YES! THAT STUDENT IS MY HUSBAND!
Author : SHIN RAEWOO
Rate : T
Main Cast: CHANYEOL x BAEKHYUN
Other Cast: WILL APPEAR ONE BY ONE!
Genre: ROMANCE, HUMOR, DRAMA, MARRIAGE LIFE
Warning: YAOI, BOY x BOY, TYPO, BAHASA SUKAR DI FAHAMI(?)
.
.
.
.
"Kyaaa kenapa kau menciumku?"
"Apa ku salah mencium istriku sendiri. Park Baekhyun. Oh atau harus ku panggil Baekkie?" Chanyeol tersenyum miring melihat reaksi Baekhyun yang terkejut buat kali keduanya setelah dia menyebut nama Baekkie.
Baekhyun memandang Chanyeol tidak percaya. Sedangkan Chanyeol masih menyeringai melihat Baekhyun. Merasa puas dengan reaksi si mungil.
"Ke..kenapa kau memanggilku Baekkie? Bagaimana bisa kau mengetahui nama itu?" tanya Baekhyun terbata-bata. Matanya masih menatap lekat wajah Chanyeol yang saat ini sedang tersenyum, bukan senyuman yang biasa melainkan senyuman yang meremehkan.
"Sepertinya kau tidak mengingati ku eoh? Atau harus aku mengingatkanmu dengan ini?"
Jari panjang Chanyeol menunjukkan sesuatu di dahi kanannya. Baekhyun melihat kearah yang ditunjukkan Chanyeol. Dengan sedikit memincingkan matanya, Baekhyun dapat melihat dengan jelas terdapat parut sebuah luka yang sudah pudar di dahi namja tinggi itu. Baekhyun mengamati bekas luka tersebut. 'Lukanya agak besar. Apa dia pernah mengalami kecelakaan? Atau…- oh nanti dulu! Jangan-jangan dia…'
"Jadi k..kau.."
"Iya. Kau benar itu aku." Chanyeol menjawab santai. Sedangkan Baekhyun masih tidak bergeming di tempatnya. 'Tidak! Ini tidak mungkin!' Baekhyun berperang dengan batinnya sendiri. Dia menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Chanyeol.
"Kau tidak percaya eoh?"
"Ini tidak mungkin." Baekhyun berucap lirih, tapi cukup bisa di dengar oleh Chanyeol. Chanyeol mendekatkan bibirnya tepat ke telinga Baekhyun. Berbisik sesuatu yang menyebabkan Baekhyun merinding.
"Sekarang aku yang berkuasa. Karena aku suami mu Byun Baekhyun."
C
X
B
"Ada apa kau memanggilku Baek, apa kau mau meminta tips untuk malam pertama mu eoh?" Luhan memasuki kamar hotel Baekhyun. Dia mendudukkan dirinya di sofa yang berada di dalam kamar tersebut.
Kamar yang di hias indah dengan kelopak mawar merah berbentuk hati yang terdapat di atas kasur, menambahkan lagi suasana romantic buat pasangan yang baru menikah.
Baekhyun sedang terduduk di meja rias. Setelah acara pesta pernikahan mereka selesai, Baekhyun memutuskan untuk kembali ke kamar. Fikirannya sedang kacau saat ini. Memikirkan dia bernikah dengan seseorang yang…. Oh apakah takdir sedang memainkan dirinya saat ini?
Baekhyun membalikkan tubuhnya menghadap Luhan. Memerhatikan sahabatnya yang sedang sibuk membalas pesan di ponselnya sambil tersenyum-tersenyum. Entah apa yang lucu, yang membuatkan Luhan begitu.
"Luhan."
"Nde."
"Kyaaa Xi Luhan liat aku."
"Huh baiklah." Luhan meletakkan ponselnya. Dia menyilangkan kedua kakinya sambil menatap Baekhyun yang sedang duduk berhadapn dengannya.
"Luhan apa kau mengingati anak kecil yang selalu menjadi mangsa bulian ku dulu?"
"Yang mana?"
"Anak kecil yang selalu ku bilang gemuk dulu." Luhan menatap langit-langit kamar hotel. Mencoba untuk mengingati sosok anak kecil yang dipertanyakan Baekhyun.
"Ah anak gemuk yang pakai kaca mata, terus dia pindah sekolah gara-gara kau menolaknya hingga menyebabkan dahinya terluka?" Baekhyun mengangguk, mengiyakan semua yang dikatakan Luhan.
