NiYo Chan

Proudly present

G.A.Y

Naruto © Masashi Kishimoto

Warn(s):

BOY'S LOVE

OOC

TYPO(s)

PWP(Maybe)

Bold and Italic are flashback

Genre: Drama, Romance, Hurt

Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, etc

No Flame, DLDR, RnR

Rate T-M

Chap: 4

Previous

=Kyuubi pov=

Onyx beradu dengan ruby.

"Aku tak suka saat kau berhenti." Kataku terdengar nakal.

Aku tak bermaksud berkata demikian, sungguh. Sudah kukatakan jika otakku sudah kacau.

Aku mambawa wajahnya mendekati wajahku. Bisa kulihat onyxnya berusaha meyakinkanku dengan apa yang aku pinta.

Aku memejamkan mataku kemudian menempelkan kembali bibirku ke bibir Itachi.

/\

/\

/\

/\

"Akh…hm…"

Apa-apaan ini?

Ini sakit? Tapi…tapi…aku masih ingin yang lebih dari ini.

"Katakan kalau sakit." Kata Itachi kepadaku sambil masih berusaha memasukan kejantanannya kedalam rektumku.

Jujur, aku tak tahu bagaimana cara pasangan "gay" bercinta. Aku hanya…

APA!

AKU GAY?!

"AKH!" sakit! Itachi berengsek!

"Kyuu?" panggil Itachi cepat saat aku berteriak. "Aku bisa berhenti." Katanya lagi.

"Milikmu besar, berengsek." Dengusku sambil sedikit menyeringai.

Apa?

Apa yang aku katakan?

Kenapa otak dan mulutku tak sejalan? Sial!

/\

/\

/\

"Hmph…hmph…" masih sedikit sakit walaupun Itachi sudah beberapa kali mengeluar-masukkan kejantanannya.

Sial, aku tak tahu dimana nikmatnya sex yang satu ini. Ya, meskipun aku belum pernah melakukan ini dengan gadis, tapi aku sering menontonnya.

Ckit

Ckit

Hah, tempat tidurnya bahkan ikut bersuara.

"Akh.."

Rasa apa itu tadi?

Lagi, aku mau merasakannya lagi.

"Hmph…hmph…."

"Kyuu…" panggil Itachi sambil menghentikan "sodokan"nya tanpa mengeluarkan kejantanannya dari rektumku. "Jangan ditahan." Katanya sambil menatapku dengan tatapan sedikit khawatir. "See, bibirmu berdarah." Lanjutnya sambil mengecup bibirku yang sempat terasa rasa besi. "Jangan ditahan, ok? Katakan saja kalau masih sakit." Katanya berusaha menenangkan.

Aku hanya mengangguk.

"Kau bisa mencakarku." Katanya sambil tersenyum lembut dan menuntun tanganku kepunggungnya.

"'Tachi," panggilku sambil membuang muka. "Aku merasa sesuatu yang aneh tadi. Apa yang kau "sentuh"?" tanyaku sedikit malu.

"Oh," ia tertawa kecil. "Itu sweet-spotmu, Kyuu. G-spot untuk gadis." Jelasnya.

"Aku tak tahu kalau kita mempunyai "itu"?" tanyaku yang sudah mulai aneh.

"Semua manusia ada, Kyuu." Jawabnya. "So, shall we?" izinnya untuk memulai kegiatan bercinta kami.

Aku hanya mengangguk dan sedikit menelan liurku.

"Teriak saja kalau sakit." Katanya kemudian mengecup bibirku.

"Hmph…" dapat aku rasakan kejantanannya sedikit ia keluarkan. "Hmph…" aku menahan suaraku saat ia memasukkan kejantanannya lagi kedalam rektumku.

Awalnya lambat namun sekarang gerakannya sedikit cepat.

"Akh…ah…" ah, sial, aku suka rasa ini.

Meleburkan seluruh tenagaku. Bahkan aku tak mampu untuk berpikir selain "sentuh itu lagi.". Sepertinya aku akan bunuh diri setelah ini.

"Ah..ah…ah..ah…" Tuhan, mulutku tak bisa berhenti mendesah.

Aneh rasanya, ia bahkan tak menyentuh kejantananku yang sama sekali belum menegang. Tapi…tapi…rasanya nikmat.

"Ride me." Kata Itachi kemudian berhenti menyentuh "sweet-spot"ku.

Aku memasang wajah sedikit kecawa dan memasang wajah kebingungan lebih banyak.

