Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto dan 'Fate or Fortunate' ini baru miliknya Haze.
Warning: AU, OOC, abal, typo.
Part 4
Lost With Sasuke
Aneh adalah kata yang langsung terlintas di pikiran Naruto, Sai, dan Sasuke saat Deidara berjalan anteng menghampiri mereka. Pemain bola dari Akatsuki nampaknya memang suka bergaya ekstrim.
Lihat aja wajah si Kisame, center back, yang doyan make make-up macem hiu. Atau Hidan, striker yang punya gaya rambut jadul. Tobi yang make topeng dengan hanya satu lubang mata. Apa lagi si Deidara. Masa pemain bola panjang rambut? Nggak nyusahin itu, nanti? Belum lagi poninya yang mirip Ino, nutupin sebelah matanya. Ampun, deh! Risih banget pasti.
Dalam hati Sasuke bersyukur Itachi udah keluar dari klub bola ini.
"Dei-nii…" Ino agak gemetaran ngelihat Deidara yang mulai mendekat mengingat tindakan buruknya yang sempet nyolong duit si kakak tercinta.
Deidara ngangkat mukanya yang sedari tadi jalan sambil nunduk. Bagaikan film 'Matrix', efek slow-motion pun muncul. Pertama jidat, mata, lalu hidung, dan akhirnya memperlihatkan wajah Deidara seutuhnya. Yah, nggak jelek-jelek amat, lah. Nggak jelek malah.
Waktu seakan berhenti berputar buat kedua insan kakak beradik ini. Mata mereka beradu satu sama lain dengan bibir terkunci rapat. Kelima orang yang lain diem, nggak berani menginterupsi moment menegangkan ini.
Ino yang dari awal udah takut, berusaha untuk membuka mulutnya, "Pertandingan… hebat." Ino sangat berharap kakaknya nggak marah. Salah satu tujuannya ngelihat pertandingan ini, kan biar ngomong sama Dei-nii. Minta maaf. Selain itu, semoga Dei-nii berbaik hati dan ngasih uang saku. Tahu nggak sih, ngutang sama Sakura itu nggak enak. Soalnya diceramahi dulu panjang lebar, sampai akhirnya ngantuk dan ketiduran. Bisa ditebak kan, akhirnya? Udah ngorbankan harga diri untuk ngutang, denger ceramah berjam-jam, eh… ujung-ujungnya ketiduran. Nggak jadi ngutang, dong? Terus pengorbanannya buat apa? Sia-sia belaka.
Ino menghela nafas. Satu-satunya hal baik yang diterima dari ke-bokek-annya cuma kesempatan ketemu dan digendong –ehm, walau hanya sebentar banget –sama Sai. Mengingat itu wajah Ino memerah, tapi ngelihat Deidara, Ino menelan ludah. Takut dimarah.
Tapi ternyata di luar dugaan. Ternyata Dei nggak marah saudara-saudara. Dia malah senyum. Lebar pula.
Tapi Ino tetap nggak bisa ngilangin rasa yang menyesakkan ini. Karena dia tahu, Dei-niinya pasti bakalan bikin hal yang bisa buat dia malu.
Deidara mempercepat langkahnya ke arah Ino sambil merentangkan tangannya dan manggil, "IINOO…"
Tuh, kan?
FoF
Hanabi suntuk. Hanabi bosan. Hanabi kesal.
Belajar di akhir pekan itu nggak enak. Udah gitu materinya itu-itu aja. Dan si Kono-chan ini nggak selesai juga ngerjain soal dari sejam yang lalu. Matematika emang jurus ampuh bikin bete.
Satu helaan nafas panjang dari Hanabi berhasil bikin seluruh perhatian Konohamaru tersita padanya. Dengan tangan masih megang pinsil, Konohamaru bertanya, "Kenapa?"
"Aku bosan."
