tidak penting. Sona juga senang Naruto bisa membaca kelemahan mereka dengan sangat tepat. Naruto mulai mengeratkan kembali genggamannya ke tongkat yang sedari tadi ia jadikan sebagai senjata untuk meremukkan otak mereka.

"Baiklah... bersiap semuanya!." Ujar Naruto dengan suara pelan namun sangat tegas. Sasuke, Chouji, Sona, Sakura dan Anko-sensei yang tadinya duduk beringkuk, kini kembali berdiri dan bersiap dengan senjata yang mereka punya setelah mendengar sebuah perintah pemuda kuning di depan mereka.

"Ayo..!"

Dengan itu Naruto segera menuruni anak tangga yang tersisa diikuti anggota timnya di belakang dengan cepat.

Buagh..!

Naruto menghantamkan tongkat pemukulnya ke salah satu makhluk-makhluk itu. Sasuke juga tak kalah cepat dalam melumpuhkan mereka satu per satu. Akan tetapi mereka tampak kewalahan saat telah mencapai di titik koridor sekolah, karena disini sangat banyak yang berkumpul. Membuat mereka tak bisa berlari lagi saat seperti di lantai dua tadi. Mereka hanya bisa berjalan agak sedikit lebih cepat. Walau begitu Naruto tetap tidak menyerah, Naruto sekuat tenaga mencoba membuka jalan untuk regunya agar segera sampai di ujung pintu koridor sekolah.

Bugh.. Brakk.. Baattss..

Suara yang ditimbulkan dari senjata mereka yang berbenturan dengan kepala mayat-mayat kelaparan itu seolah menjadi alunan merdu di malam mencekam Konoha. Seakan tak kunjung merasa lelah, Naruto terus melancarkan serangannya sekuat tenaga pada mereka. Dengan segenap raga ia melindungi teman-temannya yang saat ini sangat berharga baginya, karena mustahil pikirnya masih ada yang selamat di sekolah ini. Dia tak akan pernah membiarkan teman-temannya terluka, tidak akan pernah dan sampai kapanpun itu.

Terlihat ada yang terhempas ke depan diakibatkan tendangan yang sangat kuat dengan kepala yang bisa dibilang terkena luka kritis. Ternyata Naruto yang membuatnya seperti itu. Namun tanpa disangka-sangka datang dua lagi mendekat kearah Naruto. Tanpa basa-basi segera ia hempaskan tongkat pemukulnya secara vertikal kearah kepala salah satu dari mereka.

Buaaggk..!

Serangan yang sangat keras Naruto lancarkan hingga kepala mayat hidup tersebut remuk dengan darah yang menuncrat setelahnya. Naruto berhasil menjatuhkan satu, tapi masih tersisa satu lagi di samping kirinya. Menerjang pemuda nanas itu dengan cepat, hingga Naruto tak bisa berkutik karna makhluk itu berhasil menangkapnya. Makhluk itu coba menggit kearah lehernya, namun masih bisa ia tahan dengan tangan kirinya yang memegang dagu makhluk itu. Naruto bisa merasakan betapa busuknya nafas makhluk ini saat giginya terbuka dan menutup secara terus-menerus seperti ingin menggigit Naruto. Merasa terdesak, Naruto jatuhkan tongkat pemukulnya ke lantai. Dengan tangan kanan yang kosong, segera ia eratkan pegangan tangan kirinya yang memegang dagu makhluk tersebut lalu dengan cepat ia agak menunduk dan mengangkat tubuh makhluk jelek itu dengan tangan kanannya. Dengan keras ia banting tubuh itu ke lantai dengan posisi kepala yang membentur lantai terlebih dahulu.

Craattss...

