Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya
Pairing: Always NaruSasu
Rated: M for Mature and Sexual Content
.
Scandalicious
.
By: CrowCakes
.
~Enjoy~
.
.
_Apartement Naruto, Pukul 21.00 Malam_
.
Neji duduk tegap dihadapan Naruto dan Sasuke di ruang tamu, pemuda berambut panjang itu terlihat pendiam seraya menyeruput teh yang disuguhkan oleh sang tuan rumah. Mata lavender nya terus menatap tajam ke arah pemuda raven yang berada disebelah sang Uzumaki. Membuat Sasuke bergerak tidak nyaman di tempat duduknya karena terus diperhatikan secara intens seperti itu.
"Jadi, kau disuruh kakek untuk mencariku, begitu?" Naruto membuka suara, mengalihkan perhatian Neji dari Sasuke ke arah pemuda pirang itu.
Sang Hyuuga mengangguk pelan, "Kau tidak pulang selama beberapa hari ini. Senju-sama mencemaskan anda, Namikaze-san." Jawabnya penuh rasa hormat.
Naruto berdecak, "Jangan bersikap formal padaku, kakek sedang tidak ada disini."
Neji mengangguk lagi, "Jadi Naruto, bisakah kau pulang sekarang? Tugasmu menumpuk." Tegasnya lagi dengan penekanan pada kata 'tugas'.
Sang Uzumaki mengerang pelan,"Aku tidak bisa pulang. Aku sedang bekerja."
"Menjadi pornstar bukanlah pekerjaan, Naruto." Potong Neji sinis.
Sasuke tercengang kaget, "Jadi, kau tahu pekerjaan Naruto juga?" Ia menyela cepat. Terkejut dengan pernyataan pemuda bermata lavender itu.
Neji meliriknya ganas, "Siapa kau? Salah satu bintang por—"
"Dia kekasihku—" Naruto memotong cepat seraya menatap tajam pemuda Hyuuga itu, seakan-akan memberi peringatan untuk jangan mengganggu pacarnya.
Neji tidak menjawab, ia memilih menyeruput teh nya, "Aku mencoba merahasiakan 'kesenangan' Naruto dari Senju-sama." Ia mulai menjelaskan sedikit demi sedikit pada Sasuke, "—Tingkah Naruto memang membuat sakit kepala. Kalau hal ini sampai diketahui publik, maka riwayat Hashirama's Corporation akan tamat." Lanjutnya lagi.
Sasuke menggigit bibir bawahnya, "Jadi, selama ini, Naruto bukanlah orang miskin?"
Neji menggeleng, "Dia kaya. Sangat kaya raya. Naruto adalah wakil Chief Executive Officer."
"Wakil CEO?" Sasuke melebarkan onyx nya karena kaget, kemudian beralih untuk mendelik galak ke arah pemuda pirang itu dengan ekor matanya.
Jadi selama ini dia berbohong dengan mengatakan berasal dari keluarga miskin, huh?
Seakan-akan bisa mendengar suara hati Sasuke, Naruto hanya bisa meneguk air liurnya gugup sembari tertawa getir, "Kau tahu, aku berpura-pura menjadi orang miskin agar tidak ada yang curiga dengan jati diriku." Jelasnya lagi.
"Lalu bagaimana dengan penampilanmu? Tentunya kau tidak bisa menyembunyikan wajah dan rambut pirangmu, bukan?" Ketus Sasuke tajam.
Naruto menggaruk pipinya, gugup, "Well, aku kadang-kadang mewarnai rambutku. Juga kacamata untuk penampilanku."
"Mengelabui media massa sangatlah gampang, namun mengelabui keluarga sendiri itu sulit." Sela Neji seraya melipat kedua tangannya angkuh. "—Senju-sama berkali-kali curiga dengan tingkahmu itu Naruto. Kalau kau berbuat lebih dari ini, aku tidak bisa menutupi kebohonganmu lagi." Lanjutnya dingin. Membuat Naruto kembali meneguk ludah.
"Kau pasti bisa mencari alasan lain kan, Neji?" Ucap Naruto dengan nada memohon, "—kakek tidak boleh mengetahui 'hobi' ku ini."
Sasuke menoleh dengan wajah tidak percaya, "Hobi katamu?" Jelasnya dengan nada sinis, "—Saat orang lain membutuhkan pekerjaan ini untuk membiayai hidupnya, dan kau bilang ini hanya 'Hobi'?" Lanjutnya sarkastik.
Naruto panik, "Bu—bukan itu maksudku, Sasuke. Aku hanya—"
Sasuke mengerang seraya memutar bola matanya kesal, "Aku akan pulang sekarang." Ucapnya lagi, malas mendengarkan omong kosong sang Uzumaki.
Sang Uchiha bangkit dari ruang tamu dan berjalan menuju kamar tidur. Meninggalkan Naruto dan Neji yang hanya diam menatap kepergiannya.
Pemuda pirang itu kembali menoleh ke arah sang Hyuuga, "Neji, tolong kau cari alasan lain untuk membuat kakek percaya, oke? Aku membutuhkan pertolonganmu." Mohonnya lagi.
Neji tidak menjawab dan hanya mendelik galak, "Tugasku adalah bekerja sebagai sekretaris pribadimu sekaligus menjabat sebagai Chief Financial Officer. tetapi mencari alasan untuk berbohong? Hal itu tidak ada di dalam lembaran prosedur kerja." Sahutnya panjang lebar yang membuat Naruto hampir menjambak rambutnya karena kesal.
"Please—please—lakukan saja apa yang aku katakan." Desak pemuda pirang itu seraya menyeret lengan Neji ke pintu depan dan mendorongnya untuk segera keluar dari apartemen.
"Tapi berjanjilah, besok kau harus datang untuk melakukan rapat dengan—"
"Fine!—Fine!—Just go!" Sela Naruto lagi seraya menatap ke arah kamarnya, berharap masih ada waktu untuk menghentikan kemarahan sang Uchiha. Jujur saja, ia tidak bisa membiarkan pemuda onyx itu berjalan pulang malam-malam begini, apalagi Sasuke sedang sakit.
Neji menghela napas pelan, "Kalau begitu, aku akan pul—"
BLAMM!—Pintu tertutup keras tepat dihadapan hidung sang Hyuuga. Naruto tidak memberikan kesempatan sedikit pun pada pemuda lavender itu menyelesaikan kalimatnya, sebab dia memiliki masalah penting yang harus diselesaikannya, yaitu menghentikan tindakan Sasuke yang ingin segera pulang.
Naruto berbalik dari pintu depan menuju kamarnya. Maniknya bisa melihat kalau sekarang Sasuke sudah berganti baju dengan pakaian sebelumnya yang sudah dicuci bersih.
"Sasuke, bisakah kau berhenti marah dan dengarkan aku?" Tanya pemuda pirang itu seraya mencengkram lengan sang Uchiha untuk menatap wajahnya.
Sasuke menepis kasar, "Tidak ada yang perlu didengarkan lagi. Aku cukup mendengar segalanya." Sinisnya.
"Lihat?! Kau egois!"
"Kau yang egois!" Sasuke membalas seruan Naruto dengan teriakan marah, "—Pekerjaan yang kau lakukan sekarang mungkin terlihat 'hobi' menyenangkan bagimu, tetapi bagi Gaara, pekerjaan ini merupakan hidupnya!" Ucapnya lagi dengan nada kesal.
"Oke—oke—aku tahu, aku salah. Tetapi bukan itu yang ingin aku jelaskan." Sergah Naruto cepat.
"Lalu apa?! Tentang dirimu yang ternyata adalah seorang pewaris tunggal perusahan ternama? Oh—Ha—Ha—nice, good for you!" Sarkastik bertambah, membuat Sasuke tidak bisa mengendalikan emosinya lagi.
Naruto menggeram marah, emosinya juga memanas hingga ke ubun-ubun. Dengan cepat, ia bergerak ke arah Sasuke, mencengkram lengan pemuda raven itu dan menyentaknya kasar, "Dengar—" Ia mendesis tajam, "—Jangan bersikap seolah-olah, aku pemuda brengsek yang hanya menginginkan sex saja."
"Kau memang pemuda brengsek yang hanya memikirkan tentang sex, bukan? Kau membohongiku dengan mengatakan kau orang miskin, kemudian menghina pekerjaanku dan Gaara. Itu bukti dirimu brengsek, Naruto." Balas Sasuke dengan ucapan dingin.
Mata biru Naruto berkilat tajam, "Kalau aku brengsek, mungkin sekarang kau sudah kuperkosa dan kubuang ke selokan. Dan Gaara, mungkin aku akan bersikap kasar padanya." Sahutnya dengan desisan keras. "—Tapi nyatanya tidak kan? Aku mencintaimu, dan aku menuruti permintaanmu untuk bersikap lembut pada pemuda itu." Lanjutnya lagi tanpa mengurangi desisan dari nada suaranya.
