Title : Second Chance

Cast : Cho Kyuhyun, Park (Cho) Jungsoo, Kim(Cho) Kibum, Choi Seungcheol, Suho, Donghae, Henry.

Gendre : Brothership, Family, Friendship, Fantasy, Sci-Fi maybe.

Length : Chaptered

Summary : Bagaimana jika kau merasakan penyesalanmu yang begitu dalam dan tidak pernah bisa terlepas darinya? Perasaan menyesal yang akan terus membayangimu bahkan hingga sampai engkau mati? Menganggap pada awalnya semua ini hanya sesuatu yang biasa terjadi. Menganggap bahwa hal yang terjadi adalah wajar-wajar saja. Tertawa saat merasakan bahwa dirimu telah menang tanpa merasakan perasaan bersalah. Tidak menanggapi hal yang seharusnya kau tanggapi. Hingga akhirnya kau merutuki dirimu sendiri. Tapi bisakah sekali saja? Sekali saja kesempatan untuk mengubah semua itu? Dimana mungkin perasaan menyesal tidak akan hilang, namun memberikan kelegaan. Meski tidak di dunia ini, bisakah di dunia yang dimana ada kehidupan yang sama menggariskan takdir yang berbeda?

Kembali lagi dengan fanfic baru di sela-sela kesibukan kuliah dan tugas yang menumpuk. Ide FF ini tercetus karena inspirasi atau adaptasi anime Orange, namun kalo disana ada romance disini pure brothership yah. Tapi nggak terlalu mengadaptasi juga sih, karena cerita disini agak sedikit lebih 'kejam' dari cerita aslinya.

DON'T BASH

DON'T BE SILENT READER

DON'T LIKE DON'T READ

KEEP REVIEW

JUST ENJOYED

Incheon, 20 Juni 2005

Seungcheol, Donghae, Suho, dan Henry tengah berkumpul di dalam kelas. Kebetulan hari ini mereka semua datang begitu pagi. Entahlah tiba-tiba saja mereka merasakan semangat untuk menjalani kehidupan sekolah mereka dengan sungguh-sungguh. Terlebih kali ini mereka mempunyai tujuan yang sama.

Benar. Salah satu bangku kosong yang dari tadi menjadi objek pengelihatan mereka bereempat. Satu bangku yang mereka sengaja duduk untuk mengelilinginya. Tujuannya adalah membuatnya untuk tetap hidup dan terus tersenyum bersama mereka. Walau sebenarnya ada yang melebihi dari tujuan tersebut, yaitu mencoba mengerti apa yang dimaksud dengan arti sebuah persahabatan yang sebenarnya.

Hyun songsaenim cukup terkejut dengan kehadiran empat orang murid pindahannya kali ini. Jujur saja, biasanya ketika pelajaran bahasa korea akan mulai seluruh siswa belum hadir dan hanya menyisakan dirinya. Maklum karena dia adalah seorang guru yang tepat waktu serta tidak mau mengabaikan pekerjaannya. Ternyata beberapa murid pindahan menyadarkannya bahwa tidak semua murid sama dengan ekspektasinya.

Suho langsung menyuruh semua membenarkan posisi duduk mereka. "Hyun songsaeng anda sudah datang."

"Nde. Aku adalah tipe yang tidak suka terlambat." Hyun menyimpan tasnya di meja khusus untuk guru.

Henry antusias mendengarnya. "Hyun songsaeng memang yang terbaik."

Hyun tersenyum sekilas. "Walau kebanyakan siswa tidak menyukaiku dan memilih untuk terlambat."

"Maksud songsaenim?" Donghae agak bingung dengan jawaban Hyun.

Hyun menghela nafasnya. "Sejak dahulu murid disini tidak menyukaiku. Mereka menganggapku membosankan, karena selalu datang tepat waktu. Bahkan ada beberapa murid yang membenciku. Dan saat itu mereka memilih untuk sengaja datang terlambat."

"Songsae tidak marah?" Seungcheol bertanya.

Hyun tersenyum dan menyandarkan punggungnya. "Untuk apa aku marah? Aku malah merasa sedih, jika semua muridku masih begitu berarti mereka belum bisa menerima pelajaran yang aku ajarkan. Dengan begitu aku harus bekerja lebih keras lagi agar semua murid bisa menangkap penjelasanku dan menyukai bahasa korea."

Henry bertepuk tangan. "Seorang guru juga belajar?"

"Henry itu sudah jelas. Guru juga sama perlu belajar lagi. Agar materinya bisa bertambah terus untuk sang murid. Bahkan terkadang ada murid yang lebih pintar dari gurunya." Suho menjelaskan dengan tenang.

Donghae mengangguk setuju. "Makanya secara tidak langsung aku mengakui kehebatan seorang guru yang terus mau berjuang untuk muridnya."

"Jeongmal? Apakah kalian juga menganggapku begitu?" Hyun sungguh tidak mempercayai dengan ucapan keempat muridnya.

Seungcheol tersenyum dan menjawab. "Perjuanganmu tentu saja akan kami hargai Hyun songsaenim."