Lantai sekolah seketika berlumuran darah akibat kepala yang bocor setelah meluncur dari atas ke bawah dengan cepat, Membuat makhluk itu tewas terkapar seketika. Tak lama setelah itu Naruto mengambil tongkatnya kembali dan menghajar mereka yang ada didepan untuk membuka jalan bagi kelompoknya untuk segera keluar dari gedung ini. Anko-sensei juga terlihat sibuk di belakang. Tak henti-hentinya ia mengayunkan pedang kayunya untuk menebas otak mereka. Nafasnya kembali terengah-engah karna kepayahan melawan mereka yang jumlahnya sangat banyak di koridor ini. Sakura sempat panik dengan jumlah mereka yang seperti tidak ada habisnya. Namun saat ia melihat Naruto, Sasuke dan Anko-sensei yang terus berjuang tanpa henti, dirinya sadar bahwa ia juga harus berjuang seperti mereka untuk melindungi anggota tim.

Sakura POV

.

.

Jumlah mereka semakin lama seperti semakin banyak saja!. Jika terus menerus begini, akan sangat sulit untuk mencapai pintu koridor dan keluar dari gedung ini. Aku terus mengayunkan tongkatku kesana-kemari tiada henti, berusaha untuk mengenai telak di kepala mereka. Karena itulah kelemahan mereka menurut Naruto dan Sitri-san. Entah keberapa kali peluh mengalir melalui pelipisku, turun sampai mencapai dagu dan jatuh membasahi lantai koridor kematian ini. Aku terkejut saat salah satu dari mereka ada yang berhasil menangkap tongkatku, menahannya hingga aku tak bisa menggerakkan tongkat ini. Sedetik kemudian, dengan bringas makhluk itu mencoba menggigitku. Aku hanya memakai tongkat yang sedari tadi ia pegang untuk menahan jarak antara aku dan makhluk jelek ini. Namun...

"Aagh.."

Pekikku kecil saat diriku jatuh terduduk di lantai yang dingin ini. Aku terjatuh karena tak kuat menahan tenaga dari dorongan makhluk sialan ini, membuat tongkatku yang sedari tadi kugunakan untuk menahannya kini terlepas jatuh ke lantai. Aku begitu panik saat melihat satu-satunya senjata yang kupunya terlepas begitu saja. Namun sepersekian detik kemudian aku tersadar dan tersentak saat dua makhluk di atasku tinggal beberapa centi lagi untuk menancapkan gigi mereka ke tubuhku. Saat kututup mataku karena reflek reaksi dari keterkejutan, tiba-tiba sebuah suara keras menyadarkanku.

Mbuuggkk...!

Suara yang hampir sama seperti sebuah cambukkan yang kudengar barusan. Saat kurasa tak ada yang menyentuhku, aku membuka mata untuk melihat keadaan. Pertama kali yang kulihat adalah... kedua makhluk itu jatuh tak jauh di depanku dengan kepala bersimbah darah.

"Ayo cepat, Haruno-san!."

Untuk yang kedua kalinya aku mendengar suara yang sangat familiar di telingaku. Mendongak keatas aku pun dapat melihat Anko-sensei sedang mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Segera kuambil tongkat yang tadi sempat terjatuh tak jauh dariku, lalu kuraih tangan Anko-sensei dan lekas bangkit kembali dari lantai. Ternyata yang menolongku tadi adalah Anko-sensei, dengan pedang kayunya ia membuat kedua makhluk jelek itu terkapar tak bergerak. Namun saat kulihat kearah samping, rombongan telah berada sedikit jauh dari tempatku berdiri. Tampaknya insiden tadi membuat kami sedikit terpisah. Walau jaraknya tak bisa dibilang jauh, namun tadi Naruto mengatakan pada kami agar tidak terpisah dari formasi karena itu sangat membahayakan bagi dirimu, juga bagi yang lain. Dan ternyata itu benar. Aku melihat mereka berhasil meraih tangan Sona!

'Oh tidaakk!.' Jeritku dalam hati. Segera kuberlari secepat yang aku bisa untuk menolong Sona yang sedang berontak melepaskan cengkraman mereka. Namun rasanya aku tak akan bisa.. aku rasa aku akan terlambat. Karena gigi-gigi mereka hanya tinggal beberapa centi saja hampir menembus kulit Sona.

