Only you

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto sensei

Pairing : SasuFemNaru, gaanaruko, slight sasunaruko, slight gaafemnaru, kuufemitachi, and many other.

Rated : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family

Warning : OOC, gaje, alur cerita cepat, typo(s),gender switch, don't like don't read

.

.

.

.

.

Chapter 4 : Perang!

.

.

.

.

.

Selamat membaca!😉😉

.

.

.

~0~0~0~

#Senju mansion

Sang fajar mulai menampakkan sinarnya, ayam berkokok seiring menyambut sang fajar. Namun Naruko, masih asyik bergelung dibawah selimutnya. Dia tidak sadar bahwa saat ini dia berakting menjadi Naruto, dan kebiasaan buruknya ini tidak akan dilakukan oleh Naruto...

Tokk...tokk...tokk

Shion mengetuk pintu kamar putrinya cukup lama sambil melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Sekarang sudah jam 7 tetapi putrinya belum bangun juga.

Tidak biasanya Naruto terlambat bangun seperti ini...

"Naruto, my dear?! Ayo bangun sayang?! Bukannya kau ada praktek dirumah sakit, pagi ini?" ujar Shion mencoba membangunkan putrinya. Shion langsung membuka pintu kamar Naruto dan masuk kedalamnya sambil membuka gordyn jendela kamar Naruto agar sinar sang mentari bisa masuk kedalam.

Shion duduk di pinggir ranjang Naruto dan mengusap rambut putrinya dengan sayang. "My dear, ayo buka matamu?! Lihat! Bahkan mentari sudah tersenyum hangat kepada kita sekarang"

Naruko melenguh tidak nyaman saat ia merasa sinar mentari begitu menyilaukan matanya. "Iya, sebentar kaa-san" Naruko terduduk sebentar sambil mengerjabkan matanya, lalu kembali tidur.

Shion mengernyit bingung mendengar jawaban putrinya, apalagi putrinya kembali tidur seperti ini. Apa mungkin Naruto masih sakit, seperti kemarin?

Shion menempelkan punggung tangannya pada kening putrinya dengan menampakkan ekspresi cemasnya. "My dear?! Are you okay 'hm?" Tanya Shion cemas. "Tidak biasanya kau memanggil mommy-mu ini dengan sebutan kaa-san?!" lanjut Shion yang membuat Naruko tersadar akan kesalahannya barusan.

Naruko langsung membuka kedua matanya lebar-lebar dan bangkit duduk dihadapan Shion dengan gugup. Ia lupa bahwa Naruto selalu memanggil 'kaa-san'nya dengan panggilan 'mommy'.

"A-Ak~Aku b~baik-baik s~saja mom" jawab Naruko dengan gugup. Saking gugupnya hingga bulir-bulir keringat nampak jatuh dari pelipisnya. Bahkan Naruko mengaitkan kedua tangannya dan memainkan jarinya sambil menggigit bibir bawahnya.

'Ayo Naruko! Dimana keahlian beraktingmu itu! anggap saja wanita itu adalah lawan aktingmu saat ini!' ucap Naruko dalam hati.

Shion tersenyum hangat dan beranjak dari ranjang putrinya. "Ya sudah, cepat mandi lalu turun ke ruang makan. Kita akan sarapan bersama. Daddymu sudah menunggumu dibawah"

Naruko hanya mengangguk cepat lalu berlari menuju kamar mandi di kamar Naruto. Hanya ini jalan satu-satunya menghadapi kegugupannya saat ini...

.

.

.

Naruko berjalan menuju sebuah ruang makan mansion ini. Dia melihat seorang laki-laki paruh baya dengan surai berwarna putih tersenyum hangat menyapa kedatangannya.

"Morning sweety" sapa Tobirama lalu mencium kening putrinya dengan sayang.

Naruko terdiam sejenak nampak berpikir, jika Naruto memanggil 'kaa-sanya' dengan panggilan 'mommy', maka Naruto akan memanggil 'tou-sannya' dengan panggilan 'daddy'

Naruko membalas senyuman Tobirama dan duduk di kursi yang berada disebelah Tobirama. "Morning juga, dad" balas Naruko lalu memulai sarapan dengan suasana keheningan.

