Title : You Wouldn't Answer My Hearts
Author : DandelionLeon (Aleyna Park)
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Xi Luhan, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kim Jongin(Kai), other cast temukan sendiri.
Rate : T++++ (becanda ding ;p)
Genre : Romance, Fluff gagal , School Life , Yaoi (boyxboy).
Pairing : Chanbaek, Hunhan, Kaisoo
Disclaimer : Semua cast disini author cuma pinjam nama. Isi cerita milik author. Jika ada kesamaan nama, tempat atau kejadiannya itu hanya kebetulan semata *sinetron kale -_-*. Dan author gak pernah nyontek tulisan orang, maaf 'nyontek is not my style' :p.
Summary : Chanyeol memaksa Baekhyun menjadi kekasihnya hanya karena sebuah buku harian milik Baekhyun yang berisi tentang dirinya. Dengan niat membuat hati Baekhyun tersiksa saat bersamanya, Chanyeol selalu bermesraan dengan yeoja-yeoja disekelilingnya tepat dihadapan Baekhyun. Dan saat Baekhyun telah lelah meminta hubungan itu berakhir, Chanyeol menolaknya mentah-mentah. Sebenarnya apa mau anak itu? *Sumarry gagal*
Warning : Typo, ejaan yang kurang disempurnakan, judul gak nyambung sama cerita. Buat yang gak senang dengan FanFic Chanbaek atau pun percintaan sesama jenis, kalian boleh tekan tombol close. Gak terima bash dan kritikan yang menjatuhkan! DLDR! Dan buat tangan-tangan jail yang gak kreatif + gak punya ide, mohon jangan copy cerita butut ini, karena kalian juga yang akan rugi, kkkk~
Oke, selamat membaca ^o^
Luhan dan Baekhyun berjalan menuju ruang kesehatan. Sesekali Luhan membuat lelucon agar Baekhyun tertawa. Namun sepertinya tuan Byun itu sedang dalam mood yang buruk. Ia hanya tersenyum masam.
"Kau tak menghargaiku Baekkie, aku sudah susah payah memutar otakku hanya untuk membuat lelucon konyol. Tapi kau hanya tersenyum masam. Wajahmu mengerikan seperti itu Baek."
Baekhyun tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya yang cerewet itu. Ingin sekali ia tertawa, namun hatinya masih sakit dengan kejadian tadi, atau kejadian-kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini.
"Berjalan dengan Baekhyun si pendiam rasanya sangat aneh. Rasanya jarak dari kelas menuju ruang kesehatan seperti menempuh jarak beberapa kilometer. Aigoo~ untung saja sudah sampai. Kajja kita ma_"
Ucapan Luhan terhenti ketika Baekhyun mengisyaratkannya untuk diam. Ia mendengar seperti namanya disebut oleh beberapa orang didalam sana .
'Itu kalian tau, mereka berbeda ! Dan aku namja normal! Kalian tau kan? Baekhyun itu hanya sebuah lelucon saja. Dan tentu kalian juga tau bahwa aku membenci kaum gay.' Bagaikan disayat beribu pedang. Hati Baekhyun yang masih terluka semakin terluka kala mendengar ucapan dari Chanyeol. Ibarat luka yang ditaburi garam, sangat pedih.
'Oh ya? Lalu bagaimana bisa jika kau membencinya kau menciumnya waktu itu? Seharusnya kau menamparnya 'kan? Dan lagi dari mana kau punya foto Baekhyun? ' Kali ini suara Sehun, Luhan mengeram kesal karena kata-kata Sehun. Disatu sisi ia seperti membela Baekhyun secara tak langsung, namun disisi lain ia seperti menyudutkan Baekhyun.
"Terserahmu sajalah Yeol . Aku hanya tak ingin kau jatuh kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Tanyakan hatimu siapa yang kau suka saat ini. Kajja Sehun-a. " Langkah kaki itu kian mendekat ke arah pintu masuk. Baekhyun hendak berlari , namun Luhan menahannya. Dua namja di hadapan mereka terlihat melotot , seperti melihat hantu.
