Chapter 4 : Christmas Special
Sebenarnya hari ini bukan hari yang spesial. Tidak ada yang berulang tahun. Natal pun masih lebih dari tujuh hari lagi. Hanya saja, sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga Kim untuk selalu berkumpul bersama beberapa waktu sekali. Kemarin, papa Kim, alias Kim Namjoon, mengkoordinir anak-anak dan menantu-menantunya untuk berkumpul di rumah besarnya.
Memang sudah lama sekali sejak mereka terakhir bertemu, mungkin saat natal tahun lalu? Dan sekarang sudah hampir natal lagi. Jadi, hampir setahun mereka tidak bertemu. Maklum, semuanya orang sibuk, sih. Setiap kali mama Kim, Seokjin, menentukan waktu untuk berkumpul, pasti ada saja yang tidak bisa datang. Ia mana mau anaknya ada yang tidak datang. Akhirnya, mereka menunggu waktu di mana semuanya bisa hadir sehingga tidak ada yang tertinggal, dan hari itu adalah hari ini, sembilan hari menuju hari natal.
Maka mereka akan berkumpul untuk makan siang bersama. Anggap saja makan siang sekalian merayakan hari natal (early) di kediaman mama-papa Kim.
Kakak pertama Taehyung, Jongin; istrinya, Kyungsoo; dan anak-anak mereka, Taeoh dan Sarang, datang paling awal. Keluarga mereka selalu datang tepat waktu. Wajar saja, Kyungsoo adalah orang yang sangat disiplin. Ia tidak segan-segan akan memarahi Jongin dan anak-anaknya kalau mereka telat bangun atau apabila mereka mengerjakan sesuatu dengan lambat. Seokjin menjuluki menantunya super woman karena bisa mengubah Jongin yang berantakan menjadi agak disiplin.
Sampai saat ini, Namjoon juga masih bingung, sebenarnya teknik jitu apa yang digunakan Kyungsoo untuk membuat Jongin takluk? Padahal dulu ia dan Seokjin tidak pernah bisa membuat anak itu duduk di rumah dengan tenang untuk satu jam saja. Setiap hari selalu keluyuran bersama teman-teman sepermainannya melakukan hal-hal bodoh. Tetapi, sejak bertemu Kyungsoo, tiba-tiba image Jongin berubah drastis menjadi lelaki baik-baik yang penyayang. Dan voila sekarang ia adalah seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Kedatangan mereka kemudian disusul oleh pasangan berikutnya, yaitu kakak kedua Taehyung, Mingyu dan istrinya, Wonwoo, beserta anak-anak mereka : Naeun dan Gunhoo. Nah, Namjoon dan Seokjin menilai mereka berdua sebagai pasangan yang tidak pernah bisa membaca situasi. Hampir di setiap tempat dan di setiap waktu mereka menyajikan PDA. Seokjin masih ingat saat natal tahun lalu, ketika mereka berdua tidak sengaja berdiri di bawah mistletoe yang digantung di ruang tamu. Yap, traditionally, mereka harus berciuman.
Dengan tidak berdosanya, Seokjin pikir anak keduanya itu akan melakukannya dengan manis dan singkat. Kebetulan juga anak-anak sedang bermain di kamarnya dengan kakek mereka, bersama dua pasangan lainnya. Namun angan Seokjin mengenai gentle kiss itu buyar seketika saat Mingyu tiba-tiba menyeringai ke arah Wonwoo dan mendorongnya ke atas sofa bulat berwarna krem di tengah ruangan!
Seokjin tentu tidak mau menyaksikan pergumulan kedua manusia tidak tahu malu itu di atas sofa mahalnya. Ia langsung lari ke kamarnya untuk mengamankan anak-anak, memastikan tidak ada yang memasuki ruang tamu sampai pasangan mesum itu selesai. Keesokan harinya, Seokjin membuat mental note untuk tidak menggantung mistletoe di rumahnya lagi.
Last but not least, pasangan fenomenal di keluarga Kim, Taehyung dan Jungkook, atau yang sering papa Kim sebut sebagai pasangan musisi. Anak bungsu papa dan mama Kim yang paling cerewet dan aneh ternyata bisa menggaet anak orang kaya high class bernama Jeon Jungkook yang punya selera tinggi dalam segala hal. Taehyung yang cerewet dan Jungkook yang kalem. Oke, saling melengkapi. Mama-papa Kim merestui.
