PENJAGA JEMBATAN II
Penginapan semakin ramai semenjak penduduk tahu tuan putri perah menginap di tempat ini. Ditengah keramaian terdengar derap kaki kuda. Para gadis histeris. Siapa lagi jika bukan Mikuo, pangeran sekaligus kakak dari Miku. Wajahnya tersenyum namun hatinya gelisah.
"Permisi, aku ada urusan penting dulu ya." Ia melewati gadis-gadis yang meneriakinya. Para pengawal mengamankan Mikuo agar bisa masuk ke penginapan tanpa ada halangan.
Para pengunjung serta pelayan penginapan bergntian membungkukan badan seiring Mikuo menuju meja resepsionis.
"Selamat sore, apa ada Alfonse?"
"Ah, selamat sore Tuan, betul, tapi sekarang ia sedang beristirahat. Ada pesan yang bisa saya sampaikan?" Lapis tersenyum pada Mikuo.
"Lapis, kumohon ini penting." Ia dapat langsung mengenali gadis itu dari permata yang ada di kepalanya. Nada bicaranya semakin tegas.
"Baik tuan, mari ikut saya." Seakan tidak mau melpas formalitas, Lapis berusaha tidak menghiraukan tatapan tajam Mikuo. Gadis permata itu tahu maksud kedatangannya kemari. Tidak lain adalah mencari Miku.
Lapis keluar dari balik meja resepsionis dan membawa Mikuo menuju ruang khusus untuk staff, tatapan mata Mikuo menisyaratkan para pengawal untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Begitu pintu tertutup, para pengawal langsung menjaga pintu tersebut. Didalam sangat tenang, tidak seramai suasana penginapan. Petikan gitar terdegar dari ruang makan yang cukup menampung empat orang disana. Lapis menunjuk tempat dimana Alfonse berada.
"Ehm aku permisi ya.." Lapis menundukan kepala
"Hei, kamu tetep disini." Lantas Mikuo menghampiri Alfonse yang belum sadar akan kehadirannya.
"Ehm.." suara gitar terhenti.
Alfonse membalikan badan. Matanya terbuka lebar. Mulutnya tidak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun. Ia terdiam kaku seperti patung,
"Jadi gini caranya nyambut temen lama?" Mikuo masih berdiri memandangi Alfonse tanpa ekpresi.
"M—mikuo!" Ia melempar gitarnya ke kursi dan langsung memeluk sahabatnya
"Hahaha..kabarmu gimana?"
"Ahaa sehat dong.." senyumnya terasa kaku
"Oke, mumpung lagi sehat, bisa kamu jelasin maksud surat ini?" Mikuo memotong pembahasan mereka. Sebuah amplop keluar dari balik jasnya.
"Hee.. soal itu.. "
"Alfonse, dimana Miku"
Lapis hanya bisa duduk, kepalanya tertunduk, kedua tangannya mengepal. Detik demi detik terasa semakin lama. Mikuo memalingkan wajahnya dari Alfonse. Ia segera duduk didepan Lapis. Mikuo menghela nafas panjang.
"Kalian tahu. Walaupun kita teman sepermainan, bukan berarti surat ini main-main kan? Apa kematian seseorang memang sebercanda itu dimata kalian? Hah?! Aku tahu.. Aku tahu Miku ga bakal semudah itu mati. Tapi, tolong lihat gimana keadaan desa ini sekarang. Kalian emang pengen lihat Miku mati huh?!" Semua emosi Mikuo keluar melalui perkataanya.
"Iko, tolong denger ini baik-baik. Siapa yang pengen orang terdeketnya mati? SIAPA? Kita semua ga akan mau. Tapi lihat kan? Miku belum balik juga sampe detik ini!"
"Dan kamu tulis miku meninggal segampang itu? apa jadinya kalau raja yang baca surat ini?!"
"Kalian berdua, sudah cukup!" Lapis berusaha menengahi pertengaran diantara Mikuo dan Alfonse
"Aku cuma tulis apa yang Miku pesenin sebelum dia pergi, apa itu kurang? Apa kamu pikir aku bisa nulis surat sebagus itu? kamu sendiri tahu aku ga bisa tulis surat kalau bukan dibantu Miku!"
"Denger baik-baik, Alfonse.. aku tanya sekali lagi DIMANA MIKU?"
"Miku udah pergi dari pagi."
"CUKUP!" Lapis merentangkan tangannya dan mengkristalkan sebagian badan Mikuo dan Alfonse pada dinding ruangan. Keduanya terdiam.
"Kalau kalian bisa damai sekarang juga, aku bisa ceritain semuanya. Pilihan ada ditangan kalian, damai, atau biarin Miku bener-bener pergi ninggalin kita semua."
