A/N: finally…. Finally saya bisa nulis lagi… *terharu*
apakah apdetnya kelamaan, readers? Kalo iya, maaaaaaaaaf! *BUAGH*
kompi lagi-lagi ngadat… hikz… pengen punya lappy ndiri…
Ulqui: Gak usa curhat cepetan mulai, kuro!
Gw: iya2 U-chan!
Ulqui: *death glare*
Yapz, di chap. Ni ke-OOC-an Ulqui yang sangat saya hindari berhubung nanti ceritanya gak jalan jadi saya terusin, muncul. Gomen, kalo readers gak suka. Oh, ya saya ada fic. baru. Judulnya Breaking The Law. Kalo berminat silakan dikunjungi. Tapi, kalo berminat saja lho… coz ni fic gaya bahasanya saya buat beda bgt…
Yauda, inilah chap. Ke 4! CEKIDOT!
Warning: typos, OOC, abal, makin ga jelas, aneh… .be
Disclaimer: BLEACH selalu punya Tite Kubo
Black and White
Chapter 4
"Kau… ada di mana, Orihime?"
Lagi. Pertanyaan serupa terlontar dari bibir gadis berambut hitam cepak itu. Dengan suara sedikit bergetar dan pikiran yang kusut, dia membisikkan kata-kata kosong itu berulang-ulang. Seolah-olah dengan mengucapnya berkali-kali, sahabatnya yang berambut orange panjang akan muncul di hadapannya. Menyapanya sambil tersenyum cerah.
"Kau… ada… di mana, ORIHIME?"
BRAK!
Tatsuki menggebrak meja. Berteriak frustasi, setelah pertanyaannya yang kesekian kali tak juga dijawab dengan kehadiran Orihime. Napasnya memburu, membuat bahunya bergerak naik turun dengan cepat. Semua murid dan guru di kelas itu menatapnya heran.
"Ada apa, Arisawa?" tanya guru yang sedang mengajar di depan kelas.
"Di mana… Orihime?" gumam Tatsuki tidak jelas. Kepalanya masih tertunduk. Helaian rambut hitamnya menutupi sebagian matanya yang mulai memerah. Sementara, semua mata di sekitarnya memandangnya dengan tatapan aneh. Seakan dia baru saja mengucapkan sesuatu yang gila.
"Orihime… siapa?" Keigo memberanikan diri bertanya mewakili teman-temannya yang terlalu takut mengusik sosok gadis yang tampak menyedihkan sekaligus mengerikan itu. Tatsuki membatu mendengar pertanyaan Keigo. Dengan sekali hentakan dia meraih kerah seragam Keigo—yang kini wajahya sudah seputih kapas—dan mencengkramnya erat.
"Apa maksudmu? Orihime Inoue, teman kita satu kelas! DIA MENGHILANG, DAN SEKARANG KAU BERTANYA 'SIAPA'?" bentak Tatsuki, nyaris menjerit. Suasana langsung hening. Keigo—entah sadar atau tidak—mengompol di celananya saking kagetnya.
"Tatsuki, maaf. Tapi, kami benar-benar tidak tahu siapa yang kau bicarakan," Ryou Kunieda, si pintar dan perkataannya selalu dapat dipercaya berkata tenang pada Tatsuki yang masih mencengkram kerah seragam Keigo. Murid-murid lain ikut mengangguk mengiyakan.
Tatsuki tercekat. Matanya menyiratkan kebingungan yang tak dapat dikatakan. Kenapa semuanya seolah lupa pada Orihime? Apa yang sebenarnya terjadi? Tatsuki terus menerka-nerka dengan bingung. Tiba-tiba, dia menyadari suatu hal yang langsung membuatnya gusar. Ichigo! Dia pasti tahu ke mana perginya Orihime!
"Di mana mereka?" Tatsuki menyentakkan kerah Keigo dengan kasar dan beralih menatap gurunya.
"Di mana Ichigo dan teman-teman anehnya itu? Si botak dan rambut putih itu! Ke mana mereka?" Tatsuki bertanya dengan nada menuntut. Guru berkacamata itu cepat-cepat menggeleng. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya yang memberinya tatapan 'Kau sudah gila, ya?'
"Cih!" Tatsuki meraih tasnya dan berlari keluar kelas. Tangannya mengepal erat. Di benaknya hanya ada satu tujuan. Ichigo!
