Chapter 4

A/N : Hello again! Terima kasih sudah kasih read/review/fav/follow fic saya. Love you all :* . Setidaknya bisa membuat saya sadar untuk tidak menelantarkan fic ini. ^^

Maaf lama. Saya kepepet sama nulis novel *sekedar coba2 ^^*. Pengen aja. Banyak-banyak nulis fic buat latihan. Banyak ide, tapi nulisnya bingung sendiri. Kosa kata bahasa indonesia rasanya jadi berkurang. Kebanyakan baca tulisan bahasa inggris. Jadi maklum saja, fic saya banyak kekurangan.

Sebelumnya, saya akan menjawab beberapa pertanyaan kalian yang ada di review.

-Anon : Maaf baru bisa jawab di chap ini. Sebenarnya ini memang crossover dengan uraboku. Tapi, di fic ini hanya 3 (termasuk sodom) karakter + durasnya saja yang saya pakai dari uraboku. Peran Luka juga sudah berbeda disini. Jadi, saya pikir sekalian dibuat fandom vampire knight saja.

-KaZe pelope : Ehehehe, di chap sebelumnya memang gk ada scene kaze-nya. Tapi jangan khawatir, di chap ini akan banyak dengan momen kaze -tebar bunga- .
Nanti masih ada 1 lagi chara penting dari Uraboku yang keluar. Kasih tahu nggak ya? *Hehehe..bercanda*. Luze Crosszeria, adik kembar Luka. Iya, Kaname dan Zero punya anak kembar. ^^ Nanti keluarnya di pertengahan chap. Aku nggak bisa tahan pas ngeliat twin Kiryuu dan twin Crosszeria punya banyak kesamaan. Jadi aku pakai Luka dan Luze di fic ini.
Beberapa Duras major juga akan keluar. Saya nggak bisa masukin karakter utama lain. Takutnya kalau banyak-banyak jadi tambah bingung. Soalnya chara vampire knight juga udah banyak. T_T
Dan masalah Zero, itu ada alasannya kok kenapa dia sampek lemah gitu. Tapi maaf, masih masih belum bisa menjelaskan. Soalnya, penjelasannya sedikit rumit dan panjang. Sampai saya ikut bingung juga. Ikuti saja sepanjang chap, oke? Di chap ini mungkin akan menjawab sedikit rasa penasaran itu.

Oke, sudah terjawab, kan?

Dan ini chap 4! Saya harap, kalian menikmati chap ini. ^^

Enjoy!

.

.

Title : Silver Petals

Pairing : Kaname x Zero

Disclaimer : I don't own Vampire Knight and Uraboku

Warnings : boyxboy(bagi yang tidak suka, sebaiknya keluar/press 'back' button), rated M, language, lemon (later chapter), Author amatiran T_T, OOC, typo(s), tidak sesuai dengan EYD

"Blablabla" : present

"Blablabla" : flashback

"Blablabla" : dream

.

.

Kaname's POV

Aku berlari mengikuti Luka yang berjalan memimpin di depan menyusuri hutan. Aku bisa merasakan Yuuki, Aidou dan yang lain mengikuti di belakangku. Ada perasaan gelisah yang menyelimutiku. Apa ini?

Aku kembali melihat Luka yang berlari tergesa-gesa. Aku bisa melihat ekspresi takut bercampur horor saat di Moon Dorm tadi. Ada apa? Apa yang membuat Luka sampai seperti itu. Tanpa sadar, pikiranku langsung tertuju pada Zero.

Apa terjadi sesuatu padanya?

Semakin memasuki hutan, aku merasakan aura yang asing dalam jumlah banyak. Cenderung seperti Luka. Tetapi lebih lemah. Aku menautkan alisku, musuh baru. Makhluk baru yang bahkan lebih kuat dari level E.

Aku bisa merasakan kedua mataku terbelalak lebar saat hidungku menangkap bau sesuatu. Tercium samar. Bau yang cukup familiar.

Darah Zero.

Mataku berkilat merah begitu mencium bau yang tidak biasa itu.

Sepertinya Yuuki dan lainnya juga menciumnya

"Nii-sama! Zero-"

"Tenanglah Yuuki. Dia pasti baik-baik saja."

Aku harap.

"Otou-chan!"

Aku menggeram marah. Aku bisa merasakan tubuh ku bergetar, naik pitam begitu melihat Zero dalam cengkraman pria asing dengan pisau kecil siap menghujam pemuda silver dihadapannya.

Aku tidak akan membiarkannya.

End Kaname's POV

.

Normal POV

Dalam sekejap, pria yang mencekik Zero terpental menabrak pohon akibat kekuatan telekinesis milik Kaname. Pohon tersebut patah dan hancur seketika akibat hantaman keras, dengan sosok duras yang limbung jatuh.

"Otou-chan!"

Tanpa berpikir panjang, Luka langsung berlari menghampiri Zero yang tersungkur di tanah. Matanya melebar begitu mendapati luka yang ada di bahu ayahnya itu.

"Luka!", teriak Zero lega begitu melihat anak itu baik-baik saja. Matanya menyipit begitu melihat Kaname, Yuuki dan murid night class yang lain juga berada disini. "Awas!"

Yuuki yang sudah memegang artemis di tangannya langsung menebas duras yang menerjangnya dari samping begitu mendengar peringatan dari Zero. Beberapa duras lain juga terlihat menyerang Aidou dan yang lain.

"M-makhluk apa itu?", tanya Aidou ngeri setelah membekukan salah satu duras yang menyerangnya dan menghancurkannya.

Membiarkan Yuuki dan murid night class menangani duras, Kaname segera menghampiri Zero dan Luka. Tapi langkahnya terhenti begitu Zero menodongkan Bloody Rose yang diambilnya di tanah ke arahnya. Sedikit rasa sakit terbesit dalam hati Kaname.

"Otou-chan?", tanya Luka bingung saat dia ditarik dalam pelukan Zero.

"Menjauh dari Luka, Kuran!"

"Apa maksudmu, Ze-"

"Aku tidak akan membiarkanmu membunuh Luka.", potong Zero tajam. Tatapan buas dan benci ditujukan pada Kaname.

Kaname terlonjak, kaget dengan kalimat pria dihadapannya itu. Hatinya tersayat begitu mendengar suara Zero yang penuh kebencian. Kaname hanya mengernyit tak suka. Serendah itukah Zero berpikir tentangnya? Sampai-sampai berpikir Kaname akan membunuh Luka?