'Ride me? Apa maksudnya?' batinku.

Saat aku tengah berpikir, dengan cepat ia membalikkan keadaan. Yang awalnya ia diatasku, sekarang akulah diatasnya, maksudku, aku duduk dipinggulnya dengan kejantanannya yang masih berada direktumku dan itu sedikit sakit. Aku bahkan sempat meringis.

"Ride me, Kyuu." Katanya dengan wajah datar namun aku tahu otaknya itu sudah kelewat mesum.

Ok, akhirnya aku mengerti yang dia maksud. Tunggu, aku tak langsung bergerak. Aku diam sebentar kemudian menggerakkan tanganku kekejantananku yang sama sekali belum "terbangun". Dia curang.

"Biar aku yang tangani." Katanya kemudian "menyentuh" kejantananku.

Awalnya aku sedikit merinding.

Bagaimana dengan rasa malu?

Ah, urat maluku sudah putus!

Saat ia sudah mulai "mengocok" kejantananku, aku pun mulai menggerakkan pinggulku. Ah, begini lebih enak, aku yang mengendalikan, namun aku lelah.

"Ah…" tak perlu waktu lama, aku sudah membuat kejantanannya menyentuh sweet-spotku. "Ah…ah…ah…"

"Hmph…"

Glup

Dapat sedikit terdengar ditelingaku jika Itachi menelan liurnya.

"You good?" tanyaku.

"Are you kidding me?" tanyanya balik kemudian meletakkan kedua tangannya dipantatku, memijat-mijatnya pelan.

"Ah…" sebentar lagi energiku akan habis. "Hn?" dengan kedua tangannya, ia mengangkat pantatku sedikit keatas kemudian ia menggerakkan pinggulnya dan "menyodok" kejantanannya dengan gerakkan yang sangat cepat ke rektumku.

"AKH….AH…AH…ITACHI…"

Ah, Tuhan, ini nikmat!

"ITACHI!"

"More?" tanyanya sambil menggigit bibir bawahnya. Sepertinya dia juga keenakkan.

Aku mengangguk cepat.

Masih dengan posisi kedua tangannya yang menahan pantatku agar tak menduduki pinggulnya, ia pun menggerakkan pinggulnya dengan cepat, lebih cepat dari yang tadi.

"AKH…" karena energy sudah benar-benar habis, akhirnya aku menjatuhkan diriku dibadan Itachi. "AKH! AKH!" teriakku keenakkan tepat dibahunya.

"Kyuu…" erangnya. "I'm cumming." Katanya kemudian dengan cepat ia melepaskan kejantanannya dan membalikkan posisi-ia kembali berada ditasku- dan "menyemprot"kan spermanya ke perutku. "Akh! Akh…shhh." Erang dan desisnya keenakkan saat ia melihat cairannya sudah tertumpah ke perutku.

Aku hanya melihatnya mengelus-elus perutku yang sudah basah dengan cairannya dengan nafas yang terengah-engah.

"Wanna cum?" tanyanya padaku kemudian membaringkan dirinya disebelah kananku dengan tangan kiri menopang kepalanya.

Aku hanya mengangguk.

Aku kembali mengocok kejantananku seperti yang biasa aku lakukan saat melakukan "permaian solo".

"Hngh…" aku memejamkan mataku menikmati sentuhan diriku sendiri. Karena aku tak ingin ia melihat wajahku saat aku akan klimaks, jadi, aku memalingkan wajahku ke celah tangannya yang sedang menopang kepalanya. "Hngh…shhhh…" erang dan desisku saat aku mulai merasakan perutku mengejang.

Aku sedikit heran, tak pernah aku mencapai klimaks secepat ini.

"AKH!"

Crot

Crot

Aku mengintip sedikit ke spermaku yang "menyembur" dengan hebatnya keperutku.

"Ah…huh…"

Cup

"My angel." Katanya sambil mencium keningku.

"Hah…hah…hah…aku lelah." Kataku yang masih setia menyembunyikan kepalaku ditangannya.

"Tidurlah kalau begitu." Balasnya. Dapat aku rasakan ia membersihkan perutku dengan tisu yang tadi sempat ia ambil dari meja yang berada disamping tempat tidur.

"'Tachi," panggilku saat ia sudah selesai membersihkan perutku dan berbaring disampingku-memelukku, "Apakah akan sakit?" tanyaku sambil menatapnya.