Naruko terlihat kikuk dan canggung dengan suasana seperti ini, karena biasanya dia selalu sarapan dengan suara kegaduhan yang ia dan kakaknya timbulkan. Entah karena berebut makanan atau hal lainnya.

Naruko jadi merindukan suasana sarapan dirumahnya bersama keluarganya...

.

.

.

.

.

Only you

.

.

.

.

.

#Namikaze mansion

Berbeda dengan Naruko yang memang memiliki kebiasaan buruk untuk susah bangun pagi, pagi ini Naruto sudah siap dengan pakaian seragam Naruko. Sejenak Naruto mematut dirinya dihadapan cermin sambil menyentuh wajahnya. Jika diamati lagi, dengan softlens berwarna violet ini Naruto memang terlihat seperti Naruko.

Naruto juga heran sendiri, kenapa wajahnya begitu mirip dengan Naruko...

Naruto berjalan membuka pintunya saat ia mendengar derap langkah mendekati kamar yang ia tempati saat ini.

"Naruko sayang, ayo cepat ba~, Eh Ruko? Kau sudah siap, sayang?!"

Kushina hendak membangunkan putrinya yang memang memiliki kebiasaan buruk susah bangun pagi. Apalagi pagi ini adalah hari pertama Naruko ujian di sekolahnya. Tentu saja putrinya itu harus datang lebih awal dan mempersiapkan semuanya agar tidak ada satu barangpun yang tertinggal saat ujian nanti. Namun pagi ini, Kushina benar-benar terkejut karena ia melihat Naruko membuka pintu kamarnya dan sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tentu saja Kushina sangat senang dengan hal ini, dia senang karena putrinya mulai bertanggung jawab atas kewajibannya sebagai pelajar.

"Naruko sayang, kau sudah siap 'hm?" Tanya Kushina sambil membelai pipi Naruto. Naruto hanya mengangguk hingga ia mengikuti Kushina menuju ruang makan dimana ayah dan kakak Naruko sudah duduk disana.

Minato melipat kembali koran yang ia baca lalu tersenyum mendapati istri dan putrinya berjalan ketempatnya. "Ohayō Ruko-chan" sapa Minato hangat.

Naruto ikut tersenyum pada Minato lalu membungkuk sopan padanya. "Ohayō tou-san, ohayō nii-san" balas sapa Naruto pada ayah dan kakak Naruko yang sibuk bermain handphonenya.

Kurama terkejut melihat sikap aneh Naruko dari kemarin, tidak biasanya adiknya seramah ini. Bahkan hanya untuk mengucapkan selamat pagi padanya pun, Naruko tidak pernah melakukan itu! Dan~ Kurama mengamati penampilan adiknya yang sudah siap dengan seragam lengkapnya yang terlihat sangat rapi di badannya.

Sangat aneh!

Tidak biasanya Naruko berpenampilan rapi seperti ini!

Kurama menyipitkan matanya menatap adiknya yang seperti tersenyum konyol kepadanya.

"Apa?" Tanya Naruto dengan nada ketusnya saat ia merasa tidak nyaman dengan cara pandang Kurama kepadanya.

Kurama mendengus pelan lalu tertawa meringis, mengejek sikap aneh adiknya pagi ini. "Huh?! Tumben jam segini kau sudah siap? Biasanya saja, kaa-san harus merusak pintu kamarmu agar kau mau bangun dari tidur nyenyakmu itu!" ejek Kurama yang membuat Naruto sedikit kesal atas ucapan kakak Naruko ini.

"Memangnya aku tidak boleh bangun lebih awal dan mempersiapkan semuanya dengan matang 'hm?" jawab Naruto masih dengan nada ketusnya. "Hari ini adalah hari pertama ujian, jadi aku tidak boleh terlambat bukan?"

