Bring the action!


Beschuss

-IV-

.

.

.

Selama enambelas tahun hidupnya, mungkin malam itu akan menjelaskan banyak hal mengenai fase kedewasaan yang sesungguhnya. Kisah-kisah yang terselimuti gurauan remaja muda sungguh berbeda dengan apa yang baru saja dialami si pemuda. Sebab, saat ia menoleh, ia sulit 'tuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seolah ada magnet bertenaga magis yang menarik turquoise-nya tuk betah berlama-lama mengamati sosok manusia lain yang tengah sibuk memasukkan anak-anak kancing ke dalam kemeja putihnya. Punggung sosok itu menutupi salah satu jendela tinggi yang tersingkap meski di luar sana pemandangan salju dengan dasar langit hitam masih terlihat jelas.

Eren tak bisa menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya. Jika malu bisa membunuh seseorang, maka ia akan mengalami henti jantung yang diakhiri dengan peti mati. Kedua kakinya tampak lebih menarik sekarang. Meski diam-diam, ia akan kembali menoleh dan melirik ke titik fokus yang sama, jika mata orang itu bertemu pandang dengan miliknya secepat mungkin ia kembali menunduk. Pemuda itu tepat mendudukkan diri di pinggir ranjang ukuran Ratu milik Levi. Saat menegok untuk melihat waktu, sepertinya ia telah melewati batas waktu jam tidurnya.

Pukul tiga tepat. Dan, aktivitas dua jam terakhir yang dilakukan keduanya menghasilkan kerusakan total di atas ranjang yang biasanya selalu rapi seolah tak pernah ditiduri oleh si pemilik kamar.

"Err—"

"Kenapa?" tanya Levi yang kini telah kembali pada dirinya semula. Terbungkus kemeja putih dengan balutan kardigan pastel. Kedua obsidiannya melirik ke arah samping. "Aku hanya membantumu melepaskan apa yang sedari tadi membuatmu tampak kesulitan, Eren. And yet, you made such a big mess. Hm." sambungnya dengan nada datar, begitu pula dengan wajahnya. Lirikannya kini tepat mengarah pada kondisi ranjangnya yang benar-benar kacau.

"A-ah—i-itu—I'm sorry, Va—"

"Levi. Hubungan semacam itu telah berakhir. Suka atau tidak, kau dan aku setara dalam ikatan baru ini, Eren."

Nada penegasan di balik suara bariton milik Levi terdengar merdu bagi Eren. Beberapa kali ia meyakinkan diri bila apa yang telah terjadi takkan bisa diubah lagi. Ia telah memulai sebuah permainan yang akan sulit untuk diakhiri begitu saja. Yang perlu dilakukannya hanyalah mengikuti ritme dan membiarkan tuan waktu yang menjawab misteri hari esok dan setelahnya. Ada sedikit kebahagiaan yang terbersit di hati kecil Eren.

"Kau tampak senang." ujar Levi seraya ikut mengisi ruang di sisi kanan Eren yang kosong. Pria itu lalu meletakkan tungkainya di atas tungkai yang lain. Ia mendapati pemuda di sampingnya malah menoleh ke sisi lain. "Hm. Apa Hanji tidak memberitahumu sesuatu?"

"Eh? Sesuatu? Kurasa—tidak." jawab Eren cepat. Ingin sekali Eren melanjutkan—kurasa Mikasa berkata suatu hal yang berhubungan denganmu, Levi—tapi buru-buru diurungkannya.

"Mengenai alasan kenapa aku tidak kembali selama nyaris seminggu ini—" Eren memasang telinga baik-baik, "—huh, aku menerima telegram dari kolegaku di Jerman sebulan yang lalu. Hanya berisi pesan singkat perihal kondisi Berlin yang tidak menentu. Awalnya, aku mengabaikan telegram itu. Tetapi, pada akhirnya aku mengerti mengapa ia mengirimkannya padaku."

"Huh? Apa isi telegram itu?" tanya Eren. Pria di sebelahnya hanya mendesah panjang. "Apa ada berita buruk?"

"Lebih buruk dari yang kami kira."

'Eh?'