Namjoon mengecap mereka sebagai pasangan yang 'diam-diam menghanyutkan'. Di luar terlihat normal, cool, calm and collected. Tapi, lain halnya apabila hanya ada mereka berdua saja. Tidak ada bedanya dari Mingyu dan Wonwoo! Selalu bereproduksi seperti kelinci setiap ada kesempatan! Di dapur, di kamar mandi, di depan perapian, di kolong meja, pokoknya di mana-mana, asal tidak ada orang.
Padahal sering melakukan, tapi Namjoon heran, mengapa baru sekarang mereka berhasil ngegol? Padahal Mingyu dan Wonwoo saja anaknya sudah dua. Antara Jungkook yang kurang subur atau Taehyung yang tidak becus membuat, pikir Namjoon.
Oke, kembali ke rumah papa-mama Kim yang saat ini sudah seperti kapal pecah. Mereka baru saja menyelesaikan makan siang bersama, dilanjutkan dengan para menantu yang sibuk menyiapkan dessert di dapur untuk anak-anak. Keempat kurcaci sibuk memainkan segala benda yang ada di rumah kakek-neneknya. Bola-bola yang digantung di pohon natal dilempar-lempar, pita merah diikat-ikat di kepala Namjoon (ia hanya bisa pasrah), dan hiasan di atas meja dipakai jadi tentara mainan oleh Taeoh. Pokoknya Seokjin pusing melihat rumahnya porak-poranda. Tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga anak-anak. Dimarahi juga percuma.
Maka, Seokjin hanya membiarkan menantu-menantunya yang galak mengatasi kegilaan ini.
"Anak-anak, lampu itu bukan mainan! Cepat, pasang kembali ke pohonnya!" teriak Kyungsoo sambil membawa sepiring kue jahe yang masih hangat.
"Pita itu kenapa diikat di kepala kakek? Kakek kan bukan kado natal! Cepat bereskan!" Wonwoo ikut menyahut.
Ada waktunya di mana Wonwoo juga bisa menjadi segalak Kyungsoo.
"Pokoknya kalau semuanya tidak beres sekarang juga kalian tidak akan dapat permen!"
"Oh dan jangan harap Santa mau mengunjungi anak-anak nakal."
Ancaman terakhir yang keluar dari mulut Wonwoo membuat anak-anak terdiam.
"Aku anak baik, kok! Nih, hiasannya sudah di atas meja lagi, Mom!" teriak bocah yang paling tua di situ, Taeoh. Ia berusia delapan tahun musim panas kemarin. Hiasan meja yang tadi dimainkannya cepat-cepat ditaruh di atas meja lagi. Berantakan sih, tapi ya sudahlah.
"Aku tidak ikut-ikut!" Suara cempreng Sarang menyusul. Kedua tangan kecilnya melepaskan pita merah yang tadi diikatnya di kepala Namjoon.
Gadis cilik berusia enam tahun itu segera turun dari sofa dan mengekori ibunya menuju dapur.
"Hehehe, maaf, kakek." Si usil Naeun mulai melepas pita di kepala Namjoon perlahan-lahan. Ia mencium pipi kakeknya dengan cepat. Namjoon menggendong anak tiga tahun itu, lalu menghujani wajahnya dengan ciuman. Naeun tertawa kegelian.
"Dimaafkan, princess."
Namjoon menurunkan Naeun di atas sofa yang tadi didudukinya dan pergi ke lantai atas, menyusul anak-anaknya yang sedang bermain blackjack. Tentu pak tua ini tidak mau ketinggalan permainannya.
Kemudian ada Gunhoo yang masih belum lancar berbicara. Ia baru berusia satu tahun dan sekarang sedang menggigiti hiasan berbentuk bola yang entah bagaimana bisa dilepasnya dari pohon natal. Ia menatap ibunya dengan kebingungan.
Wonwoo menghela nafasnya, kemudian membawa anak itu dalam gendongannya. Bola yang tadi ada di mulutnya sudah berpindah ke tangan Wonwoo.
"You can't eat this, okay?"
Gunhoo tidak mengerti, tapi ia mendengar kata 'okay', jadi ia hanya menganggukkan kepalanya berulang kali. Wonwoo tertawa geli melihat perilaku anak bungsunya.
Jungkook tiba-tiba muncul dari dapur sambil membawa semangkuk chocolate fondue. Seandainya ini di rumahnya, ia pasti sudah menghabiskan semua ini sendirian. Tapi ia sadar bahwa ini reuni keluarga, di mana ada anak-anak juga di sini. Mereka jauh lebih menggilai cokelat daripada dirinya, maka Jungkook harus mati-matian menahan diri untuk tidak menyentuh fondue-nya sedikitpun.