"Biasanya juga, kau selalu terlambat bukan?" balas Kurama memutar kedua bolamatanya dan menunjuk Naruto dengan sumpit di tangannya.

Naruto hendak menjawab kembali perkataan Kurama tapi Minato sudah lebih dahulu memotongnya. "Sudah...sudah... kalian ini! Dan terutama kau, Kurama! Bukankah lebih lebih baik begini? Adikmu tidak terlambat bangun dan kau juga tidak terlambat ke kampus bukan?!" sahut Minato menengahi.

Akhirnya Kurama kembali diam dan Naruto juga ikut diam sambil memakan sarapannya. Naruto kembali memikirkan perkataan ayah Naruko tadi, jika dia tidak terlambat maka Kurama juga tidak terlambat. Apa maksudnya?

Bukankah pagi ini dia akan mengemudikan kendaraannya sendiri?

Naruto meletakkan peralatan makannya dengan sangat hati-hati hingga tidak menimbulkan dentingan apapun. Naruto membersihkan sisa makanan dimulutnya dengan selembar tissue dengan sikap sopan yang sangat mengagumkan. "Eum... tou-san?! Bolehkah Nar- maksudku Ruko bertanya?"

Minato ikut meletakkan peralatan makannya. "Iya sayang, ada apa?" sahut Minato.

Naruto mulai ragu, apakah ia akan menanyakan hal ini atau tidak?! Pasalnya, ia bukan putri di keluarga ini. Jadi dia tidak berhak menuntut fasilitas apapun pada kedua orangtua Naruko.

Tapi bukankah selama ini Naruto juga tidak menuntut apapun pada kedua orangtuanya?

Mommy dan daddy-nya selalu memberi apapun yang dibutuhkannya, bahkan tanpa ia meminta terlebih dahulu...

"Ruko ke sekolah nanti, naik apa? Maksud Ruko, apa Ruko akan membawa kendaraan sendiri? Ruko tidak ingin merepotkan orang lain dan menghambat pekerjaan mereka" ucap Naruto ragu-ragu.

"Biasanya juga kau selalu merepotkanku! Kenapa kau baru sadar sekarang jika kau sangat menyusahkanku?" dengus Kurama menyahuti ucapan adiknya.

Jika biasanya ia akan mendengar rengekan adiknya yang mengadu pada ayah dan ibunya, namun kali ini Kurama terkejut luar biasa karena adiknya ini malah membalas perkataannya dengan sikap balik menantang.

"Aku tidak membutuhkan bantuan orang yang tidak tulus menolongku! Sudah kukatakan bahwa aku bisa berangkat sekolah sendiri tanpa bantuan oranglain termasuk dirimu!" balas Naruto dengan ekspresi pongahnya. "Sekarang katakan saja, mobil mana yang bisa ku pakai untuk berangkat sekolah pagi ini?"

"Kau ini malah berbicara tentang mobil seolah kau melupakan apa yang kau lakukan pada tujuh mobil kesayangan tou-san 'hm?" Balas Kurama tidak mau kalah.

"Memangnya apa yang aku lakukan?"

Lihat?

Adiknya malah membalas perkataannya bukan?!

Kurama menyentil dahi Naruto hingga gadis itu terpekik kesakitan sambil mengusap dahinya yang memerah. "Apa kau lupa? Kau menghancurkan ketujuh mobil kesayangan tou-san! Pertama kau menabrakkan mobil tou-san pada air mancur mansion ini sehingga tou-san akhirnya menghilangkan air mancurnya dan menggantinya dengan taman agar kau aman dari tabrakan berbahaya itu! Lalu yang kedua, kau menabrak gerbang mansion ini. Kemudian yang ketiga, kau menabrak tiang listrik di sebrang jalan. Beruntung kau masih selamat dan tidak ada korban disana. Dan apa masih harus aku jelaskan lagi keempat mobil tou-san lainnya yang kau rusakkan itu?" balas Kurama sengit.

