Blue Ribbon

Disclaimer: Fate Series hanya milik Kinoko Nasu dan Takashi Takeuchi. Saya hanya meminjam karakternya saja.

Waring: lemon (bagi yg masih dibawah 18 tahun tdk dianjurkan utk membaca chapter ini), gaje, typo (maybe), agak ooc, pokoknya bnyk kekurangannyalah.

Happy Reading :)

Acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang dilaksanakan pada malam hari. Gilgamesh dan Arturia memasuki gedung bernuansa emas dengan penampilan yang berbeda dari acara pemberkatan pernikahan yang dilaksanakan di gereja. Rambut emas Gilgamesh masih dimodel jabrik seperti tadi. Hanya saja dia mengganti pakaiannya dengan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu. Sedangkan Arturia mengenakan gaun model ball gown putih dengan aksen pita berwarna biru di punggung bagian bawah. Rambut pirangnya yang panjang pun dikuncir kuda dengan pita yang warnanya senada dengan pita di gaunnya. Kedua tangannya pun juga diberi sarung tangan panjang berwarna putih.

Kedua mempelai ini menebar senyuman kepada seluruh tamu undangan yang hadir di resepsi pernikahannya. Kemudian, mereka berdua melakukan sesi pemotongan kue raksasa. Setelah itu, Gilgamesh dan Arturia duduk di meja makan khusus pengantin lalu dipersilahkan untuk memakan sajian yang telah disediakan dengan diikuti oleh para tamu undangan.

"Arturia," Arturia menoleh kepada Gilgamesh yang telah memanggilnya.

"Makanlah ini," perintah Gilgamesh sembari menyodorkan sepotong kue yang ditusuk olehnya dengan garpu kepada Arturia.

Arturia menganggukkan kepalanya lalu memakan kue tiramisu yang disuap oleh suaminya.

"Bagaimana? Enak 'kan?" tanya Gilgamesh tersenyum. Arturia hanya menganggukkan kepalanya.

Seketika Arturia membelalakkan matanya melihat Diarmuid datang ke acara resepsi pernikahannya. Sang dokter muda itu sedang asyik mengobrol dengan rekan kerjanya yang bernama Romani Archaman yang merupakan dokter spesialis jantung. Arturia cukup akrab dengan pria tampan berambut oranye sebahu bergelombang yang dikuncir kuda itu.

"Jadi si anjing kampung itu datang?" tanya Gilgamesh terkejut.

"Dia bukanlah pengecut seperti yang kau katakan tadi. Bisa saja tadi dia datang lalu langsung pulang begitu kita sah menjadi suami-istri," kata Arturia.

"Itulah sebabnya aku menyebutnya si pengecut yang menjijikkan," kata Gilgamesh.

Arturia menggertakkan giginya lalu ia kembali menatap Diarmuid. Gadis bermata hijau ini langsung tersenyum lebar melihat Diarmuid menatapnya dan memberikan senyuman kepadanya. Tak hanya memberikan senyuman untuknya, Diarmuid pun juga melambaikan tangannya hingga Arturia juga melambaikan tangannya kepada pria itu.

"Arturia," panggil Gilgamesh.

"Ada apa?" tanya Arturia.

"Sejak kapan kau dekat dengannya?" tanya Gilgamesh.

"Kami berasal dari panti asuhan yang sama," jawab Arturia.

"Apa? Si anjing kampung itu anak yatim piatu?" tanya Gilgamesh terkejut.

"Iya. Tetapi dia lebih dulu diadopsi. Keluarga angkatnya merupakan keluarga yang terpandang," jawab Arturia.

"Lalu, bagaimana bisa kalian bertemu lagi?" tanya Gilgamesh.

"Karena kita bekerja dalam satu rumah sakit. Aku tak menyangka bisa bertemu dengannya lagi. Ternyata aku berjodoh dengannya," jawab Arturia.

Gilgamesh menggertakkan giginya mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh istrinya.

"Tidak istriku. Kau justru berjodoh denganku. Kau sendiri yang mengikatku dengan pita birumu itu," kata Gilgamesh tak terima.

"Mengikatmu bagaimana? Waktu itu aku hanya bermaksud menghentikan aliran darahmu dengan pitaku," kata Arturia menyangkal.

"Tetapi pita birumu itu membuatku jatuh cinta kepadamu. Dengan pita bitu itu, Tuhan telah mempersatukan kita," kata Gilgamesh.

"Kau ini ngomong apa sih? Kita menikah karena kau mengancamku melalui Rin. Sebenarnya pernikahan kita ini tidak sah karena aku sama sekali tidak mencintaimu sekaligus kau memaksaku!" kata Arturia.