"Jaga bicaramu, Zero! Kau tidak berhak menganggapku seburuk itu. Jika benar Luka adalah anakku maka aku memiliki hak dan tanggung jawab untuk merawat dan melindunginya. Apa-apaan kau ini? Menjauhkan Luka dari ayahnya sendiri?"

Zero tersentak kaget begitu Kaname menyebut Luka sebagai anaknya.

Dia sudah tahu?

Luka yang berada dalam pelukan Zero sedikit bergetar. Sedikit takut begitu mendengar pertengkaran antara kedua ayahnya.

"Aku adalah satu-satunya ayah Lu-!"

Sesuatu dalam diri Zero melonjak seakan merespon sesuatu. Tubuhnya merosot jatuh, kehilangan kesadaran begitu saja. Sebelum Zero menyentuh tanah, Kaname berada di sampingnya dan menangkapnya. Bloody Rose milik pemuda silver itu tergeletak begitu saja di sampingnya.

"Otou-chan!", teriak Luka takut.

Duo ayah dan anak itu khawatir dan panik melihat Zero pingsan begitu saja. tapi, sebelum mereka bisa mengambil langkah lebih lanjut, sebuah tawa menggema dalam hutan tempat mereka berada.

"Ohh, Luka Crosszeria menjadi anak kecil? Ini lelucon yang sangat bagus."

Bayu, duras yang baru saja Kaname buang ke pohon telah berdiri tegak, sedikit jauh di belakang mereka. Sontak, Kaname mempererat pelukannya pada Zero dan Luka. Dahinya berkerut begitu mencerna kalimat duras itu.

Luka menjadi anak kecil?

"Apa maksudmu?"

"Oh, anak itu tidak memberitahumu apapun? Ckckck, dasar anak durhaka.", canda duras itu seraya mengejek.

"Luka?", tanya Kaname pelan. Tetapi, anak itu tidak menjawab. Luka hanya memandang Bayu dengan tatapan benci, tubuhnya bergetar menahan amarah. Kaname sangat yakin, matanya berkilat berubah menjadi silver.

"Berikan pecahan itu!", ujarnya dingin sambil melepaskan diri dari pelukan Kaname dan Zero. Dia berdiri seraya berjalan pelan, mendekat pada duras berambut ungu dihadapannya.

Aura yang berbeda. Lebih kuat. Tatapan dingin yang sangat menusuk. Mata violet tergantikan oleh silver. Seakan sesuatu yang lebih hebat mengambil alih tempat Luka saat ini.

Bayu hanya menyeringai nakal. "Maksudmu ini?", responnya sambil mengangkat tangan kanannya, sebuah kelopak silver bercahaya terbentuk di atas telapak tangannya. Seakan merespon, tubuh Zero yang ada didalam pelukan Kaname terlonjak kecil. Tubuhnya diselimuti aura yang yang sama dengan kelopak di tangan duras tersebut. Kaname hanya menatap bingung. Ada apa ini?

"Kembalikan!", teriak Luka marah seraya melangkah lebih dekat.

"Eitss." Benda ditangan bayu menghilang begitu saja. Sama seperti sebelumnya, aura itu menghilang dari tubuh Zero. Itu membuat Kaname mengernyit.

Apa kelopak itu ada hubungannya dengan Zero?

Duras itu hanya tertawa. Itu membuat Luka semakin murka. Dia merasa dipermainkan.

Bayu menatap Luka sambil tersenyum mengejek. "Tinggal satu pecahan lagi, aku akan menjadi opast." Lanjutnya seraya menggenggam erat tangannya yang terangkat tadi. Pandangannya teralih pada Zero dalam pelukan Kaname, yang mengeratkan pelukannya begitu melihat tatapan gila yang ada di mata duras itu. Tapi, pandangannya kembali lagi pada Luka. "Melampauimu dan bisa membunuhmu!"

Luka hanya menatap Bayu, seringaian perlahan menghiasi wajahnya. "Hehh? Kau tidak akan bisa membunuhku!" Tiba-tiba saja, sebuah gelombang kekuatan yang besar keluar dari Luka. Dalam sekejap, gelombang itu menghancurkan duras level rendah yang dilawan Yuuki dan lainnya. Membuat mereka semua terperanjat.

"Kita lihat saja." Bayu mengangkat tangannya, kekuatan sihir terkumpul ditangannya dan melesat cepat kearah mereka. Luka, melihat nyawa mereka dalam bahaya reflek mengangkat tangan untuk menebas serangan itu. Bola kekuatan itu bertabrakkan dengan milik Luka. Menciptakan kabut debu yang menghalangi penglihatan. Menoleh kebelakang, Luka menatap Kaname.

"Chichiue, bawa Tou-chan dan yang lain kembali ke Moon Dorm." Kaname mengerutkan dahinya. Dia tidak bisa membiarkan anaknya bertarung dengan makhluk berbahaya itu. Disisi lain dia juga harus melindungi Zero. Tapi, setelah menyaksikan sendiri kekuatan Luka yang besar itu membuatnya mengalah.

"Jaga dirimu, Luka. Dan cepat kembali. " Kaname mengangkat Zero dan pindah ketempat yang aman bersama Yuuki dan para night class. Sedikit jauh dengan tempat Luka dan Bayu bertarung saat ini. Tetapi cukup untuk bisa melihat pertarungan mereka.

"Kaname-sama!"

"Kaname-nii! Zero, dia terluka." Begitu mendekat dan melihat keadaan Zero, air mata disudut mata Yuuki terancam mengalir. Aidou dan yang lain hanya menatap Kaname canggung. Melihat pimpinan mereka menggendong vampire level E terlihat sedikit janggal.

Tatapan mereka seakan meminta penjelasan membuat Kaname menghela napas berat. Bahkan dia sendiri tidak tahu apapun. Kaname tidak bisa menjawab semua pertanyaan. Tidak disini. Menoleh sebentar kearah Luka yang masih berhadapan dengan duras itu, Kaname berjalan menjauh.

"Kaname-sama! Bukankah seharusnya kita membantu Luka? Anak kecil sepertinya tidak mungkin bisa melawan makhluk itu.", tanya Kain sedikit ragu.

