Temen2 saia udah pada mau kuliah. rasanya masa bersenang-senang saia kok udah habis yaaa TT


.

Daddy

.

and his first nuisance


Pagi itu Cloud bertemu dengan koleganya yang lulus dua tahun lalu. Orang itu menyapanya—atau lebih tepatnya memukul punggungnya sampai Cloud batuk-batuk.

"Yo Cloud! Kok badmood banget hari ini. Ada masalah?" tegur si kolega yang sok tahu.

"Yeah," jawab Cloud tanpa menyapa balik—sebal gara-gara pukulan dadakan barusan. "Ada proyek akhir semester yang aku nggak bisa."

"Oho. Kalau gitu biar aku main ke tempatmu. Zack Fair siap membantu."

"Jangan!" tolak Cloud saat itu juga.

Tapi Zack Fair merangkulnya dan mulai mengoceh tentang sudah berapa lama mereka nggak nongkrong bareng. Cloud ternyata bukan tandingan pemuda berbadan besar itu. Ia diseret ke mobilnya.

"Serius. Kau nggak boleh ada di sini sekarang," ujar Cloud setelah mereka tiba di rumahnya.

Zack hanya mengibaskan tangannya seraya keluar dari mobilnya. Katanya, "Emangnya ada apa di rumahmu? Hantu?"

Cloud bersikeras, "Sebaiknya kau pergi. Sekarang."

Pemuda berambut hitam itu memicingkan matanya. "Jangan bilang kamu ngumpetin cewek…"

Cloud melotot, namun kemudian menyipit dan memalingkan wajahnya. 'Lebih parah,' batinnya gelisah.

"Ayolah, aku kan cuma bercanda. Heheheh! Masa iya, sih, Cloud Strife membutuhkan seorang wanita?" kelakar si pemuda jangkung sembari menuju pintu depan dan mengangkat keset. Oh tidak, orang itu tahu di mana Cloud menyembunyikan kuncinya! Hebat sekali, padahal Cloud sendiri sering lupa tentang itu.

Klek!

Dan mereka masuk.

"Oke, mari kita mulai—whoa. Rumahmu berubah, ya? Agak berantakan sekarang. Apa aku benar soal cewek simpanan?" Zack mengerling pada Cloud.

Cloud yang merasa berada di ujung tanduk mulai melihat sekeliling. Pokoknya dia harus menemukannya sebelum Zack!

Matanya sekonyong-konyong tertuju pada pintu kamarnya.

"Apa boleh buat. Rumahku emang berantakan akhir-akhir ini dan kau sudah tahu sekarang," Cloud mencoba berakting. Sepertinya berhasil. "Aku ambil dulu proposal proyeknya," lanjutnya.

Zack hanya mengangguk-angguk.

Cloud menuju kamarnya. Benar saja, Denzel ada di sana, duduk di tempat tidurnya lagi walaupun Cloud sudah melarangnya entah berapa kali. Mungkin lain kali ia harus mengancingi anak itu di kamarnya.

"Cloudy!"

"Ssst!" sentak Cloud. Sejak kapan anak itu menyebutnya begitu?

Dari bawah Zack bertanya, "eh, suara apaan tuh?"

"Hah? Kau bilang apa?" tanya Cloud balik.

Cloud melirik Denzel. Anak itu menatapnya polos dengan kedua matanya yang besar. Oh! Ia tak pernah tahan tatapan yang mengajaknya bermain itu! Tapi kali ini itu justru memberinya ide.

"Gini, deh. Kita main petak umpet, mau?"

Mata bocah itu melebar penuh keingintahuan.

"Kita sama-sama ngumpet, oke?"

"Tapi kita ngumpet dari siapa?"

"Santa Claus," Cloud ngasal. Sebodo amatlah. Toh Zack memang agak mirip Santa Clause dalam hal suka membobol masuk ke dalam rumah orang.

"Tapi kenapa harus ngumpet? Kata Papa Santa Claus itu baik," kata Denzel.

"Santa Claus yang ini tidak! Dia suka…" Cloud menyeringai, "memakan anak-anak."

Denzel terkesiap dan pasti sudah berteriak ketakutan kalau saja Cloud tak membekap mulut anak itu.

"Cloud? Kamu ngomong sama siapa?"

"Ssst! Dia datang! Aku akan menahannya. Kau harus diam, oke?"

Si lelaki kecil hanya bisa mengangguk sambil memegangi mulutnya. Cloud pun berbalik keluar dan menutup pintu di belakangnya sambil tersenyum penuh kemenangan.

Denzel berusaha menahan nafas. Nafasnya habis. Denzel narik nafas dan menahannya lagi. Terus ia mulai bosan.

"Aaah~" kuapnya. Matanya mulai melirik ke sana kemari, dan saat itulah ia melihat sesuatu bersinar, ketutupan selimut Cloud.

"Mainan!"

Sementara itu Cloud turun lagi, dan ketika kembali menghadap Zack ia sudah kelihatan rileks.

"Hei, maaf lama."

Zack mengangguk tapi kelihatan bingung.

"Mana proposalnya?"

'Mati aku,' batin Cloud. Tapi Cloud toh cuma mengendikkan bahu. "Hilang," katanya enteng.

"Itu dia masalahmu, Kawan. Kamu mulai kehilangan kedisiplinanmu."

Cloud memutar bola matanya. Kayak Zack lebih disiplin dari dia saja.

"Kamu harus memperbaikinya. Dan kusarankan, sebagai permulaan, kita rapikan tempat ini."

Apa itu ide yang bagus? Mungkin ya, mungkin tidak. Bagusnya kerjaan Cloud beres-beres rumah dibantu secara gratis. Jeleknya, Zack tahu apa soal merapikan rumah? Bisa-bisa nanti rumahnya malah jadi seperti kapal pecah.

"Hihihi!"

Baru saja mau memulai, tiba-tiba terdengar gelak tawa aneh yang dikira Cloud adalah gelak tawa Zack. Begitu pula sebaliknya, Zack mengira si Cloud yang jarang sekali ketawa lagi kerasukan setan atau gimana. Keduanya saling berbalik dan sama-sama menyadari sesuatu.

"Kurasa seseorang tadi ketawa…"

Cloud panik.

"Ka-kayaknya nggak mungkin, karena aku nggak ketawa," elak Cloud sebisanya.

Zack melirik Cloud. Desis Zack, "Kalau bukan kamu, terus…?"

"Salah dengar," tandas Cloud setegas mungkin. Sayangnya Zack tak terlalu yakin. Zack mulai memeriksa dapur, kamar mandi, dan gudang. Lalu yang ditakutkan Cloud terjadi.

"Ihihihi…"

Dengan mantap Zack naik ke lantai dua. Cloud, sambil memikirkan cara mengalihkan perhatian, mengikuti, tapi terlambat.

"Mundur, Cloud! Mungkin ada benarnya omonganku tentang hantu tadi!" perintah Zack sambil mengacungkan sapu. Dengan gaya jagoan ia pun memutar kenop pintu dan…

Sesosok makhluk cilik di atas kasur membuat bulu roma Zack berdiri. Lain halnya dengan Cloud. Kakinya lemas.

Si makhluk cilik pun berbalik. Zack siap-siap teriak dan kabur.

"Santa Claus menemukan Denzel!"

.

.

.

"A… anakmu, Cloud?"

.

.

.

"HARUSNYA KAMU MENIKAH DULU SEBELUM PUNYA ANAK! PRIA MACAM APA KAU INI!?"