"Baiklah, untuk saat ini kau boleh tidak mencintaiku," kata Gilgamesh menyeringai lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga Arturia.

"Tetapi nanti malam, aku akan membuatmu mencintaiku," bisik Gilgamesh tersenyum licik hingga Arturia membelalakkan matanya.

Di kamar Gilgamesh...

Sedari tadi Gilgamesh menunggu Arturia yang sedari tadi berada di kamar mandi dengan alasan buang air besar sekaligus membersihkan riasannya. Gilgamesh mendengus kesal sembari mengacak rambutnya hingga rambutnya turun karena ia tahu maksud Arturia untuk menghindarinya. Tanpa pikir panjang Gilgamesh menendang pintu kamar mandinya dengan keras hingga pintunya terbuka.

"Gilgamesh! Apa-apaan kau ini?!" tanya Arturia marah.

Saat ini posisinya berada di depan wastafel karena sedang menggosok gigi. Arturia segera mengeluarkan busa odol dari dalam mulutnya lalu ia berkumur.

Gilgamesh menyeringai menatap Arturia yang hanya mengenakan baju handuk dengan rambut yang terurai. Pria bermata merah darah ini menghampiri Arturia lalu ia membopong tubuh kecil istrinya.

"Gilgamesh! Turunkan aku!" bentak Arturia sembari kedua tangannya memukul dada bidang Gilgamesh.

"Saatnya untuk membuatmu mencintaiku, istriku," kata Gilgamesh dengan seringaiannya yang semakin menjadi lalu ia berjalan sampai di ranjangnya yang berukuran king size.

Setelah itu, Gilgamesh melemparkan Arturia ke ranjangnya lalu menindih tubuh kecilnya sembari membuka baju handuk yang dikenakan oleh istrinya.

"Tidak! Aku tidak mau berhubungan seks denganmu!" ronta Arturia berusaha menahan tangan Gilgamesh untuk melepaskan pakaiannya.

Namun, Arturia kalah cepat dibandingkan Gilgamesh. Pria di atasnya berhasil melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. Tidak lupa juga Gilgamesh melepaskan baju handuk yanh dikenakan olehnya hingga dirinya telanjang bulat seperti istrinya.

Mata hijau Arturia melebar melihat tubuh kekar Gilgamesh yang begitu menggoda. Terus terang saja kalau dirinya terpesona dengan tubuh seksi suaminya. Di sisi lain, Arturia juga ngeri melihat penis Gilgamesh yang besar dan panjang. Arturia tak bisa membayangkan bagaimana penis Gilgamesh akan mengoyak vaginanya yang sempit. Pasti menyakitkan.

Arturia segera menutup payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya lalu memohon kepada Gilgamesh untuk tidak menyetubuhinya.

"Tidak bisa Arturia. Aku ingin memilikimu seutuhnya," kata Gilgamesh lalu ia mengangkat kedua tangan dan mencengkeramnya tangannya di sisi kanan dan kiri kepala Arturia.

"Kumohon...jangan melakukan itu," kata Arturia lirih.

"Jangan khawatir, sayang. Ini tidak akan sakit, kok," kata Gilgamesh lalu ia mencium bibir Arturia dengan penuh nafsu.

"Hmmppph...hmmppph," Arturia berusaha melepaskan bibirnya dari bibir Gilgamesh. Tetapi Gilgamesh malah memperdalam ciumannya dengan melesatkan lidahnya ke dalam mulutnya.

Ciumannya beralih ke pipinya lalu turun ke leher jenjangnya. Arturia melenguh ketika Gilgamesh menghisap dan menggigit lehernya. Gilgamesh menyeringai mendengar suara lenguhan istrinya yang menurutnya sangat merdu.

"Terus keluarkan suara merdumu, sayang," kata Gilgamesh sembari meremas payudara Arturia yang tak terlalu besar.

Suara desahan Arturia semakin menjadi ketika Gilgamesh meremas payudaranya. Tidak hanya itu saja, pria diatasnya itu pun memilin dan juga menghisap putingnya. Arturia menggigit bibir bawahnya berusaha menahan desahannya. Kedua tangannya yang kini terlepas dari cengkeraman suaminya pun meremas dan memukul punggung kokoh suaminya dengan sekuat tenaga.

"Teruslah memukulku, sayang. Karena memukulku malah membuatku semakin terangsang," kata Gilgamesh tersenyum lebar lalu ia tertawa dengan keras.

"Bangsat!" umpat Arturia lalu ia kembali memukul punggung kokoh suaminya.

