Pesawat Hinata mendarat kembali ke tempatnya bekerja. Tiga bulan tanpa melihat Naruto, tentu membuatnya khawatir setengah mati. Tapi ia tahu mungkin saat ini mantan suaminya itu sudah ada pengganti. Saat ia bergerak turun dari eskalator, sepasang safir biru membelalakkan matanya. Dengan cepat, ia meninggalkan melawan arus dan melompat untuk mendapatkan istrinya itu. Mata Hinata kaget, ia melepaskan genggaman Naruto dan tergesa-gesa pergi dari situ. Acara kejar-kejaran itu masih berlangsung hingga keluar bandara. Sebenarnya hari itu, Naruto hendak pergi menghadiri acara bisnis tapi sambil mengejar Hinata, ia sempat menelepon Iruka untuk menggantikannya. Pria setengah baya itu menepuk jidatnya setelah mendengar keputusan Naruto itu.
Saat melihat Naruto sudah dekat, Hinata nekat berlari dan Naruto menyusulnya. Hinata kaget saat melihat mobil yang bergerak menuju Naruto dan tanpa sadar berbalik dan langsung mendorongnya. Naruto sedikit syok saat Hinata mendorongnya namun ia lebih kaget lagi melihat kepala Hinata berdarah. Hinata hanya mengigaukan namanya dan apakah dirinya baik-baik saja. Naruto kini menangis sambil berteriak minta tolong. Istrinya ini, bahkan masih mengkhawatirkan dirinya bahkan saat dirinya sendiri terluka. Naruto bahkan memegang tangan Hinata saat berada dalam ambulans. Saat mereka tiba di rumah sakit, Hinata segera diperiksa dokter begitu juga dirinya. Naruto hanya mengalami luka lecet di tangannya sedangkan Hinata segera diobati dan kepalanya difoto CT-Scan. Naruto minta Hinata dirawat meski kata dokter, tidak ada perdarahan otak atau di tempat lain.
Sepanjang sore, Naruto menunggui Hinata yang tengah tertidur. Tampak dahinya diperban dan beberapa luka lecet dan memar di badannya. Mungkin seperti inilah, perasaan Hinata saat menunggui dirinya di rumah sakit. Sambil memegang tangan Hinata, Naruto meminta maaf pada Hinata dan berkata ia ingin Hinata bersamanya lagi. Ia janji kali ini hanya mereka berdua dan ia akan setia. Kadang-kadang Hinata sesekali mengigau sambil menangis bahwa Naruto meninggalkan dirinya. Naruto memegang tangannya dan berkata lagi ia tidak pergi kemana-mana. Keesokan paginya, Hinata bangun dan mendapati warna kuning di samping tempat tidurnya. Pria yang dapat ia kenali sebagai suaminya, itu masih terlelap. Dengan ragu, ia mencoba menyentuh rambut kuning itu tapi ia tahan. Hinata merasa bahwa ia tidak berhak hidup bersama pria itu lagi karena ia bukan istrinya lagi.
Betapa terkejutnya ia saat Naruto mengambil tangannya dan meletakkan tangan itu di atas kepalanya. Naruto sudah bangun rupanya dan ia sempat mengamati bagaimana Hinata ingin menyentuh rambutnya tapi tidak jadi. Naruto bergegas memanggil dokter untuk memeriksa Hinata. Hinata terkejut saat melihat yang memeriksanya adalah Matsuri dalam keadaan ehm hamil. Matsuri tampak tersenyum, sebuah senyum keibuan. Ia berterima kasih pada Hinata yang sudah mau membuka hati Gaara untuk dirinya meski awalnya pria itu menganggapnya seperti serangga pengganggu. Well, hasilnya 1 bulan, pendekatan Gaara melamarnya dengan berani di depan neneknya. Meski awalnya ragu, tapi pria pendiam itu tetap meyakinkan dirinya mencintai Matsuri. Oh bisa dibayangkan betapa bahagianya mereka sekarang. Gaara tipe pria yang sangat setia dibalik penampilannya yang pendiam itu, oke sedikit posesif bila ada dokter lain yang dekat dengannya.
Setelah memeriksa Hinata, Matsuri memutuskan bahwa Hinata bisa pulang 2 hari lagi. Saat selesai diperiksa Naruto masuk dan bertanya keadaan Hinata. Hinata menjelaskan bahwa ia baik-baik saja dan tak lama lagi akan pulang. Ia akan menelepon Neji untuk menjemputnya. Naruto menggeleng, sambil berkata Hinata masih menjadi tanggung jawabnya sebagai suami. Hinata menganga, bukankah ia sudah memberikan surat cerai pada Naruto namun suaminya tegas menjawab bahwa Hinata tak akan bercerai darinya. Hinata menangis, ia sudah siap untuk bercerai tapi mengapa pria ini masih menahannya. Naruto melihat itu, menggunakan kesempatan itu untuk benar-benar mengusap air mata di wajah cantik Hinata dan serasa deja vu. Ia memang pernah mengusap air mata gadis itu sesaat setelah ia menyelamatkannya dari musuh-musuhnya sesama preman saat mereka kuliah dulu.
