Detective Bad Touch Trio Ch.4
Disclaimer: hetalia kepunyaannya himaruya-sama yang awesome! Kalo hetalia punya saya pasti ore-sama sudah saya nikahi! XD
Warning: OOC, OC, ABAL, typos, tidak sesuai dgn judul, pendek.
DON'T LIKE DON'T READ
Hari sudah pagi. Embun yang menyelimuti daratan sudah hilang. Hari ini benar-benar hari yang cerah, tetapi sangat redup di ruangan ini karena cahaya matahari tertutup gorden jendela yang besar dan tinggi. Di ruangan ini terlihat seseorang yang masih menggeliat di kasurnya. Tubuh orang berambut platinum blonde tersebut terlentang di atas kasurnya. Selimut yang tadinya ia pakai sudah berserakkan entah di mana.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan suara keras –hampir seperti dobrakan. Di depan pintu terlihat seseorang bertubuh kekar tinggi berambut pirang dengan poni yang masih terjatuh ke depan wajahnya. Orang itu memakai celemek, sepertinya ia baru saja selesai memasak. Ia berjalan kearah manusia yang masih berada di alam mimpi, "Bruder, bangun! Sarapannya sudah siap." Katanya. Sepertinya manusia berambut platinum blonde itu masih belum bangun. Bergerak saja tidak, bagaimana ia dibilang sudah bangun. Karena melihattingkah kakaknya yang sedari tadi dipanggil-paggil tetapi tak mau bangun juga, manusia berotot itu tak akan segan-segan lagi membanting kakaknya tersebut. BRRRRRUUUUUK
"AAAAAAAAAAAAH! SAKIT!" Gilbert akhirnya bangun.
"Sarapannya sudah siap, Bruder." Kata adiknya dengan muka datar.
"Ludwig, kau tau, kan, kalau aku kemarin pulang pagi karena ada tugas! Setidaknya jangan bangunkan aku!" Keluh Gilbert. Ia mengelus-ngelus belakang kepalanya karena sakit sehabis ia dibanting oleh adiknya sendiri. Kemudian ia berjalan keluar kamarnya yang luas itu, Ludwig mengikutinya dibelakangnya.
"Bruder, tolong bangunkan Reich. Aku mau membersihkan dapur dulu." Kata Ludwig sambil lalu. Ia menuruni tangga, sedangkan Gilbert berhenti di depan kamar adik kecilnya Reich yang tepat ada di sebelah kamarnya.
Gilbert mengetuk pintu, "Reich. Kamu sudah bangun?". Gilbert membuka pintu kamar Reich, ia melihat Reich masih terlelap. Didekatinya adiknya yang masih tidur itu. Ia duduk ditepi kasur adiknya, kemudian ia mengelus kepala adiknya yang manis itu.
"Reich adikku yang awesome. Ayo bangun!" katanya lembut sembari mengusap-usap kepala adiknya itu. Tidak seperti Gilbert, Reich gampang dibangunkan. Reich mulai mengerjapkan matanya.
"Guten Morgen, Bruder!" Katanya dengan tersenyum manis. Reich menyibak selimutnya dan duduk di tepi tempat tidur di samping kakaknya.
"Guten Morgen. Ayo cepat bangun, kemudian mandi. Ga awesome, kan, kalo nanti telat sekolah?"Kata Gilbert ikut tersenyum sembari mengacak-acak rambut adiknya. Reich mengangguk, turun dari tempat tidur dan kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Melihat adiknya yang manis itu membuatnya gemas sendiri. Sepertinya disamping sifat SOK awesome-nya itu, Gilbert juga brother complex. Memang hanya segelintir orang saja yang mengetahui, seperti sahabat bad touchnya yang lain.
