Adoption
Kuroko no Basuke © Tadoshi Fujimaki
Written by : Ayano Yanagita
Pairing : Little GoM x GoM (?)
Genre : Family & Humor
Warning : Little bit OOC, Boy x Boy and typo(s)
Chapter 4 : Aomine Daiki
.
.
.
"Aominecchi curang ssu!"
Teriakan anak bersurai blonde memenuhi lapangan basket mini disamping sebuah bangunan bernuansa cream
"Apa yang curang Kise? Kau saja yang tidak bisa mengalahanku hahaha" anak berambut dark blue berlari. Tangannya tetap setia mendribble sebuah bole bewarna orange. Ia keluar dari garis three point dan bersiap untuk men-shoot. Namun anak lain berambut pirang dengan cepat melompat untuk mem-block tembakannya. Anak bersurai dark blue itu memutar bola melewati si pirang. Setelah itu berlari menuju ring dan melakukan lay up dan mencetak angka lagi
"Curang ssu! Seharusnya tadi itu giliranku" suara cempreng si pirang terdengar lagi. Ia memprotes dan mengomel sedangkan si anak berambut dark blue menanggapinya dengan malas
"Urusai naa Kise! Kau me_"
"Kise-chin.. Mine-chin. Kata Kasamatsu-sensei saatnya makan siang nee~" sosok anak berambut ungu yang tengah memakan sebungkus keripik kentang menyudahi pekelahi antar anak berambut dark blue dan si pirang
"A-ah! Murasakicchi! Ayo kita pergi. Kita tidak kenal yang namanya Ahominecchi kan?" si pirang menarik tangan si ungu sedangkan si ungu membiarkan saja si pirang menarik tangannya
"Kise! Murasakibara! Tu-tunggu aku!" akhirnya anak berambut dark blue mengikuti mereka dari belakang tanpa mengucapkan apa-apa lagi
.
.
.
"Itadakimasu!"
Disebuah meja dengan panjang sekitar 2,5 meter dan lebar 1 meter terdapat sekitar 14-18 kursi dimana semuanya ditempati oleh anak-anak kecil. Terdapat lebih dari 12 hidangan diatas meja sana dan semuanya mencomot apapun yang mereka ingin makan sehingga ruangan itu ribut dengan bunyi sendok yang memukul piring atau pun teriakan 'Itu punyaku!' dan sebagainya.
"Semuanya pelan-pelan. Jangan berebutan. Akashi! Jangan membaca sambil makan. Tetsuya habiskan makananmu atau sensei akan menyita milkshakemu. Murasakibara, jangan mengambil makanan Himuro lagi. Kagami makan dengan pelan atau kau akan tersedak. Midorima, jangan membawa benda-benda aneh ke atas meja makan!. Aomine berhenti membuat Momoi menangis dan Kise jangan memoto atau menggunakan handphonemu saat sedang di meja makan" pria berambut hitam sibuk bolak-balik membawa menu makanan dari dapur. Memang ada sosok lain yang membantu namun nampaknya pemuda inilah yang lebih sibuk dari yang lain.
"Kasamatsu-sensei! Atsushi mengambil sushiku lagi"
"Eh~ tapi Muro-chin kan tidak suka sushi"
"Tapi itu bekalku Atsushi. Kembalikan"
"Eeehh~ tidak mau. Ini kan bekasku"
"Kau tidak bisa memerintahku Yukio!"
"Sensei.. Ano nee. Milkshakeku habis. Boleh aku minta lagi?"
"Tapi ini lucky itemku nanodayo"
"Hueee... Sensei! Dai-chan memukulku"
"U-uso! A-aku tidak.."
"Kasamatsucchi! Ahominecchi memukul Momocchi!"
"Sensei..."
Sosok bernama Kasamatsu Yukio itu memijit kepalanya. Pusing dengan semua ucapan anak didiknya. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali lagi kedapur. Setelah itu ia kembali membawa segelas milkshake dan sebuah piring baru
"Himuro. Ini, ambil lagi nasimu dan Tetsuya ini milkshakemu, cepat habiskan makananmu" Kasamatsu memberikan piring itu kepada seorang anak berponi, berambut hitam yang menghela nafas kecil lalu mengambil (ulang) makan siangnya. Sesudah itu Kasamatsu memberikan gelas itu kepada anak bersurai biru muda yang langsung disambut dengan senang oleh anak itu.
