Sic : Halo halo halooooo…. Ini chapter terakhir loooooh #hebohsendiri

Sil : ….

Sic : Kalo ga niat ngomong ya uda ga usa, penuh-penuhin aja :p ya udah, ayo kita sama-sama baca chap terakhir buatan kami berdua hahhaha!

Sil : Tauuuk….

Sic : Apaan -_-

Sil : Silahkan baca terus saya mau makan kambing guling….

Sic : Ya, ya, sekarang saya mulai bad mood karena satu hal, BRENGSEK…..

Sil : Kata-katamu Sic,ckckck…

Sic : sekali-kali jadi orang gitu boleh dong, hihi….


Disclaimer : Hidekaz Himaruya !

Rate : T

Pair : AmeIta!fem

WARNING : OOC, OC, TYPO, DLL

America : Alfred F Jones

Italy!Fem : Felicia Vargas

Belarus : Natalia Arlvoskaya

Request : Ryuna Ohime


Aku mendesah keras. Pelajarannya sudah selesai. Menyelesaikan pelajaran seperti mayat hidup tadi… Haaah… Sudahlah…

Sebentar lagi… Alfred dan Natalia….

Saat melihat ke luar jendela, aku melihat ladang bunga itu lagi. Alfred akan menyatakan perasaannya di sana… Kali ini napasku serasa sesak.

Tiba-tiba aku merasa ada yang hangat di pundakku. Aku menoleh, dan aku melihat sosok bayangan yang sangat kurindukan.

Alfred.

" Ap-Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Ujarku sambil bersikap sebiasa mungkin.

Alfred tersenyum. Astaga, senyum itu… Napasku serasa lebih sesak lagi daripada yang tadi.

" Nggak pa-pa. Aku lihat kamu di sini, makanya kusamperin." Ujarnya sambil mengacak-acak rambutku.

" Ngapain? Harusnya kan' kamu nyiapin diri buat nyatain perasaanmu ke Natalia." Balasku sambil berusaha melepaskan tangannya dari rambutku. Karena kalau ini berlanjut, bisa-bisa aku menangis lagi.

" Kenapa harus bersiap-siap?" Tanya Alfred polos. " Tinggal ngomong ' aku suka kamu, jadi pacarku dong' gampang banget kan?"

Aku memandang Alfred sesaat, lalu memukul pelan pundaknya. " Nggak sesimpel itu juga, kali." Ujarku sambil tertawa hambar. " Pokoknya kau harus bersiap-siap, dong."

Aku tahu Alfred memandangku dengan tatapan bingung. Aku juga bingung kenapa aku harus ngomong kayak tadi, dan harus kasih semangat kayak tadi, kayak ibu yang merestui anaknya aja. Kenapa aku harus ngomog kayak tadi? Sesalku dalam hati.

" Ngapain sampe bersiap-siap? Kau kira aku langsung nikah sama dia?" Tanya Alfred lalu mengacak-acak rambutku lagi.

" Hentikan!"

Alfred tersentak. Ya, aku melihat raut wajahnya yang bingung sambil memandang wajahku. Aku harus menghentikannya melakukan seperti tadi. Ya, aku harus. Aku tidak kuat jika membayangkan betapa aku membutuhkan Alfred saat aku sedih, saat aku senang, aku sudah tidak kuat. Aku bisa semakin terbelenggu oleh perasaan ini. Aku tidak bisa. Tidak bisa, dan tidak boleh. Tidak boleh…

" Ah…" Ucapku sambil mencari kata-kata yang tepat. " M-Maaf, kau membuat kepalaku gatal, bisa-bisa kepalaku ketombean. Cewek kan nggak boleh…"

Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Alfred sudah menghentikanku dengan cepat. Alfred memelukku…

" Al-Alfred, kau kenapa?" Tanyaku bingung yang melihat sikap Alfred. Aku berusaha melepaskannya, walau sebenarnya dalam lubuk hatiku paling dalam aku tidak ingin melepaskannya… Tidak ingin lepas dari pelukannya…

" Kau kenapa?" Aku mendengar Alfred berkata lirih. " Kenapa kau seperti itu?"

" Ke-Kenapa bagaimana?" Tanyaku bingung.