"Emang kenapa dengan anak itu?" Luhan kembali memainkan ponselnya, sedangkan Baekhyun, dia mengigit bibir bawahnya. Ragu dengan apa yang akan dibilangnya kepada Luhan nanti.
"Dia, Park Chanyeol."
"MWO?!" sukses ponsel milik Luhan jatuh ke lantai setelah mendengar apa yang diperkatakan Baekhyun. Dia tidak peduli dengan iPhone7 yang baru di belinya dua minggu lalu. Penjelasan Baekhyun sangat penting saat ini!
"Anak yang sering ku buli itu, dia Park Chanyeol."
"Chanyeol suami mu? Kau yakin Baek?!" Baekhyun menganggukan kepalanya perlahan. Dia menatap Luhan yang masih memberikan tatapan tidak percayanya.
Luhan mengingati, waktu itu umur mereka baru menginjak 12 tahun. Baekhyun sering membuli adik kelas mereka yang saat itu berumur 8 tahun.
Sosok anak laki-laki yang bertubuh gemuk, memakai kaca mata, anak laki-laki yang polos dan lugu sering menjadi mangsa pembulian Baekhyun. Setiap hari anak itu pasti menangis gara-gara ulah yang di lakukan Baekhyun.
Entah kenapa Baekhyun sering membuli anak itu, Luhan tidak tau penyebabnya. Yang jelas Baekhyun pernah bilang dia tidak menyukai anak itu karena anak itu jelek.
Sampai satu saat, Baekhyun tidak sengaja menolak anak itu ketika Baekhyun merebut kotak bekal yang di bawa anak kecil itu ke sekolah. Dan hasilnya dahi anak itu terluka parah dan terpaksa di bawa ke rumah sakit.
Seminggu selepas kejadian, anak itu memutuskan untuk berpindah sekolah dan mereka tidak lagi bertemu dengan anak itu. Dan sekarang Baekhyun mengatakan dia menikah dengan anak kecil yang pernah menjadi mangsa bulinya?!
"Ya. Aku pasti. Selepas kami berciuman, dia memanggilku Baekkie, dan dia juga menunjukkan ku parut bekas luka yang terdapat di dahinya." Baekhyun tidak salah. Memang anak itu Chanyeol kerana hanya anak yang pernah dibulinya itu memanggilnya Baekkie.
"Oho ini karma Baek."
"Maksudmu?" Baekhyun mengangkat sebelah keningnya. Tidak mengerti dengan perkataan Luhan.
"Iya. Dulu kau membulinya kerna dia jelek bukan? Tapi sekarang dia telah berubah menjadi sosok yang sangat tampan yang mampu memikat sesiapa saja yang melihatnya. Dan jangan lupa Baek, dia itu suami mu. Mungkin ini pembalasan di atas semua dosa-dosamu dulu."
Baekhyun menghela nafasnya pasrah. Mungkin apa yang diucapkan Luhan itu benar. Ini semua karma atas apa yang telah dilakukannya dulu.
"Aku harus bagaimana Lu?"
"Mau gimana lagi, kalian sudah menikah. Aku pikir kau harus mulai belajar untuk menjadi istri yang baik, dan juga…-"
"Dan juga?" Luhan mendekati Baekhyun, membisikkan sesuatu yang sukses membuatkan wajah Baekhyun merah sempurna.
"Dan juga kau harus bisa memuaskan Chanyeol di ranjang." Luhan tertawa keras melihat perubahan di wajah Baekhyun. Dia yakin Baekhyun sedang malu mendengar kata-katanya yang sedikit vulgar itu.
"Kyaaa! Dasar Byuntae!" Dengan cepat, Luhan berlari keluar meninggalkan kamar Baekhyun yang membuatkan bantal yang awalnya mau dilemparkan kepada Luhan,hanya terkena pintu kamarnya.
Namun beberapa saat kemudian, knop pintu kamarnya bergerak-gerak. Dan Baekhyun sudah siap-siap dengan bantal kedua di tangannya untuk dilempar kepada Luhan.
"Awas kau Lu, aku akan pastikan kau kena lemparanku." Tepat pintu itu terbuka, Baekhyun langsung melemparkan bantalnya kearah sosok yang diyakininya Luhan.
