Keesokan harinya Erza tetap masuk sekolah seperti biasa meski sebenarnya dia masih sedih. Pagi-pagi sekali ia sudah sampai di sekolah, duduk dikursi dan menyenderkan kepalanya ke meja. Ada seorang lagi yang datang, dia menghampiri Erza dan menepuk pundaknya dengan pelan.

"Ohayou Erza" Ucapnya

"Onii-san ya…"

"Hari ini kamu terlihat lemas"

"Ah, masa? Tidak kok aku baik seperti biasanya"

"Baguslah..Untuk kejadian yang kemarin maaf ya, seharusnya aku tidak menceritakannya padamu"

"Yang kemarin? Lupakan saja, aku sudah melupakannya"

"Kamu cepat melupakannya ya, aku tidak bisa melupakannya" Ucap Mystogan sambil tersenyum pilu

"Nanti juga bisa, aku selalu bersamamu…Siang nanti apa kamu mau makan siang bersama?"

"Boleh"

Sebenarnya Erza belum bisa melupakan kejadian yang kemarin, dia tak bisa menerima kenyataan jika Mystogan suka hutang uang, meski ayahnya sudah melarangnya untuk berteman dengan Mystogan dia tetap tidak bisa meninggalkannya, Erza sadar dia sangat menyayangi Mystogan. Ketika jam istirahat hanya ada Erza dan Mystogan didalam kelas, mereka saling terdiam satu sama lain.

"Bagaimana keadaan tanganmu?" Tanya Erza

"Ini? Sudah baik-baik saja kok"

"Oh, baguslah"

"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi"

"Onii-san?"

"Erza jangan pura-pura, aku tau ada yang terjadi padamu. Aku kan temanmu juga kakakmu, jadi ceritakanlah…"

"Kemarin ayah berbicara padaku, katanya aku tidak boleh berteman denganmu kamu bukan anak baik-baik. Ayah takut terjadi sesuatu padaku…"

"Sudah kuduga"

"Kakak sudah tau?"

"Tidak, hanya menduga saja. Erza kau tau? Sebelum pindah sekolah aku bukan anak yang baik, aku selalu membuat masalah, bertengkar dan aku pernah diskors sampai akhirnya dikeluarkan. Aku bukan kakak yang baik bukan teman yang baik juga, ayahmu benar lebih baik kamu jangan berteman denganku"

"Baka! Aku tidak peduli masa lalumu, bagiku kamu kakak juga teman yang baik kok. Aku ga peduli sama perkataan ayahku aku tetap ingin berteman denganmu. Kakakku dulu juga bukan anak yang baik"

"Baru kali ini aku punya teman dan adik sebaik kamu, apa boleh aku bertanya?"

"Mau bertanya apa?"

"Jika aku pergi meninggalkanmu, bagaimana?"

"Memang kakak mau pergi meninggalkanku?"

"Bukan, hanya sekedar bertanya"

"Bagaimana ya…Aku pasti sedih, meski begitu aku akan menunggumu hingga kamu kembali"

"Terima kasih mau menungguku…"

"Kamu bicara apa tadi?"

"Tidak, tidak"

Hari itu merupakan hari yang indah bagi Erza, dia bisa melupakan kesedihannya sesaat. Tetapi keesokan harinya Mystogan tidak masuk sekolah, karena baru satu hari Erza berpikir tidak perlu mengunjungi rumahnya. Hari demi hari, minggu demi minggu telah berlalu, tak terasa sudah 2 minggu lamanya Mystogan tak masuk sekolah. Bahkan wali kelas bertanya berulang-ulang kali ke Erza kemana perginya anak tersebut, saat pulang sekolah Erza langsung mengetuk pintu rumah kakak angkatnya itu. Sudah 2 jam lamanya Erza berdiri didepan pintu, tak ada juga yang membuka, pintunya juga terkunci.

Akhirnya Erza hanya bisa pulang tanpa membuat kemajuan sedikitpun. Rencananya nanti sore dia akan kembali lagi untuk mengunjungi rumah Mystogan, Erza merasa begitu menyesal coba saja jika di hari pertama dia tidak masuk Erza langsung megunjungi rumahnya mungkin masih ada harapan. Sekitar jam 5an Erza kembali mengetuk pintu rumah Mystogan, tetap saja tak ada yang membukanya. Iapun nekat menunggu sampai ada seseorang yang pulang, kini matahari sudah benar-benar terbenam hari mulai malam, udara semakin dingin saja. Erza masih menunggu didepan pintu rumah Mystogan sambil duduk, entah sudah berapa jam berlalu.

