Disclaimer by Tite kubo

(Bleach bukan punya saya)

Seri drabble :

A sampai Z

By

Ann

Warning : Au, Ooc, typo's.

Tidak suka? Bisa klik 'Close' atau 'Back'

Sebuah kisah cinta yang terangkai dalam alphabet.

a.n : setiap sub-judul drabble adalah cerita yang terpisah, tapi merupakan kelanjutan dari sub-judul sebelumnya. Oh ya, fic ini sebelumnya pernah dipublish di ffn tahun 2012-2013, tapi baru sampai chap.3. Sekarang saya publish ulang dengan merubah beberapa bagiannya dan akan saya usahakan fic ini selesai.

...

Chapter 4 : P Sampai S

Pendek

Suasana sekolah masih sepi saat Rukia melangkah masuk ke dalam gedung berlantai tiga itu. Ia langsung menuju loker sepatunya dan mengganti sepatunya dengan sepatu berwarna putih yang khusus digunakan di area sekolah.

"Au…"

Cepat Rukia melepas kembali sepatunya dan mendapati beberapa paku payung kecil menempel di kaus kakinya. Saat Rukia mencabut paku payung dari kakinya, warna merah langsung menhiasi kaus kaki putihnya.

"JAUHI KUROSAKI! KAU TIDAK PANTAS UNTUKNYA!"

Rukia membaca secarik kertas yang juga dimasukkan ke dalam loker sepatunya. Rukia menghela napas, ia tahu apa yang ia dapat pagi ini hanya awal, setelah ini ia akan mendapat perlakuan tidak menyenangkan lainnya dari fansgirl Ichigo. Semua karena kejadian saat festival olahraga. Secara tak langsung Ichigo mengklaim dirinya menyukai Rukia, tapi sebenarnya sampai hari ini tidak ada kata yang keluar dari mulut Ichigo tentang hal itu.

...

Dugaan Rukia benar. Saat ia sampai ke kelas, ia menemukan mejanya dipenuhi sampah dan di atas meja terdapat tulisan yang ditulis dengan spidol.

"ENYAH KAU!"

Rukia mengambil sapu dan bak sampah dan membersihkan mejanya lalu membasahi sapu tangannya untuk menghapus tulisan di atas mejanya.

"Apa yang kaulakukan, Rukia?"

Rukia terlonjak lalu menoleh dan mendapati Renji memandangnya denga tatapan bertanya. "Bukan apa-apa," bohongnya.

"Lalu kenapa kau melap mejamu?" tanya Renji lagi, jelas sekali ia tidak puas dengan jawaban Rukia sebelumnya.

"Karena kotor. Kenapa kau menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas sih?" ujar Rukia seraya mengangkat tempat sampah dan melangkah cepat keluar kelas.

...

Rukia melangkah masuk ke dalam ruang ganti bersama semua siswi kelasnya. Pelajaran selanjutnya kelas mereka hari ini adalah olahraga.

"Kudengar hari ini kita akan main voli," ujar Momo.

"Lagi? Kenapa sih Komamura-sensei suka sekali menyuruh kita main voli?" Rangiku menggerutu. "Eh, Rukia, kenapa kau belum ganti pakaian?" tanya Rangiku karena temannya itu belum mengganti seragamnya dengan kaos olahraga sementara ia dan siswi lainnya sudah hampir selesai berganti pakaian bahkan ada beberapa yang sudah keluar dari ruang ganti.

"A-anu… sepertinya hari ini aku tidak bisa ikut olahraga, Rangiku," jawab Rukia lirih.

"Eh, kenapa? Kau sakit?" tanya Momo.

Rukia menarik kedua temannya dan membisikkan sesuatu di kepada mereka.

"Oh, begitu," Rangiku mengangguk-angguk tanda mengerti. "Baiklah, nanti akan kumintakan ijin pada Komamura-sensei," ujarnya.

"Terima kasih, Rangiku," ucap Rukia.

"Apa kau ingin aku antar ke ruang kesehatan, Rukia?" tanya Momo sebelum gadis itu keluar dari ruang ganti.

Rukia menggeleng. "Aku bisa sendiri," jawabnya.

"Baiklah kalau begitu," ujar Momo seraya keluar dari ruang ganti bersama Rangiku.

