Love Me Tender
Sasuke X Hinata
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Dedicated to: Fian Namikaze
OOC, AU, TYPPO, EYD yang berantakan dan segala macam kekurangan lainnya
.
.
.
Sasuke menyesap cappucino nya pelan-pelan dan memandang ke arah jendela apartemen. Hujan mengguyur di luar sana. Ia yang sejak tadi duduk di kursi, kini berdiri mendekati jendela, memandangi bulir-bulir air yang jatuh dari langit.
Sasuke Pov
Terbesit kembali kenangan ku dulu, saat terakhir sebelum berpisah dengan Itachi, kakak laki-laki yang satu-satunya aku miliki dalam keluargaku. Saat aku akan akan dikuliahkan ke luar negeri di Universitas Columbia yang letaknya di Amerika tepatnya di kota New York, Itachi berkata padaku, kata-kata yang begitu sederhana, bermakna dan jujur
"Kau frustasi, Otouto?" tanyanya cemas.
"..." aku hanya terdiam
"Kau hanya akan belajar kesana, tak perlu begitu susah payah. Jika terlihat rumit bagimu apalagi disaat harus menggunakan bahasa asing, jika tidak suka,jangan lakukan. Orang-orang disana pasti akan datang dengan sendirinya untuk membantumu, lihatlah siapa kita dimata mereka, Sasuke. Mereka meng elu-elu kan keluarga Uchiha."
"..." aku tetap terdiam.
"Hidup saja seperti apa yang kau inginkan, tak perlu khawatir apalagi berpikir. Dan jika mungkin kau ingin hidup disana, tak perlu kembali kesini. Aku tahu kau tertekan dengan semua ini, bagaimanapun juga aku tetap menyayangimu, Otouto."
Saat itu aku sadar, Itachi memang tak pernah membenciku, dibalik sikapnya yang acuh, dia begitu memerhatikan diriku,menyayangi diriku sebagai adik kecilnya walau dengan cara yang tidak langsung.
Aku belajar dengan baik disana, aku berjuang bukan untuk Tou-san saja, tapi juga untuk Aniki ku, Itachi yang kubanggakan. Karena ketekunanku aku berhasil lulus dengan cara cumlaude, hanya tiga tahun aku disana, dan kecewanya diriku saat kembali ke Jepang, Itachi sudah meninggalkan Jepang untuk tinggal di Rusia melanjutkan cabang perusahaan yang disana, atas perintah Tou-san kami. Aku menyesal kembali ke Jepang, aku begitu membenci ayahku, dia dengan sesuka hatinya mengatur semua kehidupan kami.
Dan kini aku merindukan Aniki ku, Itachi.
End of Sasuke pov
"Akhirnya kau sampai ke Jepang, Itachi." Ucap Fugaku yang menyambut putra sulungnya di mansion Uchiha.
Itachi hanya tersenyum
"Kita bicarakan di dalam, ayo masuk."
"Iya, Tou-san."
Saat ini Itachi dan Fugaku duduk di taman belakang, para maid membawa dua cangkir teh camomile dan meletakkannya di meja kecil dengan ukiran bunga teratai. Itachi menyeruput teh nya dengan pelan, aroma camomile menguar, aromanya dapat menenangkan pikiran siapa saja yang meminumnya.
"Kau akan pergi untuk perjalanan bisnis ke Prancis kan?"
Itachi meletakkan kembali cangkir tehnya ke meja, "Iya, Tou-san."
"Perlihatkan pada mereka, bahwa keluarga kita benar-benar menggemari bisnis, bawa Sasuke bersamamu."
Itachi terkejut, "Apa?"
"Dengarkan aku, Itachi. Aku akan memberitahu kepala sekretaris untuk mengurus keberangkatan kalian."
"Tapi Tou-san, Sasuke tak perlu terlibat, ini bisnisku, biar aku yang mengurus..."
"Aku juga melakukan pekerjaanku, perusaan yang di Rusia itu masih belum menjadi perusahaanmu." Ucap Fugaku dengan tegas.
