Disclaimer : (again and again) Aoyama Gosho pastinya….

A/N : Yang italic berarti flashback.

CHIANTI

.

Kau menatap mata yang nyaris tertutup pada tubuh berlumuran darah didepanmu. Terdapat kepuasan dalam hatimu, ketika pelurumu berdesing tepat sasaran, dan bersarang di otaknya. Membuatnya mati seketika. Terdengar gumam pujian dari rekan-rekanmu. Kau tersenyum bangga, lalu mendekat kearah mayat lelaki itu. Tapi ketika kau sudah cukup dekat untuk melihat wajah sasaranmu, senyum itu dengan cepat menghilang. Kata-kata terakhir yang diucapkan lelaki itu padamu bertahun-tahun lalu, kembali terngiang di kepalamu, padahal kau telah mati-matian berusaha melupakannya.

.

"Kemana gadis kecil yang manis dan riang itu? Gadis kecil manja yang penyayang dan peduli pada orang lain?" tanya Sasuke getir, yang tidak lain adalah kakakmu. Kau terpaku

.

Saat itu kau terperanjat akan kata-kata Sasuke. Ya, dulu kau memang adalah seorang gadis baik hati yang selalu tersenyum. Yang penyayang dan peduli, seperti kata-kata kakakmu. Tapi sekarang? Ah, entahlah.

Sudah berkali-kali kau berusaha mencari jawabannya. Mencari kemana gerangan gadis itu. Tapi kau tidak pernah menemukannya, membuatmu mengambil kesimpulan sendiri. Gadis itu mungkin telah terkikis sedikit demi sedikit oleh waktu, dari dalam hatimu. Atau mungkin dengan sekejap gadis itu lenyap tertelan dendam, setelah menyaksikan sendiri bagaimana orangtua kalian disiksa dan dipotong-potong oleh sekumpulan biadab, tanpa bisa berbuat apapun. Kesimpulan ini masuk akal, tapi tidak untukmu.

Tapi, setelah melihat wajah kakakmu yang hanya seperti tertidur, Kau mengerti. Kau tersenyum pelan—senyum kaku, karena setelah bertahun-tahun, kau akhirnya lupa cara tersenyum—lalu menunduk, diatas wajah kakakmu.

"Gadis kecil itu masih ada, kak. Masih disini." bisikmu kecil sembari menyentuh dadamu. "Ia hanya terkurung, dan entah sampai kapan." lanjutmu lagi. Kau berdiri dan berbalik menghadap langit senja keemasan. Air matamu menitik.

.

"Aku benci senja." kata seorang gadis kecil sambil menatap langit dari jendela. "Berarti langit pagi yang cerah itu akan tenggelam oleh malam yang gelap." sambungnya, mengerucutkan bibir. Sepasang pria dan wanita dewasa, serta seorang lelaki muda, tersenyum geli akan gerutuan sang gadis kecil.

"Jangan pernah membenci senja, dear." kata lelaki muda—kakak sang gadis—lembut. Gadis itu berbalik dan menatapnya.

"Karena pada saat senja, malaikat pelindungmu akan turun dan melindungimu sampai pagi." sambung ayahnya. Gadis itu memiringkan kepalanya.

"Tapi, Dad bilang kalian semua adalah malaikat pelindungku. Jadi, kalian hanya akan melindungku sampai pagi?" Ibunya yang baru datang dari dapur tersenyum menenangkan pada sang gadis, lalu memeluknya erat. Terasa hangat dan nyaman.

"Kami berbeda, dear. Kami, akan melindungimu sepanjang hidupmu. Tanpa henti, tanpa lelah." jawabnya. Lalu dilepaskannya pelukan itu. Gadis itu memandang mereka semua.

"Janji?" tanyanya sambil mengangkat kelingkingnya.

"Janji!" jawab mereka serempak, mengangkat kelingking bersamaan seperti yang ia lakukan. Ia tersenyum senang bercampur geli. Sang ibu, ayah, dan kakak bertukar pandang lalu tertawa geli. Tawa bahagia, Tawa riang, yang didalamnya terdapat ikatan indah, ikatan keluarga yang tidak akan pernah terputus.

A/N : Chapter 4, up! Yuhuuu!

Nah, buat nama 'sasuke', ini sama sekali nda da hubungannya ma naruto. Nama itu cuman nama yang asal ku embat, karena pusing nyari nama jepun…ohohoohohohoh #kicked

Seperti sebelum dan sebelumnya lagi, jika ada suatu kejanggalan di cerita ini, silahkan pencet tombol review! semakin banyak kalian nge-review, semakin cepat juga aku ngapdet! ohohohohohhhh