Sasuke tidak menjawab, onyx nya masih melemparkan death glare paling sinis ke arah Naruto. Otaknya mencoba mencerna perkataan sang Uzumaki, mencari kejujuran diantara kilatan amarah dari sang blue ocean. Hingga akhirnya, Sasuke memilih menyerah dan memalingkan wajah, "Baiklah, aku percaya padamu." Sahutnya pelan.
Naruto mengendurkan ekspresi keras dari wajahnya, ia juga melepaskan cengkraman di lengan sang Uchiha, "Sasuke, lihat aku—" Tangannya menuntun wajah itu untuk saling bertatapan, "—Aku menyembunyikan indentitasku agar tidak terjadi skandal."
"Kalau kau sadar itu skandal, kenapa masih tetap bekerja sebagai pornstar?" Tanya Sasuke lagi.
Pemuda pirang itu mendesah berat dan memilih menghempaskan pantatnya di atas kasur, "Anggap saja, kenakalan remaja." Sahutnya cepat, "—Aku memulai debutku menjadi pornstar saat aku berusia 19 tahun, tiga tahun lalu." Sambungnya.
Sasuke melipat kedua tangannya didepan dada seraya bersandar di tembok. Mencoba mendengarkan cerita sang Uzumaki, "Lalu selanjutnya?"
"Yeah, kau tahu kan? Masa remaja merupakan awal dari pemberontakkan. Aku mencoba hal-hal baru seperti sex, rokok dan sejenisnya. Hingga akhirnya aku bertemu Tsunade di salah satu bar. Ia menawariku untuk menjadi modelnya." Naruto mendesah pelan.
"Kau setuju?"
"Ya, aku setuju. Bukan karena gajinya, melainkan sensasinya. Sudah kubilang kan, aku ingin mencoba sesuatu yang baru." Jawab sang Uzumaki lagi seraya menggaruk tengkuk lehernya, canggung. Matanya melirik Sasuke, namun pemuda raven itu terlihat tidak melemparkan pertanyaan apa-apa, jadi Naruto memilih melanjutkan perkataannya lagi, "—Awalnya aku bermain di straight adult video. Namun Tsunade menginginkan genre lain, yaitu gay."
"Aku tebak, kau juga pasti setuju." Potong Sasuke langsung.
Naruto tersenyum tipis, "Ya, kau benar. Aku merasa hal itu sangat menyenangkan, tetapi setelah berpikir lama, aku sadar seharusnya aku berhenti saja sebelum kakek mengetahui pekerjaan 'kedua' ku ini."
Sasuke menghela napas, ia bergerak untuk duduk di samping pemuda pirang itu, "Lalu, kenapa kau tidak berhenti saja?"
"Niatku terhenti saat aku bertemu denganmu." Jawab Naruto lagi. Iris birunya melirik lembut ke arah sang Uchiha, "—Aku jatuh cinta padamu."
Onyx Sasuke melebar, namun rasa terkejutnya bisa diredam dengan cepat. Ia berdehem untuk membuang atmosfir canggung diantara mereka, "Ja—Jadi karena itu, kau terus bekerja sebagai pornstar?"
"Tentu saja. Agar aku bisa terus bersamamu." Jelasnya lagi dengan cengiran lebar.
Sasuke mendengus geli, "Dasar idiot—" Ejeknya yang disambut kekeh pelan dari sang Uzumaki, "—Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau akan berhenti menjadi pornstar?"
Naruto mengedikkan bahunya, "Mungkin... Entahlah, aku masih belum tahu. Aku takut, setelah aku keluar dari pekerjaan ini, aku tidak bisa menemuimu lagi."
"Kenapa begitu?"
"Pekerjaanku sebagai wakil CEO perusahaan membuat waktu luangku hilang. Walaupun kita bertemu, mungkin hanya bisa satu minggu sekali." Alasannya lagi.
Sasuke mengangguk tanda paham, "Tetapi sebaiknya, kau mengundurkan diri sebagai pornstar. Kalau hal ini sampai diketahui publik, reputasi perusahaanmu akan terancam."
Naruto menunduk, kemudian mencengkram buku jarinya dengan kuat, "Kalau kau bilang begitu—baiklah—aku menurut. Besok aku akan berbicara dengan Tsunade mengenai pengunduran diriku." Jelasnya lagi.
Sasuke tidak menjawab, ia hanya mengangguk senang dengan keputusan pemuda pirang itu. Kini, rahasia Naruto menjadi tanggung jawabnya juga. Naruto sudah memberikan kepercayaan penuh padanya, membuatnya mau tidak mau harus merahasiakan jati diri sang Uzumaki dari siapa pun. Kalau skandal itu bocor, maka bukan hanya reputasi Naruto saja yang memburuk, melainkan dia juga ikut hancur sebab statusnya sekarang adalah 'kekasih' pemuda itu
.
.
.
_Apartement Naruto, Pukul 08.00 Pagi_
.
Matahari menyapa dengan cepat melalui celah jendela di kamar Naruto, membuat pemuda raven yang sedang tidur disana mengerang pelan sembari mengulet malas di atas kasur empuk itu. Ia mengucek matanya pelan sebelum melirik ke arah samping.
Tidak ada sosok Naruto.
Sepertinya pemuda pirang itu sudah bangun pagi-pagi sekali dan bergegas pergi kerja menangani perusahannya. Sasuke ingat kalau tadi malam Naruto membicarakan tentang rapat penting dan harus bangun pagi untuk mengurus Hashirama's Corporation sebelum menemui Tsunade.
Sedikit malas, Sasuke bangkit dari ranjang dan bergerak menuju dapur. Mengambil sekotak susu dingin dari lemari es, kemudian menegaknya nikmat. Pandangannya beralih ke arah jam dinding yang berada diruangan itu. Pukul 08.05 pagi, masih ada waktu 20 menit lagi untuk pergi kuliah.
Sasuke duduk di depan meja makan sambil mengoleskan mentega ke rotinya, ia perlu sarapan sebentar.
Riing!—Riiing!—Suara dering ponsel miliknya mengalihkan perhatian sang Uchiha dari roti manis itu. Sedikit tergesa-gesa, ia kembali ke kamar untuk menyambar handphone nya.
"Hello?" Ia menjawab dengan sopan.
.
"Sasuke, Aku di depan rumahmu sekarang, tetapi kata ayahmu kau sedang tidak ada dirumah sejak kemarin. Kau sebenarnya dimana?" Suara Gaara diseberang telepon membuat pemuda raven itu sedikit tersentak. Ia tidak bisa mengatakan kalau ia sedang di apartemen Naruto.
.
"Uhh—Aku menginap di rumah temanku." Jawab Sasuke setengah berbohong dan setengah jujur.
.
"Uh—okay—" Ada jeda sebentar sebelum Gaara kembali berbicara, "—Sasuke, bisakah nanti siang kita berbicara? Ada hal penting yang harus aku katakan padamu." Sambungnya lagi.
.
Sasuke melirik jam dinding, "Maksudmu jam 12 siang ini?"
.
"Ya, jam 12 siang, di tempat biasanya." Jelas Gaara menimpali.
.
"Tentu—lagipula hari ini tidak ada syuting." Sahut Sasuke.
.
"Oke—kalau begitu sampai nanti. Bye."
.
"Hn..." Sasuke langsung mematikan sambungan teleponnya. Kemudian mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Ia sedikit penasaran, apa yang ingin dibicarakan oleh pemuda berambut merah itu. Apakah ada masalah yang sangat penting? Misalnya saja, terlilit hutang dan sejenisnya? Ataukah ada hal yang lain?
Lelah untuk berpikiran negatif, Sasuke memilih untuk segera membersihkan diri di kamar mandi dan bergegas pergi ke kampus. Ia harus segera berangkat kuliah sebelum terlambat.
.
.
.
_Hashirama's Corporation, Pukul 10.00 Pagi_
.
Pria berambut hitam panjang terlihat duduk santai di kursi kerjanya yang empuk, jarinya mengetuk pelan di atas meja, sedangkan mata gelapnya menatap ke arah pemuda bermarga 'Namikaze' dihadapannya.
"Kau melalaikan tugasmu, Naruto." Pria pemegang jabatan sebagai Chief Executive Officer itu berbicara dengan nada tenang namun menusuk, membuat Naruto meneguk air liurnya, gugup.
"Aku hanya menenangkan pikiran di suatu tempat." Alasan sang Uzumaki lagi.
