Genre: Romance, Humor (ga yakin yg ini .a)
Rating: 15+
Status: In-Progress
Words: 165- (kayak harga apa yaaa?) #diblender
Sasuke-kun aku rindu kamu! Kapan pulang? –surat pertama
Sasuke-kun aku benar-benar rindu, rasanya ingin memelukmu dan menciummu nanti! –surat kedua
Aku meralat suratku sebelumnya, rasanya aku ingin memelukmu dan menciummu sepanjang hari nanti setelah kau pulang misi. –surat ketiga
Err, apa suratku sebelumnya menakutkanmu? Maaf aku terlalu agresif. Aku sangat merindukanmu. Banyak yang ingin kuceritakan. –surat terakhir
"Hn, aku juga."
Disclaimer: Masashi Kishiomoto (Thanks for everything)
The SOS—Story of Sasusaku
RUKIs Marionette©2011
.
After a hurricane comes a rainbow..
.
Chapter four: Sasuke's Tricks and treat's moment
.
Sasuke melangkahkan kakinya cepat-cepat, ranting per ranting ia injak terlalu bersemangat hingga retak, beberapa rekan setimnya juga sudah jauh tertinggal namun ia tak lantas memperlambat lajunya dan acuh akan hal itu. Sedikit lagi ia akan menggapai gerbang Konoha. Namun perjalanannya masih jauh sekali menurutnya karena ia harus melewati pasar yang ramai (ini memaksanya untuk menyusup bahu per bahu dan memperlambat langkahnya), lalu melewati Konoha Akademi (dia pasti bertemu Naruto dan akan ditanyai ini-itu praktis waktu menemuinya melambat). Barulah setelah dua halangan itu ia bisa sampai di Rumah Sakit Konoha yang megah dan berdominan warna putih.
"Yo, ohayou, Sasuke!" sapaan Kakashi nampaknya hanya sebuah gonggongan baginya yang lantas tak ia jawab. "Aduh sombong sekali!" umpat sensei yang memiliki tingkat bawdiness diatas rata-rata itu.
Sasuke tetap memanjang-pendekkan langkahnya dengan teratur dan cepat walaupun sudah di dalam desa hingga membuat beberapa dedaunan terbang mengikuti langkahnya. Bahkan ada seorang nenek-nenek yang hampir tersungkur ketika lelaki dua puluhan itu melewatinya. Kendati demikian ia masih saja berlari menghiraukan nenek-nenek itu demi menemuinya.
Sasuke menghentikan larinya sesaat dan menoleh ke belakang lalu berjalan mundur beberapa langkah kemudian berbelok ke kanan memasuki sebuah toko yang ramai pengunjung. Ia melengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu dan tersenyum sesudahnya ketika menemukan barang itu. Ia mengambil dua buah benda bertangkai hijau dengan kelopak putih yang biasa disebut lily. Ia segera menyodorkan bunga itu untuk dibungkus diikuti tangannya yang merogoh saku celananya mencari kepingan logam.
"Untuknya, eh?"
"Hn," jawab Sasuke cuek dan berlalu pergi, namun langkahnya terhenti mengikuti instruksi otaknya yang sedang cemburu, "selama aku pergi apa dia berkencan dengan pria lain?"
"Kau menyebut dirimu pria?" Ino terbahak, "oh ayolah kau baru dua puluh tahun," Ino menghentikan aktivitas beropininya setelah mendapati mata hitam Sasuke semakin melebar, "umm—jika kau menyebut Tsunade-sama lelaki sih."
Sasuke pun menyeringai dan berlalu pergi lagi tanpa ucapan apapun. Rasa lega bagai disiram es menghinggapi relung hati terdalamnya. Bayangan kekasihnya sedang berduaan dengan pria lain kerap kali menghantui mimpi-mimpinya dikala misi kini sirna digantikan dengan bayangan ketika ia akan mendapati pelukan erat dan kecupan di bibirnya ketika bertemu nanti. Dan ini membuatnya tersenyum sendiri di tengah perjalanannya yang hampir mencapai pasar.