Selang 1 jam lebih acara makan siang itu selesai. Semua anak-anak disana meloncat turun dari kursi mereka dan bubar. Sekarang Kasamatsu berserta 2 orang rekan timnya yang lain membereskan meja makan
"Aomine! Kau tetap disini dan bantu sensei membersihkan dapur" perintah telak dari Kasamatsu membuat anak bersurai dark blue yang dipanggilnya Aomine mendengus kesal
"Memangnya salahku apa?" tanyanya. Tangannya masih memegang sebuah bola basket yang kusam. Kusam? Ya, karena hampir setiap hari ia hanya bermain permainan itu. Baik sendiri maupun berkelompok
"Biar sensei ingat. Hmm... Pertama kau membolos sarapan, kedua kau memecahkan barang milik Momoi, ketiga kau membuat Momoi menangis dan ke-empat kau berani membantah sensei" Kasamatsu mengangkut satu tumpuk piring diatas meja, menggunakan dagunya untuk menyeimbangkan semua piring itu supaya tidak jatuh
"Mou.. Kasamatsu. Jangan terlalu keras begitu. Hora kau membuatnya cemberut hahaha" sosok lain yang berambut hitam yang sedang menyapu lantai mendatangi Aomine, ia menepuk kepala Aomine yang langsung diprotes oleh sang pemilik
"Aku tidak keras Moriyama. Kau saja yang terlalu lembek. Kembali berkerja dan Aomine tugasmu merapikan kursi-kursi dan bersihkan kamarmu" seusai berkata seperti itu Kasamatsu menghilang dibalik sebuah pintu dengan semua piring-piring kotor didalam gendongannya
"Tch. Kenapa aku yang kena?! Bukannya Akashi juga berani membantah Kasamatsu. Atau dia memanipulasi Kasamatsu sehingga tidak mendapat hukuman? Hm! Dasar iblis tengik!"
"Siapa yang kau panggil iblis tengik Daiki?!"
GLEK
Aomine menolehkan kepalanya perlahan dan mendapati sosok anak berambut merah yang menggenggam erat tangan anak berambut baby blue dibelakangnya
"A-a-akashi! I-itu.. Ya-ya.. A-aku hanya eum.. Lu-lupakan saja ahahaha" Aomine menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal namun bukannya tatapan anak berambut merah itu melembut. Tatapannya malah semakin tajam
"Rupaya kau merindukan guntingku kan Daiki?" seringai anak itu berubah menjadi seringai yang menakutkan, ketika ia berjalan menuju Aomine yang tengah komat-kamit tidak jelas, sebuah suara menghentikannya
"Tidak boleh Akashi-kun. Kau harus baik dengan semua orang termaksud Aomine-kun" suara lembut dari anak bersurai baby blue membuat Akashi Seijuro. Anak berambut merah itu mengurungkan niatnya untuk bermain (menindas) dengan Aomine
"Te-tetsu! Kau memang penyelamatku" Aomine berlari kencang dan memeluk anak berambut baby blue itu dengan erat sedangkan anak yang dipeluknya hanya diam tanpa membalas pelukannya
"Akashi-kun. Kau boleh menyerang Aomine-kun bila ia tidak melepas pelukannya" jawaban dari mulut Kuroko. Membuat Aomine diam tidak berkutik dan langsung melepaskan pelukannya
"Kau tidak asyik Daiki. Seharusnya kau tetap memeluknya" Akashi mendengus kesal dan memasukan kembali guntingnya kedalam sakunya
"Tetsuya. Kita kembali ke perpusatakaan. Kau ingin aku membacakan cerita lagi kan?" lanjut Akashi dan dijawab anggukan singkat dari Kuroko
"Selamat menjalani hukuman Aomine-kun. Ganbantte" ucapnya datar lalu berlari mengejar sosok Akashi yang sudah berjalan didepannya
Aomine melongo sebentar. Nasib... Ia pikir mereka berdua akan membantunya. Ternyata...
'Sungguh kejam...' umpatnya dalam hati lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
.
.
.
"AOMINECCHI!"
HUP!