Konohamaru mulai meletakkan pinsilnya, menutup buku, dan duduk rileks. "Aku juga, sih." Sahutnya sambil menyesap teh yang tadi disediakan Kurenai.
"Tapi tugas ini harus selesai besok kan?" Sebenarnya Hanabi mikir buat nunda ngerjain, tapi berhubung gurunya ini agak serem, dia jadi mengurungkan niatnya itu.
"Ya udahlah," sahut Konohamaru enteng, "Aku jenuh. Kau sama. Mana bisa otak dipakai kalau memang lagi nggak enak gini. Tunggunya aja bentar sampe moodnya balik lagi."
Dan Hanabi langsung kepikiran buat bikin mood balik lagi.
FoF
Dari mulut Deidara, segala kebenaran tentang Ino terungkap. Tentang gimana sayangnya dia sama adiknya itu, tentang bagaimana Ino bikin Deidara gagal kencan karena nggak punya uang, tentang Ino yang nyolong duit kakaknya.
Kata-kata Deidara sukses bikin Hinata, Sakura, dan Naruto sweatdrop, Sasuke tetap nggak ambil pusing, dan Sai… Sai cuma diam dan … tersenyum? Apanya yang lucu?
Wajah Ino marah padam. Ia marah pada kakaknya yang ember itu. Ia juga malu karena didengar oleh Sai. Aduh, kalau udah gini, pingin ditelan bumi aja, deh.
Habis semua kesan baik yang ia selalu tunjukkan pada Sai. Sai udah tahu Ino nyolong uang kakaknya buat lari ke tempat Hinata. Rasanya kok, jadi kayak orang mesum yang diarak keliling kota pake plakat bertuliskan, 'I love Icha-Icha'?
Tapi Hinata menyelamatkan dunia Ino. Dia maju dan langsung meluk kawan pirangnya. "Aku nggak nyangka Ino-chan nekat demi kita bisa sama-sama."
Yak, kesan positif lainnya mengalir bak air di musim hujan. Mulai dari Sakura yang ikutan meluk, Deidara dan Naruto yang senyum, Sasuke yang masih aja ngelihat mereka dengan tatapan nggak berminat –kecuali buat lihat si Hyuuga, dan Sai juga senyum lebar.
Hinata memang gadis pembawa kebahagiaan buat Ino.
Di antara kerumunan para suporter yang masih ada di sana, ada yang mengintai mereka dari dua tempat yang berbeda. Dua pasang mata di salah satu sisi menatap kerumunan itu dengan seringaian dan tawa licik terdengar.
Sasuke menoleh, mencari-cari.
"Kenapa?" tanya Sai.
FoF
Konohamaru sweatdrop ngelihat Hanabi yang berada di depannya. Dia bilang kan balikin mood, terus kenapa sekarang malah bersepeda keliling kota? Bikin capek aja.
Hanabi tersenyum tanpa menoleh, bikin Konohamaru sedikit merah walau dia sendiri nggak nyadar, dan hal itu bikin dia ngebalik lagi pikirannya.
Sepertinya Hanabi memang senang naik sepeda. Yah, mungkin nggak ada salahnya sedikit bercapek ria.
FoF
"Ya. Bye, Yah." Hinata nutup ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Tak lama, ia menghela nafas. Ayahnya terlalu protektif walaupun dia sedang nggak ada di sini. Hampir setiap hari dia nelpon dan selalu rentang waktunya antara setengah sampai satu jam. Dan karena itu juga Hinata sekarang harus sendirian nyusul Ino dan yang lain yang pastinya udah makan duluan di resto seberang stadion.
Paling nggak itulah yang dia pikirkan.
Dan kalau udah ngomong gitu, udah bisa dipastikan bahwa author yang lagi nulis fic ini nggak bakal ngebiarin pikiran Hinata yang ini benar.
Siapa sangka Hinata ternyata nggak sendiri? Pastinya bukan Hinata, karena dia sendiri begitu terkejut saat berbalik dan mendapati seorang Sasuke Uchiha masih tetap berdiri tegap sambil terus ngelihat ke arahnya.
