A/N: Disini akan menjadi dimana pairing Kaname dan Zero. Mohon maaf kalau ada typo atau cerita yang kurang nyambung XD

I hope you enjoy this story


Zero mendesah sebab ini adalah minggu terakhirnya, minggu depan dia sudah mulai bersekolah di Akademi Cross. Dia tahu kalau dia punya Yuki dan semua teman-temannya tapi dia masih merasa aneh dengan mereka. Maksudnya tidak ada diantara mereka yang takut atau ingin membunuhnya.

'Mungkin ini rasanya jika berada di kawanan vampire'pikirnya.

Satu-satunya yang mereka tidak ketahui adalah kekuatan Zero, dan apa yang mereka lakukan bila mengetahuinya. Zero mencoba untuk sempurna, agar tidak tergelincir, jadi mereka tidak mengetahuinya. Ini adalah waktu untuk menerima kenyataan bahwa dia tidak akan punya teman lagi, jadi dia tidak mau memiliki ikatan dengan mereka.

Zero meluncur dari kasurnya dan memulai mandi untuk kebiasaan sehari-harinya yang biasanya tidak melakukan apapun. Air shower mengalir di tubuh langsingnya. Dia membiarkan butir-butir air jatuh dari badannya untuk beberapa menit dan keluar dari kamar mandi. Dia mengambil baju polos abu-abu yang mempunyai lengan cukup panjang untuk ukuran lengannya. Dia tidak peduli toh! Dia menyukainya kalau terlihat aneh yang bisa membuat orang-orang menjauhinya atau meninggalkannya sendiri. Lalu dia melempar skinny jeans dan duduk di luar di atas beranda.

"Hmm, apa yang kulakukan?" tanyanya setengah berbisik.


Kaname bangun dan melakukan kegiatan rutin saat sinar bulan masuk ke dalam jendela kamarnya.

"Ahh, malam yang indah. Aku ingin tahu Zero sedang apa sekarang?"Kaname penasaran.

Akhir-akhir ini Kaname selalu bertanya-tanya dengan keadaan Zero dalam hati. Ingin sekali dia suatu saat mengunjungi rumahnya. Namun, dia hanya merasa tidak enak kalau Zero tidak menyukai kedatangannya tanpa di undang. Kaname selalu menunggu jika Hiou mengundangnya, agar dia bisa melihat Zero. Mengingatnya terlintas semu merah di wajahnya.

'Apa yang kupikirkan tadi? Aku hampir mengatakan kalau aku sedang kangen dengan Zero.'benak Kaname menutupi mulutnya karena kaget dengan pikirannya.

Mungkin dia harus pergi berkunjung secara kejutan ke rumahnya. Ingin juga dia mengajak Yuki, tapi adikknya kira-kira masih tidur di kamarnya. Kaname tidak mau membangunkan adik kesayangannya. Kaname juga sangat mengakui, kalau Zero terlihat menarik dengan keterkejutannya dengan datang tiba-tiba. Memikirkannya membuat Kaname terkikik kecil, Kaname berjalan ke tempat tidur adiknya dan mencium kening Yuki. Dia kemudian berjalan ke arah pintu dan segera pergi berkunjung ke kediaman Hiou.

Zero duduk dengan tenang dan suasana sedang sunyi, dia bisa mencium banyak aroma dari komplek vampire. Semuanya terasa normal sampai sesuatu hinggap di pikirannya. Ulang tahunnya besok! Kekuatannya selalu muncul saat ulang tahunnya dan ibunya juga menyiapkan pesta kejutan besok. Shizuka mencoba untuk menutupinya tapi wanita itu sungguh mustahil untuk menyembunyikan secara tenang.

"Me..me..mereka akan tahu kekuatanku!" Zero menggagap.

"Zero!"

Perhatian Zero terbuyar saat melihat Pangeran Darah Murni datang atau berjalan ke arahnya. Zero bisa merasa kekuatannya sedang mengamuk di dalam tubuhnya menunggu kebebasan.

"Jangan! Jangan sekarang!"

"Apa sesuatu telah terjadi, Zero? Aku tidak bermaksud mengganggu." Kaname bertanya.

Zero hampir lupa kalau Kaname sedang berada disini.

"Tidak ada apa-apa, Kaname. Aku sedang bicara sendiri." ucap Zero.

Keningnya sudah mengalir keringat dan badannya merinding, dalam sudut pandang Kaname malam ini tidak terlalu dingin. Tapi dia mengangkat alisnya dan mencoba mendekat. Zero sedang tidak stabil, keringat mengalir ke lehernya dan Kaname semakin mendekat. Kuitnya pucat dan panas.

"Zero, daijoubuka. Kau terlihat sakit, apa sebaiknya kupanggil Ibumu?" tanya Kaname khawatir.

"Aku...aku baik Kana..me" lirih Zero berjalan sambil bertahan dengan gagang tangga.

Nafasnya sedang terengah-engah, jalannya juga sudah tidak goyah. Tapi dia harus tahan karena disitu ada Kaname. Dia tidak ingin Kaname mengetahuinya.

