Shin Key Can, present

.

.

SEGITIGA

Disclaimer: Demiiiii apapun tetap Kubo Tite aja. Kalaupun diijinkan memiliki Bleach, kami pasti disuruh jadi budaknya...hehehhehe

Warning: Cuma mau ingetin kalau fic ini berisi , AU, OOC, Typos, etc... Apabila ada kesamaan cerita atau sejenisnya tergantung pendapat minna yang menilai. Dari pada banyak cincong, monggo di maos nggih :D

.

.

.

BAB III PENDEKATAN...?

.

.

.

"Kau dari mana saja Ichigo? Kenapa sampai sesore ini kau baru pulang?" tanya seorang pria yang tidak lain adalah Isshin Kurosaki.

"Dari latihan. Sebentar lagi akan ada turnamen nasional, ayah. Apa ayah mau melihatku bertanding?" tanya Ichigo pada ayahnya. Ia berharap ayahnya bisa melihatnya bertanding. Keheningan sejenak tercipta oleh ayah dan anak ini. Keduanya masih saling menatap dan berpikir apa yang nantinya akan mereka katakan.

"Kapan jadwal pertandingannya?" tanya Isshin pada putranya. Ia berpikir tidak ada salahnya menonton pertandingan putra kebanggaanya itu.

"Dua hari lagi, ayah. Ayah bisa menonton bersama ibu, Yuzu serta karin?" kata Ichigo sedikit ragu menanyakan hal ini pada ayahnya. Ia tahu, ayahnya ini sulit sekali untuk dibujuk.

"Huff, sepertinya itu menarik. Aku akan mengajak ibumu serta Yuzu serta Karin," jawab Isshin singkat.

"Terima kasih, ayah sudah mau melihatku bertanding. Aku akan berusaha semaksimal mungkin," sahut Ichigo tersenyum. Ia lega akhirnya setelah sekian lama ia bertanding, baru kali ini ayahnya bersedia meluangkan waktunya untuk melihat ia bertanding.

"Itu baru putraku," kata Isshin seraya mengusap rambut kepala sang putra. Setelah pembicaraan singkat dengan ayahnya, ia pamit pada ayahnya untuk beristirahat. Ia berjalan menuju kamarnya. Ichigo merasa senang ayahnya begitu perhatian padanya. Ia cukup terkejut sekaligus senang karena saran dari Rukia berhasil. Ia ingin mengucapkan terima kasih pada Rukia secepatnya. Ia mengambil tabletnya, dan seperti biasa percakapan lewat email di mulai.

To: chubychappy

'Terima kasih atas sarannya kemarin. Akhirnya ayahku sedikit luluh.'

Pesan terkirim

From: berryskawaii

'Ah, ya. Senang bisa membantumu.'

Pesan terkirim

To: chubychappy

'Hehehehe, sekali lagi terima kasih banyak. Dua hari lagi aku ada pertandingan, apa kau bisa melihatku bertanding. Kau boleh mengajak Senna.'

Pesan terkirim

From: berryskawaii

'Maaf, Ichigo. Aku sudah ada janji dengan Senna untuk pergi ke Shibuya. Mungkin lain kali saja tidak apa-apa kan?'

Pesan terkirim

To: chubychappy

'Tidak masalah. Tapi lain kali kau harus melihat aksiku bertanding sebelum aku pensiun jadi atlet, heheheheh. Kau harus tepati janjimu. Ini sudah malam, oyasuminasai.'

Pesan terkirim

From: berryskawaii

'Aku janji deh, sekali lagi maaf. Semoga berhasil. Pesanku cuma satu, jadilah yang terbaik dan membanggakan. Jangan buat ayahmu kecewa. Bawalah tropi piala kemenangan di tanganmu. Sudah ya. Oyasuminasai.'

Pesan terkirim

'Dasar, gadis aneh. Tapi lucu juga sih,' batin Ichigo tersenyum membaca pesan dari Rukia.

.

.

.

Dua Hari Kemudian

Suara teriakan dari para penonton memenuhi seluruh arena gedung olahraga Karakura city. Mereka saling memberi semangat kepada tim andalannya masing-masing. Salah satu dari sekian banyak penonton yang berteriak menyaksikan jalannya pertandingan, keluarga Kurosaki yang paling heboh. Demi mendukung keluarga yang paling mereka cintai bertanding, Isshin rela membatalkan semua janji dengan kliennya.

"Ayo, nak. Kalahkan mereka dan jadilah pemenang!" teriak Isshin yang sedang menyaksikan Ichigo mendrible bola.