"Ini juga pertama untukku." Jawabnya kemudian kembali mencium keningku. "Kita akan ke dokter besok." Tambahnya.

"Aku tidak mau." Potongku cepat sambil sedikit menjauhinya. "Aku tidak mau." Tatapku horror. Apa kata dunia jika dunia tahu kalau aku adalah gay. Ya, ya, ya, tak usah dibahas.

"Haha, baiklah." Tenangnya sambil menarikku kembali kepelukannya. "Tidurlah, Kyuu."

"Hn."

"I love you."

"I love you too."

Shit, sekarang giliran hati dan otakku yang tak sejalan. Dan sepertinya mulutku menjadi budak hatiku.

=Itachi pov=

Tak ku sangka jika kaki kyuubi sangat jenjang. Jujur saja, aku merasa sedikit salah tingkah waktu "mencopot" habis pakaiannya. Kulitnya juga putih, tidak seperti kulit Naruto. Aku yakin, rasanya pasti manis. Ok, my bad.

Memang tak ada pembicaraan lagi setelah aku melepas habis pakaiannya. Aku salah tingkah, dia juga begitu.

Aku mengelus wajahnya yang sempat curi lirik padaku. Aku berusaha mentelepati "bisakah? Atau kita hentikan saja?"

Tapi, demi Tuhan, dia sudah "telanjang", akan sangat menyakitkan sekali jika ia menghentikan ini. "Barang" kebanggaanku juga sudah mulai "berteriak" kesakitan didalam sana, yah, if u know what I mean.

Ia hanya memberikan tatapan datar saja diiringi dengan desahan, yang menurutku adalah peng"iya"an untuk telepatiku tadi.

Aku menciumnya singkat kemudian melumuri jari tengahku dengan ludahku sendiri. Ku posisikan pada lubang pantatnya.

Demi celana dalam bergambar kodok milik Sasuke, aku tak tahu jika pantat Kyuubi sangat halus dan kenyal. Aku ingin menggigitnya.

Kumasukkan jari tengahku perlahan ke rektumnya. Dapat terasa dengan sangat jelas jika lubang pantatnya ia kepit, wajar.

Aku menatapnya kemudian tersenyum, yah, tersenyum, sebenarnya aku ingin tertawa dan menciumnya. Dia sungguh lucu.

Ku masukan lagi jariku dan kulihat Kyuubi menghela nafasnya dengan perlahan. Sudah bisa masuk sekarang. Aku hanya mengeluar-masukan jari tengahku beberapa kali supaya rektumnya tidak terkejut jika kedatangan "tamu" yang lebih besar dari jari tengah.

Merasa cukup dan aku melihat Kyuubi sudah menggigit bibir bawahnya, aku pun melepas seluruh pakaianku kemudian memposisikan kejantananku ke rektumnya.

/\

/\

/\

"Akh…hm…"

"Katakan kalau sakit." Kataku sambil masih berusaha memasukan kejantananku kedalam rektumnya.

Sudah beberapa kali aku mengeluar-masukkan kejantananku, namun aku belum menemukan titik dimana Kyuubi bisa kehabisan tenaganya.

Hey, aku baca itu di cerita kaum G.A.Y, tentu saja aku tak tahu apa itu benar atau tidak.

"Akh.."

'Hn?' berhasil menyentuhnyakah?

"Hmph…hmph…" masih saja ia menggigit bibir bawahnya dan bibirnya sudah mulai mengeluarkan darah.

Setelah memintanya untuk tak menahan teriakan atau desahannya, tiba-tiba saja ia memanggilku.

"'Tachi," panggilnya sambil membuang muka. "Aku merasa sesuatu yang aneh tadi. Apa yang kau "sentuh"?" tanyanya sedikit malu, ada semburat pink disana walaupun wajahnya memang sudah memerah sejak tadi.

"Oh," aku tertawa kecil, namun benakku tertawa dengan gilanya. See, dia sangat manis. Dan…aku tak tahu dia sepolos itu. "Itu sweet-spotmu, Kyuu. G-spot untuk gadis." Jelasku mati-matian menahan tawa.

"Aku tak tahu kalau kita mempunyai "itu"?" tanyanya lagi.

"Semua manusia ada, Kyuu." Jawabku. "So, shall we?" aku tak ingin menunda kegiatanku saat ini, tidak untuk waktu yang lama.

Aku dapat mendengar desahannya, erangannya.

Apa aku melupakan sesuatu?

Entahlah.