Aomine mendarat dengan sempurna. Sekarang ia berada diluar pagar pembatas raksasa dari Panti Asuhan Teikou Junior
"Psstt.. Kise! Jangan berisik. Aku akan kembali nanti jaa naa" ia berlari melambaikan tangannya meninggalkan si pirang. Kise Ryouta menganga sendirian di depan gerbang
"E-eh?! Kasamatsucchi-sensei!" Kise langsung lari tunggang langgang memasuki bangunan dan mencari sosok bernama Kasamatsu untuk melapor kejadian itu.
Aomine's Place
Aomine berjalan dengan riang di tengah kerumunan orang di taman. Ia bermain-main dengan air mancur disana dan cuek dengan semua pandangan suka atau pun tidak dari orang-orang disana
"Maa.. Tidak kusangka" ucapnya kepada dirinya sendiri. Setelah itu Aomine berkelana. Dengan modal uang hasilnya bermain streetball (secara diam-diam) Aomine membeli beberapa barang yang ia inginkan. Seperti es krim dan lain-lain.
Ketika sedang dalam perjalanan menuju panti asuhannya...
"A-ano.. Su-sumimasen. Tapi.. Bisakah kau membantuku?"
Sosok pemuda berambut coklat muda menghentikan Aomine. Tangannya menggenggam bahu Aomine dan membuat sang empu menoleh
"Ha? Kau perlu apa?" Aomine menatap malas laki-laki didepannya. Kalau dilihat dari segi penampilan orang ini adalah orang yang berkelas dan tentu saja kaya kan?
"E-eto.. A-apa kau tau dimana panti asuhan Teikou Junior?" Mendengar itu Aomine mengerjapkan matanya. Apa orang ini terlalu bodoh sampai tidak tau lokasinya. Atau orang ini orang baru di kota ini? Aomine tau. Panti asuhannya merupakan suatu bangunan yang terkenal sekitar sini lantas kenapa pemuda ini bertanya? Tak mau ambil pusing Aomine mengangguk saja
"Ya. Aku salah satu anak asuh disana. Apa kau tersesat?" tanyannya. Aomine membalikan badannya supaya ia bisa melihat jelas laki-laki yang sedang berjongkok didepannya
"E-eh?! Su-sumimasen. A-aku lupa alamatnya. Ke-kertasnya hilang su-sumimasen" orang itu meminta maaf dan menunduk beberapa kali membuat beberapa orang melihat mereka dengan tatapan bingung. Merasa menjadi pusat perhatian membuat Aomine jengah dan mundur menjauhi laki-laki itu
"Ya sudah. Aku bisa membawamu kesana tapi berhenti bersikap aneh" Aomine mendengus, pemuda itu menatap Aomine tanpa bersuara, matanya melihat Aomine dengan antusias dan mulutnya menganga membuat Aomine bergindik ngeri
"A-apa?!" tanya Aomine dengan galak. Namun bukannya pemuda itu merasa tersinggung atau marah. Malah pemuda itu tersenyum lebar
"A-arigatou! Su-sumimasen. Aku tidak bermaksud merepotkan. Tapi Arigatou gozaimasu!" Pemuda itu berdiri dan membungkukan lagi badannya
"Su-sudah. Berhenti meminta maaf" Aomine mengangguk sekali dan berjalan kedepan
"E-eh?! Kau mau kemana?" tanya sosok itu
"Ke panti asuhan. Kau ikut atau tidak?" Aomine bertanya balik sedangkan pemuda itu tertawa kecil
"Tidak jalan kaki. Kita kesana naik mobil bisa?" tanyanya dengan sopan. Aomine menganga. Seumur hidup ia tidak pernah naik mobil, kalau naik odong-odong atau bus sih pernah. Aomine berpikir sebentar sebelum akhrinya mengangguk
"Baik, ayo kita ke parkiran" jawab pemuda itu dengan ramah dan langsung menarik tangan Aomine menuju mobilnya.
"Hn..." hanya itu yang bisa keluar dari mulut Aomine sementara tangannya di genggam oleh orang 'asing' yang ia temui
.
.
.