"Jangan ganggu pertarungan Luka. Saat ini kita masih belum mampu menghadapi siapapun itu. Sebaiknya kita kembali ke Moon Dorm untuk mengobati Zero. Aku akan memberitahu pada kalian, tentang semuanya."

Dengan perasaan berat, mereka semua berlari menjauh. Harga diri mereka tidak bisa membiarkan anak kecil bisa menangani semua itu. Tapi, mau bagaimana lagi.

Sesuai dengan apa yang dikatakan Luka, mereka kembali menuju Moon Dorm. Mengingat itu adalah tempat yang terdekat dengan posisi mereka saat ini.

"Seiren, beritahukan kepada Chairman Cross tentang semua ini. Dan katakan padanya, dia tidak perlu khawatir. Zero baik-baik saja di bawah pengawasanku" perintah kaname pada bawahannya itu.

Dalam sekejap, gadis itu menghilang dengan membawa pesan seperti apa yang diperintahkan atasannya itu.

.

.

Luka's POV

Merasakan Chichihue dan yang lain pergi, aku hanya menghela napas lega. Setidaknya, mereka semua aman.

"Heh, aku tidak berniat bertarung denganmu, Luka kecil!" olok Bayu seraya bersiap untuk berlari mengejar Kaname dan yang lain. Tapi, aku tidak mungkin bisa membiarkan hal itu terjadi, bukan?

"Sodom!" menggantikan naga hitam kecil, seekor serigala besar menghadang jalan Bayu. Membuat duras itu berhenti dan mundur seketika.

Menoleh dan menatapku, Bayu hanya tersenyum menyeringai. "Apa kau pikir, kau bisa menang hanya dengan serigala ini saja, cebol?"

Oke, itu sedikit membuatku kesal.

"Cebol, hmm? Coba kau lihat apa ini yang kau maksud cebol." Dengan begitu, aku melepas cincin perak yang berada di jari kelingking kiriku. Cahaya kekuatan yang membutakan mata mengelilingiku. Memejamkan mata, aku membiarkan sensasi perubahan yang terjadi ditubuhku. Perlahan, aku bisa merasakan perubahan pada tubuhku. Kekuatan. Semua kekuatanku kembali. Dan tubuhku. Kita lihat saja. apa dia masih bisa menyebutku seperti itu.

Begitu merasakan sensasi itu menghilang, aku mulai membuka suara. "Cebol, huh?"

Aku bisa merasakan suaraku yang semakin berat. Menyeringai, aku membuka mataku perlahan. Dihadapan mata, aku, Luka Crosszeria bukan lagi anak kecil.

Melainkan pria remaja tampan yang tinggi dan elegan. Wajah tirus pucat dengan iris mata silver yang tajam. Rambut hitam yang sangat kontras dengan warna kulitku. Pakaian serba hitam membalut tubuhku yang menyimpan banyak kekuatan. Kuku yang sedikit panjang terlihat tajam, cukup untuk mengoyak sesuatu seperti harimau.

Melihat penampilanku yang saat ini dihadapannya, ekspresi Bayu berubah menjadi takut. Itu membuatku tertawa kecil.

"Baiklah. Sampai darimana kita tadi? Oh, cebol. Tentu saja. Apa kau bisa mengatakannya lagi?" tanyaku sambil mengulurkan tanganku kesamping, mengeluarkan sebuah pedang hitam besar yang tidak mungkin bisa aku pegang jika dalam tubuh anak kecil.

"A-apa? B-bagaimana bi-"

Jleb!

Bayu tercekat begitu merasakan pedangku menembus tubuhnya. Aku bisa melihat kedua matanya menatapku horor.

Menyeringai, aku mendekat kepadanya. "Aku tidak akan membiarkan demon seperti kalian menyalahgunakan pecahan kekuatan milik Tou-chan.", bisikku dengan nada dingin dan tajam, sebelum pada akhirnya dia hancur dan menghilang.

Menyisakan sebuah kelopak silver yang mengambang di udara.

End Luka's POV

.

.

Normal POV

"HEHHHH?" Aidou dan murid night class lain hanya melongo tak percaya setelah mendengar penjelasan dari Kaname dan Yuuki.

"T-tapi, bagaimana bisa-"

"Aku masih belum memiliki penjelasan secara lengkap dari Luka. Kalian tetaplah tenang. Kita pasti bisa mengungkap semua kebenaran ini. Dan untuk saat ini, aku minta kepada kalian untuk mengawasinya." Kaname memotong cepat ucapan Aidou. Kepalanya semakin sakit memikirkan Zero.

"What? Tapi kenapa, Kaname-sama?" protes Aidou tidak suka dengan pikiran untuk mengawasi Zero.

Beberapa dari mereka telah menerima keadaan yang menimpa Kaname dan Zero saat ini. Tetapi, ada 2 orang yang masih tidak menerimanya dengan mudah. Aidou dan Ruka.

"Aku memiliki asumsi akan banyak lagi duras yang akan menyerang Cross Academy. Mereka mengincar Zero."

Wajah Yuuki menjadi cemas, dia berlari meninggalkan mereka. Sudah pasti dia menuju ke kamar Kaname, dimana Zero saat ini ditempatkan. Kaname menghela napas lelah. Dia menatap Aidou dan yang lain.

"Aku tidak bisa menyimpulkan secara jelas apakah semua ini betul atau tidak. Tapi, saat ini aku benar-benar membutuhkan bantuan kalian. Makhluk bernama duras ini sangat baru bagi kita. Jadi untuk saat ini, tolong percayalah pada kami. Jika memang Luka berada dari masa depan, sesuatu yang sangat besar pasti akan terjadi. Kita harus bisa mengatasinya. Dan aku tidak bisa melakukan semuanya sendiri."

Para murid night class tersentak. Mereka tidak pernah melihat Kaname frustasi dan seserius ini.

"Aku akan selalu bersamamu, kaname-sama," ujar Takuma seraya bertekuk lutut dihadapan Kaname. Tentu saja, dia sangat royal pada Kaname. Perlahan, gerakan itu diikuti oleh murid night class yang tersisa. Meskipun Aidou dan Ruka sedikit canggung dengan masalah Zero, tentu saja mereka juga tetap mendukung Kaname.

"Terima kasih," ujar kaname tulus dengan senyuman di wajahnya.

.

.