"Ride me." Kataku. Aku bisa melihat wajahnya yang sedikit kecewa dan lebih banyak bingungnya. Karena hal itulah, aku membalikkan posisi.

"Ride me, Kyuu." Kataku lagi setelah ia sudah menduduki pinggulku.

Saat aku memintanya untuk "menunggangi"ku, ia sempat diam kemudian mengelus kejantanannya sendiri.

Hah, pantas saja aku merasa ada yang terlupakan, aku lupa memanjakan kejantanannya yang baru aku sadari ternyata masih tertidur.

Kejantanannya mungil.

"Biar aku yang tangani." Kataku kemudian mengocok kejantanannya.

Sambil ia menunggangiku, sambil aku mengocok kejantanannya. Sangat nikmat hingga aku menelan liurku.

"You good?" tanyanya. Sepertinya dia meremehkanku.

"Are you kidding me?" tanyaku balik. Karena pertanyaannya itu, kemudian aku meletakkan kedua tanganku dipantatnya, memijat-mijatnya pelan, aku tak suka diremehkan. Akan aku goda dia.

"Ah…" sepertinya dia menikmati itu. "Hn?" dengan kedua tanganku, aku angkat pantatnya sedikit keatas kemudian aku gerakkan pinggulku dan "menyodok" rektumnya dengan gerakkan yang sangat cepat. Akan kubuat dia merasakan surga. Hey, itu juga aku baca di cerita kaum G.A.Y.

"AKH….AH…AH…ITACHI…"

Ah, aku suka mendengarnya menyebutkan namaku. na-ma-ku dan bukan "keriput".

"ITACHI!"

"More?" tanyaku sambil menggigit bibir bawahku. Hah, nikmat sekali.

Ia mengangguk dengan cepat. Oh, kau manis, Kyuu.

Masih dengan posisi yang belum berubah, aku sodokkan kejantananku lebih dalam dan semakin cepat.

"AKH…" karena sepertinya ia tak mampu mengimbangiku, badannyapun terjatuh menimpa badanku. "AKH! AKH!" teriak ditelingaku. Mendengar itu, semakin kupaju kecepatan gerakanku.

"Kyuu, I'm cumming." Kataku kemudian melepaskan kejantananku dan membaringkan Kyuubi. Memasukan sperma kedalam rectum sangat tidak dianjurkan saat sedang bercinta, yah, jangan tanya dimana aku membacanya. "Akh! Akh…shhhh." Nikmat sekali, apa lagi saat melihat perutnya sudah basah karena spermaku.

Kuelus-elus perutnya yang sudah basah itu. Dapat kurasakan dadanya naik-turun untuk memasok udara keparu-parunya.

"Wanna cum?" tanyaku kemudian membaringkan diri dengan tangan kiri menopang kepalaku. Tentu saja aku ingin terus memandanginya.

Hanya anggukan yang ia berikan.

Dapat kulihat ia mengocok kejantanannya dengan cepat. Aku pernah melakukan onani dengan Sasuke, tapi, melihat Kyuubi melakukannya tepat didepanku, rasanya aku sangat bahagia. Aku berlebihan? Tidak.

"Hngh…" satu desahan keluar dari mulutnya. Wajahnya juga semakin memerah.

'Hn?' kenapa dia menyembunyikan wajahnya? Aku ingin melihatnya.

"AKH!" tak perlu waktu lama, ia pun memuntahkan cairannya.

Crot

Crot

Cup

"That's my angel." Kataku sambil mencium keningnya. Aku sayang padanya.

Setelah ia mengatakan padaku jika ia lelah, akupun menyuruhnya untuk tidur.

"I love you." Ucapku sebelum ia benar-benar terlelap.

"I love you too." Balasnya datar.

Aku bahagia saat ini, sungguh. Aku tak peduli jika "I love you too" adalah sebuah kebohongan. Aku tak peduli. Sekarang aku sudah memiliki Kyuubi. Tapi apakah aku tidak menyakiti diriku sendiri jika aku mencintainya namun dia sama sekali tak mencintaiku?

Hah, apa yang aku pikirkan?

Aku baru tiba dari langit. Yang benar saja. Jangan buat diriku harus merasakan dunia bagian bawah. Aku mencintainya. Aku akan tetap menunggunya. Menunggunya untuk benar-benar membukakan hatinya untukku, mungkin.

Hey, aku bukan peramal yang bisa mengetahui jalan pikiran dan kebenaran pikirannya.

