Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki sensei

Warning ! OC, OOC, TYPO, DLL, DSB, DST

.

"Tolong jangan menatapku dengan tatapan seperti itu." Kata Yuki, merasa risih dengan kelakuan keenam kakak plus ibunya itu.

Setelah kejadian di lapangan basket tadi. Aomine, dengan seenak jidatnya menuduh Yuki sebagai penyusup dan membangunkan seisi rumah.

Saat ini mereka sedang berada di ruang perpustakaan milik Akashi. Yuki duduk di sebuah kursi besar berwarna merah di dekat perapian dan keenam kakak serta ibunya berdiri di hadapannya.

Tok Tok Tok

Pintu di ketuk dan seorang buttler membuka pintu dan membungkuk.

"Saya sudah mengecek kamar nona Yuki. Nona Yuki tidak berada di kamarnya dan saya menemukan kacamata ini di atas meja di sebelah tempat tidur nona Yuki." Kata buttler itu sambil menunjukkan sebuah kacamata yang biasa di pakai Yuki.

.

"Nii-chan! Ni-chan menggigit sepatuku lagi!" Teriak Yuki kecil.

"Ya ampun, Nigou! Berhenti mengganggu Yuki! Lepaskan sepatu itu!" Teriak pemuda itu.

Anjing kecil yang di panggil Nigou itu kaget dan melepaskan gigitannya, membuat Yuki kecil yang tadi menarik sepatunya jatuh terduduk.

Brukh.

Hening selama beberapa detik dan dipecahkan dengan suara tangisan Yuki.

"Hueee...Nii-chan! Ni-chan nakal!" Teriak Yuki kecil.

"Huwaaa! Ja..jangan menangis." Panik pemuda itu.

"Hueee...pantat Yuki sakit...!"

"Kemari biar nii-chan lihat. Apa ada yang sakit selain pantatmu?" Tanya pemuda itu sambil menggendong Yuki dan akan mengangkat rok nya untuk melihat apa ada memar di pantat gadis kecil itu, tapi..

"Kyaaa! Nii-chan mesum!" Teriak Yuki dan memukul-mukul pemuda itu dengan tangan mungilnya disertai gonggongan Nigou.

"He..hei, aku hanya ingin memeriksa apa kau terluka!" Kata pemuda itu.

"Mesum! Mesum! Mesum!" Teriak Yuki masih dengan tangan memukul-mukul pemuda itu.

"Ada apa ini?" Tanya Imayoshi yang saat ini berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh tanda tanya.

"Sensei!" Teriak Yuki dan membebaskan diri dari pemuda itu.

"Sensei! Nii-chan mesum! Masa nii-chan mau membuka rok Yuki." Adu Yuki.

"Apa!?" Kata Imayoshi dan langsung menggendong Yuki dan memberikan tatapan tajam ke pemuda yang seumuran dengannya itu.

"Ap..hoi, kau salah paham Imayoshi. Aku tidak..." Kalimat pemuda itu terpotong.

"Jangan dekati Yuki-hime!" Teriak Imayoshi. "Sungguh, aku tidak menyangka bisa sampai memiliki teman dengan orientasi menyimpang sepertimu." Kata Imayoshi, terlihat setitik airmata di ujung matanya.

"Ha?"

"Kalau kau ingin memiliki Yuki-hime, harusnya kau menunggu sampai dia dewasa. Bukannya menyerangnya saat usianya yang belum menginjak lima tahun ini!" Tuding Imayoshi.

Ctak

Perempatan muncul di kening pemuda itu.

"SUDAH KUBILANG KAU SALAH PAHAM IMAYOSHI!" teriak pemuda itu.

.

Imayoshi terkekeh kecil saat mengingat masa lalu itu. Ia saat ini sedang duduk di meja bartender yang terdapat di apartemennya.

"Berhenti tertawa sendiri, kau membuatku takut, Imayoshi." Kata seorang pemuda bermata sipit yang saat ini sedang berdiri di balik meja bartender.

Ia menuangkan sebotol wine ke dalam gelas kaca berisi es.

"Maaf, Liu Wei. Hanya saja aku tiba-tiba mengingat sesuatu yang lucu." Kata Imayoshi, ia memutar-mutar gelas kaca berisi es si tangannya.

"Biar kutebak, Yuki-hime. Benar?" Kata Liu.

"Yup, tepat sekali."

Liu tersenyum kecil. "Chihiro pasti tidak menyangka akan bertemu Yuki tadi. Apa kau lihat raut wajahnya tadi?" Tanya Liu.