Itachi terdiam, "Baiklah, Tou-san." . . . .
Hujan telah berhenti, Sasuke pun membuka jendela apartemennya, angin sejuk menyapu kulit putihnya, hawa dingin pun merayap masuk ke dalam. Sasuke sangat menyukai hal ini, begitu menyegarkan baginya.
Sedang asyik melihat pemandangan orang berlalu lalang dijalan yang dia lihat melalui apartemennya yang berada di lantai lima, ia teringat seseorang, Hinata. Sasuke tersenyum tipis hampir tidak terlihat saat dia membayangkan Hinata adalah titipan Kami-sama untuknya seperti Kaa-san nya yang selalu demikian. Secara sadar memang Sasuke memikirkan hal seperti itu, cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya.
"Apa yang aku pikirkan?" tanyanya pada diri sendiri. . . .
Sasuke menyusuri sepanjang jalan apartemen dengan santai, ya ini masih hari liburnya, Sasuke hanya ingin menikmati hawa sejuk seperti ini seorang diri dengan berkeliling tanpa menggunakan kendaraan, ia ingin menikmati setiap suasana tanpa melewatkannya sedikitpun dengan cara berjalan kaki.
Kubangan air dan jalan yang masih basah ia jaga demi langkahnya yang aman tanpa mengurangi suasana menyenangkan ini. di siang hari yang masih mendung ini, sepasang mata menatap Sasuke dari sudut sebuah bagunan Cafe yang terletak diujung jalan, Sasuke yang melihatnya pun langsung memberhentikan langkahnya.
"Aniki..." Ucap Sasuke lirih.
Orang yang berdiri diujungpun makin melangkahkan kakinya menuju tempat Sasuke berhenti.
"Apa kabarmu, Otouto? Tidak kah kau merindukanku?" Pria itu tersenyum hangat
.
.
.
.
"Lagi-lagi kau pergi kerumah sakit, Hanabi!" bentak pria paruh baya berambut hitam panjang yang duduk di kursi ruang kerjanya.
"Maafkan saya Otou-sama, apakah saya salah menjenguk Nee-san? Dia kakak saya, dan juga anak Otou-sama." Hanabi memohon pada ayahnya.
"Dia itu lemah,biarkan saja dia di rumah sakit. Menunggu ajalnya tiba."
"Otou-sama..." Hanabi berucap lirih, bulir-bulir air mata tergenang dipelupuk mata dan jatuh ke pipinya.
"Otou-sama, mengapa?" Hanabi terisak
"Dia tak kuanggap sebagai putriku! sebaiknya kau jangan menemui dia lagi, atau kau akan kukirim ke Jerman, tinggal disana."
Hanabi menangis sejadi-jadinya, ia begitu kecewa pada ayahnya, padahal Hinata juga darah dagingnya, begitu tega ia katakan bahwa Hinata tak ia anggap, sungguh Hanabi terus berdoa dalam hati, meminta pada Kami-sama untuk menyembuhkan penyakit Hinata dan memberikan seseorang yang sangat menyayangi Hinata.
"Otou-sama, Okaa-sama pasti sedih disana, ia pasti tidak akan tenang dalam peristirahatan terakhirnya, Okaa-sama pasti kecewa."
"Anak seperti dirimu, tak tahu apa-apa, bahkan kaa-san mu juga pasti membenci Hinata."
Kami-sama, iblis mana yang sudah merasuki, menempati hati ayahnya selama bertahun-tahun dan semakin menjadi-jadi.
"Kami-sama..." Hanabi berucap demikian.
.
.
.
.
"Aku sungguh merindukanmu Itachi, kapan kau kemari?" Ucap Sasuke antusias
"Tadi pagi aku sampai, dan langsung menuju kemari. Aku juga merindukanmu, Otouto."
"Aku masih kecewa padamu, Itachi. Saat aku pulang dari New York, dirimu tak ada. Padahal aku senang sekali jika kau menyambut kepulanganku ke Jepang."
Mereka mengobrol di Cafe yang terletak di ujung jalan apartemen, mereka memesan kopi espresso.
