DISCLAIMER : Axis Powers Hetalia belongs to... [dramatic drumrolls] the one and only, Hidekazu Himaruya!
[dance]
.
Libur bukan hal yang mudah didapat bagi personifikasi negara berkembang itu. Karenanya, ketika gadis Melayu tersebut mendapatkannya, ia memanfaatkannya sebaik mungkin. Mei yang hangat itu dimanfaatkannya untuk berjalan menyusuri jalanan Amsterdam bersama kekasih Belandanya. Meski mantan kompeninya terlihat sedikit bosan, Indonesia tampak luar biasa semangat tidak peduli telah berapa kali mereka melakukan hal yang sama. Terutama setelah seorang pria tua penjual bunga yang ramah memberinya setangkai tulip merah setelah gadis itu menyapa dan memuji karangan bunga yang dibuatnya. Perasaan Netherlands campur aduk melihatnya.
"Kalau kau mau kuberi bunga, bilang saja," tuturnya ketika mereka beranjak sementara Indonesia masih melambai ke arah sosok penjual bunga itu. Gadis berambut hitam itu mendengus.
"Meminta seorang Lars Si Pelit untuk mengeluarkan uang untukku?" Indonesia menggeleng, air mukanya mengejek. "Aku tahu lebih baik dari itu."
Ketika pria berambut pirang itu diam saja dan menatapnya tajam, gadis itu memelankan langkahnya. "Tunggu-jangan - jangan kau cemburu?"
Netherlands memutar bola matanya, namun senyum penuh arti telah mengembang di wajah gadis Asia itu.
Mereka terus seperti itu; berjalan tanpa arah jelas, hanya mengikuti insting langkah pria Belanda tersebut. Sesekali Indonesia mengomentari hal – hal yang menarik perhatiannya, dari wanita yang sedang menjemur baju hingga pengendara sepeda yang tak jarang berpapasan dengan pasangan tersebut. Netherlands hanya menggumam setuju atau mendengarkan, perlahan - lahan menikmati kegiatan tanpa arti mereka. Langit Amsterdam entah bagaimana lebih cerah daripada biasanya di mata pemuda itu kalau ada gadis berambut hitam tersebut di sisinya. Kicauan burung terdengar semakin nyaring. Semerbak bunga yang mengintip malu - malu dari lelehan salju semakin kentara. Warna biru langit lebih tajam dan tersaturasi.
Pria yang lebih tinggi tersebut melirik ke arah teman seperjalanannya. Sementara gadis itu berkicau ceria, Netherlands merasa udara di sekitar sosok feminim itu berdenyar seperti fatamorgana. Terkadang ia ragu apakah hubungannya dengan gadis itu lebih nyata dari sebuah ilusi─semuanya nyaris terlalu bagus untuk jadi nyata. Ia tak akan pernah siap untuk mendapati dirinya terbangun di dunia paralel dimana ini semua tak pernah terjadi.
Langkah Indonesia terhenti, wajahnya cerah seperti mentari musim semi. Netherlands mengikuti arah pandang gadis itu. Mata hijaunya menemukan musisi jalanan yang tak berpenonton. Seperti kebanyakan teman seprofesinya di pinggiran Amsterdam, ia duduk di sisi jalan dengan terpal murah, mangkuk berisi uang, dan gitar di tangan. Pria setengah baya tersebut tampak jemu dengan pekerjaannya, namun jemarinya melantunkan irama gitar ala Latin yang indah kalau - kalau ada yang memerhatikan. Orang - orang tampak sibuk berlalu - lalang dengan langkah tergesa, seakan dibutuhkan di suatu tempat lain saat itu juga. Tak satupun menghiraukan melodi sendu yang bergema dari gitar tua sang musisi.
Tidak ada satupun, kecuali gadis yang berkulit gelap terbakar mentari itu.
Ketika ia selesai bermain, Indonesia bertepuk tangan dan memasukkan lembaran euro ke dalam mangkuk itu. Musisi tersebut tampak terkejut dan menengadah. Mata kelabu yang menua tersebut bertemu dengan sepasang iris gelap. Pria itu tersenyum kepadanya, memamerkan gigi yang menguning karena tembakau dan kopi. Indonesia berjongkok dan membisikkan sesuatu ke telinga gitaris tersebut, aksi yang membuat Netherlands mengerutkan dahi. Musisi tersebut mengangguk dan gadis itu kembali menatap personifikasi negeri tempatnya berdiri. Senyum usil mengembang di bibirnya.
Tahu - tahu saja, gadis berambut hitam itu berputar. Kedua tangannya melambai mengikuti irama sementara petikan gitar itu memulai irama yang pada suatu masa akrab di telinga sang tuan rumah. Baru ketika Indonesia melangkah anggun dan meliuk seturut tempo pria itu menyadari apa yang sedang dilakukannya.
Netherlands mengenalinya sebagai salah satu tarian Latin yang kerap dijumpainya saat masih berada dalam kekuasaan Habsburg. Alunan gitar ala Spanyol yang mengiring dengan jahil mengekori setiap geraknya, membuat sebagian besar orang berhenti sesaat untuk melihat. Ketika gadis Asia Tenggara itu mulai mengetukkan sepatu hak pendeknya ke trotoar, beberapa orang sudah mengeluarkan smartphone mereka untuk merekam. Sang tuan rumah tertegun, matanya tidak lepas dari figur yang menari itu.