" Setelah aku cerita ke kamu kalau aku mau nyatain perasaanku ke Natalia, sikapmu berubah." Ucap Alfred.

" Be-Berubah gimana…"

" Kau menjauh…" Ucap Alfred sambil mempererat pelukannya. " Sikapmu berubah terhadapku. Dingin. Sikapmu jadi dingin. Menjauh. Kau menjauh." Ucapnya lirih. Aku hanya bisa mendengarkannya dengan diam.

Alfred melepaskan pelukannya, lalu menatap lurus ke wajahku. Aku tahu wajahku merah, karena aku merasakan panas dalam wajahku. Haaah….. Tapi semoga Alfred mengira aku sakit atau apa, jadi dia tidak akan memperdulikan raut wajahku saat ini.

Dan harapanku terkabul. Alfred memang tidak memperhatikan wajahku, tapi dia tidak melepaskan tangannya dari wajahku. Dan itu membuatku tambah mengharapkannya. Berharap kalau Alfred tidak jadi menyatakan perasaannya pada Natalia.

" Kau kenapa?" Tanya Alfred sambil tetap menatap wajahku.

Saat aku mulai kebingungan ingin mengatakan apa, tiba-tiba…

" Al?"

Aku dan Alfred menoleh. Raut wajah Alfred langsung berubah. Wajahnya langsung berubah cerah. Dia tersenyum. Hatiku langsung sakit begitu melihat reaksi Alfred terhadap Natalia. Sakit sekali…

" Natalia…"

" Kalian sedang apa di sini? Berdua?" Tanya Natalia kali ini, walau dia tersenyum, aku tahu kalau senyum itu senyum yang dipaksakan.

" Eh-itu-aku…" Ucapku terbata. Aku melirik Alfred sekilas, berharap dia akan membantuku untuk menghilangkan pikiran negatif Natalia. Tapi, kenapa Alfred diam aja sih?

" Hem, Al, ini sebenarnya ada apa?" Tanya Natalia tanpa memperdulikan kata-kataku, yang hanya di lihat hanyalah, ya, Alfred.

" Nggak ada apa-apa, kok." Ucap Alfred sambil tersenyum, lalu menghampiri Natalia.

Jangan! Jangan bilang nggak ada apa-apa!

" Begitu?" Ucap Natalia agak ragu.

" Benar, nggak ada apa-apa." Ulang Alfred kali ini yang membuat hatiku tercabik-cabik.

Kumohon, jangan bilang nggak ada apa-apa… aku menyukaimu, Alfred. Walau aku tahu aku tidak bisa memilikimu, tapi yang penting kau bisa bahagia, walau sakit… Tapi kali ini saja, kumohon jangan bilang nggak ada apa-apa…

" Udah, yuk…Ayo kita pergi." Ujar Natalia sambil merangkul lengan Alfred. Alfred hanya menurut, walau dia sesekali menghadap wajahku, aku hanya bisa tersenyum melepas kepergiannya. Kepergian Alfred. Untuk selamanya…

Alfred mengajak Natalia ke padang bunga itu… Inilah saatnya…

Sesaat sebelum Natalia dan Alfred pergi menjauh, aku sempat mendengar sesuatu yang membuat hatiku serasa jatuh ke tanah.

" Nat, ke sini, deh, sebentar."

" Kemana, Al?"

" Ke padang bunga lili. Aku mau ngomong sesuatu."

" Ngomong apa? Di sini aja."

" Nggak, harus di padang bunga itu."

" Kenapa?"

" Ya, supaya kesannya keren dong."

" Memang kamu mau ngomong apa sih?"

" Lihat aja nanti. Ayo."

Aku memandang langit biru yang mulai mendung. Sama banget sama perasaanku saat ini. Sudahlah, masih banyak cowok di dunia ini yang lebih keren dari Alfred…

Tapi tidak sebaik Alfred…

Tidak seindah semua kenanganku dengan Alfred…

Saat aku menoleh ke bawah, aku melihat dua sosok yang tidak ingin ku lihat sama sekali. Ya, itu Alfred dan Natalia. Mereka sedang berjalan menusuri lapagan sekolah yang lumayan besar. Hatiku sama sekali tidak ingin melihat semua kejadian yang bisa membuatku menangis meraung-raung seperti orang gila, tapi tubuhku berkata lain. Tanpa sadar, kakiku menuruni anak tangga yang lumayan banyak, semakin aku berjalan, semakin cepat langkahku. Dan akhirnya tanpa sadar aku berlari.

