紅蓮 (Guren)

Story by DeathSugar.

.

I just own storyline and dirty mind in my head.

.

Happy reading~

.

.


Luhan menjatuhkan dirinya di sofa ketika ia baru saja pulang dari kuliahnya hari ini. Luhan terlihat lebih kurus dari seminggu yang lalu. Kantung mata berwarna hitam menghiasi wajah manisnya, wajahnya bahkan terlihat lebih pucat. Bahkan, Baekhyun mengatainya sudah hampir seperti kembaran dari Zitao—teman satu kelasnya—karena kantung mata yang mengerikan itu.

Bukan tanpa alasan sebenarnya, kenapa Luhan terlihat begitu menyedihkan seperti ini. Hidupnya sedikit berantakan setelah Oh Sehun memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka tanpa alasan yang jelas. Dua minggu yang lalu—tepat setelah satu minggu mereka merayakan ulang tahun mereka bersama di umur mereka yang kedua puluh Sehun mengakhiri semuanya, seakan menganggap itu hal yang biasa saja.

Bukankah harusnya biasa saja ketika sebuah hubungan yang rapuh dengan status berpacaran untuk putus? Itu terjadi pada pasangan manapun ketika mereka merasa tidak lagi cocok untuk satu sama lain dan kemudian mereka mengakhiri semuanya.

Harusnya.

Tapi tidak untuk Luhan. Perempuan kelahiran Beijing itu tidak menganggap itu hal yang biasa. Luhan mungkin akan menerima keputusan Sehun—walaupun sebenarnya ia tidak yakin untuk menerima itu—ketika laki-laki yang sekarang berstatus sebagai mantan kekasihnya itu mengakhiri hubungannya dengan alasan yang tidak bisa Luhan terima.

Luhan dalam satu minggu ini selalu memikirkan alasan atau mungkin penyebab Sehun memutuskan hubungan mereka. Luhan selalu memikirkan itu setiap malam hingga membuatnya bisa terjaga setiap malamnya. Ia mencoba mengkoreksi dirinya sendiri tentang apa yang mungkin salah pada dirinya. Luhan tidak terlalu banyak menuntut Sehun, Luhan juga yakin dirinya tidak terlalu posesif dan pencemburu. Luhan selalu memberikan Sehun dengan ruangnya—dengan kepentingannya. Luhan bahkan tidak melarang Sehun dengan hobi bersama teman-temannya yang mungkin akan membuat Sehun bertemu dengan banyak teman wanita.

Air matanya jatuh ketika ia memikirkan alasan apa yang membuatnya harus kehilangan Sehun. Luhan sudah memberikan semuanya untuk laki-laki itu. Hatinya, seluruh cintanya dan bahkan tubuhnya.

Ini terlalu cepat baginya. Tidak lebih dari enam bulan dan semua harapannya pupus.

Luhan bahkan telah membayangkan ketika ia dan Sehun nanti akan menikah, kemudian memiliki anak-anak yang lucu. Luhan akan menunggu Sehun pulang bekerja bersama anak-anak mereka kelak, keluarga kecil impiannya bersama Sehun dan sekarang rasanya semuanya menjadi sia-sia.

"Sehun…" Tanpa sadar Luhan menyebut nama laki-laki yang selalu memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. Luhan tidak bisa membohongi dirinya sendiri untuk ia mengelak bahwa Luhan merindukan Sehun. Luhan merindukan semua yang ada pada laki-laki tampan itu. Senyumnya, suaranya, sentuhannya, bisikan cintanya dan apapun yang ada pada Sehun.

Luhan beranjak dari sofanya, mengabaikan dering ponselnya yang berbunyi dengan nama Baekhyun disana. Luhan tidak memperdulikan itu. Ia hanya ingin bergegas menuju kamar mandi dan untuk melupakan semua perasaan sesak dalam dadanya.

Luhan buka kenop pintu kamar mandi miliknya ketika sebelumnya ia sudah menyalakan saklar lampu. Menyapukan tatapan matanya kearah dinding kamar mandi yang berwarna biru langit itu sebelum akhirnya matanya berhenti tepat kearah kaca; disana Luhan bisa menemukan pantulan dirinya sendiri.

Luhan berdiri tepat dihadapan cermin itu, menatap bayangan dirinya yang begitu terlihat menyedihkan. Bahkan Luhan bisa melihat kantung mata berwarna hitam yang terlihat menyeramkan dengan wajah putih pucatnya. Luhan terlihat seperti hantu yang ada didalam dilm horror koleksi Baekhyun.