"Militer Nazi berencana menghabisi seluruh wilayah Inggris dengan nuklir," lanjut Levi, sama sekali tak mengubah raut wajahnya. Tetap tenang dan terkontrol, "Itu artinya tidak lama lagi pesawat-pesawat bantuan pihak Rusia akan menghancurkan daratan ini. Aku dan Erwin berusaha memasuki wilayah parlemen dan meminta suaka atas kalian jika seandainya bagian terburuk dari perang konyol ini benar-benar terjadi. Akan tetapi, persoalan lain muncul saat hakim yang berwenang membaca identitas masing-masing dari kalian. Dan, kau—Eren—adalah masalah terbesar yang ada."

"Aku? Tapi, aku sudah bukan bagian dari mereka!" seru Eren, "bahkan kewarganegaraanku telah berubah. Kini aku bagian dari rakyat Britania Raya!"

Levi menelengkan kepala ke satu sisi seraya melipat lengan di dada. Tatapannya lurus ke arah pintu, "hukum agraria masih menautkanmu sebagai penduduk Leipzig. Hingga usiamu mencapai tujuh belas tahun, kau baru diperbolehkan menetapkan warga negara yang kau inginkan seorang diri."

"Tsk!"

"Eren, kau hanya perlu menunggu satu tahun saja." kilah Levi mencoba menenangkan suasana. Di lain pihak, pemuda bermata turquoise itu merasa tak berdaya, tak berguna, dan hidup sebagai parasit. Kebebasan yang selalu diidam-idamkannya hanya menjadi realita dalam mimpi.

Ada jeda panjang di antara keduanya. Selagi Eren berkutat dengan pendiriannya, Levi mengumpulkan kesaksian. Ruangan di mana keduanya berada terasa lebih dingin dari biasanya. Badai salju di luar sana adalah penyebabnya. Waktu berubah konstan saat jarum jam kian bergerak.

"Tetapi—"

"Hm?"

"—tetap saja aku tidak mendapatkan jawaban kenapa kau seolah berusaha menyingkir dariku. It's totally annoying. Plus, keadaanmu yang sangat menyedihkan itu."

Menutup mata dan menghirup oksigen sebanyak mungkin. Levi menarik satu sudut di bibirnya, "di saat kau butuh ruang untuk menenangkan diri, maka temukanlah, mintalah pada Tuhan, lalu saat Tuhan telah menjawab, maka di situlah kau harus menuju. Pasturku yang berkata demikian saat aku mengunjungi chapel di setiap akhir pekan. Ruang yang Tuhan maksud ternyata adalah arena seven deadly sins—klub Poker terbaik di Inggris. Dan, kau yang menyebabkan semua kekacauan ini, Eren."

Mata miliknya membulat lebar tak percaya, pemuda enambelas tahun itu segera berseru tajam, "kau berjudi? Kupikir kau termasuk hamba Tuhan yang taat. Ternyata—"

Levi memotong, "informasi terbaik hanya bisa kau dapatkan di tempat-tempat seperti itu, Eren. Itulah yang membedakanmu denganku. I don't care what people say and think about me. Sayangnya, uang tak ada harganya di klub itu."

Pikiran Eren melambung tinggi. Imajinasi liarnya berputar-putar.

"K-kau menjual—" kedua turquoise-nya seolah memindai tubuh Levi dari ujung kaki hingga kepala. Pria yang merasa dilecehkan dengan tatapan Eren mencubit pipi si pemuda dengan keras. "Aduduh."

"Aku tidak sehina itu, Eren. Hh, awalnya aku hanya ke sana karena mengikuti saran Erwin. Kurasa, dia ada benarnya juga meski tidak seratus persen. Butuh tujuh hari agar aku benar-benar dipercaya untuk memasuki arena yang sesungguhnya. Gambling is not my thing. Meski begitu, kini aku bisa memasuki wilayah parlementer sesuka hati. Dengan taruhan nyawa, menurutku itu setimpal."

Eren menelan ludah dan membalas cepat, "kau—berkelahi, right?"

"The best way to erase everything." Jawaban terlogis yang mengucur ringan dari bibir Levi.