"Aku sangat mencintaimu, Arturia," ucap Gilgamesh sembari membelai pipi Arturia lalu ia melebarkan kaki istrinya.

Arturia langsung berteriak kesakitan ketika Gilgamesh memasukkan penisnya yang besar dan panjang ke dalam vaginanya. Mata merah Gilgamesh melebar merasakan vagina istrinya yang sempit yang menandakan kalau istrinya masih perawan. Untuk pertama kalinya bagi Gilgamesh menyetubuhi seorang wanita yang masih perawan.

"Kau...masih perawan?" tanya Gilgamesh menyeringai.

"Aku tidak seperti pelacurmu, brengsek!" umpat Arturia berurai air mata.

"Ya ampun...aku menang banyak," kata Gilgamesh lalu ia memaju mundurkan penisnya ke dalam vagina Arturia sembari mencium bibirnya dengan penuh nafsu.

Rasa sakit Arturia semakin menjadi lantaran Gilgamesh memaju mundurkan penisnya ke dalam vaginanya dan juga meremas payudaranya dengan keras.

"Hentikaaan...sakiiit," rintih Arturia dengan sesenggukkan.

"Sebentar lagi tidak akan sakit, kok," kata Gilgamesh berusaha menenangkan Arturia dengan mencium pipi, kening dan kelopak matanya. Ia pun juga menjilat air mata Arturia yang membuat sang empunya jijik.

Gilgamesh menggenggam kedua tangan Arturia lalu kembali melakukan 'aktivitasnya'. Perlahan-lahan, rasa sakit yang dialami oleh Arturia mulai mereda. Bahkan Arturia mulai mengeluarkan suara desahannya yang membuat pria di atasnya menyeringai. Gilgamesh terus memaju mundurkan miliknya hingga keduanya sama-sama mencapai klimaksnya. Arturia membelalakkan matanya merasakan Gilgamesh menumpahkan cairannya ke dalam rahimnya. Kemungkinan besar ia akan segera mengandung anak Gilgamesh.

Tubuh Gilgamesh ambruk menimpa tubuh kecil istrinya. Hangat tubuh polos Arturia membuat Gilgamesh memeluknya dengan erat lalu menenggelamkan wajahnya ke leher istrinya. Ia pun juga menutupi tubuh telanjang mereka dengan selimut.


Cahaya matahari di pagi hari telah menembus jendela hingga mengenai Arturia dan terbagun dari tidurnya. Perlahan-lahan, Arturia mendudukkan dirinya sembari memegang selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Arturia menatap Gilgamesh yang masih tertidur pulas dengan tatapan sayu. Seketika ia teringat dengan kejadian tadi malam di mana ia harus kehilangan keperawanannya karena diperkosa oleh suaminya sendiri.

"Selamat pagi, istriku."

Mata hijau Arturia melebar merasakan tubuh polosnya dipeluk dari belakang oleh Gilgamesh. Suaminya pun juga mencium lehernya sembari meremas payudaranya.

"Lepaskan aku. Aku ingin mandi dan menyiapkan sarapan untukmu," kata Arturia ketus.

"Ayo kita mandi bersama," ajak Gilgamesh dengan tampang mesum yang membuat Arturia menggertakkan giginya.

"Mandi sendiri sana!" kata Arturia sembari melemparkan bantal ke arah suaminya.

"Tidak. Kau harus mandi denganku," Gilgamesh bergegas membopong Arturia lalu berjalan memasuki kamar mandi.

Sampai di dalam kamar mandi, Gilgamesh mengunci pintunya lalu ia menaruh tubuh kecil Arturia ke bathtub lalu menuangkan sabun cair dan menyalakan kran air hingga airnya berbusa. Setelah itu, Gilgamesh memasuki bathtub yang berisi air busa lalu duduk di belakang istrinya. Ia menggosok punggung putih nan mulus Arturia dengan spon. Seketika Arturia melenguh begitu Gilgamesh meremas payudaranya.

"Apakah tadi malam kau masih tidak puas?" tanya Arturia sarkastik.

"Tentu saja tidak. Kau begitu cantik dan sensual, istriku," jawab Gilgamesh lalu menyibak rambut panjang Arturia dan mencumbu lehernya.

"Hentikan, brengsek!" tangan Arturia langsung menjauhkan kepala Gilgamesh dari lehernya. Ia begitu risih suaminya mencumbunya.

"Ayolah sayang. Jangan malu-malu begitu kepada suamimu ini," kata Gilgamesh menyeringai.

"Aku tidak malu-malu, brengsek!" bentak Arturia.