X _ X
Sehabis membangunkan adik kecilnya, Gilbert turun ke ruang makan yang super luas itu untuk sarapan. Seperti yang dibilang adik 'berototnya', di meja makan sudah tersedia makanan kesukaannya –Wurst. Matanya langsung berbinar-binar melihat makanan itu. Padahal dia memakannya setiap hari, seperti tiada hari tanpa makan Wurst. Pepatah aneh yang sudah menancap lekat di otaknya sejak kecil. Tapi jangan salah berpikir kalau hanya Gilbert saja yang memegang teguh pepatah itu, Ludwig dan Reich –kedua adiknya juga. Mungkin ini sudah menjadi pepatah yang dipegang teguh secara turun temurun.
Tanpa menghabiskan waktu lama, Gilbert langsung duduk di kursi meja makan. Oh, ya, ruang makan yang super luas itu bercat biru tua lembut dengan karpet merah luas yang menutupi seluruh lantai dan karpet bermotif sebagai alas meja makan yang super panjang beserta kursi-kursinya. Di ruangan itu tidak hanya meja makan dan kursi saja, tetapi juga photo keluarga, beberapa lukisan leluhur yang menghiasi dinding, beberapa sofa empuk dan meja kecil didepan perapian.
Ia sering merasa kesepian kalau berada di ruangan itu, meskipun banyak pelayan di rumah yang kelewat besar itu, saat kedua adiknya sedang pergi. Jika kau bertanya dimana orang tua mereka, maka kau akan mendapat jawaban yang menyedihkan dari mereka bertiga, yaitu, "Orang tua kami sudah meninggal." Orang tua mereka meninggal karena dibunuh beberapa tahun lalu. Gilbert yakin kalau orang tuanya itu dibunuh oleh pembunuh bayaran. Maka dari itu ia berusaha menjadi detective yang hebat bersama dengan kedua sahabatnya, dan kemudian menemukan orang yang telah membunuh kedua orang tuanya tersebut.
X _ X
Terdengar langkah kaki yang tegas sedang menuju ruang makan. Orang itu langsung masuk kedalam ruang makan karena pintunya terbuka. "Bruder, lap air liur yang jatuh dari mulutmu itu!" Kata Ludwig yang melihat kakaknya sedang meneteskan air liur tanda kelaparan begitu ia masuk ruang makan dalam keadaan sudah mengganti baju rumah dengan baju kerjanya.
Gilbert tersentak kaget kemudian langsung mengelap air liurnya. "Oh, West! Kau sudah siap? Apa Reich juga sudah keluar dari kamar?" tanyanya.
Ludwig mengangkat bahunya. "Aku tak tahu. Mungkin dia sudah siap, karena tadi kulihat beberapa pelayannya sudah membawa turun tasnya. Sebentar lagi juga Reich kemari." Jelasnya. Kemudian, Ludwig duduk di sebelah kursi kakaknya.
Seperti yang sudah diduga Ludwig. Tak lama mereka menunggu, Reich datang dengan sudah berpakaian rapi. "Kakak, maaf sudah menunggu lama." Kata Reich sambil tersenyum manis. Dia beranjak menuju meja makan dan duduk di sebelah Ludwig.
"Karena semua sudah ada di sini, ayo kita makan!" Kata Gilbert dengan semangat seperti biasa. Kedua adiknya mengangguk dan mulai menyantap makanan mereka.
Disela-sela sarapan pagi mereka, seorang kepala pelayan mereka –Marry datang. Wanita muda berambut pirang yang digulung rapi dan bermata hijau itu berjalan dengan anggun dan tegas ke arah tiga bersaudara bangsawan. "Permisi, Tuan. Sekretaris anda, Nona Elizabeth datang. Sekarang beliau sedang menunggu di ruang tamu." Beritanya.
"Suruh dia menunggu sebentar lagi. Aku hampir menyelesaikan sarapan pagiku." Perintah Gilbert sambil terus menyantap makanannya yang sudah hampir habis.
"Baik, Tuan." Balas Marry sopan sembari berjalan keluar.