Tiba-tiba Jungkook merasakan langkah kaki kecil mengekorinya dari belakang. Ia sedikit menoleh dan mendapati Taeoh berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Jungkook tersenyum kepadanya.
"Taeoh mau cokelat?" tawarnya.
Taeoh menggelengkan kepalanya. Pandangannya mengarah ke perut Jungkook.
"Uncle Koo kok tambah gendut?" Taeoh memiringkan kepalanya.
Oops, wajar Taeoh bertanya seperti itu. Saat natal tahun lalu Jungkook masih belum isi, tubuhnya masih body goals. Taeoh baru bertemu dengan Jungkook sekarang, setelah hampir satu tahun dan perutnya sudah sebesar ini.
Jungkook tertawa geli mendengar pertanyaan Taeoh. Nada bicaranya yang polos itu, lho. Lucu.
"Di sini ada baby, sayang. Nanti Taeoh sama yang lain punya adik sepupu lagi." Jawabnya sambil meletakkan mangkuk yang tadi dibawanya di sebelah kue jahe Kyungsoo.
Mendengar jawaban Jungkook, Taeoh malah makin bingung. Dari ekspresinya kelihatan sekali kalau ia tidak bisa menerima jawaban Jungkook begitu saja. Beberapa saat kemudian bola matanya melebar dan kedua tangannya menutup mulut kecilnya.
"Haa? Uncle Koo makan baby-nya? Noooo."
Seokjin yang kebetulan lewat langsung tertawa terbahak-bahak. Tawanya yang seperti bunyi wiper mobil memenuhi ruangan itu. Orang bilang Namjoon bisa kepincut gara-gara terpesona dengan tawa unik Seokjin.
"Uncle Koo tidak makan baby, sayang. Baby masih terlalu kecil jadi harus tidur di situ dulu. Kamu juga begitu di perut mama-mu waktu kecil, kok." Jawab Seokjin setelah berhasil menguasai dirinya.
Taeoh mengangguk, masih dengan mulutnya yang menganga. Ia berlari ke dapur, mencari ibunya.
"Moommm! Memang dulu aku dimakan Mom ya?!"
Duh, Taeoh si keras kepala.
Seokjin meraih lengan Jungkook dengan lembut. Ia mendudukkan Jungkook di atas sofa krem yang merupakan tempat perbuatan mesum Mingyu-Wonwoo tahun lalu ( tapi sekarang sofanya sudah dibersihkan dari segala ketidaksucian ).
"Duduk saja, sayang. Pekerjaan di dapur hampir selesai kok."
Seokjin tahu sebentar lagi Jungkook akan protes ingin tetap membantu di dapur, maka ia akan memberikan pekerjaan lain untuk Jungkook yang tidak mengharuskannya untuk berdiri lama.
"Temani anak-anak bermain di sini saja. Hitung-hitung sekalian latihan." Nenek muda itu mengedipkan sebelah matanya.
Memang, keempat bocah itu selalu lengket dengan Jungkook. Pokoknya, setiap mereka melihat Jungkook sedang duduk sendirian, mereka akan mengerumuninya seperti semut, entah mengajak bermain atau bercerita tentang mainan mereka. Sepertinya mereka suka pembawaan Jungkook yang ramah dan lemah lembut.
Seperti sekarang, Naeun dan Sarang mendatangi Jungkook sambil membawa macam-macam boneka hewan. Taeoh juga sudah kembali dari petualangannya mencari jawaban dengan sepotong kue jahe di tangannya. Tinggal Gunhoo yang masih anteng di gendongan ibunya. Ah, mungkin sebentar lagi Wonwoo akan menitipkan anak bungsunya kepada Jungkook.
"Uncle Koo akan punya baby!" pekik Sarang riang. Ia sudah dengar penjelasan dari ibunya perihal darimana datangnya baby, jadi ia tidak akan menanyakan pertanyaan tidak logis seperti yang ditanyakan Taeoh tadi. Tentu saja penjelasan yang diberikan Kyungsoo merupakan penjelasan yang bisa diterima anak-anak sepertinya.
"Kapan baby keluar? Kami mau main dengan baby!" sahut Naeun. Gadis kecil dengan rambut pigtails itu membawa boneka anjing berwarna putih di tangan kirinya.
"Uncle Koo makan baby~" Taeoh, masih belum bisa move on dari pemikiran kreatifnya.
Jungkook gemas melihat ketiga anak ini. Ingin sekali ia memeluk dan mencubit pipi mereka.
