MOANA
DISNEY
.
.
.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
5 menit kemudian...
"MAUI!?"
Moana memekik kaget. jelas saja, tiga hari lamanya dia tersiksa oleh batinnya sedang memikirkan siapa calon suaminya dan dia adalah...
"hai Princess?" sapa Maui dengan senyum congkaknya yang khas.
"BAGAIMANA BISA!?" Moana langsung syok.
Seisi fale pun tertawa.
"Hei! jangan tertawa! calon suamiku... adalah... DIA!?" tanya Moana, menunjuk tajam-tajam ke arah Maui.
Sementara Mini-Maui dan Mini-Moana yang ada di dadanya Maui saling melempar pandangan, dua tato kecil seraya ikut tertawa.
"Tenang, tenang dulu, Moana" ucap salah satu dewan, berdiri menghampiri si kepala suku muda yang masih syok.
"Ini adalah kejutan untukmu, Maui sendiri yang meminta agar bisa menikahimu"
"APAAAA!?"
Maui tersenyum santai. dia tahu reaksi Moana akan terjadi seperti apa.
"Be-benarkah itu!?" tanya Moana, langsung berbalik menatap kedua orang tuanya.
"Sayang, dengarkan ayah dulu" Tui menepuk kedua bahu putrinya. "Kami tahu hubungan persahabatan kalian, kau dan Maui sangat dekat. bahkan, lebih dari sebuah 'teman'. kalian bersama-sama, kalian berlayar, kalian berpetualang, dan ini lah diri kalian. kau dan Maui punya kesamaan nak, lagipula, pulau ini juga butuh sosok pahlawan untuk melindungi kita semua"
"Pahlawan pria dan wanita" Maui mengkoreksi.
"Yah, percayalah. semua akan baik-baik saja" sambung ibunya lagi.
Moana sampai gemetar. ia menatap lagi pada Maui yang kini sedang memberi tatapan Kau-sekarang-adalah-istriku. tanpa banyak kata, Moana meminta izin pada semua hadirin didalam rumah dewan.
"Aku boleh izin keluar sebentar? aku mau bicara dulu dengan Maui" kata Moana, dia langsung menarik lengan Maui dan membawanya keluar.
"Hei! Princess! apa yang kau lakukan!?"
"Aaahh sudah! ikuti saja aku!"
Moana membawa si setengah dewa angin dan laut itu ke tepi pantai. menatapnya lekat-lekat seperti ingin mencekiknya.
"Maui! jelaskan semua ini!"
"Jelaskan apanya?"
"Pernikahan ini!? katakan kau cuma bercanda Maui!"
"Ayolah Princess, ini serius. aku dan kau! kita menikah! apa lagi?" tanya Maui.
Moana menepuk jidatnya, dia menghela nafas berat dengan rasa tak percaya. "Maui, dalam tiga hari ini, aku di siksa oleh pikiranku tentang calon suamiku. aku kira... kau.. aaaarrgh! lupakan! intinya, kenapa semua warga merahasiakan ini padaku!? termasuk kedua orang tuaku!?" tanya Moana.
"Hm, seperti kata ayahmu, kau ini susah di bilangin" kata Maui, sedikit terkekeh.
"Maui!"
"Pernikahan ini terjadi, karena aku yang meminta pada orang tuamu"
"Apa?"
"Aku tak pernah menyadari, kau bisa sedewasa ini, Princess. aku bahkan tak tahu kalau umurmu sekarang 18 tahun, padahal selama ini aku mengira, kau masih anak-anak!"
"Sudah kubilang, aku bukan anak-anak lagi!"
"Moana, dengar dulu" ucap Maui, nadanya hampir tegas.
Moana terdiam, rasanya terdengar begitu manis ketika Maui langsung mengucap namanya.
"Sebelum aku menjelaskan semuanya padamu. kau harus jujur padaku"
Moana hanya memandangi Maui, lalu dia hanya menghela nafas ringan, dan membiarkan Maui bertanya padanya.
"Yah... baiklah, apa yang ingin kau katakan?" tanya Moana.
"Selama ini kita bersama-sama, dua tahun semenjak Te Fiti. aku selalu mengawasimu dimanapun kau berada. ketika berlayar, dan ketika aku menginjakkan kakiku di pulau ini" jawabnya.
"Jujur saja, aku tak pernah menyangka, seorang mahluk seperti dirimu... awalnya, aku selalu mengira bahwa kita akan jadi teman selamanya. kau pernah mengucapkan itu
padaku kan?"