Imayoshi terkekeh.

"Ya, dia benar-benar kaget. Dan lagi Yuki-hime tidak berubah sama sekali. Dia masih gadis kecil manja yang suka memerintah. Chihiro sampai kelabakan karena permintaan Yuki tadi, 'Aku ingin ini, aku ingin itu, tambahkan lagi coklatnya, aku tidak suka nanas, ganti,aku ingin cherry, buatkan aku omelet juga!'." Kata Imayoshi sambil meniru suara Yuki yang malah membuat suaranya terdengar aneh.

"Hahaha...kau benar. Setelah kalian keluar dari kafenya tadi, ia langsung tepar. Dia seperti kehilangan nyawa." Kata Liu.

"Tapi sungguh. Setelah dua tahun tidak bertemu dia terlihat semakin dewasa. Berapa usianya sekarang? Tujuh belas?" Tanya Liu.

"Benar, usianya sudah tujuh belas tahun." Jawab Imayoshi. "Tidak terasa dua tahun sudah berlalu, bagaimana keadaan orang itu di sana ya?" Lanjut Imayoshi dengan tatapan menerawang begitupun Liu.

Dan hanya keheningan yang mengisi apartemen itu.

.

"Bisakah kalian berhenti menatapku seperti itu? Aku benar-benar tidak nyaman sekarang." Kata Yuki dengan wajah masam.

"Ne..apa benar kau Yuki-chan?" Tanya Kuroko dengan nada tidak percaya.

"Hng." Jawab-guman- Yuki.

"Benar-benar tidak bisa di percaya, hanya dengan melepas kacamata jelek itu dia bisa berubah sejauh ini." Kata Akashi.

Memang bagaimana penampilan Yuki yang sekarang? Tidak ada yang aneh dengan penampilannya yang sekarang, ia hanya mengikat rambut panjangnya dengan gaya ponytail, memakai baju kaos yang tidak terlalu kebesaran dan tidak terlalu ketat di tubuhnya. Dan hanya mengenakan celana training panjang. Penampilannya saat ini lebih terkesan sporty. Lalu apa yang istimewa? Wajahnya? Mungkin saja. Wajahnya yang tanpa kacamata benar-benar cantik tanpa cela. Kulit yang putih mulus tanpa jerawat dan kerutan. Mata yang tidak terlalu besar tapi juga tidak sipit dengan bola mata berwarna hitam yang saat ini menatap sebal ketujuh orang di hadapannya dan alis mata yang tegas.

"Fufufu, ini baru anak gadisku. Kau tidak memerlukan kacamata jelek itu lagi sekarang, aku akan memesan kontak lens dan membuang kacamata jelek itu." Kata Alex dan akan beranjak untuk mengambil kacamata yang di pegang oleh buttler itu.

"Jangan coba-coba menyentuh kacamata itu kalau kalian masih ingin aku berada di sini." Kata Yuki dengan nada dingin dan pandangan tajam. Alex berhenti melangkah.

"Alex-san, menurutku kau tidak perlu sampai membuang kacamata itu." Kata Kuroko yang-lagi-lagi- entah muncul dari mana.

"Oi Tetsu! Bisa tidak jangan membuat orang kaget!" Protes Aomine.

"Gomen, tapi aku tidak bisa diam saja. Karena setahuku kacamata itu sangat berharga bagi Yuki-chan." Kata Kuroko.

Mereka yang ada di ruangan itu menatap heran ke arah Kuroko termasuk Yuki.

"Tetsuchin tahu darimana kalau kacamata itu berarti untuk Yukichin?" Tanya Murasakibara sambil mengunyah snacknya.

"Mungkin Yuki-chan sudah lupa. Tapi, dua tahun yang lalu kita pernah bertemu." Kata Kuroko.

.

Yuki berlari dan terus berlari. Sejak ia terbangun sore tadi, ia tidak bisa menemukan sosok Nii-san nya. Ia berlari, mencari di setiap sudut kota, peluh mengalir di pelipisnya.

Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia berhenti di sebuah taman dan duduk di kursi di tengah taman itu. Ia menundukkan kepala dan menatap benda yang sejak tadi di pegangnya. Sebuah kacamata dengan lensa besar milik nii-san nya yang ditinggal di sebelah meja kecil di samping tempat tidur Yuki.

Air mata perlahan mulai menetes, membasahi kacamata digenggamannya. Tubuhnya bergetar, dan terisak tanpa suara.

"Nii-chan...hiks..kenapa...hiks...kenapa kau pergi." Isak Yuki.

"Sumimasen."

