Ku Terima Kau Apa Adanya

Chapter 3

Disclaimer : Abangku Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, TYPO berserakan, GAJE, Alur ngebut(masih), Pendeskripsian gak jelas, Feelnya gak dapet, Sinetron(banget) dan banyak lagi yang lainnya.

Summary : Aku tidak perduli dengan apapun rupamu tapi yang harus kau tahu adalah aku mencintaimu apa adanya.

Fanfic ini hanya fiktif belaka bila ada kesamaan karakter, Tempat, Alur, Typo semua itu diluar sepengetahuan penulis, dan murni sebagai wacana dalam pelajaran proses kehidupan.


Disarankan Kalau ingin membaca Fanfiction harus dalam keadaan mood yang baik, kalau bisa tidak sambil melakukan aktivitas lain dipastikan fokus pada story dan dipastikan juga anda bisa membaca:P ini cuma saran Terima Kasih :D

Happy Reading
.

.

.

Di siang yang teduh ini terlihat lima orang yang sedang menyusuri gang-gang kecil nan sempit. Di barisan depan tiga orang bertampang sangar dan dibelakangnya satu pemuda berambut pirang dengan membawa satu wanita cantik yang menggunakan kursi roda.

Ketika kelimanya sampai di sebuah pertigaan ternyata dua orang dibelakangnya memisahkan diri. Yang tiga orang preman itu ke kanan dan pemuda berambut pirang dengan gadis yang didorongnya ke kiri.

Tak lama kemudian sebelum mereka berpisah jauh salah satu preman itu menyadari kalau dua pemuda dibelakangnya tidak mengikutinya. "Oi Naruto, markas kita kesini," ujar salah satu preman yang memiliki banyak piercieng dan menghampiri Naruto yang berbeda arah dengannya dua temannya mengikuti dibelakang.

Naruto membalikkan badannya "Oh, benarkah? Tapi sayang, aku tidak mau mampir ke tempat menjijikan itu," Naruto berkacak pinggang seolah menantang mereka bertiga.

"Lalu kita mau bersenang-senang dengan gadis itu dimana?" tanya sang leader Akatsuki, lagi.

"Hey,siapa yang kau sebut kita, hah? Aku tidak akan membaginya dengan kalian,"Naruto kemudian kembali membawa Hinata arah yang tadi dia tuju.

Sang leader yang tidak bisa terima lalu mengejar Naruto. Pria berambut pirang itu meraih pundak Naruto "Tapi Naruto, itu hasil kejahatan terbaik kami," ujarnya dengan sedikit memelas karena merasa anak buahnya tidak akan ada yang melihatnya.

"Kenapa kalian begitu keras kepala. Kalau begitu akan kupecahkan kepala kalian," Naruto mengeluarkan aura membunuh yang sangat besar sehingga membuat leader berambut pirang itu bergidik ngeri.

Leader akatsuki itu mundur beberapa langkah dan meneguk ludahnya. Sampai dia menubruk seseorang yang ternyata dua anak buahnya. "Ayo kita pulang,"ajaknya pada anak buahnya. "Maafkan aku, Naruto. Kalau kau mau silahkan ambil saja."

Sedangkan anak buahnya yang berambut pirang terang bertanya-tanya kenapa leadernya mengalah pada bocah itu. "Lho? Kenapa Leader memberikan tambangemas kita?" bisiknya.

"Sudah, ayo turuti saja apa kata Leader!" kini yang memakai masker angkat bicara dan agak ngeri juga melihat Naruto yang sudah mengeluarkan aura membunuhnya. Dia masih ingat betul bagaimana dia dikalahkan oleh pemuda itu dan lagi saat dia mengadu pada Leader. Dan Leader membantunya dengan ke-enam saudaranya tapi itu tidak bisa menandingi kekuatan Naruto dan malah berakhir dirumah sakit dengan keadaan sekarat.

Setelah preman-preman itu pergi Naruto pun melanjutkan perjalanannya bersama gadis berambut indigo tersebut. Sedangkan Hinata hanya menunduk menahan tangisnya mungkin ikut dengan tidak ikutnya kelompok Akatsuki sama saja karena dia akan kehilangan kehormatannya, mungkin setidaknya dia merasa agak sedikit bernafas lega karena tidak akan ada yang meminta uang tebusan pada ayahnya. Tak lama berjalan tiba-tiba Naruto berhenti di gang yang tidak kalah sepinya dengan yang sejak tadi dilewatinya dan parahnya lagi itu di depan rumah kosong hati Hinata semakin tak karuan. Naruto melepaskan kain yang sedari tadi membungkam mulut Hinata.