"Sitri-san..!" Teriakku sambil berlari kearahnya dengan tanganku yang berusaha menggapainya. Wajahku menegang seketika saat gigi mereka berhasil menggigit sesuatu. Ya... sesuatu, di detik berikutnya aku tersadar bahwa apa yang mereka gigit adalah sebuah tongkat pemukul kasti berlumuran darah yang terletak di atas lengan Sona.

"N-Naruto..." Gumamku dengan pandangan kosong kearah sahabat kuningku yang saat ini menatap kedua mayat hidup yang mencoba melukai Sona.

"Tak akan.. Tak akan pernah kubiarkan kalian melukai teman-temankuuu!"

Sedetik setelah Naruto mengatakan itu, ia menghempaskan tongkatnya sekuat tenaga hingga membuat kedua makhluk itu terhempas juga kebelakang.

Normal POV

"Sakura..!"

Naruto pun memanggil Sakura sesaat setelah menghempaskan kedua mayat hidup yang ingin mencoba melukai Sona. Sakura yang hanya tinggal tiga langkah kaki lagi dari posisi semulanya, segera kembali dan memukulkan tongkatnya kekepala makhluk yang akan menyerang Sona lagi. Membuat mereka yang terkena sabetan mematikan dari Sakura terpelanting jatuh dengan darah yang memuncrat keluar dari mulut mereka. Naruto yang melihat Sakura dan Anko-sensei telah kembali ke formasi, segera juga ia kembali ke posisinya yang sempat ia tinggalkan. Sasuke nampak kelelahan karena mengambil alih posisi yang Naruto tinggalkan tadi, juga berusaha agar posisi sayap kirinya tetap bisa melindungi Chouji. Melindungi dua posisi sekaligus benar-benar membuatnya terengah-engah.

'A-aku... aku tidak pernah bisa melampaui mereka..' Kata Sakura dalam hati saat melihat kegigihan Naruto dan Sasuke yang masih berusaha mati-matian untuk melindungi anggota tim mereka.

Sakura POV

.

.

.

Aku.. selalu mengejar mereka.. Selalu berusaha menyamakan langkahku dengan mereka... namun berapa kali pun aku mencoba... namun aku... aku tetap gagal. Aku tak bisa sejajar dengan mereka dalam berbagai hal. Aku... aku selalu... hanya selalu di belakang mereka. Mereka selalu melindungiku, namun aku tidak pernah bisa melindungi mereka. Entah kenapa aku tak bisa melakukan hal tersebut. Apa karena aku lemah? Apa aku masih Sakura yang lemah hingga tak bisa melindungi mereka?. Tetapi sesuatu menyadarkanku... senyuman Naruto kembali menyadarkanku... dia pernah bilang, "Kau tidaklah lemah Sakura. Kau akan jadi lebih kuat dari siapapun, saat kau berusaha melindungi seseorang yang sangat berarti bagimu."

Ya... itu dia... melindungi seseorang yang sangat berarti bagiku. Dan kalianlah yang saat ini sangat berharga untukku!. Aku harus berhenti menangis. Aku harus berhenti duduk manis. Aku harus bangkit, dan menjadi lebih kuat lagi!. Menjadi kuat untuk melindungi mereka yang sangat berarti bagiku!

'Ayo Sakura...!'

Sakura POV End

.

.

.

.

.

Di sebuah ruangan yang gelap dan pengap. Berdiri seorang pemuda berambut spike yang bersandar di dinding ruangan tersebut. Tak ketinggalan juga seorang gadis cantik yang masih setia duduk di bawah lantai. Dikarenakan sejak lahir ia memang menderita kelumpuhan pada kedua kakinya, membuat gadis ini kesulitan untuk berjalan. Jangankan berjalan, berdiri selama dua detik saja ia tak mampu. Keterbatasan fisiknya membuat gadis itu tak bisa berbuat banyak untuk saat ini. Sinar rembulan yang menerobos masuk melalui lubang-lubang kecil ventilasi udara, menerpa dan menyinari wajah cantiknya yang kian lama semakin meredup. Walau begitu, tak ingin dia menangis tersedu meratapi nasibnya dengan seorang pemuda yang terjebak di dalam ruangan ini. Ia tidak akan melakukannya, tak akan pernah. Karena ia berpikir bahwa menangis tidak akan membuat mereka berdua keluar dari tempat ini.