"Maafkan aku, sungguh bukan tak mau menyambutmu pulang. Tapi aku harus mengurus cabang perusaan yang ada di Rusia."
"Atas suruhan Tou-san kan? Apa sebenarnya yang ia inginkan pada kita? Mengapa tak sedikitpun ia memberikan pilihan pada kita?"
"Tou-san menyayangi kita, Sasuke. Hanya saja caranya salah."
.
.
.
.
Hinata memandang bosan pada jendela rumah sakit, ia menunggu Hanabi,tapi tidak juga datang. Ia tahu bahwa Hanabi sangat sulit mengatur jadwal. Mungkin memang hari ini Hanabi tidak bisa datang sama sekali. Dan ia juga memikirkan Sasuke, tah mengapa ia ingin sekali mengetahui kabar pria itu, pria dingin yang kadang bisa mencair ditengah-tengah situasi yang tercipta. Padahal ia baru saja ngobrol dengannya dua hari yang lalu, tiba-tiba masuklah Naruto.
"Kau sendirian, Hinata? Dimana Hanabi?"
"Ah, Naruto-nii. Sepertinya Hanabi tak bisa datang."
"Pasti kau sangat bosan, tapi aku tak bisa menemanimu selalu Hinata, aku minta maaf."
"Tak apa, Naruto-nii. Wajar, kan Naruto-nii seorang dokter dengan banyak pasien."
Hinata sebenarnya ingin Sekali bertanya tentang Sasuke, mengapa dia tidak datang lagi. Agak aneh memang sampai terpikir seperti itu oleh Hinata, tapi akhirnya ia pun memutuskan untuk bertanya, "Ano.. Naruto-nii, Uchiha-san tidak bersama dengan Naruto-nii lagi?"
"Oh, si Teme itu. Dia ambil cuti selama 5 hari, dan hari ini hari terakhir cutinya. Jadi mungkin dia kembali memanaskan diri pada segudang dokumen perusahaan, kau merindukan si Teme ya?" goda Naruto
"Ti-tidak Naruto-nii, aku hanya ingin bertanya saja kok."
"Aku akan menelponnya,untuk menjagamu hari ini." Naruto mengeluarkan Smartphone dari saku celananya.
"Tak usah Naruto-nii."
"Ada hal-hal juga yang ingin aku bicarakan padanya, jadi tak perlu merasa tidak enak seperti itu."
Naruto menunggu hubungan tersambung, tapi tidak juga diangkat. Maka ia pun kembali menelpon tetap juga tidak diangkat.
"Ayolah Teme, angkat..."
Dua belas kali ia mencoba tapi tetap juga tidak diangkat...
Maka ia pun meng-sms Sasuke.
Drtt ponsel yang terletak diatas kasur bergetar, Sasuke meninggalkan ponselnya saat hendak menikmati udara sejuk.
.
.
.
.
Sinar mentari merayap masuk dari celah-celah gorden jendela yang menandakan pagi datang jua. Membangunkan Hinata yang tidur pada setiap malam yang dia nikmati, ia edarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Hinata pun mendesah dan kemudian ia mengingat..
Flashback
"Hinata, Hanabi meneleponku, Ini." Naruto menyodorkan ponselnya
"Moshi-moshi, Hanabi-chan." Hinata tersenyum.
"..."
"Hanabi? Kau masih disitu?"
"Onee-chan," Hanabi akhirnya menjawab. "Gomen ne aku akan semakin sulit untuk berkomunikasi padamu, Otou-sama mengetahui bahwa aku sering menjengukmu, dari akses telpon dirumah sampai kemanapun aku pergi selalu dimata-matai oleh orang suruhannya." Hanabi menangis
Hinata tercekat, Naruto pun panik melihat wajah Hinata yang sedikit berubah pucat.
"Tapi tenang, akan aku cari cara bagaimana untuk bisa bertemu dengan mu, hiks. Aku harus menutup sambungannya, karena aku menelepon dari rumah sahabatku. Aku akan merindukanmu selalu, Onee-chan." Hanabi menangis sejadi-jadinya.