.
.
Miku yang masih kecil, usianya baru menginjak 6 tahun saat itu. Ia sangat senang akan cerita legenda desa Elaire. Salah satunya tentang seorang binatang yang hidup untuk menjaga satu peninggalan berharga. Binatang itu adalah Panther air. Dewa memberi penjaga yang sebanding dengan peninggalan yang begitu penting supaya tidak sembarang orang bisa menggunakannya sesuai kehendak hati mereka. Panther itu ia beri nama Chiro. Matanya akan menghipnotis siapapun yang berusaha mengambil prasasti tersebut. Badannya yang begitu kekar, siap untuk menerkam orang-orang yang memiliki keinginan serakah. Ekornya akan selalu siap mengikat siapapun yang berusaha mencuri prasasti dengan menggunakan ilmu hitam. Hal yang paling penting adalah, Chiro tidak akan bisa dikalahkan. Pendekar sekuat apapun, tidak akan bisa membunuh Chiro karena dia adalah wujud roh dalam bentuk binatang. Hanya mereka yang memiliki niat tulus dan hati yang murni sajalah yang akan mendapatkan belas kasihan Chiro.
"Hmm Chiroo.." Miku mengigau..
Len hanya memandangnya sesaat, lalu kembali membakar makanan hasil buruannya.
"Hoi.. bangun. Kalau mau mati jangan disini, bikin susah."
"Hmm..."
Matahari sudah tidak terlihat, bintang-bintang mulai menghiasi langit dengan indahnya. Suara jangkrik bersaut-sautan menambah ketenangan malam ini. Ditengah lamunan Len, samar-samar ia mendengar langkah kaki. Ia berhenti membalikan makanannya, berusaha fokus pada sumber suara. Langkah itu semakin mendekat. Miku masih tertidur. Ia berdiri dari tempatnya, melihat kearah Miku yang masih tertidur pulas. Jantungnya berdebar. KRAK! Suara ranting terinjak secara kasar membuat bulu kuduknya berdiri tiba-tiba.
"Len?" Miku mulai terbangun.
"Ssst.." Len berjongkok dekat miku sambil menutup mulut mungil gadis itu.
Tidak ada suara langkah kaki yang terdengar. Sunyi senyap. Len mengintip melalui celah pembatas antara mulut gua dan bagian dalam gua. Gelap. Keringat mengalir membasahi tangan Len. Ditengah kegelapan, bayangan hitam muncul dimulut gua. Mata Len terbelalak. Ia menahan nafasnya.
"Boo.."
"HWAAAAA!" Len menjerit begitu kerasnya. Terkejut akan bisikan Miku ditelinganya.
"Hahahaha..." Miku tertawa dengan puasnya.
"ISSSSHH! BODOHHH ITU DI DEPA—"
Belum selesai Len melanjutkan kata-katanya, geraman seekor binatang menggema didalam goa. Miku terdiam, ia memandang Len. Muka keduanya pucat pasi. Len berjongkok berusaha mencari celah untuk mengintip lagi. Miku merangkak perlahan menuju tempat Len. Begitu ia menemukan celah dan melihat apa yang ada di mulut gua. Len tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka lebar. Miku duduk menatap bayangan di tembok gua yang semakin mendekat. Tangannya meraih tangan Len yang sudah dingin seperti es seakan tahu binatang apa yang ada di dekat mereka saat ini. Gadis itu mendekati telinga Len dan berbisik
"Hitungan ketiga, kita lari. Inget. Jangan tengok ke belakang. Sama sekali." Gadis itu menarik nafas. Mengeluarkan isyarat dengan jari-jarinya. Satu. Dua.
"LARI!"
Tanpa melepas genggaman tangan Len, Miku menariknya dengan cepat. Mereka berlari dengan kencang masuk kedalam gua lebih jauh lagi. Langkah kaki itu semakin cepat. Binatang itu mengejar mereka. Miku menarik tangannya yang satu dan melemparkan butiran air keudara. Percikan cahaya memenuhi gua itu.
Binatang itu menggeram semakin keras, terihat jelas melalui dinding gua, bayangan semakin mendekat dengan mereka. Len menaruh telunjuknya didepan mulut dan meniupkan udara. Awan dari api pun terbentuk, ia langsung menarik Miku untuk naik keatasnya. Dengan tenaga yang tersisa, ia berusaha membawa awan api itu terbang lebih cepat. Belokan demi belokan mereka lewati, entah dimana akhir dari gua ini.