"Luhan? Baekhyun? " Ucap dua namja itu –Sehun dan Kai- secara bersamaan. Luhan menatap mereka tak suka, sementara Baekhyun hanya tertunduk. Bahunya bergetar, ia menggigit bibirnya dengan keras agar tak menimbulkan suara isak tangisnya .
Namja jangkung yang berada di ruang kesehatan –Park Chanyeol-terbangun dari posisi berbaringnya. Ia berjalan menuju tempat teman-temannya saat ini berada. Ekspresinya yang semula datar kini terlihat terkejut akibat namja mungil dihadapannya .
"B-Baekhyun?" Ucapnya tergagap. Baekhyun berlari meninggalkan sekumpulan anak manusia itu disana. Ia tak sanggup lagi meredam semua emosinya.
"Lain kali jika berbicara pakai otakmu tuan Park!" Ucap Luhan dengan tajam sebelum ia berlalu mengejar Baekhyun.
Baekhyun berlari menuju atap sekolah. Ia mulai berteriak seperti orang gila disana.
"Aaaarggghhh! Wae? Kenapa aku sangat lemah? Hiks ! Jika saja aku kaya apakah aku bisa berkuasa juga seperti mereka? Semuanya tak adil~! " Baekhyun teruduk lemah. Ia menangis dengan keras, seperti seorang anak kecil yang kehilangan lollipop kesayangannya.
Tangisannya terhenti saat seseorang beridiri tepat dihadapnnya. Menutupi pandangannya yang sedang melihat awan kelabu saat itu. Ia mendongak untuk melihat siapa pengganggunya kali ini. Apakah para berandalan sekolah yang ingin memukulinya lagi? Atau seorang pangeran berkuda putih yang ingin menolongnya? Opsi pertama mungkin saja terjadi, namun opsi kedua rasanya sangat konyol terjadi di era seperti sekarang ini. Mata nya membulat saat melihat siapa orang di hadapnnya. Ini lebih menakutkan dari Yongguk dan teman-temannya yang selalu menghajar Baekhyun habis-habisan. Dan ini juga lebih menyilaukan dari seorang pangeran berkuda putih seperti yang ada di khayalan Baekhyun.
"P-Park C-Chanyeol ." Ucap Baekhyun dengan terbata-bata. Namja di hadapannya menyeringai lalu mendekati Baekhyun. Ia berjongkok tepat di hadapan Baekhyun.
"Kau tau? Aku sangat membencimu ! Dan saat ini aku semakin membencimu karena kau sangat cengeng seperti yeoja ! Kau menjijikkan ! Aku jadi meragukan orientasi seksual mu Byun! Ah, aku lupa bahwa kau itu, gay. "
Dengan kasar Chanyeol mendorong kepala Baekhyun membuat namja mungil itu sedikit terhuyung ke belakang. Namun tak seperti biasanya. Baekhyun hanya menatap Chanyeol dengan datar.
"Wae? Kau ingin marah padaku? Lakukan saja! dasar miskin , gay , dan menjijikkan! "
Baekhyun ingin menitikkan air matanya lagi ,namun ia mengurungkannya. Ia menggigit bibir bawahnya. Menimbang akan semua ucapan yang akan dilontarkannya kali ini.
"Benarkah? Jika seperti itu, lebih baik kita putus. Aku lelah dengan semuanya. Dan kau fikir cinta itu hanya sebuah lelucon? "Baekhyun telah lelah dengan semuanya. Terhadap tindakan Chanyeol yang seakan-akan ingin membunuhnya secara perlahan. Dan bully-an juga ejekan dari para murid disana kian menjadi-jadi. Apakah mereka tak takut akan ancaman Chanyeol untuk tak menyakiti Baekhyun? Ayolah, mereka semua tau bahwa Chanyeol hanya bermaksud memboikot Baekhyun.
Baekhyun beranjak dari duduknya. Jujur dalam lubuk hatinya, ia tak rela melepas namja bermarga Park itu. Namun disisi lain, hatinya juga tak kuat menahan segala cacian dan tindakan sialan yang dilakukan Chanyeol.