Setelah semua orang keluar dari ruang ganti Rukia mengeluarkan seragam olahraga dari dalam tasnya. Seragam olahraga yang kini berhias bekas guntingan di tiap bagiannya. Tadi Rukia beralasan sedang dapat tamu bulanan pada Rangiku padahal alasan sebenarnya adalah seragam olahraga miliknya sudah tak bisa dipakai lagi. Rukia mencengkeram erat seragam olahraganya sembari berjanji dalam hati akan menemukan orang yang melakukan semua ini padanya dan menyudahi kelakuan mereka.

...

Di waktu bersamaan dari jendela kelasnya di lantai dua Ichigo mengamati pemandangan di lapangan. Mata madunya mencari-cari sosok mungil Rukia tapi tak menemukannya. Lalu Ichigo mengambil ponselnya dan mengirimkam pesan singkat pada gadis itu.

To : Rukia

Knp tdk ikut olahraga?

Satu menit kemudian Ichigo mendapat balasan :

From : Rukia

Sakit perut. Skrg sdg istirahat d .

Setelah membaca pesan dari Rukia Ichigo langsung berdiri dan meminta ijin pada pengajar di kelasnya untuk keluar kelas.

...

Rukia melangkah perlahan menuju ruang kesehatan. Ia memang tidak sakit tapi karena ia tidak ingin dinyatakan absen pada jam pelajaran olahraga, ia harus pergi ke ruang kesehatan untuk melapor pada petugas di sana. Peraturan di sekolahnya memang mengharuskan siswa yang tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga harus melapor ke ruang kesehatan selain melapor pada guru yang mengajar.

Namun, sebelum Rukia sampai ke ruang kesehatan. Tiga siswi mencegat langkah Rukia.

"Kuchiki, bisa bicara sebentar."

Rukia menatap satu persatu dari mereka. Rukia mengenali gadis berambut magenta yang berbicara dengannya itu, Dokugamine Riruka, salah satu idola di sekolahnya. Sedang dua lainnya tidak, mungkin dua orang itu adalah teman-teman Riruka, Rukia juga tidak tahu. Yang jelas Rukia merasa tidak memiliki permasalahan apapun dengan ketiganya tapi dari gaya mereka yang sok mengintimidasi Rukia memiliki dugaan apa motif mereka mencegatnya. Ternyata tanpa perlu mencari, orang-orang yang berusaha mengencetnya muncul dengan sendirinya. Rukia mengangguk dan mengekor di belakang Riruka dan teman-temannya.

Mereka membawa Rukia ke halaman belakang sekolah yang jarang dilalui siswa apalagi guru. Ketiganya memojokkan Rukia ke dinding dan mengelilinginya sehingga tak ada celah bagi Rukia untuk lari meski sebenarnya Rukia sendiri tidak pernah berpikir untuk lari.

"JAUHI KUROSAKI!"

Itu kata-kata pertama yang didapat Rukia diikuti tatapan tajam dari Riruka sedang dua gadis lainnya sepertinya hanya berperan sebagai pendamping Riruka.

Rukia membalas tatapan tajam itu. "Kenapa?" tantangnya tak terlihat takut sama sekali.

Riruka tertawa sumbang. "Masih bertanya, kau itu tidak pantas untuk Kurosaki."

"Kenapa aku tidak pantas?"

"Kau itu pendek dan berdada rata, mana pantas disandingkan dengan Kurosaki yang begitu tampan dan keren. Harusnya kau sadar diri, Kuchiki."

"Pendek kau bilang?" jika tatapan bisa membunuh pastinya Riruka sekarang sudah terkapar tak bernyawa.

Riruka mundur selangkah. Sedikit terkejut karena gadis mungil di depannya itu berani melawannya, padahal selama ini tidak ada satupun yang berani melakukannya.

"Biar aku pendek dan berdada rata tapi Ichigo tetap memilihku bukannya memilihmu yang tidak jauh lebih tinggi dariku dan berdada besar," kata Rukia.

"Kau!"

Riruka mendorong tubuh Rukia hingga menabrak dinding.

"Beraninya melawanku!" teriak Riruka diikuti sebuah tamparan di pipi kiri Rukia. Tamparan yang disertai cakaran hingga meninggalkan bekas berdarah di pipi Rukia.

"Riruka!" Dua teman Riruka memekik dan menarik gadis itu menjauh dari Rukia. "Tahan emosimu," salah satunya berbisik di telinga Riruka.

Riruka menyentak tangan-tangan yang memeganginya dan memberi Rukia tatapan tajam. "Menjauh dari Kurosaki jika kau tidak ingin mendapat perlakuan yang lebih buruk lagi," Riruka memperingatkan seraya berbalik dan meninggalkan Rukia.

