Disclaimed : Detective Conan © Aoyama Gosho

Recommended Song : Standing Egg - I'll Pick You Up

Little talk :

- so much sorry for late post bulan ini bener-bener sibuk di dunia nyata... Gomenasai ne~~~

- Domo Arigatou for such precious read, follow, favorites, and review this story ^^ *bungkuk 90°

- Maaf jika part ini membosankan ._. Happy reading and dont forget RnR ^.^


Kantor Pusat Kepolisian Tokyo, 12:00

Shinichi menghela nafas lega begitu keluar dari ruang interogasi kepolisian pusat. Sudah hampir dua jam ia disana, mencoba memaparkan deduksinya kepada Inspektur Megure dan yang lainnya. Yah, apa boleh buat, pemuda itu sudah berjanji dengan pria pengebom beberapa hari yang lalu semenjak peristiwa itu. Janji untuk menuntaskan dan menjernihkan kasus meninggalnya salah satu mahasiswi jurusan medis disana, yang merupakan adik kandung pria itu. Dan hasil yang diperoleh oleh detektif timur ini memang hampir sesuai dengan keputusan kasusnya, bunuh diri namun dilengkapi dengan penindasan padanya.

Motifnya hanyalah karena iri. Gadis yang bernama Riyumi Hasegawa itu dulunya masuk menggunakan beasiswa dan menjadi favorit kebanyakan dosen. Skenario yang menyedihkan dari drama itu adalah bahwa penindas Riyumi adalah kedua temannya yang berbeda tingkat lebih tinggi. Bukti yang menguatkannya adalah buku diari milik Riyumi, tepatnya halaman terakhir setelah tulisannya berakhir. Shinichi tahu bahwa setelah itu ada halaman yang sengaja disobek. Buku diari itu disatukan dengan lem, jadi memang sulit untuk diketahui apakah ada yang hilang dari buku tersebut. Namun memang mata seorang detektif cerdas bermarga Kudo ini bisa melihat fakta itu.

Ada celah yang sangat kecil ketika buku tersebut ditutup. Dan ternyata tembusan halaman selanjutnya terdapat lekukan-lekukan kecil. Bekas pena yang dalam. Dan hal itulah yang menjadi sajian penutup yang sempurna untuk kasus ini.


7 Mei 2012

Maafkan aku Yuuka-san, Akino-san. Aku akan pergi jika itu bisa membuat kalian bahagia. Aku sayang kalian.

Riyumi


"Kudo-kun?"

Shinichi kaget mendapati suara yang memanggil namanya begitu keluar dari lobi gedung. Bahkan ia tak sadar sudah sejauh ini ia berjalan. Dengan cepat ia menoleh dan mendapati seorang gadis yang tengah mendekatinya. Seorang gadis bersurai blonde strawberry.

"Shiho? Kenapa ada disini?" tanya pemuda itu bingung. Namun siapa sangka bahwa ia berharap kedatangan gadis itu kemari karena menjemputnya. Menjemput dirinya yang bahkan tidak bisa menggunakan tangan kanannya untuk sementara karena tengah di gips akibat kejadian menegangkan itu.

Dan... sepertinya harapan Shinichi terkabulkan.

The love that withered inside of me

Has it come back to life

In my calm heart

You brought butterflies

"Ayo pulang. Aku disuruh menjemputmu," ujar Shiho kemudian mendahului Shinichi.

"Oi! Tunggu, Shiho! Dasar, pelan sedikit kenapa? Aku kan begini karenamu," gerutu pemuda itu sembari mempercepat langkahnya mengimbangi gadis didepannya. Shiho hanya menatap lurus. Tatapan yang dalam. Ada sedikit sinar penyesalan didalamnya. Menyesal karena gara-gara ia, pemuda detektif -yang kini berada di sampingnya- sampai patah tulang pada tangan kirinya. Memang tidak fatal, tapi tetap saja ia sudah membahayakan teman prianya ini.

"Maaf jika aku merepotkan..."

Shinichi tertegun mendengar penuturan Shiho barusan. Langkah mereka berhenti dan Shiho hanya menatap lurus ke depan. Sejujurnya tak berani melihat sosok detektif muda itu bahkan dari ekor matanya. Ada selang beberapa detik keheningan merayap diantara keduanya.