"Yey.. hahaha rasakan itu Xi Luhan!" Baekhyun tertawa senang. Bahkan dia saat ini sedang melakukan random dance untuk meraikan kejayaannya kerna berhasil melemparkan bantal itu.
"O..Oh"
Namun, gerakkannya terhenti. Setelah melihat sosok yang berdiri dihadapan pintu dan sedang mengepalkan kedua tangannya dan juga menundukkan kepalanya. Baekhyun yakin sosok itu sedang marah besar.
"Mati kau Baekhyun."
C
X
B
"Kyung…" Kai melingkari kedua tangannya di pinggang ramping milik tunangannya, D.o Kyungsoo dari arah belakang. Dia meletakkan dagunya di bahu namja bermata bulat itu.
"Apa kau tidak kedinginan hurm?" Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Mereka berada di balkon hotel, menikmati keindahan malam Pulau Jeju. Kyungsoo menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Kai, dan meletakkan tangan kecilnya di atas tangan Kai yang melingkari perutnya.
"Kai."
"Nde."
"Gomawo."
"Untuk?"
"Karena kau sudi menerima ku. Walaupun aku sudah kotor." Kai langsung membalikkan tubuh Kyungsoo untuk berhadapan dengannya. Jelas dia tidak suka dengan apa yang di ucapkan Kyungsoo barusan.
"Kyung jangan membicarakan hal ini lagi, kita sudah banyak kali membahaskannya."
"Tapi aku sudah kotor Kai. Aku tidak layak untukmu, kau akan mewarisi perusahaan kakekmu. Aku tidak pantas untuk bersanding denganmu." Suara Kyungsoo bergetar. Airmatanya sudah lolos membasahi pipinya. Kai yang tidak tahan melihat kekasihnya menangis, langsung membawa tubuh kecil itu kedalam dakapan hangat miliknya.
Kai merupakan cucu kepada seorang pengusaha barangan tembikar yang ternama di Korea. Ibu dan ayahnya telah meninggal dunia kerana kecelakaan pesawat saat dia berumur 5 tahun. Dan dia dibesarkan oleh kakeknya. Sama seperti Chanyeol, Kai juga akan memimpin perusahaan saat umurnya 22 tahun.
"Sudah ku bilang Kyung, itu bukan salahmu. Aku menerima mu karena aku benar-benar mencintaimu. Kakek juga merestui kita bukan?"
FLASHBACK ON
Kai berjalan sendirian kembali kerumahnya. Dia memilih untuk berjalan kaki karena sedang malas untuk memandu mobilnya. Lagipula, dia hanya ke supermarket yang berhampiran dengan kawasan kediaman yang didudukinya.
Kai bersiul kecil. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku sweaternya. Lumayan cuaca agak dingin malam ini. Langkahnya terhenti saat melihat sosok tubuh yang bersandar lemah di pintu pagar rumahnya.
Kai mendekati sosok itu. Keadaannya saat menggenaskan. Terdapat koyakkan di baju yang dipakainya, manakala di wajahnya terdapat kesan lebam dan darah yang mengering di sudut bibirnya.
"Chogiyo? Ya ampun Kyungsoo?" Kai kaget setelah melihat sosok itu dengan jelas. Dia Kyungsoo. Kakak kelas yang sudah lama disukainya dalam diam. Dia tidak habis pikir kenapa Kyungsoo bisa jadi seperti ini.
"Kyungsoo kau kenapa?"
"K..Kai. Tto…tolong bantu aku." Kyungsoo berucap lirih sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya. Tidak mau tunggu lagi, Kai langsung menggendong tubuh itu masuk ke dalam mobilnya dan membawa tubuh tidak berdaya Kyungsoo menuju ke rumah sakit.
Kyungsoo membuka matanya perlahan. Dia memegang kepalanya yang di perban. Cahaya lampu sedikit menyilaukan matanya, membuatkannya agak kesusahan membuka matanya.
"Kyungsoo kau sudah bangun?" Kai yang baru memasuki kamar perawatan Kyungsoo, dengan cepat mendekati lelaki itu. Dia membantu Kyungsoo untuk bangun dari pembaringannya.
"Aku di mana?"
"Kau di rumah sakit Kyungsoo." Kyungsoo tidak menjawab. Dia masih memegangi kepalanya yang terasa berat. Tiba-tiba kejadian kemarin berputar diingatannya, membuatkan Kyungsoo menangis.