"Aku tidak peduli," sahut Rukia.

Riruka menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Aku tidak akan menjauh dari Ichigo," kata Rukia. Matanya menatap lurus pada Riruka dengan penuh keyakinan.

"Kau!"

Riruka sudah mengangkat tangannya hendak menampar Rukia lagi, namun seseorang menahan tangannya.

"Ku… Kurosaki!"

Riruka menatap Ichigo yang berdiri di hadapannya seolah-olah pemuda itu adalah hantu. Dan Rukia juga sama, gadis itu juga terkejut dengan kemunculan Ichigo.

"Sepertinya kau melakukan hal buruk, Dokugamine," kata Ichigo pada Riruka. Pemuda itu terlihat begitu tenang, membuat Rukia menatap was-was padanya.

"A-aku…" Riruka tergagap sedang dua temannya sudah bersembunyi di belakang gadis itu. "Dia tidak pantas bersamamu, Kurosaki!"

"Lalu siapa yang pantas? Kau?" tanya Ichigo.

"Setidaknya aku lebih baik," sahut Riruka.

"Oh, begitu," ujar Ichigo. "Dokugamine, mungkin menurutmu kau lebih baik dari Rukia tapi menurutku Rukia jauh lebih baik darimu," tambahnya tanpa keraguan sedikitpun.

Jari-jari Riruka terkepal menahan marah lalu gadis itu berbalik dan melangkah pergi.

"Dokugamine," panggil Ichigo dan Riruka menghentikan langkahnya. "Jika hal seperti ini terulang lagi kau akan berurusan denganku," ancam Ichigo. Riruka tak berbalik, gadis itu hanya melangkah cepat meninggalkan tempat itu diikuti kedua temannya.

"Ichigo…" panggil Rukia karena sudah beberapa menit Ichigo hanya berdiri membelakanginya dengan mulut terkunci rapat.

Ichigo berbalik lalu meraih Rukia ke dalam pelukannya. "Maaf," pemuda itu berucap lirih.

Qualified

"Kau itu pendek dan berdada rata."

Untuk kesekian kalinya kalimat itu melintas di kepala Rukia, membuat gadis itu menghentikan kegiatan belajarnya dan melangkah ke depan cermin setinggi badan yang ada di sudut kamarnya. Rukia memandangi bayangan dirinya di cermin. Sebenarnya Rukia tidak jelek bahkan ia jauh dari kata itu. Rukia berkulit putih dengan rambut hitam sebahu serta mata berwarna violet indah, tidak akan ada yang menyembutnya jelek. Memang Rukia memiliki kekurangan dalam hal tinggi badan tapi tingginya yang tidak mencapai 150 cm itu membuatnya terlihat manis dan imut meski kadang disangka masih anak SD. Sebelumnya Rukia tidak terlalu mempermasalahkan tinggi badannya, ia merasa bersyukur atas apa yang diberikan Kami-sama padanya tapi sejak dua hari lalu, tepatnya sejak Dokugamine Riruka mengatakan padanya kalau ia tidak pantas bersama Ichigo karena ia pendek dan berdada rata Rukia jadi selalu memikirkan hal itu.

"Memangnya salahku kalau kurang tinggi?" gerutu Rukia. "Dan aku punya dada meski tidak besar, tapi aku punya," Rukia merengut pada bayangannya di cermin.

"Rukia-chan?"

Rukia menoleh dan menemukan kakak perempuannya, Kuchiki Hisana berdiri di pintu kamarnya sambil mengerutkan kening, sepertinya wanita itu bingung melihat adiknya bicara sendiri.

"Ya, nee-san?"

Rukia melangkah mendekati kakaknya namun baru dua langkah, langkahnya terhenti. Matanya memerhatikan sosok kakaknya itu dari kaki hingga kepala.

'Coba aku setinggi nee-san.'

Tanpa sadar Rukia cemberut.

"Ada yang salah, Rukia-chan? Apa lukamu sakit?"

Panggilan kakaknya membuat Rukia tersadar dari lamunannya. Rukia menggeleng. "Tidak, lukaku tidak sakit kok," jawabnya. Tangannya menyapu pelan perban yang masih menempel di pipinya. "Aku hanya berpikir, andai aku bisa sedikit lebih tinggi," gumamnya.