Gilgamesh menghelakan nafasnya dengan pelan lalu ia mengangkat pantat Arturia dan memasukkan penisnya ke dalam vagina Arturia. Ia kesal dengan perlakuan Arturia sehingga ia menghajarnya dengan cara seperti ini untuk memberikan pelajaran kepadanya.

"Brengsek! Apa yang kau lakukan?! Ngghhh...akkhhh," umpat Arturia sembari mendesah. Kali ini ia dibuat menungging oleh Gilgamesh.

"Tentu saja memberikan pelajaran kepadamu," jawab Gilgamesh menyeringai sembari memaju mundurkan miliknya ke dalam vagina Arturia.

"Percuma saja kita mandi kalau kita melakukan ini," kata Arturia berusaha menahan desahannya.

"Aku tak peduli," kata Gilgamesh tersenyum lebar sembari meremas payudara Arturia dari belakang.

"Akhh hentikanhhh," desah Arturia.


Gilgamesh melangkahkan kakinya memasuki dapur untuk memberikan kejutan kepada istrinya. Ketika melihat Arturia yang sedang sibuk memotong wortel dan daun bawang, Gilgamesh menyunggingkan senyumannya karena terpesona dengan kecantikan istrinya walau hanya mengenakan baju tanktop berwarna abu-abu dan hotpants berwarna putih. Untuk pertama kalinya bagi Gilgamesh melihat wanita secantik Arturia memasak di dapur. Apalagi membuat sarapan untuknya. Perlahan-lahan, Gilgamesh menghampiri Arturia lalu memeluknya dari belakang yang membuat istrinya terkejut.

"Gil, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! Kau tidak ingin makan apa?" tanya Arturia sembari meronta.

"Aku punya kejutan untukmu," jawab Gilgamesh sembari menghirup rambut Arturia.

"Kejutan apa? Apakah kau akan menceraikanku?" tanya Arturia sarkastik.

"Tentu saja tidak, sayang," jawab Gilgamesh lalu menunjukkan dua tiket pesawat kepada Arturia hingga mata hijau Arturia melebar.

"Kita...akan bulan madu ke Pulau Bora Bora?" Gilgamesh menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.

Arturia menundukkan kepalanya. Di sisi lain, ia senang sekali karena ia akan berlibur ke pulau yang sangat ingin dikunjungi olehnya sejak ia duduk di bangku SD. Tetapi ia sedih karena ia akan kesana tanpa Diarmuid. Padahal ia sudah berjanji dengan Diarmuid untuk berlibur kesana bersama-sama jika mereka sudah sukses.

"Kenapa kau bersedih? Bukankah Pulau Bora Bora merupakan destinasi impianmu sejak kecil?" tanya Gilgamesh hingga Arturia membelalakkan matanya lalu menghadap suaminya.

"Apakah Diarmuid yang memberitahumu?" tebak Arturia.

"Tentu saja," jawab Gilgamesh tersenyum.

"Kamu tidak membunuhnya 'kan?" tanya Arturia. Gilgamesh menggelengkan kepalanya.

Arturia membalikkan badannya lalu ia kembali memotong wortel dan daun bawang. Setelah memotong wortel dan daun bawang, Arturia memotong ayam yang sudah ia kukus. Ia pun juga menyisir biji jagung yang membuat suaminya mengernyit.

"Masak apa kau?" tanya Gilgamesh.

"Omelet," jawab Arturia. "Jika kamu tidak suka, katakan padaku makanan apa yang kau inginkan," lanjutnya sembari mencampurkan bahan makanan yang sudah ia potong ke dalam baskom yang berisi telur yang sudah ia campurkan dengan tepung terigu dan penyedap makanan.

"Makan itu saja," kata Gilgamesh lalu ia duduk di meja makan untuk menunggu sarapannya sudah jadi.

Lima menit kemudian, omelet ala Arturia sudah siap dimakan. Arturia menghidangkan dua porsi omelet berukuran sedang dan juga dua gelas susu ke atas meja lalu duduk berhadapan dengan suaminya. Gilgamesh mengambil garpu dan pisau lalu memotong dan menyantap sedikit omelet buatan istrinya. Seketika, Gilgamesh menyeringai karena rasa omelet buatan istrinya sangat enak. Gilgamesh kembali menyantap omelet. Kali ini makannya lebih lahap dari yang tadi.

"Kupikir kau tidak menyukai makanan seperti itu," kafa Arturia sembari memakan omelet miliknya.

"Karena kau yang memasaknya," kata Gilgamesh. "Bisa dibilang, kau jauh lebih jago memasak dibandingkan ibuku maupun pelayanku," lanjutnya lalu kembali memakan omeletnya.