Sambungan telepon pun terputus, tangan Hinata bergetar,bibirnya menjadi kelu untuk membuka suara saja ia tak sanggup. Ponsel Naruto pun terjatuh ke ranjang.
"Hinata, kau tidak apa-apa kan?"
"..." Hinata diam
"Hinata?" Naruto menepuk bahu Hinata dengan pelan.
Pandangan Hinata menjadi buram dan lama-lama gelap. "Hinata?!"
End of Flashback
Cairan bening meluncur dari pelupuk matanya.
"Kami-sama..." Ucap Hinata.
.
.
.
Sasuke Pov
Saat ini aku sudah berada di Perancis, tepatnya di Marseille, sebuah kota romantik yang memiliki pemandangan yang menakjubkan yang diciptakan oleh bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Aku tiba disini dua jam yang lalu. Kemarin saat selesai berbicara dengan Itachi, aku langsung menginap di hotel yang ia tempati saat sampai di Jepang. Bahkan aku membeli beberapa baju kaos serta celana denim untuk bersantai, dan dua pasang jas suit. Aku tak pulang ke apartemenku, begitu juga dengan Itachi yang lebih memilih menginap di hotel lantaran sedikit kecewa dengan keputusan Tou-san kami.
Tujuanku kemari adalah untuk menemani Itachi berbisnis, seperti yang diperintahkan oleh Tou-san kami. Dan juga apakah kami akan bertemu dengan Deidara Namikaze? yang merupakan putra sulung dari Minato namikaze,alias abangnya Naruto.
End of Sasuke pov
Marseille adalah kota kuno dipinggir pantai yang terletak di selatan Perancis, menghadap laut mediterranian.
Ciri khas lain dari Marseille yaitu kota yang memiliki bangunan-bangunan tua yang berdampingan dengan gedung-gedung moderen hampir disetiap sudut kotanya, Marseille juga disebut sebagai kota budaya.
"Menikmati liburanmu disini, Otouto?"
"Liburan? Bisa jadi."
Itachi menyusul Sasuke kemari setelah dari hotel tempat mereka menginap, mereka menyandarkan tubuh mereka pada sebuah bangunan kuno.
"Kau seperti menikmati liburanmu disini, Otouto. Apa kau tak pernah ke Perancis?"
"Sudah tiga kali, tapi aku bukan ke kota ini. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di Marseille."
"Yaah, baiklah. Tapi waktu kita tidak lama, tiga jam lagi kita akan bertemu dengan relasi klien-klien ku."
"Ya, aku mengerti..."
Sasuke merasakan sesuatu yang tidak ada, dia meraba saku celana denimnya, "Ck, sial!"
"Kau kenapa, Otouto?"
"Aku meninggalkan ponsel ku di apartemen saat aku menikmati suasana saat kau bertemu denganku."
"Kau bisa menghubungi orang-orang dari ponselku untuk sementara waktu. Ingat saja berapa nomor-nomor mereka."
"Nanti saja, setelah selesai meeting."
"Tergantung padamu, Sasuke."
.
.
.
.
"Sasuke-Teme itu tak juga mengangkat telepon dan membalas pesan-pesanku. Kemana dia? Arggh." Naruto mengerang.
"Mungkin Uchiha-san sibuk, Naruto-nii."
"Sesibuk apapun si Teme itu, dia pasti akan membalas pesanku. Apa dia mati bunuh diri?"
"Naruto-nii jangan berprasangka buruk seperti itu. Uchiha-san tak mungkin bunuh diri."
"Dia itu seorang yang putus asa, Hinata. Asal kau tahu itu, dia tak punya hubungan yang baik dengan ayahnya."
Seketika Hinata bungkam, dia mengingat dirinya sendiri juga tidak ada sedikitpun punya hubungan baik dengan ayahnya.
"Memangnya Uchiha-san memiliki kehidupan yang asli seperti apa, Naruto-nii?" Hinata penasaran.