Sasuke menyipitkan pandangannya ketika melihat sesuatu berwarna peach dan hitam sedang berjalan beriringan dengan tawa? Ia menyusupkan bahunya sambil bergumam permisi demi mengikuti duo yang semakin jauh itu. Hatinya mengumpat bagi Ino Yamanaka yang berdusta. Lihat sekarang gadisnya sedang bercengkrama mesra—oh bahkan kini lelaki itu sok perkasa dengan membawakan setumpuk buku di depan dada gadisnya. Tangan Sasuke sudah mengepal kuat dan siap menonjok lelaki itu.
"Sakura!" teriak Sasuke di tengah ombak manusia. Sakura menoleh dan tersenyum mendapati kekasihnya sedang berjuang melewati orang-orang di pasar. Ia menghentikan langkahnya dan melambai sambil menunggu pemuda itu mendekat.
"Hai," sapa Sasuke terengah pada gadisnya. Peluh masih setia menghiasi dahi dan rambutnya. Namun tak juga mengurangi ketampanannya, ia malah terlihat begitu menggairahkan.
Sakura tersenyum mendapati jemari pemuda itu sudah bertautan dengannya dan hampir memeluk kekasihnya itu sebelum rekannya menarik lengan nganggurnya. "Ada apa, Shikamaru?"
"Kau tahu Tsunade-sama benci menunggu lama."
Sakura mendesah pelan dan merenggangkan remasannya pada kekasihnya, "maaf, Sasuke-kun."
"Sakura aku hanya ingin—"
"Sakura cepat!" Shikamaru menarik lengan Sakura lagi dan membiarkan Sasuke bersumpah akan menghunus pedangnya pada perut joonin itu.
"Iya," Sakura berlalu dan menyesal menatap Sasuke, "nanti aku akan mengunjungimu."
"Kutunggu disini saja!" teriak Sasuke yang entah apa terdengar atau tidak. Karena saat ia berkata bebarengan dengan pintu jati yang tertutup. "Awas saja kau, Nara!"
Menunggu adalah hal kedua yang Sasuke benci setelah 'cemburu karena Sakura'. Dan mungkin karena hal itulah kini ia sedikit gila dengan berbicara sendiri, "ah sudah lama kita tak bertemu. Untuk itu aku ingin memberikanmu bunga ini."
"Benarkah iku, Sasuke-kun?"
Demi Tuhan Sasuke terperanjat dan akan terjungkal menyadari Anko sedang menatapnya berkaca-kaca. "Bunga ini untukku?"
Andai saja itu bukan sensei-nya di akademi yang begitu ia hormati, ia siap mendamprat siapapun yang merebut bunga favorit kekasihnya. "Ano…"
"Sangkyuu, Sasuke-kun," wanita sexy itu memeluk Sasuke erat-erat sambil mengacak rambut ayamnya. Berhasil membuat Sasuke bad mood pagi ini. Sasuke sama sekali tak bisa berkutik jika melawan wanita yang berjasa dalam pengontrolan kutukan Orochimaru itu.
"Sasuke?" Dan lagi-lagi Sasuke terperanjat dan akan jatuh terlentang mendapati Sakura berdiri menatapnya sedang berpelukan dengan Anko.
"Sakura-chan?" Anko menyapanya riang sambil memamerkan dua kuntum lily putih di depannya, "Sasuke bilang ia merindukanku dan memberiku ini."
"Wow. Romantis. Sekali. Ya!" Sakura berkata persis ketika Sasuke sedang kesal. Ia melirik Sasuke yang sedang menelan ludahnya dengan susah payah. Sasuke melepas pelukan Anko dengan canggung.
Mitarashi Anko terkekeh dan menyusupkan lengan kirinya pada Sasuke kembali, "kalau begitu ayo mampir ke kediaman Mitarashi. Anak baik harus dapat 'balsannya', bukan?"
"Maaf, Sensei, aku sudah ada janji—"
"Tidak, tidak, tidak. Beginikah kau membalas pertolonganku dulu?" Ah ya, Sasuke selalu lemah jika kebaikan seseorang padanya diungkit lagi, itu tandanya hutang, bukan? "Hanya makan siang kau tak bisa?" Dan sekali lagi Sasuke dibuat tak berkutik olehnya.