.
.
.
"Tatsuki-chan?"
Orihime berhenti menyuap makanannya. Entah kenapa tiba-tiba dia teringat pada Tatsuki. Sahabatnya itu tentu akan sangat amat cemas jika mengetahui dirinya tiba-tiba lenyap begitu saja. Tapi, kemudian Orihime mengabaikan pikiran itu. Sahabat dan teman-temannya di dunia nyata pasti sudah melupakan keberadaannya. Karena, dia sudah berada di dunia yang berbeda dari mereka. Namanya juga akan hilang dari ingatan teman-temannya. Walaupun hal itu sangat menyakitkan, Orihime berusaha menerimanya dengan tegar. Tapi, satu hal yang tidak diketahui Orihime. Tatsuki tidak pernah melupakan keberadaannya. Tidak akan pernah.
Orihime kembali melanjutkan makan malamnya sebelum Ulquiorra datang. Espada pucat itu tidak suka jika Orihime belum juga menghabiskan makanannya dalam waktu satu jam yang diberikannya. Dan benar saja, dari luar pintu terdengar suara langkah seseorang berjalan ke kamarnya.
"Uph…!" Orihime tersedak. Buru-buru dia menghabiskan sisa makannya yang tinggal separuh.
"Onna, Aku masuk." Pintu kamar pemilik Shun-Shun Rikka itu terbuka. Ulquiorra berjalan masuk, masih dengan tangan pucatnya berada di saku hakama. Dia melihat mangkuk makan Orihime sudah kosong. Sedangkan, si penghuni kamar…
Ulquiorra menghela napas melihat ujung jaket arrancar Orihime menyembul dari balik sofa putih. "Onna, keluarlah. Aku tidak suka permainan anak-anak ini," ucapnya dingin.
"Ehehe… ketahuan, ya?" Orihime muncul dari balik sofa dan menunjukkan cengiran khasnya. Satu tangannya menepuk-nepuk dada, berusaha mendorong makanan yang belum sepenuhnya turun ke lambung.
"Apa yang kau lakukan, onna?"
"Tidak. Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Orihime tenang sekaligus menutupi kenyataan bahwa dia baru saja menghabiskan makanannya di belakang sofa.
Ulquiorra ingin tertawa melihat wajah polos Orihime yang dihiasi remah-remah nasi di sekitar mulutnya. Tapi, demi menjaga image stoic-nya, dia hanya menatap Orihime datar sambil berkata, "Onna, ada nasi di mulutmu."
Sontak muka Orihime memerah. Dengan gerakan secepat kilat dia mengusap mulutnya dan mendapati tiga butir nasi di sana. Ulquiorra tersenyum sangat tipis, nyaris tidak terlihat. Tapi, itu sudah cukup membuat pipi Orihime bertambah panas dua kali lipat.
"Ngg… Ulquiorra," panggil Orihime ragu. Ulquiorra yang sudah selesai membereskan alat makan Orihime, menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Ada apa, onna?" tanyanya datar.
"Kau… sibuk?"
"Tidak."
"Mmm… bisa kau temani Aku sebentar?" Setelah mengucapkan itu, Orihime kembali menyembunyikan wajahnya. Ulquiorra lagi-lagi menghela napas seraya memejamkan mata. Dia berjalan mendekati Orihime dan duduk di sampingnya.
Hening cukup lama…
"Aku akan keluar kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan," ujar Ulquiorra sambil beranjak dari sofa.
"Eh, t-tunggu!" Orihime memegang tangan Cuatro Espada itu. "Jangan pergi," pintanya sambil memasang wajah puppy eyes-nya. Ulquiorra memutar bola matanya dan kembali duduk.
Hening lagi…
"Kau tidak makan, Ulquiorra?" tanya Orihime tiba-tiba. Ulquiorra mengernyit heran. Pertanyaan macam apa itu?
"Aku makan, onna. Tapi, tidak sepertimu yang makan setiap hari. Kami, para hollow dapat bertahan lebih lama dari manusia. Kalau hollow makan setiap hari, kalian para manusia pasti sudah musnah dari dulu," kata Ulquiorra. Orihime mengangguk mengerti. Wajah polos gadis itu, entah kenapa menimbulkan perasaan aneh pada diri Ulquiorra.