"Dia tidak dipedulikan oleh ayahnya sejak ia kecil, kehidupannya diatur sesuai dengan keinginan ayahnya,tanpa memberikan sedikitpun pilihan yang bisa Sasuke pilih menurut keinginannya sendiri." Naruto berucap lirih
Hinata menampakkan raut wajah kesedihannya, dia menundukkan kepalanya. Kisah kehidupan Sasuke tidak jauh berbeda dengannya.
"Hinata, aku tahu kalian memiliki nasib yang hampir serupa keseluruhan kehidupan kalian, aku ingin meminta satu hal padamu." Naruto meminta dengan tatapan memohon
Hinata iba, "Apa itu Naruto-nii?"
"Buatlah Sasuke bahagia dengan caramu sendiri, Hinata. Balikkan keceriaan Sasuke yang sudah lama terkubur. Aku yakin kau lah yang bisa, Hinata."
Hinata terkejut, "Aku bukan wanita yang pantas untuk Uchiha-san. Aku bukan tipenya. Aku wanita yang tak bisa apa-apa, Naruto-nii."
"Kau bisa Hinata, lihatlah saat ia berkunjung kemari, bagaimana ia bersikap, sedikit ada perbedaan dari pada yang selalu aku lihat, Hinata."
"..."
"Kumohon, ini permintaanku padamu, aku sudah menganggapmu sebagai adik kecilku. Lakukan saja dengan cara yang kau bisa."
"Baiklah Naruto-nii."
"Arigatou, adikku." Naruto memeluk Hinata.
"Huft..." desah Sasuke.
"Membosankan?"
"Ya, si Akasuna Sasori, teman relasimu itu sungguh menjengkelkan. Wajah baby face nya tak dapat merefleksikan sikapnya, buruk sekali."
Sasuke langsung merebahkan dirinya di kasur empuk sambil melonggarkan dasinya yang semakin lama membuatnya tercekik.
"Ahaha, ada-ada saja kau ini," Itachi menggantung jasnya. "Tak ingin menelepon seseorang, Otouto?"
"Pinjam ponselmu Itachi, aku ingin berbica pada Naruto. Siapa tahu saja mungkin dia ada menelepon dan meng-sms ke ponselku."
"Dan kau pasti diomeli olehnya,ini ambil." Itachi tertawa sambil menyodorkan ponselnya. "Sampaikan salamku padanya, aku mandi dulu Otouto."
"Hn."
Jam istirahatpun tiba, perut Naruto sudah mulai berbunyi, "Hinata? Keadaanmu sudah tak apa-apa kan?"
"Ya, seperti biasa Naruto-nii."
"Aku permisi sebentar untuk makan, kutinggal tak apa-apa kan?"
"Apa boleh aku menemani Naruto-nii makan dikantin rumah sakit? Aku bosan."
"Baiklah."
Hinata menemani Naruto makan, sederhana makanan yang dipesan Naruto, hanya sup miso.
Drtt.. Ponsel Naruto bergetar, dilihatlah siapa yang meneleponnya, tak ada nama, nomor baru. "Mosi-mosi,Naruto disini."
"Dobe?" tanya yang diseberang
"Teme!, kau kemana saja hah? Aku mengawatirkanmu." Ucap Naruto keras-keras.
"Naruto-nii, pelankan suaramu. Dilihat orang dari tadi."
"Kau bersama wanita, Dobe?"
"Lagi-lagi kau mengalihkan perhatian, kemana saja kau?"
"Hn maaf membuatmu khawatir, ponsel ku tinggal di kamar apartemen. Saat ini aku di Marseille ada urusan bisnis."
"Langsung dikabari kan bisa, Teme. Sungguh aku mengawatirkan dirimu."
"Hn,maafkan aku. Kau bersama siapa disitu?"
"Hah,baiklah. Bersama Hinata. Bisa kututup sambungannya? Aku harus makan dulu, jam makan siang sungguh sedikit, nanti aku sms saja."
"Hn, baiklah. Itachi menitip salam padamu."
"Kau menelepon dari ponselnya ya? Baiklah sampaikan juga padanya salamku ya?"
"Hn."