"Baiklah." Sasuke menjawab lesu permintaan guru privatnya itu—hanya guru privat pengontrol segel Orochimaru. Ketahuilah walau Orochimaru sudah mati, segelnya akan terus bekerja untuk menggerogoti tubuh Sasuke. Satu kekuatan besar harus ada satu dampak besar pula 'kan?
"Jaa-nee Sakura-chan!"
"Aku akan segera kembali. Tunggulah!" ucap Sasuke.
Sakura terperangah melihat pemandangan itu, usaha mempercepat tugasnya tadi sia-sia. Ia ditinggal begitu saja oleh kekasihnya demi seorang yang kebetulan bisa menolong Sasuke dulu. Ia tahu Sasuke menghormati guru pertahanannya itu. Tapi tetap saja, siapa yang tak kesal jika rindu lantas tak dihiraukan?
"Sakura?" Shikamaru menepuk pelan bahu gadis itu menyadarkan dari lamunannya, "mana Sasuke-kun-mu?"
Sakura mengangkat bahu, "entahlah. Ano, mungkin aku akan merawat Sai saja sekarang."
.
.
.
Sasuke terengah sesampainya di depan gedung kantor Hokage. Semakin terengah setelah mendengar penuturan Kotetsu jika Sakura sudah pergi semenjak lima menit yang lalu menuju Rumah Sakit Konoha untuk merawat Sai yang kepalanya berdarah dan harus dijahit. Cih!
Usaha kabur dari sang Mitarashi yang terkenal galak tapi menggoda, harus sia-sia. Hanya untuk lima menit, tak bisakah Sakura menunggu?
Sasuke melangkahkan kakinya lagi, sama cepatnya seperti tadi, pikirannya berkelana yang tidak-tidak. Ia membayangkan jika Sakura menjahit kepala Sai dan kemudian pemuda itu tak bisa menahan sakit lantas ia memeluk tubuh Sakura. Lalu Sakura akan membiarkannya dan mengelus pelan kepala pemuda itu serta berkata 'ini tidak akan sakit', dan… mencium pemuda itu. Lalu melanjutkannya diatas…
"SASUKE!" Sasuke terperangah mendengar suara berat sarat akan kebisingan itu, ia berpura-pura tuli dan terus melangkahkan kakinya cepat-cepat melewati akademi. Bayangan Sakura dan Sai di sebuah ruang di rumah sakit kini terganti dengan bayangan Naruto yang akan mengikatnya di batang pohon dan memaksanya untuk mendengar cerita-selama-ia-pergi-misi.
"TEME!" demi apapun, Sasuke ingin men-chidori Naruto, yang benar saja ia dipanggil dengan sebutan 'brengsek' di depan puluhan pasang mata anak kecil yang mengidolakannya.
"Jangan panggil aku seperti itu… Dobe," ia memperkecil suaranya dalam bisikan saat mengatakan 'dobe'. Boleh saja orang memanggilmu dengan cara yang tak sopan tapi bukan berarti harus membalasnya setimpal bukan?
"Habis, dipanggil diam saja," Naruto memeluk bahu Sasuke, "misimu lancar?"
"Hn. Aku harus pergi." Sasuke melepas pelukan Naruto dan melanjutkan misinya—bertemu Sakura. Namun langkahnya terhenti dan gontai mendengar pertanyaan sahabatnya.
"Kau tidak ingin tahu aktivitas Sakura dengan 'para lelaki' itu?"
Dan memang pantas Naruto mendapat sebutan 'dobe'! Mana ada orang cerdas yang berkata kakek-kakek tujuh puluh tahunan adalah lelaki? Lalu anak-anak tujuh tahunan adalah lelaki? Pemuda itu menjelaskan dengan nada sarkastik jika beberapa minggu ini Sakura selalu merawat para 'lelaki' itu karena wabah penyakit keracunan makanan massal. Tapi bagian terbesar dari percakapan monolog Naruto itu didominasi kisah cintanya dengan Hyuuga.