"Menenangkan pikiran selama satu minggu? Itu terlalu lama." Potong Senju lagi. Pria yang berumur setengah baya namun memiliki wajah awet muda itu hanya mendesah pelan. "—Bisakah kau jujur padaku? Aku ini kakekmu." Lanjutnya lagi.
Naruto tidak menjawab, ia hanya bergerak gugup sambil melonggarkan dasi hitamnya. Manik birunya melirik Neji yang berdiri di sampingnya, mencoba meminta bantuan.
Sang Hyuuga mengerti arti tatapan memohon sang Uzumaki, dengan menghela napas berat, ia mulai membuka suara, "Hashirama-sama, tuan muda mungkin terlalu banyak pikiran dan membutuhkan sedikit refreshing. Aku harap Hashirama-sama bisa memaafkan sikap tuan muda." Katanya penuh dengan sikap hormat.
Pria berambut panjang itu hanya menghela napas pelan seraya tersenyum tipis, "Baiklah, lagipula aku tidak bisa memarahi cucuku sendiri." Balasnya lagi yang disambut ucapan terima kasih oleh Naruto dan Neji.
"Jadi, Kek, apakah hari ini ada rapat penting?" Tanya Naruto, mengesampingkan formalitas mereka.
Senju mendesah sebelum mengambil beberapa dokumen diatas mejanya, "Ya, sore ini dengan Madara's Group. Kita akan melakukan rapat bisnis dengan mereka."
Naruto menyentuh dagunya sebentar, berpikir, "Aku selalu penasaran, bukankah dulu kakek pernah mengatakan kalau Madara's Group merupakan rival bisnis kita? Tetapi kenapa kita bisa bekerja sama dengan mereka?"
Pria berambut panjang itu hanya tersenyum tipis, pandangannya seakan-akan menembus ruang batas, menggali memori yang ada di dasar otaknya, "Itu cerita yang sangat panjang, sebelum ayahmu pergi dengan kekasihnya, dan meninggalkan almarhum ibumu." Jelasnya lirih. Sadar kalau cerita itu tabu untuk dibicarakan, Senju kembali mendongak tersenyum untuk mencairkan suasana, "—Selain itu, aku dengar Madara merupakan pria yang sangat 'menarik', jadi aku ingin membuatnya menjadi rekan bisnis." Sambungnya lagi.
Naruto memutar bola matanya kesal, "Menggoda wanita-wanita milik Madara-san bukanlah hal yang patut untuk dilakukan rekan bisnis, Kek. Terakhir kali kau melakukannya, kau pulang dengan wajah babak belur."
Senju tertawa, "Ya, itu kesalahanku. Aku hanya berniat menjahilinya sedikit, aku tidak tahu kalau Madara sangat marah karena aku 'tidur' dengan wanitanya."
Sang cucu hanya mendesah pelan menghadapi tingkah kakeknya yang masih terlihat awet muda dan tampan itu. Sejujurnya, Senju bisa saja menggaet beberapa wanita lain, tetapi ia memutuskan hanya menggoda wanita milik Madara. Alasanya, ia tertarik melihat wajah kesal pria pemilik Madara's Group itu.
See? Hashirama Senju merupakan pria paruh baya yang gila—namun tampan.
"Jadi Naruto—" Senju kembali berbicara, "—Bisakah kau menangani Madara's Group?"
Naruto ingin segera membalas perkataan sang kakek dengan anggukan kepala setuju, namun dering ponselnya menghentikan tindakannya itu, apalagi begitu melihat nama 'Tsunade' yang tertera dilayar handphone nya. Naruto tebak, wanita itu meneleponnya karena masalah pekerjaan.
Sang Uzumaki mengangkat telepon tadi dengan panik, "Ya? Tsunade-san, ada apa?"
.
"Ah, Naruto—aku ingin mengatakan kalau sore ini akan ada syuting lagi."
.
Naruto menelan ludahnya gugup, matanya melirik takut-takut ke arah kakeknya, namun sepertinya sang Hashirama masih terlihat sibuk membolak-balikkan lembar dokumen, "Maaf Tsunade, tetapi aku sibuk sore ini. Jadi gantikan saja aku dengan yang la—"
.
"Gaara sendiri yang memintaku agar kau menjadi pasangannya di video nanti." Potong wanita itu cepat. Membuat Naruto heran dan panik.
.
"Kenapa harus aku?"
.
"Jangan tanya padaku. Gaara tidak akan mau melanjutkan video kalau bukan kau yang menjadi pasangannya." Sahut sang direktur lagi. "—Ngomong-ngomong Naruto, bisakah kau kesini sekarang juga? Aku ingin membicarakan tentang kontrak kerja kita." Sambungnya dengan nada tidak sabaran.
.
Naruto mendesah seraya memijat pelipisnya, "Baiklah, aku mengerti. Aku akan segera kesana sekarang." Balasnya yang langsung menutup telepon bahkan tanpa sempat membiarkan Tsunade membalas sapaannya.
Hasirama mendongak untuk menatap cucunya, "Kau terlihat pucat. Ada apa? Apakah ada hubungannya dengan telepon tadi?" Tanyanya cemas.
Naruto mencoba tertawa getir, "Ti—tidak ada apa-apa." Ia menjawab dengan cepat, "Uhm, Kek, maaf, tetapi sepertinya aku tidak bisa rapat dengan Madara's Group sore ini. Aku—err—ada urusan penting." Lanjutnya lagi dengan sikap gelisah.
Neji yang berada disampingnya hanya mendelik sinis, "Ini merupakan rapat penting, Namikaze-sama." Ucapnya dengan nada tegas, seakan-akan berkata 'Aku tahu kau ingin bekerja di tempat pelacuran itu'.
Naruto menoleh galak, "Tetapi urusanku yang sekarang lebih penting lagi."—Jangan menggangguku Neji, aku perlu melakukan pekerjaan ini.
"Urusan perusahaan merupakan hal yang utama."—Berhenti menjadi pornstar, kau membuat masalah ini semakin rumit.
"Kalau kau begitu khawatir tentang perusahaan, kau bisa menjadi wakil CEO mulai dari sekarang Neji."—Sekali lagi, jangan menggangguku pekerjaanku.
.
"Hentikan kalian berdua." Suara tegas Senju membuat kedua pemuda itu langsung terdiam. Mata sang Hashirama menatap cucunya dengan tajam, "—Sebenarnya urusan apa yang lebih penting dibandingkan rapat dengan Madara's Group?" Tanyanya dengan nada dingin.
Naruto meneguk air liurnya sebelum menjawab, "Urusan yang menyangkut soal—err—klien dan pengelolaan saham." Bohongnya lagi. Membuat Neji hanya bisa mendesah berat mendengar ucapan penuh dusta itu.
Senju mengangguk pelan, "Kalau begitu pergilah, biar aku yang akan mengurus masalah rapat ini." Ujarnya menengahi.
Neji membungkuk hormat, "Kalau begitu, biarkan aku membantu anda juga, Hashirama-sama."
Pria itu mengibaskan tangannya dengan cepat, "Tidak perlu, kau ikut saja dengan Naruto untuk menemaninya."
Naruto ingin mengeluarkan protesan, tetapi Neji langsung membungkuk lagi untuk mengatakan kesetujuannya, "Baiklah, aku akan menemani Namikaze-sama. Aku akan mengawasinya dengan baik." Jelasnya lagi dengan penegasan pada kata 'mengawasi'. Membuat sang Uzumaki mengerang kecewa dan kesal.
.
.
.
_Coffee's Cafe, Pukul 12.00 Siang_
.
Gaara duduk di salah kursi dengan segelas capuchino di hadapannya. Jarinya mengetuk tidak sabaran sambil sesekali melirik jam tangannya. Pukul 12.03 siang dan Sasuke masih belum datang juga, padahal mereka berjanji disini untuk membicarakan hal penting. Haruskah ia menelepon pemuda raven itu lagi?
Tepat ketika Gaara mencoba untuk menghubungi sahabatnya itu, suara denting bel di depan cafe membuat perhatiannya teralihkan. Sosok Sasuke berdiri disana seraya mengedarkan pandangan.
"Sasuke! Disini!" Seru Gaara antusias.
Sang Uchiha terlihat melambai pelan dan segera bergegas untuk mengambil tempat duduk dihadapan pemuda rambut merah itu. Ia meletakkan tas nya diatas meja sebelum membuka pembicaraan.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Gaara?" Tembak Sasuke langsung tanpa basa-basi.
Pemuda dihadapannya terlihat mengaduk gelas capuchino nya dengan gelisah, "Kau tidak memesan kopi dulu sebelum kita mulai ngobrol?" Tawar Gaara mengalihkan pembicaraan untuk sejenak.