"Kurama?! Naruko?! Sudah...sudah...! Tou-san lelah melihat kalian setiap hari bertengkar seperti ini" Minato kembali menengahi Naruto dan Kurama. "Kau Kurama! Apa salahnya mengalah pada adikmu ini! Dan kau Naruko! bukan'kah setiap hari kau selalu berangkat bersama nii-sanmu 'hm?! Jika tidak, kau juga selalu diantar Iruka-san karena kau memang belum bisa mengemudi sayang" lanjut Minato dengan nada lembutnya.

"Ta-tapi tou-san, Ruko bisa mengemudi dengan baik!" balas Naruto mencoba meyakinkan.

"Sudahlah Namikaze Naruko! Kau nanti kesekolah diantar oleh Kurama dan tidak ada bantahan!" Putus Kushina mutlak.

Dan tentu saja Naruto tidak bisa membantah perkataan seseorang yang lebih tua darinya, apalagi mereka adalah kedua orangtua Naruko. Bukankah dirinya sekarang adalah Naruko?

Itu artinya Naruto harus patuh kepada Minato dan Kushina.

.

.

.

#Konoha International High School

Akhirnya Naruto pergi ke sekolah dengan diantar oleh Kurama, walau sebenarnya dia sangat kesal karena kakak Naruko yang sangat menyebalkan ini selalu menimpali apa yang ia katakan pada Kushina dan Minato.

Naruto kembali pada pikirannya tentang bagaimana ia nanti di sekolah Naruko. Apa ia bisa berakting menjadi Naruko tanpa ketahuan teman-teman Naruko nanti?

"Woooiii Rukoo, kita sudah sampai di sekolahmu!" Kurama melambaikan tangannya tepat di depan wajah Naruto yang nampak melamun dan gugup.

Naruto cukup terkejut, tersadar dari lamunannya lalu menengok ke sekelilingnya. Ternyata dia sudah sampai di sekolah Naruko. Naruto melihat sebuah lapangan yang cukup besar dengan sebuah gedung tinggi disana.

Ia tersenyum tipis melihat banyak anak-anak yang seumuran dengan dirinya, memakai seragam kemeja putih dengan blazer biru dongker dan rok kotak-kotak merah 5cm diatas lutut dengan kaos kaki sepanjang lutut dan sepatu pantofel lalu berjalan menuju kegedung itu sambil bercanda dengan teman-temannya.

Sudah lama rasanya Naruto tidak merasakan perasaan excited seperti ini, meski rasanya sangat menggelikan melihat dirinya memakai seragam lengkap anak sekolahan seperti ini...

Hey...jangan lupakan!

Dia Senju Naruto. Dokter spesialis bedah termuda yang notabenenya adalah lulusan terbaik di Hardvard University...

Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, saat telinganya mendengar suara Kurama yang berteriak menyemangatinya. Dia tidak menyangka, sosok kakak Naruko yang menyebalkan itu bisa semanis ini kepada dirinya?

Hati Naruto melonjak senang saat Kurama menyemangati dirinya, walau dia tahu sebenarnya Kurama bermaksud menyemangati Naruko bukan dirinya...

Seperti ini'kah rasanya mempunyai seorang kakak yang akan terus menyayangimu dan melindungimu?

~0~0~0~

Naruto tersenyum sumringah saat ia berhasil menemukan kelas Naruko di sekolah ini. Kelas Naruko yaitu 11 Science 1, kelas ini termasuk kelas unggulan di sekolah ini. Naruto jadi heran, bagaimana Naruko bisa masuk di kelas unggulan seperti ini?

"Naruko disini!"

Naruto mengikuti arah pandangnya menuju sumber suara yang memanggilnya saat ini. Dia melihat tiga orang gadis seusianya duduk di bangku depan sebelah pojok kanan, dan Naruto melihat salah satu bangku itu kosong. Sepertinya bangku itu memang untuk dirinya...

Naruto membalas sapaan ketiga gadis itu dengan senyuman dan anggukannya sambil mengingat semua hal yang diceritakan Naruko mengenai teman-temannya disekolah. Naruto ingat, ketiga gadis itu adalah Ino, Hinata, dan Sakura.

