| Pattisiere |
Disclaimer : all characters that Masashi Kisimoto own
Genre : romance/drama/hurt
Rate : M
Chapter 4
"Mistake"
.
Balasan Review buat chapter sebelumnya.
Terima kasih buat Mellya, .faris, HimeNara-kun, i'm 137, Baenah, NJ21, ayuwida, HipHipHuraHura, lhya dan yang lainnya karena udah ngedukung fic ini (maaf tidak bisa disebut satu persatu L)
Buat LG, bacanya yang bener deh. Disini Hinata belum menikah dan belum menjadi isteri dari Naruto, jadi kalau mau nge-flame atau ngasih kritik itu yang benar yah dan kalau tidak suka lebih baik tekan back dan jangan baca fic-nya ^^
.
.
.
Dua tahun setelah kematian Namikaze Naruto
.
Cahaya kerlap-kerlip penuh warna menghiasi malam yang sangat ramai di salah satu diskotik kenamaan. Lantai dansa dipenuhi oleh lautan manusia yang sedang menggerakkan badannya mengikuti irama yang dilantunkan Dj Shawk. Aroma alkohol dan asap rokok mendominasi ruangan yang cukup luas itu, suara sorakan kegirangan pun terdengar memekakkan telinga ketika musik yang semulanya berhenti kembali dilantunkan.
Kakashi menatap tempat sekelilingnya dengan bosan, ia terpaksa harus terjebak di tempat seperti ini karena ulah Nona mudanya. Hampir setiap malam Hinata mengunjungi tempat terkutuk itu, sekedar untuk bersenang-senang dan menghilangkan stress yang sering menimpanya akhir-akhir ini. Pria yang selalu mengenakan masker itu hanya menatap sendu kearah Hinata yang sedang menari dengan lincahnya dilantai dansa bersama beberapa wanita lainnya.
Bukan hanya suasana yang tidak disukai oleh Kakashi, ia juga merasa risih ketika beberapa wanita mulai berdatangan untuk menggodanya. Tidak hanya mengajak minum, para wanita itu dengan santai mengajaknya untuk melakukan one night stand. Tentu saja pria itu menolak mentah-mentah tawaran mereka, meski tidak sedikit dari mereka yang berparas cantik dan juga bertubuh sexy. Yang ia inginkan hanya Hinata, hanya Hinata-nya yang berhak atas semua yang ada pada dirinya, meski ia tahu semua itu terasa mustahil. Tapi baginya, berada disisi Hinata sudah lebih dari cukup dari apa yang ia inginkan selama sisa hidupnya, karena Hinata lah yang telah menyelematkannya dari jurang kegelapan. Kegelapan yang selalu menyelimuti hidupnya, namun sosok Hinata kecil mengulurkan tangan dan menawarkan sebuah kehidupan baru pada dirinya yang penuh dengan dosa.
Kakashi bergegas menghampiri Hinata ketika wanita itu meninggalkan lantai dansa dengan langkahnya yang sedikit sempoyongan. Aroma Tequilla menguar dari bibir tipisnya, Kakashi segera membawa Hinata kedalam pelukannya dan memapah wanita itu menuju kursi bartender. Sesekali wanita itu meracau tidak jelas yang hanya akan dibalas gumaman tidak jelas dari Kakashi.
"Hidan, satu hik- gelas lagi." pinta Hinata yang sudah mulai kehilangan kesadarannya, "Cukup untuk hari ini, Nona." larang Kakashi sambil memegang kedua bahu Hinata, "Hik, kau mau Kakashi? Ini sangat menyenangkan."
Kakashi memberikan isyarat pada Hidan, salah satu bartender untuk tidak lagi memberinya minuman keras. Pria itu pun berlutut didepan Hinata dan melepas heels yang dikenakannya. Hinata tampak terkejut dan langsung menjerit ketika tubuhnya sudah ada di bahu sebelah kiri milik Kakashi. Pria itu membawa paksa Hinata untuk pulang, Hinata menghetakkan kakinya sambil memukul-mukul punggung Kakashi, wanita itu meminta untuk dilepaskan. Namun pria itu tidak bergeming dan terus membawanya. Hinata terlihat tidak lagi meronta, wanita itu pingsan digendongan Kakashi. Pria itu menghentikkan langkahnya, menurunkan Hinata dan kembali menggendongnya ala bridal style, Kakashi menatap sendu kearahnya.