"Baby keluarnya sebentar lagi, kok. Kalau kalian jadi anak baik dan mendengarkan ibu kalian, semakin cepat baby keluar."
"Sebentar lagi itu kapan? Berapa detik lagi? Berapa menit lagi? Berapa jam lagi? Berapa lama lagi?" Naeun meluncurkan pertanyaannya bertubi-tubi.
"Ibu bilang sebentar lagi itu lelatif." Sarang menjawab.
Jungkook yakin maksudnya 'relatif'.
"Baby perempuan atau laki-laki?" Naeun bertanya lagi.
"Ibu bilang Uncle Koo akan punya baby perempuan! Kita lebih banyak daripada Gunhoo dan Taeoh!" Sarang menjawab lagi, kali ini sedikit memekik karena bersemangat.
"Yay! Kita bisa main Barbie bertiga!"
"Yay!" lalu mereka berdua melompat-lompat senang sambil berpegangan tangan.
Jungkook ikut tertawa sambil mengusap bagian bawah perutnya. Ia merasakan princess kecilnya ikut bergerak barusan.
Saat kedua gadis kecil itu melompat-lompat senang, hanya Taeoh yang masih terdiam. Seakan menyadari sesuatu, ia lagi-lagi membulatkan kedua matanya dengan mulut yang menganga.
"Uncle Koo! Lalu baby keluar dari mana dong?"
Jungkook terdiam. Tidak mungkin kan ia dengan santainya bilang 'Oh, baby keluar dari lubangku, sayang. Aku hanya harus mendorongnya dengan berlumuran darah dan keringat sambil memaki-maki suamiku. Ahahaha.'
Oh, no, no. Kyungsoo akan membunuhnya.
"Hmm.. ibu tidak bilang apa-apa soal itu." Kali ini Sarang tidak dapat menjawab pertanyaan kakaknya.
Mereka semua terdiam selama beberapa detik sampai tiba-tiba Taeoh terkesiap lagi.
"Haaa, jangan bilang..."
"Baby keluar seperti poop Uncle Koo!"
"Apa berarti kita semua juga keluar seperti poop?" Naeun kali ini ikut-ikut bertanya. Ia melebarkan matanya seperti Taeoh dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tentu saja tidak, bodoh! Nih, kita tidak lembek seperti poop." Sarang mencubit-cubit tangannnya sendiri.
Jungkook tertawa keras-keras sampai matanya berair. Pertanyaan anak-anak ini lucu sekali. Apa dulu ia juga sepolos ini waktu kecil ya?
Ia mengalihkan pandangannya ke arah meja di dekat sofa itu. Ada sebuah papan warna-warni dengan pion-pion kecil tergeletak di atasnya. Mungkin tadi anak-anak sempat bermain game dengan Namjoon.
"Kalian mau main monopoli? Uncle Koo jadi wasit, deh." Ucapnya menunjuk papan besar itu.
"Mauuu! Ayo main!" Taeoh paling bersemangat. Ia mengambil papan itu dan meletakannya di lantai, di depan kaki Jungkook.
"Aku ambil warna pink!" Naeun merebut pion paling girly di situ.
"Yah, aku mau yang pink juga." Keluh Sarang.
"Sarang pakai yang lain saja ya... warna yang Sarang suka selain pink apa?" Jungkook berusaha membujuk Sarang.
"Hmm... ungu!" tangan kecilnya mengambil pion berwarna ungu.
Taeoh merupakan satu-satunya lelaki di situ. Ia tidak ribet, warna apapun yang ada di depan matanya, itu yang ia ambil.
"Oke, kalian rock, paper, scissors ya."
Naeun dapat urutan pertama, disusul dengan Taeoh, dan yang terakhir Sarang. Sepertinya Sarang memang sedang tidak beruntung hari ini. Tapi tak apa, Jungkook terus menghiburnya agar tidak kecewa.
Permainan pun berjalan selama beberapa jam. Mereka sudah main hampir tiga ronde. Pinggang Jungkook mulai sakit gara-gara duduk terlalu lama. Ingin sekali ia pulang dan berbaring di ranjangnya yang super empuk. Tangannya bergerak ke belakang, sedikit menekan-nekan pinggangnya sendiri.
"Capek?"
Duh, Jungkook kaget. Tiba-tiba suaminya muncul dari belakang dan mencium pucuk kepalanya.
"Ayo, pulang. Sudah hampir malam."