Baekhyun benar, Luhan benar-benar terlihat menakutkan (dan ia pantas untuk dikasihani). Wajahnya pucat dan terlihat kusam. Luhan tidak ada minat sama sekali untuk menyentuh alat make up miliknya bahkan hanya untuk sebuah pelembab wajah. Luhan juga bisa melihat rambutnya yang terlihat kusut. Luhan juga tidak ingat kapan ia pergi ke salon untuk merawat rambutnya seperti yang biasa ia lakukan setiap minggunya.

Luhan tersenyum kecut ketika ia melihat bayangan dirinya yang terlihat begitu kurus, mungkin sebentar lagi ia akan mengidap anorexia. Luhan bisa melihat tulang selangkanya yang semakin ketara. Berapa kilogram berat badannya yang hilang selama seminggu ini? Jika dulu Luhan akan begitu tersiksa untuk menurunkan berat badannya maka kini ia bahkan tidak perlu usaha sama sekali untuk menurunkan berat badannya.

Melepas satu per satu kain yang ia gunakan, perempuan dengan paras manis itu menuju kearah bath up. Mengurung dirinya disana dan membiarkan dinginnya air menyentuh langsung kulitnya. Membiarkan rasa dingin itu menusuknya. Luhan berharap rasa dingin dari air yang jatuh itu mampu membuatnya melupakan rasa sakit hatinya. Membuat Luhan lupa akan bekas yang Sehun berikan padanya. luhan berharap setiap tetes air yang jatuh dan menimpa tubuhnya ikut menggugurkan rasa sakit karena patah hati yang ia rasakan.

Bahu ramping itu bergetar bersamaan dengan isakan tangis yang mulai terdengar memenuhi kamar mandi itu. Luhan menangis, membiarkan air mata miliknya kembali jatuh untuk kesekian kalinya. Luhan tidak perduli jika setelah ini matanya akan bengkak dan Baekhyun akan kembali mengoceh tentang ini dan itu.

Luhan hanya ingin ia melupakan semuanya. Melupakan Sehun. Melupakan semua kenangan yang pernah Sehun torehkan untuknya. Melupakan semua hal yang telah Sehun pahat dengan indah dalam otaknya. Kenangan yang selama bulan-bulan terakhir ini terasa manis dan menyenangkan. Kisah cintanya yang seperti permen coklat… akhirnya kandas.

"Mama… Apa yang harus Lulu lakukan…"

Perempuan itu memeluk tubuhnya sendiri. Berharap dengan begitu ia bisa menahan beban yang ia rasakan. Walau kenyataannya Luhan tidak bisa menahan ini semua. Luhan ingin ia berbagi rasa sakit yang ia rasakan kali ini, tapi Luhan tidak tahu pada siapa Luhan harus berbagi?

Sesungguhnya…. Luhan hanya ingin berbagi semua bebannya dengan Sehun.


"Let's break up. Sorry."

"Sehun, kau bercanda 'kan? Sungguh ini tidak lucu sama sekali!" Suaranya terdengar kesal dan hampir meninggi..

"Aku tidak bercanda. Aku ingin kita berakhir."

"Tidak! Kau tidak bisa melakukan ini!"

"Aku bisa."

"Tapi kenapa? Kita bisa bicara Sehun…" suaranya hampir seperti sebuah bisikan. Menahan sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Mencekalnya membuat setiap hirupan nafas yang ia ambil membawa rasa sakit.

"Kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan.. aku hanya ingin kita putus."

"S-Sehun…" Air matanya akhirnya jatuh. Luhan sudah cukup untuk menahan semuanya. Menahan air matanya yang membendung dipelupuk matanya, menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya, yang membuatnya merasa sakit ditenggorokan, menahan dirinya untuk tidak menangis dan terdengar begitu menyedihkan. "Jangan seperti ini.."

Luhan bisa mendengar Sehun mendesah dari sana, "Aku…" hening sejenak. "Aku ingin putus."

"Se—"

"Hun-ah kau sudah siap? Ayo.."

Luhan mematung. Ia bisa mendengar suara wanita dari seberang dan Sehun menjawabnya dengan nada yang terdengar berbeda. Lebih lembut dan tidak terdengar dingin seperti yang Sehun lakukan pada Luhan tadi. "Kurasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan Lu. Selamat tinggal.."