"Hinata.." gumamnya
Kakashi kembali melangkahkan kakinya kearah mobil yang diparkirkannya, pria itu meletakkan Hinata dikursi samping kemudi dan mulai mengendarai mobil itu menuju apartemen Hinata.
.
.
Ruangan yang didominasi dengan warna ungu itu terlihat sepi, Kakashi membuka pintu kamar Hinata dengan susah payah. Pria itu masih setia menggendong Hinata dalam dada bidangnya, terdengar suara ranjang berdecit ketika Kakashi meletakkan Hinata diatas tempat tidurnya. Pria itu membaringkan Hinata dengan perlahan, menyelimutinya dan mengatur posisi senyaman mungkin. Wanita itu tidur dengan pulas, wajahnya tampak memerah efek dari alkohol yang diminumnya. Kakashi tertegun melihat Hinata, pria itu mulai menyentuhkan tangannya pada pipi Hinata, menelusuri seluruh lekukkan wajah sang pujaan. Perlahan, pria itu mulai merendahkan kepalanya. Kakashi menurunkan maskernya dan menyentuhkan hidung keduanya. Ia bisa menghirup napas Hinata dengan leluasa, berbagi napas satu sama lain. Yah, meski ini hanya berlangsung satu pihak.
Kakashi tidak bisa menahan dirinya, dengan lancang ia mulai mengecupi seluruh permukaan wajah Hinata. Manis dan lembut, itulah yang Kakashi rasakan ketika mengecupi wajah Hinata. Bukannya berhenti, pria itu mulai berani menempelkan bibir tipisnya pada bibir peach milik Hinata. Awalnya hanya menempel, tapi pria itu menginginkan lebih. Bibir tipisnya mulai mengecupi bibir Hinata dan keadaan bertambah buruk ketika pria itu mulai melumatnya dengan perlahan. Hinata masih tidur dengan pulas, tidak bereaksi ketika bibirnya sendang di invasi oleh Kakashi. Suara decitan ranjang kembali terdengar ketika Kakashi menempatkan tubuhnya diatas Hinata, pria itu bertumpu pada kedua lengannya agar tidak menindih tubuh sexy yang ada di bawahnya. Kakashi masih asyik dengan kegiatan melumatnya. Bibir tipis itu tidak berhenti dan tidak mau beranjak dari bibir Hinata, tidak hanya melumat, lidah basahnya mulai menjilati sudut-sudut bibir Hinata. Benda kenyal tak bertulang itu mulai turun kearea dagu dan berakhir di perpotongan leher jenjang yang terlihat berkilau dengan keringat. Nafas pria itu semakin memburu, jantungnya berdebar dengan kencang. Ia bisa merasakan panas pada tubuhnya, ada suatu gejolak yang tak tertahankan dan menuntut untuk dilepaskan sekarang juga. Pria itu melepas jas hitam dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, masker hitam yang melingkari lehernya kini sudah tergeletak begitu saja di atas lantai. Kakashi kembali merendahkan tubuhnya dan menatap Hinata dengan bergairah.
Deg
Kelopak mata Hinata terbuka, menampakkan mata amethystnya yang indah. Tubuh Kakashi mengejang, pria itu terkejut dan terlihat gelagapan. Hinata masih diam, hanya memandang Kakashi tanpa melakukan pergerakkan apapun.
"Maaf Hinata, aku-" perkataan Kakashi terpotong ketika tangan lentik Hinata memeluk kepalanya dan membawanya pada ciuman mesra. Kakashi membelalakan matanya, tidak percaya dengan yang terjadi saat ini. Hinata terus menciuminya dengan lembut, sesekali wanita itu menjilati bibir tipis milik Kakashi. Pria itu mulai hanyut dan kembali bergairah dengan ciumannya. Tangan besar milik Kakashi mulai bergerak, menyentuh apa yang ingin ia sentuh selama ini. Tangan kasar itu mengelus tubuh Hinata dengan penuh damba, tidak ada yang terlewat. Semuanya tersentuh dengan lembut, seolah semua bagian yang ada pada diri Hinata akan hancur jika ia tidak menyentuh dan mengelusnya. Kakashi semakin tersudut ketika tangan lentik Hinata meremas helaian rambut peraknya, tangan yang terasa sehalus sutera itu turun menelusuri belakang lehernya, mengelus dan menghantarkan sengatan-sengatan kecil yang membuat otot-otot pada tubuh Kakashi menjadi semakin keras. Mereka masih terhanyut dengan ciuman panas mereka. Tangan kiri milik Kakashi turun menelusuri paha putih yang terasa halus dan sedikit panas, menyingkap mini dress dan melesakkan tangannya lebih dalam kearea senggama milik Hinata. Wanita itu melengguh, melepaskan ciuman panas yang mereka lakukan.