Chanyeol terdiam mematung. Seakan terkejut akan keputusan yang Baekhyun ucapkan tadi. Ia seperti tak rela. Cih! Benar saja kata Jongin dan Sehun bahwa Chanyeol itu naïf dan munafik!
Baekhyun hendak berjalan meninggalkan Chanyeol disana. Namun Chanyeol menahan lengannya agar tetap disana.
"Kau fikir kau bisa semudah itu berlari dariku ? Cih! Kau tetap berstatus sebagai pacarku, dan jangan membantahnya Byun Baekhyun sayang . " Baekhyun memejamkan matanya rapat. Ia sudah tau hal ini akan terjadi . Belum puaskah Chanyeol menyiksanya? Aku rasa iya, si keras kepala itu terang saja belum puas melihat Baekhyun menderita. Entah alasan apa yang membuatnya begitu membenci Baekhyun.
"Terserah kau saja. Aku lelah Chanyeol-ssi." Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol yang memegang tangannya. Ia berjalan menjauh. Mau protes atau bagaimana pun tetap saja Chanyeol yang akan menang. Dari pada melawan dan ujung-ujungnya dihajar habis-habisan, lebih baik bungkam untuk saat ini.
Chanyeol terdiam ditempatnya dengan senyuman sinis .
" Kau belum ku dapatkan dan aku belum puas membuat mu menderita. Kau takkan bisa lari dariku."
Baekhyun berjalan dengan langkah pelan. Baru saja ia ingin berjalan menuju taman belakang sekolah tiba-tiba saja sebutir telur terlempar ke kepalanya. Ia meringis pelan lalu mencari siapa pelakunya. Baekhyun terkejut saat secara tiba-tiba para penguasa di Victory High School melemparinya dengan banyak telur dan juga tepung. Baekhyun hanya terdiam seperti patung. Ia sudah terbiasa, terbiasa diperlakukan demikian. Ia merasa muak dengan anak-anak disini. Berbeda sekali dengan teman-teman Baekhyun di Junior High School dulu.
"Rasakan itu Byun Baekhyun!"
"Dasar tak tau diri! Kenapa kau berpacaran dengan Chanyeol, hah?"
"Hey, apa kau tak capek terus-terusan menjadi bantalan tinju? Menyedihkan sekali kau ini."
"Mati saja kau!"
Baekhyun menunduk diam. Ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Hentikan kalian semua!" Teriak Kyungsoo yang berlari pada kerumunan itu. Mereka semua bubar karena mendapat tatapan mengerikan dari Do Kyungsoo.
"Sekali lagi kalian mengganggunya aku takkan segan menjadikan kalian menu makanan di restoran ayahku!" Semua bergidik ngeri. Jika sudah mengamuk Kyungsoo bisa berubah seperti psikopat, asal tau saja.
"Baek? Gwaenchanayo? Kajja kita membersihkan tubuhmu dulu?" Ajak Kyungsoo sembari merangkul pundak sempit Baekhyun.
"Kau pergi saja Kyung-a, aku… Aku bisa membersihkan ini sendiri." Baekhyun terus menunduk dalam. Cairan bening dari matanya terus saja mengalir.
"Baek? Kau menangis?" Tanya Kyungsoo lirih.
"T-tidak Kyung, hiks….A-aku pergi dulu." Kyungsoo menatap punggung Baekhyun yang menjauh. Tanpa Baekhyun ketahui Kyungsoo juga menangis. Karena sejujurnya Kyungsoo sangat amat menyayangi Baekhyun.
"Kuatlah Baek sampai kita lulus nanti." Lirih Kyungsoo.
Baekhyun berjalan menuju lokernya berada. Lagi-lagi apa yang dilihatnya? Kekasihnya sendiri berciuman dengan yeoja lain di ruang ganti milik namja. Baekhyun terus berjalan menuju lokernya tanpa mempedulikan pemandangan yang ckup menghancurkan hatinya itu. Ia berpura-pura tak peduli, namun kepalanya terasa sangat sakit melihatnya.