"Naruto-kun... Kumohon jangan lakukan apapun padaku," Hinata memelas dengan derai air mata yang berlinang.

Naruto menaikkan sebelah alisnya "Heh?, siapa yang mau melakukan macam-macam padamu?" tanya Naruto heran.

"T-t-tapi tadi? Lalu kenapa kau b-berhenti disini?" tanya Hinata yang masih ketakutan.

Naruto menggerakkan tangannya ke pinggang Hinata sedangkan wajahnya semakin didekatkannya ke wajah Hinata "Aku... Hanya mauu... Mennn..."

Melihat wajah Naruto yang semakin mendekat pada wajahnya. Hinata blushing"..."

Ketika hidungnya bersentuhan dengan hidung Hinata akhirnya Naruto meneruskan kalimatnya "...nanyakan alamat rumah-"

PLAK!

Tangan Hinata sukses meninggalkan bercak tangan berwarna merah di pipi bergaret tiga Naruto. Ternyata tangan Naruto yang kepinggang Hinata adalah untuk melepaskan tali yang mengikat tangan Hinata tapi ketika tali dilepas Hinata refleks menampar Naruto.

"Aduh kenapa malah ditampar sih? Memangnya salah ya, kalau aku minta alamatmu? Aduh," Naruto memundurkan kembali wajahnya.

"Eh? Ng... Un-tuk apa kau me-menanyakan alamatku?" tanya Hinata gugup sembari memainkan kedua jari telunjuknya.

"Ya untuk mengantarmu pulang. Memangnya kau mau pulang sendirian? Aku takut preman tadi menculikmu lagi," Naruto masih mengusap-usap jejak tangan di pipinya.

Sorot mata perhatian Naruto ternyata sanggup membuat Hinata terhenyak beberapa saat 'Naruto tampan sekali' lamunan Hinata diakhiri oleh sebuah tangan yang melambai-lambai di hadapannya. 'ah? Apa-apaan aku ini. Masa aku suka sama orang super menyebalkan dan mesum ini sih, tidak mungkin' batin Hinata menolak apa yang ada dipikirannya. Lalu Hinata memberitahu alamat rumahnya dan segera Naruto membawanya ke rumah karena takut dikira membawa Hinata kemana-mana.

Sesampainya di rumah eh? Lebih tepatnya mungkin istana keluarga Hyuuga ternyata sudah disambut oleh Kakak sepupu Hinata yang berambut coklat.

"Kau bawa kemana Hinata-sama, hah?" Neji mencengkram kerah jaket Naruto dan mendorongnya ke dinding.

"Huh, kakak dengan adiknya ternyata tidak jauh berbeda, sama-sama tukang marah-marah. Hei Hinata bisa kau jelaskan padanya," ucap Naruto dengan tenang walaupun sekarang badannya sudah terangkat dari pijakannya.

"Iya Nii-san, dia tadi sudah menculikku dan melakukan hal kurang ajar padaku," Hinata menyeringai licik pada Naruto yang masih dicengkram oleh Neji.

Kata-kata Hinata membuat Neji semakin menatap tajam Naruto. Sedangkan Naruto tercengang mendengar kata-kata Hinata. Tapi itu hanya sementara lalu Naruto menyeringai karena mempunyai rencana balas dendam pada Hinata 'Awas kau ya.'

Neji melempar Naruto keluar gerbang setelah dihajar habis-habisan oleh Neji kalau saja tidak dilerai oleh Hinata mungkin itu akan berlangsung sampai dengan wajah yang babak belur Naruto tetap tersenyum terutama pada Hinata yang masih terlihat dibalik gerbang sepertinya Hinata tersenyum puas melihat keadaan Naruto.

Naruto tersenyum penuh arti pada Hinata dan melambaikan tangannya "Sampai nanti malam ya, Hinata," ujarnya sambil lalu.