"Kau tahu apa makanan yang paling kusukai?" Ulquiorra bergerak mendekat dan berbisik di telinga Orihime. "Manusia yang mempunyai kekuatan jiwa yang kuat."
Orihime bergidik. Dia dapat merasakan napas Ulquiorra yang dingin menerpa lehernya. Untuk sesaat, Orihime dapat melihat mata emerald Espada itu berkilat berbahaya.
"S-sepertiku?" tanya Orihime terbata. Ulquiorra sadar dia telah membuat gadis bermata kelabu itu ketakutan.
"Ya. Tapi, tentu saja Aku tidak akan menghisap jiwamu, onna," Ulquiorra berkata datar. Suaranya tidak lagi terdengar berbahaya.
Orihime tersenyum lega. Ulquiorra terpaku menatap senyuman gadis di depannya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. 'Apa yang kupikirkan?' Ulquiorra tersadar dan segera memalingkan wajahnya dari Orihime yang masih tersenyum.
"Ada apa, Ulquiorra?" tanya Orihime bingung.
"Tidak. Aku kembali dulu, onna," Ulquiorra berdiri dan berjalan pergi.
"Besok kau akan menemaniku lagi kan, Ulquiorra?" Orihime bertanya riang.
"Sesukamu."
.
.
.
'Ada apa denganku?' Ulquiorra terus bertanya pada dirinya sendiri. Dia selalu merasa aneh saat melihat senyum Orihime, seperti ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya yang memaksanya untuk tidak berpaling dari wajah gadis berambut senja itu.
"Hei, Ulquiorra," sapa seseorang. Ulquiorra berbalik dan mendapati Espada berambut pink tersenyum padanya.
"Szayel," Ulquiorra menyahut singkat. Octava Espada berjalan ke arahnya sambil menyembunyikan kedua tangannya dibalik punggung. Ekspresi bahagia Szayel membuat Ulquiorra curiga. 'Apa lagi sekarang?'
"Kau mau tahu penemuan baruku?" tanya Szayel dengan senyum yang bertambah lebar.
"Tidak." Ulquiorra menjawab cepat dan meninggalkan si ilmuwan nyentrik. Szayel mengikutinya.
"Hei, tunggu dulu, Ulquiorra. Kau orang pertama yang kuberi tahu soal ini."
Cuatro Espada itu memasang tampang kesal. "Selesaikan dengan cepat." Szayel mengangguk senang dan mengeluarkan tangannya yang sedari tadi disembunyikan.
"Kunamakan ini Hypnosis Powder," ujarnya bangga seraya menyodorkan sebuah botol bening berisi bubuk berwarna pink pada Ulquiorra. "Sesuai namanya, bubuk ini bisa membuat orang berhalusinasi jika menghirupnya."
Ulquiorra berdecak malas melihat benda mencurigakan itu. "Tidak berbahaya, aman digunakan dalam dosis yang tidak berlebihan," lanjutnya dengan gaya layaknya sales obat.
"Aku tidak tertarik."
"Hah? Kupikir ini cocok untuk arrancar dingin dan pendiam yang tidak pernah bermimpi sepertimu," ucap Szayel dengan wajah tanpa dosa. Ulquiorra langsung menaikkan reiatsu-nya dan menatapnya tajam.
"Baik, baik, Aku mengerti," Szayel menelan ludah merasakan reiatsu Ulquiorra. Bagaimana pun juga Ulquiorra adalah Espada yang berada empat tingkat di atasnya. Ulquiorra membalikkan tubuh dan melangkah pergi sebelum akhirnya lenyap di kegelapan lorong.
Szayel bermaksud kembali ke lab-nya. Tapi, sebelum dia ber-sonido, seseorang mencegatnya. Espada dengan rambut biru cerah dan pandangan mata yang sarat akan kebencian.
"Grimmjow?" ucap Szayel heran. Grimmjow hanya membalas dengan seringaian. "Ada apa?" tanyanya. Sexta Espada itu menunjuk botol di genggaman Szayel.
"Berikan itu padaku!" perintahnya. Kau butuh orang yang mau mencoba penemuan barumu itu kan?" Aku yang akan mencobanya."