Dari dulu hingga sekarang, ia selalu terkesan bila Indonesia menari. Setiap lambaian tangan dan jemari yang membelah udara membuatnya seakan memiliki seluruh dunia dalam tangannya. Matanya akan menatap dengan intensitas tertentu, menangkap perhatian dan membuat orang tak dapat mengalihkan pandang. Di saat yang sama kedua mata gelap tersebut menembus segala yang dilihatnya, fokus kepada sesuatu nun jauh di sana. Tubuhnya yang mungil terlihat megah dan berkuasa, membaur dan menjadi alam.
Tarian itu usai semendadak mulainya. Indonesia membungkuk dan tersenyum kepada penonton mendadak yang berkerumun di sekitarnya. Tepuk tangan riuh pecah setelah melodi gitar berakhir, diselingi siulan yang mau tak mau membuat pemuda yang menemaninya mendelik. Gadis itu menyempatkan diri mengangguk pada gitaris renta yang tampak puas di atas terpalnya. Mangkuk di hadapannya kini tumpah ruah dengan lembaran euro dan koin.
Sang personifikasi Belanda merasa menang melihat ekspresi para pesiul ketika Indonesia, tanpa menghiraukan mereka, berjalan ke arahnya. Samar namun pasti, Netherlands dapat melihat pantulan sesuatu yang sama dengan yang dirasakannya pada sepasang iris gelap yang mengilat itu.
Tangan─dan jemari yang menggenggam seluruh semestanya─yang menyentuh lembut punggung tangan pria bertubuh tinggi itu membangunkan ia dari lamunannya.
"Aku lapar," protesnya.
Tuan rumah kali itu mengangkat alis. "Kita baru saja makan siang satu setengah jam yang lalu."
Indonesia menggigit bibir, mulai menuntun pemuda Belanda itu ke jalan yang pemuda itu kenali sebagai jalan menuju sebuah kafe yang direkomendasikannya belum lama itu. "Ingin makan yang manis – manis. Selalu punya perut kedua untuk makanan manis."
"Bilang saja kau berharap akan ditraktir."
Kekasihnya tersenyum tanpa dosa. Kecurigaannya terbukti sudah.
Keduanya sudah sepertiga jalan menuju kafe yang dimaksud ketika sesuatu terlintas di benak personifikasi bernama manusia Lars tersebut.
"Hei, Ciethra?"
Wanita yang serupa burung kenari itu berhenti bercericip tentang dagangan toko – toko yang mereka lewati. "Ya?"
"Hanya ingin tahu. Dari mana kau belajar flamenco? Otodidak?"
Cengiran yang menampilkan barisan gigi putih yang muncul tidak dapat lebih penuh skandal. "Apa akan membuatmu kesal apabila kubilang Antonio yang mengajariku?"
Pria yang dahulu mentornya itu nyaris tersandung kakinya sendiri. Antonio, ia mengulang dalam benak. Panik. Menggunakan nama depan.
"Kapan?" tanya Netherlands sedatar mungkin. Indonesia tidak tertipu; nada bicaranya setidaknya tiga not di atas yang biasa dipakai pria tersebut.
"Beberapa bulan lalu. Mampir ke tempatnya sebentar setelah menyelesaikan urusan kenegaraan di tempatnya. Kami akhirnya mengobrol panjang lebar soal tari," gadis itu melirik ke arahnya tampak puas dengan reaksi pria Kaukasia itu, "dan Antonio mengajariku ini itu soal tarian negaranya dengan senang hati." Indonesia tergelak melihat perubahan ekspresi mendadak ketika mendengar frasa 'ini itu'. "Jangan khawatir, bukan salsa atau tango, kok."
Sungguh, bukan sifat Netherlands untuk merajuk. "Kalau cuma Latin, kau bisa minta aku mengajarimu."
Gadis jahil itu meraih pipi pucatnya untuk mencubit. Ia spontan menghindar─meski kalah cepat.
"Apakah seorang Lars dapat cemburu?" godanya lagi.
Spain, seperti Indonesia, serupa surya yang menyinari lingkungannya dimanapun ia berada. Bagaimanapun, sifat dan pembawaan mereka mirip satu sama lain di berbagai aspek, dan Netherlands baru saja menyadarinya.
Dibandingkan, Lars seperti Antartika. Lebih buruk, barangkali Pluto.
Ia memutuskan untuk jujur. "Tentu saja. Aku juga semacam manusia."
Jawaban itu sukses membuat Ciethra tertegun sesaat. Senyum jahilnya meleleh menjadi ekspresi yang lebih tulus.
"Aku mungkin belajar pada orang lain, tetapi aku akan selalu menari untukmu," tuturnya ringan tanpa mengerjap. Lars melihat pantulan dirinya di mata gelap itu.
Ia memutuskan untuk mulai belajar dansa lagi.
.
.
extra : [humans]
.