Sementara Sasuke sebagai sahabat yang baik, hanya mendengarkan sambil menanggapi dengan 'hn'-nya. Sasuke tahu betul jika Naruto tak pernah bisa bercerita masalah pribadinya selain padanya. Tapi Sasuke tak tahu pertemuannya itu berlangsung cukup lama hingga langit yang semula cerah menjadi hampir gelap dan murid-murid Naruto pun bubar sendiri, bosan menunggu senseinya yang sedang bernostal-gila.
"Kuso!" Sasuke memukul bahu Naruto keras dan mengumpat berkali-kali pada pemuda itu, tak peduli tentang etika yang selalu dijaganya, toh sekarang hanya ada dirinya dan Naruto di akademi. "Ini sudah senja!"
"Kau baru sadar, Teme?"
"Kenapa kau tak bilang jika hari sudah senja?"
"Ku pikir kau cukup pintar untuk tahu kalau sekarang senja. Ternyata curhatku mengalihkan duniamu, ya? Teme? HOY TEME!" Naruto berteriak menyadari Sasuke sudah pergi tanpa pamit.
Sasuke sedikit kehilangan semangat sesampainya di rumah sakit. Tempat itu sudah nampak sepi tenaga medis, hanya ada beberapa gelintir orang yang memasuki bangunan putih itu untuk shift malam. Sasuke sangat tahu Sakura tak pernah mau jika berjaga malam.
"Dia pasti sudah pul—" Sasuke menghentikan gerutuannya dan hampir melonjak girang mendapati Haruno Sakura sedang keluar dari lobby sambil memapah nenek. "Aku masih beruntung."
"Sasuke-kun?" Sakura senang bukan main bertemu Sasuke di detik-detik ia akan pulang ke rumah. Itu artinya Sasuke akan mengantarnya pulang.
"Hn." Tetap dengan khasnya, menyembunyikan euforia yang membuncah ketika bertemu Sakura.
"Kebetulan ada Sasuke-kun!" Sakura dan Sasuke kembali pada dunia nyatanya, setelah menganggap dunia adalah milik mereka dan lainnya hanya mengontrak.
"Nenek Genmai?" Sasuke mencoba mengenali nenek berambut eboni dan bermata tajam itu, dia… Uchiha Genmai. Apa yang dilakukannya disini?
"Kakiku sakit untuk berjalan, jadi aku kemari dan kekasihmu memeriksaku. Katanya ini akibat aku kurang jalan. Lalu dia memijatku. Gratis!" jelas nenek Genmai seolah tahu arti lirikan Sasuke.
Dan entah kenapa mendadak Sasuke berfirasat buruk.
"Kalau begitu aku pulang dulu, Sakura-chan! Sasuke ayo papah aku sampai rumah!" Benarlah, detik-detik terakhir pun masih ada saja musibah baginya. Misinya kini gagal total. Hanya untuk bertemu Sakura dan mengobrol dengannya, kenapa begitu sulit? Andai saja di sampingnya kini bukan neneknya, ia pasti sudah mendorong nenek itu sampai terjatuh dan pingsan—kalau perlu, agar ia bisa menemui Sakura.
"Sakura-chan, bagaimana jika hari ini kau menginap di rumah Sasuke? Kasihan pulang misi ia sendirian!" teriak nenek Genmai membuat Sasuke terkejut bukan main. Dan anggukan Sakura seolah membuat Sasuke ingin memeluk nenek tercintanya itu. Berarti malam ini…
Ah, Sasuke tak mau membayangkannya biarlah semua jadi kejutan nantinya.
Ketahuilah, selalu ada cara untuk melepas rindu.
Dan… selalu ada bahagia setelah cobaan.
FIN~
Pliss jangan tanya saya 'kok tau nama nenek Sasuke?'
Asli itu ngarang! Genmai adalah tokoh fiksi di Digimon-anim fav saya. #ga tanya
Well, fict ini sedikit over capacity (halah) lebih 150 kata. #ojigu, gomen
Habis saya uda usaha jadiin 1500w tapi tetep aja ga jadi, yaudah digenapin ajah 1650 (sama ama harga apa, yaaa?)
Anyway, give me feedback yay soal fict ini. Garing atau ga logis atau apalah. (Lumayan buat koreksi diri)
Okay, cu~