Sasuke menggeleng pelan, mencoba menolak dengan halus, "Aku tidak haus—" Jawabnya cepat, "—jadi katakan padaku, persoalan penting apa yang ingin kau bicarakan?" Lanjutnya dengan sikap tenang.
Gaara menggigit bibirnya gugup, "Berjanjilah satu hal, Sasuke. Kau tidak akan memutuskan tali persahabatan kita kalau aku mengatakan yang sejujurnya." Ucapnya pelan.
Sasuke mengernyitkan dahinya, heran, "Apa maksudmu?"
"Aku—sepertinya jatuh cinta." Sambung pemuda rambut merah itu seraya menunduk dalam, menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya. Ia bahkan tidak melihat mata sang onyx terbelalak lebar.
"K—Kau bilang apa?" Tanya Sasuke, mencoba meyakinkan pendengarannya kalau Gaara hanya salah bicara.
Gaara menggaruk tengkuk lehernya sebelum kembali berbicara lagi, "Aku... jatuh cinta... pada Naruto."
Sasuke terhenyak, matanya membulat semakin lebar, tidak percaya, "Ka—Kau pasti bercanda kan?" Ucapnya dengan tawa getir, "—Aku yakin Naruto yang memaksamu untuk—"
"Tidak!—Tidak!—Aku tidak dipaksa siapapun." Potong Gaara cepat, "—Aku benar-benar menyukainya. Aku bahkan meminta secara pribadi pada Tsunade untuk memasangkan diriku dengan Naruto saat pembuatan video nanti. Tepatnya sore ini." Sambungnya lagi, tanpa melihat raut pucat sang Uchiha.
"Kau bilang—sore ini?"
"Ya, sore ini." Sahut Gaara antusias, senyum tipisnya terlihat semakin ceria. "Jadi Sasuke, mau kah kau membantuku?"
"Huh?"
Gaara mendongak. Jade nya menatap sang onyx dengan serius, "Kau sangat dekat dengan Naruto, jadi tolong bantu aku untuk menyatakan perasaanku padanya."
Sasuke meneguk air liurnya yang kering, buku jarinya saling mencengkram erat, "Kau tahu kan, kalau itu—err—termasuk hubungan gay."
"Aku tahu. Tapi aku tidak peduli. Aku menyukainya, dan aku harap kau tidak membenciku karena orientasiku yang menyimpang." Tukas Gaara seraya menunduk.
"Aku tidak membencimu. Aku hanya—maksudku—kau serius dengan Naruto? Tapi dia—"—Dia sekarang menjadi pacarku, batin Sasuke dalam hati, namun enggan dilontarkannya pernyataan itu. Ia takut kalau hal itu melukai perasaan Gaara, yang bisa dilakukannya hanya menunduk diam seraya bergerak gelisah di tempat duduknya.
Mungkin aku harus memberitahu Naruto untuk menolak tawaran itu, batin Sasuke lagi dalam hati.
"Uhm—Gaara—aku permisi sebentar ke toilet." Katanya meminta ijin seraya bangkit dari kursi. Belum sempat pemuda rambut merah itu mengeluarkan balasan, sang Uchiha sudah melesat secepat mungkin ke arah belakang cafe.
Yang dipikirkan Sasuke sekarang adalah menghubungi Naruto secepat mungkin.
.
.
.
Riiing—Riiing—Dering telepon di saku Naruto membuat pemuda pirang itu tersentak kaget. Ia segera merogoh saku celananya dan langsung menerima panggilan itu. Senyumnya terkembang saat nama 'Sasuke' tertera dilayar handphone nya.
"Ya Sasuke? Ada apa?" Tanya Naruto membuka obrolan.
.
Bukannya disambut dengan hangat, Sasuke malah langsung melemparkan pertanyaan lain, "Kau dimana sekarang? Ada yang perlu aku bicarakan denganmu. Hal ini mengenai Gaara." Ucapnya tegas tanpa basa-basi.
.
Naruto mengerutkan dahi, heran. Kemudian iris birunya menatap sekitar.
Sebuah ruangan kecil dengan beberapa poster model pornstar, rak lemari dengan beberapa koleksi porn video, serta meja kerja dengan komputer dan beberapa lembaran kertas, "Aku diruang kerja Tsunade." Jawab pemuda itu akhirnya, "—Aku disini untuk membicarakan tentang kontrak video untuk nanti sore."
.
"Kau bersama siapa disana? Apakah Tsunade ada disana juga?" Cerca Sasuke langsung.
.
Naruto lagi-lagi mengalihkan pandangannya ke meja kerja Tsunade, namun sosok wanita itu tidak ada disana, hanya terlihat Neji yang duduk malas di sofa tepat disampingnya, "Well, dia tidak ada. Tsunade sedang pergi untuk mengurus kontrak kami."
.
"Sial!—" Sasuke mengumpat kesal. Membuat Naruto yang berada diseberang telepon mengerutkan dahinya, bingung.
.
"Sasuke, sebenarnya ada apa? Kenapa dengan Gaara?" Potong sang Uzumaki tidak sabaran.
.
"Dengar Naruto, mungkin ini terdengar gila, tetapi Gaara menyukaimu, jadi tolong—jangan kau terima kontrak itu." Jelas Sasuke dengan cepat tanpa membiarkan pemuda pirang itu menyela ucapannya.
.
"Wooo—Wooo—Calm down, Sasuke. Apa maksudmu dengan Gaara menyukaiku? Kau pasti bercanda kan?"
.
"Apa kau terdengar bercanda saat ini?!" Nada suara Sasuke meninggi satu oktaf, membuat Naruto meneguk liurnya diseberang sana.
.
"O—Oke, maaf, aku akan coba membicarakan hal ini lagi dengan Tsunade. Jadi tenanglah." Sahut sang Uzumaki dengan nada suara yang meyakinkan.
.
Sasuke mendesah pelan seraya memijat keningnya, "Baiklah, aku dan Gaara akan segera kesana. Kita akan meluruskan permasalahan ini."
.
"Maksudmu dengan mengatakan kalau kita sekarang pacaran, begitu?"
.
"Ya, tidak ada cara lain membuat Gaara untuk berhenti menyukaimu selain kau menolaknya dihadapannya sendiri." Jelas Sasuke cepat.
.
"Aku mengerti, sampai jumpa Sasuke." Balas Naruto seraya menutup sambungan telepon mereka.
Neji yang berada disebelahnya melirik penasaran, "Dari siapa?"
"Sasuke." Jawab pemuda pirang itu cepat, "—Ia mengatakan kalau Gaara menyukaiku, dan menyuruhku untuk cepat menolaknya." Lanjutnya lagi.
Sang Hyuuga menoleh bingung, "Siapa itu Gaara?"
"Pasangan videoku. Pornstar sepertiku."
"Aku tidak tahu kalau kau sangat populer dikalangan pornstar." Ucap Neji sinis. Membuat Naruto menoleh galak.
"Berhenti menghinaku seperti itu, Neji. Kau menyebalkan." Desisnya.
"Aku akan terus menghinamu sampai kau berhenti bekerja disini. Tidakkah kau sadar kalau tindakanmu ini berpengaruh pada nama baik Hashirama's Corporation?—Skandal yang mengerikan bagi kelangsungan perusahaan?" Sela sang Hyuuga seraya melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh.
Tepat ketika Naruto ingin membalas ucapan sinis sang Hyuuga, sebuah ketukan di pintu membuat dua pemuda di dalam ruangan itu menoleh cepat.
Sosok Shikamaru terlihat bersender di ambang pintu dengan tangan yang terlipat di dada. "Maaf kalau aku mengganggu pembicaraan kalian, tetapi aku harus berbicara dengan Naruto mengenai lokasi pengambilan video nanti. Berdua saja." Katanya dengan penegasan pada kata 'berdua saja', mencoba mengusir Neji secara halus.
Sang Hyuuga melirik Naruto sekilas, kemudian berbisik pelan, "Kau harus berhenti dari pekerjaan ini, oke?"
Pemuda pirang itu mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah, "Fine!—Fine!—Aku pasti akan mengundurkan diri. Jadi pergilah dulu, aku perlu berbicara dengan Shikamaru." Desaknya lagi yang membuat Neji menghela napas dan memilih mengikuti perintah bosnya itu.
Pemuda bermata lavender itu bergerak keluar ruangan, memberikan privasi pada Shikamaru dan Naruto untuk membicarakan kontrak kerja mereka.
"Jadi—Siapa dia?" Tanya Shikamaru seraya mendudukkan pantatnya di sofa tepat sebelah sang Uzumaki.
"Maksudmu Neji? Well, dia hanya temanku. Dia ingin melihat tempat kerjaku." Bohong Naruto yang disambut anggukan percaya dari Shikamaru. "—Jadi, kau ingin membicarakan tentang apa?" Lanjut pemuda pirang itu.