Saat aku sudah berada di dasar anak tangga-yang jaraknya agak dekat dengan padang bunga itu-, langkahku terhenti. Paling tidak aku bisa mendengar samar-samar suara dari mereka berdua.

" Al? Kamu tahu darimana aku suka lili?" Tanya Natalia samar-samar.

" Biasanya cewek suka bunga lili." Balas Alfred sambil tersenyum.

Tiba-tiba aku teringat kata-kata Alfred padaku…

" Ah, aku ingat. Kau juga suka bunga lili, kan?"

" Ah, aku juga ingat saat kita memetik bunga lili pertama di padang ini."

" Aah aku juga ingat kau terjatuh di padang ini. Saat itu tampangmu lucu banget. Oh ya, aku juga ingat saat kita melemparkan semua kelopak bunga yang kita petik ke angkasa."

Tiba-tiba pipiku serasa basah. Astaga, ini sudah cukup… Aku harus melupakan Alfred. Harus. Harus… Harus….

Semakin lama aku meyakinkan diriku kalau aku harus melupakan Alfred, malah justru hatiku tambah sakit…

" Al?" Tanya Natalia.

" Anu, Nat, aku…" Ujar Alfred sambil memetik salah satu bunga lili. Awalnya baik-baik saja, sampai….

Aku melihat bangunan gedung yang belum jadi itu mulai bergerak. Mungkin angin yang berhembus terlalu kuat, atau akan ada badai yang sangat besar, tapi itu tidak penting. Penyebabnya tidak penting.

" Nat, aku…" Aku mendengar Alfred bergumam seperti itu lalu menggenggam tangan Natalia. Aku melihat Natalia agak kebingungan, bingung akan apa yang terjadi.

" AL, AWAS!" Aku mendengar Natalia berseru pada Alfred lalu menunjuk ke arah atas. Aku pun yang melihat mereka mengikuti ke arah yang Natalia tunjuk.

Tiba-tiba semuanya serasa bergerak lambat di mataku. Alfred yang mendorong Natalia menjauh, sehingga Natalia tersungkur ke tanah, tapi Natalia baik-baik saja. Alfred tidak sempat lagi menyelamatkan diri. Aku hanya melihat Alfred yang melindungi kepalanya sendiri dengan kedua tangan. Aku berusaha berlari, tapi rasanya lambat sekali. Napasku tiba-tiba sesak, karena memikirkan apa yang akan terjadi pada Alfred. Rasanya banyak batu besar yang menimpa tubuhku setiap kali kakiku menapak ke tanah. Kepalaku serasa pusing. Hanya satu yang ada di pikiranku. Menolong Alfred. Alfred.

BUUMM!

Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Hanya rasa sakit yang menjalar di setiap tubuhku, tapi yang paling sakit adalah punggungku.

Apa yang terjadi? Pikirku.

" Fel… Fel…"

Aku mendongak dengan sisa tenagaku. Aku melihat Alfred yang menatapku dengan wajah khawatir. Aku juga melihat Natalia yang berdiri memunggungiku, dan aku juga melihat tubuhnya bergetar. Kedua tanganku seperti terangkat ke depan untuk menutupi wajah. Apa Natalia menangis?

" Al… Fred… Apa… Yang… Ter… Jadi…?" Tanyaku pelan.

" Fel, kumohon jangan berbicara dulu… Kumohon…" Ucap Alfred dengan raut wajah ketakutan, kebingungan. Kecemasan. Aku juga melihat matanya berkaca-kaca.

Aku melihat Alfred berjalan ke belakang, lalu mengangkat beberapa tumpukan-sepertinya kayu- karena terdengar sangat berisik. Ada apa dengan tumpukan kayu itu…?