"Mereka sudah menunggu." Sasuke membalikkan tubuhnya, mengamankan kedua tangannya dalam saku celana, "Ayolah," ajaknya tanpa menoleh.
"I-iya."
Lorong stadion yang awalnya sepi jadi sedikit ramai karena ketukan sepatu yang menggema. Hinata berjalan di samping Sasuke. Walau agak takut-takut, dia terus maksa dirinya.
Sasuke ngelirik Hinata dari sudut matanya. Sedikit banyak dia lega. Bukannya apa, tapi kalau Hinata masih aja berjalan di belakangnya seperti tadi, itu cuma bikin cewek pemalu yang ngegemesin –Sasuke nggak mau ngaku punya pikiran kayak gini –ini lebih mirip maid, atau istilah gaulnya, pembokat.
Mana mau Sasuke kalau cewek masa depannya dianggap orang mirip pembokat, fansgirl, atau yang paling parah… stalker. Tapi kalau dikuntit Hinata sih, Sasuke pasrah aja walau memang nggak akan pernah mungkin. Yap! Topik melebar dan nggak penting itu nggak bakalan dipatenkan Sasuke sebagai hak ciptanya.
Hinata mejamin mata, narik nafas, mencoba mengatur degup jantungnya. Nggak ada bunyi yang ditangkap telinga Hinata selain suara langkah kaki. Langkah kaki lembut punya Hinata, satu lagi yang tegas milik Sasuke, terus ada suara yang hampir nggak kedengaran, kayaknya agak jauh.
Sepertinya terapi Hinata berhasil. Buktinya dia nggak lagi sesak nafas karena jantuungnya yang memompa terlalu cepat.
Sasuke yang mendadak berhenti bikin Hinata bingung.
"Sasuk-"
Suara Hinata terpotong karena Sasuke langsung ngambil tangannya dan narik paksa Hinata supaya lari. Hinata nggak tahu lagi harus ngapain selain nurut. Sebenarnya dia mau nanya, tapi nggak berani berhubung Sasuke kayaknya lagi serius banget.
Satu pertanyaan buat cewek indigo favorit kita.
Memang kapan Sasuke pernah nampangin wajah ceria dan bahagia?
Sasuke terus narik Hinata supaya keluar. Sesaat dia noleh kebelakang, nampaklah dua orang berbaju hitam yang make topi, kacamata, dan beragam pernak-pernik mata-mata lainnya.
Sedikit menggeram, Sasuke langsung membawa Hinata masuk ke dalam bis yang kebetulan berhenti di depan mereka. Mereka masuk, nemuin bangku yang kosong, terus duduk.
"Sasuke-san, tadi itu –apa?" Hinata yang udah kecapekan kehilangan fokus buat takut sama Sasuke. Dia lebih konsentrasi buat nyuri nafas.
"Penguntit."
"Stalker?" Hinata bergidik.
"Hn." Jawaban nggak jelas makna dari Sasuke sukses bikin pembicaraan nemuin jalan buntu.
Nggak nyaman dengan suasana ini, Hinata lebih milih ngelihat pemandangan di luar jemdela. Gedung-gedung besar, para pejalan kaki, pepohonan pinggir jalan yang seolah bergerak mundur.
Hinata tersenyum kecil, mengingat masa kecilnya yang sempet ngira kalau pohon-pohon itu emang jalan mundur, padahal sebenarnya dia yang maju. Hinata yang kecil sih, mungkin masih tertipu sama trik itu, tapi sekarang Hinata udah jauh lebih pintar. Tipuan yang sama, mana mempan sama dia.
.
.
.
.
.
Hinata dengan cepat menoleh ke arah Sasuke dan mencengkram erat lengan kanan si cowok stoic, hingga membuat cowok pendiam itu menoleh.