Shikamaru menguap malas, "Hanya membicarakan hal tidak penting seperti lokasi syuting, waktu pengambilan video dan hal lainnya."
Naruto tidak menjawab, ia hanya menunduk diam, "Sejujurnya Shikamaru, aku ingin segera berhenti dari pekerjaan ini."
Shikamaru membelalak terkejut, "Kau bilang apa?—Kau ingin berhenti? Tapi kenapa?" Tanya pemuda rambut nanas itu, heran.
Sang Uzumaki mengedikkan bahunya, "Tidak ada alasan, aku hanya ingin berhenti saja." Jawabnya cepat.
Sang asisten meremas tangannya dengan kuat, ia menunduk dalam, "Jadi kita tidak akan bertemu lagi, eh?"
"Entahlah, tetapi aku bisa mengunjungimu dan Tsunade saat akhir pekan."
Shikamaru tidak menjawab maupun mengangguk, kepalanya masih tertunduk seraya meremas jari tangannya kuat, "Naruto, maukah kau membuat sedikit kenangan bersamaku?"
"Huh?" Naruto menoleh bingung. Belum sempat pemuda pirang itu mencerna kalimat dari pemuda disebelahnya, Shikamaru sudah mendorong tubuh Naruto ke bantalan sofa, menghimpit tubuh tan itu dibawah badannya.
"Wooo—Wooo—Shikamaru, apa yang—"
"Cium aku." Potong Shikamaru cepat. Wajahnya yang biasa terlihat malas, kini berubah menjadi raut wajah serius, membuat sang Uzumaki meneguk air ludahnya panik.
"Shika—err—aku sudah punya pac—Hmphh!" Belum sempat pemuda pirang itu menyelesaikan kalimatnya, Shikamaru sudah mengunci bibir sang Uzumaki dengan mulutnya. Membuat iris biru itu membelalak kaget sekaligus panik.
Naruto mendorong pelan bahu sahabatnya itu, membuat bibir mereka berpisah sejenak.
Shikamaru menatap sang Uzumaki dengan tatapan yang tidak bisa dideskripsikan lagi, "Naru—please—cium aku." Pintanya dengan suara serak dipenuhi nafsu.
Pemuda pirang itu menggeleng cepat, "Tidak Shika! Aku bisa dibunuh Sasuke! Lagipula kita adalah sahab—"
"Kita akan merahasiakannya dari Sasuke—" Potong Shikamaru lagi. Tangannya menangkup wajah menawan itu dengan lembut, "—Dia tidak akan tahu. Ini hanya ciuman singkat." Goda pemuda rambut nanas itu seraya berbisik di telinga sang Uzumaki, membuat Naruto meneguk ludahnya yang kering.
"Err—tapi—"
"Please, hanya sebentar saja." Pinta Shikamaru dengan suara memohon.
Naruto gugup, ia mencoba mundur, namun sandaran sofa menahan punggungnya, mengurung tubuhnya diantara himpitan Shikamaru.
"Uhm—Shika—bisakah kit—Hmphhh!" Lagi-lagi kalimatnya terbungkam oleh ciuman pemuda rambut nanas itu. Mengecup bibirnya lembut dengan jilatan yang agresif, ia bahkan tidak tahu kalau pemuda yang dipikirnya malas hidup itu ternyata hebat dalam berciuman.
"Naru—hmmph!—jilat—mphh—lidahku—" Mohon Shikamaru disela pagutan bibir mereka.
Sang Uzumaki ingin menolak, tetapi saat merasakan gerakan benda lunak yang bergerak seduktif didalam mulutnya, mau tidak mau membuatnya pasrah dan mulai bermain dengan mulut Shikamaru.
Lidah Shikamaru yang awalnya mendominasi mulai kalah dengan gerakan liar lidah Naruto. Membiarkan benda hangat tadi menjelajah rongga mulutnya, "Hmmphh—Naru—nghhmm—" Pemuda rambut nanas itu mendesah kecil disela ciuman mereka, lengannya melingkar di sekeliling leher Naruto.
Sang Uzumaki menyambut pelukan Shikamaru dengan rengkuhan lembut. Tangan tan nya bergerak menyentuh pinggang pemuda jenius itu dan membawa tubuh mereka untuk saling berhimpit, "Lidahmu—hmmphh—manis—mphh—"
Pujian dari Naruto membuat rasa senang Shikamaru meluap-luap tinggi, ia tersenyum kecil disela ciumannya, sesekali memberikan hisapan di lidah pemuda pirang itu. Air ludah saling bercampur, decakan nyaring berbunyi, dan gigi saling bertabrakan tidak sabaran. Ciuman yang awalnya hanya berupa sentuhan singkat berubah menjadi cumbuan panas yang menggairahkan.
Akal sehat Naruto tersapu oleh ciuman dari Shikamaru. Bagian bawahnya tiba-tiba menengang dan saling menggesek dengan selangkangan sang jenius. Ia yakin, kalau Sasuke melihat mereka sekarang, mungkin saja pemuda raven itu akan mencincangnya hingga habis.
Tetapi untuk sekarang, Naruto berdoa agar Sasuke tidak menangkap basah dirinya yang sedang bercumbu dengan Shikamaru.
Oh god!—Jujur saja, Naruto benar-benar mabuk oleh mulut Shikamaru.
Lidah Naruto mulai bergerak untuk mencumbui leher sang jenius, merasakan denyut nadi di perpotongan leher tadi. Menghisapnya kuat dan meninggalkan 'kissmark' disana.
Shikamaru tidak tinggal diam, ia bergerak lebih agresif. Tangannya bergeriliya untuk menyentuh selangkangan Naruto. Menggesek benda di balik kain tadi dengan liar, membuat Naruto menggeram penuh kenikmatan.
Sang Uzumaki kembali mengecup bibir pemuda dihadapannya. Mencoba bertarung lidah di dalam rongga mulut itu. Benda lunak tadi saling bergesekan, memanja pasangannya. Hisapan dan jilatan terus dilakukan, saling mempertahankan posisi dominan. Tidak ada yang menyerah, tidak ada yang mundur. Keduanya bersikeras untuk menjadi pemenang. Dan yang kalah, akan segera berada di bawah.
.
.
Sasuke berdiri di depan pintu masuk utama production house milik Tsunade, ia melirik ke arah ponsel ditangannya. Sudah beberapa kali Sasuke mencoba menelepon Naruto tetapi pemuda itu tidak menjawab panggilannya.
Sebenarnya apa yang dilakukan si bodoh itu sih? Tanya sang Uchiha dalam hati. Lelah memikirkan Naruto, ia beralih untuk menatap Gaara yang berdiri disampingnya.
"Ayo kita masuk, kita perlu menemui Naruto." Ucap Sasuke yang disambut anggukan setuju dari pemilik rambut merah itu.
"Ngomong-ngomong Sasuke, kenapa kau terlihat aneh saat aku mengatakan kalau aku menyukai Naruto?" Tanya Gaara membuka obrolan. Sayangnya, pertanyaan itu sangat tabu untuk ditanyakan pada sang Uchiha.
"Aku tidak aneh. Aku biasa saja." Jelas Sasuke seraya bergerak cepat melewati lorong koridor.
"Jangan bohong padaku—" Gaara menghentikan langkah Sasuke dengan menarik lengan pemuda raven itu, memaksa Sasuke untuk berhadapan dengannya, "—Raut wajahmu mengatakan kalau kau tidak suka bila aku bersama dengan Naruto."
Sasuke tercengang sejenak, kemudian mendengus pelan, "Jangan bercanda, aku tidak tahu apa maks—"
"Apa kau menyukai Naruto, Sasuke?" Sela Gaara lagi dengan nada suara yang menuntut jawaban.
Sang Uchiha terdiam membeku. Ia hanya bisa menatap wajah serius sahabatnya itu tanpa bisa membuka mulutnya untuk menjawab.
Apakah aku benar-benar menyukai Naruto? Jatuh cinta pada pemuda pirang itu?
Sasuke menepis pegangan Gaara dilengannya, kemudian memalingkan wajah, "Kita harus segera menemui Naruto." Tukasnya mengalihkan pembicaraan.
Gaara berhenti untuk bertanya lagi, kakinya bergerak mengikuti langkah Sasuke berbelok ke tikungan untuk menuju ruangan Tsunade. Mereka berdua mensejajarkan langkah, berjalan cepat melewati beberapa kru yang menyapa ramah. Namun gerakan mereka terhenti saat melihat sesosok pemuda asing berambut hitam panjang dan bermata lavender sedang bersender di sisi tembok.