"A-ahh, shh.." desahan itu hanya membuat Kakashi semakin memuncak.
Kakashi sedikit terkejut ketika Hinata menggulingkan tubuhnya kesisi ranjang yang masih kosong, Hinata merangkak dan mendudukkan dirinya di atas perut Kakashi. Pria itu menahan nafas, merasa takjub dengan pemandangan yang tersaji didepannya.
Hinata melepaskan dress yang ia kenakan dan melemparnya begitu saja ke sembarang tempat, ia juga melepaskan ikatan rambut dan menggeraikannya hingga menjuntai menyentuh kulit perut Kakashi. Hinata menatap sayu ke arah pria yang berada di bawahnya, tangan lentiknya bergerak, menyusuri otot-otot yang terbentuk sempurna pada permukaan perut Kakashi, wajah pria itu kini mulai dihiasi rona merah tipis, pikirannya dipenuhi oleh Hinata.
"emh, ghh." sebuah lengguhan lolos dari bibir Kakashi ketika lidah basah Hinata menyapu area perutnya. Benda kenyal itu kini bergerak ke atas dengan perlahan, seolah menggoda dengan kesan menyiksa yang begitu kentara dirasakan oleh Kakashi. Hinata berhenti ketika wajahnya sudah berada di perpotongan leher kokoh milik Kakashi, wanita itu kembali menjulurkan lidahnya dan menjilatinya seperti kembang gula.
"shh-ah.. Hinatah.." lihatlah, bahkan Kakashi mendesah dan melengguh seperti wanita yang haus akan kenikmatan. Ia menggeram menyadari betapa ia sangat menikmati perlakuan Hinata padanya. Ya, inilah yang diimpikan Kakashi. Bisa menyentuh Hinata dengan perasaan mendamba yang begitu besar, perasaan yang ia pemdam sejak ia bertemu dengan wanita itu.
Kakashi mengangkat tangannya dan mengelus pipi Hinata yang terlihat merona. Wanita itu memejamkan mata, meresapi sentuhan yang diberikan kepadanya.
.
"Naruto.." nama itu lolos dari bibir peach Hinata. Kakashi diam, tubuhnya terasa kaku dan mulai terasa dingin. Hinata menyentuh tangan yang masih menempel di pipinya.
.
"Aku mencintaimu, Naruto.."
.
Brugh!
.
Kakashi mengerjapkan matanya beberapa kali. Masih mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Sakit, ya, ia merasakan hatinya seperti dicubit sesuatu yang tak terlihat. Pria itu menghela nafas dengan kasar. Merasa kecewa pada dirinya sendiri, untung saja Hinata kembali pingsan sebelum pria itu melakukan hal yang lebih jauh lagi. Kakashi sadar, bahwa Hinata tidak akan memandang ke arahnya, tidak akan menganggapnya seperti wanita itu menganggap Naruto dalam kehidupannya. Pria itu sadar, ia hanyalah seorang pengawal yang bekerja untuk menjaga Hinata dan pria itu tidak boleh mengharapkan apapun dari Hinata.
Kakashi memeluk tubuh Hinata yang pingsan di atas tubuhnya. Pria itu meringis ketika menyentuh punggung Hinata yang polos. Tapi ia sudah merasa jauh lebih baik sekarang, organ genitalnya yang sedari tadi terasa panas dan tegang sudah mulai kembali seperti semula. Tidak apa, biarlah ia tetap mengagumi dan mendamba Hinata dalam sebuah perasaan cinta yang tak terungkap. Selama ia bisa berada disisi wanita itu, Kakashi tidak akan menuntut lebih. Karena baginya, Hinata adalah satu-satunya alasan agar ia tetap hidup dan merasakan sebuah titik perasaan yang dinamakan kebahagiaan.
.
.
To be Continued
.
Note : sepertinya cerita ini akan menghabiskan banyak chapter. Jadi, jangan bosan untuk menunggu kelanjutan hubungan SasuHina yang belum muncul yah ^^
Terima Kasih buat follow dan favoritenya, reviewnya ditunggu yah ^^
Kritik dan saran saya terima dengan terbuka
Salam hangat Hexe ^^