Luhan terbangun ketika mimpi itu datang lagi. Matanya terlihat bengap karena ia terlalu lama manangis semalam.

Perempuan itu memijit pelipisnya pelan ketika ia merasakan rasa pusing yang ia alami ketika pagi hari. Efek darah rendah -mungkin-. Luhan tersenyum kecut ketika ia menyadari harinya masih seperti kemarin. Luhan akan bangun dipagi hari setelah itu berangkat ke kampus dan pulang kemudian kembali dengan kegalauannya. Begitu seterusnya sampai Luhan sendiri tidak tahu kapan itu akan berakhir.

Kadang Luhan masih berharap ketika ia bangun dipagi hari ia akan membuka ponselnya dan kemudian menemukan sebuah pesan dari Sehun yang berisi ucapan selamat pagi. Sebuah kata-kata yang terdengar chessy tapi Luhan akan sangat menyukainya.

Kenapa harus memikirkan Sehun lagi? Aish!

Tidak ingin terlarut dalam pikirannya lagi, Luhan memutuskan untuk akhirnya mandi. Ingin memulai sesuatu yang baru hari ini. Shopping bersama Baekhyun, pergi kesalon atau apapun yang bisa membuatnya melupakan Sehun. Ya, Luhan harus melakukan itu. Harus.


"Ah, lelahnya hari ini.." Baekhyun meregangkan otot tangannya setelah ia meletakkan tas hasil 'Mari ber-Shopping Ria' bersama Luhan setelah mereka nekad untuk membolos mata kuliah mereka hari ini. Luhan tertawa ketika ia melihat Baekhyun yang memanyun ketika ia melihat kuku-kuku tangannya yang baru saja dimanjakan dengan kutek berwarna pink.

"Setelah dipikir-pikir harusnya aku memilih warna biru atau merah, Lulu."

"Pink juga cocok kok, Baekie."

"Benarkah?" Baekhyun meniup-niup poninya yang baru saja ia potong dengan gaya baru dan juga dengan warna baru. Baekhyun terlhat manis sekali dengan warna rambutnya kali ini. Rambutnya yang panjang sepinggang ia potong sampai sebahu dengan potongan poni depan.

Luhan mengangguk dan kemudian membenarkan rambut panjangnya yang baru saja berubah warna dari coklat gelap menjadi coklat caramel. "Baekhyun, ayo pesan makan. Aku ingin makan canele dan juga tiramisu."

Baekhyun memutar matanya malas, "Kau lihat badanmu yang kurus kering itu, Lulu sayang. Kau harus banyak makan sayur dan karbohidrat bukan makanan manis seperti itu. Dan juga… aku sedang diet jadi tidak makan."

"Diet?"

Baekhyun menangguk. Menepuk perut rampingnya dan kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya didepan Luhan. "Chanyeol bilang aku terlihat sedikit lebih gemuk. Jadi kurasa aku harus diet."

Luhan menahan tawanya ketika Baekhyun yang terlihat memusingkan dirinya dengan berat badannya. Apa Chanyeol begitu perduli dengan berat badan Baekhyun? Sehun tidak pernah memusingkan berat badannya dulu, bahkan Sehun selalu bilang kalau Luhan lebih terlihat menggemaskan dengan pipinya yang terlihat tembam. Sehun bilang itu terasa enak sekali ketika Sehun menangkup wajahnya dan kemudian mencubitnya dengan gemas.

Duh, kenapa jadi kepikiran Sehun lagi sih..

"Jadi benar tidak pesan apapun? Aku yang traktir nanti.."

Luhan tersenyum menang ketika akhirnya ia melihat Baekhyun mengembungkan pipinya dan menatap Luhan nyalang. Baekhyun ambil buku daftar menu itu dan akhirnya memesan satu strawberry cake dengan ice cream rasa choco strawberry.

"Di dunia ini banyak makanan enak, Baekie. Apa itu diet.."

"Awas kalau berat badanku naik. Aku akan memintamu memberikan dompet Prada edisi terbaru atau dompet Gucci seperti yang Zizi punya kemarin."

"Ah, aku akan meminta ganti pada Chanyeol-Oppa nanti."

Luhan dan Baekhyun terlalu larut dalam obrolan mereka, membicarakan hal yang biasa anak perempuan lakukan. Bergosip, fashion yang sedang up saat ini atau tentang masalah-masalah sepele seperti apa make up yang bisa mereka gunakan besok. Luhan sebenarnya tidak terlalu tahu tentang gossip apa yang sedang panas saat ini, tapi bersama dengan Baekhyun, Luhan jadi tahu semuanya. Baekhyun itu seperti eksiklopedia gossip berjalan.