Indonesia seringkali mendapati dirinya iri pada manusia. Betapa santai hidupnya, pikirnya, betapa sederhana! Ia akan menukar keabadian semunya dengan kehidupan satupun manusia normal yang ada di negerinya pada setiap kesempatan, apabila kesempatan itu ada. Dirinya sendiri tidak yakin apabila personifikasi lain merasakan hal yang sama dengannya, tetapi ia yakin pasti hal yang sama terlintas di benak mereka. Sangat aneh menjadi mereka, mengamati setiap yang mereka kenal dan sayangi pada suatu masa bertambah tua dan mati sementara rupa mereka tidak berubah. Bagaimana rasanya memiliki orangtua, bersekolah, menikah, punya anak? Berlibur akhir pekan bersama keluarga dan orang-orang yang disayangi tanpa perlu siap ditelepon bos apabila terjadi urusan kenegaraan mendadak? Memiliki saudara yang tinggal di atap yang sama sementara kau bertumbuh dan tidak perlu menempuh setidaknya satu jam penerbangan? Tidak menanggung dosa kemanusiaan jutaan orang di punggungmu?
Perempuan muda itu mengamati wajah pria yang duduk di sampingnya. Netherlands sedang membaca buku yang dibawakan Indonesia dari rumahnya, novel roman yang direkomendasikan olehnya. Sudah kebiasaan mereka kalau setiap World Meeting di New York keduanya akan bertemu di Amsterdam Airport Schipol ketika penerbangan negeri Asia tersebut transit dan bertukar buku untuk dibaca selama penerbangan. Pria bertubuh tinggi itu membawakannya katalog lukisan Belanda era Renaissance dengan koleksi cetakan full-color. Perempuan Melayu tersebut balas membawakannya novel terbaru pengarang Indonesia yang belakangan ini disukai pasangannya.
Matanya beralih kepada cincin bermata hijau yang melingkari jarinya. Kilaunya serupa dengan julukannya, dan warna mata Negeri Kincir Angin itu. Seketika ia merasa hidup. Indonesia akan menatap wajah yang dahulu dikagumi, kemudian dibencinya, dan menyadari semua itu mengubahnya. Ketika bersama Netherlands, bersama Lars van Willemssen ia menjadi manusia. Menjadi Ciethra. Segalanya menjadi sesaat dan ia tidak takut. Keberaniannya membara. Dunia berada dalam genggamannya.
Ia penasaran apabila Lars juga merasa kasih sayang memanusiakannya.
"Kau terdiam selama lebih dari dua puluh menit dan tidak sedang tidur," ujar pemuda Belanda itu. Matanya tidak beralih dari novel roman yang berada di tangannya. "Jadi entah kau sedang memikirkan pertanyaan eksistensial atau terlalu kedinginan untuk tidur. Penerbangan masih enam jam lagi."
Wajah Ciethra membara ketika sadar dirinya terpergok memandang terlalu lama. Ia tetap memberi teman seperjalanannya cengiran.
"Mungkin keduanya. Kau tidak pernah tahu."
Tanpa berkata apapun Lars melepaskan syal biru-putih yang dikenakannya dan melingkarkannya kepada leher jenjang wanita itu. Gestur tersebut mengingatkan Ciethra pada suatu hari berhujan ketika personifikasi itu masih sesosok gadis kecil. Pria Eropa itu akhirnya menatapnya balik. Rupanya bukan hanya Ciethra yang mengingat kejadian itu.
Wanita berambut gelap tersebut mengatakan hal yang sama seperti yang diucapkannya berabad silam di beranda rumah bergaya Mediteran di pinggiran kota yang kini ibukotanya.
(Diantara kita tidak hanya ada darah neraka permusuhan perang derita saja.)
Lars tersenyum. Ekspresi tulus yang langka tampak. Ia merasakan kepompong kenegaraannya tanggal biar sejenak, merasa dirinya seperti bayi manusia yang baru keluar dari kandungan.
(Apabila setiap orang memiliki habis gelap terbitlah terang, maka gelap dan terang milik Ciethra adalah seseorang yang sama.)
.
A/N:
My goodness. I failed. That last line belongs to my not-to-be-posted drabbles, or at least my coughothertitleficcough. Look at how bad I mess up. No one's going to read your pretend-poet sentences in your fluff collection, chaineskye, ugh. Disgusting.
-I apologize for my lengthy neurotic monologue.
Anyways! Long time no see. My Microsoft Word broke then my laptop three-something weeks ago, therefore I cannot produce fics. I did write things with notepad, just not the continuations. Also my laptop still likes to turn off at random times, which I have to be very careful about. I want to make up for you guys by writing longer chapter but I kind of ruined the usual extra drabble, which I always write spontaneously on doc manager. I honest-to-God struggled to find the last sentences for the drabble above and I listened to the new Coldplay song and oooohhh those last lyrics. It gave me goosebumps.
I... hope you like this chapter as well :"^) Sorry if I'm too serious/random/cheesy/cringy/[fill in the blank] this time, I hope I'll write it more Fructose-y next time. Not getting it contaminated with heavy themes. Thanks for reading and have a nice day!