Kai yang melihat itu mulai merasa khawatir. Dia meletakkan sebelah tangannya di bahu Kyungsoo untuk menenangkan namja itu.
"Kyungsoo."
"Kyaaa pergi, jangan sentuh aku. Pergi.. pergi!" Kai kaget dengan tiba-tiba Kyungsoo membentaknya. Dia menepis kuat tangan Kai yang menyentuhnya. Kyungsoo memejamkan matanya sambil menangis. Dia menutup kedua telinganya. Membuatkan hati Kai terluka melihat keadaan Kyungsoo yang telah berubah sepenuhnya.
"Kyungsoo." Kai berucap lirih. Dia mencoba mendekati namja itu lagi.
"Pergi! Aku benci kau! Jangan sentuh aku!" Tangan Kai terkepal erat. Dia tahu penyebab Kyungsoo menjadi seperti itu. Doktor yang merawat Kyungsoo telah memberitahunya bahawa Kyungsoo telah diperkosa dengan sangat kejam sehingga meninggalkan trauma yang dasyat kepadanya.
Langsung Kai menyuruh orang-orangnya untuk mencari tau siapa yang memperlakukan orang yang sangat dicintainya seperti itu. Dan Kai langsung mendatangi orang yang ternyata adalah ayah tiri Kyungsoo sendiri. Tanpa banyak bicara, Kai langsung menghajar lelaki berengsek itu sebelum di serahkan kepada polisi.
Kai baru mengetahui, ibu Kyungsoo telah lama meninggal. Dan selama ini Kyungsoo tinggal bersama ayah tirinya. Ayah tirinya seorang pemabuk, kaki judi, dan selalu memukuli Kyungsoo. Hingga malam itu, Kyungsoo diperkosa oleh ayah tirinya, dan membuatkan Kyungsoo mengambil keputusan untuk lari dari rumah.
Kyungsoo dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Dan sepanjang waktu itu, Kai tidak henti-henti menemani Kyungsoo di rumah sakit. Berbicara, bercerita lelucon lucu kepadanya, walaupun Kyungsoo tidak menganggapinya dan hanya Kai yang berbicara sendiri. Namun, Kai tidak putus asa.
Hari demi hari, keadaan Kyungsoo bertambah baik. Terima kasih kepada Kai yang tidak henti-henti bekerja keras untuk memulihkan keadaan Kyungsoo seperti sedia kala walaupun tidak sepenuhnya, tapi setidaknya Kyungsoo mulai membalas kata-katanya.
Dan akhirnya, Kai mengambil keputusan untuk membawa Kyungsoo untuk tinggal di rumahnya. Awalnya Kyungsoo menolak keras ajakan Kai, namun bukan Kim Jongin kalau dia berputus asa hingga membuatkan Kyungsoo terpaksa mengalah.
Suatu hari, Kai menyatakan cintanya kepada Kyungsoo, namun Kyungsoo menolak cintanya dan mengambil keputusan untuk pergi dari rumah Kai. Membuatkan namja berkulit tan itu sangat-sangat terpukul.
Dia menghabiskan masanya setiap malam ke club untuk meneguk alcohol dan menjadi seorang pemabuk. Hingga satu saat, Kai mengalami kecelakaan jalan raya yang serius sehingga doktor mengatakan peluangnya untuk hidup sangat tipis.
Setelah itu kakek Kai, Tuan Kim, mencoba untuk mencari Kyungsoo, karena dia tau, hanya Kyungsoo lah satu-satunya harapan Kai untuk terus hidup.
Kyungsoo langsung ke rumah sakit. Hati Kyungsoo hancur saat melihat keadaan Kai saai itu. Terbaring lemah dengan wayar yang banyak diseluruh tubuhnya bahkan wajah yang selalu tersenyum itu berubah menjadi pucat. Dan saat itulah, Kyungsoo menyadari, bahawa dia juga mencintai Kai dan tidak mau kehilangan namja itu.
Hampir satu bulan Kai koma, dan hampir satu bulan itu jugalah Kyungsoo tidak henti-henti berdoa dan menemani Kai setiap hari, persis seperti yang dilakukan Kai dulu.
Seperti sebuah keajaiban, Kai langsung tersadar dari komanya tepat setelah Kyungsoo mengatakan dia mencintai Kai disela-sela tangisannya. Dan mereka mengambil keputusan untuk mengikat tali pertunangan beberapa bulan setelah Kai sembuh total dari kecederaanya.