"Gomawoyo. Ngmong-ngomog yang membuat kalian datang sepagi ini karena apa?" Sebenarnya ini yang dari tadi ingin Hyun tanyakan.

Seungcheol menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Karena tahu Hyun songsae selalu datang tepat waktu, kami menunggu Kyuhyun untuk mengobrol sebentar. Tapi-tapi ke depan kami akan selalu datang sepagi ini untuk pelajaranmu."

Hyun terkekeh dengan ucapan polos Seungcheol. "Kyuhyun. Ah Cho Kyuhyun, hari ini dia tidak bisa masuk."

"Waeyo?" Donghae sangat sedih.

Hyun menatap keeempat muridnya. "Hyung-nya bilang Kyuhyun sedang sakit. Jadi sampai besok dia tidak masuk."

"Apakah Kyuhyun juga tipe murid yang tidak menyukaimu?" Suho bertanya selidik.

Henry terlonjak dengan kata-kata kejam Suho. "Yak! Kim Suho! Kenapa kau bertanya begitu?"

Hyun menggelengkan kepalanya. "Anniyo. Dia adalah satu-satunya murid yang selalu tepat waktu dan semangat untuk memperhatikan pelajaranku."

Dan semua mengangguk mendengarnya.

Hyun songsaenim memulai kelas bahasa koreanya dengan hanya empat orang murid. Siapa lagi kalau bukan keempat murid pindahan. Mereka cukup sedih mendengar fakta yang diberikan oleh Hyun songsaenim. Padahal Hyun songsae begitu menyayangi semua muridnya, namun mereka saja yang salah paham dan tidak mau menahu mengenai penderitaan apa yang sebenarnya dihadapi oleh guru mereka.

Setelah 30 menit pelajaran dimulai, barulah satu per satu murid sudah memasuki kelas. Keadaan menjadi ramai sekarang, berbeda dengan 30 menit yang lalu begitu tenang dan serius. Mereka senang setidakya murid yang lain masih mau mengikuti pelajaran dari Hyun songsaenim walau tidak sepenuhnya. Walau pada kenyataan yang ada, ada yang benar-benar memperhatikan dan ada yang hanya berpura-pura.

Sudah dua mata pelajaran yang mereka lalui, pertama Hyun songsaenim dan kedua Kang songsaenim. Waktu istirahat atau bel yang menandakan istirahat makan siang sudah berbunyi. Semua murid meninggalkan kelas untuk mengisi perut mereka yang kosong. Satu bangku yang kosong itu dipandangi oleh beberapa orang murid, setelahnya mereka hanya bisa menghembuskan nafas dan kemudian pergi meninggalkan kelas.

Di kantin sekolah, kebanyakan adalah murid-murid yang membawa bekalnya dari rumah. Terlebih lagi para wanita. Namun ada juga yang membeli makanan langsung dari kantin dan itu kebanyakan adalah para siswa laki-laki. Termasuk keempat orang murid pindahan yang juga membeli langsung.

Mereka tersenyum saat mengingat salah seorang dari mereka yang kini tidak masuk karena sakit. Teman baru mereka itu selalu membawa bekalnya sendiri dari rumah. Dia bilang memasak bekal sendiri itu lebih menyehatkan dan menghematkan. Menghematkan. Istilah yang tidak pernah ada sebelumnya, namun dengan begitu polos dia menyebutkannya. Ah rasanya sepi sekali karena Kyuhyun sakit. Setelah bel masuk hingga pulang, mereka berempat merasa bahwa hari yang dilewati terasa datar.

Pada pagi itu Kyuhyun terlihat panik mencari sesuatu yang amat penting. Semua lemari miliknya sudah dia bongkar, namun benda tersebut sama sekali tidak ditemukannya. Perasaannya sudah mulai kacau karena tidak bisa menemukan hal wajib yang harus dia minum disaat seperti ini. Padahal sudah lama sekali, namun sekarang itu datang lagi.

Benar. Penyakit paru-paru Kyuhyun kembali kambuh. Saat akan mandi tadi, dirinya tiba-tiba merasa sesak dan tidak bisa meraih udara yang ada disekitarnya. Biasanya dengan mudah Kyuhyun bisa langsung sembuh bila meminum obatnya, namun sayang tidak ada satupun obat yang bisa dirinya temukan.

Rasa sesaknya semakin menjadi. Kyuhyun merogoh jas seragamnya. Kyuhyun hampir lega karena ada obat itu disana, namun hanya bungkus obatnya yang sudah kosong ternyata. Apa boleh buat Kyuhyun terpaksa untuk meminta kepada hyung-nya.

Kyuhyun berjalan dengan perlahan-lahan menuruni anak tangga dengan dadanya yang masih teraasa terhimpit. Mencoba untuk menanyakan kepada kedua hyungdeulnya mengenai obat yang selalu menemani mereka. Karena dirinya sudah kepayahan untuk mencari tahu lagi keberadaan obat tersebut.