"Bodoh," umpat Shinichi. Ia benar-benar tak mengerti sikap Shiho jika begini. Selalu menyalahkan dirinya sendiri untuk hal-hal yang terjadi padanya. Dulu dan sekarang tidaklah berubah. Sang ilmuan muda yang pesimis.

Tapi Shinichi menyukainya. Dengan begitu ia tidak hanya menjadi seorang pangeran baginya yang akan membuatnya bahagia namun ia juga akan selalu menjadi kesatria bagi putri es yang sangat menawan didepannya ini. Melindungi dan menjaga seorang Miyano Shiho, gadis itu harus menjadi miliknya.

Today more than yesterday

Tomorrow more than today

If I only have you, I think I'll be happy

"Aku kan kekasihmu, sudah seharusnya kan?" lanjut Shinichi santai. Ia melirik -agak takut- ke arah gadis cantik disampingnya. Berharap saja Shiho takkan tancap gas meninggalkannya disini. Ia tak membawa dompet sama sekali di saku celananya. Semua ada di tas yang dibawa Shiho karena memang ia segera ke kantor kepolisian begitu dapat izin dari pihak rumah sakit.

"Dasar, rupanya detektif mesum ini kurang sekarat, huh? Apa perlu seharusnya lehermu ikut patah, Kudo-kun?"

Shiho kini berubah. Mata sinis miliknya seolah mengunci rapat Shinichi di dalam pandangan gadis itu. Pemuda itu harus bersyukur setidaknya, karena hanya pandangan menusuk yang ia dapatkan, bukan tendangan atau tonjokan yang akan membuatnya benar-benar sekarat.

"Y-ya-yah... bercanda! Bercanda! Maksudku calon kekasih, Shiho!" Aduh. Ucapan gamblang pemuda itu positif membuat Shiho naik pitam. Tanpa basa-basi gadis itu melangkah cepat hendak meninggalkan Shinichi. Langkah besarnya terhenti ketika ia merasakan pergelangan tangannya ditahan.

Shiho tertegun untuk sesaat. Memandangi lima jemari tangan yang melekat pada telapak besar milik pria ini tampak memegang erat pergelangan tangannya.

"Kudo-kun..."

"A-aku, a-aku lapar, Shiho" Shinichi berupaya mencari-cari alasan. Ia memang sudah merencanakan ini jika Shiho sewaktu-waktu akan meninggalkannya di tengah jalan atau di manapun entah. Yang penting ia bisa berjalan-jalan dengan gadis itu.

"Kekanakan... makan di rumah profesor saja, aku akan buatkan nanti!" seru Shiho memberengut kesal. Death glare miliknya keluar, mengisyaratkan pernyataan 'memangnya aku ibumu'. Shinichi sudah sering mendapatkan tatapan seperti itu, namun ia masih tidak terbiasa dengan semuanya.

"Akan kutraktir, Shiho. Kau bisa memilih restoran yang-" pemuda itu behenti bicara. Ia tatap pucat kantung jaketnya.

Dompetnya tak ada.


Di Restoran Sushi

Disinilah mereka sekarang, mencoba untuk makan siang di restoran sushi. Mereka berdua memutuskan untuk mengisi perut sembari menunggu Profesor Agasa yang dimintai tolong Shinichi untuk mencarikan dompetnya -yang mungkin berada di rumahnya-. Pemuda itu terkulai lemas di meja tempat mereka duduk dan menghela nafas lemas berkali-kali, tak ada tenaga untuk bangun, setelah ia digoda dan dinasihati habis-habisan oleh Shiho di tengah keramaian. Gadis disampingnya ini memang tak kenal malu kalau sudah begitu.

Kini ia tatap takut Shiho. Gadis itu sekarang lumayan tenang, setelah Shinichi berjanji akan membelikan gelang keluaran baru merek Fusae bulan mendatang. Sial. Ia harus menabung dan berhemat mulai sekarang. Untuk itulah ia harus puas dengan hanya memesan sushi Tamago Salad.

"Shiho..." rengek -setengah sok cool- pelan Shinichi. Gadis itu hanya meliriknya sekilas dan pandangannya ia kembalikan ke jendela restoran.

"Sudahlah Kudo-kun. Jelek sekali tampangmu."