Beruntunglah Tuan Kim merestui hubungan keduanya meski dia mengetahui sejarah hitam yang menimpa Kyungsoo. Dia tidak mempermasalahkan hal itu, asal Kai bahagia. Itu sudah cukup baginya.
FLASHBACK OFF.
C
X
B
"Sendiri?" Luhan mendekati Sehun yang sedang duduk sendirian dipinggir kolam renang. Luhan tidak sengaja bertemu Sehun saat sedang berjalan sendirian di kawasan hotel yang menjadi tempat penginapan mereka dan membuat keputusan untuk mendekati pria berambut blonde itu.
"Luhan-ssi?" Sehun seperti tidak percaya melihat sosok yang diam-diam telah menjadi pujaan hatinya setelah pertemuan mereka di toko bunga milik luhan tempoh hari.
Luhan tertawa kecil melihat ekspresi Sehun. Dia menaikkan kedua celana panjang yang dipakainya separas lutut, dan menduduki dirinya disamping Sehun dengan merendamkan kedua kakinya di dalam kolam renang.
"Sampai bila kau mau menatapku seperti itu?"
"Ah.. maaf Luhan-ssi." Sehun salah tingkah. Dia menggaruk cangung lehernya yang tidak gatal karena ketahuan menatap Luhan yang berada di sampingnya.
Dia menundukkan kepalanya. Menahan degupan jantungnya yang menggila setiap kali bertemu dengan Luhan. Sehun merutukki dirinya sendiri. Untuk kali kedua dia merasakan Jantungnya akan pecah jika berada terus-terusan bersama Luhan.
"Oh ya, tolong jangan memanggilku dengan embel-embel ssi, aku tidak selesa dengan itu." Sehun menatap Luhan yang masih tersenyum kepadanya. Dia terpesona, lagi, dengan senyuman yang diberikan malaikat manisnya.
"Jadi, hyung?" Luhan tertawa setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Sehun membuatkan Sehun mengangkat sebelah keningnya, heran.
"Waeyo?"
"Apa aku sudah setua itu?" Luhan masih menatap Sehun. Tidak sadarkah kau Luhan umurmu sudah menginjak angka 24 tahun. Dan Sehun hanya anak yang berumur 19 tahun, hyung memang panggilan yang tepat.
"Jadi, apa harus aku memanggilmu hanya dengan Luhan?"
"Ya. Itu lebih baik." Keheningan menyelimuti mereka kembali. Tidak tau harus membicarakan apa lagi. Luhan menikmati angin malam yang datang dari laut kepulauan Jeju. Dia memejamkan matanya saat angin lembut menerpa ke wajahnya.
Sehun memandang wajah Luhan. Sungguh dia terpesona dengan namja manis itu. Ditambah lagi angin yang menghembus membuatkan rambut kecoklatan milik Luhan bergerak-gerak mengikuti arah angin , menambahkan lagi kecantikan namja itu.
Chup.
Entah memiliki keberanian dari mana, Sehun mengecupi bibir lembut milik Luhan. Sontak Luhan membuka matanya saat merasakan bibir Sehun menempel di bibirnya.
Hanya mengecup tanpa melumat. Sehun memejamkan matanya, untuk menikmati bibir lembut yang selalu menjadi idamannya.
Sehun membuka matanya perlahan. Dan tidak sengaja matanya menatap mata Luhan yang sedang memandangnya. Dengan cepat dia menjauhkan wajahnya. Sedangkan Luhan masih kaget dengan ciuman di bibirnya.
"Mma..maafkan aku Luhan. Aku benar-benar tidak sengaja." Sehun tidak tau mengapa dia begitu berani mengecup bibir itu. Melihat Luhan masih tidak bergeming, membuatkan Sehun merasa bersalah.
"Luhan, aku benar-benar minta maaf." Setelah itu, Sehun berlari meninggalkan Luhan yang masih terdiam. Sehun malu dengan perbuatannya yang begitu lancang mencium Luhan. Selain itu, dia juga takut kalau-kalau Luhan memarahinya dan memukulnya. Jadi sebelum itu berlaku, Sehun mengambil keputusan untuk menyelamatkan dirinya.
Luhan tersedar dari keterkejutannya. Dia mencari-cari sosok Sehun, tapi hampa karena Sehun telah pergi.
"Cih. Apa-apaan anak itu. Pergi setelah menciumku." Luhan meraba-raba bibirnya. Dia tersenyum. Bahkan dia masih merasakan sensasi bibir Sehun di bibirnya.