Sasuke mengenali wajah itu sebagai Neji, sang sekretaris pribadi Naruto. Sedang apa pemuda itu disini dengan pakaian kasual? Tanya pemuda raven itu penasaran.
Sedikit penasaran, Sasuke bergegas menuju ke arah sang Hyuuga dan menyapanya pelan, "Neji-san? Sedang apa disini?"
Pemuda bermata lavender yang merasa namanya dipanggil itu langsung mengalihkan pandangannya ke asal suara. Matanya tertuju pada sosok Sasuke yang bergerak menuju ke arahnya dengan cepat, "Selamat siang, Sasuke-san. Apa kabar?" Sapanya sopan seraya berbungkuk hormat.
Bukannya balas membungkuk hormat, Sasuke malah melemparkan pertanyaan lain, "Dimana Naruto?"
Neji segera menunjuk ruangan Tsunade yang tidak berada jauh dari tempat mereka berdiri, "Di dalam sana dengan seseorang yang bernama—err—Shikamaru?—Well, entahlah—Mereka bilang ingin mendiskusikan masalah pekerjaan." Jawabnya lagi.
Sasuke mengangguk paham, "Terima kasih." Sahutnya, kemudian berbalik menatap Gaara, "—Kau tunggulah disini denggan Neji, oke?"
Pemuda berambut merah itu mengangguk paham dan membiarkan Sasuke bergerak menuju ke ruangan Tsunade, meninggalkan suasana canggung yang mulai merayap diantara Neji dan Gaara.
Sang Hyuuga melirik sekilas ke arah pemuda disebelahnya itu. Rasa tertarik membuatnya menatap sosok itu lebih lama, apalagi rasa menggelitik di bagian dada saat melihat jade hijau itu balas menatapnya.
"Apa ada sesuatu diwajahku?" Tanya Gaara, agak risih dipandangi oleh pemuda berambut panjang itu.
Sedikit panik, Neji menggeleng cepat, "Maaf, aku hanya—uhm—well, namaku Neji." Katanya dengan nada suara gugup seraya menyodorkan tangan untuk berjabatan.
Gaara terdiam sebentar sebelum membalas jabatan itu, "Gaara." Jawabnya singkat.
Setelah itu keheningan kembali menyapa. Kali ini tidak ada rasa canggung lagi, sebab sepertinya, Neji mulai nyaman berada di dekat pemuda berambut merah itu.
Gaara, huh? Jadi pemuda ini yang menyukai Naruto?—Menarik. Batin pemuda Hyuuga itu dalam hati.
.
.
Sasuke menyentuh kenop pintu dan membukanya perlahan. Ia ingin berseru memanggil sang kekasih, namun suaranya tercekat ditenggorokan saat melihat pemandangan dihadapannya.
Naruto dan Shikamaru berciuman di atas sofa dengan tubuh saling menghimpit satu sama lainnya.
"Na—ruto?" Sasuke memanggil dengan nada tidak percaya. Sang Uzumaki berselingkuh di tempat kerja dengan asisten direktur?
Naruto yang mendengar suara pemuda raven itu, langsung melepaskan diri dari Shikamaru dengan panik. Ia bangkit dari sofa dengan sikap tergesa-gesa dan canggung, sesekali menyeka air liur yang menetes disela dagunya, "Oh—uhm—Sasuke—rupanya kau sudah datang." Sapanya dengan nada serak penuh tawa gugup.
Sedangkan Shikamaru terlihat berdecak kecil seraya merapikan bajunya. Ia bangkit dari sofa dan beranjak menuju pintu keluar, "Aku pergi dulu. Tsunade mungkin sudah menungguku." Alasannya lagi, membiarkan atmosfir berat menggelantungi ruangan itu.
Shikamaru berjalan melewati sisi tubuh Sasuke. Pandangan mereka saling beradu dengan tatapan sinis yang diberikan satu sama lainnya.
Setelah kepergian Shikamaru, pandangan Sasuke kembali beralih ke arah sang Uzumaki dengan kilatan tajam, tubuhnya bersandar di sisi tembok, sedangkan tangannya terlipat didepan dada, menuntut penjelasan, "Biar kutebak, pasti kau ingin bilang tadi hanya bercanda, kan? Sayangnya, aku tidak akan percaya ucapan murahanmu itu." Desisnya sinis.
Naruto kalut, ia menggaruk tengkuk lehernya salah tingkah, "Uhm—aku bisa menjelaskan ini." Ucapnya gugup.
Sasuke tidak menjawab dan hanya menatap dengan pandangan dingin. "Tiga menit—" Sahutnya lagi, "—Jelaskan dalam waktu tiga menit."
Wajah Naruto pucat pasi.
Shit!
.
.
.
_Hashirama's Corporation, Pukul 14.00 Siang_
.
Pria paruh baya berambut panjang dengan wajah yang awet muda itu terlihat sibuk mencoret-coret sesuatu di lembar dokumennya. Sesekali ia memijat keningnya saat lembar kertas laporan itu masih tersisa banyak di sisi meja.
Ia mendesah, lelah. Sepertinya segelas air putih akan membantu menenangkan otaknya yang panas. Setuju dengan pemikirannya sendiri, Senju mulai bangkit dari kursi dan menuju dispenser di sisi ruang kerjanya. Namun suara kenop pintu yang terbuka mengalihkan seluruh perhatian pria itu. Terlebih lagi saat melihat sosok Madara yang masuk dengan angkuh dan dingin.
"Maaf aku tidak mengetuk pintu." Ucap Madara dengan nada khas sombongnya.
Senju hanya terkekeh maklum, kemudian merentangkan kedua tangannya lebar, seakan-akan mempersilahkan pria itu untuk bertindak sesukanya, "Tentu saja, cantik. Apapun yang kau lakukan akan selalu kumaafkan." Godanya dengan suara bariton yang khas.
Madara mendelik sinis, ia ingin sekali menghajar wajah pria bermarga Hashirama itu, namun harga dirinya sebagai pemilik Madara's Group membuatnya hanya bisa menelan seluruh emosinya untuk sejenak. Ia memilih duduk di kursi kerja Senju dengan angkuh seraya menyilangkan kakinya. Pandangannya lebih suka menatap suasana di luar jendela perusahaan itu dengan tatapan dingin.
Sang Hashirama lagi-lagi hanya tersenyum maklum. Pria itu bergerak untuk bersender di sisi meja kerja sambil menyentuh surai panjang hitam milik Madara, "Jadi katakan padaku, kenapa kau tiba-tiba datang kemari? Bukankah rapat kita jam 4 sore nanti?" Tanya Senju membuka pembicaraan.
Sang pemilik Madara's Group tidak menjawab, ia hanya memandangi langit dari jendela kaca itu.
Melihat kalau pria angkuh itu tidak juga menanggapi pertanyaannya, Senju berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan mereka, "Kau mau minum? Aku bisa menyuruh asistenku untuk—"
"Aku bermimpi buruk." Madara memotong cepat, onyx gelapnya masih sibuk memandang awan diluar sana, "—Maaf kalau aku mengganggu waktumu, aku hanya—"
"Kau masih belum bisa melupakan anak dan cucumu, huh?" Sahut Senju lagi.
Madara masih diam, "Aku sudah mencoba mencari mereka di pelosok Konoha, tetapi mereka seperti tertelan bumi. Aku—" Ada jeda sejenak diringi tegukan air liur ditenggorokannya, "—Aku bermimpi hidup sendirian di dunia yang gelap." Lanjutnya dengan nada suara yang tercekat.
Senju berhenti memainkan rambut pria dihadapannya itu, ia memlih menarik pelan dagu Madara untuk saling bertatapan dengan matanya, "Ada aku. Kau tidak sendirian."
"Kau tidak mengerti, Senju!" Madara menepis sentuhan di dagunya itu dengan kasar. Ia bangkit dengan cepat dari kursi dan bergerak menuju sisi meja, tangannya terkepal erat, "—Kau masih memiliki cucumu, sedangkan aku tidak mempunyai siapapun. Mikoto, menantuku, meninggal saat ia melahirkan, dan anakku membawa cucuku kabur bersama dengan kekasihnya." Lanjutnya dengan nada suara bergetar.
Senju tidak menjawab, ia hanya melipat kedua tangannya di depan dada, "Aku yakin Fugaku memiliki alasan tersendiri untuk—"
"Fugaku kabur bersama anakmu, Senju! Dia kabur bersama Minato dengan membawa cucuku!" Bentak Madara lagi. Ia menggebrak meja dengan kesal sebelum akhirnya kembali duduk di kursi, mencoba menenangkan diri, "—Seharusnya, aku menuruti kata Fugaku. Seharusnya, aku tidak terlalu keras pada anak itu."