Sejenak Levi menautkan sepasang obsidiannya pada turquoise bening milik Eren. Menepuk puncak kepala Eren hanyalah satu bentuk afeksinya yang nyata.

"Levi."

"Huh?"

"Jadikan aku asistenmu!" seru Eren. "Aku bersumpah, suatu hari nanti ketika aku berhasil mencapai fase kedewasaan yang benar-benar sempurna, aku ingin sepandai dan secerdas dirimu. Aku tahu keinginanku terlalu naïf. Aku bahkan tak mengerti apapun mengenai dunia di luar sana—seberapa kejam ataupun indahnya ia. Karena itu—tolong ajari aku mengenai semua hal yang perlu kuketahui untuk mengubah dunia!"

Lelah di air muka Levi berubah seketika. Meski terlihat sedikit saja, Eren yakin pria itu menaikkan kedua alisnya sebentar. "Ho, kuharap kau tidak menyesal telah mengatakan semua itu, Eren."

'Lebih tepatnya, kau tak bisa mengira metode pengajaran apa yang bisa kulakukan untuk mendidikmu.'

Kesungguhan terpancar dari kedua bening turquoise Eren.

"Then, prepare yourself very well, Eren." Adalah aklamasi persetujuan yang terbentuk di antara keduanya.

"Yes Sir!"

"Good. Sekarang kembali ke kamarmu dan tidurlah. Besok kita akan memulai latihan menembak di lapangan indoor." tutur Levi singkat. Eren segera bangkit dan melangkah menuju pintu. Sebentar ia berhenti. "Apa?"

Sekonyong-konyong, Eren memeluk pria itu dan berbisik, "aku menyayangimu. Maaf jika bagimu terdengar sangat menjijikkan. Tetapi, hanya ini yang sesungguhnya ingin kukatakan semenjak awal."

"Hn. So, it will be."

'—dan semoga kita dapat berjumpa lagi esok hari.'

"Yeah."

Hanya butuh sepersekian detik untuk Eren mencerna makna di balik doa pendek Levi. Tetapi, dibuangnya jauh-jauh pikiran buruk yang terbersit di benaknya itu. Ia—pasti akan bertemu lagi dengannya di esok hari, bukan?

Ironisnya, dalam keheningan oleh derasnya badai salju, bias deru pesawat kaleng berjumlah massif tengah mengudara tepat di atas atap mereka.

Dan, sirine penanda adanya jatuhan bom dari langit mulai terdengar samar-samar.


Kubikel persegi itu menampilkan sepasang suami istri bersama anak perempuannya. Dengan sebuah meja kayu berhiaskan empat cangkir gelas berisi coklat panas yang masih mengepul. Sang Ayah tengah membaca surat kabar dalam sepi meski gemericik suara air dari arah wastafel kian mengeras seiring tumpukan keramik yang harus dicuci. Si anak perempuan membilas piring-piring dengan cekatan sementara wanita di sebelahnya mengembangkan gelembung-gelembung sabun berwarna putih. Ada tawa ringan di antara keduanya ketika balon udara monokromatik itu berterbangan. Jendela yang tepat menghadap ke arah mereka memancarkan sinar yang teramat terik. Sangat terik hingga ia membuka mata.

Tak ada suara meski ia yakin ia berada di rumah kecil itu bersama mereka. Seharusnya ia bergabung dan menikmati percakapan antara anak dan Ayah itu. Sebaliknya, ia merasa akan baik-baik saja dan tak ingin keluar dari balutan selimut bulu domba di tubuhnya. Hanya sebuah sofa panjang dengan banyak sobekan di sisi kanan-kiri yang dijadikannya sebagai labuhan tuk bersandar dalam sepi. Sesekali ia akan menarik sudut-sudut bibirnya tatkala senyum mengembang pula di wajah si anak perempuan dan Ibunya. Halaman demi halaman surat kabar sang Ayah serta keseriusan yang tersembunyi di balik kacamata itu memberi gambaran yang sangat nyata akan kehidupan di masa lalu.

Ia membuka dan menutup perlahan kelopak mata miliknya dan masih menemukan hal yang sama. Ia sedang tidak bermimpi—bukan?

"Vater? Mater? Mikasa?"

Tak ada yang berbalik.