"Ichi-nii, masukkan bolanya ke ring," teriak Karin tak kalah heboh.

"Bu, pertandingannya seru juga ya. Anakku memang hebat," kata Isshin pada sang istri.

"Tentu saja, sayang. Kau juga sih jarang melihat anakmu bertanding," ucap sang nyonya Kurosaki yang tak lain bernama Masaki

"Mungkin lain kali aku akan melihatnya bertanding lagi," kata Isshin singkat. Ia begitu bangga pada putranya. Selama ini sikap dinginnya ia tunjukkan pada putranya hanya semata-mata ingin mendidiknya agar Ichigo menjadi pria kuat dan tangguh. Isshin melihat ke arah jam tangannya. Pertandingan akan segera berakhir. Inilah saat yang ia tunggu. Melihat sang putra mengangkat tropi piala juara pertama. Kembali ke pertandingan saat ini score kedua tim saling bekejaran. Tim yang Ichigo pimpin unggul sepuluh poin dari tim lawan. Mereka tidak boleh lengah sedikitpun. Saat jam menunjukkan detik terakhirpun Ichigo melakukan slam dunk dan bola masuk ke ring sebelum bunyi peluit-

PRIIIITTTTTTTT

"YEAH. KITA YANG TERBAIK," ucap tim Ichigo serempak.

"Kita menang, minna. Tropi kemenangan ada di tangan kita," kata salah satu teman Ichigo.

"Hah, tentu saja kita kan kuat dan cerdas dalam strategi menghadapi lawan," kata Ichigo bangga. Setelah berakhirnya pertandingan, kini tibalah penyerahan tropi. Ichigo sang kapten mengangkat tinggi-tinggi tropi piala kemenangan timnya. Ia bangga atas kemenangannya kali ini yang begitu spesial. Ya, seluruh keluarganya melihat pertandingannya. Ichigo sedikit perih mana kala mengingat ada sesuatu yang kurang. Senna. Gadis manis itu tidak lagi datang bersorak memberikan semangat padanya lagi. Ia tersenyum miris. Mengingat kembali nama gadis itu membuatnya tertunduk lesu. Sebenarnya ia berharap banyak pada Rukia agar mau mengajak Senna melihat pertandingannya, namun sayangnya dia juga tidak bisa hadir bersamaan dengan Senna.

.

.

.

Flashback

"Hey, beib. Selamat atas kemenangan tim kalian. Tadi itu aksimu sungguh menagumkan, Ichi. Kau terlihat gagah," puji Senna pada Ichigo yang baru saja menerima tropi piala kemenangannya.

"Terima kasih banyak, beib. Tentu saja aksiku mengagumkan, aku kan giat berlatih supaya bisa menghadapi lawanku," kata Ichigo sedikit membanggakan dirinya.

"Aku tahu itu, Ichi. Nah, kalau begitu untuk merayakan kemenanganmu bagaimana kalau kita beli es krim di kedai Urahara?" pinta Senna.

"Dengan senang hati, my girl." Mereka akhirnya memutuskan untuk merayakan kemenangan Ichigo di kedai Urahara. Mereka berjalan sembil bergandengan tangan. Semua mata tertuju pada mereka. Mereka tampak serasi.

End of Flashback

.

.

.

~Karakura High Schoo, kelas tiga IPA-1

Hari ini pelajaran Mayuri-sensei akan dimulai. Para siswa dari kelas tiga IPA-1 sudah mulai masuk ke kelas masing-masing. Suasana sedikit lebih ramai ketika sensei yang mengajar hari ini belum juga masuk ke ruang kelas. Para siswa yang jenuh menunggu kedatangan sensei terkiller itu, memutuskan sekedar bercanda atau mendengarkan musik dari handphone mereka untuk melepas jenuh. Hal yang berbeda dilakukan oleh Kurosaki Ichigo hanyalah diam memperhatikan satu persatu teman sekelasnya. Ia mengedarkan pandangan ke seisi kelas. Ia mencari sosok yang sejak tadi ia tunggu yang ternyata tidak kunjung datang sampai detik ini. Ia mendesah pelan. Merasa jenuh menunggu seseorang sejak tadi, ia lalu bergabung bersama Ulluqiorra dan sahabat-sahabat terdekatnya.

"Hei, kalian tidak bosan apa bicara dengan Asano si mesum itu?" kata Ichigo mengejek.