Tutt.. Tutt, sambungan diputus.
"Dari Uchiha-san?"
"Iya, ponselnya ternyata tertinggal di apartemennya, dan dia berada di kota Maseille untuk urusan bisnis."
"Sudah sampaikan pesanku pada Naruto?"
Itachi muncul di depan kamar mandi, rambutnya tergerai, hanya handuk yang menutupi tubuh bagian bawah. Bulir-bulir air dari kepalanya jatuh melewati otot perutnya yang sixpack.
"Sudah."
Itachi pun berjalan menuju lemari, "Apa katanya?" ia mengambil pakaian dan memakainya.
"Dia berterima kasih, dan dia mengucapkan salam balik untukmu."
Itachi tersenyum lalu ia duduk disebelah ranjang yang ditiduri Sasuke. "Apa kau ada menjalin hubungan dengan wanita-wanita?"
"Sedingin apapun sikapku, aku tak akan sudi menjalin hubungan dengan banyak wanita, aku menghargai dan menghormati Kaa-san kita, wanita juga punya perasaan. Beda ceritanya jika aku punya teman wanita. Dan lebih jelas yang kumaksud adalah teman mengobrol sekedarnya saja. Tidak berlebihan. Itu hanya akan membuat hati seorang wanita yang punya hubungan dengan kita menjadi sakit hati."
Itachi tersenyum, "Meski kau dibesarkan dengan situasi tak menguntungkan tapi kau bisa tumbuh menjadi pria muda yang menghargai wanita. Aku salut padamu, adikku."
"Aku begitu alergi jika kau mengatakan kata 'adikku' untukku. Aku bukan anak kecil lagi, Itachi. Lebih baik kau memanggilku 'Otouto' atau langsung namaku."
"Ahaha," Itachi tertawa renyah. "Tapi tetap saja kau masih rapuh,kau membutuhkan kasih sayang dari seorang wanita agar bisa mengurus dan membimbingmu, Sasuke."
"Kau merasa iba padaku, Itachi? Tidak kah kau merasa bahwa dirimu lebih terpuruk dibanding diriku. Kau menanggung semua beban sendiri, bahkan kau juga ada menanggung bebanku. Katakanlah Itachi, apa yang kau rasakan? Ada kah menurutmu ini adil untukmu? Jawabannya tidak, Itachi."
"..." Itachi diam
"Berkatalah bahwa ini tak adil."
"Sudah menjadi peranku sebagai abang lelaki mu untuk selalu membantumu. Sedikitpun tak ada rasa benci didalam hatiku kepada dirimu. Aku bahagia bisa membantumu, dan akan menyesal jika tak bisa melakukan apapun. Memang benar, pernah ada rasa tak adil,tapi bukan pada dirimu, melainkan untuk Tou-san kita."
"Kau tahu Itachi? Hal sederhana yang dapat membuatku bahagia selalu."
Itachi yang sedari tadi menatap kearah pintu, mengalihkan pandangannya ke Sasuke, "Apa itu?"
"Yang pertama, aku mengimpikan kita adalah sebuah keluarga utuh yang bahagia, yang peduli pada kita bukan hanya Kaa-san tapi Tou-san juga. Kita saling memahami,menyayangi,membantu,menghargai satu sama lainnya. Itulah hal pertama yang sangat aku impikan, Itachi."
Itachi terkejut, ia mengira yang ada dipikiran Sasuke hanya harta dan kekuasaan tapi ternyata salah, hal sederhana itulah yang diharapkan adiknya. Keinginan yang sama diharapkan sejak dulu oleh Itachi. Memang, keluarga mereka tidak utuh seperti dulu, tapi bisakah kondisinya diperbaiki oleh Tou-san mereka seperti yang diimpikan Sasuke? Meski tanpa kehadiran Kaa-san mereka. Itachi hanya selalu bisa berdoa pada Kami-sama.
"Yang lainnya?"