"Tidak ada yang salah dengan tinggi badanmu, Rukia-chan. Bersyukurlah atas apa yang kaumiliki maka kau akan merasa sempurna," ujar Hisana.

"Tapi banyak yang tidak bisa dilakukan jika bertubuh pendek, misalnya saat ingin mengambil barang yang letaknya di atas lemari, aku harus mencari bangku atau meminta orang lain untuk mengambilkannya, aku juga tidak bisa menjadi atlet lompat tinggi karena tinggiku kurang. Terlalu banyak hal yang tidak bisa dilakukan jika bertubuh pendek," sungut Rukia.

Hisana melangkah mendekati Rukia dan menepuk puncak kepala adiknya itu dengan pelan. "Apa salahnya meminta bantuan orang lain jika kau tidak bisa melakukan sesuatu? Bukankah manusia itu memang harus saling membantu, kita ini mahluk sosial, tidak mungkin hidup sendiri. Meminta tolong itu wajar, Rukia-chan. Daripada memikirkan apa yang tidak bisa kau lakukan lebih baik memikirkan apa yang bisa kau lakukan," ujarnya. "Memangnya kenapa tiba-tiba kau mempermasalahkan tinggi badanmu? Sebelum-sebelumnya kau tidak terlalu memusingkannya."

"A-anu… itu… sebenarnya…"

Lalu kata-kata mengalir dari mulut Rukia mengenai Riruka yang mengatainya pendek dan berdada rata, Rukia tidak menceritakan mengenai perlakuan tak menyenangkan yang didapatnya di sekolah hanya bagian Riruka menghinanya.

"Jangan dipikirkan," tegas Hisana. "Yang terpenting itu pendapat Ichigo. Jangan pikirkan pendapat orang lain."

"Tapi…"

"Percaya dirilah, Rukia-chan. Tidak semua laki-laki memandang seorang wanita dari bentuk fisiknya, ada beberapa yang melihat ke dalam dirimu, melihat dirimu yang sebenarnya, terlepas dari apakah kau cantik atau biasa saja dia akan tentap mencintaimu apa adanya." Hisana menusap sayang rambut Rukia. "Ingatlah satu hal Rukia, cinta yang berdasar dari penampilan fisik tidak akan bertahan lama. Akan memudar saat kau kehilangan kecantikan fisikmu," Hisana menambahkan.

Rukia tersenyum. "Terima kasih, nee-san," ucapnya sambil memeluk kakaknya.

Hisana balas memeluk adik perempuannya. "Oh ya, Rukia-chan. Si Ichigo ini, nee-san jadi ingin bertemu dengannya," ujar Hisana.

Rukia membeku. Perlahan ia mendongak untuk menatap kakaknya. Hisana tersenyum manis padanya.

"Nanti kalau kalian sudah jadian, bawa dia ke rumah ya?" kata Hisana. Rukia hanya bisa mengangguk kaku mengiyakan.

...

Rumah Sakit

"Kita mau ke mana?" tanya Rukia yang duduk bersama Ichigo di dalam bus. Tadi pagi-pagi sekali ia mendapat sms dari Ichigo yang mengajaknya bertemu di halte bus di dekat rumahnya. Sebenarnya Ichigo ingin menjemputnya di rumah tetapi Rukia melarang karena hari ini Sabtu, kakak iparnya ada di rumah. Kalau Ichigo datang kakak iparnya pasti akan mengintrogasinya.

"Ke rumah sakit"

"Siapa yang sakit?"

"Kau."

"Aku?" Rukia menatap Ichigo bingung. "Aku tidak sakit," bantahnya.

"Ini." Ichigo menyentuh perban yang menempel di pipi Rukia. "Maaf..."

"Sampai kapan sih kau akan terus-terusan minta maaf?" Rukia tak nyaman.

"Salahku sampai kau terluka," sahut Ichigo penuh sesal.

Bug!

Rukia menghadiahi pukulan keras di kepala Ichigo. "Sakit!" Ichigo mengaduh.

"Harus berapa kali sih kubilang, kalau ini bukan salahmu?!" omel Rukia.

Ichigo memandang Rukia. "Maaf..."

"Sekali lagi kau minta maaf, aku akan—"

"Baik, baik, aku tidak akan minta maaf lagi." Ichigo memotong kalimat Rukia sebelum gadis itu selesai. "Tapi kau harus ikut denganku ke rumah sakit."

"Aku baik-baik saja," ujar Rukia. "Unohana-sensei sudah mengobati lukaku kemarin."