"Sepertinya... yang di depan pintu semakin sedikit."

Pemuda yang bernama Inuzuka Kiba itu membuka suara setelah sekian lama hening menelan tempat ini. Asumsinya tersebut berdasarkan dari suara pergesekan kayu yang semakin lama semakin melemah intonasinya.

"Mungkin mereka lelah... atau mungkin juga mereja lupa apa yang sedang mereka kejar. Karna kita bersembunyi dan tak bersuara di dalam sini." Jelasnya kemudian.

Ia tersenyum pada Hinata, gadis yang meringkuk di lantai tadi. Pemuda itu seperti mencoba memberikan sebuah harapan untuk Hinata agar gadis itu kembali bersemangat, bahwa mungkin sebentar lagi mereka bisa keluar dari tempat ini. Ya... hanya secerca harapan, walau begitu Hinata tetap membalas senyum yang Kiba berikan padanya. Walau ia tahu bahwa kesempatan mereka untuk bisa keluar dari sini sangatlah kecil. Belum juga apa rencana mereka selanjutnya bila ternyata mereka telah keluar dari ruangan ini?. Semuanya masih suram di kepala Hinata. Namun ia tetap yakin akan bisa bebas dari sini, karena ia selalu mengingat kata-kata seorang pemuda yang telah menyelamatkannya dari Neraka yang bernama kesepian.

"Selama ada harapan, sekecil apapun itu. Jangan pernah menyerah untuk membuatnya menjadi nyata..."

Begitulah kata-katanya. Kata-kata yang selalu terngiang di gendang telinga Hinata dari seorang pemuda bermata sebiru Sapphire yang mampu menenggelamkannya dalam ketenangan. Saat dia harus percaya, ya... dia percaya akan kata-kata pemuda itu. Sejenak ia memejamkan mata indahnya.

'Aku percaya.. Naruto-kun. Aku percaya...'

Saat ia bergumam dalam hati, Hinata mendengar bunyi-bunyian kecil. Saat ia membuka mata, ia memasang raut wajah yang bingung. Ia bertanya pada pemuda di depannya dengan suara pelan.

"Kiba... apa yang kau lakukan?."

.

.

.

.

.

Di tengah-tengah sudut persimpangan antara gedung utama Konoha Gakuen dengan gedung ekstra kurikuler, terlihat segerombolan pemuda-pemudi yang sedang berlarian di antaranya. Rombongan tersebut adalah tim Naruto, yang sepertinya berhasil keluar dari gedung ekstra kurikuler. Dengan tongkat yang ia bawa, sapuan demi sapuan keras ia layangkan kearah kepala mayat-mayat hidup yang menghalangi jalurnya. Sasuke dan Sakura tak kalah sibuk mencegah masuknya serangan dari samping dengan dijaga oleh Anko-sensei yang membantu dari belakang.

"Itu, sudah dekat!" Kata Naruto menunjuk kearah tempat parkir Konoha Gakuen yang sudah dekat dengan mereka.

"Grwaahh.."

Namun belum selangkah berjalan, Naruto sudah dikegetkan dengan seorang wanita yang mencengkram seragam hitamnya. Hampir ia terkena gigitan karena pergerakan wanita itu sangat gesit sebelum suara pukulan keras membuatnya terhempas kedepan.

Buuggh..!

Darah berwarna merah kehitaman sedikit terciprat keleher Naruto. Tatapan terkejutnya belum juga mereda saat sebilah tongkat pemukul melintas di atas bahu dan jaraknya sangat tipis dengan leher Naruto. Tongkat tersebut adalah tongkat milik Sasuke yang berhasil menyelamatkan Naruto dari kecupan mark kiss wanita agresif tersebut.

"...tch!"