"Dara noona, saranghae" Sayup-sayup Baekhyun mendengar suara Chanyeol menyebut nama 'Dara'. Apakah ia telah berbalikan kembali? Fikir Baekhyun dalam hatinya. Ia mencengkram erat kemejanya yang sudah tak layak pakai karena banyak tepung dan telur menempel disana.
"Channie, aku ingin tau apakah kau benar-benar menyukai pacarmu itu?" Mendengar hal itu Baekhyun menajamkan telinganya.
"Ck! Noona bicara apa sih? Dia itu hanya bahan taruhan, tak lebih." Seperti tak ada rasa bersalah sama sekali Chanyeol mengucapakannya. Cukup, Baekhyun semakin merasa dungu sekarang. Apakah ia hanya bantalan tinju? Rasanya lebih sakit dari pada di lempari ribuan telur oleh teman-temannya.
"Benarkah? Mianhae Channie, aku salah paham saat dulu. Aku tau kau hanya dijebak oleh orang-orang yang tak menyukai hubungan kita."
Baekhyun menutup telinganya dengan kuat. Dengan sialannya ponsel Baekhyun berdering saai itu pula. Tertera nama 'Xiumin hyung' disana. Baekhyun berbicara sambil berbisik.
"Mwoya hyung?"
'Yak! Baek! Cepatlah pulang! '
"Ck! Aku tengah berada di sekolah hyung."
'Aissh! Ini darurat! Kau tau? Yeoja yang katanya mencintaimu itu datang lagi kemari dan mengancam akan mengacaukan café jika kau tidak menampakkan batang hidungmu!'
"Mwo? Jiyeon ada disana? Astaga! Hentikan dia hyung, dan katakan padanya aku sebentar lagi pulang." Teriak Baekhyun tanpa sadar.
'Yak! Oppa! Kau cepat datang! Aku akan menikahi ayahmu jika kau tidak pulang!'
Baekhyun memutar bola matanya malas. Dengan cepat ia memutuskan panggilan itu.
"Mwoya? Ada bocah yang menguping disini?"
DEG!
"C-Chanyeol?" Lirih Baekhyun.
"Ck! Kau mau mati?" Baekhyun menelan ludahnya kasar. Ia sudah melihat tak ada lagi Sandara disana.
"M-mian, aku bahkan tak tau kau_"
"Bohong! Bahkan aku melihatmu masuk tadi!"
Lama mereka terdiam hingga Baekhyun menantang tatapan Chanyeol.
"Lalu? Memangnya kenapa? Sudahlah Chanyeol-ssi, aku mau pergi!"
BRAKKKK…. Chanyeol menghempaskan tubuh mungil itu pada dinding loker. Ia mencengkram keras kerah baju Baekhyun.
"Kenapa? Kenapa kau selalu mengikutiku hah?"
"Apa? Kapan aku mengikutimu? Itu semua hanya kebetulan saja. Lagi pula aku tak peduli siapa yang kau cium atau kau apakan karena bukankah kita tak ada hubungan apapun lagi?" Tanya Baekhyun dengan air mata mengalir dikedua matanya.
"Jinjja? Siapa yang mengatakan jika kita sudah putus?"
"Lalu siapa pula yang mengatakan kita pernah jadian?" Balas Baekhyun sengit.
"Disini aku yang berkuasa, jadi ikuti saja apa yang kukatakan." Ucap Chanyeol dingin.
"Apa karena kau kaya? Aku tak mengerti dengan jalan fikiranmu Chanyeol-ssi. A-aku, aku mencintaimu tetapi kau seolah menekanku. Kau membuatku seperti boneka. Jika kau ingin menyiksaku jangan jadikan aku kekasihmu, tetapi jadikan aku musuhmu." Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol yang mencengkram erat kerah bajunya. Chanyeol terdiam mematung disana seorang diri. sejujurnya ia juga tak mengerti dengan jalan fikirannya, tentang hatinya, tentang semuanya.