Naruto berjalan menghampiri mereka dengan sumringah, selama ini dia selalu berteman dengan orang yang lebih tua darinya. Naruto ingin mencoba menikmati, bagaimana rasanya memiliki teman sebaya dengannya...

Namun kesenangannya seolah hilang begitu saja saat tanpa sengaja seorang pemuda dengan gaya rambutnya yang aneh seperti 'pantat ayam' dan dengan wajahnya yang datar seperti tembok dirumahnya menabraknya hingga terjatuh tidak elit seperti ini.

Naruto heran, masih ada pemuda menjengkelkan seperti dia ini. Dia seorang wanita yang terjatuh dan itupun karena pemuda ini yang menabraknya. Tapi lihat?! Dengan tampang datarnya pria itu malah mendengus kepadanya...

Naruto menarik nafas dalam-dalam, lalu berusaha bangkit berdiri sendiri membersihkan roknya dari debu yang menempel dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pemuda ini. "Maaf, saya tidak sengaja" ujar Naruto menjaga kesopanannya.

"Kau ingin aku membalas jabatan tangan kotormu itu 'hn?! Dasar gadis penguntit bodoh! Tidak bisakah kau tidak menggangguku sehari saja?"

Kesal?

Tentu saja Naruto sangat kesal saat ini!

Bisa-bisanya pria sombong itu menghinanya seperti ini?

Ini tidak bisa dibiarkan!

Naruto mengamati penampilan pemuda aneh bertampang tembok itu, dia mengamati dari atas kepala hingga ke bawah kaki sambil mengingat-ingat perkataan Naruko mengenai teman-teman sekelasnya.

Rambut itu?!

Wajah datar itu?!

Naruto ingat! Pria ini adalah Uchiha Sasuke. Pria yang diceritakan Naruko sebagai murid tertampan, terpopuler, terkaya, terpandai, dan pria yang paling di inginkan di sekolah Naruko.

Lagi-lagi Naruto mendengus mengejek dengan tatapan pongahnya. Jadi pria seperti ini yang menjadi 'The most wanted men in Naruko school hm?'

Mungkin Naruko dan para gadis di sekolah ini tidak bisa melihat dengan baik. Bagaimana pria sombong ini menjadi idola mereka 'huh? Apa yang dilihat oleh para gadis itu?

Memang dari tampang, Uchiha ini memiliki wajah yang tampan dan Naruko bilang, dia adalah murid terpandai di sekolahnya. Tapi bila sikapnya sangat menyebalkan seperti tadi, maka tetap saja dia bukan typikal pria idaman Naruto!

Bahkan jika hanya ada satu pria di muka bumi ini dan itu adalah Uchiha Sasuke. Maka Naruto memilih tidak akan pernah berhubungan dengan lawan jenis seumur hidupnya!

.

.

.

"Kenapa melihatku seperti itu? Apa kau terpesona denganku?" selidik Sasuke saat ia melihat gadis yang biasa mengganggunya ini menatapnya dengan sangat mengganggu. Terlebih Sasuke seperti melihat Naruko memandangnya dengan sinis, bukan tatapan memuja seperti biasanya...

Ada apa dengan gadis ini?

Sasuke menaikkan sebelah alisnya saat gadis ini malah kembali mendengus dengan sikap pongahnya lalu beranjak meninggalkannya. Yang membuat Sasuke terkejut adalah, sikap tenang gadis ini yang terasa sangat aneh dari sebelumnya.

Jika biasanya Naruko selalu merengek-rengek mencari perhatian darinya, kali ini gadis ini malah mengacuhkan dirinya...

"Ah aku lupa. Kau sengaja menabrakku agar kau mendapat perhatianku bukan?" Tuduh Sasuke kembali pada gadis yang ia pikir sebagai Naruko.

Sasuke menyeringai jahil melihat gadis yang ia pikir Naruko menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapannya.

Gadis itu pasti hanya berpura-pura mengacuhkannya agar menarik perhatiannya bukan?