Decihnya singkat yang dibalas seringaian kecil dari Sasuke. Bagaimana pun juga, pertolongan dari Sasuke tadi hampir membahayakannya. Berterima kasihlah pada reflek cepat Naruto untuk sedikit memiringkan kepalanya kekanan saat ujung dari tongkat pemukul dari Sasuke hanya berjarak sangat-sangat tipis dengan leher Naruto ketika melakukan hal tersebut. Itu tadi hampir saja mematahkan lehernya bila Naruto tak memiliki reflek yang bagus. Tanpa tampang berdosa Sasuke kembali melanjutkan aktivitasnya, meremukkan otak-otak di kepala makhluk-makhluk itu. Naruto juga kembali berlari mendekati minibus yang sudah ada di depan matanya.

"Minna! Cepat masuk." Ujarnya ketika telah sampai dan membuka pintu minibus itu.

Melihat Naruto yang telah membukakan pintu, yang lain segera masuk menaiki kendaraan pribadi sekolah disana. Minus Sasuke, Sakura dan Anko-sensei yang masih berjaga agar mereka juga tak ikut masuk menyerang kedalam.

"Sasuke, Sakura, Anko-sensei. Kalian cepatlah masuk!" Ujarnya sambil memukul satu mayat hidup yang tersisa di sekitar bis itu hingga tergeletak tak bernyawa.

"Ha'i... Namikaze-kun" Ucap Anko sambil segera masuk ke bis sekolah diikuti oleh Sakura dan Sasuke di belakangnya.

Chouji telah duduk di kursi kemudi dan menstarter mesin minibus yang mereka naiki. Tindakan Chouji membuat Sona menautkan kedua alisnya bingung.

"Chouji, kenapa kau duduk disitu?!" Tanya Sona dengan tatapan tajamnya kearah Chouji yang kini telah memegang stir kemudi.

"Ehehe... etto... karna aku ingin." Jawabnya asal sambil memasang tampang tak berdosa kearah Sona.

"Kau ini! Bukan saatnya main-main Chouji."

"Sudahlah, tak masalah. Asalkan kita bisa cepat keluar dari sini." Sahut Anko tenang sambil menepuk bahu Sona. Karena senseinya yang bilang begitu, ia terpaksa diam dan menurut.

Saat akan masuk keminibus, tiba-tiba saja Naruto menghentikan gerak tubuhnya dengan tangan menahan engsel pintu bis itu. Raut wajahnya mengeras dengan gemelatuk gigi yang terdengar jelas.

"Ayo jalan, Akimici-san." Ucap Anko-sensei.

"Tunggu dulu! Naruto masih di luar-"

"Kalian pergilah dulu.."

Kalimat Sakura langsung dipotong oleh pemuda yang ia maksud. Yang lain terkejut mendengar kalimat Naruto, tak terkecuali Sakura yang kini diam mematung. Dirinya mencoba mencerna apa yang barusan dikatakan oleh bocah kuning itu.

"Sasuke... tuntun mereka." Ujar Naruto sambil tersenyum menatap Sasuke. Yang dituju hanya menautkan alisnya bingung dengan ucapan Naruto. Ia memang tahu arti kata-kata dari Naruto barusan, yang tidak ia mengerti adalah... apa yang akan sahabat kuningnya ini lakukan?. Sakura yang sedari tadi terdiam kini mengerti kemana arah pembicaraan Naruto.

"Apa yang kau katakan baka!. Cepatlah masuk atau aku akan menghajarmu..!" Geram Sakura sambil melangkah berat mendekati Naruto yang ada di luar. Namun tiba-tiba lengannya ditarik oleh Sasuke, seolah mencegah Sakura untuk turun menghampiri Naruto. Sakura terkejut atas apa yang Sasuke lakukan.

"Lepaskan aku, Sasuke-kun!" Ucapnya sambil berontak mencoba melepaskan cengkraman erat tangan Sasuke yang ada di lengannya, namun tetap tak berhasil. Cengkraman Sasuke terlalu kuat untuknya.