"Aku menyayangimu, Kyuu." Bisikku sesunyi mungkin.

Aku memeluknya erat. Untuk malam ini, biarkan aku memeluknya seperti ini jika esok hari aku sudah tak bisa memeluknya lagi.

Apa?

Kenapa hatiku sakit saat berpikir demikian?

Terserahlah, malam ini dia milikku!

Dia pasti akan melupakan semua ini besok. Aku yakin itu. Aku pikir, mungkin juga, dia melakukan ini karena kasihan padaku.

Bullshit!

MALAM INI, DIA ADALAH MILIKKU, MILIK ITACHI UCHIHA!

=Sasuke pov=

Aku benci mengakuinya, namun terkadang menonton sendiri itu sangat tidak asyik.

'kemana perginya aniki keriput itu? Demi tuhan, tadi dia hanya mengantar Kyuubi ke kamar mandi untuk muntah. Dan ini sudah lebih dari setengah jam.'

Aku naik pitam. Dengan cepat aku mematikan televisi kemudian melangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk memarahi si keriput itu.

Saat aku akan berbelok ke kanan -ke kamar mandi- dari arah kiriku –kamar Kyuubi- aku bisa mendengarkan suara-suara aneh.

Sedikit mengorek telinga, akupun berjalan dengan pelan menuju pintu kamarnya dan suara itu...

'Sial, tak bagus untuk jantungku.' Batinku saat mendengar suara desahan, aku tak tahu milik siapa, kemudian aku melangkah menjauh dari pintu kamar Kyuubi menuju kamarku.

Untuk sesaat aku merasa terabaikan. Maksudku, setelah ini, Itachi tak akan menyayangiku lagi karena dia sudah memiliki Kyuubi. Hey, dia saudaraku, wajar saja jika aku akan berpikir begitu.

'Seandainya si Dobe itu ikut, pasti aku tak akan diacuhkan seperti sekarang ini.'

HEY!

Kenapa aku memikirkan si Dobe itu?

"Kau menyukainya, hm?"

Pertanyaan Itachi beberapa waktu yang lalu tiba-tiba muncul dipikiranku.

"Tinggal singkirkan si pinky dan si rubah itu saja."

Waktu itu aku hanya menjawab seadaanya.

'Hah, apa benar aku menyukai si Dobe itu?' batinku sambil masuk ke kamarku.

Ring

Ring

Ring

Baru tiba dikamarku, telepon genggam yang memang sengaja aku tinggalkan dikamar, berbunyi.

'Naruto?' sedikit tak percaya dia meneleponku, I mean, ini sudah larut.

"Hn." Sahutku.

"Apa Kyuu baik-baik saja? Apa dia berkelahi dengan Itachi-Sensei? Perasaanku tak enak, Sasuke. Tolong lerai dia jika mereka bertengkar."

Hah, untuk sesaat aku rindu suaranya.

APA!?

"Hn." Tanggapku yang memang sengaja aku lakukan agar ia mengeluarkan suaranya lagi.

"HEY, AKU SERIUS, TEME! JIKA TERJADI SESUATU PADA KYUUBI, AKU AKAN MEMBUNUHMU!" teriaknya dan berhasil membuatku menjauhkan telepon genggamku dari telingaku. Sangat tidak sehat untuk pendengaranku.

"Mereka baik-baik saja, Dobe." Kataku kemudian, tak ingin membuatnya khawatir. Kasihan jika dia harus khawatir sepanjang malam karena Kyuubi menginap bersama kami. "Kenapa kau belum tidur?" tanyaku sambil membaringkan diri ditempat tidur.

"Aku mengkhawtirkan Kyuu." Jawabnya pelan terdengar lirih. Berlebihan. Tapi ada benarnya, jika dia mengetahui apa yang Itachi lakukan pada kakaknya, dia pasti akan mengamuk.

"Hey, kau tidak takut dirumah sendirian?" tanyaku mulai memggodanya.

"Tidak. Ada Sai-Senpai dan Gaara-Senpai yang menginap dirumahku. Hehehe, aku sengaja meminta mereka menginap karena.."

"Kau tak bisa menjaga dirimu sendiri, Naruto?" tanyaku sedikit menaikan suaraku. Lho, kenapa aku lakuakn itu?

"Kenapa kau berteriak, Sasuke?" tanya Naruto heran dari seberang sana.