Sebuah suara menyentak Yuki, ia mengangkat wajahnya yang basah.

Yuki dapat melihat seorang pemuda bersurai biru berdiri di hadapannya. Wajahnya terlihat datar, tapi terselip sedikit kekhawatiran di tatapan matanya.

"Kau tidak apa-apa? Kenapa kau menangis sendirian disini?" Tanya pemuda bersurai biru itu.

.

"Aku ingat, kalau tidak salah, dulu Kuroko pernah menghilang beberapa hari setelah kita mengalahkan SMP Meikou." Kata Midorima.

"Heh, sekolah lemah itu ya." Kata Aomine.

"Tolong jangan bicara seperti itu Aomine-san." Kata Kuroko.

"Cih."

Yuki diam cukup lama, dia baru ingat tentang malam itu.

'Benar juga, ada kejadian begitu ya? Tapi aku benar-benar tidak ingat dengan wajah orang itu. Jadi orang itu Tetsu-nii?' pikir Yuki.

"Begitu ya? Baiklah, aku tidak akan membuang kacamata itu. Tapi kau tidak perlu menggunakannya Yuki. Kau lebih terlihat cantik kalau seperti ini." kata Alex dan mengelus wajah Yuki.

"Aku akan tetap memakai kacamata itu dan berpenampilan seperti yang kumau." Kata Yuki.

"Tapi.." kata-kata Alex terpotong.

"Aku sudah katakan pada kalian. Jangan terlalu memperdulikanku, aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Dan lagi Sei-nii, jangan macam-macam dengan ketiga siswi itu atau aku tidak akan mau bicara padamu lagi." Kata Yuki dan beranjak dari tempatnya, mengambil kacamatanya dan akan berjalan keluar.

"Tidak ada seorang pun yang boleh memerintahku. Dan nanti, aku akan tetap memberikan pelajaran kepada mereka karena sudah berani mengganggu keluarga Akashi." Kata Akashi.

Yuki hanya diam dan meneruskan langkahnya dan menutup-lebih tepatnya membanting- pintu di belakangnya.

.

Yuki menutup pintu kamarnya dan bersender disana. Ia menatap kacamatanya dan menggenggamnya erat.

"Nii-chan, kapan kau pulang?" gumam Yuki.

.

Pagi hari yang cerah, Yuki sudah menyiapkan semua keperluan sekolahnya dan penampilannya kembali menjadi gadis culun berkacamata besar, bedanya ia memakai baju dan celana olahraga sekarang karena jam pertama adalah pelajaran olahraga.

Ia berjalan keluar dari kamarnya dan mendapati kedua kakaknya sudah berdiri di sana.

"Sedang apa kalian?" tanya Yuki.

"Kau tidak dengar apa yang Akashi bilang tadi malam? Kau dilarang pergi sekolah hari ini." kata Aomine sambil bersidekap.

"Perjanjian batal. Siapa suruh membuat moodku jadi jelek." Kata Yuki dan mulai melangkah.

Akan tetapi langkahnya di halangi oleh si titan ungu.

"Atsu-nii, minggir."

"Tidak bisa, nanti Akachin akan menyita snackku kalau sampai Yukichin kabur." Kata si titan ungu-Murasakibara-.

"Lebih baik kau masuk ke kamarmu sekarang, kau tidak akan bisa melewati kami." Kata Aomine.

'Percaya diri sekali.' Pikir Yuki.

"Baiklah." Kata Yuki dan membalikkan tubuhnya.

Tanpa peringatan, Yuki memutar tubuhnya dengan kaki kanan terangkat tinggi dan menendang tepat di dada Aomine. Membuat Aomine membentur dinding di belakangnya.

"Ukh, sial." ringis Aomine mengelus dadanya.

Atsushi masih memakan snacknya dengan santai tanpa memperdulikan Aomine dan menatap Yuki datar.

"Itu untuk yang tadi karena sudah berani menyebutku penyusup." Kata Yuki dan mengalihkan perhatian ke Murasakibara.

"Atsu-nii."

"Tidak boleh." Kata Murasakibara.

"Baiklah." Kata Yuki dan mengambil ancang-ancang.

Yuki mundur beberapa langkah dan berlari kencang menuju Murasakibara, Murasakibara segera mengambil posisi bertahan dan memberi tatapan tajam pada Yuki.