Pemuda silver cantik tertidur pulas ditengah king sized bed milik Kaname dengan selimut menutupi hingga perutnya. Luka dibahunya telah dibersihkan dan diperban rapi. Dia memakai kemeja putih yang sedikit kebesaran milik Kaname, membuatnya semakin terlihat kecil di tempat tidur yang besar itu.

Yuuki yang juga berada di ruangan tersebut hanya menatap Zero sendu dari tempat duduknya. Dia memegang pelan tangan Zero. Kenapa semua ini terjadi pada Zero? Kenapa dia selalu menderita. Satu masalah sudah selesai, tapi masalah yang lebih berbahaya muncul. Itu membuat Yuuki merasa lemah. Dia tidak bisa membuat Zero bahagia. Melindunginya saja tidak bisa.

Tiba-tiba saja, Yuuki merasakan napas Zero semakin pendek. Sedikit panik, Yuuki beranjak berdiri dan mengeceknya. Wajah Zero berkeringat, tetapi tidak ada demam. Tangan Yuuki beralih untuk menyentuh dada Zero. Kedua mata Yuuki membulat begitu merasakan sensasi dingin. Kenapa? Apa Zero akan mati? Pikiran Yuuki menjadi kalut.

Ada apa dengan Zero?

Dalam kepanikkan, Yuuki bersiap-siap untuk memanggil kakaknya. Tetapi kedua matanya terbelalak ketika sebuah tangan membekap mulutnya. Punggungnya bertubrukkan dengan dada yang sudah pasti seorang pria. Memberontak, Yuuki berusaha melepas tangan dimulutnya itu. Pemilik tangan itu tidak kalah kuat. Tidak ada cara lain, tangan Yuuki memegang artemis untuk bersiap menebas siapapun itu. Tetapi tertahan begitu mendengar sosok dibelakangnya itu bersuara.

"Yuuki-baachan! Tenang." Bisik sosok tersebut di telinga Yuuki. Gadis itu hanya membeku. Siapa itu? Tidak ada yang memanggilnya seperti itu selain Luka. Dan suara ini terdengar besar dan berat. Tangan dimulutnya perlahan melonggar dan terlepas. Perlahan berbalik, Yuuki menatap seorang pria berambut hitam dihadapannya saat ini. Sedikit familiar.

"...L-luka?"

Sosok pria itu hanya tersenyum lembut. Itu membuat Yuuki terpatung shock. Awalnya dia tidak percaya dengan apa yang bermain dengan matanya ini. Tetapi, begitu melihat Sodom dipundak pria itu membuat Yuuki semakin yakin. Pria remaja tampan dihadapannya ini adalah Luka.

"K-kau L-luka..?" tanya Yuuki tergagap. Dia merasa napasnya menghilang begitu saja. Secara fisik memang seperti Luka saat kecil. Yang membedakan hanyalah matanya yang silver

"Iya, Yuuki-baachan. Maaf membuatmu terkaget seperti ini. Tapi tolong, jangan panggil siapapun saat ini," ujar Luka pelan.

Tidak ada reaksi. Tetapi, sebuah anggukan kaku dari Yuuki membuat Luka bernapas lega.

"J-jadi, kau benar-benar Luka? T-tapi, matamu.."

"Ya, ini adalah wujudku yang sebenarnya. Mata silver ini pengaruh kekuatanku saat ini, Yuuki-baachan"

"Jadi, yang anak kecil itu..."

"Itu wujudku juga, saat aku kecil."

Hening sejenak. Luka berjalan menuju Zero yang masih bernapas berat. Duduk ditepi kasur, Luka mengelus pelan rambut Zero dan mengusap pelan keringat di keningnya. Sodom turun dari bahunya dan mendarat diatas selimut Zero. Tangan Luka yang lain terangkat, memunculkan kelopak silver yang dia dapat dari Bayu.

Yuuki menatap kelopak itu takjub. Kelopak bunga yang indah dan langka. Dia berjalan perlahan disisi lain tempat tidur, berhadapan dengan Luka.

"I-itu.."

"Aku sudah membunuh duras itu." Mata Yuuki membola begitu mendengar kata 'membunuh' keluar dari mulut Luka. Tapi, mengingat anak itu sekarang dalam wujud remaja, Yuuki tidak akan membahasnya.

"Ini pecahan kekuatan milik Tou-chan."

Yuuki menatap Luka bingung. "Milik Zero?" tanyanya kembali memastikan.

Luka tidak menjawab. Dia mengarahkan kelopak tersebut ke dada Zero. Kelopak tersebut berubah menjadi butiran cahaya kecil dan merasuk kedalam tubuh pemuda silver itu.

"A-apa-"

"Rasakan." Menuntun tangan Yuuki menyentuh dada Zero, gadis itu bisa merasakan sensasi dingin itu perlahan menghilang. Berubah menjadi hangat. Degupan jantung Zero perlahan beraturan. Membuat pemuda silver tersebut lebih mudah bernapas.

Itu membuat Yuuki bernapas lega. Senyuman perlahan mengembang di wajahnya. Zero baik-baik saja.

"Yuuki-baachan," panggil Luka pelan. Menoleh, Yuuki hanya menatapnya bingung.

"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?"

Banyak sekali yang Yuuki ingin tanyakan pada Luka. Tetapi, melihat ekspresi Luka membuatnya menahan semua pertanyaan itu.

"Maaf. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya untuk saat ini. Jadi, tolong rahasiakan semua ini dari yang lain. Chichiue juga."

Yuuki menautkan alisnya. "Kau tahu, kami bisa membantu. Kenapa tidak kau ceritakan semua saja?"

Luka hanya membuang muka. Beranjak berdiri, dia berjalan perlahan menuju jendela besar yang terbuka.

"Aku tidak bisa."

Suasana kembali hening. Hanya suara napas Zero yang memenuhi ruangan tersebut.

"Kau tahu, Yuuki-baachan." Luka menoleh dan menatap Yuuki. Kedua mata mereka saling bertemu. Tidak ada respon dari Yuuki. Luka hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang sedih.

"Tujuanku disini sebenarnya sangatlah tabu."

Mengernyit pelan, Yuuki membiarkan Luka untuk meneruskan.

"Aku ingin mengubah masa depan."

.

.

Brak!

"Kaname!" teriak Kaien membuka pintu Moon Dorm sedikit keras. Wajahnya menunjukkan kecemasan luar biasa. Kaname yang ingin berjalan menuju kamarnya untuk mengecek Zero mendesah panjang. Tambahan yang akan membuat kepalanya semakin pusing.