Seulas senyum tampak tergores apik di wajah cantik Shiho, mau tak mau membuat Shinichi terkekeh senang. Seakan rasa bersalahnya lenyap begitu saja.

"Wah-wah, tampaknya tuan Sherlock-alike ini tidak meminta maaf ya?" Sindir Shiho santai menanggapi. Ia tersenyum sedikit.

"Dan nampaknya Irene-alike ini memang orang yang pemaaf ya?" balas Shinichi tak mau kalah. Bahagia sekali rasanya, pemuda itu tahu satu hal lagi dari gadis itu, tak pernah mendiamkannya lebih dari sehari.

"Ho-ho, jadi aku Irene Adler ya? Kalau begitu aku akan menikah dengan seorang pengacara kelak."

"Tidak. Kau akan menikah dengan seorang detektif kelak." Shinichi menyahut cepat bahkan sebelum jeda tepat satu detik dari ucapan Shiho.

I'll pick you up, so you won't regret

I'll wait for you

I'll pick you up right now

Gadis itu tertegun sesaat. Memandangi sosok pemuda jangkung tampan dihadapannya yang sedang memalingkan muka, entah karena apa Shiho merasa pipi mulus Shinichi agak merona. Perlahan, debaran jantung Shiho meningkat, desiran aneh mulai terasa dalam saluran arterinya.

Kenapa?

"Shiho..."

Gadis itu masih diam terpaku. Pandangannya tetap berfokus pada pemuda itu, yang kini iris sapphire blue itu terlihat dalam lingkup fokusnya.

"Maukah kau bersamaku? Selamanya... aku... serius."

Deg

Deg

Deg

"Ma-af..."

Eh?

Sontak kedua insan itu menoleh ke sumber suara. Pesanan mereka ternyata datang dengan wajah waitress yang kikuk, canggung, sedikit ikut tersipu mendengar pernyataan Shinichi.

"Sial!" Shinichi mengumpat super pelan begitu sang waitress undur diri. Ia menundukkan kepalanya, menggerutu dan menggumam kesal.

Shiho tertawa ringan, "Kudo-kun, sepertinya suasana romantis yang ingin kau ciptakan tidak tepat, ya?"

Shinichi memasang mata sebalnya menanggapi sindiran gadis itu. "Diamlah, Shiho. Kau benar-benar menyiksaku, huh? Aku bahkan bisa mati menunggu-nunggu jawabanmu. Sudah dua kali ini aku gagal mendapatkan jawabanmu. Hei, Shiho tak bisakah kau-"

Just one time, a little more

Will you place me inside of you?

"Bagaimana kalau aku mau?" potong Shiho cepat sembari tangan putih susu miliknya sibuk mengambil sushi ika salmon yang tersaji di depannya. Ia seperti bersikap tak acuh, namun sisi dalam dirinya berusaha menyembunyikan rasa senang akan pernyataan Shinichi dan memasang topeng ekspresi -terserah- miliknya.

Ia ingin mencobanya. Mencoba sebuah hubungan.

"Eh?"

Otak Shinichi seakan memproses masukan kalimat Shiho dalam otaknya.

Mau?

Mau jadian denganku, maksudnya?

"Yah, tidak ada salahnya kan? Tapi maaf, aku bukan gadis romantis. Aku heran, kenapa kau bisa menyukaiku..." nada Shiho berubah menjadi serius. Sejujurnya saja, ia penasaran apa jawaban Shinichi setelah ini. Shiho menatap dalam Shinichi, sinar mata gadis itu sama seperti beberapa tahun lalu, saat dimana ia bertanya pada Shinichi,

"Kau akan melindungiku, bukan?"

Keheningan sesaat menyeruak di sela-sela mereka. Shinichi harus menjawabnya. Inilah yang mungkin membuat Shiho ragu, sebuah alasan. Dan kini, ia harus menjernihkannya. Takkan ragu, Shinichi yakin akan perasaannya.

He need her

To beside him

To spend life with

Forever...

"Tak pernah aku seserius ini, Shiho. Aku yang tak peka ini menyadari mungkin ini benar-benar cinta. Dan... kenapa aku menyukaimu?"

Perlahan Shinichi menyeleksi jarak diantara mereka, menyisakan beberapa inci dari hidung kecil Shiho yang bangir.