"APA?! AOMINE KABUR?!" Kasamatsu yang sedang meminum botol air mineralnya tersedak. Kise mengelap wajahnya yang sudah menjadi korban semburan dari Kasamatsu
"Mou... Kasamatsucchi-sensei. Tidak usah menyemburku juga kenapa!" jawab Kise dengan nada datar. Toh mau marah dengan orang yang sedang ngamuk apa gunanya?
"Kau lalai Yukio. Seandainya kau lebih mengawasi brandalan itu ia tidak akan mudah untuk kabur" Akashi melipat kedua tangannya diatas dadanya. Tetap setia duduk disamping Kuroko yang asyik dengan dunia bacaannya
"Aku tau Akashi! Tapi ia berani sekali kabur dari sini! Mattaku! Apa isi pikiran anak itu" Kasamatsu menghela nafas panjang. Sekarang sakit kepalanya kembali menerjang
"Kasamatsu-sensei.. Tenang nee~ aku yakin Dai-chan akan segera kembali" anak berambut pink bernama Momoi Satsuki memijat pelan tangan Kasamatsu sambil tersenyum dan itu membuat sakit kepala Kasamatsu sedikit berkurang
"Ya. Aku setuju dengan Momoi. Aku yakin si Aho itu pasti pulang nanodayo. Ta-tapi ini bukan berati aku peduli dengannya atau apa!" pemuda berambut hijau disamping Kuroko mendorong kacamatanya naik keatas hidung peseknya (#ditendang). Ditangannya terdapat satu paket alat tulis lengkap yang katanya lucky itemnya hari ini
"Seperti biasa kau memang tsundere nee Shintarou" anak berambut hitam disamping Akashi tertawa kecil sedangkan si raksasa ungu disampingnya sama sekali tidak tertarik untuk masuk dalam percakapan mereka
"Aku bukan tsundere nanodayo. Dasar Himuro freak dan Murasakibara bisa kau berhenti menguyah? Hal itu menggangguku nanodayo" anak bersurai hijau dengan nama Midorima Shintarou membalas ucapan anak berambut hitam bernama Himuro Tatsuya yang mengangkat bahunya dengan cuek lalu mengelap mulut si bayi raksasa disebelahnya yang bernama Murasakibara Atsushi
"Bisa kalian tenang?! Kalian membuat Kasamatsu-sensei menjadi makin pusing. Tolong diam de...su!" anak berambut merah menyala di samping Kasamatsu sedikit membentak teman-temannya dan ia mendapat hadiah death glare gratis dari Akashi
"Kau memerintahku Taiga?!" anak bernama Kagami Taiga itu bergindik ngeri lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat
"Bagus. Sekarang tutup mulutmu dan matilah!" ucapn Akashi dengan sinis
"Maa.. Maa.. Pokoknya sekarang kita harus mencari Aominecchi ssu~ atau ia akan tersesat" Kise menatap teman-teman seperjuangannya, setelah itu melihat Kasamatsu yang tersandar lemas di bangkunya
"Negative! Itu merepotkan Kise"
"Biarkan saja nanodayo. Itu hukumannya"
"Aomine-kun pasti akan pulang. Benar kan Akashi-kun?"
"Hn. Kau benar Tetsuya. Daiki pasti ingat jalan pulang"
"Hee~ keripik kentangku habis Muro-chin~"
"Atsushi. Tolonglah. Kita fokus dulu ke masalah ini"
Kasamatsu menatap diam anak-anak didiknya. Perkelahian seperti ini memang sudah menjadi kebiasan buat mereka namun hampir semuanya tidak di sengaja. Hal ini pasti bermulai dari pekelahian membicarakan sesuatu yang penting namun tidak penting dan berakhir dengan adu mulut ataupun tanding basket.
"Baiklah semua tenang se_"
"Kasamatsu!"
"..."
"Apa Moriyama?"
"Aomine datang kemari dengan Sakurai. Nampaknya Sakurai mengantar Aomine kesini tapi... Kenapa Aomine bisa bertemu dengan Sakurai?"