"Yang terakhir ku impikan, adalah membangun keluarga seperti yang ada pada hal pertama tadi. Aku tak akan membiarkan anak-anak yang akan dikandung oleh istriku kelak merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan sekarang. Akan aku ciptakan hal itu, dan kulakukan penerapan waktu luang dihabiskan bersama keluarga kecil bahagiaku dimasa depan."
Itachi tersenyum, ia terharu. Tapi tetap tak ia tampakkan, seorang pria harus menjaga sikap tapi bukan berarti angkuh dan tak peduli.
"Aku berdoa untuk kebahagiaanmu, Otouto."
"Semoga pernikahanmu kelak dengan Ayumi, calon yang ayah berikan menjadi berkah yang menentramkan hatimu. Semoga dia mencintai dan menyayangimu, Itachi."
"Terimakasih, " Itachi menyunggingkan senyumnya. "Jangan lupa datanglah kepestanya tanggal 27 desember nanti, Otouto."
"Pasti."
.
.
.
.
Sambil mendorong kursi roda yang diduduki Hinata, "Kau ingin kubawa ke taman Hinata?"
"Ha'i, aku merasa bosan diruangan terus-terus, Naruto-nii" Hinata berucap sedih.
"Yosh, aku akan menemanimu ditaman. Jangan sedih lagi ya, adikku."
"Umm.."
Naruto pun terus mendorong kursi roda itu keluar dari rumah sakit. Taman kota terletak sekitar 200 meter dari rumah sakit.
"Naruto-nii, apa tidak lelah mendorong kursi rodaku? Aku jadi merasa tidak enak, kita pulang saja, Naruto-nii." Hinata menundukkan kepalanya.
"Aku tidak akan lelah, karena aku seorang dokter, Hinata. Apalagi untuk adikku ini, aku sedang meneliti campuran ramuan-ramuan alamiah siapa tahu saja kau bisa sembuh, Hinata."
Sampailah mereka ditaman, Naruto menduduki sebuah kursi yang terletak didepan batang pohon yang disampingnya terdapat banyak bunga matahari.
"Sekarang aku pasrah pada hidupku, Naruto-nii..." Hinata menggigit bibir bawahnya
"Kau sudah bertahan sampai sejauh ini,kenapa sekarang kau memilih untuk pasrah?"
"Peluang untuk disayangi oleh keluargaku semakin mengecil, Naruto-nii... Aku..." Hinata meneteskan air matanya.
"Hinata..." Naruto merasa sedih. "Jangan berkata seperti itu."
"Itulah yang terjadi Naruto-nii, lihatlah yang kemarin, hatiku begitu teriris mendengar penuturan Hanabi, aku juga merasa terpuruk saat mendengar Hanabi menangis, ketakutanku Hanabi disiksa oleh ayah karena ketahuan menjengukku."
"Hinata," Naruto berjongkok didepan kursi roda Hinata, dan memegang kedua bahu Hinata. "Jangan takut, adikmu itu kuat. Aku yakin sekali."
"..." Hinata terus mengeluarkan air matanya.
"Kau mau mendengar satu hal, Hinata?"
"A-apa itu?"
"Taukah mengapa bunga matahari selalu menghadap ke arah matahari terbit? Meski batang-batangnya diinjak oleh manusia."
Hinata menghapus air matanya, ia menggelengkan kepalanya. "Kena-pa Naruto-nii?"
"Karena bunga itu selalu menunggu terbitnya matahari, bunga itu bisa tumbuh akibat bantuan matahari, air dan zat-zat yang ada ditanah. Mereka akan selalu bersemangat untuk terus bertahan meski batang mereka diinjak manusia."
Hinata tetap menutup bibirnya.
Naruto tersenyum melihat bunga-bunga matahari itu, "Begitu juga dengan dirimu. Memang kondisi fisikmu lemah, tapi hatimu kuat, Hinata. Kau bisa terus bertahan sampai sekarang. Masih ada orang yang peduli padamu. Hanabi, dia terus mencari cara agar bisa menjengukmu, Aku juga terus meneliti ramuan alamiah untuk kesembuhanmu. Kami-sama sangat membenci orang-orang yang berputus asa, semangatlah Hinata. Kami-sama masih memberikanmu kehidupan, selagi bisa, maka berusahalah." Naruto mengalihkan perhatiannya dari bunga ke Hinata.