Hening. Espada berambut pink terdiam dalam keterpanaan. Baru kali ini ada yang mau mengakui penemuannya secara langsung. Selama ini semuanya hanya menganggap penemuan Szayel tidak lebih dari sekedar barang-barang–mencurigakan–yang–terlalu–berbahaya–untuk–dicoba.
"Kau… serius?" tanya Szayel terharu.
"Iya. Cepat berikan padaku!" Grimmjow berkata tidak sabar. Szayel dengan senang hati memberikannya. Telunjuknya teracung, hendak menjelaskan cara pemakaian bubuk itu. Tapi, Grimmjow langsung menyela.
"Tidak usah dijelaskan. Aku sudah dengar kau menjelaskannya pada Ulquiorra," ujarnya acuh.
"Jadi kau menguping?" tanya Szayel sedikit kesal. Bukan karena Grimmjow menguping pembicaraannya. Melainkan kesal karena dia gagal menjelaskan.
"Begitulah," jawab Grimmjow. Tanpa mengucapkan terima kasih atau apa, dia langsung ber-sonido pergi.
Di kamarnya, Grimmjow lagi-lagi tertawa senang. Di pikirannya, sudah terbentuk suatu rencana jahat untuk mempermalukan Ulquiorra. Ya. Mempermalukan Cuatro Espada yang sejak dulu sudah menjadi musuh yang selalu ingin dikalahkannya. Sejak Aizen-sama menetapkannya sebagai Sexta Espada yang berada dua tingkat di bawah si stoic itu, Grimmjow tidak bisa menerimanya. Ia merasa lebih kuat dari Ulquiorra.
Grimmjow tersenyum puas. Rencananya sempurna. Meskipun sebenarnya dia tidak menyukai perbuatan licik. Tapi, Ulquiorra adalah pengecualian. Ia akan melakukan apa pun agar Espada kesayangan Aizen-sama itu mengakui kekuatannya.
Grimmjow memandang botol bening berisi bubuk merah muda itu. Hypnosis Powder. Obat berbahaya buatan Szayel. Bagian terpenting dari rencananya. "Besok akan menjadi hari yang menyenangkan."
.
.
.
Orihime melirik Ulquiorra dari balik poninya. Cuatro Espada berwajah pucat itu sedang memandang bulan sabit putih di jendela kamar Orihime. Akhir-akhir ini, Orihime merasa Ulquiorra seperti menjaga jarak dengannya. Gadis itu mendesah pelan. Ternyata ia salah mengira bahwa Ulquiorra adalah temannya. Ulquiorra hanya Espada yang ditugaskan Aizen untuk menjaganya. Hanya sebatas itu.
"Apa ada yang salah denganku, onna? tanya Ulquiorra yang sadar Orihime terus memperhatikannya. Pipi Orihime bersemu merah. Tapi, kali ini Orihime tidak lagi menyembunyikan wajahnya.
"Ano, Ulquiorra… ng…" Orihime tampak sulit menyusun kata-kata. Dia ingin bertanya mengapa Ulquiorra bersikap seperti menjauhinya. Ulquiorra menatap Orihime, menunggu gadis itu melanjutkan kalimatnya.
"Ng… kenapa kau menjauhiku?" tanya Orihime ragu-ragu. Mata emerald Ulquiorra tetap menyorot datar. Sama sekali tidak terkejut dengan pertanyaan Orihime.
"Itu hanya perasaanmu, onna," Ulquiorra menjawab tenang dan kembali menatap bulan.
"Tidak. Aku tahu kau menjauhiku, Ulquiorra. Katakan kenapa?" Orihime bersikeras. Dia meletakkan mangkuk makannya dan berjalan ke depan Espada berambut hitam itu.
"Aku tidak tahu apa maksudmu, onna. Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Karena Aku merasa kau menjauhiku!" ujar Orihime kesal. Mata abu-abunya menentang tatapan dingin Ulquiorra padanya. Cuatro Espada itu tidak segera menjawab.
"Kenapa, Ulquiorra? Aku kira kau temanku?" suara Orihime berubah lirih. Dia berjongkok di depan Ulquiorra sambil terisak pelan. Ulquiorra menggertakkan rahang kuat-kuat. Mati-matian menahan keinginannya untuk mendekap dan menenangkan gadis berambut orange kecoklatan itu.
