Friends Or?
Chap 4
Kim Minseok - Exo Member – Other
DLDR, BL, Straight, M, Little Bit Humor (I Hope), Brothership, Friendship, Romance (?)
.
..
...
BEFORE
Memang benar Minseok menghindari mereka beberapa hari ini. Dia sengaja datang terlambat agar tidak harus sarapan bersama mereka. Dia selalu pulang lebih dulu dengan alasan ada urusan dengan pekerjaannya. Minseok magang sebagai waiters disebuah kafe. Minseok menghindari mereka karena tanpa sengaja mendengar percakapan mereka beberapa hari yang lalu.
.
..
...
FLASH BACK ON
Saat itu Minseok sudah memutuskan untuk ikut dalam urusan pergengan mereka, karena sudah satu tahun masuk dalam kelompok mereka Minseok tidak pernah melibatkan diri bahkan mereka tidak pernah menawarkan Minseok untuk terlibat dengan rencana yang dibuat kelompoknya untuk menyerang kelompok lain dan urusan lainnya. Walaupun Minseok tidak yakin apa mereka akan mengijinkannya ikut melibatkan diri dalam perkelahian mereka melihat selama ini mereka terlalu protektif padanya. Tapi mecoba tidak akan membunuhkan?
Namun saat akan membuka pintu, dia mendengar seseorang menyebut namanya dan akhirnya Minseok memilih untuk mengintip dari celah pintu yang dibukanya seminimalis mungkin. Saat sedikit menengok kedalam, Minseok melihat wajah tegang Chanyeol dan Luhan. Minseok sudah pernah melihat wajah tegang Luhan, namun melihat wajah Chanyeol yang selalu bahagia kini terlihat tegang membuatnya penasaran apa yang membuat mereka setegang itu.
"Aku tahu kalian semua tertarik dengan Minseok." Suho mencoba mendinginkan suasana dengan berbicara sekalem mungkin.
"Aku menyukainya." Baekhyun menyahut dengan cepat.
"Aku mencintainya." Sehun juga ikut menyahut denga cepat.
"Kami semua mencintanya." Luhan dengan suara yang ditahan ikut manyahut dengan tatapan tajamnya.
"Baiklah. Sejak awal kita semua mencintainya dan menginginkannya menjadi milik kita." Suho mengkoreksi perkataanya tadi.
"Hanya milikku... sendiri dan kalian tahu aku tidak suka berbagi." Kali ini Kai ikut menyahut dengan cepat.
"Kau tidak bisa mengklaim dia sebagai milikmu, jika dia tidak bilang bahwa dia milikmu." Chen menjawab dengan nada tajamnya.
"Tapi sejak awal Minseok memang milikku." Kai menjawab dengan keras kepala. "Kalian tidak tahu seberapa tak berdayanya Minseok saat denganku. Itu artinya Minseok memang sudah menyerah padaku."
Bugh!
Minseok menahan dirinya untuk tidak menerjang masuk kedalam ruangan itu setelah mendengar seseorang memukul wajah Kai yang saat ini terjatuh dihadapan Luhan dan Chanyeol sambil sedikit meringis. Dan yang membuat Minseok makin terkejut adalah Luhan dan Chanyeol ataupun yang lainnya tidak ada yang mencoba membatunya, walaupun hanya sekedar untuk membantu berdiri.
"Hilangkan dulu sikap aroganmu itu jika kau memang benar-benar ingin memilikinya." Kris yang dari tadi diam saja ikut membuka suaranya dengan nada dinginnya dan hal itu juga yang membuat Minseok tahu bahwa yang baru saja memukul Kai adalah Kris.
"Ini tidak akan selesai jika kita membahasnya dengan emosi seperti ini." DO berkata dengan tenang. "Kita semua menginginkanya menjadi milik kita sendri, tapi kita tidak tahu apa yang ada dipikiran Minseok. Apa Minseok juga menginginkan hal yang sama."
Entah mengapa Minseok sedikit lega mendengar perkataan DO barusan.
"Kita tidak akan pernah tahu jika kita tidak menanyakan langsung padanya." Tao juga ikut menyuarakan pikirannya.
"Minseok akan langsung lari ketakutan saat kita semua menanyakan bagaimana perasaannya terhadap kita." Chanyeol bebicara dengan suara bassnya yang terkesan dingin. Dan Minseok merasa asing dengan nada dingin itu.
"Kita suruh Minseok untuk memilih." Luhan berkata dengan singkat. Dan kesunyian yang menegangkan menyelubungi ruangan itu.
Minseok yang tidak mendengar apa-apa lagi mulai penasaran apa yang sebenarnya sedang mereka pikirkan tentang usulan Luhan tadi. Dan perasaan Minseok mengatkan bahwa apapun yang ada dipikiran teman-temannya bukanlah hal yang baik.
"Jika kita melakukannya kita akan lebih menakuti Minseok. Bayangkan dengan tiba-tiba sebelas pria menghampirimu dan menanyakan siapa daiantara kita yang paling disukainya. Minseok selalu menganggap kita aneh, dan Minseok akan menganggap kita gila jika kita benar-benar melakukannya." Lay yang berencana untuk tidak ikut melibatkan diri dalam pembicaraa ini akhirnya memilih buka suara. Dan Minseok belum pernah sesenang ini mendengar Lay berbicara. Minseok tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika mereka benar-benar melakukan apa yang dikatakan Luhan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan." Tao kembali bersuara dengan nada sedikit frustasinya.
"Menunggu." DO berkata dengan wajah datarnya walau ketagangan masih terlihat jelas terpancar dimatanya.