Penyataan dan pertanyaa Moriyama membuat semua yang diruangan (minus Akashi, Kuroko dan Himuro) bersweatdrop ria
'Moriyama-sensei... Aho!' ucap mereka semua dalam hati masing-masing
-Adoption-
"Arigatou karena sudah mengantarku kemari Aomine-san" pemuda berambut coklat membukakan pintu dan Aomine langsung melompat turun dari dalam mobil itu
"Ya. Arigatou juga karena sudah mengantarku dengan selamat Sakurai-san" Aomine tersenyum namun senyumannya pudar ketika ia melihat Kasamasu berserta teman-temannya berlari keluar ke arahnya
'Mampus!' ucap Aomine dalam hati
"Ja-jaa.. Ka-kalau begitu aku permisi Sakurai-san. Aku ada banyak P_ WADAW!" Aomine melolong kesakitan ketika badan Kise dan Momoi menindihnya dan menimpanya diatas tanah
"HUEEE! AOMINECCHI KAU KEMANA SAJA SSU!~ KAMI KHAWATIR KAU TAU! HUEEE" Kise mengalap ingusnya di baju Aomine dan membuat Aomine ingin muntah olehnya
"U-uh.. Kise kau menjijikan. Kalian beruda. Menyingkir dariku" Aomine mencoba mendorong Kise dan Momoi namun apa daya. Ia tertindih dua orang yang memiliki berat yang hampir sama dengannya
"TIDAK MAU! HUAA DAI-CHAN! GOMEN NEE! AKU TIDAK BERMAKSUD JAHAT TADI DENGANMU HUAAA"
"He-hentikan Satsuki! Justru sekarang kaulah yang jahat denganku. Menyingkir. Apa kalian ingin membunuhku?!" Aomine terus memberontak. Meminta Kise dan Momoi melepaskannya namun hal itu sia-sia saja.
-SKIP TIME-
Setelah kejadian kemaren. Aomine di-introgasi habis-habisan oleh sensei-senseinya dan juga teman-temannya sampai malam. Aomine hanya mengangguk dan mengucapkan 'Iya' atau 'Baiklah' dan 'Terserahku saja!' dan akhirnya mendapat jitakan gratis dari Kasamatsu, gunting melayang dari Akashi, lemparan maibou dari Murasakibara, tatapan sinis dari Himuro, tendangan dari Momoi, ignite pass dari Kuroko, ceramah dari Kagami, kata-kata pedas dari Midorima dan terakhir ancaman rusaknya gendang telingannya gara-gara tangisan cempreng milik Kise
Setelah kejadian hari itu. Hari demi hari berlalu, Aomine semaki sering bertemu dengan Sakurai hanya untuk mengobrol atau bergabung dengan mereka untuk bermain basket dan permainan itu berakhir dengan dua cara. Satu Aomine dan Akashi yang bertengkar karena satu berkata "Since I always win, I'm always right!" dan yang satunya berkata "The one who can beat me is me alone!" atau karena Kise yang cenderung cengeng dan membenci sikap curang Aomine dan karena ia tidak iklas kalah dengan Aomine lalu melempar bola basket dan membuat Aomine tercebur ke kolam dan akhirnya baku hantam antara Kise dan Aomine sudah tidak bisa dihindari lagi dan hal itu membuat Kasamatsu dan Sakurai mau tidak mau jadi sibuk melerai keduanya. Sedangkan yang lain? Mereka hanya diam di lapangan dan menatap datar kejadian itu.
Keesokan harinya, seteah Aomine menghabiskan malamnya dengan amat sangat tidak tentram Aomine terbangun di pagi hari yang cerah. Awal dari dunianya yang baru. Setelah tidak membolos ikut sarapan dan sekali lagi mendapat peringatan dan ceramah dari Kasamatsu, Aomine kembali ke kamarnya. Bermain-main dengan mobil mainannya sampai akhirnya Kasamatsu masuk kedalam kamarnya
"Aomine?"
"..."
CEKLEK
Kasamatsu menatap Aomine yang menatap balik kearahnya. Pandangan anak itu tetap sama. Wajah pemalasnya menatap Kasamatsu dengan tatapan 'Ada apa?'