Tidak. Ia tidak boleh melakukannya. Orihime Inoue hanya milik Aizen-sama. Ia tidak boleh berbuat lebih selain menjaga dan memberi makan gadis ini. Cukup sekali saja dia melanggar perintah Aizen-sama dengan diam-diam pergi ke dunia nyata.
"Bangunlah, onna," Ulquiorra menghela napas. Hanya itu yang dapat dikatakannya.
Orihime tersentak. Ulquiorra bahkan tidak mencoba menghiburnya. Lucu sekali. Barusan Orihime berharap Ulquiorra akan memeluk dan menenangkannya. Benar juga. Memangnya apa yang diharapkannya dari Espada sedingin es itu. Ia mengusap bulir-bulir air yang menggenang di pelupuk matanya. Setelah memastikan tidak ada lagi yang tersisa, Orihime mendongakkan wajahnya menatap Ulquiorra.
"Bercanda!" ujarnya tiba-tiba. "Hahaha… Aku cengeng sekali, ya? Tenang saja U-chan. Walaupun kau tidak mau menjadi temanku juga tidak apa-apa kok!" Orihime berdiri. Wajah murungnya tadi hilang sama sekali. Digantikan senyum ceria dan wajah khas anak-anak yang baru dibelikan balon. Ulquiorra mengernyit heran. Gadis ini pintar sekali menyembunyikan perasaannya. Dan lagi, barusan Orihime memanggilnya… 'U-chan?'
TOK-TOK-TOK…
Seseorang mengetuk pintu kamar Orihime. Dua orang di dalam kamar sontak menoleh. Ulquiorra yang bersandar di dekat pintu langsung membukanya.
"Ada apa?" tanya Ulquiorra pada arrancar pelayan yang mengetuk pintu. Arrancar yang pernah disembuhkan Orihime.
"Ulquiorra-sama, maaf mengganggu. Ichimaru-sama memanggil Anda berdua ke taman Las Noches. Semua Espada sudah berkumpul," kata arrancar itu sopan.
"Baiklah," jawab Ulquiorra singkat. Dalam hati dia curiga, 'Ada perlu apa Gin dengan para Espada?'
Taman Las Noches…
Taman buatan itu tampak asri dan sejuk. Air mancur yang berada di tengah-tengah taman bergemericik pelan. Menciptakan suara yang lembut dan menenangkan. Pohon-pohon hijau nan rindang saling bergesekan satu sama lain. Suasananya bisa dibilang sangat indah. Tapi, juga sangat kontras dengan keadaan Hueco Mundo yang sepanjang mata memandang hanya dipenuhi hamparan pasir putih dan pohon-pohon kering. Taman ini sengaja diciptakan Aizen untuk para penghuni Las Noches yang ingin bersantai.
Kedelapan Espada di taman itu memandang satu-satunya Espada yang telah menipu mereka dengan tatapan membunuh. Siapa lagi kalau bukan Grimmjow Jeager Jaquez.
"Jelaskan apa maksudnya ini, Grimmjow!" perintah Tia dingin.
"Ya. Dan apa maksudnya kau mengatasnamakan Ichimaru-sama untuk menyuruh kami ke sini?" Nnoitra berkata dengan geram. Grimmjow hanya nyengir lebar menanggapi protes para Espada. Ini memang bagian dari rencananya. Diperlukan banyak saksi untuk membuatnya berjalan sempurna.
"Yah, tidak ada salahnya kita berkumpul seperti ini. Hollow juga butuh kebersamaan kan? Lagipula kalau tidak mengatasnamakan Ichimaru-sama Aku yakin kalian tidak akan datang," Grimmjow berkilah. Tia menyadari keanehan Grimmjow. Tidak mungkin Espada anti sosial seperti Grimmjow peduli dengan hal-hal semacam kebersamaan. Pasti ada maksud tertentu di balik tindakannya itu.
"Aku malas. Kalau tidak ada apa-apa Aku mau kembali saja dan tidur!" gerutu Starrk sambil beranjak. Jam tidurnya jadi berkurang gara-gara Grimmjow.
"Eeh… tunggu dulu, Starrk. Tokoh utama belum datang. Tunggulah sebentar lagi!" Grimmjow menghalangi langkah Starrk.
"Hah?"
"Kau akan kehilangan tontonan menarik kalau pergi sekarang."
Stark mendengus. "Terserah. Aku mau tidur!" dia berjalan ke bawah pohon dan tertidur di sana.