Hinata menaikan alisnya sebelah. Heran melihat kelakuan Naruto padahal sudah babak belur tapi kenapa malah kelihatan senang. Sedangkan Neji men-deathglare Naruto. Tanpa memperdulikan kata-kata Naruto, Hinata dan Neji masuk kedalam rumahnya padahal ada hal yang akan terjadi nanti malam oleh Naruto tapi Hinata menganggap itu semua hanya bualan saja.

.
.
Ku Terima Kau Apa Adanya~Miyan
.
.

Pada malam hari di sebuah rumah tepatnya di kamar yang berada di lantai dua seorang gadis bersurai indigo sedang membolak-balik buku pelajaran tampaknya gadis itu sedang mencari bacaan yang dapat mengisi pertanyaan yang tertulis dibuku tulisnya.

Matanya bersinar terang ketika melihat uraian yang dapat ia tulis akhirnya ditemukan. Dengan segera ia menyalinnya ke buku tulisnya. "Huh, akhirnya selesai juga. PR yang cukup sulit ternyata," Desah Hinata setelah mengerjakan PRnya dia mengambil sebuah buku bercover warna lavender yang cukup tebal dari laci dimeja belajarnya dan meletakkannya di meja untuk menggantikan buku pelajaran yang ada di mejanya tadi.

Lembar demi lembar dibaliknya mencari lembaran yang belum diisinya hari ini. Setelah menemukan lembaran yang kosong ia mulai menorehkan tintanya di lembaran kosong tersebut dari mulai menuliskan tanggal hari ini dan mulai menuliskan kata-kata.


Dear, Diary
Apa yang terjadi hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya yang monoton tidak ada yang menarik hanya saja hari ini sedikit berbeda karena ada orang yang selalu menggangguku orangnya sangat menyebalkan walaupun menyebalkan jujur senyum dan tatapannya berkali-kali membuatku tersipu terutama saat dia memuji diriku ow, mungkin wajahku sudah sangat memerah saat itu dia sangat berbeda. Walaupun aku membenci lelaki tapi kurasa dialah satu-satunya yang berbeda yah kurasa lebih banyak kejelekannya daripada kebagusannya. Ah apa-apaan diriku ini kenapa aku mengotori buku diaryku dengan menuliskan tentangnya. ih aku benci lelaki sampai kapanpun.


Hinata telah selesai menulis curhatan hari ini di buku diary-nya dengan expresi wajah yang berubah-ubah pertama sedih, lalu merona, dan yang terakhir kesal. Kini Hinata sedang menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya ala cherrybelle. Tanpa Hinata sadari dia telah melamun. Tenggelam dalam lamunan dan membayangkan kejadian-kejadian yang baru saja dia alami membuatnya merona dan senyam-senyum sendiri sampai sebuah suara menyadarkannya.

"Heh? Senyum-senyum sendiri, merona, dan kesal sendiri apa itu kebiasaanmu setiap malam?" ujar Naruto yang sedang santai di atas tempat tidur Hinata.

"S-se-sejak ka-pan kau... disi-tu?" Hinata bukannya menunjukkan mimik wajah yang marah tapi malah merona mengingat kalau orang yang sejak tadi dipikirannya kini ada di hadapannya.

"Sejak kau belajar," kata Naruto santai sambil mengagumi betapa indahnya kamar Hinata yang dihiasi beberapa foto-foto, boneka dan barang-barang wanita lainnya.

Mata lavender Hinata membelalak dengan sempurna karena Naruto ternyata sudah disini dari sekitar satu setengah jam yang lalu karena Hinata memulai belajar sejak pukul 18.25 dan sekarang jam dinding menunjukan pukul 19.57 dan Hinata yakin kalau Naruto melihat semua yang dia lakukan selama menulis dairy.

"B-berarti ka-kau melihat..."

"Ya, aku melihat semua tingkahmu. Hei kasurmu ini empuk sekali," Naruto melompat-lompat diatas kasur Hinata.

"Hentikan! Dan pergi dari sini atau aku akan memanggil Tou-san dan Nii-san ku untuk memukulimu?" ancam Hinata dan mulai perlahan mendekati pintu.

Naruto yang sejak tadi melompat-lompat sekarang berhenti karena ancaman Hinata. Tapi Naruto malah tiduran di kasur Hinata dan memejamkan matanya "Silahkan saja kalau ada. Aku tahu kalau kau disini hanya berdua dengan security. Tou-sanmu belum pulang kerja, Nii-sanmu sedang jalan dengan pacarnya pembantumu sudah pada pulang dan security itu sedang tidur sekarang. Dan sekarang kau tidak bisa keluar karena kunci kamarmu ada padaku sekarang hehehe," kata Naruto santai.