"Iya..."
"Itu benar, kita memang teman. tapi aku merasa, persahabatan kita ini ada yang berbeda. kita berdua ini, lebih dari sekedar 'teman'. aku mulai menyadari itu semenjak Te Fiti, Moana" ucapnya lagi.
Moana sampai terdiam.
Memang benar. selama mereka berteman, mereka melakukan banyak hal. Moana selalumengajak Maui menginap di fale-nya, dan Maui yang selalu membantu Moana menemani perannya sebagai kepala suku. Maui juga mudah berbaur dengan warganya, terutama pada anak-anak, selalu membuat lelucon tentang 'Kepala Hiu' nya.
Moana kembali berpikir lagi, tak ada seorang pria yang pernah ia dekati selain Maui. terbukti, dia menunggui Maui selama tiga hari. dan itu sudah cukup menjelaskan perasaannya.
"Moana.." Maui memanggil lagi. "Apa kau cinta padaku?"
Moana mengunci mulutnya rapat-rapat, berbalik membelakangi Maui.
"Moana?"
"Maui.. a-aku... tidak tahu"
"Kau? tidak tahu?" tanya Maui.
"Aku tak bisa menjelaskan semuanya, Maui. aku... tidak tahu, sungguh..."
"Moana, ini hari pernikahan kita. kau harus jujur padaku, apa kau cinta padaku?" tanya Maui.
"Sudah kubilang, aku tidak tahu"
"Jangan bilang kalau kau menolakku" kata Maui.
Moana merasa hatinya langsung mengkerut begitu Maui bilang 'menolak'. dia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menemukan jawaban untuk pertanyaan Maui.
"Maui..." akhirnya, Moana berbicara. "Aku tidak menyangka, kau akan berada disini. kau, adalah setengah dewa dan aku? hanyalah manusia biasa. mana mungkin kita bisa menikah,
Maui?"
"Mo, dulu aku ini terlahir manusia"
"Tapi kau ini setengah dewa"
"Tapi dasarnya, aku tetap manusia!" Maui menegaskan. "Tidak peduli aku ini seorang dewa atau bukan, aku masih punya rasa cinta, Mo. dan aku mencintaimu"
Moana terkejut atas pernyataan Maui.
Maui, setengah dewa angin dan laut, pahlawan pria dan wanita, segalanya, mencintai seorang mahluk biasa bernama Moana dari Motunui.
"Maui..."
"Aku meminta restu orang tuamu. seminggu yang lalu tanpa sepengetahuan dirimu, diam-diam aku datang menemui kedua orang tuamu di fale ketika kau sedang pergi berlayar dengan anak-anak..."
Flashback
"Jadi..."
Maui duduk bersila menghadap kedua orang tuanya Moana didalam fale. Maui sendiri agak gugup, kawan tato di dadanya bisa merasakan itu.
"Apa yang ingin kau katakan, Maui?" tanya Tui.
"Sangat banyak sebetulnya" Maui agak kikuk. "tapi... ini dia, aku ingin meminta sesuatu darimu. kuharap kau menerimanya" jawabnya.
"Apa itu?"
"Kau tahu? aku dan Moana selalu berpetualang ke laut?"
"Ya, lalu?"
"Kita sudah bersama-sama selama dua tahun, aku menjaga putrimu dari bahaya sebuah lautan. semenjak Te Fiti..." kata Maui.
"Hmmm ya, aku berterima kasih padamu telah menjaga anakku, Maui"
"itu bukan masalah"
"Sepertinya, aku mulai mengerti arah pembicaraan ini" sambung Sina.
"Oh?" Maui sampai diam.
"Maui, Moana itu adalah putriku satu-satunya. dia adalah masa depan pulau ini. aku tak pernah membiarkannya hidup sendiri, meskipun dia sekarang adalah kepala suku, tugasku sebagai ayahnya adalah melindunginya karena dia perempuan"
"Anak itu mengubah hidupku" kata Maui, nada suaranya terdengar agak haru. "aku hidup beratus-ratus tahun dengan mengabdikan tugasku sebagai dewa. memberi kebahagiaan bagi setiap mahluk. mereka mengelu-elukan namaku sebagai pahlawan, tapi itu tak pernah cukup. sampai anak itu datang..."
Maui hening sejenak, mengingat kembali ketika dia pertama kali bertemu dengan Moana dua tahun yang lalu.