"Dasar tukang tidur!" gumam Yammy dan Aaroniero bersamaan. Perhatian kembali terpusat pada Grimmjow. Sexta Espada itu balas menatap dengan santai. Sebentar lagi rencananya akan berhasil. Tinggal satu langkah lagi.
Sesuai dugaan Grimmjow, dua reiatsu datang mendekat. Sudah pasti si stoic dan gadis 'peliharaan'nya. Grimmjow menahan tawa kemenangannya agar tidak mengundang kecurigaan. Tapi, sepertinya semua Espada tidak peduli. Bahkan Syazel, yang secara tidak langsung menjadi sponsor utama rencana licik Grimmjow sama sekali tidak menaruh curiga. Kecuali Tia tentunya, yang sejak tadi sudah mencium adanya ketidakberesan.
Ulquiorra dan Orihime tiba taman Las Noches. Seperti biasa Ulquiorra tetap memasang poker face-nya. Sementara Orihime ber "waah" ria, takjub akan keindahan semu taman buatan itu.
Grimmjow berjalan mendekat. Berhenti persis di depan Ulquiorra yang wajahnya kini sudah berubah sedingin es. Mata emerald-nya yang bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa membuat Sexta Espada di depannya semakin geram. Namun Grimmjow harus menahan diri. Setelah ini, kemenangan pasti akan berpihak padanya.
"Ulquiorra," tegur Grimmjow kaku. Wajahnya mengeras. Ada kebencian yang sangat dalam nada suaranya. Ulquiorra yang memang sudah hafal perangai Grimmjow tidak menjawab apa-apa. Dia melirik sekilas Orihime yang trauma melihat Grimmjow bersembunyi di belakangnya.
Sementara, Espada-Espada lain menatap mereka dengan bosan. Rupanya ini hal menarik yang dibicarakan Grimmjow. Kalau ini sih sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Biasanya, Grimmjow yang memulai pertengkaran. Sedangkan, Ulquiorra selalu bersikap tidak peduli. Mungkin malas meladeni kucing biru itu.
"Kau tahu, kan? Apa alasanku memangilmu kemari?" tanya Grimmjow angkuh sambil menaikkan reiatsu-nya. Sengaja membuat Orihime semakin ketakutan. Kalau sudah menyangkut gadis itu, Ulquiorra pasti akan bereaksi. Dan lagi-lagi dugaannya tepat.
"Apa maumu, Grimmjow?" Ulquiorra balik bertanya. Dia memang menyadari tidak mungkin Gin memanggil para Espada. Kalau pun ada perlu, Shinigami berambut perak itu lebih suka mendatangi ruangan mereka masing-masing.
"Cih… kau pasti sudah tau, Ulquiorra!" Grimmjow berteriak. Reiatsu-nya meledak-ledak di sekelilingnya. Ia pura-pura bersiap mencabut zanpakutou. Tapi, sebenarnya tangannya meraih benda lain. Hypnosis Powder!
"Menjauhlah, onna!" suruh Ulquiorra seraya menahan reiatsu yang dikeluarkan Grimmjow dalam jumlah besar. Orihime terpaksa menurut dan berlari menjauh. Ia melihat Ulquiorra yang juga dikelilingi reiatsu hijau.
"Wah, bakal seru, nih!" Yammy berseru senang. Yang lain juga terlihat antusias. Baru kali ini mereka melihat Ulquiorra yang biasanya tenang dan nyaris tanpa emosi jadi gampang terpancing seperti ini. Entah karena perkataan Grimmjow yang semakin hari makin keterlaluan atau karena…
Grimjow membuka tutup botol bening dengan cepat. Dia tidak mau Ulquiorra sampai menyadari dan membuat rencananya gagal. 'Yap! Sudah terbuka!' batin Grimmjow. Tanpa diduga, Grimmjow melemparkan bubuk pink itu ke wajah Ulquiorra. Tidak tanggung-tanggung, satu botol penuh! Kata-kata 'BERBAHAYA DALAM DOSIS BERLEBIHAN' tidak dipedulikannya.
Semua mulut menganga. Semua mata terbelalak. Tidak terkecuali Orihime. Di matanya, gerakan Ulquiorra menghindar dari tumpahan serbuk yang berkilau diterpa sinar matahari, seperti gerakan slow motion Neo di Matrix Revolution yang menghindari tembakan peluru lawan. Dramatis.