"Oh ya?" Gilgamesh menganggukkan kepalanya.

Arturia kembali memakan omeletnya lalu memanggil nama suaminya. Gilgamesh langsung menatap istrinya disaat ia sedang meminum susu.

"Sekarang aku sudah resmi menjadi istrimu. Bahkan sudah menjadi milikmu seutuhnya," kata Arturia.

"Terus?"

"Aku ingin kau berhenti menjadi seorang mafia. Aku tidak ingin kehidupanku terusik selama kau masih menjadi seorang mafia. Lebih baik kau fokus saja pada bisnismu," perintah Arturia hingga Gilgamesh menatap tajam istrinya.

"Aku tidak bisa," tolak Gilgamesh hingga Arturia menggertakkan giginya.

"Jadi kau tidak ingin istrimu hidup nyaman? Suami macam apa kau ini?" tanya Arturia marah.

"Karena aku tidak bisa meninggalkan dunia yang telah membesarkan namaku dan juga ayahku," jawab Gilgamesh. "Jangan khawatir. Aku akan selalu menjagamu dari bahaya," kata Gilgamesh berusaha menenangkan Arturia.

"Aku tak akan bisa mempercayaimu selama kau masih bergelut dengan dunia brengsek itu," kata Arturia.


Di rumah sakit...

Diarmuid membalut lengan kekar pasiennya yang berambut ungu tua panjang bergelombang itu dengan perban. Setrlah selesai membalut lengan pasiennya dengan perban, Diarmuid menyuruh sang pasien yang sudah lama ia kenal untuk menggerakkan lengannya. Perlahan-lahan, pria tampan bermata ungu kelam itu menggerakkan lengannya yang terluka. Meskipun terasa nyeri, setidaknya lengannya masih bisa digerakkan.

"Untung saja masih bisa digerakkan," kata Diarmuid lega.

"Bagiku luka ini hanyalah luka kecil," kata pria yang bernama Lancelot ini tersenyum kepada Diarmuid.

"Kau ini," ucap Diarmuid lalu ia duduk di kursinya.

"Omong-omong, aku sama sekali tidak melihat perawatmu yang cantik itu," kata Lancelot.

"Dia sedang cuti karena baru saja menikah," jawab Diarmuid.

"Apa? Suster Arturia sudah menikah?" Diarmuid menganggukkan kepalanya.

"Kupikir dia adalah kekasihmu," kata Lancelot. "Oh ya, kenapa dia menikah secepat itu? Dia masih berusia 21 tahun 'kan?"

"Dia dipaksa menikah oleh si bajingan itu," jawab Diarmuid.

"Si bajingan itu? Siapa yang kau maksud?" tanya Lancelot mengernyit.

"Gilgamesh. Kau pasti mengenalinya 'kan?" jawab Diarmuid.

"Apa? Suster Arturia menikah dengan Gilgamesh?" tanya Lancelot terkejut. Diarmuid menganggukkan kepalanya dengan wajah marah.

Lancelot merasa iba dengan cobaan yang dialami oleh sang dokter muda yang sudah lama menjadi teman dekatnya ini. Bagaimana tidak? Diarmuid begitu dekat dengan Arturia. Saking dekatnya sampai Lancelot mengira kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih.

Di sisi lain, ini merupakan kesempatan bagi Lancelot dan bosnya untuk menghancurkan Gilgamesh melalui Diarmuid dan Arturia. Lancelot sudah memiliki rencana yang bagus untuk menghancurkan musuh bebuyutan bosnya begitu ia mengetahui Arturia telah menikah dengan Gilgamesh.

"Diarmuid," panggil Lancelot sembari menepuk pundak Diarmuid.

"Ada apa?" tanya Diarmuid dengan menundukkan kepalanya.

"Kau menginginkan wanitamu pisah dari si bajingan itu 'kan?" Diarmuid langsung menatap Lancelot dengan tatapan tajam.

"Ayo kita bekerja sama," kata Lancelot tersenyum.


Dua hari setelah melangsungkan pernikahan, Gilgamesh dan Arturia berangkat ke Pulau Bora Bora untuk menjalankan bulan madu. Sepanjang perjalanan di dalam pesawat, Gilgamesh menatap istrinya yang sedari tadi membaca novel yang barusan ia beli sebelum berangkat. Gilgamesh penasaran sekali dengan isi novelnya sampai Arturia begitu fokus membaca novelnya.

"Sebagis apa ceritanya sampai kau begitu fokus membacanya?" tanya Gilgamesh. "Dilihat dari sampul bukunya, tampaknya ceritanya berat," tebak Gilgamesh.