Setelah selesai mengangkat tumpukan itu, Alfred kembali mendekatiku. Tepat setelah Alfred selesai mengangkat tumpukan itu, punggungku serasa ringan. Sebenarnya apa yang terjadi?

" Fel… Kamu nggak apa-apa?" Ujar Alfred sambil mengelus pipiku. Walau pelan, tapi rasanya sangat sakit. Tentu saja aku meringis. " Maafkan aku…"

" Kenapa kau… minta maaf?" Tanyaku bingung. " Apa yang ada ada di pipi…"

Aku menyentuh pipiku, lalu aku melihat di jari-jemariku ada cairan berwarna merah pekat. Darah?

" Apa… Apa yang terjadi?" Tanyaku bingung sambil mendongak pada Alfred dan mengharapkan penjelasan.

Alfred menunduk. " Kau mendorongku menjauh dari bangunan yang mulai runtuh. Tapi…" Alfred memotong kata-katanya. Aku bisa melihat bagian bawah bibirnya bergetar. Lalu Alfred menarik napas, berniat melanjutkan. " Tapi kau tidak sempat menyelamatkan diri…"

Aku tertegun. Aku tertimpa bangunan runtuh? Pantas tubuhku sakit semua… Pantas tubuh Natalia bergetar… Ternyata dia menangis melihat keadaanku. Sekarang aku tahu bagaimana keadaanku. Kepala berdarah, dan sepertinya tulang kedua kakiku patah, karena aku tidak bisa merasakan kedua kakiku lagi. Dan sepertinya juga, tulang punggungku patah, tapi –syukurlah- aku masih bisa merasakan punggungku.

Apa aku akan mati di sini…?

" Tunggulah, aku akan segera membawamu ke klinik terdekat." Ucap Alfred sambil mulai mengangkat tubuhku.

" Al, ini sudah terlalu sore. Klinik manapun akan tutup." Ujar Natalia tiba-tiba sambil menghadap ke arahku dan Alfred. Ternyata benar dia menangis.

" Rumah sakit." Balas Alfred singkat.

" Al! kau kira jarak dari sekolah ke rumah sakit hanya satu meter apa? Jauh, Al! Kalau terlalu jauh, Felicia bisa…" Ujar Natalia menghentikan ucapannya, lalu menghadap ke arah yang berlawanan. Aku tahu dia menangis legi sekarang.

" Tidak ada salahnya dicoba." Balas Alfred kali ini.

Aku tersenyum melihat perlakuan Alfred. Ternyata dia masih perhatian untukku…

Aku menggeleng pelan. " Al…Fred… Tidak usah…" Ucapku. Alfred menatapku dengan kening berkerut.

" Aku tahu… Kau mengkhawatirkan…ku…" Ujarku tersenyum lalu memejamkan mata. Aku menghembuskan napas dan mulai berkata lagi. " Inilah terakhir kalinya. Aku sudah tidak bisa merasakan kakiku lagi. Aku sudah tidak bisa berjalan."

" Aku bisa menggendongmu ke sana." Ujar Alfred singkat dan bersiap-siap untuk menggendongku.

" Alfred, kau… bodoh…" Balasku lalu tersenyum. " Ini akhirnya. Aku juga sudah mulai tidak merasakan punggungku. Sepertinya tulang punggungku patah."

" Tidak masalah. Aku bisa berlari cepat sambil membopongmu." Balas Alfred.

" Alfred, aku mohon hentikanlah." Balasku. " Secepat apapun kau berlari, sekuat apapun tenagamu, tapi tubuhku sudah tidak kuat lagi."

" Apa maksudmu? Kau tidak boleh meninggalkanku, Fel." Ucap Alfred kali ini. Aku bisa mendengar kalau suaranya agak serak.

" Aku tidak akan… Meninggalkanmu, Alfred…" Ujarku lemah. Tenggorokanku serasa gatal.

" Fel!" Seru Alfred saat melihatku terbatuk-batuk.

Aku menggeleng pelan. " Nggak apa-apa. Jangan… uhuk, khawatirkan aku…"

" Sudahlah, ayo kubawa kau ke rumah sakit." Ujar Alfred dengan nada putus asa.

Aku menggeleng sekali lagi. " Sudahlah, Al. aku nggak apa-apa."