Jungsoo dan Kibum sedang serius memperbincangkan sesuatu. Mengenai finansial keluarga mereka yang semakin hari semakin menipis. Semuanya menjadi tumpang tindih, karena mereka bertiga sekolah semua. Hanya Jungsoo saja yang bekerja. Itupun hanya cukup untuk makan mereka dan uang kuliahnya saja.

Jungsoo menghembuskan nafasnya kasar. "Keadaan kita semakin sulit Kibum-ah."

"Wae?" Tanya Kibum singkat.

Jungsoo menggeleng. "Gaji pekerjaan paruh waktuku hanya cukup untuk menutupi biaya kuliah dan makan sehari-hari saja. Itupun diluar keperluan yang lain."

"Kalau aku mungkin bisa bekerja. Tapi dia?" Entahlah rasa benci itu masih menyelimuti Kibum.

Jungsoo mengusap wajahnya kasar. "Tidak mungkin kita membuatnya bekerja. Dia lemah."

Kyuhyun memberanikan diri untuk ikut bergabung. "H-hyung o-obatku?"

"Ah tanpa sengaja aku membuangnya." Kibum menjawab datar.

Kyuhyun kemudian menghampiri Jungsoo. "H-hyung… a-aku.."

"Aish Cho Kyuhyun! Jangan memintaku untuk membelikannmu obat! Kita ini sedang kritis!"

Kyuhyun hanya memiliha untuk kembali ke kamarnya. –Benar aku ini lemah dan tidak berguna.

Jungsoo mengeluh. "Kibum-ah kita semakin kesulitan."

"Waeyo?" Tanya Kibum singkat.

Jungsoo mengusap wajahnya kasar. "Gajiku hanya cukup untuk makan sehari-hari dan uang kuliahku saja."

Kibum memberikan solusi. "Mungkin aku bisa ikut bekerja paruh waktu? Ah Kyu turunlah jangan berdiri di tangga."

"A-arrasseo." Sungguh sebenarnya Kyuhyun takut untuk bergabung.

Jungsoo tersontak dengan wajah Kyuhyun. "Kyuhyunnie wajahmu pucat!"

"Bilang kau sesak?" Kibum segera menyelidik.

Kyuhyun berpura-pura tersenyum. "Anni. Gwenchana. Lagipula…ka-ka…."

Jungsoo dan Kibum sungguh kaget dengan Kyuhyun yang tiba-tiba pingsan. Keringat dingin sudah membasahi seluruh pakaian milik Kyuhyun. Tanpa basa-basi mereka langsung menelepon ambulance dan membawanya langsung ke rumah sakit. Di perjalanan Jungsoo terus menggenggam tangan Kyuhyun berusaha menyalurkan kehangatannya pada sang dongsaeng.

Akhirnya mereka tiba di rumah sakit umum Incheon. Para suster yang ada disana langsug bertindak cepat dengan membawa Kyuhyun menggunakan blankir. Jungsoo dan Kibum amat khawatir dengan keadaan dongsaeng bungsu mereka.

Kibum dan Jungsoo duduk di ursi ruang tunggu rumah sakit. Menunggu kepastian kabar dari seorang dokter yang kini sedang menangani dogsaeng-nya. Mereka amat tidak mau terjadi hal yang buruk terhadap dongsaeng bungsu mereka tersebut. Sungguh mereka amat tidak mau sangat tidak mau.

Pintu ruang intensif itu terbuka. Seorang dokter namja sekitar berumur 40 tahun muncul dari pintunya. Ketika sang dokter mendekati, Kibum dan Jungsoo langsung berdiri untuk segera menanyakan sebenarnya apa yang terjadi dengan magnae. Dokter Kim tersenyum dan mengisyaratkan agar mereka berdua mengikutinya ke ruangan.

Tak ada hal atau pembicaraan yang terjadi selama mereka berjalan bersama-sama menuju ruangan dokter. Yang saat ini tengah mereka berdua pikirkan hanyalah berharap bahwa Kyuhyun baik-baik saja, meski memang keadaannya tadi malah mengungkapkan keterbalikan dari apa yang mereka harapkan.

Dokter Kim memandang kedua kakak beradik itu bergantian. "Kalian keluarganya?"

Jungsoo bertukar tatap sekilas dengan Kibum. "Nde. Kami berdua hyung-nya."

"Seharusnya aku membicarakan ini dengan orang tua kalian." Dokter Kim menghembuskan nafasnya pelan.

Kibum hanya berbicara pelan. "Mereka telah meninggal."

"Oh…ah mianhatta." Dokter Kim merasa canggung karena mendengarnya.

Jungsoo memandang dokter Kim serius. "Jadi apa yang terjadi uisanim?"

Dokter Kim mulai memasang pose seriusnya untuk menjelaskan. "Kyuhyun-ssi menderita pneumhothorax. Tapi sayangnya penyakit itu malah berkembang semakin parah di dalam tubuhnya. Dengan kata lain paru-paru Kyuhyun-ssi sudah tidak bisa berfungsi dengan baik. Satu hal lagi, paru-paru kirinya kemungkinan bisa kehilangan fungsinya."