"Apa Zero baik-baik saja?" tanya Kaien dengan wajah serius.

"Dia baik-baik saja, Cross-san! Jika kau ingin melihatnya dia ada di kamarku. Aku juga akan kesana, ikut denganku."

Kaname berjalan menaikki tangga diikuti Kaien dibelakangnya.

"Bagaimana dengan Luka, apa dia sudah kembali?"

Kaname terdiam sejenak, sedikit bingung untuk menjawab. "Aku tidak tahu. Aku masih belum bertemu dengannya. Tapi aku yakinkan, Cross-san. Dia akan baik-baik saja."

"Aku pegang kata-katamu, Kaname."

Kaname menghela napas lega. Setidaknya dia tidak lagi diserang oleh pertanyaan aneh dari Kaien.

Akhirnya mereka berada didepan pintu kamar Kaname. Menarik napas dalam-dalam, Kaname membuka pintunya.

Dia bisa melihat punggung Yuuki yang duduk disebelah tempat tidur. Adiknya itu menoleh begitu mendengar suara pintu terbuka dan segera beranjak berdiri.

"Ssshhh.." Yuuki meletakkan jari telunjuk ke bibirnya, menyuruh mereka untuk tetap tenang. Kaname dan Kaien masuk dan menghampiri. Sebuah senyuman lega terukir di wajah mereka begitu melihat Luka tertidur disamping Zero.

"Luka baik-baik saja," ujar Yuuki tersenyum kecil.

"Bagaimana dia bisa masuk ke kamar? Aku tidak melihatnya lewat pintu depan tadi," tanya Kaname mengernyit pelan.

Yuuki hanya tertawa ragu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku juga tidak tahu. Saat aku ingin keluar memanggilmu, dia sudah dibelakangku. Mungkin lewat jendela. Karena seingatku, jendela itu sebelumnya masih tutup," jawab Yuuki seraya menunjuk jendela yang memang terbuka lebar. Karena dia sendiri juga tidak tahu bagaimana Luka bisa masuk ke dalam kamar ini.

Kaname menatap adik semata wayangnya itu. Ada sesuatu yang Yuuki sembunyikan. Kaname bisa merasakannya. Meskipun begitu, dia tidak ingin memaksanya lebih lanjut.

Kaien menghampiri Zero dan Luka yang masih tidur. Dia duduk disamping kasur. Tersenyum lembut, Kaien membelai keduanya satu persatu. Wajah mereka sangat damai.

"Syukurlah, mereka baik-baik saja. Tapi, bagaimana dengan luka Zero? Tidak parah kan?" tanya Kaien mengingat informasi yang disampaikan dari Seiren.

"Sudah dibersihkan dan diobati. Tidak terlalu dalam. Beberapa hari akan sembuh."

Kaien bernapas lega. Dia beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu. Tak lupa menepuk pundak Kaname. "Aku titipkan dia padamu Kaname. Jaga dia baik-baik." Dengan itu, dia keluar dari kamar sang pureblood.

Hening sejenak. Tersisa Kuran bersaudara dengan Zero dan Luka yang masih tertidur pulas.

"Baiklah. Aku ke kamarku dulu untuk istirahat. Kau juga harus istirahat, Nii-sama."

"Tentu Yuuki, kau juga." Dengan begitu Yuuki berjalan keluar. Meninggalkan Kaname yang hanya menatap pintu tertutup.

Menghela napas, Kaname kembali menatap Zero dan Luka yang ada di tempat tidurnya saat ini. Mendekat, dia berjalan perlahan menuju sisi Zero dan duduk disampingnya. Wajah pemuda silver itu sangat damai. Berbeda dengan saat dia bangun. Tangannya perlahan menyentuh rambut milik Zero dan mengelusnya. Lembut. Tanpa sadar, Kaname tersenyum kecil. Melihat wajah Zero yang seperti ini membuat hatinya luluh.

Sepertinya, apa yang dikatakan Yuuki benar. Dia sudah jatuh hati.

Kaname memperhatikan baik-baik wajah Zero. Kulit putih pucat. Lentik mata yang masih menyatu rapat kini membentuk garis panjang yang sedikit melengkung. Menyembunyikan sepasang iris amethyst. Helaian rambut silver yang sangat lembut. Dan jangan lupakan. Bibir tipis yang memiliki warna senada dengan kelopak bunga sakura itu seakan mengundang hasrat terdalam Kaname.

Kenapa dia baru menyadarinya sekarang?

Kaname membiarkan tangannya bergelayut dengan wajah Zero, mengelus pipinya pelan. Tangannya berhenti begitu merasakan kepala Zero bergerak. Tapi, melihat Zero yang masih di alam mimpi membuat Kaname melepas napas yang tertahan. Senyumnya semakin melebar begitu melihat Zero yang semakin mendekatkan wajah ke tangannya.

Pemuda silver itu juga menikmatinya.

Mungkinkah dia bisa mencoba hal lain? Menahan napas, Kaname menatap bibir Zero yang membuatnya sedikit nafsu. Belahan bibir itu sedikit terbuka, membuat Kaname menjilat bibir yang terasa kering. Menahan napas, dia semakin mendekat ke wajah Zero.

Lebih dekat.

Lebih dekat lagi.

Sedikit lagi.

Hampir menyentuh.

"Ugh.." Suara dari sisi lain tubuh Zero membuat sang pureblood membeku ditempat.

Sosok kecil itu perlahan mengerang pelan dan membuka kedua matanya. Mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya iris mata itu mendarat pada sosok Kaname yang sudah menjauhkan diri dari Zero.

"..Chichiue? Kau tidak tidur?" tanya Luka pelan seraya mengucek matanya.

"Jika kau masih mengantuk, tidurlah lagi," ujar Kaname pelan dengan senyuman lembut.

"Chichiue juga harus tidur bersamaku, dengan Tou-chan juga. Tidur di sampingku, Chichiue."

Itu membuat alis Kaname bertautan. Dalam hatinya, dia ingin tidur disamping Zero, dan bergelut dengan tubuh ringkih itu. Tetapi, pada akhirnya dia menuruti permintaan Luka dan beranjak dari berdiri untuk pindah ke sisi Luka.

"...Baiklah."

"Ehh, Chichiue!"