" NGGAK APA-APA BAGAIMANA?" Seru Alfred kali ini.

" Hei, aku ini sedang sakit, kok kau meneriakiku?" Ucapku pelan lalu tertawa hambar.

" Maaf." Ujar Alfred kali ini. Suaranya menjadi lebih pelan.

Aku tersenyum. " Alfred, aku ngerasa kalau aku sudah terlalu capek."

" Capek gimana?" Tanya Alfred.

" Aku… capek… Aku mau tidur…" Ucapku sambil mulai memejamkan mata.

" Nggak, kamu nggak boleh tidur." Ucap Alfred kali ini. Suaranya terdengar mendesak.

" Kau jahat sekali." Ucapku lalu tertawa pelan. Aku menarik napas pelan dan aku melihat awan yang mulai menjadi hitam. Sebentar lagi akan hujan…

Aku memejamkan mata untuk sesaat. Lalu bersiap untuk mengatakan hal yang ingin kukatakan daritadi.

" Alfred, aku merasa hidupku tidak akan lama lagi." Ujarku pelan sambil memejamkan mata.

Saat aku membuka mata, aku bisa melihat mata Alfred melebar. Apa dia terkejut? Atau… Dia senang, karena tidak ada hambatan lagi untuknya dan Natalia. Tidak ada lagi hal yang perlu Alfred lindungi.

" Apa… Maksudmu?" Tanya Alfred. Suaranya benar-benar serak kali ini.

" Kau tahu apa jawabannya..." Ucapku lalu mulai memejamkan mata sekali lagi. Kali ini aku benar-benar bertekad akan mengatakan semuanya sekarang, perasaanku pada Alfred…

" Bodoh, apa maksudmu…"

" Alfred." Ucapku memotong perkataan Alfred. " Kali ini saja, biarkanlah aku bersikap egois. Kau boleh mengacuhkan semua kata-kataku, karena aku tahu itu juga tidak akan berlaku setelah aku mati."

" Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mati!" Ucap Alfred kali ini. Aku hanya tersenyum.

" Kenapa senyum-senyum?" Ucap Alfred kali ini dengan kening berkerut.

Aku tersenyum lagi. " Aku senang sekali kau memperhatikanku."

" Tentu saja aku memperhatikanmu." Ujar Alfred kali ini. Dia tersenyum.

" Karena itulah aku menyukaimu."

Mata Alfred melebar. " Ap-Apa?"

" Aku menyukaimu." Ulangku. " Aku tahu kau terkejut. Aku juga terkejut. Perasaanku tidak menentu. Aku juga baru tahu aku menyukaimu. Saat kau tidak berada di sisiku, aku merindukanmu. Saat kau berada di dekatku, jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Ini namanya cinta, kan?" Tanyaku pada Alfred.

" Dasar bodoh, apa maksudmu? Jangan ngomong yang tidak-tidak." Ujar Alfred sambil tertawa, tapi aku tahu itu tawa yang dipaksakan.

" Alfred." Ujarku pelan. " Kan sudah kubilang, kau tidak usah merespon apa yang kukatakan. Aku hanya ingin mengeluarkan semua perasaanku saat ini, karena aku tahu hidupku tidak lama lagi."

" Apa sih yang kau katakan? Coba katakan yang benar…"

" Al, aku tahu kau menyukai Felicia." Ucap Natalia tiba-tiba.

" Ap-Apa maksudmu?" Tanya Alfred sambil menatap Natalia.

" Jangan bodoh. Selama bersamaku, yang kau katakan hanya Felicia, Felicia. Aku tahu kau menyukainya. Aku tahu kau memperhatikannya. Aku tahu kau menyayanginya." Ujar Natalia, lalu air mata mengalir dari bola matanya. " Aku juga tahu cinta itu tidak bisa dipaksakan, tapi aku memaksakan cintamu, walau aku tahu kau tidak benar-benar menyukaiku."