"Ah begitu? Lantas adakah cara agar Kyuhyun bisa sembuh?" Kibum yang masih tenang mulai menjawab.

Dokter Kim memandang Kibum. "Melakukan terapi, dan meminum obatnya dengan rutin salah satunya. Tapi jika penyakitnya malah menjadi lebih kuat kita bisa melakukan operasi. Jadi ingatkan Kyuhyun-ssi agar selalu minum obatnya dengan teratur."

"Kamsahamnida uisanim. Kami akan menengok Kyuhyun dulu." Kibum mengajak Jungsoo untuk pergi.

Jungsoo akhirnya tersadar dari lamunannya. "Ah kajja."

Kibum dan Jungsoo hanya bisa diam di dalam ruangan rawat Kyuhyun. Kibum sibuk merapikan peralatan Kyuhyun di nakas samping tempat tidurnya. Jungsoo…entahlah. Namja tertua diantara mereka itu hanya bisa duduk dengan pikirannya yang entah berada dimana. Kibum hanya bisa memandang prihatin hyung satu-satunya itu. Amat jelas, Jungsoo lah yang paling terpuruk dengan apa yang menimpa mereka kini. Terlebih Jungsoo adalah sosok yang sensitif, tidak seperti dirinya dan Kyuhyun yang terkadang lebih mengabaikan keadaan.

Kibum menyodorkan air mineral kepada Jungsoo. Hyung-nya tersebut hanya tersenyum sekilas kemudian meminum air yang diberikan oleh dongsaeng-nya tersebut. Kibum hanya bisa mendecak melihat Jungsoo. Dirinya sudah tidak mau lagi berpura-pura bodoh dengan pura-pura tidak mengetahui perasaan Jungsoo yang sebenarnya. Pada dasarnya Kibum memang seseorang yang jenius.

"Jungsoo hyung kau benar-benar terlihat seperti orang yang depresi." Kibum berucap dengan seenaknya.

Jungsoo menatap Kibum tidak terima. "Yak! Enak saja kau mengatai hyung begitu."

"Memang iya. Wajahmu menunjukkan segalanya hyung." Kibum membalas acuh.

Jungsoo langsung menunduk dan tersenyum getir. "Hehhh. Kita sudah tahu dari awal bahwa semua ini pasti terjadi. Tapi entahlah rasanya masih sakit dan aku tidak ingin menerima ini sebagai kenyataan."

Kibum tersenyum mengerti. Pada dasarnya perasaannya juga sama seperti Jungsoo. "Terjadi ya biarkan terjadilah. Hanya saja bagaimana cara kita sekarang untuk bisa lebih menjaga Kyuhyun dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Bukankah kita tidak mau menyesal disini?"

"Sungguh Cho Kibum. Kalimatmu panjang sekali." Jungsoo tertawa renyah.

Kibum hanya memutar bola matanya malas. "Jangan salahkan aku bahwa besok aku tidak mau bicara lagi denganmu hyung."

"Aish Kibummie, hyung hanya bercanda. Kau benar, waktuku terbuang hanya untuk depresi seperti tadi. Seharusnya kita hanya terus berjuang untuk menghadapi semua ini." Jungsoo memasang mimik seriusnya.

Kibum tersenyum amat tipis. "Nde. Untuk meraih kesempatan kedua itu."

'20 Juni 2005

Saat itu merupakan hari yang sulit bagi kami. Dimana Dokter Kim memberikan vonis mengenai penyakit mematikan yang bersarang di tubuh Kyuhyun. Pada saat itu pikiran kami menjadi amat hancur sehingga tidak sanggup untuk berpikir jernih. Keadaan yang sulit menjadi semakin sulit. Perasaan kami bergejolak. Memperjuangkan Kyuhyun kah atau mengabaikannya saja? Kumohon untuk saat ini jangan ragu. Perjuangkanlah Kyuhyun, karena dia memang harus kau lindungi.'

Incheon, 05 Juni 2016

Dua orang namja dengan pakaian serba hitam itu tengah berdiri di depan sebuah gundukan tanah. Mereka meletakkan bunga mawar putih di samping batu nisan yang berdiri disana. Ah rupanya mereka tidak hanya berdua, ada dua orang bocah kembar lucu yang juga ikut atau mungkin memaksa untuk ikut dengan sang appa.

Jungsoo hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar saat kedua putra kembarnya malah mengambil bunga yang tadi diletakkan dirinya dan Kibum. Kibum hanya bisa tersenyum tipis menyaksikan peperangan yang terjadi diantara anak dan ayah tersebut. Benar hanya tipis, tahu sendiri bagaimana dinginnya seorang Cho Kibum.

Rupanya Kibum tidak sedingin yang dikira. "Yongnam-ah, Yongguk-ah kembalikan bunga itu, nanti ahjussi akan memberikan kalian coklat."

"Jeongmalyo ahjussi?" Yongguk yang paling antusias langsung berlari mendekati Kibum.

Ah ternyata Yongnam juga menyusul di belakang. "Aku juga akan diberi kan ahjussi?"