Tak lama kemudian, Gilbert selesai sarapan, " Kalau sudah selesai sarapan, kalian langsung berangkat saja. Kereta kudanya sudah siap seperti biasa. Mengerti?" Tanya Gilbert sambil membersihkan sisa-sisa makanan yang ada dimulutnya dengan menggunakan serbet.
"Baik, Bruder!" Jawab kedua adiknya. Gilbert menepuk-nepuk kepala kedua adiknya kemudian berjalan pergi ke ruang tamu.
-XxX-
Sesampainya Gilbert di ruang tamu yang tidak kalah besar dengan ruang makan tersebut, Gilbert melihat ada seorang wanita muda berambut coklat panjang yang digerai ke belakang dan berpakaian rapi. Kalian pasti sudah tau siapa. Siapa lagi kalau bukan Elizabetha Hedervery –sekretarisnya.
Gilbert menggaruk-garuk rambut peraknya dan berjalan mendekati Elizabeth. "ada masalah apa pagi-pagi begini mencari aku yang awesome ini? Merindukanku, ya?" Godanya. Spontan orang yang ia ajak bicara langsung menoleh.
"Apa katamu tadi?" Tanya Eli. Ia mengernyitkan dahinya. Hawa horror sudah keluar darinya.
"Kau rindu pada diriku yang awesome ini, ya?" Ulang Gilbert masih dengan nada mengusili. Kata-katanya berusan berhasil membuat ia mendapatkan pukulan frying pan legendaries dari Eli.
"Buat apa aku merindukanmu? Di hatiku Cuma ada satu orang, yaitu Mr. Roderich Edelstein!" Jawab Eli ketus. Ia melipat tangannya kedepan dada dan membuang muka.
"Ok, ok. Ngomong-ngomong, buat apa kau kesini pagi-pagi?" Tanya Gilbert sambil mengelus-elus kepalanya yang jujur saja, masih berputar-putar akibat pukulan legendaries milik Eli tadi. Ia berjalan menuju sofa dan kemudian duduk.
"Oh, itu? Aku hanya ingin memberi tau kalau kita jadi pakai rencana yang kemarin kita bicarakan pada saat rapat." Kata Eli panjang lebar. Ia ikut duduk.
"Cuma itu?"
"Ada lagi. Nanti siang ada rapat dengan para pemegang saham. Jangan sampai terlambat!" lanjut Eli dengan death glarenya.
"hmmm… Akan aku usahakan. Pokoknya jam 6 sore nanti aku yang awesome ini akan pulang apapun yang terjadi." Kata Gilbert mantap.
"Pokoknya harus datang! Kalau tidak.." Hawa horror dan death glare Eli bertambah parah dari yang sebelumnya.
"Iya, iya. Terserah.. kamu ke sini Cuma buat nyampein itu aja?" Tanya Gilbert. Jujur saja, ia masih SANGAT mengantuk, tetapi tentu saja ia tahan.
"Iya." Jawab Eli singkat.
"Kalau begitu, aku yang awesome ini akan kembali ke kamarku yag awesome untuk tidur. Kau kembalilah ke kantor. Aku yang awesome ini sudah suruh kusir untuk mengantarmu." Kata Gilbert. Ia berdiri dan kemudian berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai tiga.
Eli menghela nafas dan berjalan keluar rumah. Seperti kata Gilbert, sudah ada kereta kuda yang menunggunya di depan, " Terserah kau sajalah." Kata Eli.