"Anakmu menghampiriku dan langsung memukul perutku dengan dayung, dia juga menjewer telingaku" Maui terkekeh sendiri. "aku mengakuinya, dia benar-benar berani. dia membantuku untuk bangkit dari masa laluku, dan dia menganggapku lebih dari apapun, seorang teman"
"Jadi, anakku benar-benar mengubah hidupmu?" tanya Tui lagi.
"Untuk itulah, aku ingin kehidupan yang lebih baik. jadi tolong. izinkan aku..."
Tui dan Sina menatap lebih intens pada Maui.
"Aku... ingin..."
"..."
"Aku ingin me..."
"..."
"Aku ingin me... mme..."
"..."
"A-aku.. ingin... me..."
"Cepat katakan, Maui" kata Tui, hampir tak sabaran.
"Aku... ingin... mmme... mee.."
5 menit lamanya...
"Maui!?"
"AKU INGIN MELAMAR PUTRI KALIAN!" ucap Maui dengan lantangnya.
Tui dan Sina saling bertukar pandang. permohonan manusia setengah dewa pada mereka yang hanya seorang manusia biasa? ini di luar dugaan. tapi akhirnya, mereka mengangguk paham dan kembali menatap Maui.
"Maui"
Maui menegakkan sedikit wajahnya.
"Dua minggu yang lalu, tetua desa mendesakku untuk mencarikan seorang suami pada Moana. saat itu aku sangat bingung, aku tak bisa memaksa anakku untuk memilih lagi. dia punya pilihan sendiri, dan pasti... dia akan mengikuti kata hatinya. dan, sepertinya... kami sudah menemukan orang yang tepat untuk masa depannya"
"Kalau kau meminta itu padaku, baiklah... akan kuterima"
"Sungguh?" tanya Maui.
Tui tersenyum "Kau harus janji padaku, tolong jaga anakku ya?"
Maui terdiam, kalimat yang terucap dari mulut ayahnya Moana ini membuat tubuhnya agak gemetar.
"A-aku..."
"Moana akan mengerti, meskipun aku tahu kau ini sudah berusia 1000 tahun, aku percaya, kau bisa melindungi Moana lebih baik dariku. anak itu butuh seseorang untuk menemani hidupnya"
"Kalian yakin? menerima seorang menantu setengah dewa seperti aku?" tanya Maui lagi, mencoba untuk yakin.
"Maui, cinta itu tidak memandang apapun. kau disini untuk melamar Moana, itulah yang terjadi" kata Tui.
"Tapi bagaimana dengan para dewan desamu? apa mereka akan menerima diriku yang setengah dewa?" tanya Maui.
"Kami akan mengajakmu ke rumah para dewan dan menjelaskan semuanya, jadi-"
"TERIMA KAAASSIHHHHH!"
"WAAAAAAAAAAAAAAARGH!?"
Maui langsung banjir air mata dan memeluk kedua orang tuanya Moana erat-erat.
"Ka-kalian... baik sekali! terima kasih sudah menerimaku! Tui! Sina! HUaaaaaaaaaa!"
"Hmmhm Mmaa-mauihhmm!?"
Sina dan Tui hampir kehabisan nafas.
"Aku akan menjaganya dengan baik! kalian boleh pegang janjiku!"
"Yaahhmhm ttaphimm lwepwaskan kamhmmmmhh..."
"Apa?" tanya Maui.
"To-tolong... lepaskan kami dulu!"
"Ups! maaf! hehehe..."
Sina dan Tui mengambil nafas lega, dekapan Maui sangat erat namun penuh arti. Maui sudah menganggap mereka sebagai orang tua keduanya setelah Moana. akan tiba dimana saatnya ia membuat kehidupan baru bersama sang Kepala suku muda.
"Dan setelah pembicaraan itu, aku mengumumkan akan melamarmu di hadapan tetua. awalnya, mereka menentang karena aku ini setengah dewa, tapi setelah ayahmu menjelaskan semuanya, akhirnya mereka paham. aku meyakinkan mereka agar bisa menjagamu lebih baik"
"Oh Maui" Moana sampai meneteskan air mata. entah bagaimana dia membalas penjelasan Maui, tapi yang di lakukan setengah dewa ini di luar perkiraannya. Maui diam-diam romantis untuk melamarnya.
"Maaf membuatmu terkejut, tapi ini hadiah untukmu Mo. dariku, yang telah bersedia menjadi temanku"
Moana langsung memeluknya erat-erat, tak perlu berkata apapun lagi. pelukan ini sudah memberinya jawaban.