Kibum mengacak rambut mereka berdua dan memberi mereka coklat masing-masing. "Tentu, lihat coklatnya enak kan. Sekarang kembalikan bunganya."

"Nde ahjussi!" Anak kembar itu menjawab serempak.

Jungsoo mendekati Kibum. "Seorang Cho Kibum yang dingin disukai oleh anak, bahkan aku yang ayahnya sendiri diacuhkan."

"Aku hanya berpikir apa yang disukai anak-anak." Kibum menyahut acuh dan singkat.

Jungsoo terkekeh. "Lihatlah kau kembali lagi menjadi manusia es."

Kibum memandang Jungsoo dengan tatapan datar. "Kajja, Seungcheol dan lainnya sudah menunggu."

"Arrasseo, kajja berangkat menuju Seoul." Jungsoo menjawab penuh semangat.

Di batu nisan tersebut tepatri nama Hanna. Seorang yeoja yang amat berarti bagi hidup mereka. Seorang yeoja yang selalu memperjuangkan mereka baik secara lahir maupun batin. Yeoja yang menurut mereka memiliki senyuman terindah di dunia ini. Yeoja yang benar-benar mempunyai hari yang amat lembut dan selalu membuat mereka tenteram dengan pelukan menenangkan yang didapat darinya. Seorang ibu yang begitu amat dicintai.

Memang hari ini bukan hari peringatan kematiannya. Hanya saja perasaan rindu tersebut terlalu menyeruak semakin dalam baik dalam perasaan Jungsoo maupun Kibum. Titik dimana mereka amat merindukan eomma yang sudah lama tidak dapat mereka lihat lagi. Setidaknya dengan mengunjungi makam Hanna, mungkin perasaan mereka bisa tersampaikan.

Selama ini Jungsoo dan Kibum tidak pernah merasakan kerinduan yang begitu dahsyat kepada Hanna. Karena sejaka awal mental mereka memang menganggap bahwa Tuhan mempunyai tempat yang lebih untuk mereka yang telah meninggal. Dan akhirnya perasaan rindu dan amat ingin memeluk kembali itu hadir di dalam hati mereka masing-masing.

Di dalam perjalanan, mereka berdua terlarut dengan pikirannya masing-masing. Meski pada dasarnya apa yang dipikirkan mereka berdua adalah sama. Mengingat masa-masa kecil mereka dengan sang eomma. Semuanya berubah setelah Hanna pergi, tidak ada yang memarahi mereka dan menasehati mereka lagi, sedangkan dahulu mereka hanya mengabaikannya.

Kedua mata kakak-beradik itu memerah nampak berkaca-kaca. Lelehan bening itu menumpuk di dalam mata mereka masing-masing. Walau mereka hanya diam, tapi pada akhirnya air mata tersebut jatuh melewati pipi mereka. Yongguk dan Yongnam hanya memandang aneh kepada kedua orang tua tersebut. Jika mereka saja merasa kehilangan begini, ah apa ini perasaan Kyuhyun dahulu? Rasanya begitu menyiksa.

Ketiga namja kecil itu berlari-lari dengan ceria mengitari bukit. Di depan mereka terdapat dua orang namja dan yeoja dewasa yang hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah laku putra mereka. Terlebih tingkah si bungsu yang amat sangat aktif. Sehingga tidak jarang malah membuat dua hyungnya mengeluh.

Kyuhyun kecil berlari-lari berusaha menangkap kupu-kupu yang terbang tidak jauh di atas kepalanya. Jungsoo kecil yang protektif kepada semua dongsaengnya itu hanya berjaga-jaga di belakang Kyuhyun, takut-takut kalau sang dongsaeng terjatuh dan menangis. Aish memikirkan Kyuhyun menangis saja sudah membuat Jungsoo bergidik ngeri, Kyuhyun bisa menangis selama seharian. Sementara Kibum, bocah cool itu hanya lanjut memainkan blok.

Kyuhyun kecil tersenyum cerah ketika kupu-kupu itu berhasil ditangkap oleh kedua tangan mungilnya. Kyuhyun tersenyum aneh kemudian. Dirinya melihat Kibum yang masih asyik dengan blok-bloknya. Dasar hyung membosankan! Bisa ditebak sekarang otak evil Kyuhyun sedan beraksi untuk mengganggu Kibum. Jungsoo akhirnya sadar setelah melihat senyum aneh yang dikembangkan oleh sang magnae.

Kibum hanya memandang datar, ketika bloknya menjadi tidak tersusun lagi. Bagaimana tidak, Kyuhyun menyodorkan kupu-kupu itu dekat sekali dengan matanya dan membuat Kibum terkejut, dan alhasil Kibum menghancurkan bangunan bloknya sendiri. Kyuhyun kecil hanya memasang wajah polos dan kemudian menertawakan ekspresi terkejut yang datar dari hyung keduanya ini.