Setelah mendengar pernyataan Naruto, Hinata segera memeriksa sakunya ternyata benar kuncinya sudah ada pada Naruto dan kini dia tidak akan bisa keluar kamar karena pintu kamarnya sudah sejak tadi ia kunci karena takut ada orang yang memergokinya sedang menulis diary tapi malah orang yang ditulis di diary lah yang memergokinya sedang menulis diary dengan expresi wajah bermacam-macam yang cukup membuat Hinata malu saat ini.

Naruto memicingkan sebelah matanya dan menangkap sekumpulan kertas yang berupa buku masih tergeletak di meja belajar Hinata. Naruto lalu bangkit menuju meja yang terletak dekat pintu tempat dimana Hinata sedang menyendiri ketakutan dengan kursi rodanya.

"Mau kemana kau? Mundur! atau aku akan... Menghajarmu," Hinata mengacungkan kepalan tangannya pada Naruto. Hinata tidak tahu kalau yang Naruto tuju bukan dirinya melainkan sesuatu yang ada di meja belajarnya.

Tapi Naruto tidak memperdulikan ancaman Hinata dia terus saja berjalan semakin dekat membuat jantung Hinata berdegup kencang. Ketika sudah sangat dekat dengan Naruto, Hinata memejamkan matanya dan tangan Naruto terulur untuk mengambil buku yang posisinya tepat disamping Hinata.

'Lho? Kenapa tidak terjadi apa-apa?' huwaa ternyata Hinata berharap Naruto melakukan sesuatu padanya. Hinata mulai membuka matanya perlahan dan memlihat Naruto sedang membuka sebuah buku sambil berdiri di depannya.

'Buku apa itu?' tanya Hinata dalam hati sambil memperjelaskan pandangannya pada buku yang dibaca oleh Naruto.

Hinata menbelakakkan ketika menyadari kalau buku yang dibaca Naruto adalah buku diary-nya tiba-tiba tawa Naruto pecah setelah membaca beberapa bagian dari buku itu. Hinata dengan sigap mencoba merampas buku tersebut dari tangan Naruto, tapi itu dapat dihindari oleh Naruto.

Naruto memulai lagi kegiatan membacanya yang tadi sempat terganggu oleh sang pemilik buku tersebut. Tapi ketika Naruto sedang asyik membaca "Aaaarrgghh, kakiku" Naruto berteriak kesakitan ketika ia merasa sebuah roda sedang menggilas kakinya. "Aaa... A-ampun Hinata..." Naruto kini berjongkok memegangi kaki kirinya yang masih dilindas oleh Hinata.

"Baiklah, kalau begitu kembalikan buku diaryku dan..." belum sempat Hinata menyelesaikan kata-katanya Naruto telah mengembalikan diary Hinata. "...memohonlah seperti ini 'Tuan putri Hinata Hyuuga yang cantik, baik, lucu, imut-imut bak bidadari surga, tolong lepaskan kaki hamba.' ayo cepat, atau kakimu tak akan kulepaskan?" Hinata memalingkan wajahnya dengan sombongnya.

Naruto sweatdrop sesaat 'Hee? Cantik-cantik kok narsis banget sih' batin Naruto.

"Cepat! Jangan sampai kakimu nanti gepeng duluan," Hinata tak menatap Naruto sedikitpun dia masih bertahan dengan posisi angkuhnya.

"B-baiklah. Tuan-aww putri Hinata Hyuuga yang cantik, lucu, baik bak bidadari surga, kumohon lepaskan kakiku-aw," kata Naruto mengikuti kata-kata Hinata dengan susah payah karena menahan kesakitannya.

"Imutnya mana?"

"ARGH! Iya, yang imut juga kumohon lepaskan," Naruto meringis ketika Hinata lebih menekan kaki Naruto.

Akhirnya Hinata pun memajukan kursi rodanya untuk melepaskan kaki Naruto yang telah dilindasnya. Hinata menaruh bukunya kembali kedalam laci meja belajarnya.