"Kau menyukai Sakurai?" Tanya Kasamatsu to the point. Aomine menghela nafasnya sebelum akhirnya ia mengangguk
"Bagus. Kau tau, Sakurai sudah memintamu. Namun bukan itu permasalahannya" Kasamatsu duduk tepat disebelah Aomine. Aomine menaikan kedua alisnya namun setelah itu sibuk kembali dengan mobil-mobilannya
"Aomine. Kau mendengarku kan?" Kasamatsu memperhatikan Aomine yang masih asyik dengan mobil-mobilannya. Hening beberapa saat sampai akhirnya Kasamatsu mendengar tawa kecil dari mulut Aomine
"Ya.. Aku mau ikut dengannya. Tapi apa kau sanggup mengawasi si Baka Kise itu ketika aku pergi?" Aomine menyeringai kearah Kasamatsu. Kasamatsu terdiam sejenak lalu menepuk kepala Aomine
"Baka! Tentu saja aku bisa. Kau yakin dengan keputusanmu Aomine? Aku takut mereka akan mengembalikanmu lagi setelah beberapa hari" canda Kasamatsu membuat Aomine mendengus
"Aku ini anak baik sensei. Tenang saja. Mereka tidak akan mengembalikanku kecuali kalau aku yang minta dibawa kemari" Aomine tertawa nista membuat Kasamatsu ikut tertawa (paksa) bersamanya.
"Baiklah. Anak-anak kalian dengar kan? Si Aho ini sudah membuat keputusan" Kasamatsu menoleh ke arah pintu. Aomine sempat ingin protes namun ia mengurungkan niatnya dan ikut menoleh ke arah pintu kamarnya dan melihat semua teman-temannya menatapnya dengan pandangan sedih (tidak bagi seorang Akashi Seijuro)
"Minna..." Aomine berdiri dan berjalan kearah teman-temannya. Seketika semuanya menghambur masuk dan saling memeluk Aomine dengan erat
"Hiks, Dai-chan. Ba-baik-baik disana nee hiks" Momoi menangis sambil memeluk Kuroko. Mungkin karena Kuroko memeluk Aomine dari samping maka itu alasan mengapa Momoi memeluk Kuroko atau... Semua itu Cuma modus terang-terangan? Entah. Hanya Momoi dan Author yang tau (plakk!)
"Hn. Pasti Satsuki" Aomine mengangguk semangat
"Aomine-kun. Jangan lupakan kami"
"Makan yang teratur disana ssu~ jangan sering begadang"
"Ingat untuk selalu membawa lucky item nanodayo. Ta-tapi ini bukan berarti aku peduli denganmu"
"Jangan melakukan hal bodoh disana Daiki"
"Hn. Tatsuya benar. Jangan mempermalukan kami"
"Mine-chin~ makan yang banyak supaya kau bisa tinggi nee~"
"Kau rival terbaikku Aomine! Aku tidak akan langsung melupakanmu de..su!"
Kasamatsu menggelengkan kepalanya, menatap anak-anak asuhnya yang menangis sambil terus berpelukan dengan mesra. Kasamatsu sempat melihat Aomine yang tersenyum tulus ke arahnya dan dibalas senyuman manis dari Kasamatsu.
-Adoption-
"Dadah Aominecchi! Kapan-kapan kembali nee~"
"Dai-chan! Ingat kita tetap teman masa kecil. Sekarang dan selamanya"
"Hati-hati dijalan~"
"Dadah Mine-chin~"
Aomine melambaikan tangannya dari jendela mobil. Didepannya sosok ayah angkatnya bernama Imayoshi Shoichi yang memasang sabuk pengamannya dan mulai menyalakan mobil. Disamping kirinya sosok ibu angkatnya Imayoshi Ryo yang ikut melambai dari luar mobil. Bukan untuk anak-anak tapi untuk Kasamatsu, Moriyama dan para sensei yang lainnya. Terus melambai sampai akhirnya mereka keluar dari bangunan itu.
"Dai-chan. Pakai sabuk pengamanmu karena Tou-sanmu terbiasa mengebut" Sakurai tertawa kecil. Belum sempat Aomine merespon mobil hitam itu sudah melesat pergi dengan kecepatan diatas rata-rata dan membuat Aomine berteriak minta ampun.
.
.
.
Pyuh.. Akhirnya selesai.
Gomen Aya telat update. Maklum sibuk belajar /sokgayalu!
Berhubung UAS Aya udah selesai. Aya upload lagi nih ^^
Next : Midorima Shintarou-chan!
Mind to give a review minna-chan? ;-;
