yosh! chapter baruu...

thanks buat yang sudah membaca dan mereview ff ini. domo arigatou. ^^

Sbenarnya FF ini uda dikerjain smpai chapter 9. ^^y

tapi bakal ditunda-tunda publishnya, tergantung jumlah review. *Maaf author sdkit lick haha..

cuma mau lihat komentar kalian, mungkin bisa nambah ide, jadi ceritanya bisa disesuaikan sana sini dikit. hehe

akhir kata, sekali lagi mau mengingatkan, chara di sini OOC level akut. ibaratnya cuma minjam nama karakter sama Om Masashi Kishimoto.

Tapi author menjanjikan yang fluffy2, yang seru2, dan yang bikin penasaran di beberapa chapter mendatang.

So, this is it. enjoy the story. don't forget to review.

pembaca yang baik adalah pembaca yang meninggalkan jejak.

Thank You ^o^


CHAPTER 3 – LET'S END THIS.

"Kau tinggal di lantai berapa?" tanya Sasuke. "Enam." Jawab Hinata singkat. "Aku tujuh." Balas Sasuke. "Kenapa selama ini kita tidak saling kenal?" tanya Hinata heran. "Terakhir kali aku di Jepang adalah dua tahun yang lalu, tepat sebelum pengerjaan album dan tur keliling dunia. Mungkin karena itu kita tidak pernah melihat ataupun kenal." Jawab Sasuke. "Bisa jadi." Balas Hinata singkat. "Mari aku bawakan sampai ke apartemenmu.", "Tidak, cukup sampai di sini saja. Aku tidak mau merepotkanmu lebih dari ini. Terima kasih." Tolak Hinata. "Aku tidak merasa kerepotan, lagipula sudah terlanjur begini."

"Sudahlah sampai di sini saja." Tolak Hinata lagi. "Kenapa kau sangat keras kepala? Biarkan aku mengikuti naluriku untuk membawakan barang-barangmu ini." Sasuke masih bersikeras dengan sikap gentlemannya yang sepertinya tidak diterima dengan baik oleh Hinata. "Kau yang keras kepala, kan aku sudah bilang sampai di sini saja dan aku bahkan sudah bilang terima kasih.". kata Hinata tidak mau kalah. Hinata meraih belanjaannya dari tangan Sasuke dan segera berjalan keluar dari lift. "Baiklah! Dasar keras kepala!" geram Sasuke sebelum menutup pintu lift.

Mimpi apa Hinata sampai dia harus bertemu dengan Uchiha Sasuke. Pria narsis yang sok dan tidak tau sopan santun itu. Dan yang lebih buruknya adalah fakta bahwa Uchiha Sasuke tinggal di lantai tujuh! Tepat di atas apartemennya. Ini tidak mungkin jadi lebih buruk kan?

.

.

.

.

"Makanan sudah siap!" seru Hinata. Dia membawa dua piring nasi goreng omelet di tangannya, dan dengan sigap menyajikannya ke meja makan. "Wah! Ini nampaknya enak! Mari makan!" seru Tenten bersemangat. Malam ini Tenten menghabiskan waktu makan malamnya di apartemen Hinata. Selain karena apartemen Hinata yang nyaman, masakan Hinata selalu membuat Tenten kembali meskipun hanya sekedar dessert.

"Jadi si Uchiha Sasuke itu tinggal di atas?" tanya Tenten penasaran. "Tepat di atas apartemenku. Dia tinggal di lantai tujuh." Balas Hinata. "Entah ini kesialan atau keberuntungan." Kata Tenten asal. "Aku yakin ini adalah kesialan, gara-gara dia aku gagal merayakan ulang tahun Hanabi. Jangan lupa juga dengan kameraku yang rusak.", "Tapi dia akan mengganti kamera yang baru bukan? Meskipun ulang tahun Hanabi-chan tidak akan bisa dia ganti.". "Begitulah." Hinata menyuap sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya. "Hei! Kau bisa mati tersedak!" omel Tenten saat Hinata mulai tersedak makanannya sendiri. "Ini, minumlah.". "Thanks."