"S-Sasuke-san…" suara Hinata bergetar, matanya melebar, tiba-tiba aja tenggorokannya kering, "ki-kita… busnya…"
FoF
"Ino-nee! Sakura-nee!" Hanabi langsung masuk dan narik si Konohamaru buat ikut sama dia. Konohamaru jelaslah nolak, dia nggak pernah nyaman jumpain orang saat seorang cewek bersamanya. Dia nggak mau kena gosip.
Tapi Hanabi bukan cewek biasa. Dia juara kendo saat SD, walau agak nguras tenaga, masih tetap bisa nyeret paksa si Konohamaru yang malang tak berdaya.
"Hie! Hanabi-chan!" Sakura terkejut lihat Hanabi yang bertindak sadis, "Pacar, ne?" lanjutnya dengan nada menggoda.
Duo Sarutobi-Hyuuga merona.
Naruto yang dari tadi asyik makan ramen, ngelirik ke arah Hanabi setelah dengar kata-kata Sakura soal 'pacar'. Alisnya mengernyit, ramennya jatuh ke mangkuk. "Konohamaru?"
Ucapan Naruto bikin si pemilik nama tersadar dan noleh ke sumber suara.
Naruto tertawa renyah, "Kau ternyata."
FoF
"… busnya… jalan… ?" terlalu lemah untuk disebut pernyataan, makanya diakhir pake tanda tanya.
"Hm."
Hinata nggak butuh dua konsonan yang dilontarkan Sasuke barusan. Yang dia butuhin itu sebuah keyakinan, pegangan, sesuatu yang akan membuatnya ngerasa aman, sesuatu yang nggak akan bikin dia siap-siap nangis kayak sekarang. Seandainya aja Sasuke menyadarinya…
Dan ternyata Sasuke memang menyadarinya.
"Tenanglah," Hinata menoleh, Sasuke terus menatap ke depan, "saat berhenti di stasiun, kita turun dan naik bisa lain untuk pulang."
Walau nggak ada kesan romantisnya, kata-kata Sasuke yang bisa bikin nafas plong itu akhirnya muncul juga. Hinata bersyukur Sasuke ngomong kayak gitu.
FoF
"Hinata-neechan dimana?"
"Tadi paman Hiashi nelpon. Mungkin sebentar lagi." Sahut Sakura.
Naruto yang di sebelahnya sibuk bisik-bisik sama sepupunya yang nggak henti-hentinya memerah karena marah dan malu. "Dia pacarmu, Kono-kun?"
Nada bicara si kuning bikin Konohamaru merinding.
Masalahnya, selain Hanabi, ada nggak sih yang ingat sama Hinata dan Sasuke?
FoF
Bus melaju cukup kencang, membuat sedikit getaran hingga kepala Hinata yang bersandar di kaca jendela terantuk kecil.
Sasuke menarik sedikit ujung bibirnya melihat Hinata yang tertidur. Perlahan tangannya naik dan menarik Hinata, meletakkan kepala gadis itu dengan lembut di bahunya.
TBC…
Chapter kemaren kependekan? Huwah… saya minta maaf. Saya coba ngumpulin mood lagi nih yang sempet ancur gara-gara UAS. Jadi kalau hasilnya masih jelek, maafkan… *ngeles*
Hahaha…
Bulan Desember yang penuh kehangatan dan kesemarakan datang. Kegembiraan atas pertemuan dan perpisahan menyapa. Bentar lagi 2010 udah pergi dan 2011 siap menyapa. Siapkan senyum terbaik buat menyambut yang akan datang. Baik itu tantangan, kesenangan, bahkan buat duka yang nggak bakalan pernah kita tahu akan menghampiri.
Karena hari ini juga bertepatan dengan hari ibu, maka setelah baca fic ini, datengin ibu kita, peluk dia dan bilang : I LOVE YOU, MOM!
Hahaha… author juga bakal ngelakuin hal itu, kok…
Akhir kata… REVIEW!