"Novel ini menceritakan kehidupan pernikahan seorang bos mafia. Dia menikahi wanita yang sangat dicintainya. Sementara istrinya sangat membencinya. Saking bencinya sampai istrinya berusaha membunuhnya atau bahkan berselingkuh di belakangnya. Dan lebih parahnya lagi berusaha membunuh dirinya sendiri. Pria brengsek itu kerap menyiksa istrinya tiap kali berbuat kesalahan," jelas Arturia.

"Cerita yang menarik," kata Gilgamesh. "Lalu, kau membaca sampai bagian yang mana?" tanya Gilgamesh.

"Sampai mereka bertengkar hebat hingga pria brengsek itu tak sengaja mendorong istrinya jatuh ke jurang yang curam. Kuharap si wanita itu segera mati supaya dia terbebas dari suaminya yang brengsek itu," jawab Arturia bermaksud menyindir keras suaminya.

"Tidak! Wanita itu tidak boleh mati!" kata Gilgamesh sembari menggelengkan kepalanya. "Lanjutkan membacanya," perintahnya.

"Tanpa kau perintahkan pun aku akan membacanya sampai akhir," kata Arturia ketus lalu kembali membaca.

"Arturia," Gilgamesh meraih dagu istrinya. "Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitimu. Asalkan kau menurut kepadaku," katanya.

Arturia hanya terdiam dan menatap tajam suaminya.

"Apakah kau tidak percaya kepadaku?" tanya Gilgamesh menatap tajam istrinya.

"Tentu saja karena kau adalah seorang penjahat kelas kakap," jawab Arturia lalu ia memegang rahang suaminya. "Aku akan berhenti menganggapmu sebagai penjahat jika kau berhenti menjadi seorang mafia," lanjutnya.

"Aku tidak akan berhenti menjadi seorang mafia meskipun kau sudah mencintaiku," kata Gilgamesh hingga Arturia tertawa geli.

"Kepedean sekali kau kalau aku akan mencintaimu," kata Arturia tersenyum mengejek.

"Memang untuk saat ini kau tidak mencintaiku. Tetapi kau mulai khawatir kepadaku dengan menyuruhku untuk berhenti menjadi seorang mafia. Bukankah kekhawatiranmu menumbuhkan rasa cinta?" kata Gilgamesh menyeringai hingga Arturia memalingkan wajahnya dari hadapan suaminya.

"Tuh kan? Kau malu. Itu berarti kau benar-benar mengawatirkanku," kata Gilgamesh sembari mengelus pipi Arturia.

#FlashbackOn

"Arturia."

Arturia menoleh kepada seorang wanita paruh baya berambut emas panjang bergelombang yang tak lain adalah ibunya Gilgamesh. Wanita bermata merah darah yang masih terlihat cantik di usianya yang menginjak 55 tahun ini menghampiri menantunya yang habis membersihkan riasannya setelah meelangsungkan pemberkatan pernikahannya.

"Bibi Ninsun," kata Arturia tersenyum lalu ia berdiri. "Sejak kapan anda berada di sini?" tanya Arturia.

"Hei, kenapa kau masih memanggilku dengan sebutan bibi? Kau 'kan sudah resmi menjadi menantuku," kata Ninsun tersenyum sembari menepuk pundak menantunya.

"Maafkan saya, ibu," ucap Arturia.

"Tidak apa-apa," ucap Ninsun lalu menuntun Arturia untuk duduk di sofa bersamanya.

"Arturia," panggil Ninsun.

"Iya, ibu?" tanya Arturia.

"Karena kau sudah resmi menjadi menantuku, jadi kau harus tahu segala sesuatu tentang anakku yang orang lain tidak tahu. Untuk saat ini hanya Enkidu yang tahu," kata Ninsun.

"Dengan senang hati yang mendengar cerita dari anda, ibu," ucap Arturia tersenyum.

Ninsun kembali menyunggingkan senyumannya kepada menantunya lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Arturia mengernyit melihat album foto yang dipegang oleh mertuanya ini.

"Silahkan dilihat," kata Ninsun sembari menyerahkan album foto kepada Arturia.

Perlahan-lahan, Arturia meraih album foto dari tangan Ninsun lalu ia membuka album fotonya di mulai dari halaman pertama. Seketika, Arturia membelalakkan matanya melihat foto masa kecil Gilgamesh yang begitu menggemaskan. Apalagi pas masih bayi. Secara refleks telunjuk Arturia menyentuh foto bayi Gilgamesh karena gemas.