"Lima belas menit lagi..." kata Naruto yang masih menatap Sasuke sambil tersenyum kecil. Itu kata terakhir yang keluar dari mulut Naruto. Dengan itu ia segera menutup rapat pintu bus dan mundur dua langkah kebelakang, memberikan ruang bus untuk meninggalkannya.

"Ayo jalan, Chouji." Ucap Sasuke

"T-Tapi-" Chouji ingin protes namun langsung disela oleh Sasuke.

"Cepatlah... kita tak punya banyak waktu." Sahut Sasuke dingin. Membuat yang lain semakin bingung. Chouji pun langsung tancap gas meninggalkan Naruto di luar yang sedang menatap kepergian teman-temannya.

"T-Tunggu! Berhenti Chouji..! Jerit Sakura dengan suara panik

Namun sesaat sebelum ia ingin mengeluarkan suara lagi, bus yang mereka tumpangi menabrak gerbang parkir sekolah hingga gerbang yang tadinya tertutup kini dapat diterobos dengan mudah oleh Chouji. Membuat Sakura hampir terjungkal kebelakang, tapi beruntung ada Sasuke yang menangkapnya. Minibus itu pun melaju menabrak beberapa mayat hidup yang menghalangi jalan. Mereka semua telah berhasil keluar dari sekolah kematian ini, namun tanpa Naruto. Sona terlihat panik namun sekuat tenaga ia mencoba untuk setenang mungkin. Bagaimanapun juga ia tak habis pikir dengan tindakan Naruto yang menurutnya tak masuk akal. Pandangannya terkunci kearah sekolah, lebih tepatnya kearah gerbang yang terbuka. Semakin lama gerbang itu semakin mengecil dikarenakan jarak mereka yang sudah semakin jauh dari Konoha Gakuen.

"Kenapa? Kenapa Sasuke-kun, kenapa?! Kenapa kau membiarkannya begitu saja?!" Tanya Sakura dengan mata yang berkaca-kaca. Berharap Sasuke akan menjelaskan alasannya untuk yang tadi. Namun Sasuke sama sekali tak menggubris pertanyaan dari Sakura yang juga mewakili semua pertanyaan yang ada di otak Anko-sensei, Sona dan Chouji. Melihat Sasuke yang tidak menghiraukannya membuat tangan Sakura terkepal erat.

"Sasuke-kun?!" Tanyanya lagi dengan sedikit berteriak.

Namun Sasuke malah berjalan meninggalkannya ke depan dan duduk di kursi samping Chouji sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Sakura yang melihat Sasuke yang tidak menghiraukannya dan hanya menatap layar pada ponsel membuat kepalan tangan Sakura semakin mengerat. Matanya mengatup rapat menyembunyikan iris emeraldnya yang indah, hingga setetes demi setetes air mata mengalir keluar dari pelupuk matanya. Ia langsung duduk di kursi penumpang sambil menenggelamkan diri menggunakan kedua telapak tangannya. Pundaknya terlihat bergetar, menandakan ia sedang menangis menahan emosi saat ini.

Sona dan Anko-sensei yang melihat Sakura seperti itu hanya duduk di tempatnya masing-masing. Bukan karena mereka tak mau menenangkannya, hanya saja mereka tak ingin mengganggu dulu gadis berambut merah muda disana. Terutama bagi Sona sendiri, sungguh ia ingin meminta penjelasan kepada Sasuke. Namun gengsi mengurungkan niatnya tersebut.

Setelah melihat teman-temannya berhasil keluar dari sekolah kematian ini, Naruto berbalik kearah belakang. Lebih tepatnya kearah para mayat hidup yang berjalan tertatih-tatih mendekatinya. Seringaian seketika muncul dari wajah pemuda berambut rancung ini, kembali ia mengeratkan genggaman tangan ketongkat pemukulnya. Menatap para mayat hidup yang kini mulai berlarian kearahnya dengan tatapan merendahkan.

"Kalian sudah tak sabar eh?... ayo kita mulai pestanya."

.

.

.

.