Luhan yakin jika Baekhyun menjadi presenter acara gossip ia akan punya banyak antis.

"Aku rasa Idola mereka tidak akan berkembang jika mereka selalu mempermasalahkan apapun tentang siapa lawan main drama dan adegan yang akan mereka lakuk—Sehun…?"

Luhan ikut menoleh kearah pandangan Baekhyun dan kemudian matanya menemukan laki-laki itu bersama dengan perempuan lain. Luhan yakin jika Sehun tidak melihat dirinya dan juga Baekhyun disini, kalau pun Sehun melihat mereka apa yang perlu dikhawatirkan?

Sehun sudah tidak memiliki ikatan apapun dengan Luhan 'kan?

Perasaan itu kembali muncul, rasa sesak yang menghimpit dadanya dan juga matanya yang mulai memanas. Luhan tersenyum kearah Baekhyun ketika Baekhyun meraih jemari tangannya dan menggenggamnya erat.

Baekhyun tersenyum sebelum akhirnya ia membuka suaranya, "Tuhan memberitahu semuanya, Lu. Sehun tidak baik dan dia tidak pantas untukmu."

Luhan memaksakan sebuah senyuman yang Baekhyun tahu itu tidak terlihat tulus, "Aku baik-baik saja."

Luhan menggigit bibir bawahnya. Apa yang baru saja Luhan lihat kali ini ? Sehun… apa Sehun memutuskannya hanya untuk perempuan itu? Luhan tersenyum getir, dilihat darimana pun perempuan itu memang jauh lebih menarik dari Luhan dan wajar jika Sehun lebih memilihnya.

Perempuan itu cantik, tubuh sintal dengan lekukan yang menggoda, payudara penuh dan itu terlihat menarik untuk siapapun melihatnya. Tidak seperti dirinya.

Luhan melihat semuanya ketika perempuan itu bersandar kedada bidang Sehun dan kemudian Sehun mengecup pucuk kepala perempuan itu. Sehun melakukan hal yang sama pada perempuan itu sama seperti Sehun melakukannya untuk Luhan dulu. Atau bahkan Sehun melakukan hal yang sama untuk semua mantan kekasihnya?


Hal pertama yang Luhan rasakan ketika ia bangun di pagi harinya adalah rasa pusing yang menyerangnya. Ini terjadi beberapa hari terakhir. Luhan menyandarkan tubuhnya pada head bed milik Baekhyun itu untuk mencoba menyingkirkan rasa pusing yang terasa mengganggunya itu.

Luhan tidak pulang semalam dan memilih untuk menginap di rumah Baekhyun dan Baekhyun menerima Luhan dengan senang hati.

"Selamat pagi, Lulu~" suara Baekhyun yang serak khas orang bangun tidur terdengar. Tubuh ramping Baekhyun menggeliat seperti kucing sebelum akhirnya tangannya merogoh ke arah nakas disamping tempat tidurnya untuk mencari kuncir rambut miliknya. "Apa tidurmu nyenyak semalam?" dan kemudian menguap.

"Ya, Selamat pagi. Tidurku nyenyak sekali." Luhan tersenyum.

"Kau terlihat pucat, Lu."

"Mungkin anemia milikku kambuh." Luhan tersenyum sembari tangannya sibuk memijit kepalanya yang terasa berat.

"Kau yakin? Sudah ke dokter?" Baekhyun mendekatkan dirinya kearah Luhan dan Luhan menjawab pertanyaannya tadi degan sebuah gelengan. Menyentuh dahi sahabat manisnya itu dan mendesah lega ketika ia mendapati suhu badan sahabatnya itu normal.

"Kau tidak demam. Mungkin memang anemia-mu kambuh. Biar aku minta Bibi untuk membuatkan coklat hangat untukmu, ya?"

"Bisakah aku minta kopi saja?"

"Tidak! Kafein tidak baik untukmu saat ini. Diam disini dan aku akan kembali sebentar lagi. Mengerti?"

"Ne, Eomma."

Baekhyun menghilang bersamaan dengan suara langkah kaki yang tengah berlari itu terdengar menjauh. Luhan tersenyum ketika ia melihat perhatian Baekhyun untuknya. Baekhyun adalah sahabat yang baik untuknya. Luhan tidak terlalu memiliki banyak teman dekat dan Baekhyun adalah salah satu teman yang bisa ia andalkan ketika ia harus hidup jauh dari Baba dan Mama-nya yang kini berada di China sana.