"Mikasa—hei."

Tak ada yang mendengar.

"Ah, aku di rumah. Segalanya baik-baik saja. Ya."

Tak ada yang bersuara.

Dan, ia kembali melelapkan diri.

Hingga—

"EREN! EREEEEEN!"

"Huh?"

—kaca-kaca jendela di belakang tubuhnya berdebam keras.

"EREEEEEN!"

Semakin berdebam keras seolah-olah yang memukul telah kehilangan kewarasannya. Ia menoleh, melirik dengan sudut mata, dan mendapatkan cahaya putih menyilaukan. Wajah lelahnya tergambar jelas dan ia tak mau membuang-buang tenaga hanya untuk menggubris sosok penuh cahaya itu.

"EREEEN! KAU HARUS KELUAR DARI SANA!"

"Huh? Apa yang kau bicarakan—Armin? Aku baik-baik saja di sini. Ya. Ada Vater dan Mater, lalu Mikasa. Kenapa aku harus keluar dari sini?"

Bug. Bug. Bug.

"KUMOHON DENGARKAN AKU, EREN! BANGUNLAH! KAU HARUS SEGERA KELUAR DARI SANA! API TELAH—"

Seperti radio rusak bersuara sumbang. Dengan menghiraukannya saja pasti akan segera hilang. Tentu.

"Kau berisik sekali, Armin. Selama aku berada di rumah, tak ada satupun bahaya yang akan terjadi pada diriku. Sebab—"

Lelehan yang berasal dari lidah api menderas bagai hujan lava. Hitam dengan korona kemerahan yang mampu memanaskan benda apa saja. Bening turquoise-nya membulat lebar seakan tak memercayai apa yang kini dilihatnya. Terlihat jelas bagaimana sosok Ayah dan Ibu serta Mikasa di hadapannya melumer bagai cairan aspal pekat. Seluruh meja, kursi, lemari, bebatuan dan kayu-kayu mengikuti keadaan serupa. Ada api yang kemudian menjalar dan memakan apapun di sekitarnya.

"—ini hanya mimpi."

Debaman kaca semakin menjadi-jadi. Sosok pemuda pirang itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghancurkan kaca-kaca jendela yang terasa setebal dinding bata. Darah kian mengucur perlahan dari kulit tipisnya dan semakin mewarnai sisi jendela yang mulai meretak. Kegusaran mewarnai kerutan-kerutan tipis di wajah pemuda itu. Deru nafasnya ikut menjadi cepat. Terus-menerus jua ia meneriakkan satu nama yang sedari tadi sama sekali tak memedulikannya.

"EREEEN! KAU AKAN MATI JIKA TIDAK SEGERA KELUAR DARI LAUTAN API ITU!"

Vakum sejenak.

Ada rasa nyeri seperti baru saja ditinju oleh petarung pro di wajahnya.

Lalu, api membakar semuanya.

Saat membuka mata, Eren mendapatkan wajah Armin yang dipenuhi keringat dan peluh. Pemuda itu tampak sangat kesulitan. Menengok ke sisi lain, didapatinya pemuda itu seolah ingin memukul wajahnya dengan tinju miliknya yang kuat. Nafasnya tercekat disertai rongga dada yang naik turun tak stabil. Benar saja, alasan sakit yang membuatnya terbangun pasti adalah buku-buku jemari Armin yang membentur tulang rahangnya.

"Finally, God! Kau akhirnya bangun."

Hitam pekat menutupi sebagian besar cahaya di raut muka pemuda berkulit pucat dan bermata biru itu. Ada yang benar-benar salah dengan air wajahnya yang seolah baru saja melewati seratus hari di hutan Amazon tanpa makanan dan minuman yang layak. Bunyi arus listrik yang membentuk kilat-kilat di atas kepala Armin menyadarkan pemuda ini sepenuhnya. Balok-balok kayu di langit-langit rumah mereka membentur lantai-lantai marmer dan api kian menyebar tiada ampun. Ada warna merah menyala yang mengingatkannya pada satu hari terburuk dalam enambelas tahun hidupnya.