Jungkook menolehkan kepalanya ke arah grandfather clock di sudut ruangan. Sudah jam enam lewat rupanya. Tidak terasa lima jam sudah ia duduk di sini menemani anak-anak bermain. Lalu kelompok ibu-ibu ke mana? Katanya pekerjaan di dapur tidak banyak, tapi sampai sekarang tidak kembali ke sini juga.
"Lapar, Tae." Jungkook mengusap perutnya.
Taehyung tertawa sambil memegang kedua tangan Jungkook, membantunya berdiri.
"Kita cari makan dulu baru pulang." Jawabnya.
"Uncle Tae, jangan pulang duluuu! Kami masih main!" protes Sarang.
"Iya, kami masih perlu Uncle Koo untuk jadi wasit." dukung Naeun.
"Memang Uncle Koo belum kenyang makan baby ya?" Taeoh, lagi-lagi dengan pikiran kreatifnya.
Taehyung terkekeh geli. Rambut Taeoh diacak-acaknya.
"Baby-nya juga mau makan, anak-anak. Kalian juga tadi tidak tidur siang kan? Pasti mengantuk sekarang."
"Tidak tuh." Taeoh melipat kedua tangannya.
Tapi tidak sampai beberapa detik kemudian ia menguap.
Kedua gadis kecil di sebelahnya juga ikut-ikutan menguap.
Bertepatan dengan itu, akhirnya kelompok ibu-ibu keluar dari dapur dengan beberapa toples berisi cookies warna-warni dan camilan lainnya yang tampak menggiurkan bagi Jungkook.
"Ayo pulang, sayang." Wonwoo mengajak Naeun berdiri.
"Say goodbye to Uncle Koo and Uncle Tae."
"Bye, Uncles." Naeun melambaikan telapak tangan kecilnya. Kedua pigtails-nya ikut bergerak seiring dengan langkah kakinya.
"Kalian berdua, ayo bereskan dulu mainannya. Setelah ini kita akan pulang." Perintah Kyungsoo.
Tanpa banyak bicara, Taeoh dan Sarang langsung mengembalikan papan monopoli itu beserta pion-pionnya ke dalam laci mainan di bawah meja. Mereka takut diomeli Kyungsoo apabila membantah lagi. Lagipula mereka sudah capek dan ingin cepat-cepat pulang.
Sebelum Taehyung dan Jungkook masuk ke mobil mereka, Seokjin memberikan beberapa toples makanan yang tadi dibuatnya bersama Wonwoo dan Kyungsoo di dapur. Sisa chocolate fondue tadi juga dipindahkan ke dalam kotak makanan. Sepertinya Seokjin tahu Jungkook suka sekali cokelat.
Yay, Jungkook bisa menghabiskan semuanya begitu mereka sampai di rumah.
Tapi sebelum itu, mereka akan mampir ke Taco Bell dulu untuk memenuhi keinginan Jungkook. Yap, Jungkook sangat ingin makan Taco hangat sekarang, setelah lelah bermain dengan anak-anak seharian.
"Aku tidak percaya Taeoh pikir kau memakan princess kita." Taehyung memulai percakapan sambil mengenakan sabuk pengamannya.
"Entahlah, Tae. Keponakanmu mirip ayahnya."
Taehyung harus mengakui perkataan Jungkook. Memang terkadang Jongin memiliki pemikiran yang lebih kreatif dari anaknya.
"Lalu nanti princess mirip momma atau dadda?" Taehyung tersenyum, melirik Jungkook dari ekor matanya untuk beberapa saat.
Jungkook ikut-ikutan tersenyum. Ia memukul lengan Taehyung malu-malu.
"Tentu saja mirip kita berdua, bodoh."
Hai, aku kembali. Chapter kali ini berhasil tembus 2k words, hampir 2.5k malah huheuehue. Karena di chapter terakhir Cappuccino ada spesial edisi ultah Taehyung, maka di story yang ini aku buat spesial edisi natal (padahal udah lewat tahun baru :')).
Kayaknya aku ga bakal buat edisi tahun baru. Gatau kenapa, aku ga dapet inspirasi aja kalo buat edisi tahun baru gitu. Yaa paling mereka main percon trus mesra-mesraan di bawah kembang api dan di atas penderitaan para jomblo :')
Anyway, aku udah selesai bikin chapter ending untuk story ini lho. Jadi kalian mau gimana nih.. next chapter langsung end atau terusin beberapa chapter lagi baru end? Hayoo, review yaa.. aku dilema sendiri soalnya :')
Yaudah, segitu dulu aja..
See you in next chapter!