"Tadi kau bilang, si Uchiha ini bersikeras membawakan barang belanjaanmu bukan? Mungkin sebenarnya dia baik hati, hanya saja seperti yang sudah aku bilang, kalian hanya bertemu di saat yang tidak tepat." Kata Tenten. "Sudahlah, Tenten. Aku tidak yakin dia baik hati. Asal kau tahu saja, dia itu orang yang paling narsis, sok dan yang paling tidak sopan yang pernah aku kenal! Memikirkan namanya saja membuat aku kesal." Geram Hinata. Sahabatnya ini tidak bisa berhenti membicarakan soal Uchiha Sasuke sejak dia memasuki apartemennya. "Hati-hati, Hinata. Jangan terlalu membenci seseorang, nanti akan menjadi buruk untuk dirimu." Kata Tenten memperingati. "Buruk untukku? Aku tidak salah, nyatanya dia memang orang yang tidak baik.", "Aku hanya mencemaskan satu hal. Well, sebenarnya aku tidak khawatir jika Uchiha ini akan menyebabkan masalah untukmu. Seperti masalah di pekerjaan dan sebagainya, aku yakin kau bisa menyelesaikannya dengan mudah. Aku hanya takut soal masalah yang lain." Kata Tenten lagi.

"Yang lain bagaimana?" tanya Hinata penasaran. "Benci itu bisa menjadi cinta tahu! Aku takut nantinya kau akan tergila-gila pada Uchiha ini." Balas Tenten. "That's not gonna happen, ever! Tenten, kau seperti tidak kenal aku saja. Uchiha Sasuke ini sama sekali bukan tipe-ku, bukan dan tidak akan pernah menjadi tipe-ku. Jadi buang jauh-jauh kekhawatiranmu itu, aku tidak akan jatuh cinta apalagi sampai tergila-gila padanya." Bantah Hinata dengan keras. "Baiklah, aku tidak akan membahas ini lagi. Tapi setidaknya aku sudah memberitahumu apa yang aku pikirkan.", "Yah, terima kasih sebelumnya. Tapi kurasa kau terlalu banyak menonton drama, dan sudah saatnya kau mulai membedakan drama dan kehidupan nyata. Yang artinya, aku dan Uchiha Sasuke adalah tidak mungkin. Okay?", "Yes, Mam! Hinata apa kau punya dessert?", "Huh, dasar kau ini. Kenapa kau datang dan selalu menghabiskan makananku?", "Hei, kau hanya punya aku untuk menjadi eksperimen masakanmu. Jadi sebelum aku menuntut karena percobaan gagal yang pernah terjadi, sebaiknya kau memberikan aku dessert sebagai jaminan tutup mulut!" ancam Tenten dengan bercanda. "Baiklah, kelinci percobaan. Ini dessertmu."

.

.

.

.

"Selamat pagi, aku ada janji bertemu dengan Nona Hyuga. Apakah dia ada?" Sasuke tiba di kantor Hinata. Kantor kecil yang terletak di tengah pusat kota Tokyo. "Nona Hyuga belum datang, tuan. Tapi anda bisa menunggu di kantornya, dia sudah mengatakan bahwa anda akan datang. Dengan Tuan Uchiha bukan?" tanya seorang staff. "Iya, aku Uchiha Sasuke. Kalau begitu, bisa tunjukkan jalannya?", "Tentu, mari ikut dengan saya." Staff itu kemudian menuntun Sasuke ke lantai atas, ke ruangan kerja Hinata.

Kantor ini terlihat kecil dari luar, tapi sebenarnya tidak. Di lantai bawah ada sebuah studio, di lantai dua juga ada studio, bahkan lebih besar. Interior kantornya juga sangat unik dan menarik, kesan seni sangat terlihat jelas di setiap dekorasinya. "Ini kantor Nona Hyuga, anda bisa tunggu di sini. Anda mau minum kopi atau teh?", "Aku mau kopi, terima kasih." Staff itu kemudian meninggalkan Sasuke sendirian di ruangan itu. Ruangan yang tidak terlalu besar. Lumayanlah.