Kibum tersenyum tipis. Oh tidak, Jungsoo merasakan aura hitam yang mencengangkan sekarang. Di belakang punggung Kibum ada asap berwarna hitam. Jika Kyuhyun evil, Kibum mungkin lebih tepatnya iblis. Ah Cho Jungsoo beruntungnya dirimu yang mendapatkan dua dongsaeng yang unik seperti mereka.

Kyuhyun langsung berlari ketika Kibum mulai mengejarnya. Kibum benar-benar menyeramkan saat ini. Menurut bayangan Kyuhyun, Kibum sekarang sudah berubah menjadi troll yang jahat. Jungsoo ikut mengejar mereka berdua di belakang. Kyuhyun yang sudah tidak punya jalan untuk kabur langsung bersembunyi dibalik kaki Cho Jaehwan.

Jaehwan cukup terkejut dengan Kyuhyun yang langsung menerjangnya. "Aigoo, wae gerae babykyu?"

"Appa Kibum hyung belubah jadi tloll ih selam." Kyuhyun berucap dengan nada dibuat takut.

Jaehwan menanggapi Kyuhyun dengan ekspresi serius. "Jinjjayo? Apa Kibum hyung akan memakan babykyu?"

Kyuhyun mengerjap-ngerjap polos. "Jinjja. Jinjja. Ih Kibum hyung mau makan Kyu."

"Evilkyu jangan bersembunyi dibalik appa." Kibum berkacak pinggang.

Jungsoo yang paling belakang sampai terengah-engah. "Aish kalian berdua cepat sekali larinya."

"Huwaa appa. Jungsoo hyun sepeltinya sudah belubah jadi tloll juga." Kyuhyun semakin bersembunyi.

Jungsoo hanya bisa memasang wajah bingung. "Mwoya? Troll apa?"

Kibum menggelengkan kepalanya. "Cho Kyuhyun kemarilah."

"Anni. Nanti aku dimakan." Kyuhyun menolak.

Jaehwan mengeluarkan Kyuhyun dari persembunyian dibalik kakinya. "Jika hyungmu memanggilmu, babykyu harus menurut."

"A…allaseso…" Kyuhyun mendekati Kibum takut-takut.

Tapi sepertinya pangeran kecil yang dingin itu sangat hangat, karena malah memeluk Kyuhyun. "Jangan berlari, nanti kau jatuh."

Hanna yang baru bergabung langsung tertawa. "Aigoo kyeopta uri adeul. Jungsoo-ah bantu eomma."

Jungsoo yang bingung hanya menurut. "Nde eomma yeoppo."

"Ah putra-putraku sungguh menggemaskan." Jaehwan hanya tertawa dengan tingkah laku ketiga putranya yang unik.

Seoul, 05 Juni 2016

Henry mengibaskan tangannya ke depan wajah Jungsoo. "Yak! Jungsoo hyung rupanya sedari tadi kau melamun."

"Aku jamin sedari tadi Jungsoo hyung tidak tahu kita membicarakan apa." Suho menambahkan.

Jungsoo mengernyitkan keningnya. "Memangnya apa?"

"Hyungie teringat masa itu bukan?" Kibum menebak dengan jitu.

Jungsoo tersenyum sendu. "Kenangan itu terlintas begitu saja."

Seungcheol menatap langit yang cerah. "Ingatlah jika kenangan itu memang indah bagimu."

"Jadi kapan kita akan mengadakan pertemuan keluarga?" Donghae langsung mengembalikan lagi ke topik pembicaraan utama tadi.

Henry memasang pose berpikir. "Yang rumahnya paling besar siapa?"

"Ah tentu saja Choi Seungcheol." Suho menjawab seperti memberikan hipotesis.

Seungcheol hanya bisa bergidik. "Bisakah kita ke restoran dulu, aku lapar."

Kibum merekomendasikan. "Aku tahu restoran yang enak."

"Dimana saja boleh asal perutku kenyang." Donghae sungguh bersemangat.

Mereka semua akhirnya berangkat menuju restoran. Perjalanan dan percakapan tadi memang cukup menguras tenaga dan membuat mereka menjadi lapar. Ditambah lagi cuaca yang mendukung. Semoga saja makanan mereka nanti benar-benar tidak mengecewakan perut mereka yang sedang lapar kali ini.

Incheon, 22 Juni 2005

Di halaman belakang sekolah nampak ada 3 orang namja yang sudah berpakaian rapih. Mereka tidak mengenakan seragam, karena hari ini memang libur. Mereka mengenakan pakaian casual yang nampak cocok di tubuh mereka.

Ada yang membaca buku, meminum jus, dan menyantap sandwich untuk sarapan paginya. Buku bisa disantap? Maka Suho akan menjawabnya sebagai nutrisi bagi otak. Lewat 30 menit sudah, sepertinya rasa kesal mulai menyeruak di dalam perasaan mereka. Salah satu teman mereka yang ditunggu benar-benar terlambat. Untung saja kemarahan mereka tidak meledak, karena akhirnya orang yang ditunggu mereka menunjukkan batang hidungnya.

Seungcheol berlari mendekati mereka. "Mian. Aku terlambat."