Hinata tersentuh hatinya, mendengar penjelasan dari Naruto. Ia sunggingkan senyum di bibirnya.
"Begitu lebih baik, Hinata. Lagi pula kau ada berjanji padaku."
"Ja-nji apa?" Hinata terbata-bata
"Kau sudah berjanji akan membantu membuat Sasuke bahagia."
Semburat merah langsung muncul di pipi Hinata. "A-aku ti-tidak bilang itu jan-ji."
"Bagiku itu adalah sebuah janji." Naruto mengusili Hinata
"Naruto-nii, curang!" wajah Hinata semerah tomat sekarang.
"Ahaha." Naruto tertawa
Mereka tidak menyadari ada sepasang mata lain yang mengawasi mereka.
.
.
.
.
Saat ini di kota Marseille sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi, Itachi masih setia berkutat dengan laptop di ranjangnya. Sesekali melihat adiknya, Sasuke tidur pulas diranjangnya sendiri.
Matanya begitu teliti melihat rincian laporan yang dikirimkan sekretarisnya, dia tidak ingin ada kesalahan ataupun kecurangan hasil pendapatan perusahaan yang ia tangani, karena cukup banyak yang iri pada Uchiha.
"Hi-hinata..." Sasuke bergumam
Reflek Itachi langsung melihat ekspresi wajah Sasuke yang tertidur terlihat gelisah.
"Mimpikah ia? Hinata?" Itachi bergumam sendiri dan kembali fokus pada laptopnya. . . . .
"Telat sekali pulangnya nak?" Tanya Kushina.
"Maafkan aku, Kaa-chan. Aku harus menemani Hinata sampai ia tertidur."
"Hanabi tidak datang lagi semenjak kemarin?" tiba-tiba ayah Naruto, Minato sudah berdiri di dekat sofa ruang tamu.
"Sepertinya belum bisa, Tou-chan."
"Mengapa begitu kejinya keluarga Hyuuga?!" Kushina emosi.
Minato menghampiri Kushina, "Tenanglah Kushina, hukuman setimpal pasti terjadi nanti untuk mereka." Ia mengelus kedua pundak Kushina.
"Ya, itu pasti. Hina sekali mereka." Kushina kesal
Minato menyunggingkan senyumnya.
"Nak, tak apa kau pulang telat. Temani dia."
"Iya, itu pasti," Naruto tiba-tiba membelalakkan matanya. "Gaaahh, aku lupa meng-sms si Sasuke." Naruto meremas kedua rambutnya.
Minato dan Kushina tertawa melihat tingkah Naruto seperti anak-anak jika sudah menyangkut hal tentang Sasuke.
"Besok saja, kurasa Sasuke sudah tidur sekarang. Sebaiknya kau mandi dan langsung makan, Kaa-chan akan memanaskan makan malam tadi." Kushina pun berlalu kedapur
"Iya Kaa-chan, Tou-chan?"
"Hm kenapa Naru?"
"Kapan Deidara-niisan pulang?"
"Kau merindukannya ya? Tenang saja, dua hari lagi dia pulang kemari."
"Yosh, aku akan menghajarnya."
"Hah,lagi-lagi kalian bergulat." Minato mendesah
"Ehehe."
.
.
.
T
B
C
.
.
*pojok curhat: saya tak tahu harus bilang apa untuk chapter ini.
Yosh saatnya balas repiu ~(^o^ )~
: terima kasih, saya sedang berpikir bakat apa yang pantas.
Hallow-Sama: nyempil dikit doang
DontPink: terima kasih
Kazekageashainuzukaasharoyani: ohh, mereka sengaja saya pisah :D
Cahya LavenderUchiha ELFishy: ini udah pntng belom? :D
Hyuugazan: hehehe,iya belum, uummm.. kita lihat nanti ya
Haruka: ok
Hinataholic: hehehe
Guest: saya usahakan
Sei: Ok, ini