"Apa maksudmu dengan menunggu." Kai yang masih terduduk dilantai bertanya dengan raut bingungnya.
"Menunggu sampai Minseok memutuskan sendiri dangan hatinya, siapa yang sebenarnya dicintainya." Chen dengan otak cerdasnya menjelaskan sesingkat mungkin maksud dari perkataan DO.
Setelah mendengar itu Minseok memilih meninggalkan tempat itu dengan pikiran penuh dan mengurungkan rencananya. Jadi ini maksud dari semua perhatian yang mereka berikan pada Minseok bahkan Minseok dengan mudahnya bergabung dengan kelompok mereka. Minseok merutuki kebodohannya karena tidak merasa curiga dengan sikap aneh mereka. Semua sikap aneh mereka yang bahkan membuat Minseok harus menahan nafasnya, kehabisan nafasnya atau dengan wajah merah padam juga sikap perhatian dan juga keposessifan mereka yang berlebihan.
Minseok sekarang mengerti mereka semua melakukannya karena menginginkan Minseok,mereka menginginkannya menjadi milik mereka pribadi. Ada sedikit perasaan sakit saat mengingat kembali percakapan mereka, Minseok merasa hanya dianggap sebagai boneka yang bisa mereka mainkan sesuka hati mereka. Mereka tidak memikirkan sedikit pun perasaannya, apakah Minseok juga tertarik dengan salah satu dari mereka? Ataukah Minseok akan mencintai salah satu dari mereka? Bahkan mereka tidak berpikir apakah Minseok menyukai namja atau yeoja. Yang ada dipikiran mereka hanya obsesi untuk memiliki boneka incaran mereka.
Dan sejak saat itu Minseok memilih untuk menjauhi mereka sacara perlahan. Minseok tahu ini akan sulit, Minseok satu kelas dengan mereka, satu kelompok dengan mereka dan hanya mereka yang dekat dengan Minseok saat disekolahnya. Sejak masuk kedalam osis tidak ada orang yang berani mendekati Minseok atau bahkan sekedar untuk menyapa. Seolah semua orang langsung menjauhinya dan membuatnya hanya bisa berteman dengan mereka. Minseok membuang jauh-jauh pikiran jika merekalah yang mebuatnya dijauhi oleh teman-teman sekelasnya. Minseok baru sadar jika sejak dia menjadi salah satu dari mereka, dia tidak lagi menjalin pertemanan dengan siapapun seolah-olah dunianya hanya berputar disekitar mereka saja.
FLASH BACK OFF
.
Minseok tersadar dari lamunan panjangnya saat merasakan seseorang menggigiti bibirnya seolah meminta akses kedalam rongga mulutnya. Minseok yang masih terlalu bingung untuk memproses semuanya terbalalak kaget saat lidah hangat itu memasuki rongga mulutnya dan mulai mengeksplorasi seluruh rongga mulutya, mengajak lidahnya untuk beradu. Minseok yang terkejut dengan sesuatu yang mencoba mengajak lidahnya untuk beradu refleks menutup mulutnya yang seolah-olah membuat Minseok merespon ciuman itu. DO makin mengeratkan tubuhnya dengan Minseok dan menekan tengkuk Minseok kuat untuk memperdalam lumatannya dibibir Minseok. Tangan Minseok yang terkulai lemas disisi tubuhnya yang tiba-tiba membeku. Ini bukan pertama kalinya Minseok dicium dengan tiba-tiba oleh mereka namun setiap kali mereka melakukannya Minseok selalu tidak berdaya dengan kekuatan mereka yang menahannya untuk melawan. Merasakan makin tipis pasokan oksigen diparu-parunya Minseok meremas kedua pundak DO untuk menghentikan ciuamannya, namun sepertinya DO tidak terlalu paham dengan isyarat yang diberikan Minseok dan malah makin menekan tengkuk Minseok. Minseok mencoba menarik kepalanya yang ditekan dengan kuat namun tidak juga membuahkan hasil. Hingga akhirnya Minseok berhasil melepas ciuman itu dengan menundukan kepalanya sambil mencoba memasok kembali oksigen kedalam paru-parunya.
Selama Minseok berusaha menetralkan nafasnya, Minseok bisa merasakan bahwa DO memperhatikannya dengan intens. Selama hidupnya Minseok tidak pernah merasa tidak berdaya seperti ini.
"Sekarang kau sudah siap untuk menjelaskannya?" Tanya DO saat melihat Minseok mulai bernafas dengan normal.
"Aku... "
"Hey DO kau tidak memakan Minseok hidup-hidupkan. Luhan mulai gila jika kalian tidak segera kembali." Tao datang dangan tiba-tiba dan membuat DO menghela nafas kasar.
"Sabaiknya kita segera kembali sebelum yang lain mulai membuat ulah." DO melirik Tao tajam.
Minseok dengan cepat keluar dari toilet, dan meninggalkan DO dan Tao didalam toilet itu.
"Aku tahu kau memang licik dibalik topeng datar dan tenangmu Do Kyungsoo." Tao berbicara dengan nada dingin, nada yang jarang dikeluarkannya pada temannya sendiri.
"Kau tahu ZiTao, tidak ada diantara kita yang tidak licik jika ini mengenai Minseok." DO menjawab dengan nada santainya dan tentu saja itu juga nada yang jarang dikeluarkannya.
.
..
...
Tbc
Makasih buat yang udah nengok nih cerita, walaupun aku masih utang satu cerita ^^
Oh ya, kali aja ada yang mau ngasih ide buat secret, aku terima dengan pikiran terbuka *ciekata2nya