Tepat di depan Murasakibara, Yuki menghentikan larinya secara tiba-tiba dan bermanuver ke sisi kiri Murasakibara. Murasakibara yang menyadari itu segera mengulurkan kedua tangan besarnya ke sisi kirinya untuk menangkap Yuki. Yuki yang sudah bisa memperkirakan hal itu cepat-cepat menahan tubuhnya dengan kaki kanannya dan mengambil arah sebaliknya. Murasakibara kalah refleks sehingga tidak bisa mengikuti pergerakan Yuki. Yuki yang berhasil lolos segera memberikan sedikit tendangan di belakang lutut kanan Murasakibara. Membuat titan besar itu jatuh berlutut dengan sebelah kaki. Yuki mengambil kesempatan itu dan berlari melewati Murasakibara.

"Nanti aku akan buatkan cake untuk Atsu-nii sebagai permintaan maaf!" teriak Yuki di sela larinya, meninggalkan Aomine dan Murasakibara yang masih menatapnya dengan sorot mata tidak percaya.

"Mu..mustahil. Bagaimana dia bisa bergerak secepat itu?" kata Aomine dengan nada tidak percaya.

"Yukichin...kuat." gumam Murasakibara.

.

Yuki berjalan santai sambil meminum susu kotak yang di belinya di kantin saat perjalanan menuju kelasnya. Langkahnya terhenti saat sebuah pengumuman berkumandang.

"Bagi seluruh siswa dan siswi, di harapkan untuk berkumpul di halaman utama sekolah. Diulangi. Bagi seluruh siswa dan siswi, di harapkan untuk berkumpul di halaman utama sekolah."

Mengikuti instruksi, seluruh siswa/siswi segera keluar dari kelas dan menuju tempat yang sudah di beritahukan.

'Firasatku tidak enak.' Pikir Yuki.

Ia melangkahkan kakinya mengikuti para murid lain. Dan langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di hadapannya.

Di tengah halaman luas itu, terdapat sebuah panggung kecil ukuran tiga kali tiga meter. Dan di atas panggung itu, berdiri tiga orang siswi senior yang kemarin sore membully nya. Ketiga siswi itu terikat di sebuah kursi dan terisak, pakaian mereka basah dan kotor sekali, seperti habis dilempari tepung dan cat.

Dan disisi panggung, Akashi berdiri angkuh bersama dengan ketiga kakaknya yang lain.

"Mereka.." desis Yuki geram.

Ia melangkah cepat menuju keempat kakaknya itu. Ia menghentikan langkah setelah sampai di depan Akashi.

"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah sudah kukatakan untuk tidak keluar dari kamarmu?" kata Akashi.

Yuki hanya diam, kepalanya tertunduk membuat Akashi tidak bisa melihat ekspresinya saat ini.

"Apa kau mendengarku Yu.."

Plash

Semua orang yang melihat itu mematung dengan wajah syok, termasuk Murasakibara dan Aomine yang baru sampai di sana.

Apa yang dilakukan Yuki? Ia baru saja menghancurkan susu kotak di tangannya tepat di atas kepala Akashi dengan sebelah tangan. Dan saat ini Akashi menatap tidak percaya gadis di hadapannya. Hilang sudah wajah angkuhnya saat menatap mata Yuki yang penuh amarah dari sela kacamatanya.

Yuki membuang kotak susunya dan mengelap tangannya yang basah dengan sapu tangan miliknya sendiri. Ia menaiki panggung itu dan melepaskan tali yang mengikat ketiga siswi itu.

"Pergilah, bersihkan diri kalian." Kata Yuki dan ketiga siswi itu hanya mengangguk dan pergi dari tempat itu.

Yuki melompat turun dari panggung dan menghampiri keempat kakaknya. "Mau sampai kapan kalian berdiri di sini!? Kembali ke kelas kalian masing-masing!" teriak Yuki, membuat seluruh siswa berlarian memasuki gedung sekolah.

Dalam sekejab mata halaman itu langsung sepi, hanya menyisakan Yuki dan keenam kakaknya.

"Nii-san semua juga, kembali ke kelas kalian masing-masing." Ujar Yuki pelan tapi masih bisa di dengar oleh kakak-kakaknya itu.

Ia menarik tangan Akashi, membuat Akashi yang masih mencerna semua kejadian itu kaget dan mengikuti tarikan ditangannya dan meninggalkan saudaranya yang lain yang masih mematung.

TBC

A/N

Aloha~~ Ryu kembali XD

Rekor baru nih, biasanya Ryu berbulan-bulan baru apdet (-,-)

Ryu gak nyangka ternyata banyak yang suka sama ini fict ^^

Untuk yang sudah fave/follow/review Ryu ucapin arigatou gozaimasu~~ ^0^)/