"Moana?"
"Aku mencintaimu juga, aku sudah memendam perasaan ini setelah Te Fiti, Maui" gumamnya, membenamkan wajahnya di atas bahunya.
Maui tersenyum, dia membalas pelukan kecil dari Moana. sebuah pelukan yang sangat berharga, Maui yang selama ini hidup sendirian kini sudah memiliki seseorang yang menjadi sandaran hidupnya.
"Maui, kau tahu? kemarin aku sempat menentang perintah tetua, aku langsung kabur dari sana begitu ayah menyuruhku keluar dari fale. bagaimana mereka bisa langsung menerima lamaranmu begitu saja?" tanya Moana.
"Hehehe, kau mau tahu apa yang terjadi setelah kau keluar dari rumah para dewan kemarin?" tanya Maui, mengangkat sebelah alisnya.
Moana terdiam selama beberapa detik, kemudian dia menyadari sesuatu.
"Eh!? ja-jangan... jangan.. kau..."
"Moana, sejak kemarin aku ada di pulau ini! aku sembunyi di gua leluhurmu!" kata Maui.
Hening dulu, Moana sampai tidak mengedipkan matanya.
"Kau...! KETERLALUAN KAU! MAUI!"
"HAHAHA!"
"Aku menunggumu tiga hari penuh dan kau diam-diam sembunyi di pulau ini!? dasar tukang tipu! tukang tipu!" Moana langsung memukul-mukul dada Maui, memekik kesal atas kejutan Maui.
"ini kan kejutan untukmu!"
"Lalu, sesaat kemarin aku langsung lari dari rumah dewan, ayahku berkata apa?"
"Dia bilang..."
Kemarin, di rumah dewan.
Sesaat setelah Moana keluar dari fale para dewan. salah satu dewan langsung angkat bicara.
"Wah, wah... anak itu tidak tahu kalau calon suaminya adalah sahabatnya sendiri"
"Bagaimana kalau Moana akan menolaknya?"
"Jangan khawatir" kata Tui, menarik perhatian seluruh wajah yang tertuju ke arahnya.
"dia akan menerimanya, dia tahu Maui lebih baik. kita biarkan saja sampai besok Moana mengetahuinya"
"Maui sedang sembunyi di gua, jangan suruh dia keluar dari situ"
"Jangan sampai Moana mengetahuinya, pastikan si setengah dewa itu tetap di dalam gua!"
"Ya! Ya!"
Maui pun terkekeh. "padahal kemarin aku sempat keluar dari gua, tapi aku langsung kembali kesana begitu ibumu membawakan kelapa dan beberapa buah" jawabnya lagi.
"Huh! tetap saja kau itu tukang tipu!" Moana cemberut.
"Jangan kesal begitu, Princess"
Moana pun tersenyum tipis "Yah, lagipula, kau begitu tampan dengan lava-lava merah itu. ngomong-ngomong dimana rok daun pisang yang sering kau pakai itu?"
"Tadinya aku ingin memakai rok daun saja, tapi teman-teman ibumu memaksaku memakai lava-lava ini, jadi... aku memakainya"
"Nah, setelah resmi menjadi suamiku, kau harus tetap memakai lava-lava itu"
"Ya ampun!" Maui mengerang frustasi. terpaksa dia harus meninggalkan pakaian lamanya dengan lava-lava baru yang ia kenakan.
"Rok daun itu sudah jadi ciri khasku! bagaimana mungkin aku-"
BUGH!
Moana mendaratkan tinju mautnya ke arah perut Maui.
"Ough!?"
"Dasar kepala Hiu!"
"Oke oke! Aku akan terus pakai ini, sebaiknya kita kembali ke fale dan rayakan pernikahan!"
"Baiklah!"
Maui langsung menggandeng tangan kecil Moana kembali ke fale. untuk hari ini, mereka akan merayakannya dengan meriah.
Sang separuh Dewa angin dan laut, dan seorang Kepala Suku dari Motunui.
TO BE CONTINUED
AN : Well, mungkin chapter ke depan agak panjang
Note! : Fic ini akan jadi banyak fluff, ada juga bagian yang part-partnya, belum pasti sih ini bakal selesai sampai berapa chapter. tapi maksimal kemungkinan sampai 30 chapter.
Oke. terima kasih udah baca! love you guys!