"Ahahahah, kau ini bagaimana Ichigo. Kau kan juga sudah tahu Asano itu pakar sexsolog muda berbakat di KHS," ucap Hisagi tengah tertawa mendengar penuturan Ichigo.

"Hey, biar begini, suatu saat kalian akan mencariku dan menanyakan jurus-jurus maut padaku," bela Asanp tidak terima di ejek Ichigo dan Hisagi.

"Kalaupun aku butuh saran, aku tidak meminta saranmu, Asano," ucap Ulluqiorra tajam menusuk tepat sasaran di jantung Asano.

"Tega sekali kau berbicara seperti itu padaku, Ulqi," kata Asano sambil nangis gaje dipojokan. Melihat tingkah temannya itu, baik Ichigo, Hisagi dan Ulluqiorra tertawa bersama-sama. Mereka heran kenapa mereka bisa punya sahabat yang 'unik' seperti Asano. Saat sedang asik bercanda, Mayuri-sensei masuk ke kelas. Para siswa segera duduk ditempat duduk masing-masing. Mayuri-sensei memanggil satu per satu nama murid yang berada di kelas.

'Hisagi Shuehi?'

'Hadir.'

'Kurosaki Ichigo?'

'Hadir.'

'Keigo Asano?'

'Hadir, sensei.'

'Rukia Kuchiki?'

'Rukia Kuchiki?'

'Aku bilang, Rukia Kuchiki! Kenapa tidak menjawab? Ada yang tahu kemana Rukia Kuchiki?" tanya Mayuri-sensei pada muridnya.

"Dia sakit sensei. Tadi kakanya datang menemui guru BK (Bimbingan Konseling)." Jawab salah seorang murid.

"Tidak biasanya anak itu tidak mengikuti pelajaranku. Ya sudah kita lanjutkan absennya minna," gumam Mayuri pada dirinya sendiri. Acara mengabsen berlanjut. Semua hadir kecuali Rukia. Teman sekelas Rukia termasuk Ichigo sedikit heran Rukia yang biasanya rajin masuk sekolah tiba-tiba hari ini tidak berangkat sekolah. Ketidak hadiran Rukia, tidak membuat pelajaran terhenti. Pelajaran Mayuri-sensei yang dianggap paling susahpun tak terasa telah hampir dua jam berlalu. Ini saatnya para siswa KHS beristirahat. Mereka berhamburan keluar dari kelas. Saat Ichigo akan beranjak dari tempat duduknya ia melihat gadis itu sedang berada dikelasnya dan berbicara pada salah satu temannya. Melihat hal itu, ia memilih keluar dari kelas dari pada berlama-lama melihatnya hanya akan timbul pertengkaran.

"Tatsuki, apa Rukia sudah keluar dari kelas?" tanya Senna.

"Hari ini dia tidak masuk, katanya sakit. Kau tidak tahu?" ucap Tatsuki menjelaskan.

"Tidak. Memangnya dia sakit apa? Aku beberapa hari ini sibuk, jadi jarang menemuinya. Aku ini sahabat yang payah. Sahabat sendiri sakit saja tidak tahu," kata Senna menyesal.

"Sudahlah, Senna. Kamu tidak usah menyalahkan dirimu. Mungkin ia tidak memberitahumu karena dia tidak ingin kau cemas. Bagaimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya?" ucap Tatsuki menghibur.

"Oke. Nanti aku tunggu di parkiran," jawab Senna semangat.

"Sippppttttzzzz."

.

.

.

~Kuchiki House, jam 14.30

"Rukia, kenapa kau tidak bilang kalau kau sakit?" cerocos Senna setelah sampai di kamar Rukia.

"Maaf, aku lupa. Aku hanya demam biasa, Senna? Kau kesini dengan siapa?" tanya Rukia heran.

"Lain kali jangan begini lagi. Kalau kau sakit segera hubungi aku. Aku kemari bersama Tatsuki," jawab Senna singkat.

"Mana dia? Kok tidak kelihatan?" tanya Rukia sekali lagi.

"Hei, aku dari tadi di sini, Rukia," kata Tatsuki sedikit cemberut karena kehadirannya dilupakan begitu saja oleh dua orang temannya itu.

"Heheheheh, aku hanya bercanda, Tatsuki," jawab Rukia tertawa. Pembicaraan ketiga sahabat ini berlanjut begitu seru. Tatsuki bercerita pada Rukia tentang apa yang dilakukan Mayuri-sensei pada siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan darinya. Hal itu sontak membuat Rukia tertawa dan membuat bulu kuduknya merinding jika itu sampai terjadi padanya. Senna yang mendengarkan cerita Tatsuki juga tertawa, bukan ceritanya yang membuat tertawa, tapi Tatsuki yang bercerita sambil memperagakan khas Mayuri-sensei dengan sangat apik. Tidak terasa setelah cukup lama tertawa dan bertingkah konyol, Tatsuki dan Senna pamit pulang ke rumah masing- masing.