" Apa, sih, Nat? Aku tidak mengerti…"

" Jujurlah kali ini saja, Al." Potong Natalia. " Mungkin inilah terakhir kalinya kau akan bersama Felli. Kau tahu, tulang belakang Felicia sudah patah. Dan kau tahu, orang yang tidak mempunyai tulang belakang akan…." Ujar Natalia, lalu dia menunduk. " Sekarang aku tahu perasaanmu. Aku tidak akan memaksamu lagi." Ucap Natalia menghadap Alfred, lalu menghadap aku dan tersenyum pahit.

" Maaf, Fel. Maaf. Aku begitu egois, aku… Aku…" Ucap Natalia padaku.

" Sudahlah, Nat." Balasku pelan. " Semuanya sudah selesai. Aku dan Alfred sudah selesai."

" Tidak, kita belum selesai!" Seru Alfred padaku.

" Kau tahu, Al. Kau begitu bodoh. Kau menyukainya tapi tak mau mengakuinya." Ucap Natalia.

Alfred hanya terdiam. Aku melihat dia menundukkan kepalanya.

" Aku pergi dulu. Dan aku akan telepon ambulance, dan menyuruh mereka datang dengan kecepatan penuh ke sini." Ucap Natalia lalu berlari menjauh. Sekarang tinggal aku dan Alfred. Berdua saja.

" Alfred, sejujurnya aku tak rela kau bersama Natalia." Ucapku pada Alfred. Alfred hanya diam, dan aku tahu dia menantikan penjelasan selanjutnya.

" Tapi aku tahu kau menyukainya-bahkan mencintainya- dan aku juga tahu bahwa dia bisa membuatmu bahagia, makanya…"

" Apa sih, jangan gitu dong Fel… Aku…"

" Aku tahu kau hanya menganggapku adik. Tidak apa-apa. Kau boleh selamanya menganggapku adik, tapi kumohon, kali ini saja biarkan aku menyukaimu." Ucapku, lalu terbatuk lagi.

" Fel!" Ucap Alfred terkejut saat melihat batukku mengeluarkan darah.

" Kurasa ini benar-benar akhir dari segalanya." Ucapku lalu tersenyum memandang Alfred.

" Alfred, terima kasih sudah menjadi cahaya dalam hidupku." Ucapku pelan. Alfred masih menatapku diam.

" Terima kasih kau telah menjadi kehangatan yang selama ini selalu menjagaku. Terima kasih karena sudah menjadi cintaku. Terima kasih, Alfred. Kali ini saja, aku ingin merasa tidak peduli, ingin mengabaikan semua peraturan, semua latar belakang. Kali ini saja aku ingin mengaku." Ucapku sambil memejamkan mata.

" Aku… Mencintaimu…"Ucapku untuk yang terakhir kalinya.

Aku sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Tidak bisa melihat apa-apa lagi. Tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Tidak bisa mendengar suara apapun. Tidak bisa mencium bau apapun lagi. Yang terasa hanya rasa pedih dan sakit yang mulai menyusut. Kegelapan ini seperti mendorongku ke lautan yang dingin. Tapi, tidak apa-apa. Aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Jadi, sedingin apapun tidak akan berasa apapun bagiku.

Ah, ada tetesan air di wajahku. Apa mungkin sudah hujan? Aku mau melhat hujan untuk terakhir kalinya. Tapi mataku sudah tidak kuat. Semakin lama tetesan air itu semakin deras. Kali ini aku benar-benar tahu kalau sedang hujan.

Tiba-tiba aku mendengar samar-samar suara, " Aku mencintaimu…"

Aku merasa itu suara Alfred. Benarkah? Benarkah itu suara Alfred? Kata-kata yang selama ini ku nantikan akhirnya dikatakannya juga. Aku sangat bahagia. Bahagia… Sampai-sampai ingin menangis. Lalu aku merasa tubuhku didekap erat oleh seseorang. Rasanya hangat. Hangat sekali….

Alfred's PoV

Aku baru tahu Felicia menyukaiku. Apa aku menyukainya? Entahlah. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu sampai menemukan jawaban di hari itu.

" Aku… mencintaimu…"

Dengan dua kata itu saja, air mataku tumpah. Felicia sudah meninggal. Mati. Lenyap. Lenyap dari pandanganku untuk selamanya. Pada saat itu juga, aku baru menyadari kalau aku menyukai Felicia. Orang yang selalu membuatku merasa nyaman, orang yang dapat membuat perasaanku bercampur aduk. Orang yang selama ini sangat merindukanku…

Dan sangat kurindukan sekarang.