Semuanya terjadi dalam gerak lambat. Ulquiorra kaget, tidak menyangka Grimmjow bukannya menghunuskan pedang melainkan melemparkan bubuk aneh yang warnanya… Syazel banget! Kemungkinan paling buruk langsung terbayang di otaknya.
Ulquiorra memang menghindari serbuk itu. Tapi, tidak sepenuhnya. Apalagi dia tidak sempat bersonido karena terlalu shock! Ralat, terlalu kaget. Bubuk pink beterbangan di depan wajahnya. Dan tidak sengaja… terhirup!
"HATSYI!"
Reaksi pertama Ulquiorra. Semua melongo. Termasuk Grimmjow. 'Hanya itu! Hanya itu efeknya? Dasar Szayel payah!' Grimmjow kesal bukan main. Tapi, tunggu…
Ulquiorra merasakan kepalanya berdenyut-denyut dan pusing seperti mau meledak. Cukup lama ia merasa otaknya mendidih. "Arrgh…!" Ulquiorra mengerang sambil memukul-mukul kepalanya. Orihime terperanjat. Apa yang dilakukannya? Dia harus segera menolong Ulquiorra! Terburu-buru Orihime menghampiri Espada pucat itu. Ia memberi Grimmjow tatapan tajam menusuk. Baru kali ini ia merasa sangat benci pada seseorang. Grimmjow ternyata lebih licik dari dugaannya!
Di tempatnya, Syazel menatap Ulquiorra dan Grimmjow bergantian. Pandangannya berubah marah saat Grimmjow menyeringai padanya. Dengan langkah cepat dia menghampiri Espada berambut biru dan mencengkram bahunya.
"Grimm, kau tidak tahu apa yang kau lakukan!" ujarnya marah.
"Biar saja, Szayel. Aku sudah lama menunggu kesempatan ini!"
"Ap…"
Pertengkaran mereka terhenti saat mendengar pekikan Orihime. Mereka menoleh bersamaan. Ulquiorra masih mengerang di pelukan Orihime. Detik berikutnya, Cuatro Espada itu berhenti meronta.
Ilusi Ulquiorra…
Ulquiorra merasa tubuhnya ringan. Ringan sekali seakan tidak punya bobot. Efek Hypnosis Powder yang lebih tepat disebut narkoba mulai bekerja di tubuhnya. Dia merasa perasaannya tenang sekali. Bahagia malah. Dan… matanya mulai membentuk ilusi-ilusi menyenangkan. Yang ada di pikirannya pertama kali adalah… Orihime Inoue!
Ia seakan melihat rambut orange panjang gadis itu berkibar di depannya. Menerpa wajahnya. Ulquiorra dapat mencium wanginya yang seperti madu. Manis dan menggiurkan. Ulquiorra yang sedang fly tak dapat lagi membedakan bayangan dan kenyataan. Ia terus mengejar sosok maya Orihime. Berusaha menggapainya. Orihime tersenyum sangat manis padanya. Mata beningnya mengerjap manja. Ulquiorra yang melihat itu langsung… LOST CONTROL!
Back to kenyataan…
Tia memandang dingin Cuatro Espada yang sedang berusaha menciuminya habis-habisan. Satu tangannya menghalangi wajah Ulquiorra agar tidak sampai menyentuhnya. Tia tahu, Ulquiorra sedang tidak sadar. Tapi, ini benar-benar kelewat batas. Apa maksudnya Ulquiorra mau menciumnya sampai seperti ini? Akhirnya Tia memutuskan menendang tubuh Ulquiorra keras-keras. Berharap dia sadar.
Grimmjow tergelak. Dia tidak membayangkan Ulquiorra bisa se-hot ini. Pasti dipikirannya dia menyangka bahwa Tia adalah Orihime. Grimmjow tertawa keras-keras. Rencananya 180% berhasil. Kini semua Espada juga tertawa tanpa bisa ditahan. Yammy bahkan sampai memukul-mukul tanah saking gelinya. Mau tidak mau Szayel yang awalnya marah ikut tertawa. Stark hanya melongo menatap Tia yang barusan juga kehilangan poker face-nya untuk sesaat. Zommari tetap diam, sibuk dengan meditasinya. Barragan dan Aaroniero tersenyum tipis. Nnoitra yang paling semangat tertawa. Ada gunanya juga dia datang ke sini. Ternyata, Grimmjow tidak bohong. Dia benar-benar menyuguhkan hiburan menarik. Sangat menarik.