Raut wajah Senju berubah getir, ia ingat saat dimana Minato memutuskan untuk hidup dengan Fugaku, bahkan lelaki pirang itu tidak mempedulikan permohonan Kushina untuk tetap bersamanya. Minato hanya meminta pada sang istri untuk menjaga anak mereka.
"Apa kau membenciku karena Minato kabur bersama anakmu, Madara?" Tanya sang Hashirama lirih.
Madara terdiam, kemudian mendengus pelan, "Bagaimana bisa aku membenci orang sepertimu, Senju. Kau—" Pria itu menarik kerah baju sang Hashirama dengan pelan, "—adalah kekasihku." Lanjutnya lagi disertai kecupan singkat di bibir pria itu.
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di ruangan kerja milik Tsunade, atmosfir tegang dan berat masih terasa menggelantungi area itu. Sasuke masih setia dengan death glare-nya yang tengah sibuk memandangi sosok Naruto dihadapannya. Pemuda pirang itu sudah menceritakan segalanya mengenai 'percumbuan panas' dirinya dan Shikamaru. Dan sejujurnya saja, alasan yang disampaikan sang Uzumaki sangatlah—bodoh dan tidak masuk akal.
"Jadi kau mengatakan kalau 'ciuman' itu hanya 'kenangan' untuk Shikamaru, begitu?" Pertanyaan sang Uchiha terlontar, membuat Naruto segera mengangguk cepat sebelum dia dihabisi oleh pemuda raven itu.
"Kau yakin bukan karena kau mulai menyukai Shikamaru?" Todong Sasuke lagi.
Naruto langsung menggeleng cepat, "Ti—Tidak! Aku hanya mencintaimu."—Walaupun tadi sempat kehilangan kendali, but hey—aku tidak melakukan hal yang lebih jauh dari sekedar ciuman—kecuali sedikit sentuhan, batin pemuda itu lagi, mencoba membela dirinya sendiri.
Sasuke memejamkan matanya sembari memijat keningnya yang berdenyut sakit. Jujur saja, memiliki pacar seorang pornstar harus memiliki kesabaran tingkat tinggi, apalagi kekasihmu itu sangat populer dikalangan laki-laki. Hal itu juga yang selalu membuat Sasuke sakit kepala setiap saat. Ia masih belum tahu apakah perasaan nyeri yang berada di dadanya ini merupakan rasa cemburu ataukah hanya kekesalan biasa?
"Baiklah, aku mengerti." Jawab Sasuke, akhirnya, ia kembali menatap Naruto dengan serius, "—Gaara sedang berada di luar. Kau bisa berbicara dengannya sekarang." Tegas pemuda raven itu lagi yang disambut anggukan patuh seorang 'Namikaze'.
.
Neji dan Gaara masih setia berdiri di sisi tembok dalam diam, menunggu urusan Naruto dan Sasuke selesai. Sesekali sang Hyuuga mencuri lirik untuk menatap pemuda disebelahnya yang tidak banyak bicara dan menundukkan kepala.
Apa dia tipe pemalu? Pikir Neji yang heran dengan sikap pasif seorang Gaara.
Tepat ketika Neji ingin membuka suara dan menggobrol dengan pemuda disebelahnya itu, pintu ruangan Tsunade terbuka dan menampilkan sosok sang Uchiha yang keluar dari tempat itu disusul oleh Naruto yang mengekor dibelakangnya.
Gaara mendongak dengan tatapan antusias saat melihat sosok pemuda pirang itu, "Naruto!" Serunya, meluapkan rasa senang.
Ia berjalan melewati Sasuke dan menuju sisi Naruto, "Apa yang membuatmu lama didalam sana? Kalian membicarakan apa?" Tanya Gaara seraya memegangi lengan sang Uzumaki. Membuat pemuda raven yang berada disebelah Naruto mendengus kesal.
Sasuke paham perasaannya sekarang. Dia—cemburu. Sangat cemburu.
Naruto tersenyum simpul ke arah Gaara, "Hanya membicarakan masalah biasa." Ucapnya.
Pemuda berambut merah itu menunduk menyembunyikan rona merah dipipinya itu, "Oh—itu bagus. Well, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke tempat Tsunade untuk membicarakan syuting kita." Ajaknya semangat.
Sang Uzumaki melirik Sasuke dengan ekor matanya, tidak enak hati. Kemudian beralih menatap aktor baru itu, "Uhm—Gaara, ada yang harus kukatakan padamu. Ini mengenai—"
"Nanti saja, Naruto." Gaara menyela dengan cepat, tangannya menggamit lengan pemuda itu, "—Ayo pergi." Ucapnya tidak sabaran.
Sasuke lagi-lagi hanya mendengus pelan. Ia tidak pernah melihat Gaara se-semangat ini sebelumnya. Sahabatnya itu selalu pendiam dan bersikap tenang layaknya pemuda pendiam. Namun sekarang? Karakternya berubah saat bersama Naruto, seakan-akan jatuh cinta bisa membuat sikap dan sifat seseorang menjadi berbeda. Berubah 360 derajat.
Naruto panik, ia mencoba melepaskan genggaman Gaara dilengannya, "Tu—Tunggu dulu, ada yang harus aku bica—"
"Nanti saja, Naruto. Ayo!" Potong pemuda bertatto 'Ai' dikening itu. Ia menarik lengan sang Uzumaki dan membawanya pergi dari sana. Meninggalkan sosok Neji dan Sasuke yang terpaku di tempat.
"Jadi—kita ditinggal, huh?" Ucap sang Hyuuga.
Sasuke berdecak kecil sebelum berbalik, "Aku pulang. Aku lelah dengan semua ini."
"Bagaimana dengan Naruto?"
"Aku tidak peduli." Ketus pemuda raven itu lagi seraya beranjak menjauh.
Neji kembali bersandar di sisi tembok sambil melipat kedua tangannya, "Situasi ini benar-benar membuatku sakit kepala."
.
.
.
_Kediaman Sasuke, Pukul 16.00 Sore_
.
Tempat tinggal sang Uchiha tidak lah besar, hanya sebuah rumah kecil sederhana yang menjadi bagian dari hidupnya, sekaligus merangkap sebagai kedai ramen yang merupakan pekerjaan utama dari kedua orangtuanya.
"Aku pulang." Sasuke membuka pintu kedai dengan malas. Beberapa pengunjung terlihat masih berada disana menikmati mangkuk ramen mereka. Sang Uchiha tidak peduli dan memilih menuju langsung ke belakang.
Ia perlu mengistirahatkan diri dikamar.
"Sasuke, kau sudah pulang?" Suara seorang pria mengalihkan perhatian pemuda raven itu.
Sasuke menoleh dan mendapati orangtuanya sedang sibuk mengurus pesanan pengunjung, "Ya, papa? Ada apa?"
Pria berambut pirang terlihat mendekati Sasuke dengan khawatir, "Kau yakin baik-baik saja? Kau terlihat kecapekan." Sahutnya lagi seraya menyentuh kening Sasuke.
Belum sempat pemuda raven itu menjawab, suara celetukan dari seorang pria kembali terdengar, "Biarkan saja dia, Minato. Mungkin Sasuke sedang sibuk akhir-akhir ini dengan pekerjaannya."
Pria yang dipanggil Minato langsung menoleh dengan wajah kesal, "Kau itu kejam sekali, Fugaku. Sasuke anak kita. Seharusnya kau cemas."
"Kau tidak perlu khawatir. Sasuke adalah laki-laki dewasa sekarang, dia bisa mengurus dirinya sendiri." Sanggah Fugaku seraya meletakkan dua mangkuk ramen di meja pengunjung. "—Daripada memikirkan soal Sasuke, sebaiknya kau bergegas membuat pesanan ramen lagi, pengunjung kita bertambah banyak."
Minato ingin mengeluarkan protesannya, namun Sasuke langsung menghentikan niat 'Papa'nya itu, "Sudahlah, Pa. Aku baik-baik saja. Sebaiknya papa membantu ayah saja." Jelas sang onyx seraya bergerak menuju ke belakang kedai, tanpa menghiraukan panggilan Minato lagi.
Sasuke memasuki rumah kecil mereka, kemudian menuju kamarnya yang berukuran sempit itu. Hanya ada sebuah meja kecil serta futon yang dimasukkan ke dalam lemari agar tidak memenuhi kamar. Selain itu, tidak ada apapun disana kecuali lembaran kertas dan buku pelajaran.
Sasuke meletakkan tas selempangnya di sembarang tempat kemudian berbaring dilantai tatami bersih itu. Pikirannya terus melayang ke beberapa jam lalu saat dirinya memergoki Naruto berciuman dengan Shikamaru.