Miku mengumpulkan air-air dari genangan yang ada di bawah mereka, ia membuat pusaran air dan melemparkannya kebelakang, tanpa menengok sedikitpun. Perlahan bayangan semakin tertinggal. Awan api Len terbang begitu cepat. Geraman semakin jauh terdengar. Len melihat ada cahaya di ujung gua. Merekapun terbang menuju cahaya tersebut. WUSHHH setibanya mereka di bagian terdalam gua awan api milik Len langsung menghilang. Beruntung Miku sigap, ia membuat gelembung air dengan cepat. Sehingga mereka tidak jatuh mengenai tanah langsung.
"Haaahh.. hahh..hampirrr" Miku masih mengambil nafas.
"Haaa yaampun tadi itu apaaaannn" Len membungkukan badannya ke rerumputan.
"Fuhhh.. Len, kamu sempet liat binatangnya?" Miku terbata-bata, berusaha bertanya.
"Belum lah, pas mau liat, kamu udah pegang tangan terus ditarik lari marathon lagi!"
"Haaahh..untung deh kalo gitu.."
"Lah? Kenapa emang?" Len terbangun dari posisinya.
"Kamu ga tau? Tadi itu Chiro.."
"Chiro?"
"Iya.. Chiro itu panther. *Miku berdiri. Ia membersihkan pakaiannya* Tapi bukan sembarang panther, menurut legenda, matanya bisa hipnotis orang, badannya ga terlalu keliatan tapi kekar banget, makanya tadi bisa lari kenceng, ekornya juga bisa buat ngiket penyusup yang masuk ke gua. Dan satu hal lagi. Chiro itu roh, jadi dia ga akan bisa dibunuh." Miku berjalan memandangi sekelilingnya.
Len menelan ludah. Kemudian mengikuti Miku.
"Hmhh okee, yang penting sekarang kita selamet. Tapi, INI DIMANA HEYYY?!" Len melihat sekelilingnya. Rerumputan hijau, pepohonan yang rindang berwarna biru, ada aliran air dan jembatan. Pemandangan yang tidak mungkin ada di dalam gua, tapi nyata di depan matanya.
"Ini taman penghubung. Kakak-ku sering cerita ini waktu aku masih kecil. Katanya, seudah kita lewatin jembatan, kita bisa nemuin tangga buat naik ke atas. Puncak air terjun Nirmala ini." Miku tersenyum.
"Aku harap kita masih punya waktu." Ia menambahkan.
"Tapi, aku ga bisa pake elemen api aku, kenapa ya? Padahal lebih cepet naik awan buat keatas daripada naik tangga. Len memandangi pepohonan yang bergoyang walaupun tidak ada angin.
"Jelas lah, cuma elemen air aja yang bisa dipake disini." Miku mengarahkan jarinya ke sungai kecil lalu menarik airnya. Ia memutarkannya mengelilingi Len.
"Jadi, aku mau dibantu apa, Mi?
"Em.. ga ada deh, aku tinggal lewatin jembatan terus keatas, sendiri juga bisa kok."
"Cihh, ada beruang aja cuma bisa nunduk doang. Sekarang malah mau pergi sendiri." Len memasang wajah jahilnya.
"Hmmhh, iya.. iyaa kamu ikut." Miku membalikan badannya dan langsung berjalan menuju jembatan.
"Hahaha.. Mikuu.. Miku.. Beres ini kamu harus traktir aku ya.." Kemudian Len menyusul Miku.
Mereka berlajan melanjutkan perjalanan mereka sembari bercanda. Udara terasa segar di tempat ini. Aliran air yang tenang membuat suasana lebih baik dari sebelumnya. Raut wajah gembira terpancar dari senyum keduanya yang begitu lebar. Sesekali mereka saling melempar dedaunan yang gugur, melewati hewan-hewan unik sepanjang perjalanan. Hingga tiba pada anak tangga menuju puncak air terjun Nirmala. Sesekali mereka beristirahat. Len selalu ada di sisi Miku. Bahkan ia tidak sungkan untuk menggendong Miku di punggungnya. Kini tawa canda mereka sudah memenuhi jejak perjalanan mereka.
.
.
Terletak jauh di dalam jantung hutan antara keempat desa, terdapat sebuah tempat dimana para penduduk menyebutnya 'kutukan dewa' karena wilayah tersebut tidak pernah tersentuh sinar matahari sedikitpun. Tidak ada yang tahu, sejak kapan pastinya wilayah itu ada. Tidak hanya itu, lingkaran kelam pun memiliki siklus cuaca yang berbeda dengan daerah lainnya. Disana akan selalu turun hujan, namun tidak pernah genangannya melebihhi batas wilayah. Selalu ada petir, tapi tidak ada pepohonan yang terbakar. Menurut kabar penduduk, ada seseorang yang pernah mencoba masuk kedalamnya, sayangnya ia tidak pernah terlihat lagi hingga saat ini.