Luhan tersenyum ketika ia melihat Baekhyun datang dengan dua gelas susu coklat hangat dengan dua potong roti yang yag diolesi dengan selai strawberry diatas nampan.

"Baekhyun… bau susu itu membuatku mual."

"Coba dulu, Lu. Mungkin kau akan merasa lebih baik ketika kau meminumnya."

Luhan mengernyit ketika akhirnya ia mengambil satu gelas susu itu. Menatap Baekhyun dan kemudian meminumnya. Satu teguk. Dua teguk.

Luhan meletakkan gelas itu atas nakas dengan keras hingga menimbulkan suara ketika tegugkan ketiganya. Perutnya terasa seperti diadu-aduk. Ditambah dengan rasa pusing yang menyerangnya. Itu membuat siksaan tersendiri untuk Luhan.

"Hoeek.." Luhan memuntahkan semua isi perutnya walau kenyataanya tidak ada apapun yang ia keluarkan selain susu yang baru saja ia teguk beberapa detik yang lalu. Luhan hampir saja menangis ketika perutnya kembali terasa diaduk-aduk tanpa ada apapun yang bisa ia keluarkan.

Menyalakan keran yang kemudian menghanyutkan muntahannya tadi, Luhan menampung air dalam takupan telapak tangannya, Luhan menggunakan itu untuk berkumur dan juga untuk membasuh wajahnya. Menemukan pantulan dirinya sendiri didalam cermin dan dirinya benar-benar terlihat pucat. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

"Lulu.. kau baik-baik saja?" suara Baekhyun terdengar khawatir. Perempuan mungil itu mengusap punggung Luhan dengan lembut. Wajah manisnya terlihat khawatir ketika Baekhyun menemukan Luhan terlihat begitu pucat dengan tubuhnya yang terasa dingin karena keringat itu.

"Baekhyun… ini tanggal berapa?"

"Kenapa kau bertanya tentang tanggal? Ini tanggal duabelas—Luhan?" Baekhyun menatap Luhan dengan tatapan terkejut. Mata sipitnya membola siap untuk terbelalak. Mengambil pundak Luhan dan kemudian membuat sahabat rusanya itu menatap kearahnya. Menatap tepat kedalam manic mereka masing-masing.

Nafas Luhan memburu bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar. Luhan bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu begitu cepat. Kakinya rasanya ingin melemas. Air matanya jatuh. Apa-apaan ini.

Tidak. Ini tidak mungkin.

Luhan beringsut jatuh bersamaan dengan itu tangisnya pecah. Bahu mungilya bergetar dengan wajahnya yang terbenam dalam pelukan Baekhyun. Luhan tidak tahu apa yang akan terjadi jika perkiraannya benar. Ini sudah hampir lebih dari satu minggu dari tanggal menstruasi terakhirnya.

Luhan dan Sehun selalu melakukannya dengan pengaman. Sehun dan Luhan tidak seceroboh itu untuk melakukan sex tanpa pengaman.

Kenapa semua terasa semakin rumit. Hubungannya tidak berakhir baik dan Luhan baru saja ingin memulai kembali kehidupannya dan kemudian ia harus menerima kenyataan seperti ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti jika perkiraannya benar. Apa yang akan Luhan lakukan?

Mungkinkah ia hamil? Tapi bagaimana bisa terjadi jika setiap melakukan itu, Sehun selalu menggunakan pengaman? Itu tidak mungkin terjadi.


.

TBC

.


Sehun selingkuh! Itu sama cewek lain. Dasar pleboi cap bebidonkre kamu Hun !

Yey~ update chapter 4 juga akhirnyaaa. Maaf kalau kurang memuaskan... aku akan berusaha memperbaikinya di chapter depan. :''3

Kira-kira Luhan beneran hamil apa cuma masuk angin? Apa Luhan Cuma kena asam lambung aja karena stress dan telat makan? Hayo coba tebak. XD silakan jawabannya di kolom review. /kedip najis sambil boboan sama chanyeol/

Kritik saran diterima dengan senang hati tapi dengan bahasa yang sopan yaa. :3


.

11 November 2015

DeathSugar

.


-Fanfic ini untuk mengikuti Giveaway dari HunHan INA line-