Sedangkan Naruto sedang duduk di kasur Hinata melepas sendal yang tadi dipakainya dan menaikan sebelah kakinya ke atas kasur meratapi punggung kakinya yang memerah lecet dan berdenyut-denyut. Hinata memandangnya tidak tega juga melihat keadaan kaki Naruto yang sedang sekarat(?)

"Biar ku ambilkan kotak P3K, kembalikan kuncinya!" perintah Hinata dan Naruto langsung memberikannya.

Hinata pun keluar untuk mengambil kotak P3K. Terlihat senyuman di bibir Naruto setelah Hinata keluar. Dugaan Naruto benar, Hinata tidak akan membiarkan Naruto yang terluka begitu saja. Bagaimana bisa seorang Hinata tahan dengan melihat penderitaan orang lain apalagi dialah penyebabnya. Di sekolah saja dia terkenal dengan gadis yang tidak bisa mengucapkan kata tidak, mungkin hanya satu hal saja yang selalu ia katakan tidak, yaitu kepada orang yang ingin menjadi pacarnya itupun dia menolaknya dengan kata yang sehalus-halusnya agar ia tidak melukai perasaan orang tersebut.

Naruto berbaring di kasur Hinata dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajah tan-nya. Author pikir sih Naruto itu udah gila tapi sepertinya tidak. Dia senyum-senyum sendiri karena senang mendapatkan perhatian Hinata.

Terdengar suara kursi roda yang perlahan mendekat. Naruto kembali dengan posisinya tadi. Ternyata Naruto seperti itu hanya akting belaka untuk mendapatkan perhatian Hinata. Yah bagaimanapun juga Naruto itu lelaki kalau hanya luka lecet-lecet saja sih bukan apa-apa.

Hinata pun menghampiri Naruto dengan membawa kotak P3K dan satu wadah air panas untuk mencuci lukanya. Dengan sangat perlahan Hinata membasuh luka Naruto layaknya seorang anak yang sedang membasuh kaki ibunya. Hinata mulai memberikan obat pada lukanya dan memberi perban. Lukanya memang tidak serius tapi Hinata takut luka itu bercampur debu dan kotoran yang dapat menyebabkan infeksi.

Naruto tersenyum melihat wajah Hinata yang begitu manis saat serius memperban kakinya. Hinata merasa kalau dia sedang diperhatikan, benar saja ketika Hinata mendongakan kepalanya tatapan mereka bertemu. Mata mereka bertemu dan Hinata bisa melihat jelas senyuman itu. Senyuman yang dapat menghipnotis siapapun yang melihatnya.

Hinata memalingkan wajahnya "Jangan menatapku seperti itu, cowok mesum!" sebenarnya Hinata malu, malu bila Naruto melihat wajahnya yang kini bersemu merah.

Baru saja Hinata menyelesaikan pekerjaannya sebuah tangan berkulit tan mengangkat dagunya. Membuat Hinata menatap manik sapphire Naruto dengan jelas.

Naruto menurunkan sebelah kakinya. Perlahan Naruto mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata. Hinata hendak berontak tapi dengan menatap mata sapphire itu dia menjadi tenang. Seakan-akan terhipnotis oleh kedua bola mata indah itu ketika Naruto memejamkan matanya Hinata mengikutinya. Naruto semakin mendekati wajah Hinata yang sudah sangat merah dan ketika Naruto memiringkan kepalanya Hinata juga mengikutinya hanya saja arahnya berlawanan. Mulut keduanya semakin dekat hampir bersentuhan dan...

Suara ponsel Naruto berbunyi membuat keduanya membuka matanya kembali dan suasana yang Naruto ciptakan hancur sudah. Naruto mendecak dan mengambil ponselnya dari saku celananya. Ternyata yang menelpon adalah Kaa-chan-nya.

Naruto menekan satu-satunya tombol yang berwarna hijau pada Keypad ponselnya. "Mo-"

"KAU DIMANA?! SAMA SIAPA?! SEDANG APA? APA KAMU TIDAK TAHU INI JAM BERAPA?! CEPAT PULANG ATAU KAU AKAN KAA-CHAN KUNCI DI LUAR DAN KAU TIDUR DI JALANAN DENGAN GELANDANGAN! KAU DENGAR ITU NARUTO?!" setelah mengomel pada anaknya, Kushina langsung mengakhiri telponnya.