Eren bangkit diikuti Armin yang sibuk dengan ransel entah berisikan apa miliknya. Bersama pula benda berbentuk tabung yang diketahuinya adalah harta paling berharga milik si pemuda penjelajah bintang itu seumur hidupnya—mini teleskop Hubble pemberian Paman Erwin. Meski rasa panas dari api yang berjalan di sisi-sisi kamar mereka yang telah gelap gulita, tak ada ketakutan yang dapat Eren temukan. Pemuda itu melompat dari ranjangnya tepat saat kabel listrik berjatuhan dan turut andil membakar segalanya.

"Armin! Kenapa—"

"Nanti akan kujelaskan! Yang penting kita harus segera keluar dari sini. Jeez, kau tidur seperti orang mati, Eren!" teriak pemuda tangguh itu seraya mengambil langkah. "Sebaiknya kau mengambil benda apa saja yang masih bisa diselamatkan! Itu akan sangat membantu."

Menuruti saran Armin, sebuah ransel yang menggantung di tepi ranjangnya segera ditarik. Abu kehitaman yang membuat sesak membaur dari sisa-sisa pembakaran ranjang kayu mereka. Hanya beberapa lembar pakaian yang masih bisa diselamatkan bersama sarung tinju pemberian Levi untuknya. Keduanya memutuskan segera menjauh secepatnya saat bunyi bedebam aneh yang semakin mengeras terdengar dari sisi lain di rumah itu. Armin tepat di ujung pintu saat Eren masih sibuk mencari-cari benda lain. Menemukan apa yang dicari, Eren mengambil langkah besar tepat sebelum api benar-benar memakan seisi bilik itu tanpa menyisakan apapun.

Tiba-tiba, Eren mengingat hal lain. Dan, kekhawatirannya berlipat ganda karenanya.

"Tunggu, Armin!"

Pemuda di depannya berhenti dan menengok ke belakang, "APA?"

"Tsk, bagaimana dengan Mikasa dan yang lainnya?"

"Mereka sudah aman, kurasa. Kau tidak perlu mengkhawatirkan Mikasa. Aku yakin di akan baik-baik saja. Permasalahannya sekarang ialah bagaimana kita berdua bisa keluar dari rumah yang sudah dilahap oleh api ini!" seru Armin. Ia lalu berlari dan meninggalkan Eren masih terkungkung dalam pertanyaan-pertanyaan di benaknya. "Eren!"

Kesal, pemuda bermata biru laut itu mengambil keputusan terberat. Kembali ia melayangkan tinjunya di wajah Eren. Pemuda bermata turquoise ini tersadar kemudian.

"We don't have much time, Eren! Wake up!"

Benar. Ia harus bangun dari mimpi yang menjadikannya lemah selama ini. Meski banyak emosi saling bertarung dalam jiwanya, pemuda itu mengangguk pasrah. "I'm sorry."

"Kalau begitu, kita harus lari." lanjut Armin bersikap serealistis mungkin. Keduanya pun melewati banyak rintangan secepat tapak-tapak kuda.

Koridor-koridor yang dilewati kedua pemuda remaja itu merapuh oleh muntahan api. Mencapai puncak anak tangga yang akan membawa mereka ke ruang terdasar di rumah besar itu, tak ayal melompat adalah satu-satunya jalan ketika api melahap barisan anak tangga teratas. Tanpa banyak berpikir, Eren menjadikan sisi tepian anak tangga sebagai landasan untuknya mencapai tujuan. Armin tampak kebingungan saat api nyaris melenyapkan pondasi anak-anak tangga di hadapannya. Pemuda itu memeluk erat ranselnya dan hanya menatap takut pada api yang membara.

"No, no. I can't. No."

"Armin! JUMP!"

"A-aku tidak bisa. Aku tidak bisa, Eren! Apinya—apinya semakin besar!" Semakin erat pemuda ini memeluk ranselnya bersama kelopak mata yang tak ingin menerima kenyataan yang ada. Eren menggemeretukkan geriginya dan mencari-cari benda apa saja yang masih bisa digunakannya untuk menyelamatkan Armin.