Kaname berhenti ditengah jalannya dan menatap Luka bingung.

"Beri ciuman selamat tidur pada Tou-chan."

Kaname sedikit tersentak mendengar itu. Oke, dia tidak salah dengar, kan?

"Jika Chichiue tidak mencium Tou-chan, nanti Tou-chan akan mimpi buruk."

Oh, my! Pernyataan itu membuat Kaname sedikit tertawa. Tipikal anak kecil.

Perlahan, Luka mendekatkan wajahnya ke Zero dan mencium salah satu pipinya. "There! Aku sudah mencium Tou-chan. Chichiue juga harus mencium Tou-chan."

Tersenyum kecil, Kaname kembali mendekat pada Zero, menunduk perlahan dan mengecup sisi pipi yang satunya. Bibirnya bertemu dengan pipi yang halus dan lembut.

Oke, sepertinya Kaname tidak tahan lagi.

"Umm,. Chichiue?" panggil Luka bingung begitu melihat Kaname juga mencium bibir Zero. Ciuman yang cukup panas dan dalam.

Cukup lama juga.

Luka hanya mengedipkan matanya dengan polos.

Tidak lama kemudian, Kaname melepas ciumannya.

"Hanya ciuman bonus agar Otou-chan cepat sembuh."

Luka mengangguk pelan sebagai respon.

"...Jadi, aku juga harus mencium bibir Tou-chan agar sembuhnya lebih cepat?"

"..."

.

.

Zero's POV

"Kaname, aku sangat mencintaimu! Kenapa kau melakukan semua ini?"

Sebuah tangan berusaha menahan sosok dihadapannya itu.

"Maafkan aku, Zero."

"Apa alasanmu, Kaname? Apa salahku sehingga kau meninggalkanku seperti ini?"

"Maafkan aku, Zero. Aku melakukan semua ini demi kebaikan kita."

Air mata bercucuran dipipi pucat pemuda silver itu. Sosok dihadapannya itu perlahan menjauh dan semakin jauh.

"..Sakit. Rasanya sangat sakit."

Sakit. Kepalanya berdenging. Tubuhnya terasa sedikit lemah. Dan bahu kanannya mati rasa. Kenapa? Ada apa?

Samar-samar, aku mendengar beberapa suara. Itu membuat kepalaku semakin berdenyut sakit. Tetapi, rasa sakit itu sedikit menghilang begitu aku merasakan sebuah tangan besar dan hangat yang mengusap pelan rambutku. Siapa?

Perlahan, aku membuka kedua mataku yang terasa sedikit berat. Iris mataku yang kurang fokus menangkap sosok kecil yang buram. Rambut hitam. Luka.

"Tou-chan!" teriakannya itu membuat kelopak mataku kembali tertutup rapat.

"Shhh...Luka, pelankan suaramu."

Suara itu. aku mengenalnya. Sial! Kenapa dia juga ada disini?

Memaksakan kembali, aku membuka kedua mataku. Kini aku bisa melihat Luka dengan jelas. Dia duduk disampingku dengan wajah sedikit cemberut.

Mengerang pelan, aku berusaha menggerakkan kepalaku untuk menoleh.

Iris violet milikku bertemu dengan iris merah kecoklatan. Kuran Kaname.

Itu membuatku sadar. Tangan hangat di rambutku saat ini adalah miliknya.

Plak!

Secara reflek, aku menampik tangan Kaname yang di rambutku itu dengan tangan kiriku dan menatapnya dingin.

"Jangan menyentuhku. Apa yang kau lakukan disini?"

Apa mataku sedang bermasalah? Karena baru saja aku melihat kilatan sedih diwajah Kaname. Heh, tidak mungkin. Mungkin efek bangun tidur masih berkeliaran dipikiranku. Membuatku berpikir yang tidak-tidak saja. Kaname sakit hati hanya karena kalimatku tadi? Dunia sudah kiamat.

Setelah beberapa saat, Kaname hanya menyeriangai. "Kenapa Zero? Apa salah jika aku berada di kamarku sendiri?"

Napasku tertahan. Aku tidak menyadarinya sama sekali. Kamar ini memang terasa asing di mataku. Aku tidur di kamar milik pureblood, Kaname Kuran. Itu membuat pikiranku panik. Sedikit tergesa-gesa, aku berusaha untuk bangun. Tetapi, aku hanya mengerang begitu merasakan sakit di pundak kananku.

Oke, sepertinya aku baru mengingat apa yang terjadi. Duras dan pingsan.

Aku pingsan lagi? Sudah berapa kali aku melakukannya?

"Bodoh." Kata singkat dari Kaname membuatku kesal. Tetapi, gestur Kaname yang membantuku untuk berbaring kembali membuat wajahku sedikit terasa panas. Memalukan. Menunjukkan kelemahan didepan Kaname Kuran membuat harga diriku jatuh seketika.

"Tou-chan! Jangan bangun dulu. Tou-chan masih sakit." Aku menoleh begitu mendengar suara cemas Luka. Melihat wajahnya membuatku sedikit tenang. Aku berusaha mengangkat tangan kananku untuk mengelus kepalanya. Tapi aku meringis begitu mengingat luka di bahuku. Ck!

"Bagaimana perasaan Tou-chan? Apa Tou-chan baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja, hanya goresan kecil. Beberapa hari akan sembuh."

Aku bisa mendengar Kaname mendengus atas jawabanku diikuti dengan 'goresan kecil, huh' dibawah napasnya.

"Aku bisa mendengar itu, Kuran!" Kaname hanya mengalihkan wajahnya kepada Sodom dipangkuannya, yang tengah menikmati usapan dari tangan Kaname.

"Tapi Tou-chan, kau tidur sehari penuh. Aku sangat khawatir!" keluh Luka dengan wajah cemberut.

Satu hari? Oke, tidak buruk. Sebelumnya dua hari, kan? Zero Kiryuu mengalami kemajuan.

"Maaf membuatmu khawatir. Tapi, sekarang aku sudah baik-baik saja. lihat, aku sudah bangun"

Kruuuuuuuukkkkk!

Kedua mataku melebar begitu perutku mengeluarkan sebuah suara. Rona merah menjalar diseluruh wajahku begitu mendengar Luka tertawa. Scratch that! Aku sangat yakin Kaname juga mengumpat tawanya saat ini. Tunggu, Kaname tertawa?