"Aku harus memastikan lukamu tidak membekas. Lagipula Unohana-sensei juga menyuruhmu periksa ke rumah sakit kan?"

Rukia mengangguk. "Baiklah." Ia mengalah.

Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah sakit. Ichigo segera memandu Rukia menuju sayap kanan rumah sakit, ke bagian spesialis kulit.

"Nana-san." Ichigo menyapa seorang perawat yang berjaga di depan ruang praktek.

"Kau sudah datang, kupikir tidak jadi," perawat itu menjawab.

"Aku harus menjemputnya dulu," jelas Ichigo.

"Dia ya?" Nana memerhatikan Rukia. "Gadis yang manis. Siapa namamu, sayang?" ia menyapa Rukia.

"Rukia Kuchiki." Rukia membungkuk hormat selagi memperkenalkan dirinya.

"Dan sangat sopan," Nana menambahkan. "Ternyata kau pintar juga memilih, Ichigo." Perawat itu mengedip pada Ichigo.

Rukia melirik Ichigo, dan mendapati wajah pemuda itu sedikit memerah karena malu.

"Sudah hentikan," kata Ichigo. "Kami langsung masuk saja ya?"

Nana mengangguk. "Masuklah."

"Ayo." Ichigo menarik Rukia masuk ke ruang praktek. Sementara Nana mengangkat gagang telepon dan menghubungi sub. bagian dokter umum.

"Selamat siang, dokter Hachi."

Dokter berbadan tambun itu tersenyum pada Ichigo dan Rukia.

"Selamat siang, Ichigo. Dan siapa gadis manis ini?"

Wajah Rukia memerah. Sudah dua orang yang memanggilnya dengan sebutan gadis manis.

"Dia temanku yang kuceritakan, namanya Rukia."

"Saya Rukia Kuchiki, senang bertemu dengan anda." Rukia memperkenalkan diri dengan sopan.

"Tidak perlu terlalu formal," kata dokter Hachi. "Kemarilah, biar kulihat lukamu." Ia menepuk kursi di sebelahnya.

Rukia menghampiri dokter Hachi dan duduk. Dokter Hachi membuka perbannya dan memeriksa lukanya.

"Lukanya tidak dalam, hanya mengores permukaan kulitmu saja," kata dokter Hachi. "Akan sembuh dalam beberapa hari. Aku akan memberimu obat oles untuk menghilangkan bekasnya. Asal kau rajin mengoleskannya, bekasnya akan hilang dalam dua minggu." Ia mengganti perban Rukia dengan yang baru, lalu menuliskan resep obat. "Perbanyak konsumsi sayuran dan buah yang mengandung vitamin C, itu akan mempercepat penyembuhan dan regenerasi sel kulit."

Rukia mengangguk.

"Ichigo, tebus obatnya di apotik." Dokter Hachi menyerahkan lembaran resep pada Ichigo.

"Tunggu sebentar, Rukia." Ichigo bergegas pergi.

"Eh, Ichigo... tunggu..."

"Kau di sini saja, Rukia. Tidak apa-apa," kata Hachi.

"B-baik."

Brak!

Pintu ruang perawatan terbuka. Seorang pria berrambut hitam muncul. Dari jas yang dikenakannya Rukia tahu kalau pria itu juga dokter.

"Di mana dia?" Pria itu bertanya dengan suara nyaring. Lalu tatapan pria itu berhenti pada Rukia.

"Apa kau tidak bisa masuk dengan tenang? Kita masih di rumah sakit, Isshin," tegur dokter Hachi.

"Apa gadis manis ini yang bernama Rukia?" Isshin mengabaikan Hachi dan mendekati Rukia.

Rukia beringsut menjauh, terkejut dan jengah dengan perhatian yang begitu intens dari si pria asing. "P-paman siapa?"

Sebelum Isshin sempat menjawab, pria itu jatuh terjerembab hingga wajahnya mencium lantai.

"I-Ichigo?" Rukia memandang bingung Ichigo, yang merupakan penyebab Isshin jatuh ke lantai.

"Ichigo, begitukah caramu memperlakukan ayahmu?" Isshin berurai airmata.

"Baka, oyaji!" gerutu Ichigo. "Siapa suruh kau mendekati Rukia seperti itu?!"

"Aku hanya ingin melihat calon menantuku. Apa itu salah? Kau yang terlalu pelit tidak mau memperkenalkannya padaku."

"Apa? Aku tahu ayah akan bersikap begini makanya aku tidak mengenalkannya pada ayah."