"Ah bahkan kau mencuri first kiss ku. Kau harus bertanggungjawab Oh Sehun."
C
X
B
Baekhyun menundukkan kepalanya. Dia memain-mainkan jarinya sendiri. Tidak berani mengangkat kepalanya karena saat ini Chanyeol yang duduk dihadapannya, sedang menatapnya nyalang.
Ya Chanyeol sedang marah kepadanya. Dia membaling bantal terhadap orang yang di sangkanya Luhan, ternyata itu adalah Chanyeol, anak yang pernah menjadi mangsa bulinya namun kini telah menjadi suaminya.
"Ke.. kenapa kau menatap ku seperti itu eoh?" Baekhyun memberanikan dirinya untuk berbicara. Tapi dia menundukkan kepalanya semula, saat melihat wajah Chanyeol yang masih menatapnya datar.
"Kenapa kau membaling bantal kepadaku eoh?" Chanyeol bertanya dengan nada suara bassnya yang dingin. Baekhyun menatap sekilas wajah Chanyeol sebelum mengalihkan pandangannya ke kanan. Menurutnya menatap dinding lebih baik dari menatap wajah Chanyeol yang menakutkan.
"M..mana ku tau. Ku pikir itu Luhan."
"Apa kau mau membuliku lagi eoh? Jangan harap. Lihatlah sekarang kau lebih pendek dari ku." Baekhyun menatap Chanyeol tidak terima. Dia langsung berdiri. Sungguh, pendek itu penghinaan baginya.
"Kyaaa siapa yang kau bilang pendek? Kau cuma lebih tinggi dariku. Dan aku lebih tua darimu!" Chanyeol menutup kedua telinganya. Karena Baekhyun berbicara dengan suara 7 oktaf miliknya.
Chanyeol juga bangkit dari duduknya. Berdiri berhadapan dengan Baekhyun. Dia membungkukan sedikit tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Baekhyun.
"Jinjja? Tapi aku suami mu. Aku berkuasa terhadap dirimu sekarang. Dan aku bisa melakukan apa yang ku inginkan kepadamu, seperti…." Chanyeol mempersempitkan jarak mereka. Baekhyun mulai gelagapan di buatnya.
"Kyaaa kau mau apa eoh? Jangan mendekat." Baekhyun meletakkan tangannya di dada Chanyeol menahan agar Chanyeol tidak semakin merapatkan tubuhnya.
Namun nihil. Chanyeol tidak memperdulikan kata-katanya karena Chanyeol semakin merapatkan tubuh mereka membuatkan Baekhyun terbaring di sofa dengan posisi Chanyeol di atasnya.
"Jangan macam-macam kau Chanyeol atau aku akan berteriak." Baekhyun coba mengancam Chanyeol. Dia mulai memikirkan hal-hal yang akan terjadi nanti.
Chanyeol tertawa kecil, meremehkan perkataan Baekhyun. Dia membelai lembut wajah Baekhyun dengan jari telunjuknya. Tubuhnya yang terkunci menyukarkan Baekhyun untuk bergerak.
"Berteriak eoh? Silakan saja. Dan orang-orang akan mengira kau sedang berteriak ke enakkan akan sentuhanku. Dan tentu saja aku ingin mencicipi tubuh istri ku, ini malam pertama kita, dan kau sebagai istri harus memuaskanku, suami mu."
Baekhyun bergidik ngeri mendengar perkataan Chanyeol. Di tambah lagi, Chanyeol mengucapi perkataan itu dengan suara rendah miliknya tepat dihadapan wajah Baekhyun.
Baekhyun kehilangan kata-katanya. Ini lebih menakutkan dari wajah Chanyeol yang sedang memarahinya tadi. Baekhyun mememejamkan matanya erat saat dia merasakan hembusan nafas Chanyeol di lehernya.
"Sayangnya, aku tidak mempunyai nafsu denganmu." Baekhyun membuka matanya. Dia melihat Chanyeol bangkit dari tubuhnya dengan tawa yang keras.
"Kau harus melihat ekspresimu yang ketakutan tadi Baekhyun." Chanyeol memegang perutnya. Itu sungguh lucu melihat wajah Baekhyun yang ketakutan ketika dengan iseng Chanyeol mengerjai namja kecil itu. Sempat dia menyesal karena tidak merakam ekspresi Baekhyun tadi.