"Oh, my! Sepertinya perutmu itu membutuhkan asupan, Zero. Aku akan mengambilkan makanan untukmu."

"Shut up!" Tunggu, sejak kapan aku membiarkan Kaname memanggil namaku?

Aku hanya menatap tajam sampai dia keluar dari kamar. Setelah melihatnya menghilang, aku menghela napas lega. Saat ini, aku tidak ingin pureblood bodoh itu bergelayut disekitarku. Cukup sudah semua ini membuatku merasa lemah. Aku tidak ingin Kaname melihat semua momen-momen disaat bentengku sedang turun.

Pandanganku kini mendarat pada Luka dengan Sodom yang berada di atas kepalanya.

"Tou-chan benar-benar sudah sembuh?"

"Hhmhmm, beberapa hari lagi Tou-chan akan sembuh," ujarku pelan seraya tersenyum kecil.

"Ahh, berarti Chichiue harus melakukan ciuman bonus pada Tou-chan setiap hari!" ujar Luka riang dengan senyuman riang. Aku bisa merasakan sekujur tubuhku terpaku ditempat. Ciuman, heh?

Chichiue?

Aku terbelalak kaget. "A-apa maksudmu, Luka?" tanyaku tergagap.

"Kemarin, Chichiue mencium Tou-chan dibibir. Dia bilang agar Tou-chan cepat sembuh. Tapi, saat aku juga ingin mencium bibir Tou-chan agar Tou-chan sembuh lebih cepat, Chichiue melarangku. Tapi, Chichiue tidak menjelaskan kenapa. Apa Tou-chan tahu kenapa?"

Aku bisa merasakan wajahku semakin pucat kehilangan warna. Pernyataan Luka membuatku shock seketika.

Kaname Kuran menciumku?

End Zero's POV

.

.

Normal POV

Kaname segera menuju ke dapur dan menghangatkan bubur ayam yang sudah tersedia untuk Zero. Di meja makan, aku bisa melihat beberapa omelet yang masih tersisa. Setelah mengingat-ingat Luka belum memakan apapun sejak kemarin. Anak itu sangat susah diatur begitu Zero terlibat dalam masalah.

Sambil menunggu bubur dan omelet sekalian untuk Luka, Kaname melayangkan pikirannya pada kejadian kemarin. Kaname tidak bisa menghubungkan apa yang sedang terjadi saat ini. Begitu dia mencoba bertanya pada Luka, anak kecil itu tidak banyak mengerti. Tapi, dia memberitahu Kaname bahwa makhluk itu bernama duras. Luka juga tahu duras-duras itu mengincar Zero. Dan hanya itu batas informasinya. Anak kecil itu tidak mengingat apa yang terjadi setelah keributan yang terjadi antara Zero dan Kaname kemarin. Luka bahkan tidak mengingat dirinya melawan duras. Yang dia ingat hanya terbangun disamping Zero.

Lalu, siapa yang berbicara dan melawan duras kemarin? Apa Luka memiliki kepribadian ganda? Berbicara tentang itu, kaname mengingat warna mata Luka berubah menjadi silver. Dan sejak itu, perilakunya berubah total.

Kaname juga sempat bertanya pada Yuuki tentang Luka yang berada di kamarnya. Tetapi Yuuki hanya tertawa ragu dan mencoba mengubah topik. Kaname sangat yakin adiknya itu mengetahui sesuatu. Tetapi sepertinya sia-sia. Dia tidak mendapat informasi apapun dari Yuuki .

Tapi Kaname mengingat jelas pembicaraan antara Luka dan duras bernama bayu itu. Percakapan itu juga melibatkan sesuatu tentang pecahan. Kelopak silver. kelopak yang sempat muncul di tangan duras itu. kelopak yang susah payah ingin Luka ambil. Apa hubungan kelopak itu dengan Zero? Dia mengingat tatapan gila duras itu begitu melihat Zero.

Semua pikiran itu membuat Kaname frustasi. Menghela napas panjang, dia segera mengambil bubur yang sudah hangat itu dan membawanya menuju ke kamar. Dia meletakkan omelet hangat Luka di meja makan. Kaname ingin membicarakan sesuatu dengan Zero. Jadi, Kaname berpikiran mungkin lebih baik dia 'mengusir' Luka sebentar dari kamar.

Membuka pintu, Kaname langsung menyadari suasana canggung dalam kamarnya itu.

"Chichiue!" sudah jelas bukan dari Luka.

Menutup kembali pintu, Kaname berjalan mendekat menuju sisi Zero yang telah duduk dengan beberapa bantal dipunggungnya sebagai sandaran. Wajahnya tertunduk, dengan kesan menghindari tatapan Kaname.

Oke, apa salahnya kali ini? Kaname yang masih tidak mengerti apapun akar masalahnya hanya mengerutkan dahi.

"Luka, sebaiknya kau segera makan. Aku sudah menghangatkan omelet untukmu. Sejak kemarin kau belum makan bukan?"

Luka terlihat ingin protes. Tapi, begitu perutnya ikut bersuara, anak itu langsung bungkam.

"Kenapa Chichiue tidak membawa omelet itu sekalian kesini untukku? Aku juga ingin makan bersama dengan Tou-chan disini." protes Luka dengan wajah cemberut.

Kaname memijit keningnya pelan. Dia sangat yakin pembicaraan dengan Luka ini akan menjadi sangat panjang.

"..Chichiue ingin berbicara sebentar dengan...Tou-chan. Luka anak baik kan? Jadi harus makan di meja makan. Err.. Tou-chan sedang sakit. Jadi harus makan disini. Kalau Luka menjadi anak baik, Chichiue akan mengajak Luka jalan-jalan setelah Tou-chan sembuh, Oke?"

Meskipun sedikit enggan, Luka akhirnya menurut dan keluar dari kamar.

Kaname menghela napas lega. Untuk saat ini, satu masalah sudah selesai.

"Zero?"

Pemuda silver yang sedari tadi diam saja hanya menggenggam selimutnya erat.

"Fuck you..."

"Huh?"

"FUCK YOU!" teriak Zero tepat di depan wajahnya. Kaname bersyukur Zero sedang dalam keadaan lemah. Jika tidak, dia sangat yakin akan mendapat pukulan telak di wajahnya saat ini. Wajah Zero menunjukkan kekesalan. Murka luar biasa.