"Zero! Aku serius, aku bisa membantu." kesal Kaname ingin menghampiri Zero

Zero bisa merasakan kepanikan suara Kaname, dia harus menahannya dan terus berpura-pura. Bagaimana kalau Kaname memanggil dokter? Mereka pasti akan tahu siapa Zero sebenarnya.

"Aku sung—"

Kaname segera menangkap Zero yang hampir jatuh ke tanah. Zero hanya melihat pemandangan guram dan menangkap sosok coklat didepannya.

"Zero!" Kaname memanggil.

Itu adalah yang terakhir dia dengar sebelum dia total dengan kegelapan.


Zero membuka matanya dan menemukan dia sedang berada di ruangan yang megah dan mewah. Matanya menerawang ke setiap sudut sampai dia mendapatkan Kaname sedang duduk di pinggir kasur dengan wajahnya yang kalem.

"Zero."

"Kaname?" tanyanya ragu-ragu.

"Aku tahu."

DEG

Zero melihat Kaname dengan ketakutan. Dia tahu? Apa maksudnya dia tahu.

"Ka..kau tahu?" tanya Zero gagap.

Kaname bisa merasakan detak jantung Zero yang kencang. Sebuah senyuman terukir di bibirnya sampai dia tertawa kecil.

"Iya Zero, aku tahu."

DEG

"Aku tahu tentang ulang tahunmu, aku dengar kau mencoba merahasiakannya dari kami."

Wajah Zero yang pucat berubah menjadi aslinya secepat mungkin.

'Tunggu? Baru saja dia bilang ulang tahunku?'pikirnya.

Zero mencoba bernafas kembali dan mulai tertawa juga.

"Oh iya! Sial aku pikir dapat lari sebelum itu! Yaa, kau sudah mengetahuinya deh." Zero sengaja mengikuti alur.

"Yuki sedang menyiapkan rencana pestanya...euh!" Kaname keceplosan.

"Tidak usah khawatir, aku sudah mengetahui tentang pestanya. Tapi kalian tidak usah repot-repot datang kalau sibuk." jawab Zero tenang.

"Kau bicara apa? tentu saja kami akan datang. Tapi ngomong-ngomong apa kau baik-baik saja? Tadi kau terlihat sakit."tanya Kaname yang saat ini berekspresi khawatir.

"Oh itu...aku hanya belum minum darah apapun di tubuhku." sindir Zero.

"Ini akan menahanmu sedikit."

Kaname menyerahkan pil darah ke Zero, dia menerimanya tapi dia tahu bahwa itu tidak akan bekerja. Tubuhnya sangat membenci pil sialan itu. Zero beranjak dari kasur dan Kaname mengantarnya menuju pintu.

"Ingat untuk meminumnya. Kita tidak menginginkan Dewan mengecek kita sekarang, kan?" ucap Kaname.

Zero mengangguk tanda setuju.

"Eumm..Kaname terima kasih." ucap Zero kesal namun segera pergi.

Kaname tersenyum sambil melambaikan tangan kepergian Zero dan menutup pintu. Setelah dia mengetahui Zero sudah tidak ada, dia segera menuju perpustakaan. Mencari buku tentang riset.

"Pasti buku itu ada di suatu tempat."

Kaname hampir menyerah, saat dia melihat buku terpajang tidak jauh dari dia berdiri.

"Legenda vampire kuno."

Kaname menghapus debu dari buku tersebut dan membukanya.

"Hal yang tidak dikenal." bisiknya.

"Vampire tanpa status."


Zero pulang ke rumah dengan tampang gelisah takut bertemu dengan ibunya

"Kaa-san, kau di rumah?"

Shizuka muncul dari arah dapur dan menyapa anaknya.

"Zero, aku tidak melihatmu seharian hari ini!" ujarnya memeluk anaknya.

Dengan terkejutnya Zero membalas pelukannya. Mata Shizuka terbuka lebar dan menatap anaknya dengan tidak percaya. Kapan Zero suka memeluk.

"Apa yang kau lakukan?"

"Apa! aku hanya merindukanmu!" jawab Zero malu.

"Ha! Iblis mana yang merasukimu, Zero?

"Kaa-san, aku hanya sedikit takut hari ini. Itu saja."

Wajah Shizuka yang tadinya mengejek menjadi terlihat sedih dan khawatir.

"Kenapa kau takut, Zero?"

Zero mendesah dan menceritakannya.

"Kekuatanku hampir bangun hari ini dan 'seseorang' bersamaku. Aku tidak tahu kalau dia melihat atau tidak."

Mata Shizuka terbelalak dengan teror. Bagaimana jika mereka harus pindah lagi. Dia menarik kursi lalu mendudukinya dan mengisyaratkan Zero untuk melakukan yang sama.

"Zero sayangku, itu tidak masalah apa yang mereka pikirkan tentangmu. Kau aman disini." jawab Shizuka lalu mencium kening Zero.

Zero tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan memutuskan untuk menuju ke kamarnya. Zero membalikkan badannya dan melihat ke arah Shizuka untuk yang terakhir.

"Itu bukan tentang keselamatanku yang aku khawatirkan."


Gimana ceritanya? ditunggu di reviewnya ya.. tenang ini cerita belum selesai, author akan segera update sebab inspirasinya masih belum tergambar jelas untuk lanjutannya. hehe XD