Baekhyun yang sudah berdiri di hadapan Chanyeol, mengepal kedua tangannya erat. Menahan emosinya yang sudah berada di umbun-umbun kepala.
"Lucu eoh?" Baekhyun bertanya dengan suara yang di buat setenang mungkin. Melihat Chanyeol masih tidak berhenti ketawa, bahkan Chanyeol menyeka sudut matanya yang mulai berair.
"Hahaha..sudah tentu… itu sangat lucu."
"Rasakan ini Park Chanyeol!"
"Arghhh!" Dengan geram Baekhyun menjambak keras rambut Chanyeol, membuatkan namja tinggi itu menjerit kesakitan.
"Kyaaa apa yang kau lakukan Baek?!"
"Argghh! Chanyeol lepaskan! Sakit!" Kini giliran Chanyeol menjambak balik rambut Baekhyun. Membuatkan namja cantik itu turut menjerit kesakitan.
SEMENTARA ITU DI LUAR KAMAR CHANYEOL & BAEKHYUN…
Kai dan Sehun saat ini masing-masing mendekatkan telinga mereka di pintu kamar Chanyeol dan Baekhyun. Sebisa-bisanya mereka ingin mengetahui apa yang terjadi pada malam pertama sahabat mereka.
"Arghhh! Kyaaa apa yang kau lakukan Baek?!"
Sehun dan Kai berpandangan sama sendiri setelah mendengar jeritan Chanyeol dari pintu kamar.
"Ommo sepertinya Baekhyun agresif sekali." Sehun menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Kai. Mereka diam kembali untuk mendengar apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Argghh! Chanyeol lepaskan! Sakit!"
"Itu suara Baekhyun kan? Apa Chanyeol memasukinya dengan kasar?" kini giliran Sehun mengutarakan pendapatnya. Sedangkan Kai hanya mengangkat bahunya.
Tanpa mereka sedari Tuan Park mendekati mereka berdua. Dia mengerutkan dahinya melihat kelakuan Sehun dan Kai.
"Kalian sedang apa?"
"Sssht. Diam. Kami ingin mengetahui apa yang dilakukan Chanyeol dan Baekhyun." –Kai
"Jinjja? Apa itu menarik?"
"Kureomyeon. Sepertinya Chanyeol memasuki Baekhyun dengan kasar." –Sehun
Mereka membulatkan matanya setelah menyadari ada orang lain selain mereka. Dengan perlahan mereka membalikkan tubuh masing-masing kebelakang dan kaget saat melihat Tuan Park sedang tersenyum ke arah mereka.
"Appa!"
"Emang kalian ngapain? Nguping ya?"
"Ti..tidak kok appa. Kita cuma liat kalau-kalau pintu kamar Chanyeol rusak. Benarkan Sehun?" Kai menyenggol Sehun yang berada di sebelahnya dengan sikunya meminta sokongan dari Sehun.
"I..Iya appa. Ah tiba-tiba aku jadi ngantuk. Ayo Kai kita kembali ke kamar." Sehun pura-pura menguap. Mencari helah karena tertangkap basah sedang menguping.
"Iya. Ayo. Jaljayo appa." Dengan cepat Kai dan Sehun meninggalkan Tuan Park yang masih menatap mereka. Tuan Park tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
Persis seperti apa yang dilakukan Kai dan Sehun, Tuan Park turut melekapkan telinganya ke pintu kamar Chanyeol dan Baekhyun.
"Chanyeol-ah jangan kasar-kasar. Kasihan Baekhyun!" Tuan Park terkikik setelah mendengar suara-suara di dalam kamar anak menantunya. Tidak lupa dia memperingati Chanyeol agar melakukannya dengan lembut.
"Dasar anak muda. Katanya tidak suka. Ah sepertinya tidak lama lagi aku akan menimang cucu ." Tuan Park meninggalkan kamar Chanyeol dan Baekhyun dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Tanpa diketahui Kai, Sehun, dan Tuan Park, Baekhyun dan Chanyeol tidak melakukan ritual malam pertama mereka seperti apa yang berada difikiran mereka, melainkan hanya berlaku aksi jambak-jambakkan di antara pasangan yang baru menikah itu.
TBC
Hahah 3k+ words. Gimana menurut kalian?
Selamat membaca ya.
Di tunggu reviewnya juga.
Kamsahamnida~