-XxX-
Jam waker berbunyi dengan keras –ralat sangat keras, tapi sayangnya manusia yang telinganya tepat berada di sebelah jam waker yang berbunyi super duper keras itu sama sekali tidak bangun. Boro-boro bangun, bergerak saja tidak. Biasanya kalau sudah begini, para pelayan datang. Kalian tahu apa yang mereka lakukan? Setiap pelayan datang membawa satu ember air dan menyiramkannya ke Gilbert –tuan mereka sendiri. Mungkin kalian akan berpikir – pelayan macam apa mereka itu? – tapi jangan salahkan mereka, karena Gilbert sudah berpesan sebelum ia pergi tidur tadi 'Kalau jam waker sudah berbunyi dan aku yang awesome ini belum juga bangun, tolong bangunkan aku bagaimanapun caranya karena aku yang awesome ini ada rapat penting nanti.' Begitulah.
"BANJIR! TSUNAMI!" teriak Gilbert begitu disiram masal oleh para pelayannya.
"Akhirnya tuan Gil bangun juga." Kata Marry si ketua pelayan, "sekarang sudah jam setengah 12 siang. Harap tuan berganti baju dan bersiap-siap. Baju anda sudah kami siapkan di ruang ganti." Lanjutnya.
"Ya, terima kasih." Balas Gilbert. Ia langsung pergi ke ruang gantinya dan mengganti piyamanya dengan baju kerjanya. Setelah selesai, Gilbert langsung mengambil tas kerjanya dan berangkat ke kantornya dengan menunggangi kuda kesayangannya dan tak lupa, Gilbird –elang kesayangannya juga ikut terbang mengikutinya.
-XxX-
-seusai rapat-
"Untungnya rapat selesai sebelum matahari terbenam." Kata seorang pemuda berumur sekitar 25-an berambut perak yang semakin berantakan akibat masalah yang semakin runyam yang terjadi di perusahaannya, tetapi untung saja masalah besar tersebut bisa terselesaikan karena otak cemerlangnya. Siapa lagi kalau bukan Gilbert Beilschimdt –seorang presdir muda yang sukses dan ber-MaDeSu alias ber-Masa Depan Sukses.
Gilbert pulang dengan menunggangi kudanya dengan santai dan tidak lupa pula burung elang kesayangannya yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Tetapi di tengah jalan tiba-tiba Gilbert berhenti. Kedua matanya tertuju pada seorang gadis cantik berambut panjang keperakan yang sedang berjalan masuk ke dalam sebuah toko senjata. 'Aneh, tapi awesome' itulah yang pertama kali keluar dalam pikiran Gilbert saat ia pertama kali melihat gadis berambut perak itu. Tanpa Gilbert sadari, Ia mengarahkan kudanya kearah toko tersebut, kemudian ia turun dari kudanya dan memasukinya.
X x X
Lonceng toko berbunyi begitu Gilbert memasuki toko senjata tersebut.
"Silahkan! Ada yang bisa kami bantu?" Sambut sang pemilik toko.
"Saya kemari hanya ingin melihat-lihat sebentar." Kata Gibert sedikit ragu. Tampaknya ia baru sadar saat pemilik toko senjata itu menyambutnya.
Ia melihat keselilingnya. Benar-benar penuh dengan senjata. 'Awesome' itulah kata pertama yang keluar dipikarannya, jelas dari apa yang ia pikirkan terlihat sekali kalau ia sangat takjub dan karena sangat takjub itulah bisa kita simpulkan kalau ia baru pertama kali memasuki toko senjata. Kemudian ia kembali melihat sekeliling untuk mencari sosok gadis berambut perak sepertinya. Tak perlu waktu lama untuk mencari sosok gadis berambut perak di dalam toko yang tak seberapa besar tersebut. Ia langsung menemukan sosok wanita berambut perak yang sedang berdiri di depan deretan senjata tajam.
Gilbert berjalan mendekati gadis tersebut sambil memperhatikan senjata-senjata tajam itu satu persatu. Ada satu belati yang menarik perhatian Gilbert. Belati itu berlapis emas dengan ukiran aneh di bagian pangkal pisau, sedangkan gagang belati tersebut hanya terbuat dari kayu dan dibalut perban.