Orihime hanya bisa bengong. Apa-apaan Ulquiorra itu? Sikapnya yang selama ini datar dan dingin berubah 360 derajat dalam dua detik. Dan apa dia tidak salah dengar? Barusan Ulquiorra menyebut namanya berkali-kali. Sialnya, saat Ulquiorra terlempar akibat tendangan keras Tia. Mata mereka bertumbukan. Orihime terbelalak ketika Ulquiorra dengan liar meraih tubuh semampainya dan membawanya ber-sonido entah ke mana.
Ilusi Ulquiorra…
Ia menyukai semua yang melekat pada diri gadis ini. Rambutnya. Tubuh seksinya. Mata abu-abunya. Leher jenjangnya yang begitu menggoda. Ulquiorra tidak bisa mengendalikan dirinya. Seluruh sarafnya terasa kacau. Otaknya hanya meneriakkan satu nama. Orihime!
Ulquiorra melihat Orihime tersenyum pasrah padanya. Senyum yang sangat-sangat manis. Ulquiorra tidak tahan lagi. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada Orihime.
…
Tinggal 1 cm lagi…
PLAK!
Back to kenyataan…
Orihime menampar keras pipi pucat Ulquiorra. Wajahnya sendiri juga pucat. Bibir Orihime bergetar. Tubuhnya berguncang seiring dengan isakan kecil yang keluar dari mulutnya. Barusan Ulquiorra mau apa? Ulquiorra membawanya ke lorong sepi. Mengurungnya dengan kedua lengannya. Obat aneh itu benar-benar membuat Ulquiorra lepas kendali!
Isakan Orihime semakin keras. "Ini bukan kau, Ulquiorra…" ucapnya di sela-sela tangis. Orihime menatap wajah Ulquiorra. Dia merasa bersalah telah menamparnya begitu keras.
"Onna…" Ulquiorra berkata pelan sambil mengangkat dagu Orihime. Kemudian, mendekatkan bibirnya ke bibir Orihime. Gadis berambut orange kecoklatan itu kembali terperanjat. Ia segera mendorong Ulquiorra menjauh.
"Kau belum sadar, Ulquiorra?" jerit Orihime. Sekarang dia menyesal mengapa tadi tidak menampar Ulquiorra lebih keras. Orihime menarik tangan Ulquiorra dengan kasar. Dia tidak suka Ulquiorra yang seperti ini.
"Szayel, bagaimana cara menyadarkannya?" bentak Orihime galak. Dia tidak peduli sedang berhadapan dengan siapa.
Seketika tawa Szayel berhenti. Octava Espada itu menatap wajah pucat Orihime. Entah apa yang telah dilakukan Ulquiorra padanya.
"Air," jawabnya singkat.
Orihime menarik tangan Cuatro Espada ke arah kolam air mancur di tengah taman. Kali ini Grimmjow tidak mencegahnya. Dia juga cukup enek melihat Ulquiorra seperti itu. Benar-benar out of his image! Yang penting rencananya sudah berhasil.
Dengan sekali dorongan, Orihime menceburkan kepala Ulquiorra—yang memang sudah limbung, jadi mau-mau saja— berkali-kali ke dalam kolam. Setelah usaha keras Orihime, akhirnya Ulquiorra sadar.
"Hentikan, onna! kau mau membuatku mati tenggelam?" ujar Ulquiorra dingin sambil melepaskan tangan Orihime dari kepalanya. Tanpa basa-basi, Orihime memeluk Ulquiorra. Dia senang Espada berkulit pucat, bermata emerald dan berambut hitam itu sudah kembali seperti sedia kala. Ulquiorra menatap Grimmjow dingin sedingin-dinginnya. Matanya berkilat marah.
Aura membunuh menguar ke segala arah…
Perang ke-4 dunia hollow akan segera meletus…!
#TBC#
A/N: yaiiiiks… kok semakin ga jelas ya ceritanya? Ga ada juntrungannya….. ga tau deh, saya tunggu di review aja..!
Silakan review….