'Apa? Aku berteriak?' batinku. "Aku mengantuk." Kataku kemudian dengan tidak sopannya mematikan telepon genggamku dan menarik selimutku dengan kasar, tidur, atau lebih tepatnya pura-pura tidur.

=Naruto pov=

"Hah…"

Entahlah, aku tak tahu sudah berapa kali aku menghela nafas selama lebih dari setengah jam ini.

Aku merasakan sesuatu yang buruk yang akan menimpa Kyuubi.

Perasaanku saja mungkin. Aku sudah meneleponnya dan aku baru sadar jika ia selalu mendiamkan telepon genggamnya saat tidur. Jadi, percuma saja.

Tentu aku tak ingin mengganggu Itachi-Sensei, jadi, aku memutuskan untuk menelepon Sasuke. Dan syukurlah, panggilan pertamaku langsung ia angkat.

"Hn." Itulah sapaannya.

"Apa Kyuu baik-baik saja? Apa dia berkelahi dengan Itachi-Sensei? Perasaanku tak enak, Sasuke. Tolong lerai dia jika mereka bertengkar." Tanyaku tanpa menyapanya terlebih dahulu.

"Hn." Lagi-lagi tanggapan itu yang dia berikan. Kau kesal.

"HEY, AKU SERIUS, TEME! JIKA TERJADI SESUATU PADA KYUUBI, AKU AKAN MEMBUNUHMU!" teriakku tanpa tahu malu.

"Mereka baik-baik saja, Dobe." Akhirnya dengan teriakkanku dia bisa menjawabku dengan jawaban yang ingin aku dengar. Tentu saja aku ingin Kyuu baik-baik saja. "Kenapa kau belum tidur?" tanyanya kemudian.

"Aku mengkhawtirkan Kyuu." Jawabku lirih sambil memikirkan Kyuu.

"Hey, kau tidak takut dirumah sendirian?" dia mulai menganggapku anak kecil. Sial.

"Tidak. Ada Sai-Senpai dan Gaara-Senpai yang menginap dirumahku. Hehehe, aku sengaja meminta mereka menginap karena.." Itulah yang keluar dari mulutku. Padalah aku ingin berbohong, tapi aku tidak bisa.

Aku tidak mahir membohongi orang.

"Kau tak bisa menjaga dirimu sendiri, Naruto?"

'Kenapa dia?' batinku saat mendengar Sasuke berteriak. "Kenapa kau berteriak, Sasuke?" tanyaku dengan nada lemah.

"Aku mengantuk." Itu jawabannya, melenceng dari apa yang aku tanyakan. Dan setelah itu, dengan seenaknya saja ia memutuskan pembicaraan kami.

"Ada apa dengannya?" tanyaku sambil menatap telepon genggamku.

"Kau belum tidur, Naruto?" tanya Sai-Senpai sambil mengucek-ngucek matanya.

Saat ini aku sedang berada diruang tamu yang berada tak jauh dari kamar Sai-Senpai dan Gaara-Senpai, sepertinya ia terbangun karena teriakkan ku tadi.

"Oh, ini baru mau tidur." Kataku kemudian meninggalkan Sai-Senpai.

Boleh jujur?

Sebenarnya aku ingin menangis saat ini.

Kenapa Sasuke tiba-tiba meneriakiku?

Kenapa tiba-tiba ia mematikan teleponnya?

Apa aku melakukan kesalahan?

Pagi

=Kyuui pov=

"Hngh…" erangku sambil meregangkan otot-ototku. "Ouch…" sial, pungungku sakit. 'Dimana si Keriput itu?' batinku saat aku sama sekali tak merasakan aura mesum darinya.

Hey, kenapa aku langsung mencarinya?

Hening

Hening

Hening

Sial, apa dia memanfaatkan ketulusanku semalam, hah?

'Kurang ajar.' Batinku kesal.

Sedikit berhati-hati, aku turun dari tempat tidur, memasa…ngkan…

'Pakaianku?' batinku saat melihat pakaian ku sudah melekat dibadanku.

Mungkinkah Itachi?

Melihat kearah jam dinding dan melihat sekarang baru pukul 8, akupun memilih untuk berjalan ke balkon yang berada di kamarku.

Aku lebih memilih menenangkan diri dulu daripada menggosok gigit atau cuci muka. Aku harus mengambil alih kembali otakku.

Dengan jalan tertatih, aku sudah tiba di balkon.

"Hm…" kuhirup udara pagi dalam-dalam. Baunya sangat menenangkan.