"Kau membuatku gila Baekhyun sialan!" Ucapnya lirih.
Baekhyun merendam tubuhnya di bathub. Luka memar disekujur tubuhnya terasa sangat nyeri saat kulitnya mengenai air hangat di dalam bathub. Tubuhnya serasa sangat lelah. Untung saja hari ini fans maniaknya patuh saat disuruh pulang oleh Baekhyun. Baekhyun mengusap tubuhnya dengan sabun cair hingga berbusa. Namja mungil itu juga mengusap rambutnya dengan shampoo ekstra agar tak bau telur. Setelah selesai berendam ia berjalan menuju shower dan membilas tubuhnya.
Baekhyun berbaring di tempat tidur dengan nyaman. Setelah berganti pakaian dulu tentunya. Perutnya mendadak sakit, mungkin akibat pukulan Chanyeol tadi. Baekhyun berjalan menuju lantai bawah. Keadaannya sangat sepi karena ayahnya belum pulang dinas luar kota. Ibunya, ia tak memiliki ibu bahkan Baekhyun tak tau siapa ibunya. Baekhyun memandang suasana rumahnya sendu.
"Andai aku punya ibu." Lirihnya pelan. Baekhyun meringkuk disofa ruang tamu. Rumah Baekhyun tergolong besar, namun tak sebesar rumah-rumah chaebol di sekolahnya.
"Aku ingin mati saja!" Lirihnya lagi. Akhirnya namja mungil itu tertidur dengan pulasnya di sofa ruang tamu dan meringkuk seperti anak anjing kedinginan.
Hari ini Baekhyun terlihat sedikit lebih ceria dari biasanya. Mungkin karena sudah mengucapkan sedikit uneg-unegnya kemarin pada Chanyeol. Ia tersenyum tipis saat ada teman sekelasnya yang bertemunya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tak semua murid disana membenci Baekhyun.
Eyeliner yang dipakainya hari ini terlihat lebih tegas dan tebal. Mungkin untuk menutupi matanya yang sedikit sembab karena menangis semalam. Ia duduk dibangkunya sambil membuka kotak bekalnya. Untungnya tadi pagi Chen-pegawai yang bekerja di café ayahnya- memberinya makanan itu.
Baekhyun membuka kotak bekal tersebut. Betapa senangnya ia saat melihat udang goreng tepung, cumi-cumi dan beberapa telur gulung beserta nasi. Semua itu adalah makanan kesukaannya. Setidaknya masih ada yang peduli padanya bukan?
Baekhyun menyuapkan udang goreng ke mulutnya. Ia tersenyum-senyum sendiri saat melahap makanan-makanan itu. Ketenangan tersebut musnah saat Sehun,Jongin dan Chanyeol memasuki kelasnya. Ingin rasanya ia membanting ketiga orang itu, namun ia masih tau diri. Padahal Baekhyun sengaja datang pagi-pagi sekali agar tak bertemu tiga orang itu tepatnya Chanyeol.
"Wah Yeol, kekasihmu membawa bekal enak." Ucap Jongin. Baekhyun melanjutkan acara makannya tanpa mempedulikan orang-orang itu. Ia ingin menjadi Baekhyun yang tak peduli pada siapapun saat ini.
"Byun Baekhyun, setidaknya kau bawakan untuk kekasihmu juga, kkk~" Sehun dan Jongin tertawa setelah Sehun mengucapkan hal tersebut.
"Ada apa kalian kemari?" Tanya Baekhyun tenang.
Chanyeol sedikit tersentak namun ia menggelengkan kepalanya.
"Memangnya tidak boleh? Ini sekolah milik ayahku."
Baekhyun hanya terdiam dan lanjut memakan bekalnya.
"Chanyeol! Kau disini? Noona membawamu bekal." Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar saat yeoja yang dibencinya masuk kedalam kelas, Sandara. Apakah Chanyeol hanya ingin pamer kemesraan saja? Baekhyun memakan bekalnya dengan cepat hingga mulutnya hampir penuh.