"Oke, apa salahku?" tanya Kaname pelan berusaha menjadi orang yang lebih mengalah.

"Kenapa kau menciumku, Kuran?", tanya Zero rendah dan berbahaya.

"Menciummu?"

"Hehh.. jangan bilang kau lupa, Kuran?"

Sepertinya, pikiran Kaname sedikit terlambat memproses memorinya.

Mencium?

Ohh.

"Oohh.." Hanya itu respon yang bisa Kaname keluarkan.

"'Oh'? hanya itu responmu? Kuran sialan! Apa tujuanmu mencuri ciuman pertamaku, hah?" teriak Zero garang. Sepertinya, Zero lebih terganggu dengan kenyataan ciuman pertamanya adalah Kaname Kuran.

Pemuda pureblood itu menyeringai pelan. Dia adalah ciuman pertama Zero? Oh, fantastic! Entah kenapa Kaname merasa senang dengan fakta itu.

"Oh, jadi itu ciuman pertamamu, Zero? Bukankah itu bagus?"

"Apanya yang bagus, hah? Dan jangan panggil namaku. Siapa yang mengijinkanmu, hah?"

"Kenapa? Bukankah, akhir-akhir ini aku sering memanggil namamu? Kau bahkan tidak protes sama sekali. Kenapa sekarang?"

Itu berhasil membuat Zero mati kutu. Dia hanya tergagap, tidak tahu harus membalas apa.

"Dan bukan hanya kau saja, Zero. Itu juga ciuman pertamaku. Seimbang, bukan?"

Dengan begitu, Kaname menangkup dagu Zero. Memaksanya untuk saling tatap mata dengan pureblood dihadapannya itu.

"Apa itu menjadi masalah untukmu?"

Zero hanya diam seribu kata. Suaranya tercekat. Ekspresi marahnya perlahan luntur tertutup dengan wajah semerah kepiting rebus.

Cute. Itu adalah pikiran pertama Kaname. Ajaib sekali wajah seorang Zero Kiryuu, vampire hunter yang terkenal dengan wajah dingin yang jarang mengeluarkan ekspresi selain marah itu kini merona merah karena malu.

"Kenapa? Kenapa kau menciumku? Bukankah kau mencintai Yuuki?"

"Siapa yang memberimu pikiran seperti itu, Zero?" Wajah Zero mengeras tidak suka. Dia menampar keras tangan yang memegang dagunya itu.

"Apa kau bercanda Kuran? Apa kau menciumku hanya karena kau hanya ingin mempermainkanku?"

"Aku tidak pernah mengatakan itu Zero. Apa kau berpikir seburuk itu tentangku?"

"Kenapa tidak. Kau selalu membuatku menderita, bukan? Hanya karena tiba-tiba kau peduli, kau pikir bisa mengubah cara pikirku tentangmu, Kuran?"

"Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa mengubah seua pikiran palsumu itu, Zero?"

"Hah? Palsu? Itu kenyataan Kuran. Dan kau tidak akan pernah bisa mengubahnya dengan omong kosongmu itu saja."

Tubuh Kaname bergetar karena menahan tawa. Setelah sedikit mereda, perlahan Kaname mendekatkan wajahnya ke Zero.

"Tentu saja. Aku minta maaf atas semua perbuatanku selama ini, Zero. Aku tahu semua yang aku katakan ini tidak akan pernah merasuk dalam pikiranmu. Jadi aku akan menggunakan cara lain untuk membuatmu mencintaiku." Zero tersentak kaget. Tetapi, kemudian menyeringai pelan.

"Heh, kau pikir semudah itu? Dengar baik-baik, Kaname Kuran. Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah membuatku jatuh hati padamu. Tidak akan pernah ada kesempatan itu. Jadi aku sarankan menyerah saja, Kuran!"

"Aku adalah vampire pureblood. Semua yang aku inginkan pasti akan terkabul, Zero. Aku memiliki caraku sendiri."

"Huh? Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti perasaan Yuuki. Apa-apaan kau ini? Yuuki mencintaimu, bukan? Berani sekali kau mencampakkannya begitu saja. Apa kau serendah itu, Kuran-senpai?" ujar Zero dengan nada mengejek.

Sepasang tangan memerangkap tubuh Zero, membuat tubuhnya tidak bisa bergerak kemanapun. Tubuhnya tertindih Kaname yang berada diatas tubuhnya saat ini. Wajah mereka sangat dekat. Hanya sedikit jarak diantara mereka.

"Kau tidak tahu apa-apa, Zero. Jangan menganggapku serendah itu. Aku tidaklah bodoh. Aku mencintai Yuuki sebagai adik. Dan Yuuki tahu itu. Kau tidak tahu itu, kan?" ujar Kaname menyeringai seraya menjilat pelan leher kiri Zero, membuat pemuda silver itu merinding seketika.

"Aku tahu kau mencintaiku, Zero." Itu membuat Zero semakin menegang. "Hanya saja, kau sangat keras kepala. Apa kau ingin aku yang menyadarkanmu? Atau, hanya kau saja yang tidak tahu kalau aku juga memiliki perasaan khusus padamu?" Kaname menggigit pelan leher yang baru saja dijilatnya itu, membuat Zero mengerang pelan. Napas pria malang yang ditindihnya itu semakin berat dan terengah-engah.

"Apa aku harus membuktikannya, Zero?"

.

.

TBC.

.

.

A/N : Oke, selesai. Ini udah lebih panjang dari chap sebelumnya. Sebenarnya mau aku lanjutin. Tapi aku potong dulu aja deh ^^. Pengen dengar pendapat kalian dulu. Maaf ya, POV nya ganti-ganti terus. Jadi, bagaimana menurut kalian? Ada yang kurang? Jelek kah? Kurang seru? Mungkin saran-saran? Pertanyaan? Saya dengan senang hati akan menjawabnya. Atau mungkin, chap depan kasih lemon? ^.^

Jangan lupa review. Aku nggak tahu kapan update lagi nih, tapi saya nggak akan menelantarkan fic kok. Niatnya mau fokus ke novel dulu. Untuk fic Angel hampir selesai kok. Minggu ini mungkin bisa update lagi. Sabar yaa.

Tapi ingat, review kalian akan menjadi pendorong dan semangat agar saya bisa update cepet. Okeh?

Jumpa lagi di chapter depan! ^^

.

Review, please!