"Belati itu ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang pemancing sekitar 40 tahun lalu di sungai yang terletak sekitar 4 km dari Whitechapel, tempat Jack the Ripper membunuh para korbannya. Berat, ukuran, dan ketajamannya juga bagus. Penglihatanmu terhadap senjata bagus juga, meskipun sepertinya kau seorang amatiran." Kata gadis berambut perak secara tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari pisau yang ada di tangannya.
"Oh, begitu? Tapi aneh, kenapa barang antic yang awesome seperti ini di jual?" Balas Gilbert kepada gadis berambut perak sembari meneliti kembali belati emas yang ada di tangannya.
"Kenapa kau bisa seyakin itu kalau belati emas yang sedang kau pegang itu termasuk barang antic?" Tanya gadis berambut perak yang akhirnya menoleh kearah Gilbert.
"Hatiku mengatakan demikian, lebih tepatnya ini hanya perasaanku yang awesome saja! Kesesesese…." Balas Gilbert dengan tawa khasnya, "Bercanda! Aku yang awesome ini mengatakan antic karena di jaman sekarang tak sembarang orang membuat barang dengan bahan dasar emas , apa lagi belati. Buat apa coba? Kalau untuk keperluan kerajaan, sih, lain cerita. Selain itu ukiran yang ada di belati ini seperti symbol sebuah keluarga bangsawan tua yang mungkin sampai sekarang masih ada. Begitulah." Jelasnya.
Kemudian Gilbert menaruh belati emas yang aneh itu ke tempatnya kembali, "Ngomong-ngomong, untuk apa gadis yang awesome sepertimu pergi ke toko seperti ini? Kalau membeli pisau dapur di pasar juga ada, kan?" lanjutnya dengan bercanda, tetapi di lain pihak si gadis berambut perak menganggap candaan Gilbert serius. Dengan sangat sigap, si gadis berambut perak langsung melempar pisau yang ada kearah Gilbert. Untung saja Gilbert mempunyai reflex yang bagus, jadinya dia bisa selamat dari terjangan pisau-pisau yang mengarah kearahnya.
"Ok, ok. Stop! Aku kan hanya bercanda. Jangan di anggap serius!" Kata Gilbert sambil terus menghindar.
"Leluconmu itu sangat tidak lucu!" Kata Gadis berambut perak dengan nada marah sambil terus melempar pisau.
"Iya, kalau begitu aku minta maaf! Jadi berhentilah melempar pisau ke arahku! Kan jadinya nanti ga awesome!" Teriak Gilbert sambil terus menghindar, tetapi sepertinya si gadis berambut perak tetap tidak mau mendengarkan, jadinya sekarang Gilbert ikut kesal. Akhirnya Gilbert menangkap semua pisau yang dilemparkan ke arahnya dan melemparkannya kembali ke arah gadis berambut perak. Hampir semua lemparan Gilbert mengenai gadis berambut perak.
"Maaf karena sudah menyinggung perasaanmu tadi." Katanya setelah memberikan serangan balasan.
Akhirnya si gadis berambut perak berhenti. Ia hanya diam dengan muka jengkel dan membuang muka.
"Sebagai permintaan maaf, maukan kau kutraktir makan? Kujamin makanannya awesome alias enak banget!" Tawar Gilbert dengan tersenyum.
"Terserah kau saja!" Balas gadis berambut perak dengan tetap membuang muka.
O_o
Kling Kling Kling
Lonceng pintu Bar berbunyi, tanda ada seorang palanggan yang datang.
"Yo, Gilbo! Tumben datang jam segini?" Sambut sang pemilik bar yang tidak lain adalah Francis, saat melihat Gilbert datang.
Gilbert yang memasuki bar bersama gadis berambut perak langsung duduk di meja bartender. Suasana Bar tak terlalu ramai, tapi juga tak terlalu sepi.
"Queen mary tea-nya 2." Pesan Gilbert begitu ia duduk.