Aku suka ini.

'Apa aku terlihat murahan dimata keriput itu? Apa dia memanfaatkan itu semua?' ada banyak pertanyaan yang muncul dibenakku.

Aku bingung harus bicara apa nanti saat bertemu dengannya. Haruskan bersikap biasa-biasa saja? Atau…

=Itachi pov=

"Hngh…" aku dapat mendengar erangan Kyuubi dipelukanku. Hey, aku tidak mabuk semalam, jadi, tentu saja aku ingat jika Kyuubi tidur denganku.

Melihatnya tertidur saat ini, membuat kebahagiaan ku semakin sempurna. Aku ingin seperti ini, melihatnya terlelap dipelukanku dan terbangun dipelukanku juga. Aku menginginkan ini. tapi dia…apakah dia juga menginginkan ini?

Sakit

Sedikit mengelus rambut panjangnya yang terurai, tak sengaja aku melihat jam sudah menunjukan jam 7.

Aku tak ingin dia terbangun didalam pelukanku jika ia tak ingin. Jadi, aku memutuskan untuk melepaskan pelukanku dengan perlahan, kemudian kembali ke kamarku.

Sakit

/\

/\

"BERENGSEK KAU, ITACHI!"

Aku terbangun dari tidurku karena terkejut mendengar teriakan dari Kyuubi.

Tunggu.

Kyuubi?

Dengan cepat aku membuka mataku dan bangkit dari tempat tidur. Kenapa dia berteriak? Tidak, bukan itu pertanyaannya.

Kenapa dia mengatakan hal seperti itu?

"Berengsek kau." Katanya kemudian berganti dengan nada lirih.

Ada apa ini? sungguh.

Nyawaku juga masih belum terkumpul semua, sepertinya.

"Serendah apa aku dimatamu, Itachi?" tanyanya berhasil membuat mataku terbelalak dengan lebar dan membuat dadaku sesak.

Sakit sekali.

Apa yang dia bicarakan?

Lalu, wajah itu?

Ada apa dengannya?

"Jangan ambil tubuhku jika kau tak benar-benar menyayangiku." Katanya kemudian berjalan keluar dari kamarku.

Demi Tuhan, ada apa dengannya?

Karena tak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi, aku memutuskan untuk menyusulnya.

"Apa yang kau bicarakan, Kyuu?" tanyaku sambil menahan langkahnya. "Kenapa kau bicara seperti itu?" tanyaku lagi.

Aku takkan puas sampai ia menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

"Seharusnya aku ingat kejadian beberapa saat yang lalu," katanya sambil menatap mataku.

Tuhan, tatapan apa itu? Kenapa penuh luka?

"Kau lebih menyayangi Deidara." Katanya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkanku.

Sakit.

Kenapa dadaku begitu sakit?

Deidara?

Kenapa bisa Deidara?

=Kyuubi pov=

Setelah memutuskan untuk tidak berpikiran yang aneh-aneh, akhirnya akupun memutuskan untuk mendatangi kamar Itachi. Setelah sampai tujuan, akupun langsung membuka pintu kamarnya.

"Dei…"

Deg

'Dei?' batinku. 'Kenapa Deidara?' batinku tersenyum kecut. 'Dia memimpikan Deidara setelah apa yang dia lakukan padaku semalam?'

Dugaanku tak salah, dia memanfaatkan ketulusanku. Sebegini sakitnya, kah? Aku tak tahu jika menyayangi seseorang akan sesakit ini.

'Berengsek!'

"BERENGSEK KAU, ITACHI!"

Teriakku membabi-buta. Aku…aku benci padanya.

"Berengsek kau." Kataku lirih. Rasanya aku ingin menangis. Tapi, tidak. Aku tidak akan memperlihatkan kelemahanku didepannya! "Serendah apa aku dimatamu, Itachi?" tanyaku.

Dadaku…

Kenapa sakit…

"Jangan ambil tubuhku jika kau tak benar-benar menyayangiku." Kataku kemudian keluar dari kamarnya. Aku tak tahan. Aku ingin pulang detik ini juga!

"Apa yang kau bicarakan, Kyuu?" tanyanya sambil menggenggam tanganku. "Kenapa kau bicara seperti itu?" tanyanya lagi.

Sial, dia mempermainkanku, hah? Pura-pura tak tahu!?

"Seharusnya aku ingat kejadian beberapa saat yang lalu," kataku sambil menatap matanya. Aku akan menatapnya untuk yang terakhir kali.