"Choi Seungcheol. Selalu yang menentukan jam, selalu dia yang terlambat." Suho terus saja mengeluarkan hipotesa yang menyudutkan Seungcheol

Henry mengangguk-angguk. "Entahlah untuk kali ini aku setuju dengan Suho."

Donghae juga ikut menambahkan. "Hidup untuk Kim Suho."

"Aish kalian ini. Tahu sendiri kalau di Incheon aku tinggal sendiri." Seungcheol mengeluarkan alasannya.

Suho menatap Seungcheol datar. "Bukan alasan."

"Yak Kim Suho! Apa kau ingin aku mematahkan otakmu yang brilian itu?" Seungcheol kesal sendiri.

Donghae menengahi keduanya. "Sudah-sudah, jangan bertengkar."

"Awas saja kalau di rumah Kyuhyun nanti kalian seperti ini." Henry memberikan peringatannya.

Kyuhyun sedang duduk dengan diam di atas sofa. Menyaksikan kedua hyung-nya yang sedang bolak-balik mempersiapkan sarapan pagi mereka. Ah padahal hari ini hari libur, tapi kenapa rasanya membosankan terlebih dengan kondisinya yang kini tengah dalam keadaan sakit. Alhasil dia malah membuat kedua hyung-nya repot.

Senyum yang tadi terkembang itu lama-lama memudar dari wajah putih milik Kyuhyun. Lihatlah dirinya malah membuat kedua hyung-nya menjadi lebih repot dari sebelumnya. Untung saja kedua hyung-nya masih mau berbuat baik terhadapnya ataukah hanya kepura-puraan karena status mereka yang bersaudara?

Jungsoo langsung melesat untuk membuka pintu ketika ada suara bel dari luar. Di hadapannya berdiri empat orang namja yang sama sekali tidak dikenalnya. Mereka juga hanya bisa tersenyum canggung kepada Jungsoo. Jujur saja ini adalah pertama kali mereka mengunjungi rumah seorang teman, selain teman se-gank mereka tersebut.

Suho yang paling normal langsung menyapa. "Annyeonghashimnika. Kami adalah teman-temannya Kyuhyun."

Jungsoo mempersilahkan mereka masuk. "Silahkan masuk."

Setelah masuk mereka langsung duduk di kursi. Kibum juga memberikan satu gelas teh manis untuk masing-masing teman magnae mereka tersebut. Setelah selesai dengan semuanya, barulah Jungsoo bergabung dengan mereka semua. Mencoba bertanya atau sekedar berbasa-basi dengan teman Kyuhyun, karena sebelumnya Kyuhyun tidak pernah terlihat punya teman.

Jungsoo memulai pembicaraan. "Jadi kalian teman Kyuhyunnie?"

"Nde, lebih tepatnya teman sekelas." Seungcheol menyahut dengan sopan.

Kyuhyun menambahkan. "Mereka murid pindahan itu."

"Yang karena dihukum?" Kibum bicara seenaknya.

"Aish Cho Kibum! Maafkan dia nde." Jungsoo mewakili Kibum.

Suho menyeruput tehnya. "Nde kami pindah karena mendapat hukuman. Tapi setelah bertemu dengan Kyuhyun, hukuman itu terasa menyenangkan."

Kyuhyun memandang Suho bingung. "Moseon seoriya Suho?"

"Begini Kyu, dengan hadirnya kau diantara kami entah mengapa kami tidak mau lagi menjadi berandalan." Henry menjelaskan maksud Suho.

Kyuhyun menunduk, sejujurnya dia malu. "Aku tidak melakukan apa-apa dan hanya berusaha menjadi teman yang baik bagi kalian."

Donghae tersenyum menanggapinya. "Kau tidak akan menyadarinya, kau terlalu baik."

"Ah Kyu, sebenarnya kau sakit apa?" Seungcheol bertanya kembali.

"Kyuhyunnie dia sakit…" Namun ucapannya langsung dipotong oleh Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum. "Hanya flu, flu biasa."

Suho memandang Kyuhyun curiga. "Aku berharap kau jujur."

"Kau tahu tidak ada kau semuanya jadi terasa membosankan." Henry mengeluarkan keluh kesahnya.

Donghae juga ikut-ikutan. "Rasanya hari yang dilalui begitu panjang."

Jungsoo senang melihat teman-teman Kyuhyun yang begitu menyayanginya. "Sungguh? Kyuhyunnie kau benar-benar disayangi."

Kyuhyun hanya menanggapi dengan senyum tipis.

Di dalam rumah Kyuhyun mereka terus berbagi cerita satu sama lain. Kyuhyun juga terkadang ikut tersenyum karena candaan yang keluar dari keempat sahabatnya. Rasanya meski hanya mengenal sebentar, mereka sudah seperti keluarga yang bisa mengerti perasaan satu sama lain. Jungsoo dan Kibum bersyukur karena akhirnya sang dongsaeng mendapatkan teman-teman yang menyayanginya.

Tanpa terasa hari juga semakin petang. Seungcheol dan lainnya beranjak untuk pamit. Takut-takut kalau orang tua mereka khawatir. Kyuhyun juga sudah beranjak ke kamarnya untuk beristirahat agar sakitnya bisa cepat sembuh.