"Ini tuan, kopinya.", "Terima kasih. Ngomong-ngomong kapan Nona Hyuga datang?" tanya Sasuke. " Sebentar lagi, tuan. Nona Hyuga sedang dalam perjalanan." Staff itu kemudian meninggalkan Sasuke sendirian. Wanita itu memang keterlaluan, bukan hanya sombong dan egois. Dia juga tidak bisa tepat waktu.

Sasuke memperhatikan sekelilingnya. Kantor Hinata tidak buruk juga. Dia memajang beberapa piala penghargaan, sepertinya tentang fotografi. Beberapa lukisan dan foto juga menghiasi ruangannya. Ada satu foto yang menarik perhatian Sasuke. Foto tentang kaki wanita? Foto itu hitam putih, tapi sepatu heels yang dikenakan wanita itu berwarna, merah. Kaki wanita di dalam sepatu heels di tengah jalan, apa maksudnya?

"Foto itu menceritakan kekuatan seorang wanita." Sasuke sedikit terkejut saat suara Hinata mengejutkannya. "Maaf aku terlambat, dan maaf kalau aku membuatmu terkejut." ucap Hinata. "Tidak. Tidak apa-apa." kata Sasuke. "Apa tadi maksudmu? Foto ini tentang kekuatan wanita?" tanya Sasuke lagi. "Kekuatan wanita. Foto itu menggambarkan bagaimana seorang wanita bekerja sangat keras. Dia harus bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik, si objek bisa saja seorang karyawan kantor, pengusaha atau bahkan hanya ibu rumah tangga. Tapi mereka semua melakukan pekerjaan mereka dengan baik, lihat betapa kokoh dan kuatnya kaki itu." jelas Hinata. "Oke, lalu kenapa foto ini nuansanya hitam putih, tapi sepatu heelsnya tidak? Kau mempertahankan warna merahnya." tanya Sasuke lagi. "Itu menjelaskan bahwa dibalik kaki yang kokoh itu, terdapat kecantikan yang menawan. Wanita bekerja dengan keras dan juga menampilkan kecantikannya baik itu inner beauty ataupun outer." jelas Hinata lagi. "Teori yang menarik. Apa ini foto pertamamu?", "Bukan, tapi itu foto pertama yang mendapat penghargaan.", "Aku bisa lihat kalau kau punya banyak penghargaan di sana." kata Sasuke sambil menunjuk ke arah piala2 Hinata.

"Itu ulah asistenku, sebenarnya menurutku itu berlebihan.", "Sebenarnya ide bagus mengisi ruangan ini dengan piala-piala itu, menambah nilai jual kalian." kata Sasuke. "Kemejamu ada disebelah sini. Silahkan duduk." kata Hinata. Dia kemudian mengeluarkan kemeja yang masih baru kemudian menyerahkannya pada Sasuke. "Ini memang barang yang sama. Oh, ini kameramu. Kau boleh memeriksanya dulu." Sasuke kemudian memberikan sebuah paperbag. Di dalamnya terdapat sebuah kotak, kotak kamera yang baru. "Masih disegel." canda Sasuke. "Ini jenis yang sama.", "Aku punya orang yang mengurusnya, orang yang cukup handal." kata Sasuke. "Terima kasih." ucap mereka berdua bersamaan. "Sepertinya semua urusan kita sudah selesai di sini." kata Hinata. "Iya, semuanya sudah selesai." kata Sasuke membenarkan. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Selamat tinggal.", "Uchiha-san.", "Iya?"

"Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita bukan?" tanya Hinata. "Tentu saja, ini adalah pertemuan terakhir kita. Selamat tinggal Hyuga Hinata-san." Hinata memperhatikan kepergian Sasuke dari ruangannya. Ini sudah selesai bukan? Tanya Hinata pada dirinya sendiri.

TBC