"Menggemaskan bukan?" Arturia hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum menatap mertuanya.

"Aku sangat bersyukur dia lebih mirip aku dibandingkan ayahnya," kata Ninsun tersenyum. "Kuharap cucuku kelak lebih mirip ibunya dibandingkan ayahnya."

Arturia hanya terdiam lalu membuka lembar selanjutnya. Masih menampilkan foto masa kecil Gilgamesh walaupun terlihat lebih besar dibandingkan yang tadi. Kira-kira berusia lima sampai tujuh tahun.

"Sejak kecil dia sangat menyukai olah raga renang dan sepak bola. Dulu dia langganan juara satu ataupun kedua. Sampai kuliah pun juga begitu," kata Ninsun.

"Gilgamesh memang hebat ya, bu?" puji Arturia.

"Omong-omong, dulu dia adalah anak yang baik dan penyayang," kata Ninsun lalu ia menundukkan kepalanya. "Tapi sayang dia lebih memilih jalan yang sama dengan ayahnya ketika dia pertama kali masuk SMP," lanjutnya.

"Ibu," gumam Arturia memasang wajah sedih.

"Arturia," panggil Ninsun.

"Iya, ibu?" tanya Arturia.

"Kumohon...suruh dia untuk berhenti menjadi bos mafia. Ibu merindukan Gilgamesh yang baik hati dan penyayang. Ibu tidak kuat melihat Gilgamesh yang sekarang. Ibu yakin...kau pasti bisa merubahnya," pinta Ninsun hingga Arturia membelalakkan matanya.

#Flashback Off

Sampai sekarang Arturia masih teringat dengan permintaan Ninsun untuk menyuruh Gilgamesh berhenti menjadi bos mafia. Arturia melirik Gilgamesh yang sedang asyik membaca majalah fashion pria. Wajah Suaminya begitu mirip dengan ibu mertuanya. Saking miripnya sampai ia selalu teringat dengan permintaan ibu mertuanya kepada dirinya.

"Kau tahu Gilgamesh? Alasan utama aku menyuruhmu untuk berhenti menjadi mafia karena ibumu. Tetapi, aku sengaja tidak jujur kepadamu supaya kau tidak mengira kalau aku mengawatirkanmu. Aku hanya ingin kau mengenalku sebagai wanita yang egois supaya kau segera menceraikanku. Hanya inilah cara satu-satunya untuk berpisah darimu," batin Arturia.


Sampai di pulau Bora Bora, Arturia dan Gilgamesh langsung dimanjakan dengan pemandangan laguna berwarna biru toska yang begitu indah. Arturia menghirup udara laguna yang segar lalu berlari kecil menyusuri jembatan sembari menoleh kesana kemari menikmati surganya dunia yang selama ini ingin dikunjunginya sejak kecil. Sesekali ia melakukaan selfie maupun memotret pemandangan di sekitarnya dengan kamera SLR miliknya.

Sementara Gilgamesh hanya tersenyum saja melihat tingkah laku Arturia yang seperti orang kampung yang tidak pernah berkunjung ke destinasi mewah. Gilgamesh memakluminya karena istrinya berasal dari kalangan bawah dan bahkan sejak lahir sudah tinggal di panti asuhan.

"Tempat penginapan kita berada di ujung sana," kata Gilgamesh sembari menunjuk tempat penginapannya yang berada di paling pojok hingga Arturia berhenti berjalan lalu menatap suaminya.

"Kenapa kau memilih di tempat yang paling pojok?" tanya Arturia.

"Karena aku tidak suka orang lain mengganggu kemesraan kita," jawab Gilgamesh santai. "Perlu kau ketahui kalau tempat penginapan di sekitar kita juga kubeli. Dengan begitu tidak akan ada yang mengganggu kita," katanya.

"Dasar seenaknya sendiri!" kata Arturia. Gilgamesh hanya tertawa saja. Tawanya sungguh memuakkan yang membuat Arturia menggertakkan giginya.


Arturia bergegas mengambil ponselnya yang terletak di atas meja lampu karena berbunyi tanda ada telepon. Wanita ini menyunggingkan senyumannya karena Diarmuid telah menghubunginya melalui video call. Ia segera menyentuh dan menggeser gambar telepon berwarna hijau lalu muncul video Diarmuid tersenyum kepadanya.

"Halo," ucap Arturia.

"Hai," ucap Diarmuid. "Tumben kau memakai mini dress? Bukankah kau tak seberapa suka memakai itu?" tanya Diarmuid menatap mini dress tanpa lengan berwarna putih dengan aksen pita hitam yang dikenakan oleh Arturia.