Naruto meminta maaf padanya untuk semua yang terjadi padanya. Mulai dari malam pertama mereka yang buruk dan hari-hari selanjutnya. Hinata kembali pusing dan Naruto membantunya untuk tidur kembali dan mengecup keningnya yang dibalut perban. Air matanya kembali membanjir. Suaminya itu tidak pernah mencium dirinya selain saat mereka berhubungan seks, itupun hanya bagian leher ke bawah hanya untuk merangsangnya namun ciuman sayang seperti ini tak pernah ada untuknya. Ia hanya pernah melihat sekali, dan itu ditujukan untuk Sakura. Pria itu hendak menghapus air matanya namun Hinata malah membelakanginya. Naruto mengerti dan pergi dari ruangan itu.
Suara petir menyambar-nyambar dan hujan turun dengan deras. Pertemuannya kembali dengan Naruto membuatnya lega sekaligus takut. Lega karena Naruto baik-baik saja dan takut karena Naruto tidak mau melepaskan dirinya dan ia takut kembali disakiti. Rintik hujan itu mengingatkannya pada kenangan saat ia belajar bersama di rumah Naruto. Iruka yang mengajar dengan penuh semangat, malah membuat Naruto ketiduran karena di luar hujan. Iruka menjitak Naruto dan dengan cengiran 5 jarinya ia malah berkata saat hujan yang terbaik adalah tidur. Iruka rasanya pengen pingsan mendengarnya, jika bukan karena Minato ia sudah undur diri kemarin-kemarin. Hinata tersenyum lucu mengenangnya. Kenangan yang lain saat hujan adalah saat Naruto baru pulang berkelahi sore itu, Hinata menyeretnya ke poliklinik dan mengobatinya di sana sekaligus menyuruhnya mengganti baju agar tidak masuk angin dan mentraktirnya ramen panas buatannya sendiri. Naruto tampak senang saat itu dan berkata bahwa suatu saat nanti Hinata akan menjadi istri yang ideal dan orang yang mendapatkannya adalah orang yang beruntung. Nyatanya, orang yang mengatakan hal itu dulu, malah membuatnya sakit hati setelah mereka menikah. Saat yang bersamaan suara lagu menalun samar.
HUJAN
Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak'kan berubah
Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karena aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri ooohhh..ooo
Selalu ada cerita
Tersimpan di hatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air
Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karena aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri ooohhh..ooo
Aku bisa tersenyum sepanjang hari
Karena hujan pernah menahanmu disini
Untukku ooohhh...
(Utopia)
Di tempat lain, Naruto juga memikirkan hal yang sama. Ia mengingat beberapa kenangan bersama Hinata. Sejak menikahi Hinata, ia lupa bahwa gadis itu memang selalu memperhatikan dirinya. Kenangan tentang dirinya diobati oleh Hinata di poliklinik membuatnya tersindir sendiri. Ia pernah berkata bahwa Hinata akan menjadi istri yang ideal dan siapa pun yang menikahinya nanti adalah orang yang beruntung. Tapi saat dirinya yang menikahi gadis itu, ia malah menyakitinya. Ia janji…ia akan menghargai wanita itu, kalo perlu ia tidak akan berhubungan dengan gadis itu. Ia akan membuat Hinata bahagia bersamanya.
Saat mereka bisa pulang, Naruto mengantar Hinata ke kamar dan Hinata meminta Naruto untuk meninggalkan dirinya. Naruto meninggalkannya lalu tak lama kembali dengan semangkuk bubur ayam hangat dengan beberapa obat. Hinata masih trauma, ia masih memandang nanar beberapa butir obat. Hal itu membuatnya muak dan mengingatkannya tentang obat kontrasepsi yang harus ia minum setiap harinya agar ia tidak hamil namun ia menyembunyikan perasaannya dan meminum obat-obatan itu. Hinata malah meminta obat tersebut pada Naruto, namun suaminya tampak terluka dan mengatakan bahwa Hinata tidak perlu meminumnya lagi. Hinata bersikeras lagi hingga Naruto memberikan obat itu. Hinata meminumnya dan tidur.
Setelah 1 minggu cukup istirahat dan lukanya sudah tidak parah, ia kembali memasak untuk Naruto. Jika dulu Naruto jarang di rumah kini pria itu lebih memilih ada di rumah dan mengajak Hinata jalan-jalan yang kini lebih banyak ditolak olehnya. Hinata lebih suka berjalan-jalan saat malam hari saat Naruto sudah tidur. Ia kadang-kadang berjalan di taman sendirian sambil menangis. Menurutnya Naruto melakukan semua kebaikannya karena rasa kasihan atau rasa terima kasih untuk menyelamatkan nyawanya. Tidak ada hal yang bisa membuat Naruto suka padanya.
Ia lalu mengarahkan pandangannya ke arah Konoha clubbing. Suara music berdentuman menyambutnya. Hinata lumayan sering ke sini bersama Kakashi, bodyguard Naruto untuk menggeretnya keluar. Awalnya ia ragu, tapi mungkin ini saatnya ia bisa menjadi wanita idaman suaminya itu. Wanita gaul dan menggoda. Hinata membuka tasnya dan mengganti bajunya dengan baju lain yang lebih seksi. Tak lupa sepatu hak tinggi hitam. Rambutnya yang panjang, ia ikat tinggi. Ia berdandan malam itu. Oh hei ada yang bingung darimana Hinata tahu merubah penampilannya? Salahkan saja Kiba dan Shino yang mengajari dirinya berdandan. Bukan hanya itu, mereka juga memilihkan baju pendek itu saat mereka pergi clubbing bersama dulu. Namun saat itu Hinata menolaknya. Kini Hinata masuk dengan sedikit gemetar, ia ingin belajar bagaimana menjadi wanita yang bisa menarik perhatian Naruto.