"Maaf tuan Uchiha, bisa ulangi kembali ucapan anda tadi? Terpesona? denganmu? ~dan aku berusaha menarik perhatianmu?" Naruto berkata dengan telunjuknya yang bergantian mengarah padanya dan Sasuke. "Kau terlalu percaya diri tuan sombong!"

Sasuke hendak menimpali kembali perkataan gadis pengganggu ini, namun ia berhenti saat gadis ini kembali menyela perkataannya. "Tanam ini baik-baik di kepala anehmu itu tuan Uchiha Sasuke, saya tidak pernah melakukan suatu hal bodoh agar menarik perhatianmu yang sangat tidak penting bagi diriku! Mengenai kecelakaan tadi, I'm so sorry, I didn't mean it! Okay?!"

Sasuke semakin tertantang melihat gadis ini kembali mengacuhkannya dan berusaha berpura-pura pergi darinya. Ia kembali menunjukkan sikap arrogannya dan tertawa kecil dengan ekspresi mengejek. "Dasar dobe!" Sahut Sasuke.

Naruto kembali mundur dan menatap Sasuke dengan kesal. "Maaf tuan Uchiha, kau bilang apa tadi?"

Sasuke menggerakkan telunjuknya menunjuk Naruto tepat di hidung gadis itu. "Kau~ do-be" jawabnya lagi dengan penekanan dibeberapa katanya.

Naruto menyingkap anak rambutnya kebelakang telinga dengan ekspresi tidak terimanya. Tentu saja ia tidak terima bila ia di panggil dobe seperti ini...

Dia bukan gadis bodoh dan konyol!

"Bisa aku dengar lagi kau bilang apa tadi?" pinta Naruto lagi dengan amarahnya yang sudah hendak meluap.

Dengan sikap tenang dan wajah datarnya, Sasuke memutar kedua bolamatanya dan menyentil kening Naruto hingga gadis itu terpekik sambil mengusap keningnya yang memerah. "Kebodohanmu itu adalah salah satu bukti bahwa kau memang dobe!" Balas Sasuke lalu berjalan melewati Naruto begitu saja seolah tidak ada hal yang terjadi di antara mereka.

Bukan Naruto namanya, bila ia akan terima dengan semua ini. Ia menarik tangan Sasuke yang berjalan menuju bangku miliknya. "Kau! Sekarang minta maaf kepadaku maka aku akan melepaskanmu!"

"Hn"

"Hn itu apa maksudnya tuan pantat ayam jelek!" Balas Naruto lagi saat Sasuke tidak memberikan jawaban yang jelas.

"Kau ingin tahu apa artinya itu?" Jawab Sasuke balik bertanya.

Sontak Naruto menganggukkan kepalanya cepat.

Sasuke mengambil spidol permanent dari tas sekolahnya dan menuliskan sebuah kata 'dobe' di dahi Naruto, yang konyolnya Naruto tidak bisa melawan perbuatan menyebalkan Sasuke saat ini karena saking terkejutnya dirinya...

Sasuke menutup spidol miliknya dan mengetuk dahi Naruto dengan spidol yang ia gunakan tadi. "Kau memang d-o-b-e, jadi untuk apa aku meminta maaf kepadamu 'hn?" Ucap Sasuke meninggalkan Naruto dengan keterkejutannya dan duduk di bangkunya sambil memasang headphone di telinganya.

Naruto segera mengambil handphone dari dalam tasnya dan mencoba melihat apa yang dituliskan Sasuke di keningnya. Dan ia semakin ingin menarik rambut pantat ayam pria sombong itu, saat tulisan 'dobe' itu tidak bisa hilang walau dia sudah mengusapnya dengan sangat keras. Naruto menghampiri bangku Sasuke lalu menggebrak bangku itu di hadapan Sasuke. "Dasar kau teme! Brengsek! Pantat ayam jelek! Menyebalkan! Kau~benar-benar~"

"~Ohayō minna... maaf sensei terlambat, sensei tadi tersesat dijalan yang bernama kehidupan lalu-"

"Cukup sensei... kami mengerti! " sela semua siswa dikelas itu secara serempak. Naruto kembali duduk di bangkunya dengan perasaan kesal setengah matinya. Naruto melihat teman-teman Naruko yang bernama Sakura dan Ino ini berusaha menahan tawa ketika melihat dirinya.