"Tega sekali. Aku ini ayahmu!"

Rukia memerhatikan kedua ayah dan anak yang sedang perang mulut itu. Ia bingung harus berkata apa untuk menghentikannya.

"Dokter Hachi..." ia memanggil Hachi yang ternyata tengah asyik menyesap tehnya.

"Tidak apa-apa Rukia, mereka memang sudah biasa begitu," ujar dokter Hachi santai.

Rukia kembali memerhatikan ayah dan anak yang masih terlibat perang mulut di depannya itu. Ia menjadi tak nyaman karena dirinya yang menjadi sumber keributan mereka. Ia mencoba melerai, tapi suaranya tidak didengar oleh mereka. Akhirnya ia mengambil langkah nekad dengan menendang Ichigo hingga pemuda itu terjungkal ke lantai.

"Rukia, apa-apaan—"

Rukia berkacak pinggang di depan pemuda itu. "Kau tidak boleh bersikap begitu pada ayahmu," omelnya.

"Tapi..."

Rukia membalikkan tubuh lalu membungkuk sopan di depan Isshin. "Maaf, saya belum sempat memperkenalkan diri, nama saya Rukia Kuchiki."

Isshin tersenyum lebar dan langsung memeluk Rukia. "Kau manis sekali, Rukia-chan!" ia berseru girang. "Mulai hari ini kau adalah putri ketigaku."

"Eh?" Rukia menoleh pada Ichigo yang hanya bisa mengangkat bahu tak berdaya.

...

Say You Love Me

Setiap tahu keluarga kecil Kuchiki selalu melakukan Hatsumoude—kunjungan pertama ke kuil— di tahun baru, memanjatkan doa berupa harapan agar diberi kesehatan dan keselamatan sepanjang tahun mendatang. Dan sudah menjadi kebiasaan mereka akan pergi memakai Yukata—pakaian tradisional Jepang—. Tahun ini Hisana memakai Tahun ini Hisana memakai Yukata berwarna ungu muda dengan motif bunga sakura, dan untuk adiknya ia memilihkan yukata berwarna putih.

Hisana mengencangkan ikatan obi—sabuk kain—di tubuh adiknya, membentuknya menjadi simpul bunko—simpul berbentuk kupu-kupu—.

"Selesai." Ia tersenyum senang melihat hasil kerjanya. "Adikku cantik sekali."

Hisana menatap bayangan adiknya di cermin. Rukia memang terlihat sangat cantik dalam balutan Yukata putih bermotif bunga seruni, dengan rambut yang ditata side bun berhias kanzashi—hiasan rambut—berbentuk senada dengan motif yukata yang dikenakannya. "Ichigo pasti tak akan bisa memalingkan matanya darimu," ia menambahkan.

"Nee-san!" Rukia berputar cepat menghadap kakak perempuannya, wajahnya sudah berhias rona merah. "Lagipula hari ini belum tentu kami bisa bertemu."

"Bukankah kalian sudah berjanji bertemu di kuil?" Hisana bingung.

Rukia mengangguk. "Tapi aku ragu dia bisa menemukanku di kerumunan orang sebanyak itu," ujar Rukia.

"Dia akan menemukanmu, adikku sayang," kata Hisana menenangkan.

"B-Bagaimana?" Rukia menatap kakaknya bingung.

"Kita selalu bisa menemukan orang yang kita cintai dimanapun dia berada. Hatinya akan menuntunnya menemukanmu."

Rukia menggeleng.

"Kau tidak percaya?"

"Kurasa Ichigo tidak menyukaiku sebesar itu," ujarnya.

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Dia tidak pernah mengatakannya langsung padaku."

"Eh? Saat festival olah raga?"

"Itu tulisan di atas kertas, nee-san, dia tak pernah mengatakannya secara langsung. Itu membuatku ragu tentang perasannya. Bisa saja aku salah paham, ya kan?" Rukia mencurahkan kegundahan hatinya. Sudah dua bulan lebih berlalu dari acara festival olahraga, namun sampai sekarang Ichigo tidak mengatakan apapun padanya. Memang hubungan mereka sudah semakin dekat. Tetapi status mereka masih sama, berteman.

"Kenapa tidak kau tanyakan langsung?" Hisana memberi alternatif.

"Mana mungkin aku melakukannya. Itu memalukan!" sahut Rukia.