.

"Kiba... apa yang kau lakukan?." Tanya Hinata kepada Kiba yang mulai menurunkan satu per satu tumpukan kursi yang tersusun di depan pintu dengan sangat pelan dan hati-hati.

"Tentu saja... untuk bersiap keluar dari sini, Hinata-chan." Jawab Kiba yang sejenak memalingkan wajahnya kearah Hinata dengan ekspresi senang. Hinata yang mendengar jawaban Kiba barusan langsung tahu apa yang pemuda itu rencanakan, karena Hinata memang bukan seorang yang baka seperti Naruto.

"Hmm... souka.." Balasnya Hinata.

Dengan sangat hati-hati Kiba memindahkan semua perabotan yang sedari tadi menahan pintu agar pintu gudang tersebut tidak bisa didobrak oleh makhluk-makhluk di luar. Saat telah selesai semuanya, Kiba segera menghampiri Hinata dan bertanya padanya.

"Na... Hinata-chan, apa rencanamu saat kita telah keluar dari sini?." Tanya Kiba lembut kepada gadis berponi di depannya. Namun bukannya menjawab, gadis itu kembali murung dan membuat Kiba kembali bingung.

.

.

.

.

.

Sebuah bis sekolah melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan sepi Konoha. Dan kadang sesekali menabrak seseorang yang berada di tengah jalan. Bis itu seperti tak segan menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya. Di dalam ruang penumpang, terlihat ada beberapa anak muda yang tengah duduk diam di kursi merenung dengan pikiran masing-masing. Walau sangat kentara bila mereka saat ini sangat lelah terlihat dari wajah mereka, namun tidak ada salah satu pun dari mereka yang terlelap. Mereka tidak bisa tidur dengan tenang karena mereka saat ini sedang memikirkan seseorang, ya... seseorang dengan rambut kuningnya yang telah memimpin mereka hingga bisa di dalam minibus ini dan keluar dari sekolah kematian itu. Mereka masih memikirkan Naruto, dan banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam kepala mereka tentang pilihan yang dibuat oleh bocah kuning itu.

Di kursi sebelah pengemudi, duduk seorang pemuda berambut raven yang sedang menggenggam erat ponselnya. beberapa kali di liriknya sekilas layar ponsel yang menyala. Saat jam di layar ponsel menunjukkan pukul 10:46pm, langsung dia memberikan perintah kepada pemuda yang sedang menyetir bis ini.

"Putar balik dan kembali ke jalan yang kita lalui tadi." Katanya dengan nada dingin.

"Tapi.. ken-"

"Jangan banyak bertanya dan usahakan membawa bis ini lebih cepat dari sebelumnya. Kita akan kembali ke Konoha Gakuen." Selanya memotong kalimat sang penyupir minibus yang tak lain adalah Chouji.

Beberapa penumpang di belakang terkejut dengan arahan mendadak dari pemuda berambut raven di depan. Mereka memasang wajah bingung sekaligus penasaran, namun mereka memilih untuk diam kerena pikiran mereka sedang kalut saat ini. Terlebih lagi dengan gadis berambut merah muda yang duduk di baris kursi kedua dari kursi pengemudi. bis pun berhenti sejenak dan mulai membanting stir untuk putar balik kearah jalan yang barusan mereka lalui tadi.

.

.

.

.

.

Kiba mengulangi pertanyaannya kembali pada Hinata karena gadis ini lama terdiam tak memberikan jawaban sama sekali.

"Hinata-chan.. apa yang akan-"

"Aku akan mencari ayahku..." Sahutnya cepat dengan suara pelan.

"...Souka." Ujar kiba singkat.

"Tapi... dengan keadaanku yang seperti sekarang... sepertinya mustahil."

"Jangan bicara seperti itu, Hinata-"

"Kursi rodaku tertinggal di dalam kelas. Mana mungkin aku akan bisa berge-."