Tiba-tiba tetesan air hujan mengenai puncak kepalaku. Aku mendongak menghadap angkasa yang mengeluarkan air hujan. Rasanya seperti aku yang sedang menangis.

Felicia yang selama ini mendukungku, yang selama ini menyayangiku, dan yang selama ini merindukanku. Pikiranku tersadar ketika menyadari Felicia sudah tiada.

Tangisku pun pecah. Aku menyentuh pipinya, tapi tak ada respon apapun. Aku mengangkat kepalanya dan mengelusnya, dan dia tidak bergerak. Aku tersenyum padanya, dan dia tidak membalas senyumku seperti biasanya. Hatiku terasa sakit. Sakit sekali…

" Aku mencintaimu…" Bisikku pelan di daun telinga Felicia. Tidak ada respon apapun. Aku merangkulnya dengan pelan, menariknya ke dalam pelukanku. Pelukan terakhir…

" Aku bodoh sekali. Aku baru menyadari kalau aku menyukaimu. Kenapa aku baru tersadar sekarang? Karena kau selalu berada di sisiku, sehingga aku tidak menyadari kalau aku menyukaimu. Jadi ini yang kau rasakan sejak lama? Maafkan aku karena sudah membuatmu repot dan tersakiti selama itu. Aku minta maaf. Aku sadar saat kau sudah tidak ada di sisiku, karena sudah tidak tersenyum padaku seperti biasa. Aku merindukanmu. Aku serius. Kali ini aku tidak bercanda. Aku benar-benar merindukanmu. Aku benar-benar menyayangimu. Aku benar-benar mencintaimu." Ucapku sambil mempererat pelukanku.

Tepat saat itu aku melihat pipi Felicia basah. Bukan, bukan karena air hujan. Tapi Felicia menangis! Felicia benar-benar menangis! Apa dia bisa mendengarkan semua kata-kataku?

" Fel." Ucapku pelan. " Kalau kau bisa mendengarkanku, kumohon dengarkan baik-baik isi hatiku kali ini, dan aku tidak bercanda."

Tidak ada respon. Tentu saja.

" Aku mencintaimu, Felicia Vargas. Selamat tinggal. Aku akan selalu menyukaimu atau mungkin mencintaimu sampai akhir hayatku. Tunggu aku di sana. Jangan kemana-mana sampai aku menyusulmu ke sana. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu." Ucapku lalu akhirnya memeluk erat tubuh Felicia lalu membiarkan tangisku bercampur air hujan.


Fin


Sil : Akhirnya Utang saya lunas dan Terima kasih telah me-review dan me-Fave fic kami, kenapa lu nangis Sic?

Sic : Anjoy kamu, ini sedih bego. Padahal aku yang bantuin paling banyak plus aku yang bikinin khusus buat chap terakhir ini, suka-suka aku dong, ssrrooot!

Sil : Iya…iya….. entah kenapa aku merasa gantung, apa kita buat sekuel-nya aja?

Sic : insya oloh kalau saya nggak malas ya. Itu khusus buat para readers, buat tambah penasaran hehe sroooooot

Sil : Lap ingusmu sana baru ngomong, muncrat,tuh! Oh,ya! Ryuna Ohime utangku lunas berarti,wkwkwk…..

Sic : Utang apa? Kalo dapat duit bagi aku ya. Aku dua per tiga duit itu, kamu sepertiganya. Deal?

Sil : Dasar orang mata duitan…. =_=;

Sic : Semua orang di dunia ini butuh duit tau…. Sudah ah. Eh Marry You lagi now playing loh… bagi kalian-kalian yang suka, ngedengerin juga ya-kok malah promosi.

Sil : Dasar orang tidak Setiawan….. udah,ah habis batre laptop saya, bye..bye jangan lupa Review ~^^~

Sic : Anying… aku nggak ada ngolok, saya promosi. Oh ya, jangan lupa tunggu karya saya dan Sil yang lainnya ya! Huahahahah peace ^^v byebye all :D