Aku…aku benci padanya. "Kau lebih menyayangi Deidara." Kataku kemudian melenggang pergi. Aku sudah tak peduli dengan rasa sakit dipunggung dan dibagian bawahku. Dadakulah yang lebih sakit dari itu semua.

Setelah mengemasi barang-barangku, akupun bergegas keluar dari vila itu. Terserah, aku akan mencari angkutan umum saja walaupun itu mustahil.

Sungguh berengsek, dia bahkan tak mengejarku. Dia pembohong!

Berengsek!

'Berengsek kau, Uchiha!'

=Sasuke pov=

Aku melihat Kyuubi berjalan sedikit tertatih menuju kamar Itachi, karena penasaran, aku mengekorinya. Tak begitu jauh jarak kami berdua, aku juga yakin jika Kyuubi tak menyadari keberadaanku.

Aku melihatnya membuka pintu kamar Itachi kemudian masuk. Aku segera berlari untuk mengintip atau setidaknya menguping pembicaraan mereka.

"Dei…"

'Apa?' batinku sedikit terkejut saat aku mendengar erangan Itachi. Aku mengintip sedikit dan, yah, dia sedang tertidur. Bermimpikah? Tapi, bagaimana bisa? Maksudku, bukankah semalam dia baru bercinta dengan Kyuubi? Lalu kenapa dia memimpikan Deidara?

Itachi idiot!

Dan setelah itu, aku mendengar Kyuubi berteriak, memarahi Itachi.

Sepertinya dia akan membenci kakakku. Tak ingin ketahuan menguping, aku pun kembali berjalan menjauhi kamar Itachi. Nanti dia juga akan bercerita. Jika tidak? Aku yang akan menanyainya.

Hey, aku tahu seperti apa yang Kyuubi rasakan. Pasti sakit saat mendengar seseorang yang sudah "meniduri"mu menyebut nama orang lain apalagi musuhmu didalam tidurnya.

Saat melihat Itachi hendak mengejar Kyuubi, dengan cepat aku menahannya.

"Apa kau gila!?" bentaknya padaku.

Apa? Dia membentakku? Bagus, Kyuubi benar-benar sudah membuatnya berubah. Maksudku, itu bagus, sungguh.

"Hey, apa kau sudah gila?" tanyanya lagi saat aku hanya terdiam.

"Mungkin saat ini dia butuh waktu sendirian." Kataku tenang sambil masih memegang tangan Itachi. "Dan…pertanyaan itu seharusnya untukmu sendiri." Tambahku kemudian melepaskan tangannya dan kembali duduk ke sofa. "Apa kau gila? Dei?" tanyaku sambil mengikuti nada erangan itachi tadi. "Deidara sudah tak di Jepang lagi. Berhentilah memikirkannya. Aku jadi bingung, jangan-jangan kau benar-benar "suka" dengan Deidara." Kataku panjang lebar sambil bangkit dari sofa. Jujur, aku sedikit marah saat ini. "Jangan permainkan Kyuubi, Itachi." Lanjutku kemudian melenggang ke kamarku.

Kalau sampai ia hanya mempermainkan Kyuubi, bisa aku pastikan dia tidak akan pernah melihat wajah rubah itu lagi.

Dasar Itachi.

=Itachi pov=

"Mungkin saat ini dia butuh waktu sendirian." , "Dan…pertanyaan itu seharusnya untukmu sendiri.", "Apa kau gila? Dei?"

Perkataan dan pertanyaan dari Sasuke, kupikir, ada benarnya juga.

Maksudku…hah…

Kenapa Deidara masuk kedalam mimpiku?

"Aku jadi bingung, jangan-jangan kau benar-benar "suka" dengan Deidara."

Kalimat itu juga benar-benar "tak masuk akal"

'Apa mungkin?'

"Tidak mungkin." Jawabku pada pertanyaan ku sendiri. "Aku menyayangi Kyuubi." Kataku pelan.

Saat ini aku sedang duduk di balkon yang ada dikamarku. Sudah siang sekarang dan aku yakin, Kyuubi pasti sudah tiba dirumahnya. Ya, itupun kalau dia pulang ke rumahnya.

Ring

Ring

Ring

"Hn?" sedikit malas, aku mengambil telepon genggamku yang berdering. "Ada apa, Naruto?" jawab ku pelan. Aku sudah siap jika dia akan memarahiku.

"Kyuubi…."

Tbc