"Aku akan membantumu, Hinata-chan. Aku akan selalu membantumu... sampai kapanpun itu." Ujar Kiba cepat memotong kata-kata yang akan keluar dari mulut Hinata. Mendengar kalimat dari Kiba barusan membuat Hinata mendongakkan wajah cantiknya kearah Kiba. Mencoba mencari tahu kepastian dari kalimat tersebut.

"Aku akan selalu ada di sampingmu... Karna aku-"

Braakk..!

Kalimat Kiba terhenti saat pintu ruangan itu terbuka secara tiba-tiba, membuat Kiba dan Hinata terlonjak kaget. Sedetik kemudian mata mereka melebar seketika saat tahu yang membuka pintu itu berlari cepat menghampiri mereka seakan-akan ingin menerkam kedua remaja tersebut.

Seett..

Sosok itu melemparkan sesuatu kearah Kiba dan, berhasil dia tangkap dengan susah payah. Sosok itu kemudia berlari mendekati Hinata dan mulai... menggendongnya. Ya, menggendongnya ala bridal style

"Na-Naruto...-kun." Pekik kecil Hinata saat ia tahu siapa yang menggendongnya.

"Ayo cepat, Kiba. Kita tak punya banyak waktu." Ucapnya dengan ekspresi serius kepada Kiba yang masih diam mematung memangku kursi roda yang terlipat. Naruto pun segera berlari keluar dari gudang sambil menggendong Hinata, disusul oleh Kiba yang telah sadar dari keterkejutannya. Mereka berlari cepat menghindari makhluk-makhluk yang masih tersisa. Terus dan terus berlari menuju pintu gerbang parkiran sekolah yang masih terbuka.

"Kiba, tutup gerbangnya dengan ini..!" Perintah Naruto pada Kiba dan melemparkan tongkat pemukul yang sedari tadi ia genggam kearah Kiba. Melihat tongkat yang melayang kepadanya, segera ia tangkap dan menuju kearah gerbang parkiran sekolah. Dengan cepat ia tutup kedua pintu besi itu dan menguncinya menggunakan tongkat yang diselipkan di tengah-tengah. Setelahnya Kiba kembali mundur kesamping Naruto.

"Lalu apa yang akan kita lakukan, Naruto?" Tanyanya pada pemuda kuning itu.

"Diam dan menunggu." Jawabnya singkat, membuat alis Kiba menaut. Dia bilang mereka hanya perlu diam dan menunggu? Ini gila!. sebenarnya menunggu apa?!. Lagi pula para mayat hidup yang berkeliaran di jalanan semakin mendekati mereka.

"Apa maksudmu, Naruto?!." Tanya Kiba sedikit membentak. Hinata juga bingung dengan apa yang dikatakan oleh Naruto. Namun ia memilih percaya kepada pemuda kuning yang saat ini sedang menggendongnya.

"Diam dan tunggu saja." Naruto menjawab singkat lagi dengan nada yang dingin hingga membuat Kiba emosi. Tangannya terkepal erat karena kesal pada jawaban sahabatnya itu. Makhluk-makhluk itu semakin dekat dengan mereka, sedangkan saat ini mereka tak punya apapun untuk melawan. Sungguh membuat Kiba sangat panik, berbeda dengan Hinata yang telah mempercayakan seluruh nasibnya kepada sang pemuda yang pertama kali mengakuinya dan mau berteman dengan gadis lumpuh sepertinya. Hingga tanpa disadari sebuah minibus melaju kencang dan berhenti di depan mereka bertiga. Sorot lampu bis itu menyorot mata Kiba hingga membuat lengannya menjadi penghalang cahaya tersebut.

"Ayo.. Kiba!" Teriak Naruto yang terlihat akan naik bis itu. Kiba yang mendengar perintah dari Naruto pun menurut dan segera berlari masuk ke dalam bis. Saat pintu bis itu telah tertutup rapat, sang supir menginjak pedal gas dalam-dalam hingga membuat bis tersebut melaju kencang menabrak semua makhluk jelek yang menghalangi jalan, membelah jalanan Konoha yang tersinari oleh cahaya rembulan malam.

.

.

.

To Be Continue...