Hisana tersenyum. "Kalau begitu tunggulah, nee-san yakin Ichigo tak bisa menunggu lebih lama lagi setelah melihatmu hari ini." Wajah Rukia kembali memerah. "Nah, kita harus berangkat sekarang. Byakuya-sama sudah menunggu."

...

Setelah selesai melakukan hatsumoude bersama kakak dan kakak iparnya, Rukia meminta ijin untuk menemui temannya. Ia tidak mengatakan jika temannya itu adalah Ichigo pada kakak iparnya, karena tahu Byakuya tidak akan mengijinkannya jika tahu yang akan ditemuinya adalah seorang laki-laki.

Rukia menepi dari keramaian. Menunggu di bawah sebuah pohon besar sambil mengetik pesan yang langsung ia kirimkan pada Ichigo setelah selesai.

Ia memandang sekeliling. Kuil di hari pertama tahun baru memang sangat ramai, begitu banyak yang datang untuk melakukan hatsumoude. Rukia ragu Ichigo dapat menemukannya di antara kerumunan orang ini.

"Yo, Rukia!" Rukia menoleh dan menemukan Renji menghampirinya.

"Selamat tahun baru," ujar Renji.

"Selamat tahun baru," kata Rukia.

"Sendirian?" tanya Renji. "Mana keluargamu? Biasanya kan kau pergi dengan kakak dan kakak iparmu."

"Mereka sudah pulang." Rukia menjawab sekenanya. Dalam hati ia berdoa agar Renji pergi sebelum Ichigo datang. Rukia tak mau Renji tahu ia janjian dengan Ichigo.

"Lalu kenapa kau masih di sini?"

"Menunggu teman," Rukia menjawab singkat. "Kau sendirian?" ia balik bertanya.

"Aku bersama teman-temanku tadi, tapi kami terpisah," Renji menjawab. "Kau menunggu siapa?" Renji bertanya lagi, rupanya temannya itu tak ingin melepaskannya dengan mudah.

"Seorang teman."

"Siapa?"

"Kau tak perlu tahu." Rukia jengah dengan pertanyaan Renji.

"Kenapa tidak mau bilang?"

Rukia tak menjawab.

"Mencurigakan," kata Renji.

"Mencurigakan atau tidak itu urusanku, sekarang pergilah." Rukia mendorong Renji menjauh, namun usahanya sia-sia tubuh kuat Renji tak tergeser sedikitpun.

"Jangan-jangan yang kautunggu itu pacarmu ya?" Renji menyeringai.

"B-bukan kok," Rukia menjawab dengan wajah merah padam.

"Kalau bukan, tidak apa-apa kan kalau aku melihatnya," ujar Renji. "Aku akan pergi setelah dia datang."

"Aku sudah datang, kau bisa pergi sekarang."

Mereka berdua menoleh. Renji agak terkejut melihat Ichigo melangkah mendekat, sementara Rukia tak bisa memalingkan wajahnya dari pemuda yang disukainya itu.

"Ichigo?" Renji berpaling pada Rukia. "Kau janjian dengan Ichigo, Rukia?" tanyanya.

"Iya, memangnya kenapa?" Ichigo yang menjawab pertanyaan itu.

"Kalian pacaran ya?"

"Kami..." Rukia menoleh pada Ichigo meminta bantuan untuk menjelaskan, namun Ichigo tak mengatakan apa-apa, malah ia terlihat menunggu apa yang akan dikatakan Rukia. "Kami tidak pacaran kok," Rukia melanjutkan.

Rukia berharap Ichigo meralat kata-katanya, tetapi tak ada kata yang keluar dari mulut pemuda itu, ekspresi yang nampak di wajahnya pun biasa saja, atau mungkin Rukia kurang memerhatikan karena ia sibuk menunduk menyembunyikan wajahnya.

"Sekarang kau bisa pergi, Renji," ujar Ichigo.

"Eh?"

"Aku sudah datang." Ichigo berdecak kesal karena Renji memasang tampang bego.

"Memangnya kalian mau ke mana?" Renji bertanya.

"Bukan urusanmu," sahut Ichigo.

"Aku ikut ya?"

"Tidak boleh." Ichigo menjawab cepat. "Pulang sana. Kami mau pergi!" Ia memutar tubuh Renji dan mendorongnya menjauh, lalu meraih tangan Rukia dan menariknya pergi. "Ayo."