Seungcheol memasuki kamar kontrakannya dengan langkah pelan. Syukurlah hari ini mereka semua bisa menghibur Kyuhyun yang sedang sakit. Senang rasanya bisa melihat Kyuhyun tersenyum dengan wajah cerahnya.

Tetapi perasaan lega itu beralih menjadi perasaan khawatir. Seungcheol membuka ponsel yang sedari tadi sengaja tidak dirinya bawa. Mengklik sebuah icon yang berisi ratusa pesan elektronik. Kemudian jemarinya mulai membuka salah satu pesan dari sekian banyak pesan elektronik yang masuk ke alamat e-mail-nya.

'22 Juni 2005

Kami berkumpul di halaman belakang sekolah. Sebenarnya aku pun bingung apa yang membuat kami berkumpul pada hari itu. Jadi sekarang kau tidak perlu bingung, buatlah hari itu untuk pergi menjenguk Kyuhyun. Dan Jika bisa buat dia jujur mengenai sakitnya. Ketika itu aku hanya mengetahui di akhir bahwa paru-paru Kyuhyun sudah tidak normal. Jika tahu lebih awal, kuharap kau bisa menjaga sahabatmu itu.'

-Ah Cho Kyuhyun kenapa kau harus menyembunyikannya dari kami?

.

.

.

.

.

Kyuhyun mala mini belum sepenuhnya tertidur. Ada rutinitas lain yang harus dia lakukan dulu sebelum tidur. Ya benar, meminum obat yang telah diresepkan oleh Dokter Kim kepadanya. Ditatapnya pil-pil itu dengan tanpa ekspresi olehnya.

"Kyuhyunnie jangan sampai merepotkan hyungdeulmu ketika eomma tidak ada."

"Jadi kau jangan sampai sakit."

"Syukurlah pneumothoraxmu sudah sembuh sayang."

-Anniyo eomma, aku tidak sembuh. Inikah hukuman bagi orang jahat sepertiku eomma?

'Trak' Bukan jatuh ke dalam mulutnya. Obat-obatan itu justru dengan sengaja dirinya injak. Air putih tersebut dia buang dengan cepat.

To Be Continue….

Rangeralone : ne semangat kok selalu hahahaha.

auliaMRQ : sedih kah? Malah author ngerasa masih agak kurang sih wkwkkw.

Songkyurina : baca chingu. Banyak kok di toko komi. Atau langsung aja liat anime nya udah indo sub kok.

Takumaxample : nah sekarang kan udah baca ceritanya. Tertarik nggak buat baca? Recommended anime tuh hehe.

Erka : jangankan chapter dua, sekarang udah up chapter 4 chingu. Ayo jangan ketinggalan lagi wkwkwk.

Apriliaa765 : bukan baper, tapi mungkin istilahnya dia masih gabisa nerima kenyataan dan nyalahin dirinya sendiri.

Guest : karena pada awal reaksi mereka pas eommanya meninggal wkwkkw

Guest : udah next

Uixalmt ; iya sih ceritanya emang dibikin bolak-balik latar waktunya. Lagi mencoba sesuatu hal yang baru. Ah gomawo udah mau baca cerita ini.

Kyumyu : benarkah akan berakhir sia-sia? Tapi kan ini sebenarnya berbeda dengan dunia Jungsoo dan Kibum yang disana mereka menyesal. Pada dasarnya author disini menceritakan Jungsoo dan Kibum dalam dunia yang berbeda.

Ayame : beneran? Makin semangat nih buat ngelanjutin.

Angel sparkyu : Rasanya gimana kalau gak bikin Kyu menderita *digampar

Jihyunelf : ini adalah author dimana author menceritakan sosok lain Kyuhyun dan yang lainnya di dunia yang berbeda.

Ladyelf11 : Kyu mah moodyan, wkwkkwkw.

Kyuli 99 : begitulah cerita hahahaha. Harus mengombang-ambingkan dulu perasaan pembacanya hehe.

Michhazz : semuanya sih tergantung sama Kyuhyunnya sendiri.

Thanks To :

0932715630;bee'n'kyu;hyukrin67;kimraf;kirakim19;kyu4ever;missbabykyu;saryeong;zizikirahirahibiki69;auliamrq;bintang15;bright16; ;gyuyomi88;hulanchan;jihyunelf;ladyelf11;maykyunie;oracle88;rangeralone; ;uixalmt;widiantini9

READ THIS !

Menyambut comeback-nya author :

Dalam sabtu-selasa (29 Oktober-01 November 2016) semua ff akan di-update

Kalian me-request 1 ff kepada author mengenai gendre apa dan ceritanya mengenai apa

Yang punya fb, tulis uname kalian dan akan author add

Kalian juga bisa mengirimkan ff kalian kepada author melalui fb atau e-mail author rriani216

Kriteria :

No Yadong

No Yaoi

Brothership

Selalu harus ada cast utama, yaitu member Super Junior