Naruto mengorek-ngorek telinganya dengan jari kelingking. "Untung saja yang jadi anaknya itu aku. Coba kalau orang lain seminggu saja sudah pasti mengalami gangguan telinga," gumam Naruto pada dirinya sendiri.

Sejak kejadian 'hampir' ciuman tadi Hinata masih mematung dengan wajah yang memerah sempurna, tidak percaya apa yang baru saja 'hampir' terjadi. Ciuman pertamanya mungkin akan direbut oleh orang yang selalu mengganggunya kalau saja tidak ada yang menelpon Naruto barusan.

Naruto segera pamit pulang pada Hinata tapi dia tidak bergeming. Naruto ke jendela tempatnya masuk tadi untuk pulang. Naruto berhenti sejenak ketika kakinya sudah menjulur keluar dan menolehkan kepalanya kembali pada Hinata yang masih mematung.

"Akan kupastikan di lain kesempatan aku akan menyelesaikan yang 'tadi'," perkataan Naruto membuat Hinata kembali ke dunianya. Lalu Naruto langsung melompat keluar.

"Na-naruto-kun..." gumam Hinata.

.
.
Ku Terima Kau Apa Adanya~Miyan
.

.

"Selamat pagi semua!" sapa Hinata ceria pada semua anggota keluarganya yang sedang menunggu di meja makan. Hinata lalu menghampiri mereka dan duduk di sebelah Hanabi sedangkan Neji dan Hiashi mereka duduk di hadapan Hinata

"Sepertinya ada yang ada yang berbeda pagi ini," Hanabi melirik ke Nee-chan-nya membuka percakapan.

"Iya. Apa karena orang yang semalam datang? Siapa dia, Hinata?" tambah Neji menginterogasi Hinata.

Semuanya tercengang mendengar pertanyaan Neji, terutama orang yang ditanya yaitu Hinata. Sang kepala keluarga menatap Hinata tajam menunggu jawaban dari Hinata.

"Hah? D-dari-mana Nii-san tau?" jawab Hinata gugup.

"Itu tidak penting. Jawab! Siapa dia? Dan dari keluarga mana dia berasal? Atau Tou-san takkan mengizinkan kau keluar lagi," kini sang kepala keluarga angkat bicara.

Hiashi memang sangat tidak mengizinkan anak-anaknya bergaul sembarangan apalagi dengan keluarga yang tidak jelas asal-usulnya. Dia sangat khawatir dengan keluarganya semenjak istrinya meninggal, dia tidak bisa mengawasi anak-anaknya dengan menyeluruh dia tidak ingin anaknya salah gaul dan menjadi anak yang tidak benar ataupun kehilangan anaknya. Walaupun di hadapan anak-anknya beliau terlihat masa bodo tapi di dalam hatinya dia sangat mengkhawatirkan anak-anaknya.

"Ng... I-itu... Umm.."

TO BE CONTINUED


A/N: Waduh gomen Miyan telat lagi update abisnya Miyan pusing banget dah 3 minggu nyari kerjaan kesana-kesini tapi gak dapet-dapet (lah?) OK! Bagaimana minna-san apa sudah agak panjang? Tapi Miyan rasa fic ini tidak berstandar untuk dibaca deh. Makin gak jelas aja soalnya. Oia penulisan diary apa bener begitu? Hahaha gomen, soalnya Miyan gak pernah nulis diary jadi gak tau penulisa diary kayak gimana.

Kalau ada saran dan unek-unek yang mau disampaikan silahkan.

Thanks To: Guest, Ayzhar, Daehyuk Shin, Black Geraldine, abiputraramadhan, Mira Misawaki, tikathequin, yuliee

Manguni: udah tau jawabannya kan?

Bhiri: kalau yang ini?

Ayzhar: khu khu khu Neji-nii juga udah nyaranin. emang Authornya tega badai sama Hinata :( yah jangankan tiap minggu kalau banyak yang minat baca trus Review juga Miyan bisa update 3 hari sekali :D

Satu lagi Miyan itu cowok bukan cewek koq banyak yang ngira Miyan itu cewek yah apa karena tulisan Miyan yang lebay ini? apa karena nama akunnya? Miyan gak ada lagi stok nama jepang yang bagus sih jadi pake nama yang ini :D

Yang Login Silahkan Periksa PM masing-masing

Masih sudikah minna-san mereview?

Pay... Pay...