Ingin rasanya Naruto mencekik saja leher makhluk unggas menyebalkan itu! Tapi sayangnya sensei di kelas ini sudah datang.

"Baik anak-anak, sekarang kita mulai ujiannya."

Lihat saja!

Senju Naruto akan membalas perbuatan Uchiha sombong itu! dan Naruto pastikan bahwa Uchiha sombong itu, tidak akan berani mengerjainya seperti ini!, ungkap Naruto dalam hati.

"Waktu kalian untuk mengerjakan 90 menit untuk menjawab soal ini"

Mau tidak mau, Naruto harus mengerjakan soal ujiannya dengan mengumpat sambil tangan kirinya menutup dahinya yang dicoret oleh Sasuke tadi. Akhirnya Naruto dapat menyelesaikan soal ujian dalam waktu 30 menit lalu berjalan kedepan untuk mengumpulkan kertas ujiannya sambil tangan kirinya terus menutup dahinya sambil menunduk malu.

"Sensei?! Saya sudah selesai?! Bolehkah saya keluar sekarang?" Pinta Naruto lirih.

Kakashi menerima kertas ujian Naruto dengan pandangan terkejutnya.

"Sensei, saya juga sudah selesai" Sasuke ikut berjalan ke depan kelas sambil mengumpulkan kertas ujiannya pada Kakashi. "Sensei tolong periksa saja jawaban soal ujian gadis bodoh ini! Mungkin saja dia menjawab semua soalnya dengan asal agar dia bisa cepat keluar" tuduh Sasuke pada Naruto yang mulai kesal dengan perkataannya.

'Awas saja kau, teme!' Ujar Naruto dalam hati.

Naruto menyipitkan matanya menatap tajam Sasuke dengan bibirnya yang manyun. Pikirannya terus melanglangbuana memikirkan bagaimana cara membalas semua perbuatan Sasuke kepadanya. Ia melototkan matanya saat Sasuke malah mengangkat sebelah alisnya dengan senyum remehnya.

"Tidak Sasuke, bahkan semua jawaban Naruko benar"

Naruto langsung menjulurkan lidahnya saat Kakashi mengatakan bahwa semua jawab ujiannya benar, seolah ia ingin menunjukkan kepada Sasuke bahwa ia bukan gadis bodoh seperti yang dikatakannya tadi.

"Sensei yakin, jika gadis bodoh ini yang menjawab semua soal ujian sensei? Jangan-jangan dia menyalin semua catatannya dan menyonteknya pada ujian kali ini, sensei" tuduh kembali Sasuke yang langsung dibalas gelengan keras dari Naruto. "Lihat saja, sensei. Bahkan dia selalu menutup dahinya dengan telapak tangannya. Mungkin saja ia menyembunyikan contekannya di telapak tangan dan dahinya itu!?"

Kakashi bergantian menatap Sasuke kemudian Naruto. "Apa itu benar, Naruko?" Tanya Kakashi memastikan.

Naruto kembali menggeleng keras seolah hal yang dilakukannya itu mampu menepis tuduhan Sasuke. "Tidak sensei, itu tidak benar!"

"Lalu apa yang ada di dahi dan tangan kirimu itu?" Balas lagi Kakashi.

"Ti~tidak sensei! Ini bukan apa-apa!" Jawab Naruto lagi.

"Mana ada maling yang mau mengaku, sensei! Jika saya menjadi sensei maka saya tidak akan langsung percaya dengan perkataannya itu. Mana bisa seorang gadis bodoh dengan peringkat tiga terbawah, mampu menjawab semua soal ini dengan benar 'hn?!" timpal Sasuke lagi lalu beranjak pergi keluar kelas.

Baiklah! Ini sudah cukup!

Pria sombong itu sudah di ambang batas kesabarannya!