"Jinjja? Kau baik sekali sayang?"
Baekhyun menutup matanya rapat saat mendengar hal tersebut. Sehun mendekatinya begitupula dengan Jongin.
"Hey Baek, bolehkah kami minta bekalnya?"
"Tidak boleh, kalian kaya beli saja sendiri!" Teriak Luhan secara tiba-tiba, entah sejak kapan ia masuk kekelas. Sehun mencibir ke arah Luhan.
"Dan kau Park Chanyeol, Sandara noona. Bisakah kalian bermesraan ditempat lain saja? Aku mual melihatnya." Sindir Luhan seraya menatap sinis dua makhluk itu.
"Terserahku, memangnya kau siapa? Ayo pergi noo_"
"Yeboseyo Chen hyung? Hahaha, bekalnya? Enak sekali. Aku selalu menyukai apapun yang kau buat Chentong! Hahaha." Langkah Chanyeol terhenti saat mendengar Baekhyun yang sepertinya tengah bertelpon itu.
"Mwo? Jiyeon yang membuat? A-aku tau ini beracun, astaga!" Pekik Baekhyun dengan keras. Kelima orang disana hanya menatap Baekhyun bingung.
'Oppa! Tadi katanya enak? Aku sengaja bangun pagi untuk membuatnya!'
"Ck! Baiklah, ini enak. Pergilah sekolah Jiyeon-a. Jangan hanya menungguku di café."
"Siapa?Jiyeon?" Tanya Luhan sambil berbisik. Sehun menatap tak suka saat Luhan menyebut nama itu dengan senyum, dasar aneh. Baekhyun hanya mengangguk malas.
'Aku akan sekolah jika kau menciumku nanti!'
"Aku tak bisa, nanti ayahmu mencincangku." Balas Baekhyun sambil terus melahap makanannya.
'Geurae? Kalau begitu panggil aku chagi.'
"Apa? Kau gila? Malas! Aku tak berselera pada yeoja." Sehun dan Jongin terkikik mendengar ucapan Baekhyun itu, seperti mengejek. Chanyeol? Ia berjalan mendekati Baekhyun.
'Kalau tidak aku akan disini sampai kau pulang!'
"Baiklah, arraseo chagiya? Puas kau? Pergi kesekolah, oppa mau makan dulu ne?"
Chanyeol menghentikan langkahnya, ia tersenyum miring. Apakah Baekhyun berniat membuatnya cemburu? Cih! Lucu sekali.
'Kyaaaa! Gomawo! Untuk yang terakhir panggil aku yeobo!"
Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar, ia berteriak seperti ahjumma-ahjumma. Jongin dan Sehun sampai bingung sendiri melihatnya.
"Araseo! Yeobo, puas kau hah?! Cepatlah pergi atau_"
PRANGGG! Dengan paksa Chanyeol meraih ponsel Baekhyun dan membantingnya sampai pecah. Baekhyun membelalakkan matanya begitu pula yang lainnya.
"A-apa-apaan kau Chanyeol-ssi?"
"Kau perlu dihukum Byun Baekhyun, beraninya kau berselingkuh dibelakangku? Kau itu 'pacar'ku, camkan itu!"
Dan Baekhyun hanya mampu memijat pelipisnya. Bingung dengan sifat aneh yang diderita sang pangeran Victory High School itu.
=bersambung dengan tidak elitnya=
Wahahaha, gimana? Apakah author kurang nyiksa baekhyun-a? gimana ya? Chanyeol ngancam gak bakal mau jadi cast di ff author lagi kalo author buat baekhyun tersiksa sampe mati *plakkk*. Buat yang bilang alurnya kecepatan, maaf ne? hehehe, semua udah ada alur ceritanya.
Eniwey…author seneeeng karena banyak yang mau review. Gomawo~ *bow* . buat yang ngerasa ff ini kurang menyakitkan, kalian bisa baca ff ini sambil nyayat tangan pake piso *abaikan* … kkkk~ wokeh, review padat, update kilat….
Read and review jusseyou~ saranghae *love sign*