"Kami pulang dulu, Rukia-chan. Cepat sembuh ya," kata Senna sebelum keluar dari kamar Rukia.

"Lain kali kami akan main lagi kesini. Terima kasih untuk makan malamnya, Rukia. Kami pulang. Beristirahatlah," sahut Tatsuki

"Terima kasih kalian sudah menjenguk dan menghiburku, minna. Aku akan beristirahat agar cepat sembuh. Kalian hati-hati di jalan," ucap Rukia pada Senna dan Tatsuki. Setelah keduanya keluar dari kamarnya, Rukia pun menarik selimut untuk segera beristirahat. Baru sejenak ia memejamkan mata, handphonenya berbunyi. Ada email masuk dari seseorang. Ketika tahu siapa yang mengirimkan email, Rukia langsung membalasnya.

To: chubychappy

'Apa kau sudah tidur? Kalau belum balas email ini. Bagaimana keadaanmu? Aku dengar kau sakit? Apa sudah lebih baik? Besok aku akan menyelam bersama teman-teman, aku sih sebenarnya ingin mengajakmu, tapi kau masih sakit.

Pesan terkirim

From: berryskawaii

'Aku belum tidur. Iya, hanya demam. Istirahat dua hari di rumah mungkin sudah cukup. Aku sudah lebih baik saat Senna dan Tatsuki datang menjenguk. Wah, aku ingin ikut tapi badan ini sepertinya susah di kompromi. Bagaimana kalau kau potret atau merekam kegiatanmu menyelam. Anggap saja itu oleh-oleh darimu. Bagaimana? Setelah itu mungkin kau akan menceritakan pengalamanmu setelah pulang dari kegiatan menyelam. Aku tidur dulu, besok saja kita lanjutkan obrolannya. Oyasuminasai.'

Pesan terkirim

To: chubychappy

'Baiklah kalau begitu. Setelah pulang nanti aku akan mendokumentasikan kegiatan menyelamku. Bersiaplah mendengar ocehanku yang panjang lebar, hehehhehe. Segeralah sembuh. Oyasuminasai.'

Pesan terkirim

Setelah percakapan singkat itu, Rukia langsung menarik selimutnya untuk kemudian terlelap dalam mimpinya, sedangkan Ichigo masih berpikir bagaimana cara mendekati gadis dengan tubuh big size itu. Usahanya tidak boleh gagal. Mungkin inilah kesempatan baginya untuk mendekati Rukia. Ia ingin Senna tahu kalau keputusan untuk meninggalkannya itu salah besar. Dalam hati, Ichigo sebenarnya masih sayang pada Senna, tapi egolah yang membuatnya sampai harus menggunakan cara terakhir.

.

.

To be countinue

Heheheh, pendek lagi ya? Sabar pemirsa. Konfliknya memang belum muncul. Yang udah login n review, kami udah bales lewat PM masing-masing. Terima kasih banyak atas dukungan kalian lewat review yang udah masuk. Kalian sungguh sangat berarti. Ichigo itu gak jahat kok. Jangan salah sangka dulu ya. Bisa jadi dia terjebak sendiri dalam rencananya. Kami juga minta maaf chapter kemarin banyak sekali kesalahan,semoga ini enggak, Amiiiinnnn.

Balesan buat yang belum login:

Darries: heheh, thanks dah RnR. Nanti pada wakyunta akan cantik n seksi kayak Senna kok.

Shiina: ini udah update. thanks dah RnR

A/N:

Ichigo: Atlet basket, hobi menyelam.

Rukia: Saya buat dia gendut, dan di akhir chapter dia hadir dengan tubuh langsing sesuai di novelnya. Dia hobi melukis, fotografi, bercita-cita jadi dokter anak (ngarang sendiri, idenya Can)

Senna: Saya buat dia disini seorang model sesuai dengan novelnya. dia bercita-cita jadi model terkenal, dan setelah lulus SMA dia mengambil jurusan fashion desaign (ngarang sendiri, idenya Key)

~Back song chapter 1

I don't want to miss a thing by Aerosmith

Back song chapter 2

Change the world, Ost. Inuyasha

Back song chapter 3

Don't you remember by Adele