"Tunggu tuan Uchiha! Saya ingin membuat perhitungan terhadap anda!" Tanpa sadar Naruto melepaskan tangan kirinya yang menutupi dahinya dan memegang lengan Sasuke mencegah kepergian pria menyebalkan itu. Sontak seisi kelas langsung tertawa melihat sebuah tulisan yang terpampang jelas di dahinya. Naruto menatap aneh seisi kelas ini yang tertawa hingga terpingkal-pingkal tanpa pengecualian. Bahkan ketiga sahabat Naruko dan Kakashi-pun ikut menertawakannya. "Kenapa kalian malah tertawa hah?"

Naruto mengikuti arah pandang temannya, Hinata yang menunjuk dahinya sambil berusaha menahan tawanya. Naruto sadar, ini semua gara-gara teme brengsek itu yang saat ini malah tersenyum dengan penuh kemenangan. "Kau~ benar-benar~"

Naruto tidak tahu lagi bagaimana ia meluapkan kekesalannya yang saat ini bercampur dengan rasa malu. Naruto menghentakkan kakinya kesal sambil berjalan keluar kelas namun tidak lupa ia menginjak kaki Sasuke dengan sangat keras dan berbisik. "Ingat Uchiha! Aku akan membalas semua ini! Aku bukan Naruko seperti yang kau kira. Camkan ini!"

.

.

.

.

.

Only you

.

.

.

.

.

Naruto melempar penanya di meja kerjanya karena dia makin kesal dengan Naruko yang saat ini menertawainya di ruangannya. "Jika kau tidak bisa menghentikan tawamu, maka aku tidak akan mau lagi menjadi dirimu!" ancam Naruto yang membuat Naruko diam seketika.

Sore ini, setelah pulang dari sekolah Naruto langsung pergi ke rumah sakit dan berganti pakaian di ruangannya. Perjanjian antara dirinya dengan Naruko hanya sebatas di sekolah dan di rumah saja bukan?! Dia tidak mungkin menggantikan Naruko di depan kamera, apalagi Naruko yang sangat tidak mungkin menggantikannya dalam usaha menyelamatkan pasiennya...

Sore ini dirinya dan Naruko sama-sama memiliki waktu yang cukup luang. Naruko yang sedang break syutting dan dirinya yang memiliki antrian pasien yang sedikit, jadi mereka sepakat berkumpul bersama dan bercerita kondisi rumah masing-masing sehingga saat mereka kembali nanti, mereka tidak akan melewatkan satu hal penting dirumahnya.

Namun saat ia menceritakan mengenai kejadian hari ini di sekolah Naruko, gadis itu malah menertawakannya dengan sangat keras. Sudah cukup hari ini teman satu kelas Naruko menertawakannya dan di tambah Naruko pun juga menertawakannya. Benar-benar menyebalkan!

.

.

.

Setelah menghentikan tawanya, Naruko cepat-cepat menghampiri Naruto yang sudah terlihat sangat kesal. "T~tunggu! Baiklah aku tidak akan tertawa lagi. Maafkan aku! Aku mohon tolong bantu aku!" Pinta Naruko memelas.

"Tenang saja! Aku akan meneruskan apa yang telah aku mulai! Apalagi makhluk unggas itu telah menabuhkan genderang perang kepadaku! Aku - akan - membalasnya!" balas Naruto berapi-api dengan penekanan di beberapa katanya.

Naruko hanya memutar keduabola matanya bosan. Sebenarnya dia sangat keberatan karena artinya namanya akan tercoreng dihadapan Sasuke, tetapi Naruko berpikir kembali. Naruto tidak menyukai Sasuke dan mereka saling bermusuhan.

Ah...dia bisa dekat dengan Sasuke setelah ini dengan alasan, sikap anehnya selama ujian itu karena Naruto. Bukan dirinya...

Naruko tersenyum senang, ini seperti sekali dayuh, dua tiga pulau terlampaui. Naruko bisa mendapat nilai yang bagus dan dia juga bisa semakin dekat dengan Sasuke.

Ah...senangnya...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.