"Ok" Balas Francis. Ia langsung menyiapkan pesanan Gil dan menyajikannya.
"Siapa gadis cantik ini?" Kata Francis merayu, saat melihat gadis berambut perak yang datang bersama Gilbert.
"Jangan merayunya! Dasar ga awesome!" Kata Gilbert memperingatkan.
"Wah, sepertinya ada yang tak senang. Jangan-jangan dia pacarmu, ya? Atau jangan-jangan.. DIA TUNANGANMU, YA?" Kata Francis dengan setengah berbisik ke arah Gilbert dengan nada jahil. Tampaknya Francis masih belum sadar setelah diperingatkan oleh Gilbert. Francis sadar,tapi ia tak sadar tentang satu hal. Ia tak sadar hawa-hawa mengerikan yang muncul dari gadis berambut perak.
"Kuperigatkan sekali lagi. Jangan mengatakan hal-hal yang menjijikkan, OR YOU WILL GET KILLED!" Peringat Gilbert balik berbisik.
"Sejak kapan kau jadi tidak seru seperti ini, Gil.." –JLEB- belum selesai Francis berbicara, sebuah pisau sudah menancap tepat di sebelah kepalanya hanya berjarak beberapa senti saja dari kepalanya.
Francis merinding. Sepertinya ia sudah sadar akan peringatan Gilbert. "Sudah kuperingatkan, kan! Dasar ga awesome!" Kata Gilbert menghela nafas, kemudian ia menyeduh teh yang ada di hadapannya.
"O-ok, ok.. maaf.." Kata Francis, sepertinya ia masih sedikit shock atas kejaian yang baru saja ia alami, "hmm…. Ngomong-ngomong.. kalian mau pesan makanan apa?" lanjutnya.
"Hmmm…. Apa, ya yang awesome…" Pikir Gilbert menimbang-nimbang, "Kalau begitu menu andalan Café ini saja dan… yang biasanya satu!" lanjutnya.
"Ok!" Kata Francis, kemudian ia menulisnya di sebuah kertas dan pergi ke arah dapur dan menggatungkan kertas pesanan itu di seutas tali. Dan dengan segera sang koki membuatnya begitu melihat kertas pesanan tersebut.
Gilbert menyeduh tehnya sembari menunggu pesanannya datang. "Oi! Ngomong-ngomong, dari tadi aku yang awesome ini belum tau namamu.." Tanya Gilbert.
"Bukan urusanmu." Jawab gadis berambut perak ketus.
"Tentu saja urusanku!" Balas Gilbert. Si gadis berambut perak hanya menatapnya garang.
"Kalau kau tetap tak ingin menjawab, aku yang awesome ini akan memanggilmu sesuka hatiku, seperti 'Snow White'?" Kata Gil dengan nada merayu sambil menatap lurus bola mata si gadis berambut perak yang bak berlian.
Si gadis berambut perak memberikan satu serangan kepada Gilbert dengan pisaunya tanpa memperingatkan Gilbert terlebih dahulu, alhasil –GUBRAK- Gilbert yang belum siap menahan serangan gadis berambut perak jatuh dari kursinya bersama gadis berambut perak. Posisi gadis berambut perak tepat di atas Gilbert, sedangkan pisau si gadis berambut perak menancap tepat di sebelah kepala Gil.
Begitu mendengar suara orang jatuh pelanggan yang sedang berada di café tersebut menoleh ke asal suara. "Sepertinya kita jadi bahan tontonan." Kata Gilbert tertawa kecil, "Maaf, maaf.. tapi kau juga harus sadar kalau tidak hanya kau yang bisa bermain dengan senjata tajam. Aku yang awesome ini juga bisa." Lanjutnya menyeringai.
Kemudian si gadis berambut perak menoleh ke arah belakang. Ia melihat sebilah pisau menunggu untuk membelah kepalanya. Sepertinya tanpa ia sadari, dengan secepat kilat Gilbert mengambil pisau di meja bartender untuk antisipasi.