Tangannya bergerak menuju dada. Rasa nyeri itu masih terasa. Benarkah ia cemburu? Benarkah kalau sekarang ia jatuh cinta pada seorang laki-laki pewaris tunggal Hashirama's Corporation?
Sasuke menggeleng keras, berusaha menyingkirkan pikiran aneh itu dari otaknya. Dia tidak mungkin jatuh cinta pada Naruto, lagipula yang disukainya hanyalah Gaara seorang. Tetapi kalau dipikir-pikir, saat Gaara dan Naruto memulai syuting mereka, rasa sakit di dadanya mulai terasa. Ia iri pada Gaara yang bercumbu dengan Naruto.
Apakah itu berarti ia menyukai sang Uzumaki?
"Arghhh—" Sasuke mengerang kesal seraya menutupi kepalanya dengan kedua lengannya. "—Benar-benar menyebalkan." Desisnya lagi.
Kini Sasuke merasa, jalan kehidupannya mirip tokoh dongeng cinderella yang jatuh cinta pada pangeran kaya raya, bedanya ia bukanlah putri yang tertindas. Kehidupannya sangat baik-baik saja sampai Naruto hadir dan memperkosa dirinya.
Goddangit!—mengingat hal itu membuat Sasuke ingin bunuh diri saja.
.
Tok!—Tok!—Tok!—Ketukan halus di pintu kamar membuat Sasuke menghentikan imajinasi liarnya. Ia bangkit dari lantai dan bergegas membuka pintu.
Sosok Minato lah yang pertama kali dilihatnya dengan senyum lebar, "Apa aku mengganggumu, Sasuke?" Tanyanya hati-hati, agar tidak membuat pemuda itu kesal atau marah.
Sasuke menggeleng pelan, "Tidak kok, Papa. Memangnya ada apa?" Todongnya langsung.
Minato bergerak gelisah sebelum akhirnya menjawab, "Uhm—Begini, aku dan Fugaku memutuskan untuk menutup kedai ramen lebih cepat hari ini, jadi—" Ada jeda sebelum pria itu kembali melanjutkan ucapannya, "—Jadi kami berencana untuk mendengarkan seluruh permasalahanmu, Sasuke." Sambungnya lagi.
Sasuke terdiam sejenak sebelum mendengus geli, "Papa, aku tidak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir." Tegasnya lagi.
Namun Minato menolak pernyataan anak satu-satunya itu, ia berdecak kecil sebelum akhirnya menyeret Sasuke menuju ruang keluarga, "Pokoknya, kau harus menceritakan masalahmu dengan kami." Tukas pria pirang itu.
Sasuke mendesah pasrah saat dirinya terpaksa 'disidang' sepihak oleh kedua orangtuanya. Kini, Minato dan Fugaku duduk diseberang meja sambil menatapnya dengan pandangan menyelidik. Sasuke hanya menundukkan kepalanya, menolak untuk melakukan kontak mata.
"Jadi, Sasuke—" Fugaku yang pertama kali membuka suara, "—Sebenarnya ada apa denganmu? Kau terlihat pucat dan stres."
Sang Uchiha tidak menjawab, ia hanya duduk sambil menundukkan kepala, "Aku tidak apa-apa kok, Ayah."
"Wajahmu itu terlihat stres, apa karena masalah pekerjaan?" Tanya Fugaku.
Sasuke menggeleng kecil.
"—Atau percintaan?" Kali ini suara Minato yang menimpali pertanyaan sang pria Uchiha.
Sasuke tersentak kecil. Tubuhnya bergerak gelisah saat pertanyaan itu tepat mengenai jantungnya. Minato dan Fugaku yang melihat perubahan sikap dan raut wajah sang anak hanya tersenyum geli.
Jadi masalah cinta rupanya, batin kedua orangtua itu seraya tersenyum jahil.
"Kau ingin menceritakan masalahmu itu, Sasuke? Kami akan berusaha membantumu." Ucap Minato seraya mengelus punggung tangan sang anak dengan lembut.
Sasuke menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum akhirnya mulai angkat bicara, "Aku—menyukai pria." Tegasnya langsung yang membuat Minato dan Fugaku membelalak lebar.
Pria pirang itu terlihat menggaruk pipinya salah tingkah, "Oh, well, gender tidak akan menjadi masalah, bukan? Maksudku, papa dan ayah juga sama-sama laki-la—"
"Dia pornstar." Sela Sasuke cepat, membuat ucapan Minato tercekat. Sedangkan Fugaku hanya bisa ternganga mengetahui hal itu.
Jujur saja, bagi Minato dan Fugaku, gender bukanlah penghalang untuk menjalin kasih, tetapi dengan seorang pornstar?—Err—sepertinya itu sudah terlalu berlebihan.
Sang ayah berdehem pelan, "Sasuke, apa benar kau menyukai orang ini? Dia pornstar, kan? Bisa saja dia hanya mempermainkanmu." Tukas Fugaku cepat.
Sasuke diam, "Aku tidak tahu, Ayah. Sepertinya aku menyukainya, jadi—"
"Ka—kalau begitu tidak jadi masalah kan?" Potong Minato lagi saat melihat raut wajah Sasuke berubah sedih. Ia mencoba menghibur sang anak, "—Kalau kau mencintainya, maka itu tidak apa-apa bagi kami." Lanjut sang papa seraya menampilkan cengiran lebar.
Fugaku ingin protes dengan pernyataan Minato. Ini merupakan masalah besar kalau anak mereka menjalin hubungan dengan seorang pornstar. Namun niatnya langsung terhenti saat pria pirang itu menyikut perut Fugaku dengan keras seraya mendelik galak, seakan-akan berkata 'Jangan membuat anak kita tambah sedih. Turuti saja keinginannya'.
Enggan mencari masalah, akhirnya Fugaku hanya bisa pasrah, "Baiklah, ayah mengerti. Kau kan sudah dewasa, jadi kau bisa memutuskan pasangan hidupmu sendiri." Ucapnya bijak.
Sasuke masih terlihat tidak senang, raut wajahnya tidak berubah. Minato kembali menatapnya dengan heran.
"Ada apa lagi Sasuke? Bukankah kami sudah mengijinkanmu pacaran?" Kata sang papa. "—Jadi siapa pornstar yang beruntung menjadi kekasihmu itu?" Tanyanya lagi dengan seringai jahil.
Pemuda raven itu meremas buku jarinya.
Haruskah ia menyebutkan kalau dirinya pacaran dengan pewaris tunggal Hashirama's Corporation?
Sedikit meneguk air liur, akhirnya mulut Sasuke terbuka, menyebutkan nama tabu itu, "Naruto... Namikaze Naruto."
Fugaku dan Minato terhenyak dengan mata melebar.
Sasuke mendongak, menatap kedua orangtuanya dengan serius, "Aku pacaran dengan pewaris tunggal Hashirama's Corporation." Ucapnya lagi dengan kata-kata penuh penegasan.
Wajah Minato pucat pasi, ia mencoba tertawa gugup, berharap kalau ucapan sang anak hanyalah lelucon belaka, "Ka—kau pasti bercanda kan Sasuke? Seorang Namikaze tidak mungkin menjadi pornstar."
Pemuda onyx itu menatap sang papa dengan tajam, "Aku serius. Namikaze Naruto bekerja sebagai pornstar."
Minato bisa mengetahui seseorang yang berkata jujur atau tidak melalui pandangan mata. Dan ia yakin kalau tatapan sang anak tidak pernah berbohong. Sasuke mengatakan yang sebenarnya.
Rasa shock membuncah di dada Minato, ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat.
.
Namikaze Naruto? Pewaris tunggal Hashirama's Corporation—bekerja sebagai pornstar?
.
Anakku—bekerja sebagai—pornstar?
.
Minato mencoba untuk bangkit dari alas duduknya, namun denyutan sakit dikepala membuat tubuhnya terhuyung pelan. Fugaku yang melihat kondisi pria itu langsung sigap menangkap pundak sang Namikaze agar tidak limbung ke lantai.
Belum sempat Sasuke bertanya ada apa, Minato sudah mengeluarkan suara lagi. Kali ini nadanya berbeda. Penuh perintah dan ketegasan.
"Bawa Namikaze Naruto kemari sekarang juga." Mata biru itu berkilat tajam, "—Aku ingin bertemu dengannya."
.
.
.
TBC
.
Yosh! Para kakek (yang awet muda) dan ayah (yang menggoda iman) mulai masuk ke dalam cerita... konflik semakin bertambah :D
Terima kasih buat para reader, silent-reader, dan reviewer, I Luph U All *kecup satu2* :D
Dan maaf kalau mulai agak telat update nya, soalnya tgas semakin banyak, tp author mencoba terus update kok... ^^
.
RnR minna-san! ^O^