Mereka berdua berjalan dalam diam, bersisian di antara arus manusia yang bergerak meninggalkan kuil. Rukia sesekali melirik Ichigo, ingin mengatakan sesuatu namun selalu ia urungkan. Ekspresi dingin yang muncul di wajah Ichigo membuatnya tak punya nyali untuk memulai percakapan.

Rukia begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai-sampai tak sadar jika ia sekarang sendirian di tengah keramaian, tak ada lagi Ichigo bersamanya. Ia menghentikan langkahnya, menjulurkan leher untuk mencari keberadaan Ichigo. Namun percuma, ia tak menemukan keberadaan pemuda itu, malah tubuh mungil beberapa kali ditabrak karena ia menghentikan langkah di tengah arus pejalan kaki. Ia terhuyung mundur, hampir jatuh terjerembab di tanah jika tidak ada sepasang lengan kuat terulur untuk menahan tubuhnya.

"I-Ichigo!"

"Ayo." Ichigo menarik Rukia ke sisinya, kali ini ia tak melepaskan tangannya dari gadis itu.

"Ichigo..." Rukia memanggil di antara langkah-langkah mereka.

"Ya," Ichigo menjawab pendek.

"Kau marah?"

Tak ada jawaban, bahkan Ichigo tak menoleh padanya.

"Ichigo."

Masih tak ada jawaban.

Bletak!

Rukia memukul kepala Ichigo dengan tas tangannya.

Ichigo mengaduh kesakitan, lalu menoleh pada Rukia. "Sakit tahu!" gerutunya sambil mengusap kepalanya.

"Siapa suruh tidak menjawabku," sahut Rukia.

"Siapa suruh kau bertanya begitu?"

"Kau diam terus sih, jadi kupikir aku sudah membuatmu marah," jelas Rukia.

"Aku tidak marah, hanya kesal," aku Ichigo.

"Kenapa?"

"Kenapa kau bilang begitu pada Renji?" protes Ichigo. "Kenapa kau bilang kita tidak pacaran?"

"Memangnya kita pacaran?" Rukia balik bertanya.

"Maksudmu?" Kernyit muncul di dahi Ichigo.

"Kau tidak pernah bilang suka padaku, tidak pernah memintaku jadi pacarmu, bahkan kau tidak bilang aku cantik hari ini," papar Rukia.

Ichigo membeku. Kata-kata Rukia seperti air dingin yang menguyur tubuhnya, menyadarkannya bahwa selama ini ia tak pernah mengatakan apa-apa. Ia memang memberi tanda namun tak pernah memberi kepastian. Hubungan mereka kuat sekaligus rapuh di saat bersamaan. Rukia bersamanya, tetapi bisa saja pergi sewaktu-waktu karena tak pernah ada ikatan jelas di antara mereka.

"Aku menyukaimu," Ichigo berucap. "Kupikir selama ini aku sudah cukup menunjukkan perasaanku padamu."

"Tapi kau tak pernah mengatakannya," ujar Rukia.

"Saat festival olahraga?"

Rukia menggeleng. "Terkadang butuh kejelasan, Ichigo. Aku selalu punya keraguan tentang perasaanmu padaku," jelasnya.

"Aku menyukaimu... aku menyukaimu... aku menyukaimu... aku menyukaimu... aku meny—"

Rukia menutup mulut Ichigo dengan kedua tangannya. Wajahnya memerah sempurna, hingga mencapai telinganya. "Kau tak perlu mengatakannya berkali-kali," protesnya. "Itu memalukan."

Ichigo meraih tangan Rukia, menurunkannya hingga ia dapat berbicara, "Sekarang perasaanku sudah jelas, kan?" Rukia mengangguk. "Berarti mulai sekarang aku bisa menyebutmu pacarku?" Rukia mengangguk lagi. "Bagus."

Ichigo menggenggam tangan Rukia, lalu keduanya mulai melangkah bersama lagi.

"Rukia."

"Ya?" Rukia mendongak menatap Ichigo.

"Kau sangat cantik hari ini," ujar Ichigo pelan dengan wajah semerah kepiting rebus.

...

Review's review :

Guest

Makasih udah baca en review.

Jujur, saya ga punya jadwal update yang tetap. Kadang Minggu, kadang Senin, ga tetap, tergantung situasi dan kondisi saya di dunia nyata dan... tergantung mood juga. Hehe... Nah, kalo kamu ketinggalan, bacanya maraton aja, beberapa chap sekalian. *plak!*

...

Terima kasih udah membaca sampai akhir dan terima kasih.

See ya,

Ann *-*

...