"Jadi.. siapa namamu?" Tanya Gilbert sambil menurunkan pisaunya.
"Natalia, Natalia Arlovkaya." Jawab si gadis berambut perak alias Natalia sambil membuang muka. Natalia berdiri dan kemudian duduk kembali di kursinya, begitu juga Gilbert.
"Kekeke… nama yang awesome.." Kata Gilbert sambil menampakkan seringainya. Pelanggan-pelanggan lain yang kesibukannya terganggu karena keributan yang terjadi secara mendadak melanjutkan kegiatan mekera lagi.
"Wah, wah, wah… Gil, tadi itu sungguh pertunjukan yang sangat bagus!" Kata Francis yang berjalan ke arah belakang meja bartender sambil membawa pesanan Gil dan menyajikannya. Sepertinya ia melihat apa yang barusan terjadi.
"Diam kau! Dasar ga awesome!" Hardik Gilbert, kemudian menyantap makanannya, "Ck.. Kenapa, sih, rasa masakanmu itu selalu awesome?" Lanjutnya.
"Karena aku adalah Francis!"
–harap abaikan-
.
.
.
.
.
-kembali ke cerita-
Tak lama kemudian, Gilbert dan Natalia selesai menyantap makanan mereka.
"Gil, sudah hampir waktunya." Kata Francis mengingatkan.
"Ah, ya.. benar juga." Balas Gilbert sambil mengecek pocket watchnya. Ia berdiri, "kau juga sudah selesai, kan, Natalia? Aku yang awesome ini akan mengantarmu pulang.. itupun kalau kau mau." Terusnya.
"Tidak, terima kasih." Jawab Natalia singkat sambil ikut berdiri. Kemudian ketiganya keluar.
Gilbert ingin menanyakan lagi tentang mengantarnya pulang kepada Natalia. Gilbert bertanya seraya menoleh, "Kau yakin tidak mau ku antar pulang, Na-" kata-kata Gil berhenti saat orang yang sedang ia ajak bicara sudah hilang.
"Sepertinya dia sudah pulang duluan." Kata Francis sambil menunjuk Natalia yang sudah berjalan jauh.
Gilbert hanya bisa menghela nafas panjang. "Ya sudahlah kalau begitu.. Ayo kita pergi!" Kata Gilbert, kemudian ia naik ke atas tunggangan kudanya dan pergi ke rumahnya diikuti Francis yang tentu saja dengan kuda miliknya sendiri.
.
.
.
-To be Continue-
WKWKWKWKWKWKWKWK! AKHIRNYA SELESAI JUGA! CHAPTER PALING PANJANG YANG PERNAH ORE-SAMA BUAT! WkwkwkwkwkwK… OHOK OHOK *tepar* setelah lebih dari 3 bln mungkin? Kalo di lihat" di ch. Ini ada sedikit PrussiaXHungary dan… PrussiaXBelarus! WKWKWKWKWK…. Hidup pasangan albino! *dibunuh Belarus*
Taraf ke abalannya mungkin sudah naik, tapi saya harap pembaca sekalian terhibur ;)
Special thanks to : yg sdh nge-fav, nge-review, dan memberi masukan.. DAN BUAT CONI CODOT (maaf lupa pen name-nya) *kalo baca* KALO GA ADA KAMU, AKU GA MUNGKIN MENEMUKAN IDE" SANGAR BUAT CH" SELANJUTNYA! *big hug* -di injek" Francis-
Bener" terima kasih buat yang udah ngereview, ngefav dan yang baca!
Maukah kalian memberi saran sebelum meninggalkan page ini?(saya berniat mengganti judul fic ini. ada yang punya ide?) Saran kalian sangat berguna untuk menaikkan level dan motivasi menulis saya, dengan kata lain..
MIND TO REVIEW? :D
Sampai jumpa di Ch selanjutnya!