"Aku dipaksa mengenakan pakaian ini oleh Gilgamesh. Kau tahu, sebagian besar aku membawa pakaian yang dibelikan olehnya. Dia tidak suka kalau aku memakai pakaian yang terlalu sederhana pada saat bulan madu," jelas Arturia.

"Tetapi kau terlihat cantik memakai pakaian itu," kata Diarmuid tersenyum.

"Oh ya? Terima kasih," ucap Arturia tersenyum dengan pipi yang bersemu merah.

"Omong-omong, kemana suamimu itu?" tanya Diarmuid.

"Dia sedang sibuk telepon dengan rekan bisnisnya," jawab Arturia. Diarmuid hanya menganggukkan kepalanya.

"Oh ya, akan kutunjukkan pemandangan di luar sana. Kau pasti takjub akan keindahannya," ucap Arturia lalu ia berjalan ke balkon untuk menunjukkan pemandangan laguna yang indah kepada Diarmuid.

Begitu Arturia berada di balkon dan mempertunjukkan pemandangan laguna, Diarmuid langsung membelalakkan matanya dengan mulut yang terbuka karena takjub akan keindahan laguna Pulau Bora Bora.

"Wow indah sekali," ucap Diarmuid.

"Masih ada lagi," kata Arturia lalu mempertunjukkan air laut yang jernih. Saking jernihnya sampai menampakkan banyak ikan hias yang cantik dan terumbu karang serta rumput laut.

"Ya Tuhan aku jadi ingin snorkeling disana," kata Diarmuid takjub. "Jangan bilang kalau kamu sudah snorkeling," lanjutnya.

"Hei, ingatlah kalau aku ini tidak bisa berenang," kata Arturia.

"Oh iya lupa hehehe," kata Diarmuid nyengir.

"Arturia."

"Iya?"

"Jika kau sedang ada masalah dengan si bajingan itu, jangan ragu untuk curhat kepadaku. Aku tidak ingin hubungan kita menjadi canggung setelah kau menikah dengannya," kata Diarmuid.

"Akan kuusahakan", jawab Arturia singkat.

"Kenapa harus diusahakan? Harus bilang oke dong," tanya Diarmuid kecewa.

"Kamu tahu sendiri 'kan kalau Gilgamesh itu kejam dan licik. Jadi aku tidak bisa berjanji kepadamu kalau hubungan kita akan seperti dulu lagi," jelas Arturia.

"Tidak perlu takut, Arturia. Aku akan selalu melindungimu apapun rintangannya," kata Diarmuid.

"Diarmuid," gumam Arturia dengan mata yang berkaca-kaca.

"Waktunya sudah habis."

Seketika Arturia terkejut melihat ponselnya dirampas oleh seseorang yang tak lain adalah suaminya sendiri. Arturia berusaha merebut ponselnya tetapi Gilgamesh mengangkat tangan kanannya yang memegang ponsel yang membuat Arturia melompat-lompat untuk mengambil ponselnya.

"Kecil sekali tubuhmu, Arturia," goda Gilgamesh menatap istrinya yang masih melompat-lompat.

"Kembalikan ponselnya, bajingan!" bentak Diarmuid yang membuat Gilgamesh berpapasan dengannya.

"Jangan ikut campur, anjing kampung!" umpat Gilgamesh lalu ia memutuskan kontaknya dengan Diarmuid.

Setelah itu, Gilgamesh meletakkan ponsel milik Arturia ke dalam saku celananya lalu ia memeluk tubuh kecil istrinya dan mencengkeram dagunya.

"Beraninya kau menghubungi si anjing kampung itu di belakangku," kata Gilgamesh menatap tajam Arturia.

"Apa masalahnya? Dia sahabatku dari kecil! Kau tidak berhak meemisahkan," tanya Arturia menantang Gilgamesh.

"Aku tidak suka kau berhubungan dengannya," kata Gilgamesh mulai memperkencang cengkeraman pada dagu istrinya.

"Isssh," desis Arturia.

"Kau harus mendapatkan hukumannya, sayang," ucap Gilgamesh menyeringai hingga Arturia membelalakkan matanya.

To be continue...

Sebelumnya saya mengucapkan selamat hari raya idul fitri bagi yg merayakannya. Oh ya, karakter Lancelot disini pakai versi berserker di Fate/Zero. Knp? Krn lebih cocok sebagai mafia ganas hehehe. Klo versi saber mah terlalu lembut. Selain itu, mohon maaf ya jika adegan lemonnya kurang bagus dan hot.

Jgn lupa direview ya...terima kasih :) Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.