Oke. Shiho kini merasa tersudut. Ia tak tahan terus mencoba mengontrol seruan suara jantungnya yang memompa detakan lebih dan lebih cepat dari yang ia bayangkan.

"Kud-o..."

Because you colored a pretty rainbow inside of me

There is a bright smile on my face

The only one person, I'll pick you up

"Alasannya adalah agar aku bisa tetap hidup. Seorang Kudo Shinichi takkan bisa hidup tanpa Miyano Shiho. Sama seperti matahari yang menyinari langit agar tetap cerah."

Damn. Shiho rasanya ingin jatuh lemas sekarang. Pernyataan Shinichi, tatapan mata Shinichi, deru nafas pemuda itu membuat tubuh Shiho benar-benar berdesir hebat. Baru kali ini ia merasa memiliki alasan kenapa ia harus hidup. Selama ia kecil hingga ia dewasa, Shiho tak pernah sebahagia ini. Ia penting bagi pemuda didepannya ini. Dan itu membuat Shiho tanpa sadar ingin menangis.

Shinichi tersenyum lembut, memundurkan sedikit tubuhnya dan mengulurkan tangan kirinya yang tidak berselimut perban seperti tangan kanannya, mencoba untuk mengusak pelan rambut halus blonde stroberi gadis didepannya ini.

'Cantik'

'Sangat Cantik'

'Dan hanya aku yang boleh bersamanya'

Posesif memang. Tapi itulah Shinichi.

"Kudo-kun, sampai kapan kau mengacak rambutku?" Sindir Shiho pelan. Wajah rupawan gadis itu masih semerah tomat. Shinichi yang mendengarnya langsung tersadar. Dengan cepat ia menarik tangannya dan tertawa kikuk, menggaruk pipinya yang juga masih bersemu.

"Dasar..."

"Maaf-maaf,"

Shinichi menarik mundur tangan kirinya dari kepala Shiho dan mencoba untuk menikmati sushi yang ia abaikan beberapa menit yang lalu.

"Jangan. Aku akan menyuapimu. Aku tidak mau melihatmu makan dengan susah payah!" perintah Shiho ketus. Gadis itu sebenarnya sedikit menyesalkan adanya gangguan dalam acara makannya. Lihat saja, tangan kiri Shinichi yang menggenggam sumpit dan berusaha mendapatkan sepotong sushi itu, bayangkan saja seperti anak balita yang belajar menyumpit. Dan itu membuat Shiho tak tahan.

"Terimakasih, sayang," tanggap Shinichi senang. Shiho tak menghiraukannya. Yang ia lakukan cukup mengarahkan makanan ke mulut besar detektif yang kini menjabat sebagai pacarnya tanpa banyak bicara dan dengan ekspresi naturalnya -tak acuh-.

"Shiho, ayo jalan-jalan. Cuaca hari ini cerah." Gadis itu masih diam dan menjalankan tugasnya menyuapi bayi besar yang sangat cerewet ini.

"Bagaimana kalau ke Tokyo Dome? Atau Disneysea?" usul Shinichi bersemangat. Shiho mendengus kesal, "Kau pikir aku anak-anak, Kudo-kun?"

Pemuda itu terkejut sesaat. Namun ia sadar, Shiho bukanlah gadis yang akan kegirangan diajak kencan oleh pasangannya. Ya, memang tidak. Pacar detektif timur ini memang berbeda.

"Ah, begitu..."

Shiho melirik kecil Shinichi usai mendengar respon jawaban dari pemuda itu yang bernada lesu. Nampak dalam pandangan mata tegasnya, pemuda yang kini menjadi pacarnya itu melamun, sepertinya memikirkan tempat lain. Dan itu mau tak mau membuat Shiho terkikik kecil.

"Jangan bilang kau akan mengajakku ke Ginzo? Kau yakin dengan dolarmu?"

"Alee? Kau tau, Shiho?" Shinichi keheranan. Walaupun ia tahu Shiho bisa menebak pikirannya, tapi tetap ada rasa takjub terhadap kemampuan gadis itu.

"Sudahlah, kita ke Tokyo Dome saja. Lagipula dekat dari sini."

"Benarkah?"

"Hmm..."

"Kau mau naik kincir, Shiho?"

"Hmm..."

Shinichi yang bersemangat.

Shiho yang cuek.

Seperti apa kencan mereka?

TBC