"Tsk! Wait me there!" teriak Eren sekeras-kerasnya seolah meminta sahabatnya itu tuk menunggu di sana selama ia mencari tali atau semacamnya. Sesaat setelahnya, pemuda ini teringat pada situasi di sekitarnya. Otaknya mengkalkulasi cepat benda yang akan tahan selama berada di api. Tirai-tirai jendela rajutan yang sulit terdisposisi menjadi abu adalah jawabannya. Menarik sekuat tenaga tira-tirai yang terjatuh sembari memerhatikan penyebaran api pada anak-anak tangga menjadi aktivitas Eren selama sepuluh menit terakhir. Peluh dan keringatnya mengucur deras sementara kedua tangannya kian terbakar oleh panas api yang nyata. Diikatnya ujung tirai dengan batangan besi panas dari pengokangnya. Berhasil, ia berlalu dan melontarkan besi itu ke arah Armin. "Armin! Tangkap besi itu dan ikat ke sisi pembatas tangga di sebelah sana! Kau bisa turun menggunakan tirai ini!"

"Oke!"

Armin mengikuti petunjuk Eren. Pemuda itu berlari ke arah kanan dan menautkan besi yang telah terikat dengan tirai rajutan. Sebelum api mulai memakan sepanjang koridor, ia segera turun dan memeluk erat tirai yag terjatuh seutuhnya hingga ke lantai dasar. Eren tepat menunggu di bawah untuk mengawasi Armin andai pemuda itu terjatuh.

Susah payah dan nyaris tergelincir akibat pegangan kedua tangannya yang tak sekuat genggaman Eren, Armin terhenti sebentar. Ia bergumam penuh ketakutan saat sedikit demi sedikit api mulai melahap bagian teratas dari lantai koridor itu.

"Armin! Kau harus melepaskan benda berat yang ada di tubuhmu atau kau akan terjatuh dari ketinggian ini!"

Jika benda berat yang dimaksud Eren adalah teleskop miliknya, pemuda ini menggeleng penuh kesungguhan, "TIDAK!"

"ARMIN! FOR GOD SAKE! LET IT GO!"

Merah menyala meruntuhkan kayu pembatas perlahan-lahan. Bunyi gemeretuk yang tercipta melemaskan ikatan yang menggantung Armin antara hidup dan mati. Pualam di lantai dasar semakin meninggi suhunya saat api yang merambat dari puncak anak-anak tangga semakin menyusuri bagian terbawah. Jika mereka tidak segera lari dari lautan api itu saat ini juga, tak ada lagi kesempatan kedua untuk menikmati hari esok. Eren mengamati bagaimana kondisi sekitarnya menjadi titik balik akan masa yang pernah dialaminya beberapa tahun lalu. Kebenciannya pada substansi seringan helium itu memuncak tatkala rasa lemah tak berdaya ini lagi-lagi dijadikannya sebagai alasan kematian Ayah dan Ibunya.

Eren mengeratkan genggamannya, mengerutkan alis, dan mengeluarkan teriakan. Kendali miliknya terhenti.

"Armin! Bukankah yang sangat menginginkan kita tetap hidup adalah kau, hah? Karena itu, kau harus segera turun dari sana!"

"Urgh."

Sedikit lagi—hanya butuh sepersekian detik hingga pembatas kayu itu terjatuh sempurna. Api menutup pandangan pemuda bermata turquoise ini sepenuhnya. Samar-samar yang dapat tertangkap oleh kedua liang pendengarannya hanya suara Armin yang kian terbias oleh runtuhan puing-puing sisi selatan dari rumah penampungan keenam remaja ini. Seperti fajar baru yang menyingsing di pagi hari, sinar putih yang teramat menyilaukan terbentuk dari celah reruntuhan kayu.

Pagi sedang menyapa dalam bisu.

.

.

.


To Be Continued


Dictionary :

Beschuss berarti api, pengeboman, tembakan meriam. Sesuai dengan situasi dalam chapter ini.

A/N :

Satu chapter lagi dan finish! Yay.

Gomenne kalau adegan action-nya garing. #ngaisngaistanah

Scene waktu si Eren mimpi itu dan berusaha dibangunin sama Armin saya adaptasi dari SnK episode 12 saat Armin juga ngenyadarin Eren yang masih berbentuk berserk Titan.

Until next time we meet,

Leon.