Ketika Erza menghadapkan kepalanya kedepan, ia melihat ada sosok yang sedang dicari-carinya. Itu Mystogan! Tanpa pikir panjang Erza langsung memeluknya, Mystogan bingung melihat tingkah Erza yang seperi itu.

"Kenapa kamu memelukku tiba-tiba?"

"Maaf, kemana saja kamu? Sudah 2 minggu lamanya kamu tidak masuk"

"Itu…Aku tak ingin menceritakannya"

"Jika aku tidak tau masalahmu aku mana bisa menolongmu"

"Kamu tak perlu menolongku, aku kan sedang tidak dalam masalah"

"Apa iya? Aku tidak bisa begitu saja percaya. Sini kulihat tanganmu"

"Tidak luka kok"

"Tetapi kotor, ada apa? Tidak biasanya tangan kakak kotor"

"Aku menyuruhnya bekerja" Ada suara lain

"Ayah.."

Erza menghadap kebelakang dan melihat ayah Mystogan, dia begitu tinggi dan memiliki kumis yang menurut Erza cukup menyeramkan.

"Mystogan dia siapa? Pacarmu?"

"Bukan, dia temanku juga adikku"

"Adikmu? Huh konyol sekali perkataanmu. Sadarlah dia bukan adikmu"

"Aku tau dia bukan adikku, tetapi aku sayang padanya memang tidak boleh?!"

"Setiap orang yang akan berteman denganmu hanya akan kau sakiti!"

"Tidak akan, aku akan melindungi teman-temanku. Kejadian saat itu tidak akan terulang lagi"

"Sudahlah lupakan saja, kamu tidak pantas memiliki teman. Nah cepat serahkan uangnya"

"Ini"

"Lebih baik kamu bekerja saja terus daripada sekolah"

"Mana bisa begitu? Dia kan juga punya hak untuk bersekolah kenapa dilarang?" Erza tak terima dengan perkataan ayah Mystogan

"Gadis kecil sebaiknya diam saja, kamu ingin membujuknya untuk kembali ke sekolah ya? Sia-sia dia tidak akan pernah kembali ke sekolah"

"Aku akan kembali Erza…Aku berjanji akan kembali. Maaf membuatmu khawatir" Mystogan hanya tersenyum

"Kakak…"

"Kembali ke sekolah? Jika kamu kembali kamu akan tau akibatnya"

"Anda mana boleh mengancam anak anda sendiri? Seharusnya anda mendukungnya bukan menyuruhnya bekerja"

"Anakku? Dia anakku? Dia anak angkat gadis kecil! Ayah dan ibunya sudah meninggal saat dia masih kecil mungkin dia tidak tau tetapi sekarang dia tau"

"…"

"Kakak…Sabar ya"

"Aku tidak apa-apa Erza, sebaiknya kamu pulang sekarang sudah malam"

"Ya sudah, jaga dirimu baik-baik"

Saat Erza hendak meninggalkan rumah Mystogan, dia merasa ada suara teriakan dari rumah tersebut. Iapun kembali lalu membuka pintu rumahnya dan masuk, dengan mata kepalanya sendiri dia melihat jika kakak angkatnya itu dipukuli. Erza langsung berlari berusaha melindunginya, ia tak ingin Mystogan dipukuli lebih dari itu, setiap melihatya dipukuli hatinya sakit.

"Jangan pukuli Jellal-san!"

"Erza?"

"Bukan, maksudku jangan pukuli kakak!"

"Kau lagi, kau lagi jangan suka ikut campur urusan orang"

"Aku tidak bisa jika tidak ikut campur. Bagiku dia adalah sosok yang sangat berharga, dia mirip dengan kakak kandungku. Makanya aku tak ingin dia disakiti"

"Erza pulang saja, aku baik-baik saja…"

"Berhenti pukuli dia baru aku akan pulang"

"Baiklah, baiklah sana pulang! Jika kamu mau anak ini tidak lagi dipukuli jangan datangi rumah ini lagi, jangan lagi temui dia!"

"…."

Entah apa Erza mendengarkan perkataan ayah Mystogan atau menghiraukannya. Yang pasti tanpa berkata apapun dia langsung balik ke rumahnya. Mystogan berlari kearah jendela lalu tersenyum pilu dia berkata.

"Ternyata benar, bagimu aku ini seperti Jellal bukan Mystogan…Tetapi aku senang, dan aku mencintaimu…Aku mencintaimu…Daisuki da Erza" Ucapnya pelan

Bersambung…

A/N : Sori kalau banyak kata pukulnya hehehe, bagus? Jelek? Riview aja, aku terima semua riview kalian kok dari yang bagus sampe yang jelek, sampe yg flame